13 Juni 2013

la mémoire et à venir


Entah seberapa jauh kita bisa mengingat masa-masa dimana kita kecil? Mungkin banyak yang terlupakan, tetapi bisa jadi tidak sedikit yang masih tersimpan. Ingatan punya aturannya sendiri; tentang apa yang layak tersimpan dan apa yang mesti kita lupakan, sebab ingatan diwaktu tertentu punya masa-masa ia datang kembali; menemukan gejala yang menghubungkan akan dua peristiwa, dimana masa lalu bisa kita rasakan pada masa sekarang yang punya kemiripan.

Karena perihal ini, maka terkadang ingatan bisa menjadi hal yang perlu diatur, apalagi menyangkut ingatan orang banyak. Dimana ingatan bisa mendatangkan isyarat apa yang patut dan yang harus dibuang jauh-jauh. Maka bisa saja ingatan kehilangan tentang apa yang sepantasnya diingat, tak terkecuali masa kita anak-anak.

Ingatan bisa jadi hal yang memupuk harapan atau sebaliknya?

Harapan?...bisa dikata sejenis utopia; sesuatu tempat yang menempatkan cita-cita yang ideal didalamnya. Atau sesuatu yang tinggi tempatnya. Perihal akan segala sesuatu yang menjadi perlawanan dari kehidupan “bawah” yang serba tak berkecukupan, tak lengkap, tak utuh, tak genap, atau sejenisnya dan sejenisnya: atau bisa dikata Sesuatu yang sempurna.


Yang mana keberadaannya melampaui jenis kehidupan yang dipredikatkan oleh label yang tak sempurna, kehidupan manusia yang terapit serba katakcukupan. Lantas bisakah ia menjadi hal yang benar-benar dirasakan, sesuatu yang betul-betul dialami, yang mana “keseluruhan” dari diri kita betul-betul identik pada apa yang kita harapkan.

Lantas apa arti harapan bagi orang-orang kecil yang terpenggal masa anak-anaknya? Tentang anak-anak kisaran usia lima atau enam yang tiap harinya berdiri dibawah traffic ligh, kolong jembatan,-mereka yang menjajal koran, ngamen, ngemis ataukah pekerjaan yang kita anggap sampah- pada perempatan jalan-jalan yang sering kita lewati. Dan kita pun silau-mungkin istilah ligh punya persinggungan makna dengan apa yang sering terjadi pada kita- berusaha menghindari, berupaya menolak, bahkan menampik kesal pada mereka. Dan kita benar-benar telah memenggal masa kecil kita? 

kindness

Bagaimana kita harus bercerita tentang kebaikan: suatu nilai yang tanpa cacat. Nilai yang kita anggapkan ada pada diri manusia? Mengenai perkataan dan sikap yang kita lakukan. Di mana dia ada pada apa yang kita berikan dan apa yang kita terima. Baik sikap dan tutur selalu mengisyaratkan kehadiran sesuatu kondisi, yang mana pada akhirnya kita tekadang mengharap balasan datang sesegera mungkin. Ini menyangkut sejauh mana kita menerapkan nilai kemanusiaan pada apa yang kita selalu perbuat. Dan tentang ini, Immanuel Kant sudah mewanti-wanti : kebaikan bukanlah perihal isyarat tentang balasan, bukan untuk sesuatu yang diluar dari dirinya, tetapi memang untuk kebaikan itu sendiri. Itu berarti Kebaikan bukan keadaan yang menuntut sesuatu keluar dari otonomisasinya, melainkan demi kebaikan itu sendiri.

Namun bagaimana kebaikan harus kita duduk perkarakan, jika sekarang kita berada pada pusat yang penuh pamrih? Hidup yang menyertakan balasan dan terkadang pilihan dari apa yang diperbuat oleh kita dituntut masuk dalam kategori “pilihan rasional”. Yang mana penggunaan rasio berarti bagaimana agar manusia bisa selamat sentosa, sehingga pada pilihan itu ada tujuan yang enggan kita pendam.

Rasio dan rasionalitas memanglah dua fakultas yang setali tiga uang. Rasio selalu menuntut jalan untuk dapat bekerja, dan rasionalitas adalah media yang memberikan jalan bagi rasio untuk dapat bekerja. Maka dari itu, dimana ada rasionalitas maka disitu ada upaya rasio untuk membela diri. Lantas tentang ini, semuanya menuntut hadirnya kejelasan; sebuah alasan yang diharuskan masuk akal, atau dengan kata lain logis dengan caranya sendiri: membangun argumentasi dengan tujuan memurnikan rasio. Maka prasyarat-prasyarat pun muncul, memberikan landasan bagi bekerjanya sosok dari yang disebut sebagai imperative-imperative yang dengannya seluruh hasil ditakar. Dan ini berarti, seluruh tutur dan perbuatan kita menjadi tak murni dari sejumlah syarat-syarat dimana proposisi-proposisi yang terbangun berkisar pada pernyataan yang bermain pada konteks “Jika-Maka”.

Bagaimana kita harus berbicara tentang kebaikan?Apakah kebaikan adalah isyarat kemanusiaan yang menuntut sejumlah syarat?

Mungkin saja kebaikan adalah kandungan nilai yang tak membutuhkan tuntutan dimana ia harus berada dan pada siapa. Yang artinya ia merupakan nilai yang berada pada saya, anda, dia, mereka, seorang pekerja bangunan, presiden sebuah negeri, tukang nyabu, pelacur, seorang pedagang asongan, seorang Ulama, seterusnya dan seterusnya, dan bisa jadi ada di kantor, jalan raya, gereja, diskotik, gang-gang sebelah rumah anda, kamar anda, dalam bis kota, mobil pejabat, dan  seterusnya dan seterusnya. Namun apa yang luput dari pandangan seseorang, tentang bagaimana cara kita memandang sesuatu, kebaikan sekalipun. Seperti empat orang fotografer yang mengambil objek bangunan yang berbeda sisi. Maka disinilah, kebaikan sarat akan banyak arti, dan posisi menjadi hal yang harus dipertimbangkan pula.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...