30 April 2016

sampul buku

Sampul buku itu penting. Dia ibarat kulit, melindungi. Sampul, karena itu jadi barang wajib. Tanpa sampul, buku tak bisa tahan lama. Akibatnya, buku yang bersampul punya masa lebih panjang dua kali lipat dari buku yang tak bersampul.

Dulu bagi anakanak sekolah dasar, sampul harus ada jika punya buku baru. Musababnya karena hampir setiap guru bersepakat, buku yang baik adalah buku yang bersampul. Makanya bagi anak sekolah dasar buku apapun modelnya akhirnya jadi seragam.

Buku yang bersampul juga karena itu jadi ukuran kerapihan. Kadang bagi siswa yang bukunya tanpa sampul tidak diterima guru sebagai bagian dari tugas. Itu juga mengapa buku tanpa sampul adalah ukuran kepatuhan. Jadi di kelas gampang menilai mana murid patuh mana murid nakal.

Seingat saya sampul paling terkenal kala masih sekolah dasar adalah sampul berwarna cokelat. Pembungkusnya agak mirip kertas minyak. Biasanya dijual satu lusin di hampir tiap kios dekat sekolahsekolah. Kadang sampul itu banyak jenisnya. Bahkan biasanya di bagian depannya lengkap dengan katakata mutiara semisal rajin pangkal pandai; hemat pangkal kaya; sabar adalah kunci ilmu dsb.

Untuk membedakan setiap buku pelajaran, sampul yang dipakai sudah dilengkapi daftar isian jenis buku di sebelah kiri atas. Sehingga kalau mau menulis buku mata pelajaran "matematika" misalnya, cukup langsung ditulis di tempat yang sudah disediakan. Ini bagi anak sekolah dasar adalah pekerjaan yang menyenangkan, sebab bisa belajar mengklasifikasikan buku berdasarkan mata pelajaran sebelum kelas tahun pertama dibuka.

Sekarang agak sulit menemukan sampul cokelat seperti yang dipakai anak sekolah dulu. Anak sekolah sekarang lebih suka memamerkan gambargambar yang melekat di halaman kulit depan buku. Ini terjadi terutama jika sudah kelas empat ke atas. Bagi anak kelas empat atau di atasnya, buku bersampul cokelat justru membuat buku tidak tampak gagah. Apalagi mulai di kelas inilah buku pelajaran sudah mulai digabunggabung. Mata pelajaran yang berbedabeda cukup satu atau dua buku saja.

Kegiatan menyampul buku sekarang hanya penting bagi orangorang pecinta buku. Cuman berbeda dari anak sekolah dasar, sampul yang dipakai adalah sampul plastik transparan. Agak lucu kalau sekarang setiap koleksi buku berwarna cokelat. Juga akan menyusahkan kalau bukubuku susah dibaca sampulnya jika diperlukan.

25 April 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 14

Orangorang berkumpul hanya ingin banyak berbicara, orangorang menepi hanya untuk menulis. (Bahrul Amsal)

Suatu tindakan harus dimulai dengan satu kemauan, sekaligus karena itu di baliknya perlu ada seribu kesabaran.

Kelas literasi PI, awalnya bukan mau menyoal jumlah. Pertama kali dirintis, kalau tidak salah ingat, kelas dibangun berdasarkan visi gerakan. Sementara logika gerakan bukan mengutamakan jumlah. Itulah sebabnya KLPI menaruh utama pada niat. Kemauan. Karena itu semua kawankawan mesti tahu, kunci gerakan satusatunya adalah niat mau memikul visi. Makanya, sampai hari ini KLPI belum mau membikin barisan massa. Yang jadi tujuan orangorang yang mau belajar. Yang mau menerima visi literasi. Cukup itu saja.

Jumlah kadang membuat soal. Karena perkara jumlah kadang suatu niat jadi matematis. Dan apabila suatu maksud jadi matematis, kadang di situ suatu harap berubah untung rugi. Bicara gerakan kami sudah mewanti dari awal, yang mendasar merupakan kesabaran. Yang bikin gerakan nampak istikomah karena mau bersetia. Ini prinsip kedua; setia pada visi.

***

Akhir pekan ini hari yang sibuk. Hampir sebagian kawankawan punya tugas masingmasing. Juga ada yang mengalami gangguan kesehatan. Apa boleh dikata biar minim kelas mau tak mau harus terus berjalan.

Di kelas seperti biasa selalu ada tema yang jadi bahan omongan. Kali ini menyoal kebiasaan buruk saat mahasiswa hendak ujian meja; parsel. Agaknya ini memang sudah jadi tradisi. Akibatnya, tak banyak yang mau menggubris. Padahal, jika mau menelisik masuk ke dalam soal, kebiasaan ini nyatanya bikin banyak mahasiswa resah. Sumber keresahan pertama, pasal biaya. Informasi yang beredar kalau mau setor parsel harus macammacam isinya. Ari bilang bahkan sampai gula pasir jadi isinya. Karena itulah banyak fulus harus dikeluarkan jika menyediakan satu parsel. Masalah makin berat kalau parsel disediakan buat empat sampai lima orang dosen. Jadi masingmasing punya satu parsel buat dibawa pulang.

Kedua, parsel yang dibeli mahal itu katanya sudah dijatah. Ini yang bikin sesak. Cerita yang berkembang karena banyaknya mahasiswa ujian tiap periode waktu tertentu, biar tidak bosan, parsel dijatah model dan isinya. Contoh, jika ada ujian hari pertama bawa parcel berisi ratarata makanan manismanis, besok kalau bisa bawa jenis paganan yang harus berbeda. Bahkan urusan nasi kotak, kalau bisa jangan ituitu saja. Misalnya sering pakai jatah Wong Solo, besokbesok seleranya kepingin nasi padang misalnya.

Dengardengar, pasa ketiga yang bikin miris, kebiasaan ini akhirnya menciptakan lapangan kerja baru. Hanya karena kebiasaan ini jadi ramai akibat masingmasing jurusan jadikan ajang saing parsel, di situ timbul hasrat ekonomi. Makanya pasar tercipta dengan terbentuknya semacam penyedia parcel mirip kathering makanan. Katanya, kalau informasi ini valid, usaha ini dilakukan ibuibu pegawai fakultas. Nampaknya, kali ini hukum ekonomi tercipta: pasar selalu tercipta seiring kebutuhan manusia.

Yang terakhir, parsel akhirnya jadi prasyarat ujian. Padahal tak ada aturan manapun yang mengharuskan bawa parsel. Malangnya akibat sudah kebiasaan, walaupun tak ada aturan, cara ini bekerja berdasarkan konsensus antara mahasiswa dan dosen bersangkutan. Ini terjadi akibat proses sosialisasi yang kemudian terinternalisasi menjadi nilai asupan. Peter L Berger bilang, kemudian proses lanjutan dari model semacam itu akhirnya terinsititusikan dengan caracara tertentu. Sosiolog ini menegaskan, apabila sudah terinstitusikan maka pasti ada proses legitimasi yang menopang keadaan baru yang terterima begitu saja. Ini dibilangnya sebagai bagaimana kenyataan sosial itu terbentuk.

Artinya kebiasaan ini bukan tanpa sebab. Hasil omongan kemarin, asalusul tradisi ini dimulai kisaran tahun 2009 atau 2010. Hitunganhitungannya, jika kuliah dianggap normal dihabiskan selama 4 sampai 5 tahun, maka kebiasaan ini dilakukan mahasiswa angkatan 2004 atau 2005. Ini baru analisis sederhana. Namun, coba tebak, tradisi apa yang melatarbelakangi jika di tahuntahun itu kebiasaan ini bermula? Situasi akademik macam apa yang memungkinkan perilaku macam demikian terjadi?

Sebenarnya, banyak juga dosen yang tidak sepakat soal itu. Cuman secara politik dosendosen yang menolak kalah dominan jika bicara pengaruh. Akibatnya, walaupun katanya sudah ada pelarangan secara lisan dari pimpinan kampus, tetap saja kalau perilaku itu tetap dijalankan. Kalau bicara benar salah, dosen yang menolak sudah benar. Itu niat yang memang diharapkan. Tapi bicara sikap belum tentu, soalnya apa daya jika pernyataan lisan berkata tolak tapi tidak ada tindakan nyata meminimalisir kebiasaan buruk parsel.

Ini perlu sikap nyata soalnya parsel bisa jadi saluran kepentingan busuk. Kadang parsel diungkapkan sebagai bentuk terimakasih kepada dosen karena sudah meluangkan waktu buat bimbingan. Itu barangkali bisa diterima. Tapi, bagaimana jika niatnya bukan soal itu, melainkan usaha membikin urusan beres. Kalau begini, parsel terhitung gratifikasi. Akibatnya, parsel merusak hubungan objektif dari segi penilaian, sehingga siapa paling “ramai” parselnya maka kemungkinan besar dia bisa dapat nilai tinggi. Bayangkan praktek suap seperti ini ternyata dimulai dari institusi pendidikan. Gawat.

Kadang pula parcel dihitung sebagai honorarium penguji saat ujian. Pertanyaannya, kemana pembagian pembiayaan buat dosen pembimbing yang sudah diatur sebelumnya. Bukankah semua itu sudah disusun jadi bagian pendapatan dosen. Apalagi, bimbingan dan pengujian penyelesaian sudah merupakan tugas dosen di kampus. Artinya tidak perlu lagi biayabiayaan kalau mau membimbing atau menguji. Itu sudah punya anggaran khususnya dari pihak fakultas atau universitas.

