Hampir
dua minggu belakangan saya sibuk ke kampus. Seingat saya kesibukan saya ini
jarang terjadi. Apa pasal karena jelang deadline wisuda
saya harus pagipagi berangkat ke kampus.
Di
kampus hanya dua hal yang saya lakukan: bertemu dosen pembimbing tercinta dan
melengkapi administrasi berkas wisuda. Yang pertama berkaitan dengan tesis
saya. Yang kedua, kalian barangkali sudah tahu: berdiri gagah di antara ratusan
wisudawan dengan toga sewaan.
Masalahnya
adalah untuk urusan yang kedua susahsusah gampang. Berkas pendaftaran wisuda
lumayan banyaknya. Saya sampai pusing mengerjakannya. Macammacam surat harus
disediakan. Saking banyaknya tas saya sudah seperti lemari berkas pegawai negeri
sipil.
Susahsusah
gampang urusan ini karena banyak berkas yang harus ditanda tangani. Akan mudah
jika yang menandatangani berada di tempat. Yang ribet kalau yang punya
tandatangan malah keluar punya urusan. Susah.
Juga
yang bikin ngosngosan karena gedung administrasi dan gedung jurusan jaraknya
lumayan jauh. Kalau jalan kaki lumayan bisa bakar lemak tiga sampai lima kilo.
Saya yang agak kurus ini memilih naik motor saja.
Nah,
di antara dua gedung inilah saya harus bolakbalik urus ini itu. Walaupun naik
motor rasarasanya sama saja. Bedanya bukan lemak saya yang terbakar habis.
Justru bensin motor saya yang terkuras. Pun kalau capek itu hanya karena jarak
parkiran dan gedung jurusan yang juga lumayan jauhnya.
Sekarang hari
terakhir pendaftaran wisuda. Aturan mainnya sebelum pukul duabelas siang semua
berkas harus rampung. Jika tidak tamat riwayat. Saya harus menunggu giliran
wisuda dua tiga bulan lagi. Mampus sudah.
Berkas
terakhir yang harus disetor sebelum tenggat waktu adalah lembaran distribusi tesis.
Dua hari belakangan hanya ini yang bikin saya moratmarit tak karuan. Sementara
tesis saya sepagi ini belum jelas. Masih di tempat penjilidan.
Khawatir
bakal telat, pagipagi buta saya sudah mandi. Pukul enam lewat Bung! Pikiran
saya hanya tertuju kepada berjilidjilid pagina bersampul merah itu. Kemudian
satu benda yang bikin semua rencana seperti bakal berantakan: flash disk.
Ceritanya
begini: benda kecil yang sering saya bawa itu tibatiba raib dari tas saya.
Setelah diperiksa di kantung baju tidak ada, dan saku celana pun nihil. Apes.
Saya kehilangan benda canggih itu tanpa saya dugaduga sebelumnya.
Tanpa
FD itu otomatis saya tidak bisa menyetor berkas. Di dalamnya ada satu data
tesis lengkap yang harus saya pdf-kan dan kemudian di CD-kan. Dan tanpa CD itu
maka berkas saya yang lain jadi tidak ada artinya.
Akibat
FD yang raib di bawa ketiadaan, sehari sebelumnya pikiran saya jadi mumet.
Hampir semalaman pikiran saya hanya soal FD. Tak bisa dibayangkan tenggat waktu
yang hanya tinggal sehari bikin hati waswas. Jangan sampai karena FD yang entah
kemana saya gagal jadi wisudawan.
Makanya
sore kemarin untuk mengantisipasi saya membeli FD baru. Tujuannya saya harus
mengulang memasukkan datadata penting buat di CD-kan nanti di koperasi. Sembari
harapharap cemas, saya berniat pagipagi buta sudah harus berada di kampus untuk
mengejar setoran berkas yang belum rampung.
Dengan
data cadangan di FD baru, saya berharap FD yang raib bisa ditemukan kembali.
Agak sedih rasanya miniatur kemajuan teknologi itu tidak bisa saya gunakan lagi.
Lewat
FD itu, banyak harihari yang saya lalui bersama. Mulai dari film, artikel,
beberapa foto narsis, dan sejumlah esai saya abadikan di dalamnya.
Kehilangannya seperti ada yang kurang. Seperti kekasih saja.