You Are At The Archives for October 2015

Saturday, October 31, 2015 in

Secangkir Kopi dan Setengah Waktu yang Majal

Aku hanya duduk terpaku, pandanganku terhampar jauhjauh di sudut cafe tempat aku menghabiskan malam. Masih banyak kursikursi yang kosong, begitu pula meja panjang yang berpelitur coklat gelap. Sebentar lagi cafe akan ramai dengan orangorang yang berdatangan entah  dari mana. Pikirku kota adalah tempat tinggal yang menyererupai  rimba yang tak jelas asal muasalnya, orangorang begitu saja datang dan kemudian mabuk dengan alkohol yang memenuhi dada mereka. Kipas angin masih terus berputar, menggelantung tanpa pernah berhenti. Di bawahnya sepasang pemudapemudi tenggelam dengan obrolan yang serius. Lelakinya bicara tanpa peduli ke mana ia mengarahkan pandangannya, sementara rokoknya ia hisap jauhjauh dalam memenuhi rongga dada yang membesar. Asapnya mengepul padat dan pecah ditiup angin dari atas. Lawan bicaranya yang perempuan tak peduli dengan sikap pasanganya, serius mendengarkan percakapannya. Malam ini malam yang masih sama dengan kemarinkemarin. Perempuanperempuan di belakang meja bartender masih sama. Gelasgelasnya masih dengan bentuk yang sama. Meja bartender yang mengkilapkilap juga masih sama. Bercahaya diterpa buram lampu yang berwarna kekuningan. Menu yang jadi brand tempat ini juga masih sama. Perempuan bertubuh gempal tetapi begitu lincah mencatat pesanan orangorang yang datang. Di belakangnya, seorang temannya yang juga perempuan,  juga adalah perempuan yang masih sama. Tak berubah. Ia bergerak seperti sudah diremot mengikuti catatan yang diberikan temannya; mengambil gelas bening yang disusun rapi di atas almari yang berjejer, menyeduh beberapa menu minuman yang diperintahkan kepadanya. Adakalanya ia harus bekerja ekstra ketika malammalam semakin gelap, banyak yang datang dengan menu pesanan yang beragam. Ketika itu terjadi, maka seorang lelaki yang juga masih sama akan masuk di belakang meja bartender dan membantu dengan gerakannya yang super lincah. Lelaki yang sebenarnya adalah kerabat dari pemilik kafe ini tidak selalu datang sebagai pekerja di belakang meja bartender. Tapi kalau pesanan sudah menumpuk, maka ia sering kali menyumbangkan tenaganya untuk membantu perempuan yang sedikit kelabakan atas pesanan yang tidak berhenti datang. Di sudut meja bartender, selalu ada seorang pria yang berdiri dengan pandangannya yang menyapu seluruh meja kafe.  Lelaki ini adalah lelaki yang juga masih sama seperti yang sebelumnya. Pandangannya yang selalu awas itu dilakukannya untuk menjaga dan memastikan orangorang yang datang sudah mendapatkan pesanan yang semestinya. Sering kali juga, itu dilakukannya untuk bergerak sigap bagi pengunjung yang baru datang. Dengan langkahnya yang tidak terlalu terburuburu, pria dengan antinganting di telinga kirinya ini akan datang dengan membawa daftar menu. Pria ini tubuhnya tidak lebih tinggi dari dua meter, beratnya barangkali hanya bekisar tujuh pulu kilogram. Ia selalu bolakbalik dari tempat ia biasa berdiri mengawasi dengan mejameja pengunjung. Begitu seterusnya ia bekerja, mengawasi dan mendatangi pengunjung dengan buku daftar menu yang tak pernah lepas dari tangannya dan juga masih sama. Untuk tugas menu yang siap diantarkan, lelaki pengawas ini dibantu oleh seorang pelayan muda yang masih saja sama. Mereka berdualah yang banyak menyapa pengunjung dengan sedikit basabasi seorang pelayan. Lelaki muda ini sering kali menggunakan baju berwarna merah. Semenjak aku sering datang di kafe ini, hampir semua di waktu kedatanganku disambutnya dengan baju berwarna merah. Barangkali hanya baju berwarna merahlah yang memenuhi almarinya. Pernah suatu waktu di bulan