04 Maret 2016

sepatu

Saya agak kurang yakin kapan punya perhatian lebih terhadap sepatu. Kalau diingat itu sudah lama. Sejak sekolah dasar saya kira. Di kelas sekira 5 atau 6, sepatu sudah saya anggap penting.

Sepatu kala itu jadi bagian penampilan. Saya kira walaupun mau jelang umur belasan, sudah ada kesadaran semacam itu. Karenanya, sepatu seperti bendabenda lain harus bisa menunjang penampilan. Sepatu kala itu harus bagus. Kalau perlu bermerek.

Kala itu ada Bata, merek sepatu yang sering saya dengar. Starmoon, Newera, Carvill, Kasogi, dan Speec, beberapa merek yang lain. Di televisi juga sering saya lihat merek macammacam. Terutama jelang musim sekolah. Kala itu biasanya sehabis bulan ramadhan. Iklan sepatu banyak diputar.

Yang saya ingat, sebelumnya ada jenis sepatu yang tidak bermerek. Bentuknya lebih mirip sepatu kungfu. Di film kungfu Jacky Chan, sepatu kayak itulah yang sering dipakainya. Kalau menontonya saya sering mengingatnya. Sepatu itu ringan. Tidak rumit dipakai. Fleksibel, cuman agak licin.

Sepatu macam begini yang gandrung. Banyak kala itu memakainya. Caranya dipakai dengan kos dilipat pendek. Kalau kaosnya panjang, sering kali dilipat. Karena sering cara itu, kaos yang dipakai punya lekuk tumit baru yang terbentuk.

Sepatu itu itu tidak muncul di televisi. Iklan pun tidak. Cuman aneh kenapa banyak dipakai. Juga disenangi. Mungkin karena ringan. Dan berwarna hitam.

Yang terakhir itulah jadi pertimbangannya. Sekolah melarang pakai sepatu macammacam. Apalagi warnawarni. Harus hitam. Bukan yang lain. Selain itu, memang sepatu ini murah.

Kalau di toko sepatu, yang model ini justru tidak mejeng di etalase. Sepatu ini cuman ada di pasar. Biasa berjejer diikat karet gelang. Di susun menumpuk. Di selasela jualan macammacam. Kadang bersebelahan dengan ikanikan yang dijual. Karena itu gampang ditemukan. Kalau mau, tinggal cari di sekitar penjual ikan.

Sejarah sepatu ini entah dari mana. Misterius. Tibatiba banyak yang memakainya. Kala itu saya kira dari Cina. Soalnya mirip yang saya lihat di televisi. Yang memakai pertama kali juga entah.

Tapi, sepatu itu juga yang saya pakai. Ukurannya tidak besar. Nomor enam kalau diingat. Seperti juga lainnya, saya suka memakainya. Memang ringan. Juga hitam tentunya.

Bahan sepatu ini agak lunak. Kayak mirip kain terigu. Tapi lumayan tebal. Kalau hujan, atau basah, sepatu ini mudah kering. Bawahannya juga sederhana. Terbuat dari karet keras. Licin.

Sekolah masa itu punya bangsal. Ukurannya lumayan lebar. Dua lapangan bulutangkis jadi perbandingannya. Agak besar memang. Bangsal, lantainya dari semen yang dipoles isi baterai. Di atasnya atap seng jadi katupnya. Teduh.

Di situlah saya sering bermain. Macammacam. Kadang sepak bola. Gala asin. Sering juga kasti. Beberapa kali hanya berlari. Cuman kalau berlari, sepatu itu harus dilepas. Sudah saya bilang, licin.

Namun, kadang sepatu itu dipakai juga berlari. Jadi ini sebenarnya jenis mainan yang agak aneh. Pertamatama kami berlari sekencangnya. Beramairamai. Biasa berkelompok. Setelah lari beberapa meter, dengan sepatu yang licin, kami perosotan. Meluncur sejauhjauhnya. Siapa terjauh dia jawaranya. Di bangsal itulah kami berlari. Di lantai yang juga licin.

Karena berbahan kain, sepatu itu mudah sobek. Biasa sobekannya karena tekanan di ujung kaki. Makanya tidak jauh di ujung sepatu. Kadang malah tepat antara pertemuan alas dan jahitannya. Walaupun agak susah dijahit, kadang cara yang dipakai direkatkan handyplas menutupinya. Setelah itu disemir biar hitam. Beres.

Lumayan lama saya pakai sepatu macam itu. Sobek juga berulangulang. Akhirnya rusak jua. Di buang.

Sepatu yang baru saya tak ingat merek apa. Kali ini membeli bukan di pasar; toko Bata. Nama toko ini saya kira banyak yang tahu. Sampai sekarang mereknya masih ada. Di toko merek itulah saya dapat sepatu baru. Tetap hitam.

Sepatu itu lumayan awet, sampai SMP. Hingga jelang dua SMP sepatu itu masih saya pakai. Saat SMA, sepatu saya lebih mirip pantofel. Juga warna hitam.

Sekarang, di televisi banyak iklan sepatu. Orangorang juga senang pakai sepatu. Mereknya macammacam. Klasemennya juga beragam. Dari olahraga sampai resmi. Sepatu gunung sampai kantoran. Warna hitam sampai kuning terang. Ruparupa.

Iklan agaknya seperti teksteks kitab agama. Di dalamnya ada iman. Rasanya sulit mau mengelak. Sudah jadi doktrin. Bahkan ideologi. Karena itu satu level dengan agama. Taat.

