31 August 2017

Merawat Ruang Publik, Merawat Indonesia

Semenjak duo Soekarno-Hatta mendeklamasikan proklamasi, hakikatnya, republik Indonesia kala itu tidak hanya menyatakan diri sebagai ruang geografis yang merdeka dari segala jenis penjajahan, melainkan ruang publik kolektif yang bebas dari tirani manapun. Dalam terma Habermas, seorang filsuf-sosiolog Jerman,  Indonesia sebagai ruang publik juga dapat disebut sebagai ruang bersama tanpa sekat pembedaan dan kelas-kelas di dalamnya. Pasca proklamasi, di atas tanah pertiwi, semua orang berdiri sama tinggi, duduk sama rata.

Apabila ditinjau dari pohon keilmuan, bentuk negara republik Indonesia berakar panjang dari pemikiran Aristoteles mengenai hunian negara-kota yang ditinggali individu-individu sadar-diri. Konsep individu sadar-diri dalam imajinasi Aristotelian adalah warga kota yang mampu memilah pembelahan antara ruang privat (res privata) dan ruang publik (res publika) dengan perangkat logos sebagai hukumnya. Warga negara dalam negara-kota adalah individu yang insaf mengenai etika publik dan posisinya dalam ruang besama yang disebut negara.

Logos atau kemampuan rasional manusia yang dikemukakan Aristoteles, pokok penting dalam negara (res publika). Perangkat ini, sebagai perwujudan logos adalah kualifikasi manusia yang membedakannya dari binatang melalui bahasa. Binatang hanya mampu berbunyi (phone), tapi tidak dengan manusia yang melibatkan bunyi bermakna atau bahasa sebagai alat komunikasinya. Itulah mengapa bahasa melalui terang logos, ihwal penting dalam hidup bersama/bernegara.

Hubungan individu, logos, dan negara yang diperantarai bahasa, bisa berarti melalui cermin bahasa, dapat diukur sejauh mana negara itu menjadi ruang publik yang bebas dan merdeka dari jenis penjajahan. Dengan kata lain, sejauh bahasa adalah cermin logos warga negara diucapkan dan dikomunikasikan dengan baik, maka sejauh itu pula ruang publik bernegara dapat disebut bersih dari sampah penindasan.

Kasus Saracen yang muncul belakangan ini adalah contoh mutakhir bagaimana ruang publik menjadi arena yang dirusak dan boyak oleh bahasa bermuatan SARA dan hoax. Itu akibat bercampurnya kepentingan res privata (politik kepentingan) dengan res publika (negara) yang berdampak serius bagi keberlangsungan hidup bernegara. Bahasa SARA dan hoax yang tidak mengindahkan etika publik berupa menjaga tata tertib umum dan toleransi yang dijunjung bersama.

Merebaknya gerakan radikalisme keagamaan dengan memanfaatkan bahasa kekerasan, adalah contoh lain ketika kemampuan rasional tidak diindahkan sebagai prinsip dalam membangun dialog komunikatif antara latar belakang suku dan agama yang jamak menjadi takdir kebangsaan Indonesia. Kuatnya sentimentalisme naif berupa ego kesukuaan, keunggulan ras, dan kemurnian sebagai satu-satunya kelompok yang paling benar, mengindikasikan tidak dihargainya ruang publik sebagai medan pertemuan antara warga negara yang terbentuk berdasarkan keanekaragaman suku bangsa dan agama.

Ruang publik yang sebenarnya berprinsip berkeadilan, keterbukaan, dan demokratis adalah wadah kehidupan bersama yang semestinya dirawat berdasarkan cara berbahasa yang elegan dan dialogis. Ruang publik yang diterjemahkan dari konsep republik itu sendiri dalam konteks keindonesiaan sudah terang dimaknai dari slogan bhineka tunggal ika dengan maksud membangun hidup bernegara dengan satu tujuan tanpa ada perbedaan dan saling mengucilkan.

Hidup dalam ruang publik melalui konteks negara republik, selain mengedepankan keadilan, keterbukaan, dan demokratis, juga senantiasa memandang setiap individu memiliki derajat dan posisi yang sama di hadapan negara. Setiap individu mesti diakui hak-haknya dalam bernegara, dan sekaligus harus mampu menjalankan kewajibannya berdasarkan konstitusi kenegaraan. Dengan kata lain, prinsip persamaan di ruang publik harus dijunjung tanpa memandang individu berdasarkan logika sempit kesukuan, melainkan individu sebagai bagian dari warga negara.

Negara yang atau menyediakan ruang publik, dengan begitu harus menjadi wadah yang mendorong terealisasinya tujuan bernegara. Menurut pendakuan Aristoteles, tujuan warga negara dalam hidup bernegara tiada lain adalah demi mencapai kebahagiaan tertinggi. Dalam terjemahan negara modern, kebahagian itu berarti dicapainya hidup antara warga yang saling mengakui perbedaan dan eksistensi masing-masing individu dan kelompok.

Kiwari, jika melihat alam kenyataan Indonesia, ruang publik masih sering kali dikacaukan dengan kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, dan kepentingan golongan dibanding kepentingan bersama. Bahkan di antara masih saling berselisih melalui bahasa yang merendahkan, mengucilkan, dan mendangkalkan. Dengan kata lain, adalah tugas bersama merawat ruang publik dari kecenderungan yang berakibat kepada “mengerasnya” kepentingan pribadi tinimbang bernegara.

Syahdan, ruang publik hanya mampu dipertahankan melalui individu yang secara etik menginsafi situasi dirinya sebagai warga negara, yang mengedepankan etika kewargaan dengan maksud menjaga dan melestarikan kehidupan bersama. Melalui tindak berbahasa yang dialogis komunikatif, rasional, dan sadar hukum tanpa ada pembedaan kasta dari keragaman latar belakang budaya, sosial, dan keagamaan. Dengan begitu merawat ruang publik agar steril dari bahasa bermuatan SARA dan hoax, sama berartinya merawat Indonesia.

---

Terbit sebelumnya di Harian Radar Makassar, Rabu 30 Agustus 2017

27 August 2017

Sadrak dan Bunyi Terakhir

Burung-burung malam menghinggapi pohon mangga dan berbunyi bersamaan ketika Sadrak memukul tiang listrik sebanyak 12 kali. Tung…tung…tung. Dentumannya menggema hingga di ujung rumput-rumput, masuk ke dalam tanah, dan hilang di dasar kerak bumi. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Rembulan terang menyala, tapi tidak panas. Sadrak menguap.

Bunyi burung-burung malam merambat masuk ke dalam diri Sadrak. Menggema dan bedebam sampai ke jantungnya, memompa darah hingga ke ujung jari kakinya. Itu adalah puisi. Bunyi-bunyian itu mengalir memenuhi imajinasi Sadrak dan berubah seketika menjadi sajak. Bukan saja bunyi-bunyian, melainkan juga garis-garis yang ia lihat di tiang listrik, pohon mangga, tepi comberan, sebilah kayu yang dipegangnya, lekuk gunung-gunung, garis-garis awan, apa saja yang ia saksikan adalah puisi.

Sadrak menghisap rokoknya. Asapnya ia lihat seperti puisi. Meliuk-liuk, mengembang dan menjelma menjadi zat kasat mata menyatu dengan kosmik. Ia hirup puisinya dalam-dalam. Ditelannya melalui hidung dan dikeluarkannya kembali.

Seperti malam-malam lain, Sadrak berkeliling kompleks. Mengayuh sepedanya menyusuri gang-gang kecil, tidak lupa sesekali dia mengarahkan senternya ke sudut-sudut tertentu jika ada bunyi yang mengundang perhatian.

Setiap satu jam sekali dia bakal memukul tiang listrik. Tung. Kali ini cukup satu kali. Sudah pukul satu malam.

Bunyi itu adalah puisi. Kelabat sinar menyeruak di dalam kepalanya. Bunyi itu disimpannya baik-baik dalam hatinya. Terbetik sebuah pengertian dari itu.

Tergesa-gesa Sadrak mengayuh sepedanya menuju pos tempatnya berjaga-jaga. Sebuah buku kusam dikeluarkannya secepat bunyi kepakan sayap kalong saat hinggap di pohon kapuk sebelahnya. Menulis ia tiga bait. Itu adalah sajak dari bunyi tiang yang ia bikin sendiri.

Sebenarnya itu adalah peristiwa langka. Tidak semua bunyi akan berubah menjadi sajak di tangan Sadrak. Tapi bunyi tung sekali itu berbeda, bunyi yang mengandung pengertian asal. Suatu permulaan. Seumur-umurnya, Sadrak baru melahirkan tujuh puisi.

Selama ini ramuan sajaknya adalah kombinasi aneh bunyi-bunyian semisal suara kuntilanak yang pernah didengarnya di kebun kacang tempat ia sering lewat bersamaan dengan suara perutnya yang mulas akibat takut, suara desahan senggama pengantin baru dari rumah kos yang ia lewati di suatu malam Natal dengan bunyi lolongan anjing di ujung gang, atau bunyi kapuk yang jatuh menimpa seng pos ronda yang membuatnya kaget becampur suara semilir angin malam yang membuatnya mengantuk. Bahkan ada puisi Sadrak yang dilahirkan dari bunyi mekar bunga-bunga liar dan suara lebah kala ia pulang meronda di pagi yang perawan.

Begitulah cara Sadrak melahirkan puisinya. Seperti wangsit. Kebanyakan dari bunyi-bunyi yang diresapinya, kadang bersamaan dengan lekuk-lekuk garis dalam kegelapan yang ia alami ketika berkeliling di waktu malam.

Buku catatan puisinya itu ia selipkan kembali di balik punggungnya. Kembali ia duduk terkesiap di malam buta. Puisi adalah hidupnya.

Sebagai seorang penjaga keamanan, puisi-puisi Sadrak tidak pernah lahir selain malam hari. Hanya di waktu itulah ia seringkali melahirkan sajak-sajaknya.

Di pagi hari, sehari-hari Sadrak menjadi seorang terpelajar. Ya, seorang terpelajar dalam arti sesungguhnya. Dimulai dari jam delapan setelah memberi makan ayam-ayamnya, dia bersepeda jauh menuju kota membaca buku apa saja di perpustakaan. Jika melihat daftar peminjam buku perpustakaan, nama Sadrak bersaing dengan nama seorang mahasiswa yang sering meminjam buku. Kadang, dia menjadi perhatian kalau berlama-lama duduk membaca sampai siang hari. Setelah itu dia pulang, melihat ayam-ayamnya. Tidur sebentar untuk waktu malam. Berkeliling meronda, lagi.

Sesekali juga Sadrak ikut berkerumun dalam perhelatan acara sastra, mendengarkan penyair-penyair dan mahasiswa yang sedang naik daun dan sering mengirim puisinya di koran harian.