Masalah di atas kalau mau diteruskan maka juga melibatkan urusan manajemen keuangan kampus. Apakah selama ini soal anggaran bimbingan tidak punya anggaran? Kalau ada, apa soal sampai tidak diberikan kepada dosen yang punya hak. Lantas kemana uang selama ini yang dipakai atas sumbangan pembiayaan pendidikan yang berjuta itu? Janganjangan ada penggelapan anggaran dari mekanisme yang tidak transparan?

Obrolan ini akhirnya jadi panjang. Mulai dari kasus parsel tak disangkasangka sampai menyinggung soal mekanisme penyelenggaraan pendidikan, menyitir soal kebijakan institusi kampus, bahkan sikap intelektual dosendosen. Nampaknya jika diteruskan soal perbincangan kemarin bisa banyak membuka soalsoal laten yang tersembunyi saat ini. Tapi, ada tulisan yang harus pula dibahas.

***

Kalau tidak ada aral melintang, di waktu ke depan ada perencanaan mengundang seorang penulis novel ke KLPI. Ini belum jadi informasi umum, tapi kemarin sempat disinggung bahwa agaknya perlu memberikan semacam asupan materi yang berkaitan dengan penulisan fiksi. Pertimbangan ini didasarkan karena tiga pekan belakangan kecenderungan tulisan banyak menyentuh jenis tulisan bergenre sastra. Selain itu, ini bisa menjadi faktor pendorong agar kelas menemukan energi baru untuk merefresh suasana kelas yang agak menurun.

24 April 2016

Mahasiswa dalam Hegemoni Media

Mahasiswa dalam hegemoni media adalah statemen yang mendua. Pertama, dalam konteks apa mahasiswa mengalami situasi pasif di balik transformasi besarbesaran media massa? Kedua, kekuatan apa yang dipunyai mahasiswa jika menjadi subjek tindakan atas media massa yang dipergunakan? Dua pertanyaan ini setidaknya menjadi jalan masuk mengetahui posisi gerakan mahasiswa kekinian di mana di saat bersamaan turut menguatnya pula media massa sebagai kekuatan pendorong terjadinya perubahan sosial.

Media Virtual: Suatu Simulacra

Kiwari, kemajuan media massa bukan saja membahasakan kembali realitas dengan cara virtual maupun visual, melainkan menjadi realitas itu sendiri.  Akibatnya, kehidupan seharihari penuh sesak dengan dunia tiruan. Jean Baudrillard mendaku, dunia baru yang diciptakan media massa nantinya akan menggusur habis kenyataan dengan imajinasi yang dimiliki di dalam dunia kreasi media massa. Baudrillard menyebut dunia baru itu sebagai simulakrum, yakni realitas virtual yang memposisikan kesadaran manusia menerima apa yang disimbolkan oleh simulakrum itu sendiri. Dengan kata lain, simulakrum menjadi realitas baru yang melampui kenyataan yang sebenarnya akibat kemampuannya menciptakan simbolsimbol, tandatanda, citra, dan imajinasi.

Baudrillard menyatakan bahwa kemampuan simulakrum mengubah kenyataan dialami berdasarkan tiga tahapan. Tahap pertama, menurut Baudrillard, simulasi masih merupakan pantulan yang mencerminkan kenyataan sebagaimana kenyataan itu sendiri (basic reality). Kemudian tahap kedua, simulasi akan menutup dan membelokkan kenyataan sehingga kenyataan tidak tampil apa adanya. Akibatnya realitas yang diacunya terdistorsi oleh simulasi itu sendiri. Tahap selanjutnya, simulasi akan memutus habis ikatan penandaan dari realitas yang diacunya dengan menghadirkan dirinya sendiri sebagai realitas itu sendiri. Di tahap ketiga ini, simulasi menjadi simulakrum murni yang mengacu dalam dirinya sendiri.

Sesungguhnya apa yang dialami sekarang merupakan kenyataan yang sudah dibilangkan Al Gore sebagai zaman information superhigway.(1) Selain simulakrum yang mengepung dunia kesadaran manusia, di saat bersamaan turut pula informasi begitu massif beredar tanpa kontrol. Apa yang diacu oleh Al Gore adalah suatu keadaan informasi yang digerakkan internet dalam mengatasi hambatanhambatan komunikasi yang dialami media tradisional sebelumnya. Bahkan keberadaan internet bukan saja memberikan cara baru bertukar informasi, melainkan turut menyatukan media tradisional dalam satu dunia berbasis virtual.

Melubernya informasi akibat mediasi internet, akhirnya turut mengubah pola interaksi yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Jika sebelumnya internet hanya menunjang komunikasi terbatas via email atau penjelajahan tanpa batas via World Wide Web, maka kemajuan dunia informasi telah mengenalkan masyarakat dalam melakukan transaksi ekonomi, konsultasi kesehatan, melakukan konferensi jarak jauh, bahkan sampai relasi seksualitas jarak jauh dengan suatu model berbasis dunia virtual. Akibatnya, kecenderungan interaksi berbasis dunia virtual, memberikan dampak mengecilnya dunia sosial seharihari.

Dunia sosial sebagai medan pertemuan masyarakat, melalui kecanggihan dunia informasi, selain mengalami penyempitan, juga berdampak buruk matinya dunia sosial. Matinya dunia sosial ditandai dengan berubahnya kesadaran manusia melakukan interaksi bukan berbasis kenyataan seharihari melainkan via dunia virtual yang bisa dilakukan kapan saja. Hubungannya dengan interaksi sebagai kunci integritas masyarakat, interaksi dunia virtual justru menghilangkan unsurunsur kenyataan yang menjadi domain penting dalam melakukan relasi sosial kemasyarakatan. Akses dari cara demikian, maka kenyataan sosial hanyalah dunia yang berbalik menjadi kenyataan nomor dua tinimbang dunia virtual itu sendiri.

Kemunculan Generasi Digital Natives

Digital Natives merupakan kriterium sosial yang merujuk kepada generasi mutakhir yang hidup secara organik di tengahtengah kemajuan alat canggih media informasi dan komunikasi. Lapisan muda ini memiliki kecenderungan sosial yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Jika diperhadapkan terhadap konsepkonsep kemajuan, generasi digital natives jauh lebih peka dan cekatan tinimbang generasi terdahulu yang banyak mengalami cultural lag. Keterbukaan terhadap ideide baru setidaknya secara epistemik memudahkan generasi digital natives untuk mencandra  seluruh arus informasi yang beredar di kehidupan seharihari. Namun, akibat kemudahan ini, secara kultural menyebabkan lapisan ini lebih menyukai “citra” dibanding “kedalaman”, “bentuk” dibandingkan “isi”, “aksi” dibanding “teori”, dan “bermain” dibanding “serius.”

Generasi digital natives juga merupakan generasi abad 21 yang merayakan kebudayaan populer sebagai perspektif kebudayaannya. Kebudayaan populer mudah diterima akibat secara simultan menjadi bagian seharihari yang diproduksi secara massal melalui media massa. Efek informasi yang menyuguhkan beragam pencitraan kebudayaan, merupakan sebab mendasar terjadinya perpaduan selera maupun pilihan kultural di mana turut membentuk segmentasi kebudayaan baru di tengah pelbagainya identitas yang mengemuka. Akibatnya, berbagai macam ekspresi kultural dapat ditemui dalam kehidupan seharihari generasi mutakhir.

Kuatnya peredaran arus informasi, di satu sisi menyebabkan kesadaran generasi digital natives tidak mampu mencapai tahap reflektif ketika mencerna sebuah informasi. Sehingga, banyaknya informasi yang dicerna bisa menyebabkan dua hal. Pertama, sulitnya menemukan kedalaman di saat yang bersamaan akibat gempuran berbagai macam informasi. 

Kedua, yakni beresikonya terjadi ledakan informasi di dalam kesadaran itu sendiri. Implikasi yang kedua ini dibilangkan Baudrillard sebagai implosif,  yakni ledakan informasi yang bergerak ke dalam kesadaran manusia tanpa menyisakan informasi apaapa. Berbeda dengan daya ledak eksplosif, implosif justru merusak struktur dalam kesadaran manusia hingga mampu menggoyah struktur ego manusia. akibatnya, ledakan informasi di dalam kesadaran manusia berimplikasi terhadapa gangguan  mental manusia.

Hilangnya nuansa refektif bagi kaum mutakhir, secara ideologis justru menyebabkan suatu gaya hidup yang lebih menyukai ikatanikatan seremonial dibandingkan kultural. Ikatan seremonial banyak terjadi dari suatu relasi yang tidak menyertakan komitmen ideologis tertentu sebagai basis gerakannya. Hubungan macam ini hanya didasarkan atas unsur kesenangan belaka dibandingkan kemauan menemukan kesetiaan pada satu pegangan pemikiran. 

Berbeda dengan generasi sebelumnya, yang sarat dengan lingkungan ideologis , menyebabkan mungkinnya terjadi internalisasi nilai yang kuat. Ekspresi kehidupan sosial seperti ini lebih didasarkan kepada hubunganhubungan organik berbasis perjuangan yang dilandasi suatu ajaran moral tertentu. Sehingga apa yang menandakan suatu ikatan dinilai atas seberapa kuatkah pegangan moral tertentu dijadikan visi dan misi bermasyarakat.

Generasi digital native memiliki kesamaan dengan generasi multitasking yang diperkenalkan Hikmat Budiman. Dalam Lubang Hitam Kebudayaan, menurut Hikmat Budiman generasi multitasking adalah generasi yang tumbuh atas situasi yang serba kontradiktif dan bertentangan. Namun, di antara pilihanpilihan kontradiktif, generasi multitasking mampu mengambil dua pilihan sekaligus yang pada dasarnya bertentangan.

