01 Januari 2016

Ketika Memulai Menggambar

Kebiasaan menulis saya pertama kali tumbuh ketika mahasiswa. Itupun semester banyak. Menggelikan. Sepanjang ingatan saya, sebelum itu, menulis sebagai aktifitas menulis pernah sekali saya lakukan ketika mengikuti pelajaran bahasa indonesia di Sekolah Dasar. Itupun hanya berupa membuat karangan bebas sebagai tugas akhir pekan. Mendengar kata “bebas” waktu itu senangnya tak ketulungan. Saya bisa berimajinasi sesuka hati. Apalagi itu diungkapkan melalui cerita. Maka untuk pertama kalinya, yang namanya imajinasi di kepala saya, bisa melayanglayang.

Omongomong soal imajinasi, sebenarnya itu sudah dipunyai oleh siapapun ketika anakanak. Itu dialami ketika saya sering melakukan dan menyalurkannya melalui gambar. Di waktu kecil memang saya gemar menggambar. Saya rasa ini dialami hampir semua anakanak. Kalau tidak percaya, coba datang ke rumah saya melihat keponakan imutimut nan jail saya yang hampir tiap sudut tembok rumah sudah dicoretinya.

Kala itu, pertama kalinya saya punya gema suara di dalam kepala bahwa saya punya bakat menggambar. Berdasarkan keyakinan mungil saya ini, saya mulai sering meniru dan menggambar bentukbentuk manusia yang saya lihat di majalah Bobo langganan kakak saya. Kelak majalah anakanak ini pula yang mengajari saya untuk belajar membaca pertama kalinya.

Aktivitas menggambar akhirnya membawa saya dan beberapa temanteman mewakili TK tempat saya belajar (lebih tepatnya bermain sih!), mengikuti lomba menggambar. Lumayan, pasca lomba, saya dapat membawa pulang satu piala kecil plastik berwarna emas. Bahagia bukan main. Dan, mulai saat itu pula terbersit di dada saya, saya berniat menjadi pelukis.

Citacita itu bertahan cukup lama seiring dengan bangganya saya ketika sering ditanyai kelak mau jadi apa. Pelukis tentu jawaban saya, suatu pekerjaan yang menurut saya bercita rasa tinggi. Citacita ini juga terus hidup dari kegemaran menggambar yang semakin berapiapi. Sampaisampai ketika ada lomba menggambar di majalah Bobo, maka dengan semangat membara, akan saya ikuti tanpa menghiraukan aral melintang. Pokoknya, saat itu menggambar adalah citacita luhur saya. Tak ada yang boleh membendungnya.

Makanya sampai saya menginjak sekolah dasar, pelajaran menggambar yang paling saya sukai. Kesukaan saya ini melebihi pelajaran bahasa indonesia yang di situ ada mengarang sebagai salah satu pelajarannya. Saya merasa, lewat menggambar saya bisa lebih ekspresif dibandingkan dengan menyusun kata malaupun itu mengarang. Apalagi saya senang mencampurcampur warna untuk mendapatkan kesan yang indah. Untuk yang satu ini, saya rela menangis berjamjam hanya untuk mendapatkan pensil warna yang kala itu bisa berubah cat air. Luna nama pensil warna itu.

Saya tak tahu apakah pensil warna itu masih bertahan sampai sekarang. Tapi saat itu, pensil warna itu saya anggap pensil warna yang paling keren. Di saat itu belum ada pensil warna yang bisa diubah layaknya cat air, sehingga menggunakannya kita bisa mencampurcampur warna menjadi lebih menarik. Menggunakan pensil warna yang bisa berubah cat air itu, menjadikan saya bak pelukis profesional. Betapa gembiranya saya.

Namun sayang, untuk menggunakan pensil warna itu, konsekuensinya saya harus memiliki buku gambar yang berkertas tebal. Karena jika hanya menggunakan buku gambar murahan dengan kertas tipis, maka kertasnya akan mudah robek ketika diberikan air. Akhirnya, saya harus membujuk bapak untuk membelikan buku gambar yang setara dengan pensil warna yang saya punyai. Dengan berurai air mata, akhirnya saya punya lengkap, buku gambar kertas tebal dan pensil warna yang bisa berubah cat air.