Di waktu itu puisi yang didengarkan Sadrak bukanlah apa-apa dibanding puisinya. Puisi-puisi yang kerap didengarnya seperti kalimat basi, cenderung kaku, miskin pengalaman, kurang reflektif, minus pembatinan, tidak ada keinsafan. Namun, hal itu hanya diri Sadrak yang tahu. Puisinya tidak untuk dibacakan di depan umum. Bukan untuk dibanding-bandingkan.

Tung..tung..tung. Pukul 3 pagi. Di posnya Sadrak masih jua duduk tepekur. Dia keluarkan kembali buku catatannya. Hening. Tapi kali ini tak ada sajak ditulisnya.

Namun, pulang ia menuju pembaringannya, bersamaan dengan benda-benda yang menyimpan sembunyi bunyi terakhir.

26 August 2017

Madah Limapuluh delapan

Memang agak terdengar klise jika agama disebut candu. Marx menyebutnya opium, zat yang memiliki kemampuan untuk membalikkan dan menghancurkan kesadaran. Bahkan memiliki efek halusinatif dan "menyenangkan". Mengapa Marx mengambil metafora opium untuk menggambarkan ekses negatif agama? Kemungkinannya ada dua. Pertama di abad Marx hidup, opium massif diperdagangkan sebagai komoditi. Di Nusantara sendiri opium malah diperdagangkan di bawah pemerintah Kolonial Belanda dengan pajak tertentu. Kala itu opium memang menjadi konsumsi elit bangsawan dan sekaligus massa rakyat sebagai bahan untuk mendapatkan sensasi khayali dan menghilangkan rasa lelah bagi buruh upahan. Penggunaan yang massif ini --menurut James R. Rush dalam buku Opium of Java, yang membawa masuk opium ke Nusantara adalah saudagar-saudaar Arab-- memiliki efek keuntungan bagi yang memperdagangkannya. Kedua, yakni karena efek opium itu sendiri yang membuat pemakainya menjadi halusinatif dan "menyenangkan." Dengan arti ini maka agama berubah fungsinya menjadi alat dagang dan menipu. Dua hal yang belakangan banyak terjadi di negeri ini. Agama dengan dimensi demikian, akhirnya menghilangkan unsur spiritualitas ke ambang kehancuran. Nilai sakral agama hanyalah gelembung mudah pecah akibat berubahnya agama menjadi komoditi ekonomi. Tesis Max Weber yang mengatakan paralelnya semangat kapitalisme dan etika agama, menandai suatu pembacaan yang setidaknya memberikan analasis bahwa agama ketika bersimbiosis menjadi alat dagang, mampu mengubah orientasi ukhrawi agama menjadi lebih “kekinian” dan “duniawi”. Memang agama dengan proporsional tidak mengelakkan dunia sebagai kutub yang mesti diperjuangkan mati-matian, melainkan melalui kacamata bahwa “dalam yang duniawi ada yang bernilai akhirat” atau “di dalam yang ukrawi tersimpan yang duniawi”, agama menekankan pentingnya penekanan nilai sakral ke dalam seluruh aktifitas yang berbau keduniaan atau sebaliknya. Pemahaman di atas tidak mungkin terwujud jika menggunakan alat berpikir yang dikotomis. Jika hitam, maka mustahil putih, dan sebaliknya, putih berarti sudah pasti hitam. Melainkan, suatu cara pandang “meliputi”, atau seperti yang digunakan dalam etika sufistik, yakni tidak ada pemisahan antara “yang sakral” dengan “yang profan”. Sekarang, malangnya agama malah dipahami dan dihayati seperti cara kita melihat warna hitam putih. Ketika seseorang memutuskan memilih putih, maka tiada peluang bagi dirinya untuk memilih hitam. Agama yang berubah ekonomis, saya kira sudah dicontohkan dengan baik oleh kasus bas-bos First Travel. Agama menjadi alat dagang dengan memanfaatkan kebutuhan beribadah orang banyak. Di sini saya kira, memanfaatkan kebutuhan agama orang banyak adalah sala satu dosa yang tidak gampang untuk dimaafkan. Bukankah memperdagangkan agama sama halnya mempermainkan agama setara seperti benda komoditi yang gampang diperjual belikan? Satu hal lagi, terbongkarnya kelompok Saracen baru-baru ini oleh kepolisian, mengindikasikan agama di waktu tertentu bukannya memberikan manfaat meningkatkan ruhani dan pemahaman kegamaan masyarakat, melainkan dijadikan sebagai alat agitasi dan pemecah umat dengan hoax yang disebarkan bebas. Malangnya, di atas kebodohan sebagian orang, hoax bermuatan SARA, malah tumbuh subur dibagikan dengan maksud membela-bela seseorang atau kelompok tertentu. Agama akhirnya dengan begitu menjadi rendah nilainya, bukan menjadi penguat kesadaran, tanggung jawab, melainkan sudah seperti candu, ya candu, membuat orang kehilangan konsentrasi. Kehilangan kesadaran. Kalau sudah begitu siapa yang diuntungkan coba?

21 August 2017

Pedro Paramo dan Hantu-Hantu Abadi Juan Rulfo

Di sini di mana udara terasa begitu ganjil, suara-suara itu kudengar jauh lebih jelas. Suara-suara itu ada dalam diriku, begitu nyaring dan bising (Juan Preciado)

Saya membutuhkan lebih banyak konsentrasi membaca Pedro Paramo (terbitan Gambang, terjemahan Lutfi Mardiansyah) akibat setting ceritanya yang tanpa disadari seketika berubah begitu saja (bahkan saat menulis tulisan ini saya juga masih membaca untuk kedua kalinya). Tehnik penceritaan yang mirip lorong waktu ini, yakni penceritaan yang hampir bersamaan dan juga bolak balik antara masa sekarang dan masa lalu dengan intens, membuat gaya penceritaan Juan Rulfo mesti dibaca dengan hati-hati dan lebih teliti. Perubahan konteks cerita dengan tokoh-tokoh yang kurang lebih berjumlah 20, membuat cerita menjadi tumpang tindih sekaligus menjadi acak. Alur yang demikian mengingatkan saya kepada gaya penceritaan yang menjadi khas dari sastra Amerika Latin terutama yang ditemukan dalam Seratus Tahun Kesunyian-nya Marquez (Pedro Paramo disebut-sebut teks yang paling menentukan dan mempengaruhi banyak penulis Amerika Latin setelahnya, semisal Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, dan Marquez sendiri [disebutkan di situs berita Independent, tanpa Pedro Paramo tak akan lahir Seratus Tahun Kesunyian]). Apalagi dua setting waktu yang intens berubah seketika, dan berpusat pada dua tokoh yang berbeda dengan masing-masing tokoh tambahan di cerita yang berbeda pula, pelan-pelan akan menguak isi cerita yang sebenarnya akan membuat kaget pembacanya. Dengan cara ini, Pedro Paramo adalah novel yang menyimpan teka-tekinya sejak awal ketika membacanya. Pedro Paramo dibuka dengan kisah Juan Preciado, seorang pemuda yang ditinggal mati ibunya yang di saat terakhir hidupnya, berpesan kepadanya untuk mencari ayahnya di suatu tempat bernama Comala. Comala adalah tempat nun jauh yang tak pernah didatangi Juan Preciado, namun karena amanah terakhir ibunya, maka itu dilakukannya juga. Sampai di sini, setting ceritanya membawa imajinanasi saya tentang kisah yang akan menceritakan perjalanan Juan Preciado ke Comala untuk menjalankan misi mencari ayahnya. Di perjalanan, dia bertemu seseorang yang menunggangi keledai bernama Abundio, yang menceritakan seperti apa Comala, tempat yang akan dituju Juan Preciado (di perjalanan bersama Juan Preciado, Comala dikisahkan Abundio sebagai tempat yang sangat panas, kota yang “bertengger di atas bara api bumi, tepat di atas mulut neraka”, metaforanya menarik: “ketika orang-orang di sana mati [Comala] dan pergi ke neraka, mereka yang mati itu akan datang kembali untuk meminta selimut”—bayangkan betapa panasnya Comala dibandingkan neraka). Dan, dari mulut Abundio-lah, Juan Preciado tahu, bahwa Pedro Paramo, yang dinyatakan oleh ibunya sebagai ayahnya, yang menjadi tujuan pencariannya, telah mati bertahun-tahun yang lalu. Di sinilah imajinsai pembaca seketika stuck, tetapi sekaligus teka-tekinya itu sendiri. Sebelum sempat kita mengetahui siapa Pedro Paramo, bagaimana keperawakannya, bagaimana ia hidup, kenapa ia harus dicari, tiba-tiba dinyatakan sudah mati bertahun-tahun lalu. Lantas untuk apa kisah Juan Preciado dilanjutkan? Nah, justru di sinilah petualangan Juan Preciado sebenarnya akan dimulai. Setelah sebelumnya misi kisahnya adalah mencari Pedro Paramo yang disangka masih hidup, tiba-tiba mundur bertahun-tahun lalu di kota Comala. Setelah Pedro Paramo dinyatakan mati oleh Abundio, dan sudah terlanjur tiba di Comala –dikisahkan semenjak Juan Preciado sampai di Comala, keheranannya mencuat melihat suasana kota yang tak biasa. Kota itu adalah tempat yang sepi dan tak berpenghuni, bahkan sudah lama ditinggalkan penduduknya-- Juan Preciado menyempatkan singgah sekaligus istirahat di tempat yang direkomendasikan Abundio. Rumah itu adalah rumah Eduviges, seorang perempuan tua yang mengenal ibu Juan Preciado di masa lalu, dan Pedro Paramo itu sendiri. Dikisahkan, Eduviges sudah menanti kedatangan Juan Preciado dan mengetahui kedatangannya melalui informasi ibunya (bagaimana ia bisa tahu, bukankah ibu Juan Preciado sudah meninggal?). Melalui perbincangan dengan Eduviges di rumahnya, tersibak kenyataan aneh bahwa lelaki yang bertemu dengan Juan Preciado di perjalanan yang bernama Abundio ternyata adalah roh gentayangan, dan seseorang yang tuli di masa hidupnya. Di sinilah letak titik yang membuat saya mengerutkan jidat. Jadi ternyata orang yang berbicara selama perjalanan dan mengatakan Pedro Paramo sudah meninggal kepada Juan Preciado adalah sesosok hantu? Hantu yang mengabarkan kematian? Pantas ketika Juan tiba di Comala kecurigaannya mencuat, Comala adalah kota yang sepi dan sudah lama ditinggalkan penghuninya. Lantas, kejutan selanjutnya adalah Eduviges itu sendiri. Ketika Juan Preciado tersadar dari waktu istirahatnya di pagi hari, seorang wanita datang menemuinya. Dari wanita bernama Damiana inilah Juan Preciado juga mengetahui, Eduviges yang mengajaknya berbicara dan menawarkannya ruangan tempat tidur semalam, yang ternyata bekas ruangan orang terbunuh, adalah juga sesosok hantu bergentayangan. Ya, Eduviges sesosok hantu, roh yang bergentayangan. “Evudiges yang malang. Pasti dia masih bergentayangan seperti jiwa yang tersesat,” kata Damiana. Dan semakin ke sini, kisah Pedro Paramo menyadarkan saya ternyata Comala adalah kota hantu—termasuk Damiana sendiri. Kota yang berisikan roh-roh yang bergentayangan tepatnya. Melalui roh bergentayangan inilah, yang mencuat dan mengendap dan bersuara di sekitar tembok-tembok mati, penglihatan dan di telinga Juan Presciao kisah Pedro Paramo, satu persatu terkuak. Tanpa disadari sebelumnya, kisah yang dikuak melalui plot yang maju mundur  di antara tokoh-tokoh yang banyak bermunculan tanpa latar belakang yang cukup (bahkan dalam dialog-dialognya unsur kemewaktuan masa lalu dan masa sekarang banyak berlaku dalam satu paragraf sekaligus), sebenarnya adalah gema dari kota, cinta, sejarah, kemiskinan, pencurian, pemerkosaan, skandal dan penderitaan masyarakat miskinnya, orang-orangnya, dan Pedro Paramo itu sendiri. "Kota ini penuh dengan gema… Seperti mereka terjebak di balik dinding atau di bawah batu-batuan ketika Anda berjalan, Anda merasa seperti seseorang di belakang Anda, melangkah dalam langkah Anda, Anda mendengar gemeresak.. Dan orang tertawa… Tawa yang terdengar habis… Dan suara-suara yang aus oleh tahun.” Pedro Paramo bisa dibilang adalah kisah sejarah suatu kota dengan masyarakatnya yang terjerat skandal yang berpusat kepada Pedro Paramo sebagai orang berpengaruh di Comala. Dengan gaya kepemimpinannya yang culas, penuh tipu muslihat, acuh tak acuh, Pedro Paramo “memimpin” kota Comala menuju masa-masa depresinya. Melalui figurnyalah novel ini mengetengahkan asal-usul sejarah Comala dan penduduknya yang dibentuk dengan perampasan, pemerkosaan, korupsi, dan cinta yang rumit. Melalui Juan Preciado, novel Pedro Paramo tersirat kisah seseorang anak yang mencari asal-usulnya yang berpusat dari bapaknya yang “misterius”, tetapi juga pencarian itu harus berakhir ke dalam kematian ayah yang sebenarnya bukan tujuan pencarian itu sendiri. Juan Preciado nyatanya memulai pencarian bukan dari siapa sebenaranya Pedro Paramo, melainkan membuka sejarahnya sendiri melalui kematian yang secara "kebetulan" melalui Pedro Paramo. Dengan kata lain, jika ingin mencari asal-usul, titik permulaannya bukanlah mencarinya kedalam sejarah orang-orang tertentu, tapi ke dalam kematian (akhir) itu sendiri sebagai suatu peristiwa yang menyejarah. Pedro Paramo novel yang di satu sisi mengaburkan atau bahkan mencampuradukkan dimensi waktu dan ruang lingkup kehidupan orang-orangnya, sehingga nampak seperti waktu yang abadi tanpa mengenal batas-batas masa lalu dan sekarang. Dialog-dialognya tumpang tindih, berlapis-lapis seiring pergantian kata ganti orang. Gaya penceritaan yang demikian seolah-olah membuat semacam pemahaman, bahwa kenangan suatu tempat hanya akan bertahan dengan kenangan itu sendiri melalui penceritaan terus menerus yang melintasi ruang dan waktu, walaupun orang-orang datang silih berganti. Mati ataupun hidup. Orang yang masih menginjakkan kakinya di bumi, atau sudah bergentayangan seperti hantu-hantu di Comala. Dengan kata lain, Pedro Paramo dibangun bukan saja dari suara-suara orang-orang yang masih hidup, melainkan juga gema suara orang-orang yang sudah mati melalui cara yang menajubkan tetapi juga aneh: tokoh-tokohnya yang hidup dikisahkan telah mati, dan sekaligus yang mati diceritakan masih hidup. Ya, cerita Pedro Paramo dibangun dari hantu-hantu yang bercerita tentang kenangannya di suatu kota yang tidak bisa mereka tinggalkan (Juan Preciado sendiri juga adalah sesosok hantu ketika ia menyadari melihat tubuhnya terkubur di suatu pemakaman [jadi semenjak awal cerita Juan Preciado adalah juga sesosok hantu]). Akhirnya, dengan begitu antara kematian dan kehidupan menjadi tidak jelas batasnya, yang membuat seluruh apa yang ditinggalkan di Comala termasuk arwah yang bergentayangan di dalamnya, menjadi penduduk kota hantu yang abadi. Tersesat di dalamnya, selama-lamanya.