Oktober, ia menggunakan baju yang berwarna merah terang beserta topi yang juga berwarna merah. Ia di waktu itu menjadi sorotan pengunjung kafe karena dengan celananya pula ia menggunakan dengan warna merah. Tak jelas kenapa di hari itu ia berpenampilan semacam itu, karena di waktu itu ia lebih banyak diam dibandingkan harihari biasa. Lelaki muda ini yang paling gesit di antara orangorang di dalam cafe, mondarmandir dengan membawa kain lap di pundaknya. Sering kali pula ia yang sibuk membersihkan sisasisa keramaian berupa kulitkulit kacang dan botolbotol bir yang ditinggal begitu saja. Mengelap meja yang sama setiap malam yang pelanggan. Di luar juga masih sama, kendaraan yang diparkir ituitu saja. Ada mobil sedan yang tak pernah berpindah dari sudut parkiran kafe. Mobil berwarna silver itu adalah kepunyaan pemilik kafe yang bertubuh pendek dan tambun. Ketika waktu sudah jam sepuluh, maka ia pun datang dengan baju oblong. Orangnya terlihat santai dalam berpenampilan. Ketika masuk, orang yang sering disapa Om Jon ini akan mendatangi orang yang pertama kali dilihatnya untuk berbasabasi sejenak. kebiasan ini sering dilakukannya sehingga hampir semua pelanggan di kafe ini mengenalnya. Kebiasan ini juga yang membuat ia dan pelangganpelanggannya semakin dekat. Setelah berbincang dengan beberapa pengunjung, kebiasaan selanjutnya adalah adalah mendatangi meja bartender dengan mengecek aktivitas yang berlangsung. Berbincang sejenak dengan perempuan gemuk di balik meja dan masuk melihatlihat stok minuman yang tersimpan rapi di bawah almari. Setelah aktivitas itu, maka Om Jon akan berbaur kembali dengan mendatangi pelanggannya dan tenggelam dengan ceritacerita konyol yang suka ia perdengarkan. Sementara itu mobilmobil semakin malam semakin padat menutupi dinding kafe dari sebelah utara. Ada mobil Kijang tua yang merupakan milik dari pria tua dengan topi koboinya itu. Mobilmobil Volsk Wagen bercat hitam dengan banban kecil yang sudah habis karetnya. Tidak jauh di belakangnya mobil Escudo yang sedari tadi dipenuhi kertaskertas iklan penyedia perempuan panggilan. Hampir semua kaca di pintu mobil melekat gambargambar brosur dengan bermacammacam perempuan cantik. Hanya satu mobil yang tidak dipenuhi brosurbrosur murahan penyedia perempuan panggilan itu, yakni si pria tua dengan topi koboinya itu. Pria tua ini sering kali aku lihat duduk dengan tenang di sudut dekat pintu toilet. Ia sering kali ditemani oleh perempuanperempuan tiga puluhan atau di atasnya, berbincang dengan muka yang muram. Sedangkan lawan bicaranya hanya punya satu gerakan, yakni memasang telinga baikbaik mendengarkan apapun cerita dari mulut si topi koboi itu. Sering kali di tengah perbincangan mereka, aku saksikan mereka ketawaketiwi dengan humorhumor satire yang masih sama diceritakan si pria tua itu. Si tua sering kali menjadikan anaknya yang bersekolah di Eropa sebagai tokoh humornya. Pernah ia dengan setengah gelas bir di tangannya berdiri dan bersuara lantang di tengah keramaian dengan memulai humor satirenya. Malam itu ia menjadi pusat perhatian dengan menceritakan anaknya yang sudah tujuh tahun di Eropa menimba ilmu, tak mengertimengerti mengapa orangorang Eropa lebih mengenal Bali daripada Indonesia, padahal selama tiga setengah abad Indonesia mengalami penjajahan. Bukankan itu bukti bahwa Indonesia sudah lama dikenal di mata dunia katanya.  