12 Februari 2015

madah duapuluhtiga

Author
Bahrul Amsal
Konon, di Yunani purba, tubuh merupakan wakil kebaikan dan keuletan. Ia adalah penanda supremasi manusia. Olimpiade, misalnya,  yang dilakukan selama empat tahun sekali di lereng Gunung Olimpus, merupakan pemujaan terhadap tubuh yang ideal. 

Bahkan dalam filsafat, Aristippus, teman Socrates, mengidealkan tubuh sebagai ajaran etika. "Kesenangan tubuh jauh lebih baik dari kesenangan jiwa." Di Yunani sepertinya, tiada jiwa yang ideal tanpa tubuh yang ideal.

Itulah  ada adagium yang akrab; mens sana in corpore sano, di balik tubuh yang kuat, ada jiwa yang sehat. Di balik seratserat otot yang padu, terdapat jiwa yang utuh.

Namun itu di Yunani, suatu masa ketika tubuh ditempatkan sebagai ekspresi atas yang ideal, yang dipuja dan dipuji. Sesuatu yang sempurna.

Bagi sebagian orang ada keyakinan tubuh adalah medium kejahatan. Tubuh sudah terlanjur dianggap musuh kemurnian. Tubuh adalah ruang yang gelap dan tak harus dicandra. Dari itu, tubuh dijauhi. Dari itu, tubuh diasingkan.

Di Yunani sendiri, sebelumnya ada Platon. Ia berpendapat tubuh adalah kuburan jiwa. Jiwa diandaikannya sebagai entitas ideal yang murni, yang disebutnya hidup dalam archetype. Di sana adalah kebebasan sejati, jiwa hidup bebas dan tiada batas. Namun jiwa mengalami keturunan dan terperangkap dalam tubuh. Jiwa, yang semula hidup bebas akhirnya terpenjara dan terkurung. Dan tubuh adalah dunia yang gelap bagi jiwa; bayangbayang.

Maka itu tubuh dipandang nisbi dan membelenggu. Tanda nisbi pada tubuh, yakni sesuatu yang mengalami spasial. Tanda pembelengguan pada  tubuh, yakni ia meruang dan itu berarti ada jarak dan terbatas. Oleh sebab itulah, tubuh tak memberikan kebebasan. Oleh sebab itulah jiwa mesti dibebaskan. 

Platon memang memiliki pandangan yang tak sepenuhnya mewakili keyakinan umum Yunani. Pandangannya yang diimplisitkan dalam filsafatnya tak juga dapat dikatakan adalah produk kehidupan Yunani. 

Namun Platon tak bisa lepas dari tubuh sebagai modus keyakinannya dieksplisitkan. Sebut saja tumos, salah satu bagian tubuh yang ia sebutkan dalam menjelaskan arete sebagai jalan keutamaan. Tubuh nampaknya, dalam pikiran Platon adalah apa yang disebut Socrates sebagai perangkap jiwa; kelemahan yang terus menerus memotong, mengganggu, memecahmecah dan menghalangi manusia dari kebenaran.

Barangkali sebab itulah tubuh dianggap bertentangan dengan kehendak jiwa. Barangkali inilah maksudnya; yang utama bagi Platon adalah jiwa. Yang ideal bagi Platon adalah unsur yang tak dapat dibagi; sesuatu yang tak berkekurangan; sesuatu yang disebut ultim. Atau apa yang disebut yang real. 

Maka itu yang lain hanyalah bayangbayang; yang lain adalah semu; yang lain adalah palsu; dan yang lain adalah pantulan dari yang substansi. Jika yang lain sudah seperti pantulan, barangkali wajar saja yang lain akhirnya sesuatu yang tak layak diutamakan.

Dengan demikianlah tubuh dilabeli dan diberikan arti yang defenitif; sesuatu yang rendah dan tak berarti. Juga dalam agama, tubuh adalah elemen yang tak selamanya bersih dari sumbersumber petaka. Tubuh dalam agama, sama dengan arti pengutamaan atas jiwa. Tubuh dalam agama, sama berarti adalah bagian yang ditundukkan atas superioritas jiwa.

Tapi ada sebuah keyakinan; firman telah menjadi daging. Ini ada dalam maksud seperti yang dimiliki Kristiani, yakni tuhan menjadi manusia. Keilahian dimanusiakan dan ini juga berarti sebaliknya, segala "kedagingannya", kemanusiaan diilahikan. 

Sebuah tubuhkah daging itu? Yang pasti ada kisah disaat perjamuan terakhir; “Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memotong-motongnya, lalu memberikan kepada murid-muridnya dan berkata; ambillah, makanlah, inilah tubuhku. Sesudah itu ia mengambil cawan, mengucap syukur, lalu memberikannya kepada mereka dan berkata; minumlah kamu semua dari cawan ini, sebab ini darahku.” (Matius 26: 26-27)

Dalam itu, ada sebuah peristiwa menyangkut tubuh yang disucikan. Daging, yang nampaknya dianggap tak memiliki apaapa diubah menjadi hal yang mitis, bahkan ilahiat. Tubuh dalam perjamuan itu ibarat suatu bagian yang tak terpisah dari yang ilahiat. Dalam kisah itu, sang juru selamat berkata; “ambillah, makanlah, inilah tubuhku.” Ada yang ditranformasikan disitu, bahkan ada yang tidak sekedar diubah di situ, melainkan dicipta, yakni yang dalam Platon adalah "kuburan jiwa", justru menjadi bagian yang kudus.

