03 Maret 2015

madah empatpuluh satu

Tik tik tik bunyi hujan di atas genteng
Airnya turun tidak terkira, cobalah tengok
Pohon dan ranting basah semua...

Saya tak tahu, apakah lagu ini mampu menenangkan hati kita ketika musim penghujan. Apalagi hujan yang tak hentihenti. Tapi dahulu, dari atap genteng yang bocor, sebagai rasa syukur, Ibu Soed mencipta lagu ini saat hujan datang. Hujan jadi penanda betapa manusia dan alam, bisa akrab dan manja. "Cobalah tengok pohon dan ranting" alam yang disambut akrab, jadi "basah semua."

Mulai saat itu, berawal dari rumah kontrakannya di jalan Kramat, Jakarta, lagu itu menjadi pelipur negeri bagi anakanak ketika hujan. Hujan, akhirnya, melalui lagu itu jadi peristiwa alamiah yang disambut riang. Hujan lewat lagu itu, jadi peristiwa yang mengundang syukur dan tafakur.

Tapi, saya tak tahu apakah lagu ini masih akrab di telinga anakanak kiwari. Juga, apakah hujan bisa mendatangkan syukur agar kita bisa bertafakur. Hanya saja, bagi yang tumbuh bersama lagu itu, hujan di waktu sekarang tak sekadar bunyi di atas atap genteng bertalutalu. Hujan, bagi yang akrab dengan lagu ini, mungkin bisa membuat gerutu mengutuk air bah yang tak ingin kita alami.

Di kotakota besar, yang sudah sesak beton berlapislapis, merasai hujan sebagai bencana. Air yang jatuh, dengan volume bertonton banyaknya malah bisa membuat sebuah kawasan jadi kumuh. Sebab, suatu kota dengan bangunan yang padat, tak pernah memperhitungkan bagaimana air tanpa henti jatuh dari langit bisa disalurkan. Karena itulah banjir datang, dan air menggenang jadi soal.

Barangkali ini adalah soal bagaimana manusia memandang tempat mukimnya. Alam, dunia yang kita huni sekarang, sudah kita tekuklututkan di bawah kendali otoritas manusia. Semenjak cogito cartesian menerangkan supremasi rasio manusia, praktis keberadaan alam menjadi entitas inferior. Alam menjadi objek subordinat hirarki kekuasaan akal manusia. Itulah mengapa, sains sebagai media rasio bekerja, menempatkan alam menjadi realitas tak bernilai apaapa.

Dan juga, teknologi, dunia berubah total. Mesinmesin dibuat massif.  Dan, menggantikan tenaga manusia, mesin bekerja atas dasar efisiensi dan efektifitas. Akhirnya, robotrobot merambah sudutsudut hutan. Mengubahnya jadi lapang, dan merusaknya. Sontak hutan berubah menjadi kawasan yang tandus. Dimanfaatkan tanpa pernah tahu bagaimana mengembalikannya. Di hutan, lagu Ibu Soed tak pernah sampai.

Berkat teknologi, manusia memanipulasi alam liar menjadi hunian yang akrab. Alam dimanusiakan agar lebih sesuai kehendak manusia. Hingga akhirnya, kemajuan teknologi terlalu jauh memanfaatkan alam demi kepentinga manusia. Teknologi tanpa sadar, telah mengubah alam menjadi momok miterius. Kiwari, alam bisa datang menuntut balas; berupa longsor; berupa banjir; berupa penyakit, tsunami, puting beliung, kebakaran. Hingga entah berupa apa lagi.

Tapi sebenarnya, yang jadi soal, hasrat manusia ketika membangun tempattempat baru. Di kota besar, tampak sekali hasrat manusia menaklukkan daerahdaerah lapang untuk manfaat hunian baru. Namun, di daerah yang dihuni itu, manusia kota sudah tak hirau kepada alam sekitar. Rumahrumah mereka justru menjadi monumen hasrat yang egois.  Tanah dilapis betonbeton. Udara dibuat cemar. Dan, suarasuara tidak pernah berhenti.

Hujan di kotakota juga cara bagaimana alam menunjukkan kegagalan perencanaan pembangunan. Ruang hijau terbuka berbanding sedikit semakin tingginya gedunggedung. Hari ke hari, tibatiba beberapa gedung sudah kokoh berdiri. Barangkali ini percepatan urbanisasi. Tapi, siapa memperhitungkan alam?

Yang ada, ruang yang dipermak harus menjadi tempattempat modal bergerak. Sebab itulah, keindahan ornamen perlu, apalagi keamanan suatu lingkungan. Tanpa semua itu, tiada modal mengalir.  

Sudah tentu banyak pertukaran mengalir ditempattempat kapitalisasi berlangsung. Mungkin, melebihi banyak air hujan yang jatuh. Sampai di sini betapa sedikitnya rasa syukur kita.

Hujan, saat mukim-mukim belum sepenuhnya dari beton dan tembok, sudah pasti banyak mengundang takjub, juga tentu syukur. Apalagi banyak harapan bergantung dari jatuhnya air hujan.

01 Maret 2015

madah empatpuluh

Siapa yang bakal menyangkai, bahwa bangsa ini sebenarnya lahir dari anakanak muda. Tapi, itulah sejarahnya.