Lebih jauh, menurut Hikmat Budiman, generasi multitasking adalah generasi yang keluar dari imperatifimperatif lama yang menganjurkan pilihanpilihan yang terbatas. Imperatif lama tidak terterima akibat logika dualistik yang mengharuskan sebuah pilihan menolak secara bersamaan pilihan yang lain. Misalkan jika Anda seorang marxis itu berarti Anda adalah orang yang menolak kapitalisme, dengan sendirinya Anda menghindari diskotik, mall, dan café. Setidaknya di level gagasan semua pertautan yang diingkari marxisme otomatis tertolak dengan sendirinya. Namun, seperti yang dibilangkan sebelumnya, generasi multitasking adalah golongan muda yang bisa saja memilih keduanya sebagai ekpresi pemikiran maupun tindakan kulturanya. Akibatnya, yang semula terang antara ideologis dan nonideologis, dalam cakrawala kesadaran kaum multitasking merupakan batas yang kehilangan garis pemisahnya.

Generasi multitasking adalah generasi yang merayakan kontradiksi ideologis bersamaan dengan apa yang semula dilawannya. Hikmat Budiman menulis: “menjadi generasi multitasking bukan lain adalah menjadi bagian dari orang kebanyakan. Mereka sangat peduli pada penderitaan rakyat, tapi tidak terlalu tangguh untuk jadi pahlawan. Mereka ingin pemerintahan modern, beradab dan bermoral, tanpa harus berhenti menjadi bintang sinetron dan model sensual majalah dewasa, mahasiswa yang patuh pada dosen sekaligus kekasih anak pejabat korup yang ditentangnya. Menentang monopoli Tommy Soeharto, tanpa harus membenci café, atau mobil pribadi. Siang berteriak di jalan, malam apa salahnya minum satu dua cawan Tequila di café Jimbani atau Lamborghini.”(2)

Mahasiswa: Generasi Multitasking?

Mahasiswa hakikatnya adalah terma yang politis. Secara semantik kesejarahan, pengertian mahasiswa adalah agen sejarah yang punya tanggung jawab perubahan. Namun, dalam konteks akademik modern, mahasiswa menjadi agen pembelajar yang dijauhkan dari tugastugas perubahannya.

Hampir semua bangsabangsa, di beberapa titik sejarahnya diisi  dan digerakkan peran mahasiswa. Indonesia sendiri, di beberapa momen historisnya justru diawali oleh inisiasi mahasiswa. Mulai dari tahun 1920 hingga abad ini, mahasiswa menjadi kelompok yang turut memberikan sumbangsih terhadap kemajuan kehidupan berkebangsaan.  Hal ini dimungkinkan karena mahasiswa selain agen pembelajar, juga merupakan agen pembaharu.

Di satu sisi mahasiswa juga merupakan golongan masyarakat yang paling lama mengalami sosialisasi politik dibandingkan golongan masyarakat lain mengakibatkan mahasiswa menjadi elit masyarakat yang paling mungkin melibatkan diri pada gerakan sosial politik. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa disebut kaum intelektual.

Makna intelektual artinya bekerjanya daya akal yang melibatkan suatu visi atas arah suatu kemajuan. Intelektual juga berarti beroperasinya kritisisme terhadap segala ada yang menghambat kemajuan. Karena pasal ini juga, mahasiswa adalah kaum yang mendamba perubahan ke arah yang lebih maju.

Dari hal di atas, maka mahasiswa merupakan golongan masyarakat yang akrab dengan ideide kritis, progres, dan visioner. Waktu yang dimilikinya adalah modalitas pertama dibanding kelas masyarakat lainnya yang memungkinkan ketiga daya sebelumnya dimaksimalkan. Tinimbang kelompok masyarakat lain, mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang mengarahkan waktunya hanya untuk bercengkrama total dengan ilmu pengetahuan. Akibatnya, seluruh inti sari ilmu pengetahuan menjadi identik dengan mahasiswa.

Malangnya mahasiswa, apabila mengacu kepada konsep hegemoni Gramsci, menjadi kaum yang lumat  oleh transformasi media massa. Sehingga idealisme mahasiswa yang awalnya merupakan kekuatan penggerak sejarah malah berputar sebaliknya. Akibatnya, mahasiswa tidak berbeda dengan segmentasi masyarakat umumnya, jadi bagian yang tersapu dunia imaji media massa.

Akhirakhir ini, terutama media massa virtual, menguat suatu kecenderungan fundamentalisme religius dan pasar yang bergerak membangun kesadaran masyarakat atas sentimentalisme keagamaan, kesukuan dan modal. Berbeda dari media massa cetak, sifat media massa virtual, orangorang bukan lagi sebagai pembaca informasi, namun juga bergerak lebih jauh menjadi produsen informasi. Dalam media virtual, hirarki informasi yang ditemukan dalam media cetak hampir tidak ditemukan. Imbasnya, seluruh informasi menjadi liar tanpa bisa dikontrol. Melalui celah ini, fundamentalisme religius dan pasar mengkonsolidasikan potensinya memanfaatkan kekuatan media massa virtual membangun audience seperti yang mereka harapkan. Sayangnya gerakan ini hampir tak tertandingi akibat betapa banyak dan massifnya gerakan serupa.

Mahasiswa yang notabene adalah generasi mutakhir diperhadapkan dalam situasi macam ini memiliki dua kemungkinan. Pertama, menjadi golongan tanpa harus ada pretensi apaapa sekaligus tidak melibatkan diri untuk membangun budaya tanding terhadap pendangkalan pengetahuan yang dilakukan gerakan fundemantalisme religius dan pasar. Atau yang kedua, membangun kesadaran kolektif via dunia virtual demi menyerukan suatu budaya alternatif demi menangkal arus informasi yang bisa menyudutkan bahkan membangun sentimentalisme tak berdasar.

Artinya, alihalih menjadi bagian generasi multitasking, mahasiswa harus mampu menggunakan kemajuan media informasi sebagai bagian dari visi perubahannya. Padahal, di satu sisi mahasiswa sebagai agen sejarah yang memiliki modal perubahan yang kuat, bisa dimaksimalkan oleh keberadaan media informasi.

Setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu memaksimalkan pemanfaatan atas media. Pertama adalah kemampuan literasi. Kemampuan literasi diawali dengan terbangunnya tradisi paling mendasar yakni kebiasaan baca tulis. Ditingkatan kedua, teks tidak sekedar diafirmasi sebagai bacaan, melainkan mampu menarik makna dan arti yang bisa kontekstualisasikan di berbagai medan persoalan. Tingkatan ketiga yakni teks maupun makna yang tergali mampu membangun kembali keadaan yang dianggap problematis.

Kemampuan yang kedua adalah mahasiswa seharusnya memiliki pers independen yang menjadi panggung bersuara. Sejarah kaum muda Indonesia pra kemerdekaan merupakan contoh terang bagaimana kekuatan pers adalah kekuatan nomor satu sebagai media penyebar gagasan. Setidaknya, pers mahasiswa independen mampu menjadi kekuatan penyeimbang di antara beragamnya media yang berkepentingan atas nilai modal.

Ketiga, mahasiswa dituntut mampu membangun jaringan berskala luas dengan memanfaatkan media. Tak bisa ditolak, tumbangangnya rezim orba sedikit banyaknya dipengaruhi oleh jaringan gerakan mahasiswa yang memanfaatkan media sebagai penghubung di antara beragamnya kelompok mahasiswa. Media dalam konteks ini memiliki faedah menyatukan berbagai macam kelompok berbeda menjadi gerakan kolektif.

--- 

(1)(2) Hikmat Budiman. Lubang Hitam Kebudayaan. Kanisius. 2006. 

22 April 2016

epistemologi kiri (tanggapan ringkas atas buku Epistemologi Kiri. Arruz Media. 2009)*

Theorea sebagai Praxis

Hakikatnya, pengetahuan melibatkan kepentingan. Ini sifat khas akibat pengetahuan yang manusiawi. Karena itu, pengetahuan selalu terlibat di dalam ekspresi kemanusian. Di Yunani Purba, pengetahuan diandaikan sebagai bentuk praxis. Theorea, terma yang bergeser dalam horison sains modern, merupakan cara manusiamenggamit idede kebaikan, keindahan, dan kebijaksanaan bagi kehidupan seharihari. Di Yunani Purba, akibatnya, jika orang berbicara pengetahuan maka itu sama halnya menyatakan kehidupan kongkret itu sendiri.

Situasi demikian disebut bios theoretikos. Imajinasi alam berpikir Yunani Purba mengartikan bios theoretikos bukan penyelidikan asumsiasumsi pengetahuan demi pengetahuan dalam kategori abstrak sebagaimana teori dalam sains, melainkan suatu jalan etik bagi mendidik jiwa. Ini diandaikan sebagai bentuk hidup yang melibatkan pengetahuan demi tercapainya otonomi dan pemahaman merdeka atas perbudakan doxa. Suatu cara manusia memiliki insight, atau dengan kata lain wisdom.

Theorea sendiri merupakan terma teologis yang mengakar dari tradisi agama kebudayaan Yunani. Melalui ritus keagamaan, seorang theoros punya tugas theorea, yakni “memandang” ke dalam dunia sakral yang melibatkan suatu peristiwa katharsis. Peristiwa katharsis adalah cara theoros membebaskan diri dari perubahanperubahan perasaan dan dorongandorongan fana. Akibatnya peristiwa pelepasan ini memiliki kekuatan emansipatoris dalam arti primitifnya.