Ia juga mengatakan langsung jawabannya bukan karena Indonesia sudah lama dijajah, sebab saat itu belum ada Indonesia. Indonesia disebutnya hanya di kenal ketika ilmu geografi ditemukan, begitu  ia mengulangi perkataan anaknya. Berarti orangorang Eropa tak mengenal pelajaran geografi dong, pria tua itu mengulangi kembali pengucapan anaknya. Mendengar itu hampir semua isi kafe tertawa mendengarnya. Ketika sudah demikian, ia langsung beranjak ke dalam toilet, membuang air seni yang dikumpulkannya dari gelas bir pertama. Mulai saat itu aku tahu bahwa ia duduk dekat toilet karena setiap lima gelas bir, ia langsung beranjak masuk toilet. Pria tua bertopi tua itu bernama Eyang Rudi. Ia salah satu pelanggan setia di kafe ini. Setiap kali ia datang, di kepalanya tak pernah tanpa topi koboi, ia selalu berdandan dengan cara yang sama. Hanya saja motif topi yang ia kenakan selalu bergantiganti. Ia selalu datang sendirian, tapi biasanya setelah setengah jam kemudian mulailah datang perempuanperempuan yang selalu setia mendengarnya bercerita disekelilingnya. Masih dengan kebiasaan yang sama. Di dekat pintu selalu ada sepasang wanita dengan umur empat puluhan. Mereka berdua sering datang menjelang tengah malam dengan pakaian yang rapi dengan wangi parfum yang saya hafal, bau melati dengan campuran musk. Bau perempuanperempuan yang berjiwa boheiman. Mereka adalah pengunjung yang saya hafal ketika tahu bahwa mereka tak pernah menukar tempat duduk di mana sering kali mereka menghabiskan malam. Tempat mereka dekat dengan cerukan tembok sehingga tempat mereka agak sedikit menjorok masuk ke dalam. Ketika mereka berbincang tak pernah sekalipun tanpa rokok mentol yang selalu dihisapnya dengan bibir tipis mereka.  Rokok yang juga masih sama. Sepasang perempuan ini rutin datang di tiap malam, sehingga kursi tempat mereka selalu duduk menjadi tempat yang selalu kosong sebelum mereka datang. Mereka selalu bercerita tentang puisi. Tapi sangat jarang mereka menyebut kata lakilaki. Ketika mereka murung, di tengahtengah antara kami salah satu di antara mereka akan naik di atas panggung dan membacakan puisi untuk seluruh yang ada di dalam kafe. Perempuan yang sering kali berpuisi ini bernama Nadir. Karena sering kalinya ia tampil berpuisi, ia mendapat julukan dari Om Jon sebagai perempuan puisi. Sementara teman Nadir yang hanya sering takjub di tempat duduknya di saat Nadir membacakan puisinya, bernama Anita. Ketika setiap Nadir selesai membacakan puisinya, Anita bakal berteriak sambil berdiri dengan ucapannya yang kami sudah hapal: tanpa puisi tak ada kehidupan. Saking hapalnya, kami sering berujar bersamasama di waktu setiap kali Nadir mengakhiri puisinya. Tak jauh dari mereka, duduk lima sampai enam priapria berkemeja necis dengan sepatusepatu yang tak pernah disentuh debu jalanan. Mereka adalah pekerja kantoran yang biasanya datang secara bergerombolan, dan paling sering memesan menu dengan minumanminuman yang mahal. Mereka sering kali cerita tentang sekretaris bos mereka yang bahenol tiada ampun. Pekerjaanpekerjaan di kantor dengan berkas yang tiada habisnya, dan jam kerja yang semakin membosankan. Tapi itu mereka lakukan karena mereka digaji dengan tinggi oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Sementara di bawah kipas angin yang berputar lambat, membuat sepasang kekasih yang dari semula berbincang penuh gairah akhirnya mulai kehabisan katakata. Mereka hanya diam seperti teater tanpa bahasa. Bergerak pelan memikirkan entah apa. Sang pria hanya asik dengan rokok putihnya, satu dua kali dihisap dengan napas setengah,  mengumpulkan asap di balik pipinya yang tirus. Dikeluarkannya berkalikali, bergumpalgumpal dan hilang disapu angin yang masih terus sama dari kipas di atasnya. Si lelaki ini bernama Jerit. Ia biasanya membawa perempuan yang berbeda tiap kali datang. Perempuan di hadapannya, entah kekasih atau perempuan yang di ambilnya di tengah jalan, hanya diam  mengahadap layar gadget, mengusapusap atas ke bawah atau sebaliknya. Serius