You Are At The Archives for December 2015

Thursday, December 31, 2015 in

Ketika Memulai Menggambar

Kebiasaan menulis saya pertama kali tumbuh ketika mahasiswa. Itupun semester banyak. Menggelikan. Sepanjang ingatan saya, sebelum itu, menulis sebagai aktifitas menulis pernah sekali saya lakukan ketika mengikuti pelajaran bahasa indonesia di Sekolah Dasar. Itupun hanya berupa membuat karangan bebas sebagai tugas akhir pekan. Mendengar kata “bebas” waktu itu senangnya tak ketulungan. Saya bisa berimajinasi sesuka hati. Apalagi itu diungkapkan melalui cerita. Maka untuk pertama kalinya, yang namanya imajinasi di kepala saya, bisa melayanglayang.

Omongomong soal imajinasi, sebenarnya itu sudah dipunyai oleh siapapun ketika anakanak. Itu dialami ketika saya sering melakukan dan menyalurkannya melalui gambar. Di waktu kecil memang saya gemar menggambar. Saya rasa ini dialami hampir semua anakanak. Kalau tidak percaya, coba datang ke rumah saya melihat keponakan imutimut nan jail saya yang hampir tiap sudut tembok rumah sudah dicoretinya.

Kala itu, pertama kalinya saya punya gema suara di dalam kepala bahwa saya punya bakat menggambar. Berdasarkan keyakinan mungil saya ini, saya mulai sering meniru dan menggambar bentukbentuk manusia yang saya lihat di majalah Bobo langganan kakak saya. Kelak majalah anakanak ini pula yang mengajari saya untuk belajar membaca pertama kalinya.

Aktivitas menggambar akhirnya membawa saya dan beberapa temanteman mewakili TK tempat saya belajar (lebih tepatnya bermain sih!), mengikuti lomba menggambar. Lumayan, pasca lomba, saya dapat membawa pulang satu piala kecil plastik berwarna emas. Bahagia bukan main. Dan, mulai saat itu pula terbersit di dada saya, saya berniat menjadi pelukis.

Citacita itu bertahan cukup lama seiring dengan bangganya saya ketika sering ditanyai kelak mau jadi apa. Pelukis tentu jawaban saya, suatu pekerjaan yang menurut saya bercita rasa tinggi. Citacita ini juga terus hidup dari kegemaran menggambar yang semakin berapiapi. Sampaisampai ketika ada lomba menggambar di majalah Bobo, maka dengan semangat membara, akan saya ikuti tanpa menghiraukan aral melintang. Pokoknya, saat itu menggambar adalah citacita luhur saya. Tak ada yang boleh membendungnya.

Makanya sampai saya menginjak sekolah dasar, pelajaran menggambar yang paling saya sukai. Kesukaan saya ini melebihi pelajaran bahasa indonesia yang di situ ada mengarang sebagai salah satu pelajarannya. Saya merasa, lewat menggambar saya bisa lebih ekspresif dibandingkan dengan menyusun kata malaupun itu mengarang. Apalagi saya senang mencampurcampur warna untuk mendapatkan kesan yang indah. Untuk yang satu ini, saya rela menangis berjamjam hanya untuk mendapatkan pensil warna yang kala itu bisa berubah cat air. Luna nama pensil warna itu.

Saya tak tahu apakah pensil warna itu masih bertahan sampai sekarang. Tapi saat itu, pensil warna itu saya anggap pensil warna yang paling keren. Di saat itu belum ada pensil warna yang bisa diubah layaknya cat air, sehingga menggunakannya kita bisa mencampurcampur warna menjadi lebih menarik. Menggunakan pensil warna yang bisa berubah cat air itu, menjadikan saya bak pelukis profesional. Betapa gembiranya saya.

Namun sayang, untuk menggunakan pensil warna itu, konsekuensinya saya harus memiliki buku gambar yang berkertas tebal. Karena jika hanya menggunakan buku gambar murahan dengan kertas tipis, maka kertasnya akan mudah robek ketika diberikan air. Akhirnya, saya harus membujuk bapak untuk membelikan buku gambar yang setara dengan pensil warna yang saya punyai. Dengan berurai air mata, akhirnya saya punya lengkap, buku gambar kertas tebal dan pensil warna yang bisa berubah cat air.

Tapi sayang semakin saya naik kelas, pelajaran kesenian terutama menggambar jadi sosor. Itu saya rasakan ketika kelas tiga SD, pelanpelan mata pelajaran saya tidak menyertakan menggambar sebagai aktivitas belajarmengajar di dalamnya. Apalagi saat itu ada hapalan kalikalian yang sudah mulai harus kami hapalkan. Pelanpelan, minat saya yang menggebugebu itu akhirnya tertimbun jauh tanpa dasar. Hingga akhirnya ekspresi menggambar, saya salurkan ke mejameja dalam kelas.

Di waktu SD, saya juga senang menghabiskan kapur tulis. Apalagi kalau kapurnya berwarnawarni. Itu sudah cukup membuat saya senang, karena dengan itu saya bisa menggambar apa saja di papan tulis lengkap dengan warnawarninya. Walaupun saya tahu setelah keluar bermain usai, gambar itu bakal dihapus. Dengan berat hati kejadian itu saya anggap sebagai perilaku yang tidak saya sukai. Karya gambar saya tidak diapresiasi, langsung dihapus begitu saja. Menjengkelkan.

Kelak kebiasaan saya itu jadi bumerang. Soalnya ketika saya menggambar, saya jadi lebih sering dimarahi guru karena menghabiskan persediaan kapur di kelas. Maka mau tak mau, kebiasaan saya itu pelanpelan saya tinggalkan. Capek diomeli terus. Tapi hal itu tidak berlaku bagi kesukaan saya menggambar di mejameja kelas. Kelak kebiasaan ini terus berkanjut sampai SMA, bahkan saya berani menggambar di baju sekolah saya.

Tapi tunggu dulu. Ini penting. Sebenarnya saya ingin menulis tentang kapan saya memiliki kesenangan menulis, bukan menggambar. Tapi perlu saya katakan di sini (ini amanah hati saya), kebiasaan menggambar saya sudah mulai berkurang ketika saya menginjak SMP, dan di SMA hanya saya lakukan jika saya mau. Tapi itu tidak membuat saya kehilangan skill menggambar. Buktinya ketika menjadi mahasiswa, setiap ospek, sayalah yang menggambar mukamuka tokoh terkenal sosiologi di kainkain spanduk yang super besar dan panjang itu. Kalau sekarang, mau coba kemampuan saya?