Di masa perjuangan Indonesia, pemuda memang punya andil. Tanpa 28 Oktober, barangkali sejarah akan berbeda. Kita tak tahu pasti, apa yang bakal terjadi jika di saat itu tak ada inisiatif dari pemuda untuk berembuk mengadakan kongres dengan agenda yang besar. Juga sulit dibayangkan tanpa sumpah pemuda yang heroik itu, suatu niat begitu agung diperjuangkan. Barangkali tanpa itu, sejarah hanya kepunyaan bapakbapak pejuang militer dan tuantuan pemerintah. Juga sejarah perjuangan akan panjang  berlarutlarut dan kejadian sudah pasti akan  jauh berbeda. Atau bahkan Indonesia adalah negeri yang bisa saja tidak berbentuk kesatuan.

Tapi itu sudah terjadi, pemuda terlibat dan berjuang dengan gigih. Di masa silam mereka menjadi golongan yang sadar suatu negeri harus bersatu dan berpadu. Tak ada sekat untuk menyebut suatu negeri yang merdeka. Dan dari perjuangan mereka, ada momentum yang bergayung sambut setelahnya. Indonesia sebagai negeri yang diidamkan pelanpelan dibentuk.

Sebab itulah Pramoedya Ananta Toer meringkas sejarah negeri ini adalah sejarah kaum muda.

Tapi, tidak bisa juga kaum muda adalah satusatunya determinan dalam membentuk sejarah Indonesia. Karena sebagai sebuah peristiwa, sejarah dibentuk dari berbagai macam kemungkinan, dari beragam cara dan lintasan kejadian. Sementara banyak peran aktif orangorang saat itu, di luar kaum muda, juga turut terlibat dalam membentuk suatu kejadian sejarah. Singkatnya di masa itu, kaum muda beserta yang lainnya bersatu dalam satu peristiwa yang berproses dan menjadi.

Yang patut dihargai dari sejarah bangsa adalah keberanian kaum muda. Orangorang semacam Tabrani, Sanusi Pane, W.R Supratman, Muh. Yamin dll. yang terlibat aktif dalam kongres kepemudaan adalah orangorang yang sudah merelakan berbagai macam resiko dapat datang menghadang. Mereka sudah pasti mengetahui resiko yang akan mendatangi mereka, sebab di saat itu Hindia Belanda adalah negeri yang dikuasai oleh kumpenikumpeni berkulit putih. Sementara dalam hal hak untuk berkumpul bagi anakanak pribumi atau terpelajar harus memiliki ijin dari pemerintahan Hindia Belanda.

Namun beserta berbagai macam organisasi saat itu, suatu peristiwa nasional akhirnya dapat terselenggarakan. Suatu noktah sejarah akhirnya berhasil mempertemukan berbagai kaum muda dari penjuru nusantara. Dan agendanya jelas, bahwa perlu adanya satu persatuan yang menaungi seluruh negeri nusantara melalui satu gerakan nasional. Dari peristiwa itu ada kemauan dan tekad yang besar, dan juga keberanian.

Keberanian mereka adalah suatu sikap yang lahir dari kesadaran akan pentingnya suatu negeri yang bersatu dalam satu identitas. Yang mana suatu identitas saat itu adalah cara untuk keluar dari dominasi sekatsekat yang memisahkan tujuan Indonesia sebagai negeri yang satu. Itulah sebabnya, di bawah Hindia Belanda saat itu, suatu identitas yang mempersatukan akan menjadi kekuatan pembanding dari penjajahan yang selama itu terjadi. Dan itulah yang dirasa penting untuk dilakukan, yaitu keinginan untuk bersatu.

Namun sebenarnya apa yang dirasakan sebagai suatu tekad dan keberanian untuk bersatu, adalah rangkaian panjang yang berproses tanpa henti di bawah penjajahan pihak sekutu. Proses itu adalah suarasuara pembebasan yang tak padam sebab apa yang universal samasama dirasakan oleh semua masyarakat nusantara. Penjajahan yang banyak mengambil korban dan ketidakadilan yang menelan kesejahteraan masyarakat adalah keadaan yang tak bisa ditoleransi. Sebab itulah, pemerintahan manapun yang banyak berbuat tak adil dan sewenangwenang tak manusiawi memperlakukan masyarakat, maka di dalam keadaan itu selalu ada kesadaran yang muncul untuk menerobos keadaan yang menindas.

Dan dari keadaan yang berlarutlarut itu, dari pemerintahan yang sewenangwenang , apalagi berasal dari negeri nun jauh di seberang, tak ada hak sama sekali untuk melakukan perbuatan semenamena. Maka dari itulah, kaum muda bangkit dan berjuang. Menyusun suatu organisasi untuk memperbaiki keadaan yang telah lama dianiaya oleh pihak asing.

Dalam sejarah, pertemuan yang diprakarsai oleh pemudapemuda saat itu, adalah momentum yang memiliki gaung yang panjang. Setelah dua tahun dari kongres pertama, maka lahirlah ikrar janji untuk memiliki satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Satu, di sini adalah simbol yang ingin kukuh dan merdeka dari pecahpecah yang bisa mendatangkan kelemahan dalam berjuang. Satu, di sini berarti ikrar yang ingin solid atas kesamaan nasib yang dihadapi. Satu, di sini adalah satu untuk membangun suatu negeri yang tak gampang untuk dipreteli oleh pihak asing.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...