30 Juni 2020

Debat Sains vs. Agama: Usaha Menghindari Dukun-Dukun Cerdik

”Sejarah telah membuktikan bahwa pemisahan sains dari keimanan telah menyebabkan kerusakan yang tidak bisa diperbaiki lagi. Keimanan mesti dikenali lewat sains; keimanan mesti tetap aman dari berbagai takhayul melalui pencerahan sains. Keimanan tanpa sains akan berakibat fanatisme dan kemandekan. Jika saja tidak ada sains dan ilmu, agama, dalam diri penganut-penganutnya yang naif, akan menjadi satu instrumen di tangan-tangan para dukun cerdik.”

–Murthada Muthahhari dalam Manusia dan Agama.

 

BELUM lama ini kita melihat debat panjang mengenai sains vs. agama antara A.S Laksana dan Goenawan Mohamad, yang berujung menyeret pemikir-pemikir Indonesia seperti Nirwan Ahmad Arsuka, F. Budi Hardiman, Husein Herianto, Ulil Absar Abdala, dan sejumlah tokoh lainnya.

Debat yang terjadi di platform facebook ini agak ganjil, mengingat medan debat intelektual yang notabene sering ditemui di koran, jurnal, atau makalah, sekarang terjadi di linimasa FB bercampur dengan beragam status “cetek”, saling tumpang tindih, datang hilang timbul tenggelam akibat tanda suka tidak suka.

Meski demikian, mungkin ini karena pengaruh abad digital, semuanya lebih mudah ditempatkan di dalam semesta lini masa medsos tempat segala mata netizen tertuju. Mengapa bukan di Twitter atau Instagram debat ini terjadi? Saya kurang paham selain karena mungkin, hanya di Facebook lah banyak ditemukan netizen ”tua” yang banyak menyukai perdebatan bergizi ini—di platform media sosial semisal  Twitter atau Instagram, yang kebanyakan penggunanya adalah generasi milenial, cenderung lebih suka kepada masalah-masalah keseharian yang lebih populer dan massal.

Di satu sisi, kita dibuat kelimpungan mengikuti gonta-ganti kritik satu sama lain. Kritik dibalas kritik, dibalas kritik atas kritik, dibalas kritik atas kritik atas kritik. Begitu seterusnya, sampai akhirnya pangkal soalnya jadi kabur dan bercabang-cabang.

Sisi baiknya, selain menjadi pembelajaran bagi publik, setidaknya ini menjadi panggung berpikir ulang untuk melihat kembali relevansi sains dan agama bagi kebutuhan mendesak masyarakat di Tanah Air, yang belum sepenuhnya dirasakan.

Saat hajatan pernikahan, orang-orang lebih percaya dukun pawang hujan dari pada prediksi badan metereologi mengenai cuaca cerah atau bakal akan turun hujan. Saat ujian akhir sekolah, anak-anak kedapatan membawa jampi-jampi ketimbang belajar matian-matian seperti sikap para ilmuwan. Saat… saya kira terlalu banyak contoh yang menunjukkan seringkalinya masyarakat masih berperangai “klenik” ketimbang berperilaku saintifik.

Perilaku saintifik atau sebaliknya, belakangan sangat mudah diidentifikasi saat bangsa ini menghadapi Covid-19, meski ada saat-saat tertentu ketika perilaku klenik ikut serta dilakukan demi atas nama upaya mengurangi efek korona. Dari kaca mata ini, kita bisa mafhum, bangsa ini belum sepenuhnya keluar dari cara pandang yang lebih memercayai peran orang-orang penganut bumi datar, dan bukan sebaliknya.

Saat lebaran tahun ini, tidak sedikit mimbar-mimbar masjid mesti dikosongkan, walaupun di waktu bersamaan, laboratorium-laboratorium kian banyak diisi kesibukan virologi; meneliti virus, menetapkan kriteria, dan menarik kesimpulan-kesimpulan dari percobaan tiada henti.