Sementara yang kudus dalam tubuh, hari ini, justru perayaan atas tubuh yang lain, yakni tubuh yang tak pernah disentuh yang kudus. Yang ilahiat, atau yang kudus, hari ini juga ditranformasi. Namun, bukankah saat ini kita samasama tahu apa arti tubuh dalam pasar? Bahkan apa arti tubuh dalam kekuasaan? Hari ini tubuh yang ditranformasi, entah itu pasar atau kekuasaan atau lainnya, adalah tubuh yang bukan milik kita. Tubuh yang tanpa pribadi.

11 Februari 2015

madah duapuluhdua

Author
Bahrul Amsal
Tahun 1998 Indonesia kritis. Krisis moneter membikin negara guyah. Pemerintah bingung oleh keadaan ekonomi yang tak kunjung membaik. Harga barangbarang naik. Politik akhirnya jadi ribut. Rakyat pun mengamuk ke jalanjalan. Demonstrasi di manamana, dan akhirnya mei, sang rejim turun tahta.

Sementara jauh di daratan eropa, sebuah buku terbit dan menimbulkan gempar. The Third Way, The Renewal of Social Democracy. Giddens, sosiolog Inggris itu sumber kegemparannya. Bukunya, yang berisi tentang argumenargumen pembaruan demokrasi, sepertinya terbit di saat yang tepat. Eropa dan Amerika, yang saat itu sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi situasi zaman milenium baru seperti menemukan obat mujarabnya.

Maka sontak Giddens diundang. Seminarseminar mengulas isi bukunya. Ada kasakkusuk Tony Blair, perdana menteri Inggris saat itu, mempertemukannya sampai ke hadapan presiden Clinton. Dan pertemuan itu punya maksud mengulas isi buku yang gempar itu. Dan pasca itu, Stryker Mcguire mengungkapkan, bukan saja Bill Clinton, berkat bukunya, Giddens bisa masuk ke kantorkantor presiden hampir di seluruh dunia.

Tapi kita tak tahu, apakah ia juga datang ke Indonesia di saat pasca krisis. Masuk di istana negara sampai bercengkrama sebentar dengan tuan presiden beserta jajaran menterinya. Dan dimulailah perbincangan serius antara elit kekuasaan dan seorang sosiolog untuk membincang bukunya. Sebab buku yang disinyalir banyak mengubah wajah eropa juga amerika itu, bisa saja, juga dapat mengubah jalan sejarah indonesia. Namun itu hanya andaiandai.

Tapi sebelumnya, di pekan yang sama, saat "jalan ketiga" terbit, sebuah majalah Inggris mengeluarkan ulasannya. Dalam alinea pembukanya: "This book is aswesomely magisterial and in some way disturbingly vacuous." Dalam kalimat itu nampaknya ada yang mengagumkan juga sekaligus kosong. Selanjutnya, sontak tak ada pujipujian atas buku itu. Tak ada yang dirasa spesial. Buku itu hanya vacuous; kosong.

The Ekonomist nampaknya tak puas, sebab memang dalam buku itu tak ada resep yang pasti tentang apa yang disebut "jalan ketiga." Dan memang Giddens tak menyebut jalan pasti diantara pasca jatuhnya sosialisme dan berbahayanya pasar bebas. Dalam buku itu Giddens hanya mengulas bagaimana perlunya jalan baru atas kemajuan yang semakin berisiko.  Ia hanya memberikan anjuran bagaimana seharusnya pemerintahan sebuah negara bersikap atas perubahan tatanan ekonomi dunia yang cepat berubah. Toh jika perlu resep pasti, ia hanya sampai pada sebuah kalimat yang semacam ini; kita hanya perlu mengarahkan juggernaut yang larinya sudah tak terkontrol itu.

Bukan kapitalisme apalagi sosialisme. Lantas? Itulah masalahnya. Giddens nampak mengambang diantara dua model ideologi dunia itu. Sebab tak ada harapan dari jatuhnya sosialisme Soviet. Juga liberalisme pasar tak sepenuhnya bisa diandalkan. Maka itu dia diundang untuk memperkenalkan jalan pikiran yang berkelit antara kebebasan pasar dan intervensi negara. Dan dari bukunya yang tak menyebut apa yang pasti dari jalan ketiga itu, nampaknya berhasil mengubah wajah Eropa dan Amerika. 

Banyak tafsir dan kritik pasca buku itu terbit. Tapi akhirnya Giddens membalasnya dengan mengeluarkan buku untuk menjawab kritikan yang ditujukan kepadanya. Artinya “jalan ketiga” yang ia perkenalkan masih ambigu di mata dunia, juga pengkritiknya. Namun kita mesti mengingat, “jalan ketiga” Giddens sesungguhnya bukan menawarkan alternatif diantara sosialisme dan kapitalisme. Sebab di mata Giddens, dua ide besar itu, adalah hasil pencerahan yang tak sepenuhnya bisa membikin sejarah sebuah negara membaik. Eksperimen sosialisme justru runtuh, dan ini berarti tak ada harapan di dalamnya. Kapitalisme? Malah mengabaikan kolektifisme yang dimakan pasar bebas.

Dalam konteks inilah sepertinya kita harus berhatihati membaca “jalan ketiga.” Karena didalamnya, asumsiasumsi yang dituliskannya sungguh seperti tak memiliki dasar teoritis di mana ia berdiri. Bukan sosialisme?, bukan kapitalisme? Ataukah ini yang dimaksud Pos? sebuah bentuk pemikiran baru atas masyarakat yang keluar dari logika antara individualisme dan kolektivisme? Nampaknya kita hanya bisa menafsir. Nampaknya memang butuh kejelasan. Sebab barangkali isi bukunya bisa memberikan arah baru tentang konsep seperti apakah yang konteks dengan keadaan masyarakat seperti negeri ini. 

Entri yang Diunggulkan

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...