Tapi sayang semakin saya naik kelas, pelajaran kesenian terutama menggambar jadi sosor. Itu saya rasakan ketika kelas tiga SD, pelanpelan mata pelajaran saya tidak menyertakan menggambar sebagai aktivitas belajarmengajar di dalamnya. Apalagi saat itu ada hapalan kalikalian yang sudah mulai harus kami hapalkan. Pelanpelan, minat saya yang menggebugebu itu akhirnya tertimbun jauh tanpa dasar. Hingga akhirnya ekspresi menggambar, saya salurkan ke mejameja dalam kelas.

Di waktu SD, saya juga senang menghabiskan kapur tulis. Apalagi kalau kapurnya berwarnawarni. Itu sudah cukup membuat saya senang, karena dengan itu saya bisa menggambar apa saja di papan tulis lengkap dengan warnawarninya. Walaupun saya tahu setelah keluar bermain usai, gambar itu bakal dihapus. Dengan berat hati kejadian itu saya anggap sebagai perilaku yang tidak saya sukai. Karya gambar saya tidak diapresiasi, langsung dihapus begitu saja. Menjengkelkan.

Kelak kebiasaan saya itu jadi bumerang. Soalnya ketika saya menggambar, saya jadi lebih sering dimarahi guru karena menghabiskan persediaan kapur di kelas. Maka mau tak mau, kebiasaan saya itu pelanpelan saya tinggalkan. Capek diomeli terus. Tapi hal itu tidak berlaku bagi kesukaan saya menggambar di mejameja kelas. Kelak kebiasaan ini terus berkanjut sampai SMA, bahkan saya berani menggambar di baju sekolah saya.

Tapi tunggu dulu. Ini penting. Sebenarnya saya ingin menulis tentang kapan saya memiliki kesenangan menulis, bukan menggambar. Tapi perlu saya katakan di sini (ini amanah hati saya), kebiasaan menggambar saya sudah mulai berkurang ketika saya menginjak SMP, dan di SMA hanya saya lakukan jika saya mau. Tapi itu tidak membuat saya kehilangan skill menggambar. Buktinya ketika menjadi mahasiswa, setiap ospek, sayalah yang menggambar mukamuka tokoh terkenal sosiologi di kainkain spanduk yang super besar dan panjang itu. Kalau sekarang, mau coba kemampuan saya?

Namun satu hal yang saya rasarasai, kecenderungan menulis saya, sedikit banyaknya dipengaruhi dengan kesukaan menggambar ketika kecil saya dulu. Hal ini saya sadari ketika saya mulai menyamakan aktifitas menulis sama halnya dengan menggambar. Jadi ketika saya menulis, sebenarnya energi yang sama saya miliki ketika saya menggambar. Saat itu di kepala saya seperti ada bentubentuk yang harus saya keluarkan dari imajinasi saya.  Seperti ada yang saya bayangkan ketika menggambar. Bedanya ketika saya menulis, saya menggambar melalui katakata, sementara gambar yang sebenarnya selalu beterbangan di dalam benak saya. Jadi saya kira ini hanya soal berubah cara saja. Selebihnya tak beda. Oke kepala saya seperti diikat karet ban, keras sekali. Saya sudahi dulu.


31 Desember 2015

tulisan pendek

Sepertinya setelah dipikirpikir, saya ternyata punya kecenderungan yang lemah ketika ingin menulis tulisan panjang berbasis riset. Pasalnya saya tidak punya bekal kemampuan meneliti lengkap dengan perangkat metodeloginya. Apalagi ketika saya harus berlamalama di lapangan untuk mengumpulkan data. Dan yang paling miris adalah kemampuan saya yang lemah dan sekaligus tak punya banyak daya ketika mengakses literatur yang dibutuhkan. Intinya kemampuan literasi saya sungguh memalukan.

Selama ini ketika menulis, hampir semua tulisan saya (kalau itu disebut tulisan) merupakan semacam tulisan yang tak banyak bobot intelektualnya. Selama ini kalau saya menulis, itu hanya berupa pikiranpikiran lepas yang diolah tanpa memikirkan relevansinya terhadap benar salahnya informasi yang saya tuliskan. Apalagi kemampuan saya menulis selama ini hanya mampu menulis sebanyak tidak lebih dari seribu karakter.