Fakta masjid-masjid yang kosong, meski menjadi tertib sosial yang mesti ditempuh, akibat momentum hari raya yang suit dibendung, tidak sedikit membuat satu dua masjid dibuka untuk melaksanakan salat id secara berjamaah. Di kompleks-kompleks perumahan, nampak pula inisiatif warga membuat lapangan dadakan demi menggelar salat id bersama warga kompleks.

Saat itu, akan segera nampak, di lapisan paling bawah, muncul orang-orang tertentu yang mengambil peran imam dan khatib, yang mengisi khutbahnya dengan keyakinan penuh yang mendorong warga untuk tidak menakuti korona. Korona hanyalah makhluk dan tidak sepantasnya dikhawatirkan. Ia datang untuk menguji umat, seberapa taatkah kita kepada perintah tuhan, yang diartikan itu sebagai keharusan mengisi masjid-masjid yang kosong.

Si penceramah demikian ini sesungguhnya gagal paham. Saat ini, korona bukanlah penyebab orang melakukan dosa sehingga orang-orang tidak pantas diberikan khotbah demi menyelamatkannya dari siksa kubur, misalnya. Lebih layak, untuk saat ini, para virolog lah yang berhak mengisi panggung publik, di samping para dokter, tenaga kesehatan, psikolog, atau para ahli masyarakat semisal seorang sosiolog.

Itu artinya, saat ini lebih diutamakan masyarakat agar lebih tertib kesehatan, dan tertib sosial daripada tertib iman. Untuk saat ini, agama mesti memberikan ruang kepada para ahli yang paham soal-soal virus dan manajemen masyarakat untuk mengedukasi publik. Agama memang penting, tapi bukan berarti ia adalah satu-satunya cara untuk menjawab segala soal.

Urusan manusia sangat banyak, meski tidak sedikit di antaranya, yang melakukan sesuatu tanpa keterangan mendalam sebelumnya. Jika saat ini Anda bertanya ke dalam diri, mengapa agama diciptakan untuk Anda dan bukan untuk makhluk seperti alien, dan menjawabnya dengan jawaban bahwa itu lebih pantas ditanyakan kepada Tuhan dan hanya ia yang tahu pasti jawabannya, maka Anda seperti orang yang lebih memercayai dukun daripada dokter syaraf ketika menghadapi penyakit kanker otak.

Ada masa ketika dunia, menempatkan para dukun sebagai figur utama laiknya dokter sekarang, atau para agamawan seperti nyaris menyerupai para nabi. Saat itu, dukun dipandang sebagai orang yang memiliki ”pengetahuan” yang tidak bisa diketahui orang lain. Bahkan, bagi yang lain, dukun dianggap mampu menangkap gelagat dunia surpranatural hanya karena ia dapat mengucapkan jampi-jampi dalam gumaman yang tidak semua orang tahu artinya.

Meski demikian, pengetahuan berkembang, percobaan-percobaan banyak dilakukan, dan membuat banyak penemuan-penemuan yang membuat orang tercengang.  Takhayul dan mitos, karena itu sedikit demi sedikit dikuak kebenarannya.

Bukan karena ulah seekor naga raksasa menelan bulan sehingga terjadi gerhana, melainkan karena posisi bulan yang terhalangi bumi dari matahari sehingga seluruh areanya menjadi gelap. Bukan pula akibat ulah jin, sehingga seseorang mengalami demam, melainkan karena tubuhnya didiami virus supermini.

Pengetahuan hari ini bukan jenis pemahaman seperti dua abad lalu yang tertutup dan hanya ditemukan di balik tembok gereja atau istana kaisar. Ia tidak bisa lagi diberlakukan mirip wahyu yang siap pakai dan tahan lama. Sekarang, pengetahuan datang dari pengamatan, observasi, pengujian-pengujian, dan melalui prosedur ketat yang melibatkan sistem logika dan metodelogi yang teruji.

Pengetahuan saat ini, jika tidak dilahirkan di dalam nuansa akademik yang mumpuni, ia hasil kreasi yang lahir di meja ujian laboratorium. Ia memang seringkali direvisi oleh temuan-temuan mutakhir, tapi karena itulah pengetahuan hari ini berkembang dinamis lebih pesat dari semisal filsafat, atau agama.

