11 April 2013

Kita dan Revolusi (Untuk yang "Menanti" di sudut Jipang)

Pernahkah kau terima hutan seperti aku terima hutan, sebagai rumah tinggal, bukan istana..
Pernahkah kau buat rumput jadi ranjang dan berselimutkan luasnya ruang, merasa daif di hadapan yang kelak, dan lupa akan waktu silam yang hilang..-Fairouz-

Disana tiada batas pada deret angka-angka. Tiada batasan umur. Tiada pula keterpilahan ruang. Menyatu menjadi  centang perentangan dialektis menuju pada titik yang sama. Kami melabeli titik itu dengan pilihan kata tunggal; Revolusi. Sebuah petanda yang dipilih dari ikhtiar, kata yang ditempatkan diujung makna yang bukan untuk ruang kosong.  Ini bukanlah kata eksposisi, bahasa yang memaut makna dan mati pada waktu setelah sejarah merentang. Melainkan kata yang simbolis. Seperti bahasa Ali Syariati: Suatu bahasa simbolik adalah bahasa yang paling indah dan halus dari seluruh bahasa yang pernah dikembangkan manusia1. Bahasa yang abadi dengan dimensi makna yang berlapis dan bertingkat. Dari kata inilah gerak kami bermula.

Revolusi acap kali datang disaat suasana menjadi seperti sebuah surau yang suram, gelap. Dimana  pada level metafora menjadi petanda kejahiliaan. Tata hidup manusia  yang terpenjara dari tapal-tapal yang memenjarakan, memisahkan  antara yang nyata dan yang semu.  Situasi kelupa akan bersik cahaya “benar” yang universal. Revolusi punya kekuatannya sendiri, memiliki sumbunya disetiap tempat, tinggal siapa yang menjadi pemantik. Itu saja awal revolusi; pemantik.

Seperti latar abad pencerahan, revolusi memiliki pemantiknya. Orang-orang yang melabrak dogma gereja. Ketika gereja menjadi candu, memutarbalikkan yang “imanen” ke hal yang “transenden”, yang “rendah” menuju lapis langit yang “jauh” dari peri hidup masyarakat. Mematikan nalar yang terpasung oleh berjubel-jubel kitab suci. Kondisi pun menjadi kalut, masyarakat hanya menuai hidup dibawah podium-podium para pendeta. Saat-saat inilah bermunculan orang-orang yang resah, galau, khawatir tentang hidup yang dikotomis, kehidupan yang menata yang “disana” lebih penting dari yang “disini” dan yang “sekarang”. Maka dimulailah era itu, era  “pencerahan”. Situasi dimana manusia  menjadi pendulum sejarahnya sendiri. Situasi yang membilangkan bahwa bukan Tuhanlah penentu hari ini dan esok, sebab manusia dicipta berdasarkan kehendak mutlaknya sendiri.

Revolusi juga bukan segerombolan orang-orang yang hiruk pikuk dengan slogan-slogan perjuangan. Revolusi tak sekedar jargon retoris. Revolusi setidaknya bisa kita pahami dari apa yang dirunutkan  Weber, Dimana sang manusia besar, ide dan keterlibatan yang besar, menempati ruang sejarahnya sendiri. Simaklah sejarah Revolusi, selalu memiliki manusia besarnya masing-masing.  Lantas apa yang menjadi arah ideal dari sebuah perubahan yang berayun? Barangkali  ide, gagasan yang disemai, disuburkan dengan proses dialektis mendapati fungsinya sebagai pelopor sebuah gerakan yang mana massa rakyat turut memegang kemudinya. Setidaknya itulah bahasa Ali Syariati,  bahwa tugas primer seorang intelektual adalah membangun massa rakayat. Syahdan, Revolusi adalah keterjalinan diantara komponen-komponennya.

Maka tibalah kita dimasa sekarang dan mendatang. Dari mana kita mesti mulai?2 Kita bukanlah orang-orang yang hidup di zaman masa lalu. Tidak berdiri ditepian zaman, bahkan kita berada ditengah-tengahnya. Kitalah zaman itu, zaman yang tunggal. Melihat dari mata yang sama, bertindak dari tindakan yang sama. Revolusi kita tidaklah sama dalam bahasa reaksi Marxian, bahwa akan tiba masa dimana para penjarah akan dijarah3. Revolusi kita tidaklah secara naratif dari apa yang tercermin dalam perkataan Bakunin pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka.4 Itu adalah ideology yang semu, Oleh tutur lisan Marx Kesadaran Palsu. Pranata pikiran yang berisikan ajaran yang secara esensial justru menghadirkan para diktator tak bermoral. Kaum religius yang mewah dengan pundi-pundi amal serta sarjanawan yang terperangkap dari kehendak para tetua.