ataukah hanya berusaha mendalami keacuhan yang diberikan lelaki di hadapannya. Malam semakin dingin di luar, itu aku tahu dari orangorang yang mulai datang. Waktu berjalan pelan dan risau. Kafe dengan sedari tadi menjadi tempat yang ramai akhirnya pelanpelan mulai surut dari suara. Ketika malam semakin larut suarasuara yang semula ramai pelanpelan hanya menyisakan ketukan gelasgelas bir yang minta di isi kembali. Yang ada sunyi yang lembab dari perasaan masingmasing. Si pria tua, Eyang Rudi dan kawankawan perempuannya juga sudah mulai kehilangan bahan cerita, mereka duduk saling memahami dalam diam masingmasing. Nadir dan Anita juga hanya berdiam diri dalam puisi batin masingmasing. Sedangkan si Jerit sudah dari awal diam dengan rokoknya. Jika sudah begini, maka yang sering kali terjadi adalah hanya tatapan mata di antara kamikami yang saling menghormati kesunyian masingmasing. Sementara Nadir dan Anita yang diharapkan malam ini membawkan puisinya hanya masih duduk dengan menatap gelasgelas yang sudah mulai kosong. Perempuanperempuan dibelakang meja kafe juga mulai bergerak dengan diam di saat merapikan gelasgelas yang disusun rapi. Pelan seperti ada ritme yang diikuti. Kainkain putih yang diikat dipigang menjadi kain lap yang menyapu gelasgelas bening nan kemilau. Berdiri dengan melakukan hal yang sama. Si pria pelayan masih setia duduk dengan menikmati minumannya yang dicicil seruput demi seruput. Kafe ini memang kafe kesendirian, banyak orang yang datang kemari bukan untuk menunya, melainkan tempat untuk merayakan kesunyian. Entah mengapa tempat ini sangat jarang sepi atau bahkan kosong tanpa kedatangan pengunjung. Ada semacam aura yang menjaga kafe ini agar tetap menarik pengunjung, walaupun aku sudah sering kali hapal pengunjungpengunjungnya. Kami datang dari berbagai penjuru dan beragam latar belakang pengalaman, tapi disatukan dengan kesunyian yang dirasakan bersama. Di titik ini kami nyaman dengan semua kesunyian yang kami sepakati bersama. Sementara aku masih saja duduk menikmati menatap wajahwajah mereka yang semula riang akhirnya berubah muram. Mungkin kecewa. Mungkin gelisah. Mungkin marah. Mungkin sedih. Mungkin benci. Tapi air muka orangorang yang kuhapal ini tak pernah berubah sekalipun mereka memenangi hadiah lotere tibatiba; lurus dan kusut. Orangorang di kafe ini memang tak saling mengenal baik, tapi kami memahami kesendirian masingmasing. Jika sudah begini biasanya sang pemilik kafe, Om Jon memberikan kode kepada pemain band untuk menyanyikan tembangtembang lawas pengurai sepi. Suara sang vokalis seperti mantra yang memberikan suasana semakin dalam.  Lagulagu yang dinyanyikan juga adalah lagu yang masih saja sama. Anehnya kami tak pernah bosan mendengarnya. Masingmasing dari kami masuk ke dalam kesunyian dengan intensi yang sulit dijelaskan dengan membawa penat yang menumpuk beban. Jauh sampai ke batasbatas sepi yang samar. Kami seperti dipugar kembali. Di luar malam semakin dingin. Waktu berjalan lambat, orangorang sudah berhenti berdatangan, tapi kami si pengunjung kesendirian dalam kedalaman batin yang saung bisa merasa tenang ketika membaca sekalimat pendek dengan bingkai berwarna hitam polos di belakang meja bartender, yang di gantung tak cukup tinggi itu; hidup yang tak direnungi, adalah hidup yang tak layak untuk dijalani. Kalimat itulah yang  sering kali kami baca berkalikali ketika sunyi menerpa, yang membuat kami betah di kafe ini. Kalimat itu entah bisa membuat kami setia dengan peristiwa sunyi dari masingmasing dan juga adalah kalimat yang masih terus sama. Tapi entah siapa yang menggantungnya di atas sana. Kalimat itu sering kali melumat setengah waku kami yang majal.


