01 September 2015

Orangorang Pembenci Kata


Aktivitas menulis sudah sepurba keberadaan manusia. Dalam sejarah peradaban, manusia sering menulis dalam banyak ragam; simbol, gambar, ataupun motifmotif. Dengan begitu menulis menjadi sifat sejarah manusia; ketika ia lahir, tumbuh dan berkembang. Bahkan aktivitas menulis adalah penanda terakhir dari manusia yang ditilap sangkar waktu; di atas nisan, aksara menjadi penyambung manusia antara ada dan tiada.

Manusia dimulai dari aksara, tapi menulis adalah permulaan peradaban. Di awal narasi penciptaan manusia, kun adalah aksara yang menandai titik mula kehidupan, sementara tulisan adalah cikal bakal kebudayaan manusia. Begitu kirakira permulaan dan perkembangan manusia. Bermula dengan aksara dan berkembang melalui tulisan.

Itulah sebabnya manusia mengolah kata. Itulah mengapa manusia mengukir aksara. Dengan begitu, manusia bertukartangkap untuk saling bertukarsapa, berkomunikasi melalui jejaring makna, dan mengembangkan kehidupan melalui kesalingpengertian.

Melalui aksara dan tulisan, membuat manusia akhirnya membangun jarak dengan mahluk lain. Aksara dan tulisan menjadi ciri sekaligus pembeda dari mahlukmahluk di sekelilingnya. Dengan itu manusia membangun ciri kebudayaannya, melalui kata melalui tata. Kata sebagai simbol dan alat tukar pemahaman, sedangkan tata adalah kemampuan teknis manusia untuk mencipta bendabenda beserta pengaturan dan pengelolahannya.

Maka itu manusia disebut mahluk yang bertutur, sebab melalui tuturan manusia menukar maksud dan pesan. Juga dengan kemampuan tata manusia disebut homo faber, mahluk pekerja. Sebagai homo faber manusia punya kekuatan mengubah nature (alam) menjadi kulture (budaya), merekayasa alam buas menjadi alam kehidupan. Dengan kata lain, melalui kata manusia membangun konsep, dengan tata manusia mengerjakan konsep.

Tapi manusia tidak selamanya menyukai kata dan malas menata. Banyak orangorang yang tidak ingin berkerja dengan kata, sebab kata diartikan ihwal yang tak punya sumbangsih kongkrit. Bergelut dengan kata disebutnya pengecut, dikarenakan kata tak bisa mengubah dunia. 

Orangorang seperti ini biasanya dengan sendirinya malas menata, dan sering kali jika menata maka tak sanggup rapi dan apik. Kenapa demikian? Karena bekerja dengan kata itu berarti kita harus sering menyusun tata bahasa, tata pikir dan jalan pikir untuk membangun maksud yang terang. 

Dengan menyusun kata berarti ada jejaring hubungan makna yang sistemik tersusun rapi di tiap relasinya. Itu mengapa, orangorang tak menyukai kata akan sulit membangun katakata dengan susunan pikiran yang baik.

Lalu siapakah orangorang yang selalu bekerja dengan kata? Di dalam sejarah peradabanperadaban, orangorang yang bekerja dengan kata selalu menjadi pusat dari lahirnya peradaban. 

Di Yunani purba, ada dua macam yang selalu bekerja dengan katakata; filsuf dan Sastrawan. Sang filsuf, membangun konsepkonsep filsafatnya melalui katakata yang direnungkan dan dipraxiskannya. Sementara sastrawan bergelut dengan kata untuk menguak tabirtabir makna yang dikandung di dalamnya. Melalui kata yang direnungkan, sang filsuf menyusun dasardasar filsafat, sedangkan dari kata yang dikuak, sang sastrawan mengasah dunia pemaknaan manusia. Akhirnya dari orangorang semisal Homer, Socrates, Plato, Aristoteles, peradaban Yunani purba bermula.

Walaupun begitu, ada juga orang yang senang bekerja dengan kata tapi punya maksud yang lain. Tidak seperti filsuf maupun sastrawan, kaum sophis barangkali adalah model orang yang sering memutar balikkan kata. Di tangan orangorang shopis, kata menjadi tak menentu sehingga makna sering kali disalahartikan. 

Apabila demikian, maka kebenaran yang dapat terungkap melalui kata, justru tertimbun jauh di balik maksud lain orangorang sophis. Ketika Socrates menyebut orangorang ini dengan sebutan orangorang yang tak bijak, kaum sophis malah emoh dan seringkali mengunjungi orangorang kaya untuk mencari uang dengan menjual katakata.