Semua kegiatan itu, sudah jauh hari diumumkan Auguste Comte, Bapak Sosiologi Barat, di bawah bendera bernama sains, bahwa di masa depan, zaman akan berpihak kepada masyarakat yang bekerja mendayagunakan ilmu pengetahuan demi menjawab kebutuhan-kebutuhan manusia. Agama, jika ia masih berhasrat membimbing manusia, pelan tapi pasti akan ditinggalkan sebagai debu-debu sisa kejayaan masa lalu.

Bahkan, Auguste Comte yakin, ke depan para nabi-nabi adalah para ilmuwan yang bekerja di dalam terang ilmu pengetahuan dengan membawa agama masa depan yang ia sebut positivisme.

Memang suara Auguste Comte terdengar ambisius, tapi bukankah untuk saat ini ramalannya itu terbukti, dan seiring itu sains berkembang pesat meninggalkan agama jauh di belakang garis start.

Saat ini, Anda mungkin seorang filsuf, yang sedang memikirkan suatu belahan dunia apakah ia ada atau tidak, dan mungkin itu hanya sekadar imajinasi di dalam kepala Anda.  Selama bertahun-tahun Anda memikirikan itu, tapi ada satu fakta yang membuat diri Anda tidak bisa menolaknya, bahwa karena itu membuat Anda mesti mempelajari pemikiran-pemikiran yang berumur lebih panjang dari usia Anda dari saat ini. Untuk memahami satu aliran filsafat, sangat riskan jika Anda tidak memulainya dengan membaca sejarahnya.

Akan lebih baik, jika ingin mempelajari idealisme Hegel, mau tidak mau Anda akan berjalan mundur dan harus mempelajari pikiran-pikiran pemikir-pemikir sebelumnya hingga Plato. Filsafat karena itu, membuat Anda mesti telaten mempelajari pokok pikiran secara runut pemikir-pemikir yang saling terkait satu sama lain.

Hal yang sama tidak terjadi dalam agama, walaupun ia bukan sains yang tidak memiliki otoritas sehingga membuatnya sulit berkembang. Dalam agama, kebenaran lebih mudah diterima karena ia mengandung kepastian dan fixed. Ia, bahkan untuk diyakini, masih membutuhkan fatwa agar manusia benar-benar yakin bahwa yang ia pegang betul-betul kebenaran. Fatwa, dalam agama, bertugas menghadang kebebasan berpikir sebagaimana itu sangat diperlukan dalam sains. Makanya, karena itu, tidak sedikit, dalam agama, berpeluang membentuk kelompok fanatik, atau sempalan berupa cult.

Sementara dalam sains, setiap teori atau temuan terbaru tidak akan dipengaruhi otoritas kekuasaan atau fatwa. Sains bekerja atas fakta, dan tidak membutuhkan fatwa untuk melegitimasi kebenarannya. Satu-satunya legitimasi sains, toh jika itu diperlukan adalah metode dan prosedur ketatnya itu sendiri.

Berkat prosedur penelitian yang bekerja atas fakta, seperti dalam pendakuan Thomas Khun, membuatnya menjadi kebenaran faktual yang menyebabkan terjadinya pergantian satu pandangan atas pandangan lain. Dalam sains, referensi utamanya adalah kebenaran yang lebih baru dan mutakhir, ketimbang teori yang sudah cacat dan gagal merelevankan dirinya dengan keadaan. Jika itu terjadi teori yang mengalami pembusukan akan digantikan oleh teori lain yang lebih up to date.

Dalam sains, teori sangat erat kaitannya dengan konteks di mana ia lahir, sehingga dengan itu ia terus memperbarui dirinya dan membuatnya dinamis mengikuti perkembangan zaman.

Itulah sebab, kebenaran dalam filsafat, dan begitu pula dalam agama, adalah jenis kebenaran yang berumur panjang, tapi tidak dalam sains. Dalam sains, kebenarannya tentatif dan temporer, dan jenis kebenaran ini sangat bergantung dengan sejauh apa ada pembaruan dan penemuan mutakhir di dalamnya.