Thursday, October 29, 2015 in

mejaku 2

mejaku tak kupakai lagi menanggung bukubuku
nasibnya sudah ditimpa linglung dimakan abu
sudah kuangkat tanpa sesiapa ke atas dipan tingkat dua
sendiri berat tanggung keringat semua

Wednesday, October 28, 2015 in

Dari Mana Mulai Mata Seorang Penulis

Suatu kalimat dimulai dari mata seorang penulis yang takjub, dan bukubuku jari yang gelisah.

Mata, indera yang bisa menangkap bendabenda dengan jutaan partikel foton itu, adalah alat tangkap yang penting bagi seorang penulis. Mata bukan sekedar alat biologis, tapi sebuah alat epistem. Melalui mata, suatu peristiwa ditangkap sebagai datadata yang ditampung di dalam pikiran. Mata menjadi jangkar yang mengaitkan objek di luar dan pikiran manusia. Melalui mata, suatu peristiwa jadi kata.

Mata seorang penulis tidak sekedar memfoto kopi peristiwa. Ketika ia melihat suatu kejadian, tugasnya bukan saja menggambarkan secara deskriptif, melainkan bergerak di setiap sudut pandang yang dimiliki. Mata bagi seorang penulis harus punya berjuta lensa untuk melihar jauh lebih detail peristiwa yang dihadapinya. Dengan mata, suatu peristiwa jadi lebih transparan, suatu peristiwa disusunbangun kembali. Melalui mata suatu fenomena jadi istimewa.

Mengapa istimewa? Karena mata seorang penulis, barangkali adalah mata kecil seorang pemula. Mata kecil seorang pemula ibarat keadaan asal di saat pertama kali berhadapan dengan suatu segala. Di dalam keadaan asal, suatu segala menjadi nampak asing dan baru, sehingga semuanya menjadi hal yang patut dipersoalkan. Keadaan yang asal, adalah perspektif yang memungkinkan seorang pemula untuk mau mengenal keadaan dihadapannya. Mau masuk di dalamnya dan terlibat di dalamnya. Begitulah kirakira, mata kecil seorang pemula.

Mata seorang penulis selalu terdorong untuk bertolak dari yang ada. Fenomena menjadi hal yang penting, karena penulis tidak berusaha menulis dari kekosongan. Tidak ada penulis yang bemula dari kekosongan, semuanya bergerak dari dari faktafakta. Ia menyaksikan apa yang terjadi, menelusuri yang sudah berlangsung, dan memperkirakan yang bakal terjadi.