Buku sebagai sangkar katakata, peradaban sebagai tugu tata adalah dua hal yang berkaitsambut. Melalui buku peradaban dirawat, dengan peradaban buku dipertahankan. Peradaban manusia bisa dibilang dimulai dari keberadaan bukubuku. Eropa bisa terang benderang sebab buku menjadi benda yang menyebar secara massif. Kita tahu, di Eropa kuno, buku masih barang privat, hanya kepunyaan padripadri gereja, kaum bangsawan dan rajaraja. Tapi mesin cetak Gutenberg-lah yang mengubah jalan peradaban dari pusatpusat gereja, pusatpusat kerajaan menjadi milik banyak orang. Akhirnya dengan mesin cetak terjadi liberalisasi ilmu pengetahuan yang menyebar melalui cetakancetakan buku mesin Gutenberg. Dan Eropa akhirnya melek aksara.

Sementara atas peradaban buku dipertahankan dan dijaga. Sebab buku bukan saja peninggalan peradaban, tapi juga adalah benda yang mencirikan peradaban. Tak bisa dibayangkan tanpa buku peradaban bisa bertahan lama, di mana dalam konteks ilmu pengetahuan, buku memang bendabenda peradaban. Atas asumsi inilah, dari alaf sejarah, tak ada bangsa yang mampu membangun peradabannya tanpa mensyaratkan keberadaan ilmu dan pustaka bukubuku.

Walupun demikian, sejarah tak selamanya jernih dari noda peradaban. Jika ada orang yang benci dengan katakata, maka bisa saja paralel dengan sikapnya terhadap peradaban. Artinya bila katakata sudah dibenci, dengan demikian peradaban juga dibencinya. Orangorang semacam ini ditimbangtimbang jauh lebih kejam dari kaum sophis. Kaum sophis masih menggunakan kata walaupun punya motif ekonomik di balik maksud ia bekerja, sementara orangorang pembenci peradaban biasanya adalah orangorang yang bekerja dengan aksiaksi kekerasan.

Kekerasan dalam lorong gelap sejarah biasanya dilakukan oleh para penguasa  otoriter. Di hadapan penguasa, katakata tak punya tempat, karena bila kata diterima, berarti ada ruang dialog di dalamnya. Sementara dialog berarti cara bawahan untuk mempertanyakan keputusankeputusan penguasa. Sebab kata adalah asal mula negoisasi. 

Itulah mengapa banyak penguasa tak ingin dialog, karena mereka membenci katakata, karena mereka membenci pikiranpikiran. Maka di sepanjang sejarah, di mana ada pusatpusat kata berkembang, di mana ada tempattempat pemikiran bersemai, dan itu dapat membuka dialog bagi penguasa, maka kekerasan adalah tradisi yang diambil penguasa untuk memberangus.

Sampai di sini, orangorang yang membenci katakata, biasanya punya satu hal; malas bertukar pendapat.

10 Juni 2015

Hikayat Jalan Raya


Di kotakota besar, jalan raya adalah tempat perebutan dan penaklukan. Di jalan raya, orangorang dari beragam profesi berjibaku; polisi, pengendara kendaraan, anak jalanan, penjual koran, pengamen, supir angkutan, pedagang asongan, pengedar brosur, para demonstran, pejalan kaki dsb., menggunakan jalan raya dengan beragam kepentingan. 

Polisi misalnya, sebagai representasi hukum harus hadir di jalan raya dengan maksud mengatur ketertiban umum. Para pengamen memanfaatkan setiap perempatan trafic light untuk mendulang  untung. Para pengendara apalagi, adalah orangorang yang paling berhasrat menguasai jalan dengan dalih efisiensi waktu.

Begitu juga mahasiswamahasiswa demonstran, memandang jalan raya sebagai ruang publik yang paling mungkin digunakan di dalam sistem demokrasi yang mandeg. Singkatnya, jalan raya adalah ruang publik tempat kontestasi dari beragam kepentingan dan perebutan berlangsung.


Sejarah jalan raya barangkali sepurba peradaban manusia. Semenjak dahulu manusia senantiasa mengkondisikan perkembangan hidupnya dengan alam. Di peradaban Mesir tua misalnya, jalan selalu dibangun seiring dengan keberadaan daerahdaerah subur semisal sungai, rawarawa dan ladangladang pertanian.  

Bahkan kehidupan kota akhirnya harus disesuaikan dengan keberadaan daerahdaerah subur sebagai tempat penghidupan. Dengan hidup yang demikian, jalan dibangun untuk mengakses sumbersumber alam yang menunjang kebutuhan dasar hidup manusia.