Namun satu hal yang saya rasarasai, kecenderungan menulis saya, sedikit banyaknya dipengaruhi dengan kesukaan menggambar ketika kecil saya dulu. Hal ini saya sadari ketika saya mulai menyamakan aktifitas menulis sama halnya dengan menggambar. Jadi ketika saya menulis, sebenarnya energi yang sama saya miliki ketika saya menggambar. Saat itu di kepala saya seperti ada bentubentuk yang harus saya keluarkan dari imajinasi saya.  Seperti ada yang saya bayangkan ketika menggambar. Bedanya ketika saya menulis, saya menggambar melalui katakata, sementara gambar yang sebenarnya selalu beterbangan di dalam benak saya. Jadi saya kira ini hanya soal berubah cara saja. Selebihnya tak beda. Oke kepala saya seperti diikat karet ban, keras sekali. Saya sudahi dulu.


in

tulisan pendek

Sepertinya setelah dipikirpikir, saya ternyata punya kecenderungan yang lemah ketika ingin menulis tulisan panjang berbasis riset. Pasalnya saya tidak punya bekal kemampuan meneliti lengkap dengan perangkat metodeloginya. Apalagi ketika saya harus berlamalama di lapangan untuk mengumpulkan data. Dan yang paling miris adalah kemampuan saya yang lemah dan sekaligus tak punya banyak daya ketika mengakses literatur yang dibutuhkan. Intinya kemampuan literasi saya sungguh memalukan.

Selama ini ketika menulis, hampir semua tulisan saya (kalau itu disebut tulisan) merupakan semacam tulisan yang tak banyak bobot intelektualnya. Selama ini kalau saya menulis, itu hanya berupa pikiranpikiran lepas yang diolah tanpa memikirkan relevansinya terhadap benar salahnya informasi yang saya tuliskan. Apalagi kemampuan saya menulis selama ini hanya mampu menulis sebanyak tidak lebih dari seribu karakter.

Itu saya sadari ketika saya melihat kembali filefile tulisan saya selama ini. Hampir semuanya merupakan tulisantulisan pendek yang miskin bobot. Ketika saya pikirkan kembali, tulisan pendek saya itu berarti minimnya pengetahuan yang saya miliki. Saya merasa minimnya pengetahuan seseorang berbanding lurus dengan kemampuannya di saat menulis. Tentu yang saya maksudkan bukan ingin mengatakan bahwa tulisantulisan pendek penulis semisal esai memiliki pengetahuan yang minim ketika menulis. Tentu pembaca catatan pinggir misalnya, tak setuju kalau seorang Goenawan Mohammad memiliki bacaan yang minim, bukan? Itu berbahaya.


Tulisantulisan esais yang banyak kita temukan, kenapa hanya berupa tulisantulisan pendek, karena memang kebanyakan (artinya tidak semua) dibuat dengan mengikuti format tulisan di mana tulisan itu akan dimuat. Kita akan bingung kan kalau misalnya suatu majalah atau koran akan penuh karena hanya terisi satu tulisan esai panjang. Artinya, pendeknya tulisantulisan yang sering kita jumpai di media massa, bukan karena kemampuan penulisnya yang tak mumpuni, tapi itu karena memang ditentukan “lahan” tempat tulisan itu akan dimuat.


Itulah sebabnya, di korankoran, ada wantiwanti dari redaksi tentang jumlah karakter yang mesti dipenuhi oleh penulis jika ingin tulisannya dipajang. Karena biarpun tulisan itu memuat wacana yang bagus dan lagi happening, tapi jumlah karakternya sampai berhalamanhalaman, maka tak mungkin juga akan langsung diterbitkan. Kecuali memang tulisan itu diniatkan diterbitkan secara berseri. Tapi ini sangat jarang.

Ini juga dialami pada genre tulisan nonfiksi. Seperti yang saya temukan dari pengakuan Eka Kurniawan, bahwa para cerpenis di luar negeri merasa kaget ketika melihat cerpencerpen yang ditulis oleh penulispenulis dalam negeri di tulis dengan format yang lebih pendek. Pengalaman ini dialami Eka ketika cerpencerpennya diterjemahkan oleh salah satu penerbit luar negeri ke bahasa asing. Menurutnya, cerpencerpen di luar negeri tidak seperti cerpencerpen dalam negeri yang panjangngya banyak ditentukan oleh ketersediaan kolom dari media yang bersangkutan.

Saya rasa, karena kolom yang terbatas di media massa itulah sehingga cerpencerpen di tanah air adalah cerita yang bisa dibaca hanya dalam lima sampai sepuluh menit. Sehingga akan sangat asing jika kita mendapati suatu cerpen yang ditulis berhalamanhalaman banyaknya. Di sini saya mulai bingung apakah selama ini penentuan disebut cerpen oleh karena ukuran ceritanya yang dituliskan pendek ataukah karena memang hanya ditentukan oleh format kolom yang ada di mediamedia massa? Dan yang paling penting apa sebenarnya defenisi “pendek” dalam kategori cerita pendek?

Tapi biarkanlah itu urusan para sastrawan terkhusus cerpenis. Saya hanya menggelisahkan kemampuan saya dalam menulis, suatu aktivitas yang saya minati (belum sampai menekuni), yang hanya bisa menghasilkan tulisan yang pendek nan “ecekecek.” Namun saya menyadari, format tulisan saya bisa demikian karena selama ini banyak ditentukan oleh model tulisan yang memang saya pilih, yakni semacam esaiesai ringan. Itu yang menyebabkan saya tak punya kemampuan membangun tulisan panjang kali lebar berbasis literatur yang ketat. Dan apalagi memang saya senang dengan tulisan yang pendekpendek, karena itu untuk menutupi kemampuan literasi saya yang buruk. Karena prinsip saya, jangan memulai tulisan yang “berat” kalau tidak didukung dengan datadata yang komprehensif dan akurat.


Wednesday, December 30, 2015

for literacy


in

bulu mata

tuk tuk tuk suara palu diketuk suatu rumah dibangun
menjelang lewat pagi belum hilang sinarnya aku bangun
cermin kuhadap sehelai bulu kupungut sudah jatuh
itu bulu mata rindu dari entah sesiapa yang jauh
kata ibuibu yang duduk di pagi di ujung dapur
simpan di atas kepala suatu pinta
jika tuhan berkenan nanti jadi mujur



Monday, December 28, 2015 in

menjadi tolol

Yang paling mengenakkan tinggal di rumah sendiri adalah banyaknya waktu ketika bermalasmalasan. Apalagi ketika itu dilakukan sambil menonton tv. Biasanya itu saya lakukan di atas sofa. Dengan tidurtiduran santai menghadap tv seperti pemilik perusahaan super kaya. Lazy time, itulah yang saya pikirkan. Ketika sudah di depan tv, biasanya waktu adalah konsep yang tak bermakna. Di depan tv, saya bisa lama mencatmencet berganti frekuensi siaran sampai menemukan siaran yang enak ditonton.

