09 Juni 2016

flash disk

Hampir dua minggu belakangan saya sibuk ke kampus. Seingat saya kesibukan saya ini jarang terjadi. Apa pasal karena jelang deadline wisuda saya harus pagipagi berangkat ke kampus.

Di kampus hanya dua hal yang saya lakukan: bertemu dosen pembimbing tercinta dan melengkapi administrasi berkas wisuda. Yang pertama berkaitan dengan tesis saya. Yang kedua, kalian barangkali sudah tahu: berdiri gagah di antara ratusan wisudawan dengan toga sewaan.

Masalahnya adalah untuk urusan yang kedua susahsusah gampang. Berkas pendaftaran wisuda lumayan banyaknya. Saya sampai pusing mengerjakannya. Macammacam surat harus disediakan. Saking banyaknya tas saya sudah seperti lemari berkas pegawai negeri sipil.

Susahsusah gampang urusan ini karena banyak berkas yang harus ditanda tangani. Akan mudah jika yang menandatangani berada di tempat. Yang ribet kalau yang punya tandatangan malah keluar punya urusan. Susah.

Juga yang bikin ngosngosan karena gedung administrasi dan gedung jurusan jaraknya lumayan jauh. Kalau jalan kaki lumayan bisa bakar lemak tiga sampai lima kilo. Saya yang agak kurus ini memilih naik motor saja.

Nah, di antara dua gedung inilah saya harus bolakbalik urus ini itu. Walaupun naik motor rasarasanya sama saja. Bedanya bukan lemak saya yang terbakar habis. Justru bensin motor saya yang terkuras. Pun kalau capek itu hanya karena jarak parkiran dan gedung jurusan yang juga lumayan jauhnya.

Sekarang hari terakhir pendaftaran wisuda. Aturan mainnya sebelum pukul duabelas siang semua berkas harus rampung. Jika tidak tamat riwayat. Saya harus menunggu giliran wisuda dua tiga bulan lagi. Mampus sudah.

Berkas terakhir yang harus disetor sebelum tenggat waktu adalah lembaran distribusi tesis. Dua hari belakangan hanya ini yang bikin saya moratmarit tak karuan. Sementara tesis saya sepagi ini belum jelas. Masih di tempat penjilidan.

Khawatir bakal telat, pagipagi buta saya sudah mandi. Pukul enam lewat Bung! Pikiran saya hanya tertuju kepada berjilidjilid pagina bersampul merah itu. Kemudian satu benda yang bikin semua rencana seperti bakal berantakan: flash disk.

Ceritanya begini: benda kecil yang sering saya bawa itu tibatiba raib dari tas saya. Setelah diperiksa di kantung baju tidak ada, dan saku celana pun nihil. Apes. Saya kehilangan benda canggih itu tanpa saya dugaduga sebelumnya.

Tanpa FD itu otomatis saya tidak bisa menyetor berkas. Di dalamnya ada satu data tesis lengkap yang harus saya pdf-kan dan kemudian di CD-kan. Dan tanpa CD itu maka berkas saya yang lain jadi tidak ada artinya.

Akibat FD yang raib di bawa ketiadaan, sehari sebelumnya pikiran saya jadi mumet. Hampir semalaman pikiran saya hanya soal FD. Tak bisa dibayangkan tenggat waktu yang hanya tinggal sehari bikin hati waswas. Jangan sampai karena FD yang entah kemana saya gagal jadi wisudawan.

Makanya sore kemarin untuk mengantisipasi saya membeli FD baru. Tujuannya saya harus mengulang memasukkan datadata penting buat di CD-kan nanti di koperasi. Sembari harapharap cemas, saya berniat pagipagi buta sudah harus berada di kampus untuk mengejar setoran berkas yang belum rampung.

Dengan data cadangan di FD baru, saya berharap FD yang raib bisa ditemukan kembali. Agak sedih rasanya miniatur kemajuan teknologi itu tidak bisa saya gunakan lagi.

Lewat FD itu, banyak harihari yang saya lalui bersama. Mulai dari film, artikel, beberapa foto narsis, dan sejumlah esai saya abadikan di dalamnya. Kehilangannya seperti ada yang kurang. Seperti kekasih saja.

05 Juni 2016

cukur

Belakangan ini saya ingin bercukur. Rasarasanya rambut saya harus dibuat rapi. Ini akibat Jumat kemarin saya harus menghadapi ujian Tesis. Memang bukan kewajiban saat ujian akhir harus bercukur, tapi dengan rambut yang tertata rapi saat ujian meja bisa bikin rasa percaya diri jadi tumbuh. Tapi apa boleh dibilang, niat itu sampai sekarang tidak kesampaian. Rambut saya masih utuh belum dipotong. Masih seperti biasanya.