Fenomena dibedakan dari apa yang tampak dengan dari yang samarsamar. Suatu fenomena terjadi karena dua hal; ruang dan waktu. Ruang sebagai media fenomena terjadi, dan waktu sebagai ukuran keberlangsungannya. Dengan ruang yang tampak menjadi mungkin, dan melalui waktu yang tampak ditelusuri. Dengan dua dimensi inilah, seorang penulis terlibat di dalamnya. Ia mengalami waktu dan ruang sekaligus.

Keadaan yang samarsamar adalah fenomena yang belum terang. Pantang dari keadaan yang samar tulisan datang atasnya. Segegala yang samar bukanlah titik tolak dari suatu karya, melainkan tugas seorang penulislah untuk membuatnya terang. Di titik ini, seorang penulis adalah orang yang bekerja di perbatasan, antara yang samar dan yang terang, membuka gerbang segegala yang belum tersingkap. Seorang penulis karena itu memulai pekerjaannya dari yang tampak terdahulu sebelum memasuki ruang  yang semula masih kabur.

Itulah sebabnya tak ada penulis yang menulis di atas kertas yang kosong. Ia selalu menulis dari ruang dan waktu yang ada, fenomena masyarakatnya; nasib masyarakatnya; sejarah masyarakatnya; kebiasaan masyarakatnya, dan kebudayaan masyarakatnya. Di atas semua itulah seorang penulis bekerja menyusun katakatanya. Memasang matanya tajamtajam ke segala penjuru. Mencatat dan menyimpan, kemudian menuliskannya.

Artinya, seorang penulis selalu menyusun karyanya di atas lapislapis kebudayaan sebelumnya. Mengulangnya dan memperbaikinya. Atas kebudayaan sebelumnya, seorang penulis mempunyai tanggung jawab untuk melestarikannya dengan cara menutup kekurangan yang ada dari kebudayaan sebelumnya. Di titik inilah, seorang penulis bertanggung jawab langsung  terhadap jatuh bangunnya kebudayaan yang menghidupi dan dihidupinya.

Tidak berlebihan jika seorang penulis dengan demikian disebut sebagai pekerja kebudayaan. Seorang penulis bekerja dengan katakata. Penyair, sastrawan, wartawan, esais, penulis drama, pujangga atau apapun namanya, selalu bergelut dengan katakata. Katakata bagi mereka semua adalah bahan dasar dalam membentuk kebudayaan. Melalui kata mereka membangun pengertianpengertian baru yang sesuai dengan zamannya, menafsirkan, dan memberikan nuansa baru. Dengan pengertianpengertian inilah, orangorang bergerak, berinteraksi dan membentuk kebiasaankebiasaan, dan tentu kebudayaannya.

Demikian juga, pekerja kebududayaan, seperti yang disebutkan Ignas Kleden adalah juga sekaligus public intelectual. Intelektual publik dinabalkan Kleden berbeda dengan akademisi dan pekerja profesional. Seorang akademisi memang bergelut dengan tugastugas intelektual, tapi ia tidak memiliki semangat “menerobos” lingkungan intelektual yang dimilikinya. Di sini berdasarkan kecenderungannya, akademisi hanya dituntun dan dituntut bekerja atas minat dan intelektual spherenya. Ia hanya berbicara sebatas ilmu yang menjadi basis pengetahuannya. Dengan demikian, seorang akademisi atau pekerja profesional dibatasi oleh batasbatas ilmu yang dipunyainya.

Sementara intelektual publik adalah golongan dengan visi yang melampaui batasbatas lingkungan intelektual tertentu.  Kecenderungannya mampu menerobos sekatsekat keilmuan yang dipahami secara konvensional. Seperti yang dicontohkan Ignas Kleden yakni Einstein yang tidak saja berbicara tentang ilmu matematika maupun fisika, melainkan perhatiannya ditunjukan juga kepada masalahmasalah yang lebih ultim semisal kemajuan peradaban, perang antar bangsa, isuisu rasial, dan masalahmasalah kebudayaan.