Di rumah, kami berlangganan tv kabel. Dulu ketika masih SMP, belum banyak rumah yang menggunakan layanan tv kabel. Bahkan sebenarnya belum ada yang disebut tv kabel saat itu. Ratarata para tetangga banyak menggunakan reciever yang harus pontangpanting memutar parabolanya untuk menemukan siaran yang disenangi. Akibat di rumah tak punya siaran apaapa, maka setiap ingin menonton film kesukaan, saya harus menumpang ke rumah sepupu hanya untuk melihat gambar yang bergerakgerak.

Tapi semenjak tv kabel mulai diperkenalkan dan banyak orang yang menggunakannya, maka orangorang di rumah pun tak ingin ketinggalan. Akhirnya kesimpulan di ambil: kami pun juga harus memasang tv kabel. Walaupun saat itu siarannya hanya stasiunstasiun nasional, itu sudah cukup membuat saya sumringah. Akhirnya, di rumah, semenjak berlanggalanan tv kabel, pelanpelan saya mulai suka berlamalama di depan tv. Kelak kebiasaan ini sulit saya tinggalkan.

Seperti saat ini ketika saya punya banyak waktu tinggal di rumah. Bobok santai mirip tuan putri hampir tiap hari saya lakukan. Entah mengapa kebiasaan itu masih bertahan, walaupun hampir sembilan tahun belakangan saya jarang berhadapan dengan kotak yang punya kekuatan revolusioner itu. Barangkali memang saya semakin tolol untuk tertarik dengan acaraacara yang disuguhkan dari setiap stasiun tv. Tapi, bukankah ketika seseorang tahu menjadi tolol, berarti sebenarnya ia masih bisa berpikir bahwa memang ia sebenarnya tolol.



Friday, December 25, 2015 in

selamat natal temanteman kecilku

Ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, akhir Desember merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Pasalnya dua hal; 25 Desember adalah hari natal, dan akhir Desember merupakan harihari menjelang tahun baru.

Saya masih ingat betapa tekunnya saya di hadapan layar kaca menonton filmfilm kartun ketika hari libur. Tapi, sesungguhnya, yang paling berkesan tentu di tanggal 25 nanti, ketika saya berpakaian rapi, sehabis magrib, pergi mengunjungi rumah teman bermain yang merayakan hari natal.

Memang waktu itu saya banyak memiliki temanteman yang beragama Nasrani. Bahkan di tempat tinggal saya, mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Sehingga hampir bisa dikatakan, penduduk muslim sekitar mukim saya hanya bisa dihitung jari. Nasrani di Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur tempat saya tinggal waktu itu (bahkan sampai sekarang), memang merupakan agama mayoritas.

Jadi bisa dibayangkan betapa meriahnya natal di waktu itu. Hampir setiap tempat banyak dipadati pernak pernik natal. Sontak kala hari natal menjelang, jalanjalan utama banyak dihiasi lampulampu pijar. Gerejagereja jadi lebih ramai. Tokotoko ditempeli aksesoris Santa Claus. Tak lupa pula hampir setiap saat terdengar lagulagu natal yang diputar untuk memeriahkan perayaan. Dan yang paling ikonik tentu saja pohon cemara yang menyalanyala hampir di setiap rumah.

Jadinya, dalam kepala, saya sudah punya daftar namanama tetangga yang harus saya datangi saat natal nanti. Di mulai dari rumah yang paling jauh hingga tetangga dekat rumah. Saat itu saya tidak sendiri, karena beberapa teman saya yang muslim juga punya niat yang sama. Akhirnya kami sepakat untuk melakukannya bersamasama. Kebiasaan ini sudah sering kami lakukan tiap akhir tahun.


Target pertama bersama temanteman mengaji saya itu, rumah temanteman nasrani yang sering kami jadikan lawan tanding sepak bola. Kami rela berjalan masuk ke dalam kompleks perumnas untuk mendatangi rumah mereka. Mereka adalah anakanak yang tinggal dalam kompleks yang bersebelahan dengan daerah tempat kami tinggal. Walaupun hampir di tiap sore mereka adalah lawan taruhan sepak bola, di hari itu, ikatan “permusuhan” kepada mereka segera kami lupakan. Satu hal yang kami inginkan; mereka adalah teman di mana rumah mereka yang akan kami sambangi.

Tujuan kami selain ingin mengucapkan selamat merayakan hari natal, tentu adalah bisa membawa pulang kuekue yang diberikan. Maka sudah tentu, selain rapi, kami mengenakan baju ataupun celana yang berkantung banyak. Itu sudah pasti untuk menampung beraneka ragam kue yang disuguhkan. Maka ketika kami tiba, mereka hanya bengong, dan akhirnya tersenyum manis dengan menyambut kami masuk. Dan di saat pulang, tanpa malu kami berebutan mengisi kantung baju dan celana dengan kuekue yang sebisa mungkin dibawa pulang.

Itu juga kami lakukan bukan saja kepada kawankawan sebelah kompleks. Bahkan untuk memenuhi ambisi polos kami itu, setiap rumah yang tak kami kenali tetapi kami ketahui sedang merayakan natal pun kami sambangi.

Ketika itu kami lakukan, diperjalanan, kami banyak bertemu anakanak yang lain. Mereka juga berpakaian rapi, beberapa di antara mereka saya kenali. Mereka adalah anakanak kompleks sebelah pemukiman kami. Tujuan mereka tentu sama, yakni datang berkunjung di rumahrumah yang merayakan natal. Dan pasti seperti kami; membawa pulang kue sebanyakbanyaknya.

Saya masih ingat ketika itu, kami saling memamerkan kuekue yang mampu kami bawa pulang. Di saat pulang saku baju dan celana kami penuh dengan tepung kuekue yang penuh sembari saling bertukar jenis kue di perjalanan pulang. Dan yang paling menyenangkan, ketika saat pulang kami bisa membawa minuman kaleng sebagai tanda keberhasilan melawat. Memang saat itu barang siapa yang dapat membawa pulang minuman kaleng yang bersoda itu, akan dianggap sebagai jagoan. Apalagi jika itu disahkan dengan menunjukkan bibir dan lidah yang berubah berwarna merah, maka semakin paripurnalah dia sebagai jagoannya.

Natal yang kami lalui adalah natal yang betulbetul ceria. Walaupun kami berbeda keyakinan, tak pernah terbersit sekalipun untuk membesarkan perbedaan  di antara kami. Apalagi kami adalah anakanak yang tak pusing dengan halhal semacam itu. Itu semakin terasa ketika kami berkunjung ke tetanggatetangga dekat dipemukiman. Saya selalu terperangah kepada setiap pohon natal yang mereka pajang di ruang tamu. Di sana banyak lampulampu hias yang digantung, plus dengan kapaskapas putih. Indah sekali! Seketika saya juga langsung tahu tujuan kapas itu disematkan, yakni sebagai ilustrasi yang menggambarkan salju sebagai tanda keceriaan natal.

