27 Januari 2015

madah delapan

Barangkali malam ini memang tak ada yang bisa dijadikan bahan dari tulisan ini. Memang sepertinya demikian, sebab untuk malam ini memang tak ada ide yang bisa dikembangan menjadi tulisan. Inilah barangkali keadaan yang harus dilampaui oleh seorang yang menginginkan setiap malamnya dapat menuliskan sesuatu. Ide atau apapun itu memang sepertinya tertahan entah di mana? Atau barangkali ia telah hanyut terbawa arus hujan? Entahlah.

Tentang kondisi ini, harus saya katakan adalah pertama kalinya saya kehilangan ide untuk dituliskan. Perhitungan ini semenjak saya memutuskan niat untuk dapat menulis di tiap malam dari dua minggu yang lalu. Dan ini hari ke lima belas saya mengalami kehilangan ide dan juga inspirasi untuk menulis. Tepat di hari kelima belas.

Tetapi jangan dulu, bukankah ini juga adalah sebuah catatan? Atau lebih tepatnya sebuah catatan yang menuliskan tentang tiadanya ide sebagai bahan tulisan. Bukankan itu juga adalah sebuah ide yang implisit di dalamnya? Artinya saya sebenarnya tidak pernah kehilangan ide. Yang sebenarnya terjadi bukan pada dimensi imajinatif saya, melainkan “niat” saya; sesuatu yang di dalam kehendak. Semangat.

Dan sepertinya itulah yang terjadi, situasi yang tidak dilatarbelakangi oleh semangat yang stabil untuk membangun sebuah catatan. Itulah sebabnya tulisan ini bisa dibilang tak punya apaapa untuk dikembang biakkan. Untuk itu saya akhiri saja dengan harapan besok kondisi di malam ini tak terjadi lagi. 


26 Januari 2015

madah tujuh

Tulisan ini tak bermaksud menjadi catatan yang panjang. Catatan ini hanya bermaksud untuk menulis tentang artikel yang terbit beberapa hari lalu di kolom literasi Tempo Makassar. Tulisan ini terbit di hari jumat, dua tiga Jaunari. Saya membacanya melalui media Fb yang ditandakan oleh penulisnya langsung. Penulisnya adalah orang yang saya kenal. Dan aktivitasnyalah yang membuat saya salut dan magut terhadap semangatnya.

Membaca tempo apalagi koran bukanlah aktivitas seharihari saya. Begitu juga kolom literasi koran Tempo makassar jarang saya membacanya. Tetapi untuk kali ini beda, apalagi sebelumnya saya melihat penulis yang saya maksudkan telah menandai saya untuk membaca hasil tulisannya. Tetapi beberapa hari ada aktivitas praktik lapangan, maka baru sore tadi saya membacanya melalui fb.

Tulisannya berjudul “Memberilah dengan Sari Diri” Sejauh yang bisa saya tangkap, dari tiga belas paragrafnya, tulisan ini hendak mengingatkan bahwa memberi sebenarnya adalah peristiwa yang sosial juga sekaligus spritual.  Tulisan ini menyebut bahwa motif memberi bisa berarti adalah peristiwa tukar menukar dari yang memberi dan yang menerima. Tetapi aktivitas tukar menukar ini justru memiliki motif untuk memiliki dan dimiliki. Ini berarti aktivitas sosial ini, yang sering kita lakukan, adalah tindakan yang memiliki maksud dan imbalan. Tindakan ini sosial walaupun tidak spritual.

Lantas bagaimanakah memberi yang spritual? Dalam tulisannya, memberi yang spritual adalah pemberian yang tanpa pamrih dan imbalan. Tindakan ini sama halnya dengan pandangan moral Kant, bahwa sesungguhnya berbuat baik bukan untuk imperatif yang mewajibkan. Berbuat baiklah jika memang itu baik, bukan untuk yang lain. Dan tindakan yang tanpa pamrih inilah yang sudah jarang kita lakukan apalagi dibiasakan.

Di bawah judul memberilah dengan sari diri, saya dapat tangkap maksud yang gamblang juga sekaligus gamang. Dalam tulisan yang analitis itu ada yang kritis terhadap pertemuan sosial kita; di kantorkantor, pasar, mesjid, di rumah, sekolah, pinggir jalan atau di manapun itu, yakni janganjangan kita memberi dan menerima tanpa menyertakan ikhlas di dalamnya. Di saat demikianlah yang kritis dalam tulisan itu berbicara; bahwa kita nampaknya memang tak jarang menjadi manusia yang tidak sprituil. Dan itulah mengapa tulisan ini membawa kegamangan. Sudahkah kita memberi dengan tanpa maksud yang mulukmuluk. Ini gamblang juga gamang !?


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...