20 August 2017

Perempuan Kedua dan Puisi Lainnya

Setelah Merdeka

Sekarang betapa mudah mengangkat bendera merah putih itu. Menanamnya di perut bumi. Dengan tiang-tiang bambu.
Kadang dibuat melintang di atas genteng, menjalari seperti ular naga yang melintas bolak-balik, di tiup angin. Begoyang-goyang seperti suara daun bambu
Merah putih berkibar berkelabat di setiap benak pandunya
Melayang layang di bumi Indonesia. Dengan susah payah
kemarin badan koyak, mengucur-ngucur keringat. Apalagi darah
semburat warna bendera. Betapa berat sungguh
Sampai sekarang, tubuh masih kesakitan mengingat
hayat dirajah penjajah


----


Memunggungi Buku

Mereka tak mencintai buku-buku
Hidungnya lebih sayang di bibir perempuan
Melepas sarung setelah hujan

Mereka tak mencintai buku-buku
Memahami pagina tak sudi
ketika satu kata hilang dibawa air

mereka tak mencintai buku-buku
seperti semut tak menyukai minyak tanah

mereka tak mencintai buku-buku
mereka tak mencintai buku-buku
mereka tak mencintai buku-buku

mereka sudi sakit memanggul
dipunggunginya berlama-lama, kata-kata


---


Perempuan Kedua

Kau putuskan dia
Setelah janji tidak kau tunaikan
“Aku mencintaimu entah sampai kapan”
Kau mengucapnya pelan
di bawah desir angin  
Seperti sepotong sajak cinta
“Tunggulah aku, ketika muka-muka menjadi bahagia”
Tapi, itu justru naskah entah siapa
penulisnya. Kau ucapkan seperti
suatu kebiasaan di sore hari
saat burung-burung berdecit mengakhiri
senja yang ganjil

Kau tinggalkan dia
Setelah seorang perempuan menyicil
hatimu sebelah, tapi tidak jiwamu
yang kelimpungan akibat air matanya
membentuk sungai tempat ganggang
tumbuh di hati yang koyak

kau tinggalkan dia
begitu saja dipias sepi
membuat hari-hari gelap
setelah rembulan kau berikan
ke dalam mata perempuan itu
yang kau tatap setiap malam
“Aku bakal menyanyangimu, setiap jiwaku”
Itu kau ucapkan, ketika siang
Berhari-hari dan, malam pun tiba
Kembali kau pandangi lagi, bulan
Di mata perempuan itu

kau tinggalkan dia
dengan bibir gemetar
sekaligus kau ambil mataharinya
di benamkan di hati
perempuan itu yang bakal
katakan katakan “ini matahariku, pakailah jika kau mau”
dengang harap suatu waktu
dia melunasi hatimu yang masih
setengah, tapi bukan jiwamu

kau tinggalkan dia
seperti baru saja terjadi
dengan rembulan dan matahari
yang kau rebut paksa, siang malam
untuk perempuan ke dua
yang tak pernah kau temui