Jadi, dari pengertian paling awal, aktifitas berpengetahuan selalu melibatkan diri dalam usaha pembebasan. Di situ artinya pengetahuan masih bulat  menyatukan aktifitas berpikir dan berpraktik. Theorea sekaligus praxis

Ontology; Akar Pemisahan Kepentingan dari Ilmu Pengetahuan

Filsafat selalu memandang sesuatu apa adanya. Pengertian ini bermaksud agar manusia memiliki pemahaman yang murni. Pengetahuan sejati, atau yang asali, merupakan dasar dari ontologi. Artinya, suatu pemahaman disebut pengetahuan murni apabila berhasil menyingkirkan prasangkaprasangka dan kecenderungan emosional yang merusak transparansitas pengetahuan itu sendiri.

Dasar pemahaman ini berangkat atas pemisahan antara Ada dan Waktu. Segregasi kategori ini mengakibatkan suatu kriterium pengetahuan jadi dua hal yang berbeda, yakni pengetahuan yang tetap (Ada) dan pengetahuan yang berubahubah (Waktu). Itulah mengapa setiap filsuf selalu menegakkan prinsipprisnsip universal yang ditarik dari prinsip Ada sebagai wujud yang tak tersentuh perubahan.

Akibatnya, dari pengetahuan yang tetap, filsafat selalu mendeskripsikan kenyataan atas sesuatu yang menjadi hakikat di dalamnya. Kriterium yang kelak disebut substansi ini, senantiasa menjadi ihwal yang harus dimurnikan dari perubahan waktu ke waktu. Demikian, substansi akhirnya diposisikan selalu mengatasi waktu, atau dengan kata lain kriterium substansial atas sesuatu harus mampu berlaku di semua kondisi dan waktu.

F. Budi Hardiman menyebut pemurnian atas pengetahuan sejati dari anasiranasir perubahan, sama halnya menyingkirkan dorongan dan perasaan subjektif manusia sendiri. artinya, sikap ini secara tidak langsung adalah usaha penjarakan atas pembersihan dorongan empiris. Sehingga akhir dari proses ini mengakibatkan pengetahuan merupakan hasil “kontemplasi bebas kepentingan.”

Positivisme; Pengetahuan Harus Bebas Nilai

Ilmu pengetahuan modern memandang sains yang etik adalah ilmu yang bebas nilai. Bahkan kebenaran, terlepas dari prasangka moral maupun etika, merupakan apa yang hanya ditemukan dari faktafakta.

Prinsip ini sama halnya yang diturunkan dari cara kerja ilmuilmu filsafat yang menempatkan alam sebagai basis penyelidikannya. Ilmu modern, walaupun berbeda secara metodelogi, tetap membawa kecenderungan yang sama dalam melihat faktafakta sebagai kriterium utamanya.

Mazhab Frankfurt melihat kecenderungan ini sebagai prinsip kerja dari ilmuilmu yang disebutnya tradisional. Ilmuilmu tradisional dibilangkan sebagai teori yang mengandaikan pemisahan total antara nilai dan fakta. Akibatnya, penyelidikan yang diajukan hanya memfokuskan fakta dengan hukumhukum dan metodemetodenya. Dengan cara demikian, pengetahuan menjadi netral tanpa keberpihakan kepada siapasiapa selain atas nama ilmu pengetahuan itu sendiri.

Perlu disampaikan di sini penolakan mazhab Frankfurt terhadap netralitas ilmuilmu tradisional didasarkan kepada tiga asumsi umumnya. Pertama, netralitas pengetahuan atas klaim objektivitas sama halnya melestarikan keadaan yang ada. Netralitas pengetahuan akibatnya tidak sampai kepada pernyataanpernyataan yang mempertanyakan keadaan. Maka, demikian pengetahuan hanya menopang dan menerima kenyataan apa adanya, bukan bagaimana seharusnya. Prinsip seperti ini sama berarti berwujud ideologis.

Kedua, atas klaim universal, pengetahuan tradisional menyisihkan anasiranasir yang menunjukkan partikularitas kenyataan. Dalam konteks masyarakat, ilmu pengetahuan menjadi ahistoris karena mengabaikan proses historis yang hanya dapat disaksikan melalui penelusuran atas waktu.

Ketiga, teori tradisional memisahkan teori dan praksis. Praksis, unsur pengetahuan yang dihilangkan akibat pengetahuan hanya merupakan rangkaian kerja yang bersifat konseptual semata. Di sisi lain, ilmu pengetahuan yang dipisahkan sejak awal dari ikatanikatan etik, tidak mampu melihat jauh implikasiimplikasi sosial teori dalam kenyataan seharihari masyarakat.

19 April 2016

catatan menulis PI, pekan 13

Manusia hakikatnya tidak dirancang untuk mengerti perpisahan. Manusia hanya mahluk yang mengambil resiko berpisah karena suatu pertemuan. Begitulah alam bekerja, juga di kelas menuli PI.

Kemarin pertemuan 13. Tak ada yang jauh berbeda dari biasanya. Kawankawan membawa tulisan, setelah itu sesi kritik. Hanya saja sudah tiga minggu belakangan kuantitas kawankawan pelanpelan menyusut. Barangkali banyak soal di luar sana. Banyak urusan yang mau diselesaikan. Satusatunya yang bikin berbeda barangkali dirasai Salman, juga kawankawan yang sudah tahu; pekan 13 pertemuan terakhirnya di KLPI.

Salman sudah sekira dua bulan terlibat di KLPI. Tapi, mulai dari kelas perdananya, dia sudah menunjukkan tandatanda keterikatan dengan tradisi menulis. Saya agak lupa kesan apa yang membawanya mau terlibat tiap pekan di Paradigma Institute. Satu hal yang menandai permulaannya terlibat yakni pertemuan saya dengannya lewat beberapa kali ngobrol soal tradisi kampus. Pasca beberapa pertemuan itu, sudah bisa ditebak, alumnus UNM ini sering kali datang lebih awal di kelas menulis PI.

Obrolan Salman sama halnya refleksi yang jadi keresahan atas institusi pendidikan saat ini. Di kampus –tempat kami menimba ilmu, bukan tempat ideal peradaban dimulai. Analisisnya sederhana, pengetahuan maupun tatacara penyelenggaraannya sudah terkesan ekonomistik, tenaga pengajarnya didominasi pandangan antihumanisme, struktur bangunannya tidak mendukung, dan mahasiswanya hampir semuanya apatis. Beberapa poin ini sering kali jadi obrolan Salman jika bertemu. Satu kesimpulannya, kami bersepakat, gerakan perubahan jika mau punya nafas panjang harus ditunjang dengan tradisi literasi di dalamnya.

Itulah sebabnya tulisantulisan yang dibawanya punya kesan kuat soal semangat perubahan. Nada protes diamdiam sering menyertai di dalam karya tulisnya. Soal ini Salman pernah bilang, dia ingin menulis dengan cara yang komikal, lucu dan santai. Dia bosan jika menulis dengan gaya pamflet –gaya tulisan pernyataan sikap yang kerap dilakukannya saat di FMN. Tapi, usaha yang ditampakkannya tidak bisa berbohong, seberapa komikal tulisannya selalu ada nuansa kritisisme di situ. Akibatnya, saya pernah bilang, kekuatan tulisan Salman terletak di pesan kritisnya. Perspektif sebagai aktivis organ semacam FMN bisa jadi modal bagaimana dia membangun tulisannya.

Bicara soal gaya tulisan sering jadi tema obrolan di KLPI. Sampai saat ini mudahmudahan kawankawan paham, suatu pemikiran ditataran ide boleh saja sama, bahkan sama persis. Sudut pandang jika memahami suatu soal juga bisa saja identik. Tapi itu semua bakal pecah akibat gaya yang dipakai seorang penulis. Ide itu universal, juga gagasan itu sering kali umum, namun hanya gaya yang membelahnya jadi partikular. Pengalamanlah sering kali membikin gaya suatu penulis jadi khas. Makanya, penulis yang punya banyak pengalaman (menulis dan membaca) yang cepat menemukan khasnya. Membuatnya jadi khusus.

Barangkali karena pengalamanlah yang juga membikin Andi Reski sering meneropong dunia anakanak. Soal gaya, dialah orang pertama yang kerap membawa gambargambar komik ciptaannya sendiri sebagai bahan obrolan kelas menulis. Ecce, begitu saya sering memanggilnya, kerap datang dengan gambar berupa dunia anakanak. Selain puisi atau cerpen, Ecce kerap melengkapi gambar komiknya dengan cerita. Dengan caranya yang demikian akibat gambargambarnya, membuat saya –barangkali juga lainnya, berpikir ulang soal gerakan literasi berbasis dunia aksara. Mungkin banyak yang bilang, kesadaran literasi hanya dipahami sejauh dunia teks belaka, padahal simbol, gambar, nada atau musik juga bagian dari literasi itu sendiri. Makanya itu makna kebudayaan beririsan juga dengan arti literasi sebagai mediumnya.

Sebelum Salman, sebenarnya Andi Reski JN sudah lebih dahulu hengkang. Kala itu, sudah beredar informasi di luar kelas bahwa Reski bakal hengkang. Cuman yang bikin tidak didugaduga adalah kepergiannya yang tak jelas kapan. Yang kami tahu, pekanpekan selanjutnya Reski sudah tidak terlibat lagi. Di benak masingmasing kawan saat itu mungkin punya satu kesimpulan sama; Reski sudah meninggalkan Makassar.