Sains dan agama, sudah sejak lama saling bersinggungan. Masing-masing sudah banyak memakan korban. Dua tiga abad lalu, inkuisisi gereja atau otoritas dalam agama-agama lain, tidak segan-segan menjatuhkan hukuman mati bagi orang yang melawan doktrin agama. Berabad-abad setelahnya, sains muncul dengan ledakan bom atom yang meluluhlantakkan negeri-negeri jajahan atas nama perang.

Lalu, sekarang dan akan datang, para ilmuwan dan agamawan akan selamanya saling menunjukkan borok lawan masing-masing ketika mereka masih sering mencampuri urusan satu sama lain.

Sains dan agama di masa sekarang dan masa akan datang, sudah seharusnya saling membimbing alih-alih saling tuding. Bukan saatnya bagi kedua pihak untuk saling mengorek sejarah kelam masa lalu. Agama mesti menyumbangkan ajarannya kepada ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan mesti menghadiahkan penemuannya kepada agama. Bagi para ilmuwan dan agamawan, sains mesti menerangkan ajaran agama, dan sebaliknya, agama mesti membimbing sains.

Itu artinya sudah saatnya sains dan agama mesti hidup bersanding dan bukannya bertanding. Keduanya memiliki sumber pengetahuan, objek kajian, dan metode yang berbeda dalam memecahkan suatu soal.

Dengan kata lain, baik sains dan agama, punya lapangan pengkhidmatan yang berbeda meski demi kemanusiaan yang sama.

17 Juni 2020

Neraka Persepsi dari Nasruddin Khoja, Ini Salah Itu Salah


Alkisah, sekali tempo dalam suatu perjalanan, Nasruddin Khoja bersama anaknya berjalan masuk ke sebuah desa menggunakan seekor keledai. Saat itu, karena sayang anak, Nasruddin Khoja memilih jalan kaki menuntun keledai dari depan, sementara anaknya yang duduk di atas keledai. Melihat itu, tanpa tedeng aling-aling warga desa membully si anak.

”Dasar anak tak tahu diuntung. Masak ia enak-enakkan di atas keledai, sementara ayahnya dibiarkan sendiri berjalan kaki!”

Masuk di desa selanjutnya, karena takut dihardik warga desa, giliran si anak yang berjalan kaki dan Nasruddin Khoja yang kini duduk di atas pelana keledai.

“Coba lihat, itu ayah yang egois, kok ia rela membiarkan anaknya berjalan kaki sedangkan ia santai geboy di atas keledainya!”

Tidak ingin mengulang dua kejadian sebelumnya, kali ini saat tiba di desa ketiga, Nasruddin Khoja dan anaknya sama sekali tidak menumpangi keledai dengan memilih berjalan kaki belaka.

Tidak menunggu waktu lama, kali ini mereka masih dibully warga sekampung.

“Betapa bodohnya anak dan bapak itu, punya keledai tapi tidak ditumpangi!” Cela warga desa sambil menertawakan Nasruddin Khoja beberapa saat pasca mereka tiba.

Ini kisah masyhur Nasruddin Khoja, figur kocak nan ugahari dalam dunia sufisme, yang bercerita tentang betapa sulitnya menyenangkan hati semua orang. Apa pun yang Anda lakukan, pasti akan ada saja pihak yang tidak suka dengan tindakan dan pilihan Anda.

Berbicara suka tidak suka, kisah di atas juga menceritakan betapa ”kejamnya” kata orang, lantaran hanya karena tidak suka dengan apa yang sudah dilakukan, Anda pasti akan jadi bahan omongan orang. Kisah Nasruddin di atas memberikan suatu pemahaman betapa seringnya ”kata orang”  mampu mengubah pendirian seseorang.