Begitu juga ketika saya terkesima dan merasa aneh dengan patungpatung seorang perempuan dan seorang bayi lelaki yang dibuat dari keramik yang berkilatkilat. Hiasan dari keramik itu menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi di dalam kandang domba.  Tak luput juga ada hiasanhiasan seperti periperi bayi bersayap terbang mengelilingi perempuan berkerudung itu. Itu saya temukan di beberapa beberapa rumah teman saya yang juga dipajang di sudut ruang tamu mereka. Melihat itu, saya tahu betapa hormatnya mereka kepada bayi yang berada dipangkuan perempuan yang kemudian saya kenal sebagai Ibu dari lelaki yang mereka Agungkan itu.

Tetangga saya bernama Harli, waktu itu ia lebih tua tiga atau empat tahun dari saya. Ia punya adik bernama Roland yang gemar bermain pasir di halaman rumah saya. Roland ketika datang bermain, mulutnya seringkali penuh nasi yang tak kunjung ditelannya. Mamanya selalu bercerita tentang kebiasaan buruk Roland itu, yang selalu menghisap nasinya jadi bubur ketika ia makan. Dengan kebiasaan itu, kami selalu tahu, kalau ia makan, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Lanjutkan

Wednesday, December 23, 2015 in

manifesto komunis

Kaum proletar tidak akan kehilangan apa pun kecuali belenggu mereka. Mereka punya satu dunia untuk dimenangkan. Kaum proletar semua negeri, bersatulah. (Karl Marx dan Friedrich Engels)

Membaca Manifesto Komunis Marx sebenarnya membaca keresahan yang muram. Terkadang orangorang dibuat takzim sekaligus curiga. Tapi, tidak sedikit yang membacanya justru dengan nada yang optimis sekaligus melihatnya sebagai tulisan yang penuh azimat.

Syahdan, azimat itu sudah didengungkan dan ditutup dengan "kaum proletar semua negeri, bersatulah." Begitulah, tulisan itu mulai ditulis di akhir Desember 1847 sampai Januari 1848. Alinea terakhir manifesto komunis itu, akhirnya menyedot banyak mata, terutama kaum yang disebutsebut di dokumen itu.

Yang namanya manifesto pasti suara yang mendesak. Di situ, saat Marx dan Engels mengucapkan dengan bulat, suatu dunia telah dibayangkan. Suatu momen sejarah yang harus direbut dari belenggu. Suatu tatanan yang mereka katakan untuk dimenangkan. Di sana, hanya dunia yang bebas belaka. Kaum proletar, disebutnya, di semua negeri manapun, bersatulah.

Memang di dokumen yang lebih mirip pamflet itu menyebut banyak golongan; orang merdeka dan budak, patrisian dan plebeian, tuan bangsawan dan tani hamba, warga gilda dan magang. Tapi hanya satu golongan yang diseru. Bahkan itu suatu kaum.

Kaum, oleh Marx dan Engels, disebutnya suatu kelas masyarakat yang tersisih dan disatukan dalam hirarki masyarakat Eropa. Yakni suatu tatanan mayarakat yang lahir dari sejarah perjuangan kelas. Kaum proletariat disebutsebut merupakah hasil dari zaman yang sedang bergerak saat itu. Zaman borjuis, begitu Marx dan Engels tulis, telah menyederhanakan pertentanganpertentangan kelas, seluruh masyarakat semakin lama terbelah menjadi dua kubu yang utama. Seperti kita tahu; borjuasi dan proletariat.

Yang menarik, perkembangan itu bertolak dari rusaknya tatanan yang guyah oleh perselisihan kelas. Bahkan itu dimulai ketika hak milik mengubah ide kepemilikan zaman pertengahan menjadi era yang serba baru tanpa mengubah mode kepemilikan. Dari tani hamba zaman pertengahan lahirlah warga kota yang merdeka, yang merupakan unsurunsur pertama borjuasi. Ini didukung dengan ditemukannya Amerika dan jalur laut Afrika sebagai prakondisi suatu lapisan baru yang baru tumbuh. Di situ ide tentang dagang mengubah cara orang melihat pertukaran, dan dengan itu zaman bergerak.


Analisis Marx dan Engels juga menyertakan bagaimana kaum borjuis berkembang cepat akibat reaksi balik terhadap industri yang bergerak maju, pelayaran, dan lalu lintas kereta api, ketika konsolidasi itu menyapu habis tatanan feodal. Singkatnya, kaum borjuasi jadi kelas yang cekatan dan dengan cepat dominan menguasai sumbersumber ekonomi.

Tapi, lamatlamat borjuasi menjadi ekonomistik. Ia jadi “momok yang menanggalkan tampang suci semua orang.” Begitu ungkap Marx dan Engels. Borjuasi mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana, menjadi buruh upahan yang dibayar. Yang suci di abad pertengahan jadi sosor. Semuanya hanya jadi barang dagangan.

Akhirnya, dengan sendirinya, kaum yang membabat habis kekuatan abad pertengahan itu, tiada henti dicela. Imbas borjuasi telah merenggut perasaan yang polos yang sempat dipunyai manusia, menjadi hubungan uang belaka.

Mencela karena itu adalah suatu sikap yang lumrah. Apalagi itu ditujukan untuk mengolokngolok masa yang mengkerdilkan bobot suatu ide baru. Itu harus untuk membuka kemungkinankemungkinan perubahan yang punya maksud memupus sistem yang berabadabad sudah terlanjur diagungkan. Bahkan dengan cara yang paling horor; hantu komunisme.

Hantu komunisme, yang dinabalkan sedang bergentayangan di langitlangit Eropa itu, segera menjadi momok. Di jaman yang sementara bergerak, suatu momok adalah batu sandung yang menjengkelkan. Tapi momok itu penting, sebab pelbagai cara selain rasa horor untuk memukul habis borjuasi memang perlu.

Yang namanya hantu, di manapun adalah sosok yang tidak bisa mati. Dan dengan sikap itu Marx dan Engels memperkenalkan suatu sikap kaum proletariat, di manapun komunisme bergentayangan, ada rasa takut dan khawatir yang mesti diwaspadai. Dia jadi puaka.

Lanjutkan

Sunday, December 20, 2015 in

Ammatoa


“Jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga”

Bohe itu punya badan gemuk dengan lipatan daging yang tebal di leher dan perutnya. Kulitnya cokelat sawo terang. Ia duduk bersila menggunakan sarung hitam khas Kajang. Ia pakai passapu, kain kepala khusus lakilaki Kajang. Tapi yang ia pakai berbeda. Ia seorang pemimpin. Makanya ada dua pucuk di passapunya. Dari sebelah jendela ia duduk, nampak mukanya yang bundar diterpa angin siang. Ia pria 70 tahun yang bermuka khas dengan tahi lalat hampir di seluruh mukanya. Ketika berbicara, tahi lalat itu bergerakgerak dengan bibir yang selalu melempar senyum.

Pria lebih setengah abad itu seorang Ammatoa. Begitulah ia dipanggil.