Selasa  nanti, Salman bakal beranjak ke Bone kemudian ke Enrekang. Di dua kabupaten ini dia bakal bertemu sanak keluarganya. Seperti dia bilang, pasca itu baru dia berangkat menyeberang menuju Sebatik, tempatnya berdomisili kelak.

Suatu waktu di kampusnya, Salman bilang dia punya niat memajukan anakanak muda dengan membentuk komunitas menulis di Sebatik. Walaupun kala itu agak klise, tapi ungkapan itu sudah jarang saya temui. Klise tapi ini yang disebut idealisme. Bahkan dia sempat menanyakan bagaimana metode yang tepat jika berhadapan dengan anakanak pedalaman. Saya urung langsung menjawabnya. Pengalaman saya belum sampai sebagaimana imajinasi yang dibayangkan Salman. 

Kala itu saya hanya mendukungnya sembari mengutarakan kebahagiaan kala mendengar niatnya. Waktu itu pikiran saya hanya mengacu kepada satu person; Sulhan Yusuf. Di obrolan itu saya hanya bilang, “coba bertukar pikiran dengan Kak Sulhan. Dia orang yang saya tahu banyak bersentuhan langsung dengan anakanak SMA kala menyebarluas semangat literasi di daerah. Dia pasti punya cara khusus bagaimana menghadapi anakanak muda seperti anakanak SMA.”

Pasca hari itu saya tak tahu apakah Salman sudah banyak berdiskusi soal niatnya via Sulhan Yusuf. Toh kalau belum, saya kira pengalamannya mengorganisir mahasiswa di kampusnya jadi modal bagi usahanya kelak. Satu hal yang patut ditiru, Salman setidaknya sudah membangun niat memperbaiki daerahnya nun jauh di  sudut kepalanya. Setidaknya dia sudah memulai citacitanya sejak dalam pikiran.

***

Pesanku

Semailah pohon dengan ilmiahnya pengetahuan
Ajaklah mereka yang tertindas berteduh di rindangnya keilmiahan
Jagalah benih perjuangan, walau pahit kopi kehidupan
Agar kelak
Bisa kau didik penguasa dengan perlawanan!

17 April 2016

dian sastro dan perempuan rembang

Di depan istana negara belakangan ini,  heboh akibat aksi demonstrasi sembilan perempuan asal Rembang. Aksi demonstrasi dengan cara mengecor kaki itu berlangsung selama dua hari. Aksi itu dilakukan untuk menolak pembangunan pabrik semen Rembang yang dinilai akan merusak ekosistem dan mata pencarian masyarakat sebagai seorang petani.

Sesudahnya, di media massa (Kompas.com, 16 April), menanggapi aksi yang terbilang tak biasa itu, Dian Sastro, ikut berpendapat. Memang penolakan yang dilakukan ibu-ibu petani itu banyak menyedot perhatian. Tak terkecuali aktris alumnus jurusan Filsafat UI ini.

Yang malang dari pendapat Dian Sastro adalah statemennya soal perempuan yang tidak usah melibatkan  diri ke dalam urusan politik. “Saya melihat fenomena bicara perempuan itu, ada tanda tanya besar. Apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa yang bicara malah perempuan, saya enggak tahu,” ungkapnya saat diwawancarai kuli tinta. “Itu jadi menarik adanya kasus sekarang. Ibunya lepas dong dari politik, kembali ke urusan domestik. Tambah Aktris yang bakal nongol lagi di AADC2 April ini.

Mengartikan statemen Dian sama halnya menempatkan kembali perempuan ke tempat yang tak diperhitungkan. Perempuan, dengan seluruh suara yang diajukan melawan tatanan yang patriarkat, sampai hari ini adalah hal yang masih terus diperjuangkan.

Ambivalensi statemen Dian ini, tidak bisa diartikan sepele. Dian boleh bilang perempuan kembali ke urusan domestik. Namun, bagaimana jika urusan domestik, telah dirusak akibat rembesan kebijakan tertentu yang membuat dapur berhenti mengepul. Dan, bukankah selama ini, domestifikasi merupakan cangkang  kebudayaan yang selalu menyituasikan perempuan di posisi nomor dua.

Boleh jadi perempuan-perempuan Rembang tak mau berpolitik, bisa jadi sembilan perempuan Rembang tak ingin melawan rela mengecor kaki tak putus siang malam. Namun, bukankah industrialisasi kerap menyosor bahkan menggusur kebudayaan masyarakat petani. Mungkinkah pembangunan pabrik semen menjamin ekosistem alam tetap subur agar bisa menopang kebiasaan masyarakat bertani? Dian Satro bisa bilang apa saja. Tapi perempuan Rembang?

Politik Bapakisme

Politik kalau mau dibilang adalah urusan banyak orang. Politik adalah usaha kolektif. Soal suatu visi. Soal suatu misi. Politik dimulai dari perkara kekuasaan menjadi manusiawi. Di situ, kekuasaan yang nyaris liar harus ditundukan. Di bawah kehidupan banyak orang, politik niscaya emansipatif. Politik dengan begitu berarti bekerja untuk pembebasan.

Kiwari, politik paralel dengan dua hal; tirani dan totalitarianisme. Tirani ditunjukan dengan menyempitnya ruang berekspresi, dan totalitarianisme merujuk pada kekuasaan yang menguasai seluruh sendi kehidupan. Politik dengan wajahnya yang tiranis dan totaliter, akibatnya banyak menggusur  segala ihwal yang manusiawi. Politik malah ambivalen menjadi buldozer kebudayaan.

Kiranya kalau diomongkan, politik terlanjur lacur. Di tangan elit negara, politik berubah jorok. Di situ, egoisme jadi sulut menyebar dengki dan maki. Individualisme menjadi etika umum menggantikan kepentingan publik. Ruang publik, tempat politik berlangsung, bukannya ditunjang tindakan komunikatif dan partisipatif, malah berubah menjadi arena penyingkiran.  Politik di masa sekarang bukan wadah kebebasan diekspresikan. Dengan kekuasaan tiranis yang totaliter, orangorang disingkirkan. Yang utama adalah kekuasaan yang monolit. Di luar dari itu hanyalah ruang abuabu yang harus ditundukkan.

***

Hannah Arendt, perempuan filsuf abad 20 layak diajukan di sini. Terutama soal bagaimana politik itu diberlangsungkan. Seperti apa cara ruang publik dikelola. Dan, bagaimana kekuasaan memposisikan perbedaan.

Saya kira tesistesis Arendt masih relevan untuk diomongkan. Apalagi, situasi belakangan nampak terang memperlihatkan praktekpraktek politik yang emoh emansipatif. Belakangan, politik jadi medan yang tunggal, di mana di situ “yang lain”  hanya entitas pinggiran yang tak layak ikut andil dalam menggerakkan kebudayaan.

Saya kira semua tahu, politik Indonesia adalah sejarah penundukan. Babakan sejarah menunjukkan, pasca kemerdekaan, Indonesia jadi terma yang dipolitisir atas logika kekuasaan orde baru. Berbicara Indonesia berarti tersingkirnya  golongan tertentu dengan alasan keamanan negara. Negara dianggap aman jika dimaksudkan dengan hilanganya perbedaan pandangan. Padahal, perbedaan sumber rahmat agar bangsa dapat berkembang.

Cakrawala berpikir Arendt memandang institusi politik sekarang adalah kekuasaan yang tidak legitimate.  Horizon ini berusaha membuka tabir kekuasaan yang berdiri atas pemaksaan dan penundukan terhadap “yang lain”. Dua hal ini menyebabkan kekuasaan politik krisis kewibawaan. Di situ tak ada dalil bisa diajukan untuk melegitimasi kekuasaan. Kekuasaan macam ini, menurut Arendt adalah kekuasaan yang harus dilawan.

Perlawanan terhadap krisis kekuasaan diajukan Arendt dengan membagi tiga konsep kunci. Pembagian ini mengacu kepada suasana macam apa yang memungkinkan negara mendukung orangorang di dalamnya bisa berekspresi dengan bebas tanpa kekangan. Perspektif ini dimulai Arendt dengan merujuk kepada Polis sebagai ideal type  dalam merumuskan bagaimana politik itu diselenggarakan.

Pertama, Arendt mengemukakan techne  sebagai cara politik dikemas. Techne dalam imajinasi Yunani antik adalah suatu seni yang mirip pertunjukkan drama. Di atas panggung, setiap aktor punya cara untuk menampilkan dirinya sebagaimana orang lain menampilkan dirinya. Lewat panggung, orangorang berinteraksi demi suatu peristiwa yang dilakukan secara kolektif. Dengan model seperti ini, Arendt menolak upaya monologis yang jadi trend dalam politik. Politik bukan ucapan pribadi sang aktor, melainkan tindakan bersama orangorang.

Karena itu Arendt menjelaskan ihwal kerja (labour), karya (work) dan tindakan (action) sebagai konsep yang bakal bekerja di ruang publik sebagai ruang antara. Ruang publik disebut ruang antara karena di situ “yang privat” dan “yang publik” harus dibelah agar tidak merusak ikatan kolektif di ruang bersama. Ruang publik, dengan begitu adalah tempat tindakan partisipatif diaplikasikan dengan komunikasi sebagai penggeraknya.