Revolusi barangkali adalah menelanjangi diri sendiri, bersedia menghadapkan diri pada fragmen-fragmen yang kontradiksi, telanjang pada diri-diri yang banyak hingga kita tahu ternyata kita bersama sekaligus menentang. Ada sekaligus meniadakan. Revolusi adalah bahasa vulgar, bahasa yang simbolis, menautkan setiap peristiwa-peristiwa besar dalam perilaku yang sederhana. Setidaknya Revolusi tidak sekedar menjatuhkan seorang diktator dari tahktanya, lebih jauh dari itu berusaha menjatuhkan “diri” dari tahktanya. Selayaknya dalam kondisi yang paling sublim revolusi adalah mengubah hal yang biasa menjadi tak biasa. Karena mungkin saja sehelai daun yang jatuh lebih dahsyat dari jatuhnya seorang kaizar 5.

---

1.      Ali Syariati, Tugas Cendikiawan Muslim
2.      Ali Syariati, Suatu Pendekatan untuk Memahami Islam
3.      Michael Newman, Sosialisme Abad 21
4.      Bakunin, www.google.co.id/ Bakunin,  diakses pada 24 Februari 2011
5.      Tri Wibowo BS, Gunung Makrifat

Makassar, 25 Februari 2011

10 April 2013

Yang Agama


Apa yang kelak datang pada akhir penghayatan tentang 'ada'? 

Konon katanya, agama bermula dari kesunyian. Konon, agama merupakan titik akhir dari pen-sunyi-an. Ataukah konklusi dari penghayatan. Bentuk keinsyafan dari ego yang ditangguhkan. Yang mana cikal ujungnya berakhir kesadaran. Bilamana di sana kesadaran harus tangguh pada sesuatu yang tak terkenali, dalam situasi inilah manusia berada pada situasi yang kurang lengkap. Insan yang tiada keutuhan. Sehingga dengan posisinya  yang demikian agama mengajarkan satu hal yang utama; kerendahan hati.

Jikalau agama adalah hayat kesunyian, namun ia pun harus memahami kenyataan yang lain dari keberadaannya. Perihal alam yang berbeda dari dirinya; alam rimba ektensia, alam lain yang bermaterialkan konkrit. Suatu bentangan yang bersusunkan lapislapis bentuk yang tiga dimensi.Yang selanjutnya ia mau tak mau harus berhadapan dan mendapati dirinya pada dunia yang begitu kontras. Pada titik inilah agama terkadang harus bersilangan dengan hal yang fana; alam duniawi.

Dunia yang sekarang bukan lagi dunia yang sama ketika pertama kali agama datang. Dunia sekarang merupakan dunia dengan adabadab yang berbeda. Tempat yang menghapus bentukbentuk ke-abadi-an. Kita barangkali telah khatam, di mana agama selalu menyusun dunianya yang menampik sesuatu yang tak tetap. Selalu datang dengan cogitan yang meneguhkan 'ada', dengan penyingkiran terhadap yang badani. Yang mana badani merupakan episentrum dari hirukpikuk yang mendatangkan dosa.

Dari sinilah barangkali datangnya soal. Pada tepian antara sunyi-abadi dengan ramaipikuk-badani, agama harus menjatuhkan palunya bilamana keduanya harus dipilih. Antara badani ataukah abadi, antara dunia ekstensia ataukah kesunyian, antara absolut ataukah kefanaan. 

Antara keangkuhan-kesunyian ataukah kerendahan hati pada alam yang tak pernah tetap? 

Sekarang dunia tidak sedang jalan di tempat. Segala sesuatunya bagai bus yang kehilangan kendali. Dunia yang menyatakan dirinya untuk tidak tinggal begitu saja. Tempat yang mendapati dirinya dalam situasi terburuburu. Barangkali pula ini locus masalahnya, dunia yang tak lagi sama, tanah besar yang menjadi tempat tumbuh kembangnya kemajuan. Budaya, politik, ekonomi, bahasa, sikap hidup, ideologi, ilmupengetahuan, teknologi serta sejumlah lainnya saling silap untuk mentata dunia, sedang agama mendapati dirinya sebagai hal yang terasing. Yang mana karena tak lagi sama, maka agama memulai agendanya; gerakan 'pemurnian'. 

Dan kita pun akhirnya maklum, keabadian yang menolak kontaminasi dunia, biasanya dengan dalih pemurnian mentasdik dunia sebagai hal yang mesti tunduk?[]

Pare, awal pagi 020313 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...