Itu saya sadari ketika saya melihat kembali filefile tulisan saya selama ini. Hampir semuanya merupakan tulisantulisan pendek yang miskin bobot. Ketika saya pikirkan kembali, tulisan pendek saya itu berarti minimnya pengetahuan yang saya miliki. Saya merasa minimnya pengetahuan seseorang berbanding lurus dengan kemampuannya di saat menulis. Tentu yang saya maksudkan bukan ingin mengatakan bahwa tulisantulisan pendek penulis semisal esai memiliki pengetahuan yang minim ketika menulis. Tentu pembaca catatan pinggir misalnya, tak setuju kalau seorang Goenawan Mohammad memiliki bacaan yang minim, bukan? Itu berbahaya.


Tulisantulisan esais yang banyak kita temukan, kenapa hanya berupa tulisantulisan pendek, karena memang kebanyakan (artinya tidak semua) dibuat dengan mengikuti format tulisan di mana tulisan itu akan dimuat. Kita akan bingung kan kalau misalnya suatu majalah atau koran akan penuh karena hanya terisi satu tulisan esai panjang. Artinya, pendeknya tulisantulisan yang sering kita jumpai di media massa, bukan karena kemampuan penulisnya yang tak mumpuni, tapi itu karena memang ditentukan “lahan” tempat tulisan itu akan dimuat.


Itulah sebabnya, di korankoran, ada wantiwanti dari redaksi tentang jumlah karakter yang mesti dipenuhi oleh penulis jika ingin tulisannya dipajang. Karena biarpun tulisan itu memuat wacana yang bagus dan lagi happening, tapi jumlah karakternya sampai berhalamanhalaman, maka tak mungkin juga akan langsung diterbitkan. Kecuali memang tulisan itu diniatkan diterbitkan secara berseri. Tapi ini sangat jarang.

Ini juga dialami pada genre tulisan nonfiksi. Seperti yang saya temukan dari pengakuan Eka Kurniawan, bahwa para cerpenis di luar negeri merasa kaget ketika melihat cerpencerpen yang ditulis oleh penulispenulis dalam negeri di tulis dengan format yang lebih pendek. Pengalaman ini dialami Eka ketika cerpencerpennya diterjemahkan oleh salah satu penerbit luar negeri ke bahasa asing. Menurutnya, cerpencerpen di luar negeri tidak seperti cerpencerpen dalam negeri yang panjangngya banyak ditentukan oleh ketersediaan kolom dari media yang bersangkutan.

Saya rasa, karena kolom yang terbatas di media massa itulah sehingga cerpencerpen di tanah air adalah cerita yang bisa dibaca hanya dalam lima sampai sepuluh menit. Sehingga akan sangat asing jika kita mendapati suatu cerpen yang ditulis berhalamanhalaman banyaknya. Di sini saya mulai bingung apakah selama ini penentuan disebut cerpen oleh karena ukuran ceritanya yang dituliskan pendek ataukah karena memang hanya ditentukan oleh format kolom yang ada di mediamedia massa? Dan yang paling penting apa sebenarnya defenisi “pendek” dalam kategori cerita pendek?

Tapi biarkanlah itu urusan para sastrawan terkhusus cerpenis. Saya hanya menggelisahkan kemampuan saya dalam menulis, suatu aktivitas yang saya minati (belum sampai menekuni), yang hanya bisa menghasilkan tulisan yang pendek nan “ecekecek.” Namun saya menyadari, format tulisan saya bisa demikian karena selama ini banyak ditentukan oleh model tulisan yang memang saya pilih, yakni semacam esaiesai ringan. Itu yang menyebabkan saya tak punya kemampuan membangun tulisan panjang kali lebar berbasis literatur yang ketat. Dan apalagi memang saya senang dengan tulisan yang pendekpendek, karena itu untuk menutupi kemampuan literasi saya yang buruk. Karena prinsip saya, jangan memulai tulisan yang “berat” kalau tidak didukung dengan datadata yang komprehensif dan akurat.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...