Tindakan (action) akibatnya adalah usaha yang berhubungan dengan “yang lain”. Tindakan adalah upaya kerja sama dengan pluralitas. Berbeda dengan kerja (labour) dan karya (work), yang mengasumsikan ruang yang lebih pribadi. Kerja (labour) dan karya (work) hanyalah perilaku manusia dengan melibatkan diri tanpa ikatan kerjasama. Hanya tindakanlah (action), menurut Arendt sebagai aktivitas khas manusia di ruang publik. Di sana, orangorang sudah menjadi manusia yang otentik. Menurut Arendt, manusia yang otentik adalah manusia dengan tindakan yang otonom, manusia yang tidak digerakkan sentimentalisme ras, agama, maupun kelompok. Dan, Polis adalah medan publik ideal yang dikatakan Arendt.

***

Di Jakarta marak isu rasialis jelang Pilgub. Ukuranukuran normatif berpolitik malah diacu atas dasar ras dan agama. Ini malang. Politik kalau begitu justru digerakkan logika “ruang privat” yang menundukkan “yang publik”. Ahok misalnya, jadi bulanbulanan kelompok rasialis. Ini bukti betapa politik masih digerakkan oleh kepentingan “ruang privat”. Mengacu Arendt, politik macam ini bisa terjerumus ke dalam suasana tiranis dan totalitarianisme.

Bercampurnya “yang privat” dengan “yang publik” dalam politik, barangkali ditunjukkan juga di sini, di Makassar.  Rezim keluarga besar sering kali jadi patokan kesuksekan berpolitik di ruang publik. Faktor nama keluarga sebagai “yang privat” justru mendominasi “yang publik”. Makassar, begitu juga kotakota lain, akhirnya ditundukkan dengan praktek politik yang mirip orba; Bapakisme.

Bapakisme saya kira adalah terma yang mengacu kepada makna privat. “Bapak” dalam konteks orba diandaikan sebagai pusat dari keluarga. Di situ kata “Bapak” menyituasikan masyarakat sebagai anakanak yang dipimpin dengan cara seorang pemimpin keluarga. Sementara itu, dari kaca mata kebudayaan Indonesia, tidak mengikut “Bapak” berarti tindakan pembangkangan. Dan, membangkan kepada “Bapak” berarti tindakan yang harus didisiplinkan.

Malangnya, mengacu kepada sejarah Indonesia, model politik kita selalu mengikuti model yang selama ini jadi imajinasi bersama. Misalnya, selama ini “Bapak” yang diambil dari “ruang yang privat”  dipasangkan dengan terma “pembangunan” sebagai “yang publik”. Perpaduan ini saya kira contoh soal politik selalu ditundukkan dengan kepentingan privat. Ke depan bakal ada lagi istilah "Bapak ini", "Bapak itu", Lagilagi kalau "yang privat" dan "yang publik" sudah berbaur, kata Arendt adalah asal muasal dari tiranisme dan totalitarianisme.

14 April 2016

The Burning Season: Melawan dengan Serikat


Seratus orang tanpa pendidikan itu pemberontakan, satu orang berpendidikan adalah awal sebuah pergerakan.(1) Saya kira, ini soal apa yang utama. Kalau mau melihat proses penciptaan manusia, Adam, the first human itu, ditiupkan namanama. Tuhan, di peristiwa mistikal-teologis itu mengajarkan Adam seluruh hakikat segala ihwal. Dia diperkenalkan ilmu pengetahuan untuk menyebut segala sesuatu. Pengetahuan di dalam peristiwa itu mendahului aktvitas material, praktik. Tuhan pun tahu, pengetahuan, ihwal keutamaan manusia.

Boleh jadi, Chico Mendes menyadari itu. Perlawanan tanpa pendidikan sama halnya pemberontakan. Pemberontakan boleh saja disebut radikal, tapi belum tentu punya maksud. Pemberontakan bisa jadi pembebasan, namun tidak bisa disebut perlawanan. Perlawanan di mana pun itu pasti punya gagasan. Punya ide. Dua hal inilah yang memberikan arah. Menunjuk suatu cara yang etik juga strategik. Mendes melihat itu, dan satusatu yang mampu memediasinya juga satu hal; ilmu pengetahuan. 

Begitulah yang bisa dibilangkan dari suatu adegan The Burning Season (1994). Film produksi Warner Bros besutan John Frankenheimer. Film yang bercerita banyak hal soal suatu kepentingan global yang merangsek masuk  merombak habis ekosistem hutan beserta kebudayaan di dalamnya. Banyak merembesi dimensi sosial masyarakat pedalaman yang dirusak akibat kekuatan kapital. Menggoyah tradisi kultural, merobek paras kebudayaan, dan membelah tatanan sosial jadi timpang.

Semua bermula dari satu konsep; kapitalisme. Akibatnya, di film yang berbasis kenyataan itu dibuka dengan tatanan yang ambruk. Di Chacoeira saat itu, dari mata polos Mendes kecil, kapitalisme bisa menjelma apa saja. Ia melihat masyarakat yang ditilap tengkulak medioker. Masyarakat penyadap karet yang hidup di bawah bayangbayang ketakutan. Orangorang yang tak bisa berbuat banyak akibat hutang berlapislapis. Situasi dekaden tanpa hukum. Suatu realitas kehidupan yang membuat Mendes kecil mulai menyoal, apa itu keadilan?

Dari mata kecil Mendes, keadilan harus bekerja betapapun sederhananya. Di tempat Mendes kecil tinggal saat itu,  keadilan harus ada di saat orangorang menimbang getah karet. Keadilan harus ada ketika pertukaran terjadi. Tak soal betapapun digitnya. Keadilan di kehidupan masyarakat Chacoeira, saat itu sama artinya dengan  keberlangsungan hidup yang harus terus dikayuh. Keadilan, dengan arti lain—juga sampai hari ini, bukan pasal transaksi ekonomi belaka, melainkan bagaimana mau jujur terhadap kenyataan yang terjadi.

Tapi, keadilan jika sudah lacur akibat kepentingan ekonomis, maka itu disebut kezaliman. Dan itulah yang membuat sesal Mendes kecil kelak. Akibatnya, dia harus memperkarakan sikap mangut ayahnya pasca menukar hasil getah karet. Penggalan pengamalaman itulah yang bikin sesak. Barangkali di hati kecil Mendes saat itu, apapun bentuknya kezaliman harus tumbang.

Saya kira jika mau mencermati adegan awal film ini, ada dua hal yang penting. Pertama, sikap kritis Mendes kecil yang diajukan kepada ayahnya pasca menjual getah karet. Kedua, keberadaan sosok lakilaki yang datang mengajari Mendes kecil pengetahuan matematis.

Kritisisme itu penting. Apalagi jika itu pada konteks masyarakat Chacoeira tempat Mendes hidup. Yang patut disadari, kritisisme itu bukan dimulai dari dunia kesadaran orangorang dewasa masa itu, melainkan dari seorang Mendes kecil. Di sini penting memahami kritisisme, dari adegan itu kritisme mau dibilangkan sebagai kualitas manusia yang paling hakiki. Esensi kemanusiaan yang paling muda. Itulah mengapa hanya Mendes kecil yang punya, bukan yang lain. Orangorang tua, dengan umur yang berjibun pengalaman kadang harus takluk dengan berbagai macam pertimbangan dan juga kepentingan. Namun, sebagaimana ilmu pengetahuan itu bermula, kritisisme selalu dimulai dari kesadaran polos layaknya kanakkanak.

Artinya kesadaran kritis selalu lebih dahulu dari berbagai macam pengalaman. Dengan kata lain, kesadaran kritis hanya butuh satu modalitas manusiawi; rasa ingin tahu. Dan semua orang punya itu, termasuk Chico Mendes.

Jika pendidikan itu dimulai oleh rasa tahu, maka Mendes kecil memulainya dengan cara yang tepat. Di sinilah relevansi kedatangan sosok pria yang mengajarinya ilmu berhitung. Ilmu yang adaptable dengan kehidupan Mendes kelak. Yang menarik, ilmu yang dipertukarkan melalui relasi timbal balik antara Mendes dan sosok pria misterius itu dilakukan melalui praktek naratif. Dengan metode itu, ilmu berhitung bukan sekedar angkaangka matematis imajinal yang dijumlahkurangkan, tapi juga dibangun dengan kekuatan cerita yang berbasis pengalaman. Artinya pendidikan bukan soal sejauh mana transfer pengetahuan diberlangsungkan, tapi sejauh apa bermanfaat bagi kehidupan kongkrit masyarakat.

Banyak bilang The Burning Season salah satu film yang menyediakan perangkat pengetahuan soal membangun gerakan sosial. Dan saya kira film ini tidak soal diasumsikan demikian, walaupun begitu banyak medan adegan bisa membuka perspektif lain. Namun, jika banyak beragam pemikiran terbangun di film itu, akan siasia belaka kalau tidak bisa menjadi perangkat pemahaman memahami dunia pembaca. Saya kira ini yang penting, bagaimana mendialogkan adegan demi adegan (dunia simbol, teks) dengan kehidupan seharihari kita (dunia pembaca).

Apabila dibuatkan skema triadik, antara dunia pengarang (sutradara, produser, kru film, dan seluruh tenaga produktif di balik layar), dunia teks (konten film adegan per adegan, simbol demi simbol), dan dunia pembaca (penonton, penafsir bebas), maka yang mau diharapkan bagaimana pesan film itu bukan semenamena punya pembuat film maupun konten film itu sendiri, tapi maksud apa yang bisa kita artikan terlepas dari kepentingan film di belakangnya. Apa faedahnya buat kita?

Saya kira perjuangan Chico Mendes (sebelumnya Wilson Pinheiro) mewakili soalsoal masyarakat perkotaan dan pedalaman kekinian. Di Sulawesi Selatan-- tanpa lupa menyebut kasuskasus agraria di berbagai kawasan Indonesia, juga mengalami hal yang sama. Di Makassar sendiri, yang paling kekinian adalah keinginan Pemkot Makassar mereklamasi kawasan pesisir yang sudah dimulai sekira tahun 2000. Saya kira pada konteks inilah The Burning Season harus ditempatkan.