Ammatoa duduk di atas tampin ketika saya masuk ke mukimnya. Rumahnya hanya berupa tiga ruangan dengan satu tempat utama untuk menerima tamu. Di ruangan itu juga, di sebelah kirinya, tanpa sekat adalah dapur. Di situ ada istrinya. Saat masuk, saya langsung disambut istrinya yang sedang a'nampi berasa. Memang saat itu Kajang baru saja musim panen. Di ruangan utama itu, Ammatoa duduk beserta empat orang lainnya. Mereka berpakaian hitamhitam. Nampaknya ada yang sedang dibicarakan.

Hari itu Kajang ditutupi mendung. Ini pertama kalinya saat saya berada di Tana Toa pasca panen. Kajang Tana Toa sebagaimana kita maklum, adalah kawasan adat yang punya cara hidup sendiri. Saya harus jauh masuk berjalan kaki untuk bertemu orang yang keramat oleh masyarakat Kajang itu. Setelah menempuh jalanan undakan batu sepanjang hampir satu kilometer, akhirnya saya sampai di rumahnya. Untung saat itu hujan belum turun.

Di ruangan itu, Ammatoa tak mengenakan baju sama sekali. Nampaknya ia baru saja bangun ketika empat orang itu datang. 

Dari yang saya dengar, mereka terlibat pembicaraan tentang sengketa tanah adat. Nampaknya, mereka hendak menyusun suatu acara adat untuk membicarakan masalah yang mereka hadapi besok. Saat ini pembicaraan mereka seperti pertemuan dewan adat yang sering dibicarakan orangorang kebanyakan. Saya menerka satu dari empat orang itu adalah Galla Pantama yang bertugas sebagai hakim, atau orang yang ditugasi mengurusi masalah hutan adat. Dan yang satunya barangkali seorang Galla Sapa yang sering bertugas untuk upacara adat. Sementara satu yang lain -saya tahu kemudian ternyata adalah adik dari Ammatoa.

Pertemuan semacam ini saya duga memang sering terjadi. Orangorang sering datang berkunjung di rumahnya. Di tanah adat, ia orang yang dituakan. Ammatoa memang punya tugas pengayom bagi masyarakat adat Kajang. Bahkan seperti yang ia bilang, setiap akhir pekan ia harus menyisihkan waktunya menerima tamu dari luar."Inni sallo aha na sabtuna rie tamu battu ri Bandung," ucapnya untuk bilang seorang dari Bandung, di hari Sabtu dan Minggu akan datang bertemu dengannya.

Pernah suatu kali saat saya datang, banyak mahasiswa dari kampus di Bone, berduyunduyun berkunjung hanya untuk melihatnya. Mereka seperti orang kebanyakan, ingin langsung bertemu dengan orang yang kharismatik itu. Biar bagaimanapun Ammatoa adalah magnet di tanah ini.

Untuk bertemu dengan Ammatoa sebenarnya tidak terlalu susah. Hanya saja perlu beberapa penyesuaian dengan aturan pasang ri Kajang. "Punna antamako kokunni a baju le'lengko, jako sandalli," ucapnya sendiri. Memang seperti yang sudah diketahui banyak orang, ketika memasuki kawasan adat, siapa pun wajib memakai kain hitam tanpa alas kaki apapun. Hitam berdasarkan pasang ri Kajang adalah warna yang mengingatkan kepada asal mula. Dari hitam semuanya bermula. Bahkan hitam adalah dasar segalanya.

Secara resmi, bagi yang ingin bertemu Ammatoa akan dibantu oleh seorang Galla yang bertugas sebagai juru penghubung. Ada juga Galla Puto yang bertugas sebagai juru bicara Ammatoa. Bersama Galla Ma'leleng dua jabatan ini, disebut sendiri oleh Ammatoa, tak punya masa jabatan. Mereka akan bertugas selama Ammatoa hidup.

Ammatoa punya hak untuk menunjuk Galla sebagai pembantu adatnya. "Galla harus caradde', lambusu atinna." Seperti ukuran moralitas manapun, Ammatoa memilih pembantupembantunya berdasarkan kriterium kecerdasan dan kejujuran. Moralitas ini sering disebutsebut Ammatoa di saat ia bercerita tentang duapuluhenam orang yang disebutnya dewan adat.

Syahdan, pembicaraan dengan pembantunya itu tidak lama. Seperti yang dibilang Ammatoa, "a'borong muko nak, rurung galla'ku," kepada kami sebagai kesimpulan sore itu. Maka ditingallah kami bertiga dengan suguhan air teh yang dibuat oleh perempuan yang keluar dari bilik belakang. Perempuan itu saya duga anak dari Ammatoa.

Perempuanperempuan Kajang punya cara berpakaian sendiri; assalang bira. Dengan mengikatkan dua ujung kain hitam dari bawah lengan kanan ke atas pundak kiri. Tapi terkadang mereka mengikatkannya di atas perut dengan menggunakan pakaian hitam tanpa jahitan. Pakaian seperti itu umum dijumpai ketika perempuan kajang sedang bekerja. Seperti saat mereka keluar masuk rumah mengangkat beras di atas kepala. Walaupun hari itu mendung, mereka masih sibuk bekerja di luar dengan berasberas yang sudah dipanen.

Perempuan Kajang juga punya keterampilan menenun. Banyak di antara mereka duduk berlamalama untuk menghasilkan kain sarung yang sering mereka gunakan. Sayang saat itu, saya tak sempat melihat dengan jelas seperti apa bentuk alat tenun yang mereka pakai. Dari sepintas, ada semacam tiga susun tingkatan kayu yang dirangkai oleh penopang di tiap sisinya.

Tidak seperti alat tenun yang lain, di Kajang, alat tenun mereka tidak terlalu besar. Di saat menenun juga tidak seperti suara alat tenun kebanyakan, bahkan hampir tidak mengeluarkan suara. Tapi dari ekor mata, saya tahu bahwa hanya satu warna yang menjadi benang pintal mereka.

Ammatoa tidak merokok. "Pamangeangmi bohenu, angre intu nakkaluru kalenna, mingka rie'ji anakna  la ngallei," ucap istri Ammatoa di saat kami menyodorkan rokok kepada Ammatoa. Ia bilang, "serahkan saja kepada nenekmu, nenekmu itu tidak merokok, tapi ada anaknya yang ambilki." Begitulah cara kami menghormati Ammatoa. Yang aneh Ammatoa tetap mengambil setelah "dibacabaca" di atas piring perunggunya.

Di samping Ammatoa selalu ada pa'dupang, piring perunggu yang menyerupai seperempat piala. Ukuran diameternya hampir seukuran tigapuluh sentimeter. Yang saya  lihat, saat itu isinya daun sirih dan sebilah tongkat kecil yang menyerupai sarung badik. "Angrekmo nakke kukkaluruk nak, a'mama kaleja." Begitulah, Ammatoa hanya senang makan siri pinang.