Tetapi ketika peradabanperadaban besar menemukan tempattempat baru untuk ditaklukkan, jalan akhirnya dirumuskan berdasarkan logika militer. 

Jika sebelumnya di peradabanperadaban yang subur tanahnya menyesuaikan jalan raya dengan hewanhewan pengangkut bahanbahan makanan, di peradaban yang memandang perang sebagai sarana penaklukkan, menandai jalan raya sebagai akses transportasi alatalat perang. Tujuannya tiada lain memudahkan sarana militer dengan efisien dapat dipindahkan dari pusatpusat pelatihan menuju medan perang.  

Seperti yang diperlihatkan memang, sejak dulu jalan raya selalu ditandai dengan dua hal; sumbersumber alam dan perang.

Di abad modern, sejarah transportasi adalah sejarah modernisasi itu sendiri, di mana perang dan pemanfaatan sumbersumber alam malangnya adalah cara modernisasi bekerja.

Di tanah air, bila kita ingin menandai permulaan modernisasi, justru ditandai dengan pembangunan jalan rel kereta api.  Dengan rel kereta api, modernisasi punya maksud kolonialisasi.

Dari pembangunan jalur rel kereta api  Semarang-Vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta, daerah perkebunan yang subur) yang dilaksanakan oleh Nederlandsch Indisch Spoorwegmaatschappij (NIS) misalnya, dibangun untuk mengangkut hasilhasil bumi berupa gula, kopi dan nila yang dikerjakan melalui sistem tanam paksa (Cultuur Stelsel).

Kita juga mengenal jalan raya pos (de Groothe Postweg) yang merupakan proyek penaklukkan di Hindia-Belanda. Di mulai dari Anyer hingga ujung Jawa, Banyuwangi, adalah peninggalan bagaimana jalan raya yang dibangun selain alasan perdagangan, juga digunakan sebagai strategi militer Hindia-Belanda untuk mengontrol pergerakan pribumipribumi melalui patrolipatroli militer.

Selain itu melalui jalan raya pos, Hindia Belanda menjalankan strateginya untuk mengontrol ruang pergerakan pribumi dengan penggunaan akses informasi yang cepat.


Jalan raya sebagai ruang penaklukan memang ditandai dengan kekuasaan yang intim di dalamnya.

Sebagai ruang publik, kekuasaan atas jalan raya bisa muncul dengan beragam bentuk sesuai situasi yang menyertainya. Seperti yang ditunjukkan sebelumnya, sejarah jalan raya adalah medan penaklukan yang merupakan bagian dari modernisasi. 

Melalui jalan raya, modernisasi bekerja dengan cepat untuk mengakses tempattempat terpencil agar mudah ditaklukkan. Urbanisasi sebagai bagian dari modernisasi dalam hal, ini adalah nama lain yang kerap kali menjadi dalil untuk menundukkan suatu kawasan.


Sebab itulah jalan raya senantiasa diperebutkan. Seperti yang dimadahkan filsuf kiri Prancis, Henri Lefevbre, bahwa ruang selalu diperebutkan untuk memungkinkan suatu relasi sosial dapat diberlangsungkan. Dari analisisnya tentang ruang, jalan raya dapat kita pahami sebagai medan yang senantiasa direbut dan didominasi. Dengan dasar itu, di era yang didominasi kapital, jalan raya menjadi bagian integral untuk memberlangsungkan praktikpraktik pertukaran ekonomi.

Itulah mengapa, hampir disepanjang jalan raya, dengan urbanisasi selalu berdiri pusatpusat keramaian, perbelanjaan, hiburan, kebugaran dan diskotik sebagai arena transaksional.


Setua manusia, jalan raya juga adalah cermin sebuah kebudayaan. Hampir setiap waktu kita tak pernah lepas dari jalan raya. Sebab itulah banyak waktu kita habiskan di jalan raya. Di jalan raya hasrat kekuasaan tidak saja ditunjukkan dari sejarah yang berlangsung, melainkan juga adalah kita yang terlibat langsung di sana.

Di jalan raya, hasrat kekuasaan misalnya, ditampilkan dari betapa seringnya melanggar lampu merah. Para mahasiswa yang mentransformasikan kekuasaannya melalui aksi demonstrasi. Atau politisi yang tak tahu malu memasang baliho besarbesar di tengahtengah jalan. Dan yang paling memuakkan adalah betapa sesak dan semrawutnya jalan raya ketika macet; betulbetul cermin dari budaya kita.


Akhirnya di jalan raya, orangorang dari beragam kepentingan tumpah ruah. Dan memang barangkali di jalan raya hanya ada dua hal: perebutan dan kekuasaan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...