Di dunia seperti sekarang, ”kata orang” sering membuat diri kita menjadi sulit bertingkah. Karena ”kata orang” fulan bin fulan bisa menjadi bukan dirinya. Demi rasa aman, terkadang ”kata orang” lebih dipilih alih-alih memutuskan berdasarkan pendirian sendiri.

Dari pada menjadi bahan olok-olokkan, lebih baik mengikuti “kata orang”, seperti galibnya, ya orang-orang itu. Agar tidak dicela dan dikritik.

Menjadi seperti ”kata orang” hakikatnya menjadi manusia yang tidak otentik. Dalam hal ini ”kata orang” sering menjadi lawan ”kata hati” yang menjadi faktor penting untuk menjalani kehidupan merdeka.

Coba renungkan kembali kisah Nasruddin Khoja dan anaknya di atas, pasti betapa gagunya mereka setelah dinilai bermacam-macam oleh orang lain. Ini salah, itu salah. Betapa tidak bebasnya mereka bertindak akibat ”kata orang”.

Di kisah itu, Nasruddin bersama anaknya jadi sulit bersikap apa adanya. Karena takut salah dan jadi bahan omongan banyak orang, mereka terpaksa mengikuti pendapat banyak orang. Tapi, apa daya, siapa yang mampu menjamin setiap kata orang berpendapat sama. Akhirnya, alih-alih karena ingin mengikuti kata orang, justru Nasruddin dan anaknya, malah dibikin pusing juga oleh kata orang. Akibatnya mereka jadi tidak bebas bertindak. Menjadi tidak merdeka.

Mungkin, yang paling merdeka di kisah itu adalah keledainya. Naik tidak naik Nasruddin bersama anaknya, ora urus! Apa pun kata orang, tetap saja ia yang bakal menerima nasib menjadi hewan tumpangan. Ikhlas.

Kisah di atas seolah-olah mengafirmasi ungkapan terkenal dari Jean Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis yang mengatakan orang lain adalah neraka. Ungkapan ini bukan berarti anjuran agar kita hidup dengan cara menghindari orang lain, melainkan betapa seringnya ”kata orang” membelenggu kebebasan manusia.

Di dunia macam sekarang, relasi antara manusia terkadang hadir dalam keadaan tidak adil. Hubungan negara dengan warganya, atasan dengan bawahan, si kaya dan si miskin, antara suami dan istrinya, dlsb., adalah macam-macam relasi yang kerap saling mendominasi dan didominasi. Satu pihak dengan pihak lain terlibat pembatasan sehingga yang satu lebih merdeka dari pihak lainnya.

Di saat bersamaan, relasi satu sama sama juga bisa diracuni prasangka-prasangka negatif. Dalam hal ini persepsi mengambil peran signifikan di dalam membangun kepribadian seseorang. Sebelum orang lain terlibat jauh dalam suatu hubungan, persepsilah yang kali pertama menjembatani perkenalaan di antara keduanya.

Tapi terkadang, persepsi seseorang atas pihak lain cenderung seporadis, sebab si penilai bisa semena-mena membangun praanggapan tidak-tidak bagi yang bersangkutan. Dalam hal ini, pandangan atau tatapan (gaze) menjadi jalan masuk invasi pikiran atas orang yang dinilai. Di sinilah ”neraka” itu pertama kali terbentuk. Di antara pertemuan dua orang, terbangun persepsi yang saling mencurigai dan mengintrogasi demi mendominasi satu sama lain.

Syahdan, kisah Nasruddin dan anaknya juga pada dasarnya adalah cerita mengenai persepsi. Karena ingin bertindak sesuai persepsi banyak orang, Nasruddin dan anaknya rela mengubah sikapnya. Jadi tidak otentik.

Namun malang, tidak semua persepsi dapat membuat orang hidup nyaman, apalagi merdeka. Di kisah itu, justru Nasruddin dan anaknya malah keluar masuk persepsi orang-orang yang membuat mereka jadi sulit sendiri. Persepsi di kisah Nasruddin dan anaknya, singkatnya, justru bukan menjadi surga kebaikan, malah berubah menjadi tempat seperti ”neraka”.


===

Telah dimuat di Belopainfo.id

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...