Sepatu, saya kira, akibat dari iklan berubah fungsi. Tidak sekedar alas kaki. Sepatu jadi branding orangorang berpenampilan. Sepatu, di mata banyak orang harus mampu mendongkrak penampilan. Sepatu jadi life style.

Makanya, saya heran kalau ada sepatu sampai harga jutaan. Barangkali itu akibat hukum ekonomi. Harga jadi mahal seiring permintaan. Pasar tercipta karena ada penawaran dan jual beli. Yang aneh, biar mahal bagaimana, beberapa merek tetap laku terjual.

Kiwari, anakanak muda senang bersepatu. Banyak merek dipakai. Bahkan cara memfungsikannya anehaneh. Sepatu gunung dipakai seharihari; sepatu olahraga dipakai masuk kantor; sepatu pantofel jadi simbol parlente. Bahkan sepatu boot, yang konon untuk prajurit juga dipakai. Yang terakhir mudahmudahan bukan karena militerisme.

Akhirnya, sepatu, sekarang bukanlah sepatu belaka. Dia jadi mode; gaya hidup.


02 Maret 2016

Merawat Benci

Entah mengapa saya perlu merawat benci. Terutama kepada orangorang tertentu. Ini penting bagi saya. Tujuannya untuk membuat rivalitas.

Agak susah memang mau bilang sehat. Di dalam satu kecenderungan yang sama, orangorang butuh pecut. Dan pecut saya rasa emoh. Mungkin jumawa kalau saya jauh lebih bisa.

Rasa sinis, atau mungkin benci, tentu tak mungkin saya umbar. Apalagi saya nyatakan terbuka. Efek sosialnya akan buruk. Saya suka menyembunyikannya. Bagi saya, tak penting orangorang tahu. Lagian buat apa orang yang saya siniskan tahu. Tidak penting.

Saya rasa memang harus demikian. Hidup memang ajang saing. Bahkan agama nyatakan lomba di jalan kebaikan. Tapi, entahlah yang saya punyai ini suatu kebaikan. Atau janganjangan tidak etis. Merawat sikap sinis. Menjaga rivalitas.

Saya belakangan ini belajar menulis. Bisa dibilang itu saya lakukan karena berusaha ambil jalan literasi. Soal menulis sudah lama saya lakukan. Cuman, gairah menulis belum seperti kayak sekarang. Kiwari, seperti ada hasrat mau menulis terus. Apa saja. Yang penting saya suka.

Di dunia literasi inilah saya menanam pohon sinisme. Saya mendefinisikan rival. Memetakan lawan. Dan, benci atau rasa tidak suka jadi sumbernya. Di sini saya kira, saya jadi orang yang jahat. Tapi, apalah arti jahat sesungguhnya, kalau itu sudah jelma aksara. Di dalamnya kejahatan bisa jadi baik, atau sebaliknya.

Saya yakin, di luar sana banyak orang yang tak suka saya. Saya maklum. Juga, saya bisa saja tak suka beberapa orang. Itu wajar.

Jadi ini hanya problem biasa. Hanya soal pribadi saya.

Dalam beberapa lingkait, konflik memang penting. Terutama konflik laten. Dengan itu aktifitas manusia diselenggarakan. Saling membangun relasi. Kasih sayang, senyuman. Namun, juga cemburu. Semua itu kualitaskualitas pribadi yang timbul tenggelam di balik hubungan sosial. Tanpa itu, tak ada manusia. Barangkali hanya mahluk jernih tanpa cela. Manusia, mahluk yang penuh cela, dan tentu celah.

Jadi tak usah merasa lengkap. Manusia mahluk yang butuh kerja sama. Karena itulah dia jadi utuh. Keutuhan ini biasanya ditemukan dalam bentukbentuk ikatan kolektif. Bisa keluarga, komunitas, organisasi, partai, atau juga negara. Hubungannya bisa ketemu karena agama, hobi, suku, latar belakang, ilmupengetahuan, ideologi, cinta, dan macammacam. Tapi hakikat di balik hakikat, semua itu digerakkan atas peristiwa berhadaphadapan; persitegangan; permusuhan; konflik.

Saya merasa, yang harmoni hanya akan melihat yang baik. Ikatan yang terlalu dekat bikin susah objektif. Saya butuh dasar penolakan, sikap berbeda agar punya cara lain. Apalagi kalau soal penilaian. Seorang kawan butuh musuh agar kejahatannya tampak. Seorang lawan butuh kawan agar kebaikannya muncul.

Antonio Gramsci bilang, bersamasama sekaligus menentang. Itu dia sebut skandal kontradiksi. Inilah yang saya maksud. Bersama sekaligus menentang. Saya bangun rivalitas. Saya bangun skandal pertentangan.

Agak susah mau bilang tidak ada persaingan. Itu terlalu naif. Hubungan macam mana pun selalu mengandaikan dua sumbu. Dua ujung yang berbeda. Di dua ujung itu masingmasing berdiri. Berjalan ke arah yang berlawanan dan menengok ke belakang, siapa yang telah panjang mengambil garis. Saat itulah persaingan sudah dimulai. Sejak berdiri di atas garis.

Banyak orang purapura rendah hati. Membikin diri dengan semangat moralitas tertentu. Bicara soalsoal krusial. Mengajarkan hal ihwal substansial. Namun sial, di waktuwaktu tertentu mengucap perpecahan, bikin benteng dengan menjelekjelekkan. Bicara universal, tapi parsial. Di kawankawan dekat omong bual. Menyudutkan kelompokkelompok tertentu dengan dalildalil. Itu banyak. Membuat orangorang jadi marginal.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...