Langsung ke konten utama

Postingan

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu waktu, itu Anda lakukan saat teori evolusi Darwin menjadi satu-satunya jawaban atas asal-usul kehidupan ini, yang secara bersamaan membuat Anda kelimpungan membantahnya karena itu tertulis di buku-buku pelajaran IPA. Anda, teman Anda, guru Anda, dan semua orang, entah mengapa mempercayai itu dan mengajarkannya seolah-olah itu titah dari entah siapa. Anda orang beragama, yang dikhotbahkan bahwa sains tentang asal usul kehidupan tidak sepenuhnya benar. Charles Darwin salah, ia tidak mau mempercayai kitab suci yang menyimpan informasi bahwa Adam Hawa lah nenek moyang manusia. Di hadapan orang seperti Charles Darwin, narasi asal usul manusia tidak original berdasarkan alam empiris. Itu semua tidak lebih dari bualan semata, dan apa yang dituliskan di dalam kitab suci bukan informasi yang lahir dari alam pikiran sains. Karena Anda orang ber...
Postingan terbaru

Fakhrizadeh, Sains, dan Terorisme

Pendek saja: Mohsen Fakhrizadeh. Catat nama ini. Dia barangkali satu dari sedikit nama ilmuwan dunia yang dikhawatirkan Barat, terutama Amerika dan Israel. Barangkali pula jarang seorang prajurit seperti Fakhrizadeh, yang sekaligus ilmuwan ahli nuklir. Di Indonesia, sulit menemukan seorang mantan tentara mengabdikan seragamnya di kancah sains, kecuali menderetkan namanya sebagai pemilik saham di perusahaan tambang berskala nasional. 

Socrates, Diogenes, dan Kegilaan

”Kegilaan”, saya kira adalah jalan alternatif, agar hidup lebih “berisi”, terutama ketika menghadapi keadaan yang dinormalisasi mirip sekarang; di aras politik, perbedaan prinsip demokrasi terancam berkembang ke arah totalitarianisme massa. Di saat bersamaan, demi stabilitas, kekuasaan negara kerap menempuh cara kekerasan menumpas kritisisme sekaligus mengampanyekan rezim autokrasi; di medan budaya, pasar—banyak orang menyebutnya kapitalisme—melalui budaya high consumption, menormalisasi masyarakat menjadi ”pelahap” simbol-simbol; di tataran global, tidak usah dikatakan, kebangkitan dua fundamentalisme kanan (pasar dan agama) jadi tren pemerintahan dunia. Di aras dunia harian, gaya hidup mengatasnamakan ”kebersamaan”; cara berpikir, praktik kerja, gaya belajar; bahkan cara berseragam jadi fenomena lawas, tapi tidak pernah dilihat sebagai jalan lapang terciptanya masyarakat—meminjam istilah Herbert Marcuse—masyarakat satu dimensi. Dalam kajian cultural studies, masyarakat satu dimen...

Korona, Tubuh, dan Mutilasi

  Tubuh era korona adalah korban ”mutilasi”. Setelah berharap agar lebih kebal virus, tubuh dipartisi dari dunia hariannya. Tubuh tidak bisa lagi meruang seperti biasanya. Daya geraknya dipisah-pisah, dibatasi, dan dibagi-bagi ke dalam dunia lebih sempit dan mini. Ia seketika menjadi organ terpotong-potong terpisah dari interaksi sosialnya.   Singkat cerita, korona ini hari telah menunda, atau bahkan menghentikan kerja organ tubuh ke part-part sosial terbatas.   Jauh sebelum korona, praktik mutilasi tubuh sudah lama dipraktikkan. Bukan saja dalam pengertian sosial, yakni dari satuan tubuh universal berupa; kelompok, keluarga, komunitas, atau bangsa, yang membuatnya menjadi unit parsial individu per individu, melainkan ke dalam mekanisme “kekerasan” yang dibenarkan melalui ideologi kebudayaan, nasionalisme, bahkan agama.  Itu artinya, tubuh dalam budaya, atau nasionalisme, atau agama, tidak sekadar dipandang sebagai unit dan bagian dari struktur o...

Bung dan Bing, Book Challenge, Bukan Sekadar Mengunggah Sampul Buku!

  ”Pada saat inilah dia sepenuhnya menyerah membaca. Sampul buku tampak seperti peti mati baginya, entah lusuh atau hiasan, dan apa yang ada di dalamnya mungkin juga debu.” —Alice Munro Don’t judge the book by its cover. Ini kiasan yang saya rasa tepat untuk melihat kebiasaan sebagaian netizen di linimasa Fb, yang belakangan melakukan aksi bergantian mengunggah buku bacaan meski hanya menampilkan sampulnya saja. Sekadar gaming memang—dan mungkin hanya gimmick, dan ini sah-sah saja dilakukan dengan alasan sebagai cara memeriahkan kecenderungan suka membaca buku yang kian kemari dirasa menjadi satu gaya hidup tersendiri. Sampul buku bukan segalanya, dan itu tidak berarti ia dapat mewakili kecenderungan positif mengenai suatu komunitas pembaca buku. Dari sampul buku, saya kira, masih sangat jauh dengan isi bukunya, yang membutuhkan kerja jaringan syaraf otak mencernanya, lewat aktivitas membaca, mencatat, dan menganalisis. Sampul buku hanya halaman depan yang mengandalkan keca...

Esai Seri Kritik Pendidikan (5): Dari Scola ke Keluarga: Siasat Bertahan Era Korona

  (Proses belajar mengajar belakangan ini, menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui  screen  gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar. Ini hanya satu dari banyaknya masalah dalam bidang pendidikan saat ini. Mau tidak mau, sekolah dan konsep belajar hari ini mesti dievaluasi ulang untuk menemukan rumus yang pas agar menyelamatkan sekolah dari gulung tikar. Selain tulisan di bawah ini, d i sini saya sertakan empat tulisan ringkas mengenai masalah pendidikan kontemporer:  Esai Seri Kritik Pendidikan (1):  S cola Materna ,  Esai Seri Kritik Pendidikan (2): Frantz Fanon, Luce si Murid Unggulan dan Sekolah Merdeka ,  Esai Seri Krit...

Esai Seri Kritik Pendidikan (4): Sekolah Lewat Radio

  (Proses belajar mengajar belakangan ini, menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui  screen  gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar. Ini hanya satu dari banyaknya masalah dalam bidang pendidikan saat ini. Mau tidak mau, sekolah dan konsep belajar hari ini mesti dievaluasi ulang untuk menemukan rumus yang pas agar menyelamatkan sekolah dari gulung tikar. Selain tulisan di bawah ini, d i sini saya sertakan tiga tulisan ringkas mengenai masalah pendidikan kontemporer:  Esai Seri Kritik Pendidikan (1):  S cola Materna ,  Esai Seri Kritik Pendidikan (2): Frantz Fanon, Luce si Murid Unggulan dan Sekolah Merdeka , dan Esai Seri Kritik...