Tibatiba Ammatoa berkisah tentang pasang. Dahulu hanya satu pasang, semuanya bermula dari satu. Ia bilang ada yang "dikitabkan" di tanah Luwu, "dikelongkelongkan" di Bone, dan "dilontara'kan" di Gowa, tapi semuanya berisi pasang. Itulah yang kalian kenal pasang ri kajang. Pesanpesan orang Kajang. Begitulah ucap Ammatoa dengan Konjo. Saya hanya memerhatikan tangannya yang bergerak seperti menunjuk suatu ruang kosmologi.

Pasang itu dibilangnya, punya aturannya masingmasing. Kalian sebut itu hukum. Ada seribu pasang, semuanya sudah mengatur halhal yang kalian lakukan. Apa yang sesungguhnya kalian pelajari di luar, sama halnya dengan pasang. Apa yang didapati di luar, semuanya berasal dari pasang. Semuanya sudah ada dalam pasang. Ucap Ammatoa setelah saya tahu arti dari pasang yang ia bilang.

Saat itu sore menjelang. Langit semakin hitam. Tanah adat bakal basah. Ammatoa diselasela kami berjumpa sesekali melempar pandang ke luar. "Lamungmi tauwa nak," sergapnya. Ia bilang bahwa tanaman akan segera diganti dengan yang baru. Ini cara tanah berganti rupa. Kami hanya menjalankan sesuai waktu sesuatu itu. Semuanya punya masanya, ungkapnya. Saat ia tersenyum matanya nampak bulan sabit. Tak lama itu juga hujan turun.

Ketika itu Ammatoa menyinggung sawah yang dipunyainya. Ia bilang jauh di belakang rumahnya, ia punya sawah sebagai hak adatnya. Di sawah itu tidak sembarang bibit yang ditanami. Padi yang tumbuh di sana dibilangnya adalah padi dari bibit turun temurun Ammatoa sebelumnya. "Pare eja parele'leng," begitu Ammatoa menyebut padi yang berwarna merah, padi khas Kajang. Mendengar itu, ingatan saya tertuju pada nasi yang hanya diperuntukkan rajaraja Bugis-Makassar.

Banyak hal yang diungkapkan Ammatoa kepada kami berdua. Ia tangkas menjawab pertanyaanpertanyaan kami. Asrul, teman sekaligus juru bicara saya, begitu berhatihati memilih kata untuk bertanya langsung. Ini mirip suasana bertemu raja, tapi di hadapan kami bukan seorang raja. Ia Ammatoa yang telah hampir tiga belas tahun menjabat sebagai pimpinan adat. Setelah di tahun duaributiga, ia didaulat sebagai Amma dari masyarakat adat Kajang.

Dahulu, Ammatoa juga berkisah, seluruh Ammatoa berasal dari garis keturunan yang sama. Ammatoa berhak menunjuk keturunannya sebagai pelanjut amanah sebagai pemimpin adat. "Rie' nikua sambung bicara,”  sebut Ammatoa untuk membilangkan peristiwa sambungmenyambung amanah yang diterimanya. Semuanya punya hak menjadi Ammatoa, tapi itu tidak berlaku bagi yang tidak jujur hatinya. Begitu ia menyingkat kriteria Ammatoa.

Namun peralihan dari Ammatoa yang baru tidak dilakukan secepat yang saya kira. Ada masa jedah tiga tahun untuk menunjuk Ammatoa yang baru. Pasca ditinggal Ammatoa sebelumnya, ada prosesi yang bagi orangorang luar sering mengaitkan peristiwa itu dengan halhal yang mistis. Peristiwa itu dibilang oleh Ammatoa mempunyai campur tangan Turia'ara'na, realitas yang sering kita sebut Tuhan.

Sesekali Ammatoa bersandar di dinding. Di bawahnya banyak bantal berwarna hitam. Ia sangat suka menengok di balik jendela. Barangkali dari situ ia sering melihat aktifitas orangorang dari dalam rumahnya. Cahaya sore yang mendung menelusup kulit wajahnya yang keriput. Dari situ ia tersenyum satu dua kali. Melihat itu kami lekas tangkap, waktunya unjuk diri.

Akhirnya, kami berpamitan. Tangannya yang dilingkari gelang akar hitam menyambut kami. Kami bersalaman. Mukanya tak pernah lepas dari senyum. Hujan belum berhenti. Ini pertama kalinya saya menemukan hujan di tanah adat Kajang. Kami melesat turun dari pintu, dan di balik dapur, kakek tua itu masih melempar senyum ketika kami berjalan di bawah hujan sore itu. 

Monday, December 14, 2015 in

Kawan Lama

Bertemu kawan lama itu seperti peristiwa yang anti sejarah. Apalagi tak banyak kenangan yang tersimpan. Tapi, ketika kita duduk bersama dan membincang hal yang tak dipikirkan sebelumnya, kita dipaksa untuk ditawan kenangan yang tibatiba muncul bagai matahari dan tenggelam sebelum sinarnya hilang di balik punggung lautan.

Kawan lama ketika bertemu begitu saja, akan sulit untuk mengambil satu topik yang menyenangkan untuk dibicarakan. Apalagi ingin mendahului pertanyaan seperti dilakukan kepada kekasih. Terpaksa yang dibicarakan adalah masamasa ketika pernah bersama, saat sepulang sekolah berpanaspanas ria jalan kaki menuju rumah. Atau saat di tiap sore menghampar di tanah lapang bermain sepak bola sampai magrib tiba.

Tapi yang paling mengejutkan adalah cerita tentang orangorang di masa lalu, yang tak tahu lagi bagaimana ukuran badannya sekarang, seperti apa bentuk mukanya, sudah seperti apa pekerjaannya sekarang, menjadi orang asing yang kita tanyakan. Di saat itu, tibatiba masa lalu jadi begitu singkat. Dan orangorang yang pernah ada di masa lalu sudah menjadi orangorang kebanyakan; yang terlupakan.

Walaupun begitu, saya merasa sedih jika orangorang terdekat mereka sudah mati. Di saat itulah betapa jauhnya saya dari kehidupan masa kecil, mendengar banyak hal yang sudah larut jadi silam. Orangorang yang pernah kita temui, mereka tumbuh tua, dan kemudian sudah mati. Anehnya, mereka adalah orangorang yang dulu hampir tiap siang sering kita lihat, dan sekarang mereka jadi bagian alam tak terbatas.

Yang menjadi lucu adalah ketika cerita kawan lama itu sampai pada bagian bahwa ia sudah beristri dan juga sudah cerai. Seperti menonton sebuah film yang kadangkadang tanpa emosi, ia juga bercerita ia bisa bercerai karena hanya masalah suka tidak suka kepada mertuanya. Akan jadi masalah bagi saya jika itu menimpa kehidupan saya. Mendengarnya, dunia menjadi bola yang bergerak seratus kali lebih cepat dari sebelumnya. Apalagi ia  meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Ketika ia bercerita, saya merasa betapa gampangnya orangorang semacam itu bertindak nekad. Mengambil sikap atas suka tidak suka. Apalagi sekarang ia sudah tidak memiliki pekerjaan tetap.