---

Terbit pertama kali di Kalaliterasi.com

19 August 2017

Cannery Row, John Steinbeck

Betapa berharganya seorang John Steinbeck bagi warga Ocean View Avenue sehingga mengubah namanya menjadi Cannery Row. Ini dilakukan atas penghormatan terhadap Steinbeck yang mengambil Ocean View Avenue sebagai latar cerita novelnya ini (akan sangat membanggakan kalau hal ini juga dilakukan terhadap sastrawan-sastrawan kita di Indonesia). Jika ingin tahu di daerah mana Ocean View Avenue berada, maka bukalah peta via goggle map, letaknya berada di kota Monterey, California, Amerika Serikat. Cannery Row adalah daerah pesisir menghadap laut, kawasan pemukiman yang berisikan orang-orang yang hidup dari hasil lautan. Mungkin sebagian besar warga Cannery Row akrab dengan perahu-perahu nelayan, desir angin asin, air pasang, dan tentu ikan-ikan yang menjadi penghasilan keuangan mereka. Sesekali menyesap bir atau wiski ketika angin dingin melanda. Atau membuka lebar-lebar pintu atau jendela ketika matahari sedang terik-teriknya. “Cannery Row di Monterey California adalah puisi,” tulis Steinbeck, “kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan, cahaya, nada, kebiasaan, nostalgia, dan mimpi. Cannery Row adalah kerumunan dan hamburan orang-orang, kaleng dan besi dan karat dan serpihan kayu, aspal yang mengelupas dan tanah yang penuh rumput dan timbunan sampah, pabrik-pabrik pengalengan sarden dan dibangun dari pintu-pintu lipat besi, tempat-tempat kumuh, restoran-restoran, rumah pelacuran, dan toko-toko kelontong kecil yang berdesak-desakkan, laboratorium, dan rumah-rumah kumuh.” Itu sebagian kalimat pembuka novel yang diterjemahkan Eka Kurniawan. Seperti gado-gado, seluruh kesan bercampur baur. Puisi dan kebusukan, kebisingan yang menjengkelkan dan cahaya, nada dan kebiasaan, dan nostalgia dan mimpi, yang semuanya memberikan semacam kesan Cannery Row adalah tempat yang unik dan antik. Ya, Cannery Row adalah cerita orang-orang pinggiran, dan yang dianggap tak berguna, namun masih memiliki hati yang luas seperti lautan yang melingkupi daerah mereka. Orang-orang yang sama yang ditulis Steinbeck sebagai germo, tukang tipu, judi, pelacur, anak haram jadah, tapi jika dilihat dari lubang yang lain adalah “para santo, dan malaikat dan orang-orang suci.” Cerita masyarakat kelas kedua. Cannery Row punya Le Chong, yang diceritakan memiliki toko kelontong ketika segala kebutuhan dapat segera terpenuhi, toko serba ada yang tak pernah memberikan diskon walaupun barang dagangannya telah digigit tikus-tikus pengganggu. Cannery Row punya Doc, lelaki tua yang gandrung dengan hewan laut, yang sering dicarinya di sekitar pesisir pantai California, pria aneh yang sering menyalurkan pesanan berkilo-kilo hewan laut ke universitas-universitas, laboratoriun, bahkan museum, juga seseorang yang menempati Western Biological, gedung yang befungsi sebagai laboratorium tempat menyimpan benda-benda aneh, segala jenis binatang-binatang laut, zat-zat beracun, obat-obatan yang sulit diketahui untuk apa menyimpannya, dan benda-benda yang diawetkan di dalam stoples yang berisikan ramuan khusus. Doc memiliki Franky seorang bocah  gangguan mental yang hanya mau tinggal bersamanya di sebuah lemari yang disenanginya. Cannery Row memiliki Dora Flood, perawan tua berumur 50 tahun dengan gadis-gadis peliharaanya. Si induk semang yang memiliki gaya etika seperti orang terhormat dari rumah pelacuran bernama Bear Flag Restauran dengan insting bisnis yang memukau, yang membantu tagihan-tagihan toko kelontong di sekitar Cannery Row. Di Bear Flag, siapa pun bisa memesan segelas bir dengan memakan sandwich –suatu istilah bagi orang-orang dewasa yang sering berdatangan di Bear Flag. Di Cannery Row ada Mr. dan Mrs. Molly, pasangan suami istri yang menjalani hari tuanya dengan tinggal di dalam pipa ketel uap bekas yang dibuang begitu saja di hamparan tanah kosong. Dengan jeli mereka menyulap pipa-pipa bekas sebagai tempat tinggal bagi gelandangan-gelandangan dengan cara menyewakannya. Di Cannery Row tinggal juga Henry, pria yang senang melukis menggunakan kulit kacang, tapi lebih suka membuat perahu sepanjang sepuluh tahun dan tak pernah dibawanya berlayar karena selalu dibongkarnya untuk dibuat kembali dari awal. Dan, Cannery Row juga memiliki Mack, seorang pemimpin dari  segerombolan yang ia sebut anak-anak, yang mempunyai kejeniusan seorang pengangguran untuk bertahan hidup dari keacuhan Cannery Row, dengan rela bekerja apa saja melalui tipuan-tipuan handalnya. Mack tinggal di sebuah bangunan tak terawat yang mirip gudang—setelah dipinjamkan oleh Le Chong dengan sedikit tipuan yang cerdik-- bersama Hazel, seorang pemuda 26 tahun yang pernah bersekolah di sekolah tempat anak-anak bermasalah. Hazel memiliki kecakapan berbicara yang bisa memancing obrolan dengan menjebak lawan bicaranya tapi tak memahami dengan baik apa yang seringkali diomongkan, bersama Eddie, seseorang batender pengganti di sebuah pub bernama La Ida yang sering kali mengumpulkan sisa-sisa bir, wiski, scotch, anggur, rum, gin, atau minuman apapun yang tidak dihabiskan dari para pelanggan di bawah meja kerjanya untuk dibawa pulang agar dapat diminum bersama lainnya, bersama Hughie yang memiliki sedikit kecerdasan ketika memanfaatkan barang-barang bekas yang dipungutnya entah di mana dan mampu diubahnya menjadi tempat tidur sederhana yang tidak dipunyai teman-temannya, bersama Jones seseorang yang rela bekerja apa saja untuk membantu kelompoknya agar dapat menikmati hari-hari tanpa harus kelaparan, dan  anggota terakhir, Gay, pria yang memiliki kecakapan bak montir berbakat yang mampu menyulap seonggok truk yang ditinggal begitu saja menjadi alat transportasi menguntungkan bagi mereka. Mereka semua tingga di tempat bernama Palace Flophouse yang dipermak menjadi tempat tinggal seadanya dari barang-barang rongsokan. Di Cannery Row mereka semua saling bersinggungan, sehari-hari bertukar sapa, di antara bising dan busuknya tempat tinggal yang asin dibawa angin laut. Tapi, selalu ada saat-saat kebaikan entah muncul dari mana yang membuat satu dengan lainnya harus memberikan yang terbaik untuk menunjukkan simpati dan tentu, kebaikan itu sendiri. Dan, kebaikan itu adalah pesta sederhana yang menyatukan mereka di bawah suatu persahabatan di malam hari yang dirancang oleh Mack beserta gerombolannya. “Si Doc itu sahabat sialan yang baik hati, ia akan memberi kalian seperempat galon setiap waktu. Ketika tak sengaja aku terluka ia menyiapkan perban baru setiap hari. Sahabat sialan yang baik hati.” “Aku telah berpikir sangat lama… apa yang akan kita lakukan untuknya—sesuatu yang manis. Sesuatu yang ia suka.” Kemudian rencananya ini menyebar dari mulut ke mulut seperti rambatan angin yang menyelinap ke setiap jendela untuk memberikan kejutan terhadap Doc–dan akhirnya adalah pesta dan kebahagiaan bagi mereka bersama. Sangat jarang menemukan orang semacam Mack, apalagi seorang gelandangan yang memiliki hati murni untuk membalas kebaikan seseorang dengan sesuatu harta yang tidak ia miliki di sepanjang hidupnya. Di mana-mana suatu pesta perayaan seringkali dilakukan oleh orang-orang berduit, orang-orang yang memiliki akses yang besar terhadap kemeriahan dan keberlimpahan. Dengan tujuan kegembiraan yang seringkali malah sebagai ajang pamer diri ketika mampu mengambil langkah keberhasilan yang tak dapat orang lain tiru. Dengan kata lain suatu pesta yang tak berfaedah, bukan sebagai ajang simpati dan terima kasih. Tapi, Pesta Mack ini bukanlah pesta yang meriah, namun cukup untuk menarik setiap dari mereka menyiapkan waktu dan kado khusus untuk menunjukkan kebaikan satu persatu di antara mereka. Suatu pesta yang sebenarnya adalah balas budi bagi kehidupan mereka, yang memiliki orang-orang yang rela melalukan apa saja demi suatu kebaikan yang dapat dikenang bersama. Pada akhirnya suatu pesta yang dikerjakan bersama-sama tanpa bersembunyi dari kenyataan pahit  dan kere, yang mereka alami sehari-hari. Suatu kebaikan yang akan dibicarakan dan dibagi di sisa usia warga Cannery Row.

18 August 2017

Sekali Lagi, Filsafat itu Bercakap-Cakap, Bung!

Kemiskinan sejatinya bukanlah sehari tanpa makanan, melainkan sehari tanpa berpikir. Dr. Ali Syariati

Percuma saja mempelajari filsafat jika masih mengandaikan tindakan subjektif sebagai satu-satu kemungkinan perubahan. Di mana-mana filsafat tidak dimulai di dalam kamar kosong. Bukan dimengerti dengan cara memaksa diri ke dalam kubangan kesendirian. Mirip petapa yang terasing dan mengasingkan diri.

Filsafat lahir dan hidup dengan cara melibatkan dua atau lebih subjek. filsafat itu kata kuncinya bercakap-cakap, berdialog. Itulah kenapa filsafat bermakna  sahabat, kekasih (philos), yang berarti kita harus mencari sahabat untuk berbincang-bincang. Dengan begitu lahir cinta (philia) dan dengan sendirinya akan saling mencintai (philein).

Bukankah percakapan yang didasari rasa cinta di antara dua sahabat dengan sendirinya menimbulkan kebijaksanaan (sophia). Dengan kata lain, itu berarti kebijaksanaan hanya mungkin terjadi jika ada saling pengertian di antara dua orang yang berbeda. Saling menghargai di antara pendapat-pendapat yang berlainan. Ya, kebijaksanaan hanya akan ada jika ada perbedaan-perbedaan di antara dua orang. Jika tidak, otoriter namanya jika kebijaksanaan datang dari keseragamaan. Tidak ada maknanya kebijaksanaan jika di dasarkan atas dasar keterpaksaan.

Dari itu semua, filsafat itu sudah dari sananya berwatak sosial. Philos yang mengandaikan percakapan di antara dua orang, dan sophia yang mengandaikan kebijaksanaan menghadapi perbedaan dengan sendirinya adalah ajaran moral, yaitu suatu anjuran untuk hidup secara serempak dan gotong royong.

Maka dari itu barang siapa mempelajari filsafat, tiada dirinya selain menjadi orang yang inklusif terhadap keragaman. Bukan menjadi orang yang hidup layaknya katak dalam tempurung. Hidupnya serba terbuka dan ringan menghadapi segala macam kemungkinan-kemungkinan.

Mempelajari filsafat, berarti menghindarkan diri menjadi seorang yang individualis. Mempelajari filsafat berarti mau bekerja sama dengan siapapun sebagai bagian dari jiwa inklusifnya. Mau menerima pendapat dari luar. Mau membuka diri dan memperbaiki diri menjadi jauh lebih baik.

Kebenaran merupakan satu-satunya harapan dan tujuan dari mempelajari filsafat. Bahkan kebenaran adalah hasrat filsafat. Gairah yang senantiasa haus atas sesuatu. Tapi, kebenaran dalam filsafat bukan kebenaran yang lahir dari kesendirian. Kebenaran dalam filsafat diperjuangkan bersama-sama seperti wataknya yang sosial itu.

Itu artinya kebenaran dalam filsafat selalu hadir dari cara percakapan yang terbuka melalui semangat kebersamaan. Tidak ada kebenaran filsafat yang lahir dari ruang sunyi dan gelap. Sampai kapanpun kebenaran dalam filsafat selalu berwajah ceria dan terang.

Jadi, tanggalkan cara mempelajari filsafat dengan hanya mengandalkan akal pikiran pribadi. Sampai-sampai tidak ingin melibatkan diri dari percakapan. Itu terjadi akibat cara berfilsafat yang mengartikan kebenaran sebagai sesuatu yang lahir dari refleksi pribadi. Itu akan membuatmu menjadi seorang individu yang senang menyendiri dan individualis. Filsafat, sekali lagi harus berdua-duaan. Berdialog.

Sekarang, keluarlah dari kamar kesendirianmu. Cari sahabatmu, teman yang bisa kau panggil bercakap-cakap. Berdua membincangkan segalanya, sembari menahan diri untuk menghargai perbedaan di antara kalian. Berdialoglah, dalam keceriaan menyamput fajar kebenaran.
Sekali lagi, atas itu semua filsafat bukan tindakan subjektif. Bukan berpikir ke dalam diri. Filsafat itu berpikir ke luar, bekerja sama. Bercakap-cakap.

17 August 2017

Sadrak dan Bentor Barunya

Sudah lama Sadrak mengidam-idamkan sebuah bentor seperti seorang perempuan bermulut sumbing menunggu keajaiban agar mulutnya bisa kembali normal. Bentor adalah mukjizat. Seperti ikan tuna bagi nelayan yang memancing tanpa umpan di siang hari. Atau seperti seorang petapa yang mengharapkan wangsit dari semedinya. Seperti Sidharta Gautama, atau mungkin Nabi Yunus.

Bentor adalah berkah. Seonggok besi yang bisa mengubah hidup Sadrak. Untuk itu ia rela melakukan apa saja asalkan di hari-hari tuanya dia bisa menunggangi kuda besi dengan sepotong kotak di depannya itu.