Perlawanan terhadap jejaring kekuasaan di mana pun jika ditarik kembali pada pertanyaan mendasar: bagaimana cara membangun gerakan perlawanan, berarti harus menyoal halhal elementer seperti 1) apa yang dilawan? 2) mengapa perlu ada perlawanan? 3) untuk apa membangun perlawanan? Chiko Mendes jelas atas tiga soal dasar ini. Dia melawan perusahaan yang membakar lahan semenamena, dia melawan akibat penyalahgunaan lahan mengancam keberlangsungan hidup masyarakatnya, dan Chiko Mendes melawan untuk menjaga generasi depan dapat merasai kehidupan layak.

Di konteks kita belakangan ini, kadang tiga pertanyaan elementer itu membuat soal baru. Niat membangun gerakan selalu patah lantaran pembacaan situasi yang tidak komprehensif. Khusus soal apa guna membangun perlawanan justru hanya merupakan saluran rangkaian proses memperbaiki jiwa personal. Banyak ekses yang timbul akibat gerakan yang jadi lancung. Yang paling fundamental adalah, berubahnya karakter gerakan sekedar aksi seremonial belaka. Saya kira, selain pragmatisme perlawanan yang kadang menyampir kekuasaan, moralitas gerakan berbasis gagasan juga jadi soal antik yang harus dipecahkan.

Perlawanan Mendes adalah gerakan dari lokalitas menuju globalitas. Di tataran lokalitas, dia melawan tengkulak kaki tangan perusahanperusahan, orangorang apatis, dan juga pihak keamanan. Di tataran global, Mendes bersuara di tengahtengah glamourisme kapitalisme global. Di dua level itulah medan perlawanan Mendes dengan membangun Serikat Pekerja Pedesaan (Sindicato). Mendes bergerak bersama orangorang yang resah, orangorang malang yang mau melihat keadilan tak cuma konsep di atas mimbarmimbar ilmu pengetahuan. Dan, yang tak kalah penting, perjuangan Mendes bukan sekedar perjuangan moral belaka. Mendes membangun gerakan politik.

Perlawanan Mendes mengkonsolidasikan kebutuhan masyarakat  dari kebutuhan ekonomis sampai keperluan membangun gerakan politik, sebenarnya merefleksikan tesistesis yang dikandung dalam marxisme. Pencalonan Mendes mau menjadi pemimpin daerah, jangan diartikan pilihan pragmatis sebagaimana politisi medioker di negeri kita. Dalam konteks Mendes, pencalonannya mewakili suara golongan marginal yang tersisihkan akibat logika kapital. Mendes menjadi simpul kelompokkelompok masyarakatnya di bawah satu tema perlawanan. Dengan cara ini, Mendes menaikkan level gerakan tidak sekedar dari dimensi ekonomi melainkan sampai menyentuh dimensi politik. Dengan kata lain, pencalonan Mendes adalah radikalisasi gerakan serikat dari asumsi ekonomis menjadi politik.

Sisi lain juga harus dicermati adalah kehadiran Steven Kaye, seorang film maker. Tanpa kehadiran tokoh ini, perjuangan Mendes barangkali tak akan dikenal seperti sekarang ini. Banyak adegan menunjukkan, kala Mendes mendapatkan informasi dari Kaye yang signifikan memberikan perspektif baru bagi perjuangan serikat pekerja. Banyak momen penting akibat pertukaran informasi melalui mediasi Kaye. Akibatnya, Mendes mendapati suatu horison baru dalam mendudukkan perjuangannya. Di sini unsur media menjadi faktor ampuh membuat suara Mendes akhirnya punya gaung di kancah internasional.

Masa perjuangan Mendes terjadi sekira tahun 80an. Masa kala Brazil sedang gencargencarnya melakukan perubahan mendasar. Sama halnya di Indonesia, developmentalisme jadi kiblat pembangunan. Itulah sebabnya, hutan tak punya tempat dalam skema pembangunan berdimensi industrial. Menarik kalau mau memperhadapkan dua konteks tradisi yang samarsamar diperlihatkan dalam The Burning Season. Tradisi pertama tentu diwakili mitos kemajuan yang dikandung dalam developmentalisme itu sendiri. konsepkonsep dasar dari developmentalisme begitu terang ditunjukkan dengan bendabenda semisal traktor, gergaji mesin, dan juga konsepkonsep kekayaan yang diartikan sebagai keberlimpahan finansial. Sementara tradisi kedua adalah apa yang ditunjukkan dari mitosmitos yang kerap tumbuh dalam masyarakat agraris berupa simbolisme binatang sebagai ratu adil. Dua tradisi inilah yang sebenarnya juga diperlihatkan sebagai latar imajinal yang ada dalam The Burning Season.  Akan sangat menarik jika dua tradisi besar ini; tradasionalisme dan modernisme, diuji kembali relevansinya melalui film berdurasi 108 menit ini.

Gerakan sosial manapun akan selalu mengandaikan subjek perubahan. Tesis ini sudah rumus paten. Yang soal adalah bagaimana subjek perubahan harus dipahami. Apakah dia sesuatu ihwal yang metafisis atau sebaliknya. Apakah dia seorang mesias atau suatu kaum. Tapi sejauh film ini disaksikan dua antinomi inilah yang secara dialektis berproses. Banyak frame adegan yang selalu dimulai dari tubuh patung Yesus yang disalib dengan anak panah yang menancap. Secara simbolis itu bisa dibaca dua hal: agama jadi mandul di hadapan masyarakat tertindas, atau justru agama, seperti ditampakkan Wilson Pinheiro membangun kesadaran di dalam gereja, adalah kekuatan aktif yang bisa menyulut perlawanan.

Sebagai suatu subjek aktif, Mendes diposisikan sebagai pelanjut perlawanan yang sudah digagas Pinheiro dari awal. Ini indikasi terang bahwa gerakan sosial hanya bisa berlangung dalam sistem yang terus berlanjut. Gerakan sosial, bukan gerakan sekali pukul, melainkan suatu pola sistemik dengan rancangan programprogram. Atau dengan kata lain gerakan sosial adalah perlawanan yang  terencana secara terus menerus.

Di dalam formasi itulah penting melibatkan dua kekuatan utama yang lain, intelektualisme ekologis dan aktivisme serikat pekerja. Yang pertama di wakili oleh Regina de Carvalho, mahasiswa perguruan tinggi Sao Paulo Brazil yang juga sekaligus aktivis lingkungan. Sedangkan yang kedua adalah Wilson Pinheiro itu sendiri. Kedua simbolisme ini, secara organik seperti yang dibilangkan Antonio Gramsci, Pemikir Marxis Italia, sebagai intelektual yang turut aktif melibatkan diri langsung di kehidupan masyarakat tertindas. Intelektual organik macam itulah, yang membuat kelompok perlawanan Sindicato terus bergerak dengan asupan teoritik dan praktik.

Itulah sebabnya, agen aktif sebagai subjek gerakan dimulai dari suatu tim kerja. Di sinilah arti penting kesadaran organisasional. Saya kira hal ini terang ditampakkan dari skema kerja yang dilakukan Mendes. Dia memimpin organisasi, menyusun rangkaian kerja, dan memasang target periodik. Dan, itu dilakukan secara kolektif, bukan ketokohan personal.

Hal inilah yang juga harus kita ambil, yakni gerakan sosial selalu dimulai dengan kesadaran kolektif. Dua antinomi yang kerap hadir; kekuatan metafisis dan daya intelektual, dua modalitas yang mesti didialogkan. Ini perlu apalagi, seperti masyarakat tempat Mendes berjuang, agama merupakan kekuatan alam bawah sadar yang potensial jadi motor perubahan.

Setiap perjuangan mengandung resiko. Bahkan resiko sebenarnya bagian inheren perjuangan. Akan naif bagi orangorang yang berjuang tanpa mau menerima resiko. Chico Mendes sudah tahu, resiko yang bakal ditemuinya bisa saja seperti nasib Wilson Pinheiro; kematian. Di kemungkinan inilah idealisme perjuangan Mendes dipertautkan melalui aksi non kekerasan. Akibatnya Mendes sadar, idealisme perjuangan memang melampaui tubuh yang bisa koyak akibat peluru panas. Kecuali ada jaminan kurir langit yang menggaransi kematian satu orang membuat korporasi berhenti membabat hutan. Begitu ucapnya di suatu adegan bersama Ilzamar, istrinya.

Perjuangan Mendes dan serikatnya terus berlanjut. Banyak korban berjatuhan. Akibatnya, pihak perusahan terdesak menghentikan pembabatan akibat dukungan pemerintah. Namun apa boleh dikata, selalu ada pihak yang sulit menerima kenyataan. Pasca kepala daerah setempat menyatakan melindungi kawasan hutan. Mendes meregang nyawa. Tubuhnya dikoyak pelor panas tepat dikediamannya. Dia dibunuh seperti kawankawan sebelumnya. Chocheiro berduka.

Tak ada perjuangan yang siasia. Tahun 1990 tertanggal 12 Maret, Pemerintahan Brazil menetapkan 2,5 juta are kawasan di sekitar sungai amazon sebagai hutan suaka yang dilindungi dari penebangan, pembakaran dan pembukaan lahan. Tempat itu bernama Suaka Alam Chico Mendes.