Ia juga bercerita tentang kakaknya yang kebetulan teman saya di waktu sekolah menengah pertama. Kehidupannya jauh lebih baik dibanding kabar terakhir saat mendengarnya. Tapi itupun jadi lelucon karena ia juga bernasib sama seperti adiknya itu. Ia sudah bercerai dua kali, dan sekarang ia sudah beristri untuk ketiga kalinya. Mendengar itu, dunia betulbetul bergerak cepat.

Namun saya merasa, memang perlu mendengar ceritacerita yang tak biasa ketika saya susah bertemu kembali kawankawan seperti dia. Dulu kami menghabiskan waktu sampai tengah malam dengan mengotori udara kampung kami. Berlagak menjadi penyiar profesional padahal itu hanya kedok untuk mencari perempuan untuk dipacari. Di masamasa itu, memang kampung kami penuh dengan radio liar, dan juga otomatis banyak penyiarpenyiar yang sok gagah.

Pekerjaan itu tidak bertahan lama, sebab fm kami kalah saing dengan radio yang tidak terlalu jauh dari menara kami berdiri. Harihari itu saatsaat ketika saya harus meninggalkan kampung untuk melanjutkan pendidikan jauh di kota. Di saat itulah say a terputus total dengan tak pernah sekalipun mendengar kabar dari mereka.

Bertemu kawan lama tidak seperti sahabat lama. Tapi mereka juga pernah menjadi bagian dari episode yang tak kita dugaduga. Juga duduk untuk mendengar ceritacerita yang kita tak tahu harus diakhiri seperi apa. Namun, tiada salahnya jika apa yang pernah mereka ceritakan juga jadi hal yang pelanpelan membangkitkan kembali ingatan yang sulit untuk tidak disebut kenangan. Di situ, bertemu kawan lama memang suatu peristiwa yang anti sejarah.


Sunday, December 13, 2015 in ,

waktu kolektif

Modernisme memang mengubah banyak hal. Salah satunya adalah waktu kolektif. Dewasa ini, betapa langkanya waktu bersama yang dipunyai. Hilangnya waktu bersama adalah penanda bagaimana kejamnya modernisme mencuri yang “intim” dari ikatan sosial. Akibatnya, manusia jadi orangorang yang antisosial dan pelit kasih sayang. Selanjutnya, kita lupa bahwa ada yang disebut teman, sahabat, karib, dan sanak keluarga, tempat kita berbagi perhatian dan kasih sayang.

Waktu kolektif menjadi langka terutama karena makin beragamnya kesibukan dan kepentingan, sementara itu waktu begitu terbatas. Anthony Giddens mendaku modernitas telah membelah ruang dan waktu, sehingga orangorang sangat sulit berada pada satu momen yang sama. Sementara itu, semakin canggihnya alat informasi membuat orangorang semakin terpecah satu sama lain.

Di kehidupan rumah tangga, misalnya, tak menjamin kedekatan fisik berarti juga terjalin keintiman emosional di dalamnya . Berkumpulnya sanak keluarga dalam satu ruang, akibat kemajuan dunia teknologi dan informasi, membuat garis pemisah yang ditimbulkan melalui layar gadget. Melalui layar mesin canggih, ruang terbelah berdasarkan dunia yang berbeda atas kepentingan masingmasing.


Waktu bersama, akhirnya kehilangan intensitas walaupun dalam pengalaman yang sama. Ketiadaan agenda kolektif adalah sebab suatu komunitas mengalami desakralisasi atas waktu bersama. Hilangnya agenda bersama, juga mengakibatkan tidak adanya makna bersama untuk memaknai waktu yang dialami. Absennya pengalaman bersama atas waktu, juga dengan sendirinya akan merusak hubunganhubungan yang pada dasarnya menjadi tujuan waktu bersama itu sendiri.

Waktu di alam berpikir modern berdasarkan semangat progresif yang dikandungnya, selalu diartikan sebagai medan rasional yang memiliki kriterium tersendiri. Waktu akhirnya dipandang sebagaimana atom yang dapat dipilahpilah, dibagibagi, dan diklasifikasi berdasarkan efisiensi yang paralel dengan keberadaan kapital. Semakin banyak kapital yang dipunyai dengan waktu yang efektif, akan jauh lebih baik dibanding minimnya modal atas pemanfaatan waktu yang lama.

Waktu yang sudah dibagibagi itu akhirnya disusun berdasarkan muatan kapital yang terkandung di dalamnya. Maka ada yang disebut waktu kerja, waktu produktif, waktu libur, waktu senggang, waktu lembur dan pembagian lain sebagainya, berdasarkan seberapa jauh unsur kapital di dalamnya dapat dioperasikan.

Waktu dengan model pembagiannya itu juga paralel dengan ruang yang menjadi medan bertemunya kepentingan atas penggunaan waktu dan ruang itu sendiri. Waktu kerja akan disinonimkan berdasarkan tempat kerja ketika waktu itu digunakan. Waktu libur akan dihabiskan di lokasilokasi semisal mall, tempat bermain, rumah bernyanyi atau restoran, waktu belajar akan di manfaatkan di sekolah ataupun diperpustakaan, begitu seterusnya dengan mengikuti proses produksi kapital di dalamnya. Semakin banyak kapital diberlangsungkan di dalamnya, maka akan semakin tinggi nilai waktu itu sendiri.

Pemilahan waktu yang demikian akhirnya berdampak terhadap penggunaan waktu yang sebisa mungkin efisien. Adagium waktu adalah uang, adalah bahasa sosial yang terbangun dari etika kultural yang selama ini bersandar terhadap waktu yang bernilai kapital. Sehingga pendasaran atas waktu yang dipunyai, menjadi barang yang bernilai tinggi ketika dikaitkan dengan kapital yang dapat diproduksi di setiap momennya.

Di kotakota besar, pertimbangan atas dasar efesiensi waktu akhirnya juga turut mempengaruhi tata ruang kota untuk membangun fasilitasfasilitas publik. Sedapat mungkin infrastruktur perkotaan mampu melipat ruang dengan meminimalisir penggunaan waktu. Berubahnya infrastruktur perkotaan yang mengalami kepadatan dan kerapatan, selain berdampak hilangnya ruang, juga membuat waktu yang dikonsumsi kehilangan dimensi penghayantannya akibat keinginan untuk mengunakan waktu secepat mungkin.