Hampir seumur hidupnya Sadrak menarik becak. Tulang-tulang di kakinya sudah sekeras beton jalan layang. Urat-urat betisnya lebih tampak seperti akar-akar pohon beringin. Wajahnya coklat legam seperti keluar dari medan perang. Keriput di wajahnya sudah seperti banyak menyaksikan peristiwa kehidupan. Tapi sayang, mulutnya sumbing. Ya, sumbing, seperti seorang wanita yang menunggu keajaiban. Seperti pantat ayam yang kurang sempurna. Sadrak sering memaki.

Sadrak suka merasa kalah bersaing dengan para bedebah itu; tukang bentor yang sering memutar musik dangdut keras-keras di ujung lorong. Tidak pagi tidak sore, seharian memutar musik dangdut sambil bersiul-siul girang. Kadang kala sambil mengelap dinding bentornya. Apalagi, para bedebah itu semakin pintar saja; mengecat kotak penumpang dengan warna-warna yang menarik. Bahkan ada yang sampai memasang gambar-gambar wajah pria asal Korea. Semua yang dilakukan itu apalagi kalau bukan demi memancing calon penumpang yang rata-rata anak-anak SMA di kecamatannya itu.

Memang becak yang sudah dikayuhnya selama sisa hidupnya sudah lapuk. Kayu-kayunya banyak yang mengering. Besi yang menjadi rangkanya malah berkarat. Bannya gundul. Gabus dudukan penumpang bahkan kadang menusuk-nusuk punggung penumpangnya. Pernya sudah banyak kendor.

Becaknya memang lebih tampak seperti karya seni klasik tentang alat transporatasi yang dipajang di pagelaran- pagelaran seni di Yogyakarta. Klasik tapi murni tanpa sentuhan apa pun. Asli diciptakan dari kehidupan yang mampus.

“Asu!”

Mulut Sadrak mengumpat ketika dia hendak mendorong becaknya dari bawah pohon tempatnya berteduh. Ketika itu dia kalah gesit dari pengendara bentor yang seketika entah muncul dari mana. Penumpangnya anak SMA.

Kejadian itu memang sering dialami Sadrak. Itulah sebabnya, dia berkeinginan mengendarai bentor. Mengganti becaknya dengan motor yang dipermak jadi becak bermesin. Hanya dengan sekali duduk tanpa harus mengayuh. “Berkilo-kilo meter saya pasti kuat,” pikirnya.

Kali ini sembari mengayuh dan membawa seorang nenek Tionghoa langganannya, benaknya melayang-layang kepada bentor impiannya. Motor bermerek Honda, dengan mesin 100 cc, atap-atap yang kokoh dengan plat besi yang licin. Ban motor yang tebal tanpa harus menghindar ketika menghadapi jalan yang berkerikil. Dan tentu saja, dia dapat dengan mudah melenggangkan kakiknya begitu saja tanpa capek-capek mengayuh.

Begitulah Sadrak seringkali melambungkan khayalannya. Ketika sering berpapasan dengan para pengemudi bentor mulutnya yang sumbing selalu mengucapkan makian khasnya: “Asu”. Tapi, para pengemudi bentor justru menganggap itu lelucon. “Asu” malah menjadi “Hasfu” di mulut Sadrak. Tidak ada artinya sama sekali.

Walaupun begitu Sadrak dapat juga bertahan. Langganannya yang sering kali adalah orang-orang tua lebih memilih becak Sadrak dibanding pengemudi bentor yang seenak udel cara mengendaranya. Mungkin becak sama bermaknanya bagi masa-masa muda para orang tua langganan Sadrak. Tapi sial bagi Sadrak, itu juga berarti pendapatannya tidak naik-naik. Orang-orang tua itu menganggap zaman seperti jalan di tempat. Tarif becak masih sama seperti sepuluh atau duapuluh tahun lalu.

Itulah alasan kedua Sadrak berkeinginan mengganti becaknya menjadi bentor. Berganti bentor berarti berganti penumpang. Lebih kekinian. Juga terhadap pendapatanya. Bentor adalah mukjizat bagi hidupnya. Di hari tuanya ia ingin lebih banyak beristirahat dari mengayuh becak. Bentor adalah pilihan yang paling pas.

Namun, mukjizat berubah seketika menjadi bencana baru. Itu terjadi dua bulan setelah Sadrak bernegosiasi dengan nenek Tionghoa yang memberikannya motor butut Honda dengan cara mencicil dari hasil pendapatannya. Belum lama dia mempermak motornya menjadi bentor, dia mendengar cerita dari teman-teman barunya tentang datangnya pesaing baru yang lebih gesit dan menguntungkan.

“Langganan-langganan kita banyak berkurang,” keluh pengemudi bentor.

“Mereka juga pake hape segala mencari penumpang, Anjing!”

“Iya, Anjing!”

Sadrak mendengarnya sembari mengecek ban motornya.

“Asu!” Umpat Sadrak tiba-tiba.

Belum lama dia berganti Bentor datang lagi ojek online.

“Asu!” Sekali lagi Sadrak mengumpat ke udara sambil menendang bentornya. Mampus sudah hari tuanya.

15 August 2017

Norwegian Wood, Haruki Murakami

Cinta memang misterius. Tak ada yang bisa menebak apa keinginan cinta. Dia universal, namun juga di waktu-waktu tertentu dia hanya mau menyinggahi hati seseorang yang memiliki keistimewaan sendiri. Cinta di lain waktu juga bisa menyeret seseorang kepada tindakan-tindakan di luar nalar, bahkan melawan kebiasaan-kebiasaan umum. Cinta juga mengajak seseorang akan mampu berbuat kepada perilaku-perilaku yang ganjil. Bahkan membuat seseorang depresi. Tapi tidak melulu soal cinta (apakah ini semua soal cinta?), Norwegian Wood milik Murakami juga mampu memberikan sisi lain dari kehidupan anak muda yang sedang di ambang batas antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Dalam konteks masyarakat Jepang tahun 60an yang kala itu hampir semuanya gandrung dengan lagu-lagu dari (Barat) The Beatles. Namun tentu itu semua —lagi-lagi karena cinta yang mulai membentuk jalan ceritanya tanpa ada yang bakal tahu seperti apa bakal kejadian akhirnya. Semua bermula dari sebuah lagu, dan pada akhirnya kenangan yang paling kuat dari masa remaja mengemuka dan sulit dibendung. Ingatan yang kuat memang akan selalu keluar begitu saja dari sudut kepala jika memang sengaja atau tidak, “disentil” oleh “sesuatu”. Sesuatu itu datang kepada Watanabe melalui Norwegian Wood, lagu yang disukai oleh kekasih mantan pacar sahabatnya. Lagu itu akan menjadi jangkar ingatan yang bakal menghubungkan Matanabe dengan cerita masa lalunya. Novel ini secara interior dituntun oleh ingatan Watanabe seluruhnya. Terutama tentang masa-masa kritis yang dialaminya bersama Naoko dan Midori,dua gadis yang menjadi pusat kehidupan Watanabe. Bukan saja cinta –apakah tepat disebut cinta— melainkan juga sisi psikologis dari akibat-akibat yang tak diduga dari perasaan-perasaan yang tak mampu digambarkan. Perasaan-perasaan itu, yang bakal menjadi kekuatan dari hampir semua cerita di novel ini, adalah jaringan pelik yang menyedot Watanabe, Naoko, dan Midori ke dalam pusaran kejadian-kejadian yang mungkin hanya mereka sendiri mampu merasakannya. Yang paling menentukan dari cerita melalui novel ini adalah kematian orang-orang terdekat Watanabe  yang memberikan efek besar, terutama kepada Naoko, orang yang dekat Watanabe yang sebelum kematian (bunuh diri) Kizuki merupakan pacar dari Naoko. Dari sinilah ada semacam perasaan ganjil –dapatkah Anda melakukannya: menjalani hubungan khusus dengan mantan pacar sahabat Anda yang mati bunuh diri?—bagi Watanabe untuk melanjutkan “kisah” yang sempat mengalami guncangan di antara mereka bertiga yang akhirnya membuat Watanabe pun menjalani hubungan yang ganjil dengan Naoko. Gantung diri yang dilakukan Kizuke berdampak traumatis bagi Watanabe dan Naoko. Bagi keduanya, terutama kepada Watanabe, kehilangan Kizuki bukan saja kehilangan teman jalan, melainkan adalah sekaligus teman cerita yang “nyambung” dari sekian banyak teman sekolah Watanabe (walaupun kelak Watanabe akan menemukan temannya yang unik bernama Nagasawa yang juga menyenangi sastra dan senang bermain perempuan di saat perguruan tinggi). Bagi Naoko kematian tanpa sebab Kizuki, juga berdampak mendalam bagi jiwanya sampai akhirnya dia harus pergi ke suatu tempat yang dijadikan sebagai “rumah sakit” khusus untuk memulihkan “perasaan” dan kondisi kejiwaannya. Di saat itulah, ketika di masa penyembuhan Naoko, Watanabe menjadi semakin berarti bagi dirinya, tapi juga semakin krusial bagi keberlanjutan kesembuhan kesehatan Naoko. Kehidupan masa muda yang belum terikat “komitmen” juga membuat Watanabe menjalani hubungan khusus dengan seorang mahasiswi dari kampus tempat mereka belajar. Midori yang disebut Watanabe sebagai gairah yang “hidup”, “berjalan”, dan “dinamis”, dibandingkan Naoko yang “lembut”, “tenang”, dan “dalam” adalah sisi lain yang secara bersamaan tidak bisa tidak mengambil tempat lain dalam jiwa Watanabe. Jadi hubungan yang nampak kompleks ini (di cerita ini juga menampilkan sisi hubungan Nagasawa dengan Hatsumi –Hastumi juga mati bunuh diri), apalagi dengan “hubungan” Watanabe dengan Reiko, orang dekat Naoko di tempat penyembuhan yang juga memiliki sisi hidup yang tak biasa (Reiko seorang perempuan paruh baya yang kehilangan kemampuan bermain pianonya akibat gangguan kejiwaan yang melandanya dan di suatu kisah hidupnya tak disangka-sangka terjebak hubungan seks dengan murid perempuannya yang berumur 14 tahun di saat mengajar piano) , bakal membuat cerita di antara mereka memang benar-benar di luar dari hubungan orang-orang normal. Dan memang novel Murakami ini adalah cerita orang-orang ganjil dengan kebiasaan-kebiasaan yang tampak aneh (di beberapa bagian antara hubungan Watanabe dengan Naoko, dan Watanabe dengan Midori, hubungan mereka akan sampai kepada adegan-adegan seks yang membuat mereka menikmati dan tidak menyesalinya. Dan oh iya, Watanabe adalah tokoh yang digambarkan senang dengan membaca). Namun, dari semua keunikan tokoh-tokohnya, mereka memiliki kesamaan berupa memiliki minat yang sama terhadap sastra dan lagu-lagu barat (Mungkin ini kesukaan Murakami terhadap lagu-lagu dan literatur Barat). Dilema yang ditunjukkan Watanabe adalah akhir cerita setelah kematian Naoko (ya, Naoko akhirnya mati gantung diri di sebuah hutan tanpa sebab yang pasti, seperti Kizuki) adalah teka-teki, apakah akan bertahan dengan kenangan cintanya terhadap Naoko, atau tetap melanjutkan hubungannya dengan Midori, sosok unik yang juga banyak memberikan pengaruh terhadap Watanabe.  Tapi, cinta memang misterius. Tak ada yang bisa menebak apa keinginan cinta sampai-sampai menghempaskanmu bersama kesepian yang suram dan cita-cita yang tiba-tiba jatuh berserakan.