Omongomong soal cukur rambut, dulu, kala ingin memotong rambut, yang sering jadi “tukangnya” adalah Bapak saya sendiri. Kebiasaan ini sudah dimulai sejak sekolah dasar hingga masa SMA. Saat mencukur Bapak hanya punya satu gaya, yakni model potongan tentara. Saya tak tahu kenapa model itu yang sering dipilih Bapak, mungkin model seperti itu yang paling gampang dilakukan. Apalagi anak sekecil saya waktu itu tahu apa soal gaya rambut.

Kadang saya curiga, model yang bertahuntahun saya alami itu disebabkan dua hal. Pertama model belah samping itu akibat bentuk gaya sisir yang sering dilakukan Mamak kala sehabis memandikan saya sewaktu kecil.

Atau yang kedua bisa jadi ukuran kerapihan termasuk soal gaya rambut kala itu harus disesuaikan dengan etika militer yang kuat mendominasi hampir di semua dimensi kehidupan masyarakat. Yang terakhir ini malah kuat dugaan saya ada benarnya. Atau mungkin memang sebaliknya yang pertama. Entahlah.

Ingatan saya masih kuat minyak apa yang sering dipakaikan Mamak kala merapikan rambut saya. Warnanya mirip minyak goreng kehijauhijaun. Cair seperti air. Namanya minyak Orang Aring yang berwadah kaca. Minyak ini kalau dipakai bisa tahan seharian penuh. Bikin kilap dan licin. Kadang kalau pagi saya bangun, di bantal tidur saya masih tertera bekas minyak rambut ini. Minyak ini cara pakainya bisa bertahan lama akibat memang sangat irit pakainya. Cukup sekali duakali tuang sudah bisa menggenapi kepala saya kala itu.

Saat sekolah menengah pertama ada keinginan untuk memanjangkan rambut. Berbeda saat sekolah dasar, masa SMP adalah masa ajang diri, terutama soal rambut. Akibatnya, rambut saya biarkan tumbuh panjang. Ini saya lakukan agar bisa mengubah model yang semenjak SD terkesan monoton. Karena niat ingin bergaya, maka akhirnya saya harus meninggalkan minyak Orang Aring. Maklum minyak ini membuat rambut jadi mudah lunglai susah dibentuk.

Ada istilah rambut saya adalah jenis rambut air. Istilah ini kala itu merujuk kepada rambut yang lurus dan mudah jatuh terurai. Kelebihan rambut jenis ini mudah dibentuk sesuai dengan kemauan dengan syarat sedikit menambah minyak rambut yang agak kaku. Jadi biar sepanjang apapun jika ditambah minyak semacam Tancho, rambut jenis ini akan memberikan bentuk sesuai selera yang dimaui.

Semenjak menyadari bahwa minyak rambut merk Brisk bukan minyak yang tepat, maka untuk mendapatkan rambut yang tidak mudah berubah akibat angin, saya mulai mencari jenis minyak rambut yang super kaku. Pencarian ini berlangsung lama akibat riset kecilkecilan yang saya lakukan.

Tentu riset ini adalah percobaan minyak rambut sebagai bahannya, mana yang bisa membuat rambut tak mudah bergeser seinci pun. Kala itu Brisk yang sering kali meleleh jika terkena hujan sudah saya keluarkan dari percobaan. Merk ini jika terkena hujan malah luntur seperti cat yang berwarna putih. Merk ini saya blacklist sesegera mungkin.

Percobaan saya ini selain melakukannya sendiri juga melibatkan kawankawan yang berniat sama dengan saya. Kadang jika melihat rambut kawan saya yang tak berubah dari pagi hingga sepulang sekolah maka pertanyaan saya adalah apa merk minyak rambut yang dipakai.

Dari berbagai macam informan maka ditemukanlah beberapa merk saat itu: Casablanca, Tancho, Casanova, dan juga Brisk. Yang terakhir ini saya maklum. Kawankawan saya memakainya bukan untuk membuat rambut tampak kaku, jutru hanya mau mendapatkan efek mengkilat kala memakainya.

Makanya pasca riset sederhana yang dilakukan, hampir semua merk yang disebutkan sudah semuanya saya uji secara langsung. Namun aneh, semuanya siasia tidak membuat rambut saya tampak “tegar” diterpa angin. Karena belum menemukan hasil, akhirnya riset buat membuat rambut jadi kaku terus saya lakukan.

Hingga suatu waktu jawaban yang saya nantinantikan datang dari sobat saya: Amir Barata. Perlu diketahui hobi kami sepulang sekolah sering kali dihabiskan di permandian umum bernama Oeba. Di sana ada kolam mata air dua petak berukuran panjang sekira sepuluh meter. Permandian ini selain tempat anakanak seusia kami berenang ria juga ditempati ibuibu mencuci pakaian. Oeba adalah kolam mata air yang betulbetul menyenangkan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...