Tak bisa juga ditolak, walupun kota mengalami kepadatan atas ruang, dengan sendirinya tercipta ruang baru yang memfasilitasi masyarakat yang terdorong dengan pemetaan ruang yang baru. Kehadiran ruang baru mau tak mau mengubah penghayatan masyarakat terhadap ruang yang sebelumnya dihancurkan untuk menghadirkan ruang yang lebih modern. Hanya saja, ruang baru yang tercipta di atas puingpuing kehancuran ruang sebelumnya, harus disesuaikan dengan logika waktu modern yang mengikutkan kekuatan kapital di dalamnya.

Untuk itu penting mendasarkan penghayatan atas waktu dengan mengikutkan semangat kolektif. Asumsi ini penting akibat pembelahan ruang dan waktu yang juga mencabik habis ikatan kolektif. Individualisme sebagai akibat dari tekanan terhadap waktu yang harus dikonsumsi dengan ringkas, dapat diminimalisir dengan menghadirkan kembali waktu kolektif sebagai daya pendorong untuk memugar waktu yang terbebani semangat kapital.

Betapa pentingnya waktu kolektif sehingga perlu ada ekstensifikasi untuk membangun keintiman di dalamnya. Tidak mudah untuk menggandakan waktu kolektif dari banyaknya spesialisai atas waktu. Diharapkan dari semakin banyaknya  waktu kolektif bagi masyarakat, dapat menunjang semakin banyaknya dimensi kebersamaan yang dimanfaatkan.

Pemanfaatan waktu kolektif adalah usaha untuk kembali merekatkan waktu dan ruang yang tercabikcabik oleh modernitas. Jika selama ini di dalam suatu komunitas anggotanya mengalami penjarakan akibat ruang,  maka dengan maksimalisasi waktu kolektif dapat menyembuhkan kembali ikatan kultural yang selama ini hilang.

Waktu kolektif juga akan merevitalisasi ikatan pertemanan, persahabatan, kolega, ataupun sanak keluarga yang direduksi maknanya atas ikatan yang rasional menjadi emosional. Di harihari perayaan misalnya, di situ waktu kolektif juga bisa menjadi waktu publik yang diartikan sebagai waktu bersama dengan mengedepankan asasasas kebersamaan. Hari tahun baru, misalnya, yang selama ini diformat dengan kegiatan seremonial, dengan waktu publik yang tersedia bisa memaksimalkan intensi kebersamaan dengan kegiatankegiatan yang positif.

Akhirnya, waktu kolektif juga bisa digandakan dengan menciptakan momenmomen bersama yang di dalamnya ada kemerdekaan atas waktu yang murni. Bukan waktu yang telah terspesialisai atas agenda kerja yang memenjarakan. Sebab, waktu kolektif sesungguhnya waktu ketika orangorang berkumpul bersama untuk menemukan ikatan yang hilang akibat kemapatan waktu yang terkapitalkan. Waktu kolektif memang juga perlu agenda, tapi disitu lebih kepada perayaan atas kebersamaan yang memanusiakan, karena waktu kolektif memang ingin mengingatkan kembali bahwa manusia sebenarnya adalah orangorang yang butuh empati, orangorang yang butuh kebersamaan.


Thursday, December 10, 2015 in

pemilukada

Hari ini 9 Desember, di beberapa tempat, orangorang sedang pesta demokrasi. Umumnya pesta demokrasi, mereka datang dengan riang, dan kemudian akhirnya masuk ke bilik suara. Di situ, di tengah bilik berbentuk kotak, merupakan tempat yang paling rahasia. Di dalam kotak itu, dengan hati yang mantap, sepasang calon akan dipilih. Di ujung paku mereka, akhirnya sepasang muka dicoblos. Kenal atau tidak, telah tunai hak sebagai warga negara yang baik.

Proses yang tak sampai lima menit itu, kita sebut demokrasi. Walaupun kita tahu bahwa demokrasi tak bisa diartikan sebagai momentum lima menit belaka. Pasca lima menit itu, suatu pemerintahan bakal lama duduk sebagai yang mulia. Lima tahun lamanya. Justru selama lima tahun itulah demokrasi yang sebenarnya berlangsung.

Proses panjang lima tahun nanti, agaknya suatu masa yang riskan. Orangorang boleh memasang pilihan selama lima menit di bilik suara, tapi bertanggung jawab selama lima tahun dari suatu pilihan agaknya tak bakal banyak yang punya perhatian.

Pasca lima menit kemudian, orangorang akan kembali ke kehidupannya seperti sedia kala; masuk kantor dengan berkasberkas yang menumpuk, ke pasar berdagang hingga sore, bertani sembari menunggu datang hujan, dan yang lain duduk nyaman menyeruput kopi di warkopwarkop sudut kota. Serentak, memori kolektif lekas dari hingarbingar suasana pemilukada.

Tapi tentu tidak secepat itu. Orangorang pasti masih akan berkumpul omongomong pasca memilih. Ketika tinta biru masih basah di jari tangan, orangorang bakal menerkanerka siapa yang akan memenangkan pertarungan. Hingga pukul empat nanti, semuanya masih tekateki. Omongomong masih terus berlanjut, gosip sana gosip sini, menunggu si calon yang bakal keluar sebagai jawaranya.

Di saat itulah, sering kali kita mendengar bagaimana orangorang memberikan pandangannya. Di waktu omongomong itu, si A ngomong tentang si anu lebih baik dari si fulan karena si anu punya program ini, tapi bakal disanggah oleh si B bahwa si fulanlah yang terbaik, sebab si fulan punya pendukung yang lebih banyak dari si anu. Itu kalau calonnya hanya dua pasangan. Bayangkan kalau calonnya sampai lima pasangan, pasti omongomong politik bakal ramai.

Bincangbincang a la warung kopi itu, juga kita sebut demokrasi. Lewat itu orangorang belajar untuk mempertanggung jawabkan pilihannya. Mencari kualitas ideal terbaik, seperti filsuffilsuf dalam menentukan manusia paripurna. Membincang konsep pemerintahan yang canggih untuk daerahnya. Dan, tentu bagaimana mereka menyatakan pendapatnya.

Namun, itu lagilagi bakal sebentar. Angin kesibukan sudah tentu datang. Omongomong politik jadi sedu sedan. Lima tahun bakal sepi dari kritisisme warga. Ketika itu terjadi, maka demokrasi kita hanya seperti yang sering disebutsebut bapakbapak di atas, hanya administratif belaka.

Tentu ada harapan bahwa lima tahun yang panjang itu, setiap orang menaruh ingatan atas pilihannya. Waktu adalah rejim yang sulit didugaduga, di dalamnya seseorang yang mulia bisa berubah hina. Ketika itu terjadi, ingatanlah yang jadi hakim, bagaimanapun suatu jalan lurus harus ditegakkan. Ketika suatu visi jadi lancung dan misi mandek di tengah jalan, orangorang harus bersuara untuk mengambil bagian, bahwa demokrasi masih bekerja.

Lanjutkan

Literasi populer