Syahdan, seperti mahluk bernyawa lain, Chico Mendes sudah dahulu berpulang. Tapi seperti yang diucapkannya, selalu ada pekerjaan bagi orangorang yang ditinggalkan.

---
  1. Perkataan Chico Mendes kepada Wilson Pinheiro di kala bermain kartu di suatu bar (24:43)

11 April 2016

catatan menulis PI, pekan 12

Scribo Ergo Sum—Aku Menulis, Aku ada (Robert Scholes)

Kelas menulis sudah sampai pekan 12.  Sampai di sini kawankawan sudah harus memulai berpikir ulang. Mau menyoal kembali hal yang dirasa juga perlu; keseriusan.

Keseriusan, kaitannya dengan kelas menulis, saya kira bukan perkara mudah. Tiap minggu meluangkan waktu bersama orangorang yang nyaris sama kadang tidak gampang. Di sana akan banyak kemungkinan, bakal banyak yang bisa terjadi sebagaimana lapisan es di kutub utara mencair akibat global warming. Di situ ikatan perkawanan bisa jadi rentan musabab suatu soal sepele-- misalkan perhatian yang minim, perlakuan yang berlebihan, atau katakata yang menjemukan, bisa mengubah raut wajah jadi masam.

Makanya di situ butuh asah, asih, dan tentu asuh. Agar semua merasai suatu pola ikatan yang harmonik. Sehingga orangorang akhirnya bisa membangun kesetiaan, tentu bagi keberlangsungan kelas literasi PI.

Begitu juga diakhir pekan harus menyetor karya tulis dengan kemungkinan mendapatkan kritikan, merupakan juga aktifitas yang melelahkan. Menulis, bukan hal mudah di saat dunia lebih mengandalkan halhal instan. Menulis butuh kedalaman dan waktu yang panjang. Menulis membutuhkan daya pikiran dan pengalaman yang mumpuni agar suatu karya layak baca. 

Karena itu kawankawan harus punya persediaan energi yang banyak. Biar bagaimana pun tujuan masih panjang, bahkan tak ada terminal pemberhentiaan. Walaupun tujuan selama ini hanya mau menghadirkan penulispenulis handal. Akibatnya hanya ada satu cara biar punya stamina besar; rajin bangun subuh. 

Saya kurang yakin apakah memang ada hubungan antara keseriusan dengan bangun di waktu subuh? Tapi, sampai pekan 12, keseriusan itu mesti terwujud di dalam karya kawankawan. Keseriusan yang mau membina diri. Keseriusan memamah berbagai bacaan, mau melibatkan diri di berbagai forum diskusi, dan banyak berlatih menulis. Kalau tiga hal ini disiplin dilakukan, saya harap dari komunitas sederhana kita bisa tumbuh orangorang yang tulisannya bakal ditunggu kedatangannya. 

Belakangan cara kita membangun komitmen sebagai penulis pemula ditandai dengan menerbitkan blog pribadi. Hal ini satu kemajuan menyenangkan sekaligus menyakitkan. Blog itu semacam buku harian. Akan membahagiakan jika di situ kawankawan rajin mengisinya dengan berbagai tulisan. Melihatnya dibaca banyak orang pasca diterbitkan. Juga melihatnya dapat membuat orang senang membacanya. 

Menulis begitu menyakitkan karena prosesnya sama dengan kelahiran seorang anak. Di situ ada ide yang dikandung, tersedimentasi sekaligus. Akibatnya, tiap tulisan dirasa punya masa kandungan. Kapan dia lahir tergantung lamanya waktu di dalam kandungan. Tulisan sebagaimana takdir sang anak, tak bisa dipaksakan waktu kelahirannya. Akibatnya kita harus bisa bersabar menunggu momen yang baik kala melahirkannya. Dan kesakitan yang paling adalah masa tulisan itu dibiarkan tumbuh, di situlah proses menulis sebetulnya; merawat tubuh tulisan dengan cara melihat kesalinghubungan maksud di dalamnya.

Keseriusan juga ditunjukkan dengan mau banyak membaca karya tulis orang lain. Bagi penulis pemula, membaca karya orang lain penting kala ingin mencari identitas menulis. Melalui cara itu kawankawan akan bersentuhan dengan berbagai jenis tulisan. Akan menemukan berbagai macam bentuk tulisan. Yang salah adalah jika semenjak awal kita mau meniru gaya menulis orang lain. Di satu sisi itu tidak baik karena bisa membunuh sidik jari yang kita punyai. Seperti manusia, tulisan punya kepribadian dan tentu punya nasib masingmasing

***

Saya tak hadir di pekan 12. Makanya tak banyak yang bisa dituliskan di sini. Tapi satu hal yang bisa saya duga, di kelas selalu ada cerita yang bisa dikembangakan menjadi tulisan. Hal itulah yang selama ini dipupuk menjadi tulisan semacam laporan kepada khalayak. Awalnya tak ada kesepakatan apaapa mau menulis catatan tentang kelas tiap akhir pekan. Tak ada aturan yang menganjurkan setiap pekan harus ada tulisan soal apapun yang berkembang di dalam forum menulis PI. Hanya saja, saya merasa sebagai ketua kelas punya tanggung jawab moral merekamnya dalam bentuk tulisan. Saya yakin suatu saat nanti, tulisan tiap akhir pekan itu punya manfaat.

08 April 2016

Agama Puitik Bukan Politik

Siapa sangka, agama tidak datang dari hati rajaraja bermahkota, atau orangorang yang punya kekuasaan. Siapa mengira agama, atau dengan kata lain wahyu, datang bukan di qalbu orangorang yang mudah gusar.

Agama, begitu di dalam sejarah, mulai di hati orangorang yang suka tercenung. Orangorang yang suka tercenung mudah menyoal di atas langit masih ada langit, di atas kekuasaan masih ada kekuasaan. Orang yang suka tercenung kala siang menghampar diri di sabana luas, saat malam memandang gemintang nun jauh di atas, punya hati yang mudah basah, juga air mata yang mudah jatuh.

Cuman, agama kiwari bukan agama yang mudah basah. Sekarang agama malah jadi raut muka yang gusar.

Agama, di situasi yang serba akumulatif; modal, citra, gengsi, kekuasaan— turut andil jadi kekuatan pendorong paling ampuh menyediakan dasar teologis penunjang semua bentuk akumulasi bekerja.

Max Weber, seorang sosiolog Jerman sudah bilang, kapitalisme yang kuat jadi satusatunya kiblat sejarah kemajuan saat ini, ditopang oleh etika yang mengusung modal jadi bagian dari iman eskatologis. Dengan kata lain, orangorang boleh mengakumulasi modal sebanyakbanyaknya sebab itu berlingkait langsung dengan kebahagiaan agama itu sendiri.

Itulah sebabnya tak ada hati yang sering mudah tangis jika orangorang berlebihan barangbarang. Agama di tengah membludaknya segala macam barangbarang, bertambahnya kendikendi harta, mengerasnya kekuasaan di satu pusat, juga mudahnya orangorang ditekuk di dalam suatu simbol, datang bersamaan dengan makna agama yang lain, agama yang keras.

Agama yang keras barangkali agama yang kerap dibingkai di dalam suatu layar kaca. Di situ, Agama jadi suatu drama yang mencekam, suatu kekuatan dengan bahasa yang provokatif. Agama dengan nuansa provokatif malah jadi seperti suatu massa aktif yang beririsan dengan arti crowd.

Crowd, atau lebih dikenal sebagai gerombolan, merupakan elemen abuabu dalam suatu lapis masyarakat. Crowd bukan komunitas, bukan kelompok masyarakat, atau perhimpunan kesamaan dari tradisi dan nilainilai bersama, melainkan orangorang yang tercerabut dari suatu pemahaman etis tentang kehidupan bersama. Kumpulan orangorang yang mengalami disorientasi makna hidup.

Gerombolan karena bersifat abuabu, adalah “kelompok” sosial yang mudah diarak berdasar kekuatan yang dominan di dalam masyarakat. Dan, agama yang provokatif, gampang saja menemukan suatu kekuatan berbasis kerumunan sebagai kekuatan penggeraknya. Akibat tiada pegangan nilai yang diacu di dalam kerumunan, crowd menjadi kekuatan destruktif berbahaya jika diarahkan kepada beragam kepentingan tertentu.

Barangkali karena agama sudah jadi crowd, dengan sendirinya melupakan agama yang puitik. Agama puitik agama yang melintasi suatu batasbatas yang tampak. Agama puitik agama yang melihat suatu yang subtil di balik permukaan bersamaan dengan cara pandang yang tidak terjebak di dalam kotakkotak kelompok.

Agama puitik mungkin saja sama halnya dengan agama yang turun di qalbu nabinabi, suatu prinsip yang ditemukan di kala air mata pecah di atas tanah lapang dan di bawah pikiran yang bersih. Saat itulah barangkali agama jadi pencapaian yang mencerahkan, kala agama jadi rahmat.

Alfred North Whitehead bilang bahwa agama kerap bermula dari kesunyian.  Bahkan tanpa kesunyian agama mustahil ada. Whitehead, filsuf sekaligus matematikawan ini menyebut Sidharta Gautama, misalnya, bermenung di bawah pohon bodhi dan mendapatkan pencerahan sekaligus menjadi peristiwa besar di mana karena itu lahir seorang budhis. 

Sejarah agama Ibrahimik juga diakhiri dengan permenungan di Gua Hira, bergelut dengan inti segala subtansi di dalam kesunyian paling sublim, di mana di situ bermula suatu keyakinan yang kelak di sebut Islam rahmatan lil alamin.