12 August 2017

Sadrak dan Kerumunan yang Membuatku Seperti Ibrahim

Aku mati dilahap api saat sebelum truk bermuatan pasir lewat begitu saja dengan iring-iringan orang yang seketika menontonku seperti sedang melihat mukjizat Ibrahim. Tak ada yang menyangka, aku pelan-pelan mati akibat kerumunan yang beringas. Mereka mengerumuniku bagai semut api ketika melahap mangsanya. Mulutnya menggerogoti, menggigit habis mangsanya. Ribuan mulut. Panas.

Ketika dikerumuni tubuh yang berkeringat dan otot-otot wajah yang menegang, darahku masih segar mengucur dari telingaku yang pecah. Sementara kepalaku nyaris putus dari lehernya. Yang membuat orang ngeri dan kaget, karena dari perutku keluar suara seperti bunyi-bunyi orang berzikir. Perutku robek ditusuk entah apa.

Seorang tua tak ikut lari berkerumun menjulurkan kepalanya di antara orang-orang yang penasaran. Dia hanya duduk menatap gadget yang baru dibelikan cucunya untuk memudahkan membaca Al Quran. Dibolak baliknya gadget itu, menekan begitu saja layar yang memantulkan kembali bayangan wajahnya.

Orang-orang masih penasaran. Keramaian terbagi dua, salah satu kerumunan mempelototi tubuhku yang hangus terbakar. Di bagian utara, kerumunan tidak kalah ramai. Di sekitar masjid, banyak orang-orang saling berdiri berhadap-hadapan menyerupai lingkaran. Mereka saling bercerita menjelaskan kejadian yang masih simpang siur.

"Tolong..tolong." Ucapku memelas.

"Tolong.."

Suaraku kini bukan lagi keluar dari tenggorokanku. Kini aku sadar, suara itu datang dari lubang perutku.

Aku merasakan kepanasan yang sangat. Pahaku yang sobek dan kakiku yang sudah tidak berbentuk hanya tergeletak begitu saja. Tapi kepalaku masih bisa mendengar suara orang-orang di sekitarku. Matakupun menangkap sayup-sayup orang-orang sibuk mengambil gambar. Yang lain membuat video.

Sadrak masih mempelototi gawai yang dipegangnya. Dia masih bingung bagaimana cara membuka layar gawainya yang terkunci. “Dengan ini kakek tidak usah lagi repot-repot membawa Al Quran”, ucap cucunya di saat memperkenalkan alat canggih untuk kakeknya. Memang Sadrak dijanjikan oleh cucunya bakal memiliki Al Quran versi online tempo hari. “Tinggal buka layar, kakek tinggal klik gambar ini”, ujar cucunya di saat mengajarkan cara membuka aplikasi Al Quran yang barusan di downloadnya. Sekarang Sadrak malah kebingungan. Niatnya membaca Al Quran setiap saat dan di manapun jadi repot akibat benda yang sekarang membuatnya pusing.

Seketika Sadrak terperangah melihat banyak orang berkerumun di sekitarnya. Dia baru saja sadar tentang keadaan di sekelilingnya. Dia melihat banyak orang seperti baru saja membunuh sesuatu. Muka sebagian dari mereka seperti kehilangan darah. Sebagian lainnya menjulur-julurkan kepalanya. Berusaha menembus kerumunan. Mereka berkeinginan melihat aku yang mulai berminyak. Kulitku seperti daun pisang yang berair ketika dibakar. Aku masih meringis kesakitan. Bahkan aku bisa mencium bau amis dari tubuhku sendiri.

Tapi, Sadrak tidak berminat ingin melihat peristiwa yang baru saja terjadi. Gawai yang baru saja dimilikinya sudah lebih dari cukup untuk menyedot perhatiannya, membuatnya kehabisan cara bagaimana memperlakukannya. Benaknya semakin menjadi asing dengan benda yang berada di tangannya.

Sadrak semakin bingung. Dia menoleh dari kanan ke kiri mencari seseorang yang bisa membantunya membuka gawainya. Tapi, di sekitarnya tidak ada siapa-siapa. Orang-orang justru sedang berlarian melihat seonggok tubuh yang terkapar di pinggir jalan.

Cerita-cerita berkembang dari mulut ke mulut dengan versi yang macam-macam. Dengan cepat setiap orang ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sebelumnya, kejadian mencengangkan itu begitu saja terjadi tiba-tiba. Seperti kilatan peristiwa tanpa asal usul. Tanpa ba bi bu orang-orang berlarian mengikuti suara kemarahan yang entah dari mana datangnya. Orang-orang yang duduk-duduk di halte sontak ikut belari ketika mendengar suara teriakan. Melihat orang-orang tergesa-gesa yang seperti membentuk barisan itu pun membuat tukang-tukang ojek yang sedang mengaso tak pikir panjang berhamburan meninggalkan motor di pangkalannya. Anak-anak muda di ujung gang pun segera berdiri dari tongkrongannya dan lari tak kalah cepat dengan pedagang di sekitar emperan yang ikut berteriak. Selang beberapa saat keadaan menjadi kerumunan massa yang beringas. Sebagiannya kaget, tapi kerumunan itu seperti mengikuti instruksi yang tak pernah diperintahkan siapapun.

Aku pun tersentak dengan kejadian yang tiba-tiba itu. Kejadian itu begitu cepat terjadi. Aku pun ikut berlari mengikuti instingku. Namun, entah mengapa kerumunan itu mendatangiku. Mereka teriak-teriak entah apa. Keadaan begitu ramai. Aku kemudian terjatuh, dan di saat itulah tubuhku dikerumuni orang-orang. Mereka memukuliku bertubi-tubi. Menghantamku dengan ujung kakinya. Dan dengan cepat satu hentakan tendangan ditengkukku membuatku kehilangan kesadaran. Tak lama setelah itu aku sudah merasakan panas yang perih. Air mataku keluar dengan sendirinya. Kulitku seperti dikupas dengan pisau yang sangat tajam. Perutku berlubang. Panas.

Sadrak tak tahu apa yang sedang terjadi. Dia pun tidak tertarik dengan kejadian itu. Tubuh tuanya  dibuat bingung oleh benda asing di genggamannya.

10 August 2017

Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, Albert Camus, et.al.

"Kesejahteraan suatu masyarakat dapat disimpulkan dari kondisi sastra di dalamnya." Oktavio Paz 
"Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan." Gabriel Garcia Marques
Saya harus segera menuliskan ini: menulis itu pekerjaan yang begitu melelahkan, bahkan menyulitkan pikiran. Perasaan ini seketika saja muncul dalam benak saya ketika membaca buku Menulis Itu Indah, Pengalaman Para Penulis Dunia, buku yang diterbitkan Oktopus dari Yogyakarta. Menulis bukan hal gampang seperti yang pernah dikatakan Pramoedya bahwa jika ingin menulis ya menulis saja. Kalimat ini memang terasa satire keluar dari orang sekaliber Pram. Apalagi sangat gampang bagi Pram mengucapkannya dengan beragam pengalaman semasa hidupnya jika dibandingkan dengan waktu sekarang. Menulis memang di satu sisi bukan bakat yang secara natural  dimiliki oleh kita seperti saat kita pergi di hutan dan kemudian mampu beradaptasi. Atau seperti anak lembu yang seketika mampu berjalan sedetik ketika ia keluar dari perut ibunya. Menulis, ketika membaca beberapa pengalaman dari penulis-penulis dunia yang disampaikan buku ini nampak sebagai pekerjaan orang-orang yang mau dan rela menghabiskan banyak waktunya untuk menghargai gagasan-gagasannya. Sebenarnya pertanyaan pentingnya apa yang indah dari menulis, ketika di waktu yang bersamaan seseorang bakal menjalani waktu yang panjang, pinggang yang encok, mata yang terpapar udara siang malam, debu-debu yang bertebangan, dan kehilangan banyak energi berbulan-bulan?  Apalagi apa yang bisa didapatkan dari pengalaman seseorang yang sebenarnya tak bisa dipertukarkan begitu saja. Pengalaman seseorang adalah peristiwa yang unik dan berbeda. Dia tak bisa dibagi untuk siapapun. Yang bisa dilakukan hanya menyampaikan cerita atas pengalaman itu sendiri. Sebab pengalaman hanya mampu terjadi selama sekali. Mungkin karena itu tidak semua penulis dunia mau menceritakan pengalamannya ketika menulis. Bukan karena itu adalah peristiwa yang tak memiliki sisi sosial, melainkan menurut saya pengalaman setiap penulis yang dikenal dunia memiliki sisi lain yang menyakitkan. Sisi yang mengundang memori yang sudah lama dipendam. Akibatnya, kita hanya mampu menebak-nebak kekuatan apakah yang sebenarnya tersimpan dalam hati para penulis-penulis besar selain daripada keinginan mereka untuk bersuara? Barangkali yang indah dari pengalaman menulis penulis dunia adalah –sudah tentu- adalah kesempatan yang kita miliki untuk membaca karya-karya mereka. Banyak ragam kemungkinan yang mungkin akan terjadi dari kepala sang penulis dengan karya yang sudah mereka lahirkan. Berawal dari gagasan sederhana yang mereka miliki, sudah pasti bakal banyak godaan dan hambatan yang bakal mengganggu proses kreatif sampai lahir karya mereka –coba kita bayangkan bagaimana seorang penulis yang harus diusir dari negaranya hanya karena aktifitas menulisnya dan mendapatkan pelbagai jenis siksa psikologis dan sosial. Selama jarak itu masih ada, maka penghargaan terhadap karya-karya mereka patut kita hidupkan dengan cara membacanya, mendiskusikannya, mencatatnya, atau kalau perlu mengkritiknya. Dengan cara itu maka makna kelestarian dari suatu karya tulis menjadi bukan saja tanggung jawab seorang penulis, melainkan juga menjadi tugas bersama para pembacanya. Menulis mungkin saja adalah bagian yang paling intim di hati setiap penulis. Sebagai suatu keadaan spritual. Paulo Coelho bahkan menyebutkan dirinya sempat terperangkap di dalam tulisannya sendiri. The Alchemist akhirnya menyelesaikan bagian akhirnya dengan menuntun penulisnya larut di dalamnya. Kata Coelho, buku itu yang menyelesaikan sendiri bagian akhirnya. Pengalaman semacam ini yang tidak mungkin dibagi kepada setiap orang. Pengalaman yang hanya dimiliki satu orang di jagad raya ini. “Pengalaman manusia yang esensial”, kata Jorge Luis Borges, yakni pengalaman penulis yang memerlukan kesendirian, dan dia dapat mengambil tempat di dalamnya. Itulah sebabnya setiap penyair dan filsuf misalnya, kata Foucault, “tidak terbentuk dengan cara yang sama”. Tapi kata pepatah pengalaman adalah guru yang paling berharga. Toh jika pengalaman dapat juga dirasakan bagi dua orang yang berbeda dan tidak saling mengenal, cara Betrand Russell mungkin patut dicoba: meniru gaya menulis penulis yang disukai. Walaupun dalam waktu yang lama dia menyebutkan si penulis yang memfoto copy gaya penulis idolanya akan berhadapan dengan dilema ontensitas dirinya. Di titik inilah maka seseorang harus siap mengambil sikap untuk mencari gayanya sendiri. Di titik ini pulalah, toh jika menulis itu indah, maka tidak ada makna apapun yang sama tentang kata indah itu sendiri. Kemungkinan besar, itu semua akibat setiap penulis lahir dari kesendiriannya masing-masing.

08 August 2017

Menghayati Bunyi

Ada yang ganjil ketika semalam saya mulai memejamkan mata. Setelah membuka-buka artikel via dunia maya, saya lekas ke pembaringan. Segera lampu  dipadamkan. Sebelumnya, saya menengok jam tangan yang tergeletak di dekat kipas angin yang berputar: sudah hampir pukul 12 malam. Lekas saya hamparkan badan di atas kasur. Istri saya sudah lebih duluan rebahan.Waktunya untuk tidur.

Tidak lama berselang, terdengar bunyi-bunyian di atas kepala saya. Tripleks plafon di atas kepala seperti digosok-gosok sesuatu. Seperti ada yang berjalan di atas plafon kamar.

Tapi, beberapa detik kemudian bunyinya seperti langkah yang tergesa-gesa. Seolah-olah ada binatang melata yang berlarian di atasnya. Bunyi kakinya terburu-buru. Kadang pelan, kadang sebaliknya.

Tokek, pikir saya. Itu pasti tokek. Sehari sebelumnya memang ada tokek yang menyelinap masuk ke kamar. Tubuhnya lumayan besar dengan warna keabu-abuan yang sedikit pucat dengan garis-garis berwarna orange. Garis-garis bergerigi kecil itu teratur sampai di ujung ekornya. Kulitnya kasap sedangkan kepalanya seperti bentuk kepala cecak, tapi lebih besar seperti bola pingpong. Agak mirip ujung kepala ular. Matanya besar berwarna abu-abu kehijauan dengan bintik hitam di tengahnya. Dia lebih banyak diam seperti menunggu sesuatu. Jika pandangan lepas darinya, dia sudah bergeser beberapa senti dari tempatnya semula.

Ketika saya mengetik di waktu malam, seringkali dia tiba-tiba sudah bercokol di tembok sebelah jam dinding berwarna merah bergambar Mickey Mouse. Kadang dia kaget melihat saya yang seketika menatapnya. Jika sudah begitu, sontak dia buru-buru melangkah menuju belakang lemari besi yang tidak jauh di sudut kamar. Saya pikir saya saja yang takut, ternyata dia juga takut.

Memang di rumah tokek itu sering kami lihat ketika malam. Tiba-tiba dia biasanya sudah nongol di atas dinding dapur. Ketika ingin buang hajat, hampir di waktu malam-malam tertentu kami bakal melihatnya. Ketika pagi tiba, dia sudah kembali ke tempat seringkali ia bersembunyi. Di belakang lemari kayu di kamar sebelah, mungkin.

Tapi, mana bisa itu tokek. Baru kali ini saya mengalami kejadian seperti ini. Tidak pernah dia berjalan di atas plafon. Itu sesuatu yang aneh. Tokek selalu berjalan secara horizontal. Tubuhnya seringkali merayap melawan hukum gravitasi. Jarang dia melata seperti kadal, atau biawak.

Apalagi, selama ini saya tidak pernah mendengar bunyi langkah binatang di atas plafon kamar. Jika memang itu tokek, mendengar langkah kaki yang berlari semacam itu sepertinya tidak mungkin. Jarang saya melihat tokek berlarian.

Kalau diingat-ingat, binatang melata yang pernah saya saksikan berlari itupun salah satunya adalah komodo. Ya, komodo binatang yang dikategorikan langka itu. Di NTT, pulau komodo tepatnya, binatang ini bebas berkeliaran di alam terbuka. Bahkan mereka hidup berdampingan dengan warga setempat. Nah, melalui tayangan Discovery Channel, saya pernah melihat komodo berlari untuk berebut makanan. Tubuhnya gemuk. Tapi, gesit.

Tokek binatang yang bergerak lamban. Kaki-kakinya tidak seperti cecak. Apalagi komodo. Membayangkan tokek berlarian macam itu, kecil kemungkinan.

Lalu, bunyi apakah di atas sana…

Tikus, mungkin itu tikus! Tapi suara berlari tikus terlalu cepat jika dibandingkan dengan suara kaki yang berlari semacam itu. Saya sering mendengar suara tikus berlari. Kecepatannya tidak seperti bunyi kaki yang barusan saya dengarkan. Ini agak sedikit lambat, tapi tidak bisa juga dikatakan cepat. Lagian berkali-kali jika tikus rumah yang berlari, saya sering mendengar suara decitnya pula.

Tapi, kenyataannya memang di rumah tidak ada tikus seekor pun!

Kalau bukan bunyi langkah tikus, lantas…

Apakah cecak? Ah, mustahil. Cecak binatang yang tidak memiliki berat badan seperti dalam pikiran saya. Bunyi kaki ini seperti binatang yang lebih berat dari cecak yang tambun sekalipun. Toh, jika cecak berlari, biasanya dia juga mengeluarkan suara decak seperti tikus.

Lagian cecak lebih sering saya lihat merayap di dinding-dinding rumah. Juga lebih banyak ketika dia bergelantung secara terbalik di atas plafon-plafon rumah.   

Jadi, kalau bukan itu semua, gerangan apakah yang berbunyi di atas kepala saya?
Agak lama saya menebak-nebak bunyi langkah kaki di atas plafon kamar. Menimbang-nimbang, berpikir-pikir!

Bunyi-bunyian itu akhirnya membuat saya agak kesulitan tidur. Dalam gelap, saya masih menebak-nebak. Tokekkah itu? Apakah tikus? Mungkinkah cecak gemuk?

Bunyi itu sudah lama pergi. Dalam kamar gelap saya masih membuka mata.
Persoalan bunyi ini membuat saya agak penasaran.

Nampaknya bunyi ini seolah-olah membuat pikiran saya agak runyam. Seolah-olah bunyi-bunyian ini harus segera saya pecahkan.

Tiba-tiba tidak lama, saya jatuh tertidur…

Subuhnya saya terbangun seketika akibat suara alarm handphone. Sontak telinga saya menangkap bunyi dari jauh. Itu bunyi toa masjid. Pak Imam sedang memimpin shalat shubuh. Sepertinya sudah rakaat terakhir.

Lantas tidak lama setelah itu saya menujur kamar mandi. Dalam remang-remang, tokek yang biasa saya lihat di dinding dapur tidak kelihatan. Dia mungkin di belakang lemari kamar sebelah, pikir saya.

Walaupun begitu, bunyi-bunyian di atas plafon semalam masih menyimpan tanya di benak saya. Bunyi-bunyi itu berbeda dengan suara motor tetangga, bunyi air mengalir, bunyi api penggorengan, suara pesawat terbang, suara kokok ayam, suara kipas angin, anak-anak yang berlari, desahan angin, suara pembawa acara berita di televisi, bunyi detak jam di atas dinding, bahkan bunyi suara istri saya, atau bunyi notifikasi gadget yang seringkali membuat saya terburu-buru mengangkatnya. Semua bunyi-bunyian itu bisa saya kenali seketika lantaran terbiasa mendengarnya. Sehari-hari, malah.

Bahkan, semua bunyi yang hinggap di telinga saya, datang begitu saja tanpa menyisakan penasaran macam begini.

Sekarang, saya tahu bunyi di atas kepala saya semalam itu memang bunyi langkah binatang? Bunyi langkah yang ganjil. Tapi…

Puki mak! Kenapa tiba-tiba saya mau mempersoalkan bunyi-bunyian segala! Bukankah semua bunyi-bunyian selama ini tidak pernah saya pertanyakan!? Seberapa pentingkah bunyi-bunyian harus dihayati!?

Keparat!

Tunggu sebentar! Hey, bunyi apa itu!? Dapatkah Anda mendengarnya, barusan?

---

*Terbit sebelumnya di kalaliterasi.com

06 August 2017

Memperjuangkan Kemerdekaan Literasi

Bangsa Indonesia sudah memulai kemerdekaannya dengan cara yang heroik. Dengan tenaga, darah, dan air mata. Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan mudah, dengan caranya sendiri.

Itulah sebabnya Bung Karno pernah mengatakan dalam pidatonya di sidang BPUPKI, tidak ada perjuangan bangsa yang sama sekali mirip satu sama lain. Indonesia memulai hari-hari merdekanya melalui jalan bersiasat dengan nasib masa depannya. Melalui taktik dan pikiran yang cemerlang, memanfaatkan “kelengahan” Jepang—yang sebelumnya Belanda—dari janji historis perdana menterinya kala itu.

Syahdan, buah kemerdekaan itu sampai hari ini akan terus kita gelorakan. Melalui ingatan atas sejarah, nyanyi-nyanyian, forum-forum akbar, upacara-upacara yang hikmat, dan doa-doa yang terus diangkat ke atas langit-langit persada. Agustus barangkali adalah bulan paling bersejarah. Di bulan inilah, kemerdekaan Indonesia diapresiasi dan akhirnya dirayakan kembali.

Namun, mesti diingat, 17 Agustus 1945 hanyalah satu momen politis. Suatu peristiwa yang menandai suatu awal hari-hari yang masih akan dan terus diperjuangkan. Dengan kata lain, kala proklamasi diucapkan secara publik, peristiwa itu hanyalah kemerdekaan yang diistilahkan Bung Karno sendiri sebagai ”jembatan emas”, yakni hanya suatu ”mukaddimah”, suatu pengantar. Setelah itu, perjuangan yang sebenarnya adalah kemerdakaan sosial, ekonomi, dan budaya.

Mengingat konteks sosial budaya abad 21, kemerdekaan Indonesia modern juga mesti memerdekan diri dari jerat alienasi yang mengasingkan dirinya sendiri. Salah satunya adalah ketertinggalan dalam bidang literasi.

Empat tahun di belakang

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, pernah mengungkapkan di akhir Maret lalu, bahwa kemampuan literasi masyarakat Indonesia jauh tertinggal empat tahun dari negara-negara maju saat kiwari. Salah satu indikator yang dikemukakannya kemampuan membaca siswa kelas 3 SMA hanya setara dengan peserta didik kelas 2 SMP di negara maju. Bahkan masih banyak siswa hingga mahasiswa di daerah terpencil yang belum mampu membaca secara lancar dan memahami maknanya.

Ironi ini melengkapi fenomena yang terekam melalui data-data bahwa Indonesia adalah negara buncit se-Asia terkait budaya membaca. Lebih miris lagi jika dikatakan budaya membaca di kalangan pelajar, guru, mahasiswa, maupun akademisi rata-rata tidak lebih dari satu jam perhari. Menurut studi International Association for the Evaluation of Education Achicievement ( IEA) mengungkapkan, di Asia Timur, tingkat terendah membaca dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7, di bawah Filipina (skor 52,6), Thailand ( skor 65,1), Singapura (skor 74,0), dan Hongkong  (skor 75,5).

Bukan itu saja, kemampuan orang Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Dalam Human Report 2000 (UNDP), bahwa angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat umunya sudah mencapai 99,0 persen.

Di sisi lain, UNESCO melaporkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia mencapai titik terendah yaitu 0 persen, tepatnya 0,001 persen. Bandingkan dengan anak-anak di Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku. Di Jepang, bahkan tradisi membacanya dapat diukur dari umumnya tiap rumah membaca 2 koran selama sehari.

Dari segi publikasi, Indonesia hanya mampu menerbitkan buku pertahun sebanyak 8.000 judul. Dari negeri tetangga Malaysia dan Vietnam masing-masing mencapai 15.000 dan 45.000 judul per tahunnya. Sedangkan di Eropa, Inggris misalnya, malah bisa mencapai 100.000 judul per tahun.

Dalam perspektif sosiologis, kenyataan di atas menunjukkan masyarakat Indonesia masih mengedepankan budaya lisan tinimbang budaya membaca.  Secara kultural, situasi ini menunjukkan posisi awal (rendah) dari perkembangan budaya manusia. Itu artinya secara peradaban, bukan saja empat tahun, Indonesia justru masih tertinggal berabad-abad dari peradaban maju dunia.

Fenomena di atas juga mengindikasikan suatu kewajiban bagi setiap warga negara untuk ikut dan meneruskan kemerdekaan Indonesia bukan saja dalam tahap ”kemerdekaan dari” melainkan juga suatu perjuangan dalam konteks ”kemerdekaan untuk”. 

Kemerdekaan tahap kedua

”Kemerdekaan dari” menandai era kemerdekaan yang sudah diperjuangkan pejuang Indonesia di masa pendudukan penjajah bertahun-tahun silam dari penindasannya. Sementara era kiwari, manusia Indonesia mesti mempertahankan setiap jengkal tanahnya dalam tahap ”kemerdekaan untuk” agar mampu bersaing dan menjadi bangsa besar.

Kemerdekaan literasi adalah perjuangan yang genting untuk digalakkan. Sebagai suatu bangsa, data-data yang sudah dikemukakan di atas merupakan fenomena yang harus ditransformasikan. Membaca, menganalisis, mengkritisi, menulis, berdiskusi, dan meneliti, harus menjadi perjuangan kultural untuk membangkitkan Indonesia melalui perjuangan literasinya. Dengan kata lain, literasi harus menjadi tradisi, perilaku sehari-hari manusia Indonesia.

Satu hal yang juga tidak kalah utama, yakni perlunya fasilitas yang menunjang perjuangan literasi berupa peredaran buku-buku bagi warganya melalui misal pembangunan perpustakaan, maksimalisasi komunitas-komunitas literasi, ajang-ajang perlombaan literasi, di samping pendampingan secara institusional oleh negara berupa kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan melek literasi anak-anak negerinya. Last but not least, kemerdaan abad 21, salah satunya adalah kemerdekaan literasi.

---

*dimuat di Harian Fajar edisi Sabtu, 5 Agustus 2017

04 August 2017

Karl Marx di Dean Street Soho

"Penulis boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya." Karl Marx
 
Salah satu olok-olok, atau bahkan ironi bagi Karl Marx barangkali datang dari suatu nama jalan; Dean Street. Panjangnya kurang lebih 400 yard. Di peta, letaknya di antara Oxford Street dengan  Shaftesbury Avenue. Di situ tidak berbeda dengan jalan-jalan di Soho, London: banyak toko-toko mentereng, klub-klub malam, bar, restoran, penjual-penjual kembang, toko pernak-pernik dlsb. Singkatnya bilangan itu adalah salah satu pusat keramaian di London. Tempat kelas borjuis, kelas yang menjadi sasaran kritik Marx, berbelanja.

Di jalan itulah Marx pernah tinggal. Menghabiskan kurang lebih waktu enam tahun hidup dengan miskin.

Sekarang, sebaliknya, Dean Street adalah salah satu jalan paling konsumtif di London. Sebagai salah satu pusat perbelanjaan, Soho adalah salah satu destinasi kaum borjuis era kiwari.

Tapi, sebelum Soho menjadi seperti sekarang, di situlah Marx menulis catatan awal Das Capital yang menginspirasi itu. Di rumah yang sekarang ditilap gedung-gedung mentereng.

Di kala Marx hidup, di Dean Street yang kumuh itu, tidak ada satupun orang borjuis yang bakal menginjakkan kakinya di sana.

Begitulah, setelah diusir dari Jerman, Marx pergi  ke pemukiman buruh di Brussels, namun Marx ditangkap polisi dan dibuang ke Prancis. Semenjak diusir dari Prancis, Marx akhirnya tiba di London, yang akhirnya kehabisan uang dan diusir dari kediaman sebelumnya di Camberwell.

Akhirnya Marx tiba di gang yang kala itu banyak ditinggali kelas pekerja. Ketika itu sekira tahun 1850an, kali pertama  Marx menempati rumah tempat yang disebutnya banyak mengalami kemalangan.

Di rumah itulah Marx kehilangan anak bungsu dan seorang putrinya akibat kelaparan dan diterpa penyakit. Di rumah itu pula barang-barang Marx termasuk pakaian, sepatu, dan mantelnya disita karena utang yang menumpuk.
  
“Aku telah mengalami segala jenis permusuhan,” tulisnya pada Engels suatu waktu, “tapi kini, untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Hidup miskin suatu soal lain, tapi di saat kehilangan buah hati tercinta? Bukankah itu lebih daripada penderitaan?

Tapi kemalangan Marx juga barangkali adalah kemalangan kelas pekerja yang selalu disuarakannya. Di rumah itu, selain menulis catatan-catatan perdana Das Capital, lahir The Class Struggle in France, serta Der 18te Brumaire des Louis Bonaparte.

Di rumah ketika Marx bukan saja nampak sebagai seorang pemikir, tapi juga sebagai seorang ayah yang senang menuliskan karangan cerita untuk anak-anaknya. Menjadi seorang kepala keluarga yang bisa berperan selayaknya teman bagi anak-anaknya.

Pekerjaan yang mungkin agak berbeda ketika masih tinggal di tempat sebelumnya, ketika pertama kali datang ke London; membelikan  dan membacakan novel kepada anaknya di usia yang masih sangat muda.

Bukan saja membacakan karangan sastra, ketika masih tinggal di Grafton Terrace, Mohr, begitu panggilan anak-anaknya terhadap Marx, kadang bermain “kuda-kudaan” seperti yang dikatakan Eleanor, anaknya, “Dengan duduk di pundaknya, memegangi rambutnya yang lebat, hitam dan beberapa yang sudah menguban”.

Namun, Marx yang diliputi kemiskinan –seperti yang sudah menjadi profilnya—adalah pemikir yang disiplin secara intelektual. Mengenal Marx berarti mengenal seseorang yang dari muda memiliki gairah terhadap hampir seluruh disiplin keilmuan; filsafat, politik, hukum, sejarah, seni, musik, sastra. Itu termasuk banyak membaca dan menerjemahkan buku-buku.

Saat muda, Marx sempat menulis tentang perasaannya ketika tiba di Berlin, “begitu tiba di Berlin, aku memutuskan segala ikatan yang ada dengan handai taulan, jarang berkunjung dan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam ilmu pengetahuan dan kesenian”. Betapa Marx menjadi orang yang soliter.

Di sini Marx mau bilang betapa konsentrasinya hanya untuk ilmu pengetahuan dan seni, sampai-sampai harus menjadi orang yang menarik diri dari hiruk pikuk.

Sebagai seorang penulis, energi Marx bisa jadi lahir dari suatu niat yang jarang ditemukan dari penulis yang melihat hubungan antara karya dengan dirinya sebagai jaringan yang menguntungkan. Selama delapan jam, di London, Marx menghabiskan waktunya di British Museum, menulis berbagai bahan yang akan dirampungkannya dalam karya-karya monumentalnya. Pergi di saat pagi belum begitu panas, dan pulang di pukul sembilan malam dengan ditambah mengurung diri di kamarnya selama hampir lima jam hanya untuk menulis.

“Penulis”, kata Marx, “boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya."

Sulit membayangkan suatu ikhtiar yang begitu mendalam terhadap pemahamannya atas penghargaannya terhadap suatu karya pemikiran. Suatu keyakinan yang ditulisnya ketika masih menjadi mahasiswa, ketika Hegel menjadi salah satu bacaan dan tokoh yang diikutinya, dan ketika surat-surat romantisnya masih dia tuliskan kepada Jenny, kekasihnya.

Pemahaman literasi semacam ini tidak mungkin lahir jika Marx tidak memahami hakikat kerja itu sendiri. Kerja, seperti yang diterangkannya, adalah suatu rangkaian usaha perealisasian diri menjadi mahluk yang  bebas. Kerja hanya mungkin terjadi jika manusia memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, kerja disebutnya hanya alat yang mengalienasi manusia.

Karya adalah manifes ide manusia. Hasil realisasi dirinya sendiri. Sesuatu yang disebutnya mesti dikorbankan segala hal daripadanya.

Itulah sebabnya,  berkarya—dalam hal ini menulis—merupakan suatu pekerjaan yang mengutamakan tingkat lebih daripada hasrat rendah manusiawi. Sesuatu yang tak mungkin mampu diperkirakan harganya.

Di titik ini Marx lebih dari sebuah nama. Marx adalah suatu model. Bahkan suatu pemahaman.

Tapi, jika di Soho degup kapitalisme yang bagai olok-olok itu tak pernah berhenti, dengan itu Marx sebagai pemahaman, akan juga senantiasa hadir bersamaan menjadi semacam antitesa. Selama ketika dua buah ruangan di jalan Dean Street dihiliri turis-turis dari berbagai penjuru.

---

*Sebagian besar kutipan disadur dan diambil dari sastraalibi.blogspot.co.id., dari blog pribadi Ronny Agustinus (penerjemah buku-buku dari penerbit alternatif Marjin Kiri)

Popular Posts