Tapi, intelektual publik bukan intelektual yang tidak memiliki kecenderungan yang tetap. Bukan berarti seorang intelektual publik yang berbicara segala hal lantas mengaburkan kecenderungan keilmuan yang digelutinya. Einstein misalnya, ketika berbicara tanggung jawab moral seorang ilmuan, tidak meninggalkan dasar ilmunya untuk melihat persoalan. Justru dengan itu, ia dapat meneropong segala hal melalui rumah pengetahuan yang dibangunnya selama pengembaraan intelektualnya.

Lantas apakah seorang penulis juga memiliki rumah? Tentu.  Seorang penulis punya alamat yang dapat ditunjuk. Dari sana ia berasal, dengan pertamatama lahir dan berkembang. Di sana, di mana ia memulai dari rumahnya, ia dibangun atas kebudayaan yang melingkupinya. Sebelum ia memperbaiki kebudayaan di luarnya, seorang penulis terbentuk dari kebudayaan yang melatarbelakangi perasaannya, pemikirannya. Di rumah ia beralamat, ia menemukan matanya, visinya. Visi yang ditemukannya melalui proses kebudayaannya, akhirnya menjadi mata bagaimana ia melihat sesuatu. Melalui mata itulah ia melihat, mendengar, dan merasakan kebudayannya; seluruh denyut kehidupan di sekitarnya.

Seorang intelektual publik dengan begitu seperti kurakura yang melintasi segala penjuru dengan membawa rumahnya kemana pun ia pergi. Seekor kurakura berbeda dengan binatang bercangkang lainnya yang kerap mengganti rumahnya, seekor kurakura justru setia dengan rumahnya. Melalui rumahnya itulah kurakura mengarungi segala hal, dan tidak pernah menginggalkannya  sedetik pun. Artinya seperti kurakura, seorang intelektual publik harus memiliki rumah di mana ia berpijak atas perasaan dan pemikiran yang dibawanya selalu, di mana ia mewakili tanggung jawabnya.

Syahdan, dari mana mata seorang penulis memulai? Maka ada dua hal; dirinya yang takjub dan dari beranda rumahnya ia berdiri. Diri yang takjub melihat suatu segegala yang asing, sementara dimulai dari rumahnya ia menyadari suatu pijakan visinya bermula. Dengan dua hal itu, seorang penulis bekerja dan tentu, dengan bukubuku jari yang gelisah.

Dari yang gelisah datang asa
dengan segegala yang terbilang asing
di mulai dari mata yang pisah yang takjub
semuanya tiada redup


in

mejaku

mejaku hampir rubuh
berat bukubuku debu
bertumpuk susunsusun
tak punya tempat sisa
tinggal tunggu waktu
dari pagi sampai subuh
satu dua tiga sampai sepuluh

mejaku tidak kukuh sedia dulu
mejaku mau jatuh sudah tak tahan utuh
kulitnya lepas lepuh reyot jadi tandas
bukubuku bikin berat jadinya kandas
sendisendinya bergeser sepuluh senti akhirnya
 
mulai hitungan satu sampai seribu
awal waktu sampai lepas malam
meja coklat tinggal menunggu diamdiam
jatuh bukubuku sampai di atas pualam

mejaku tidak bilang masih tegak kayunya
atau sudah lama berbilang layu
bisa saja hilang pakupakunya
dari sudut segiempat jadi lima tak terurus ayu
mejaku menampung segegala
dari buku sampai debu


Tuesday, October 27, 2015 in

Che Guevara



in

orangorang hutan*

Hutan, untuk masa sekarang, hanya punya satu arti; kapital. Jika dahulu hutan dimaknai sebagai bagian dari kosmos, sekarang, hutan beralih fungsi menjadi komoditas.

Nampaknya peralihan hutan dari bagian kosmos menjadi komoditas, adalah penanda bagaimana manusia begitu cepat berubah.

Dimulai dari kebudayaan awal, hutan selalu dipresentasikan sebagai mitra kehidupan. Dengan tindak berpikir ini, hutan dijaga dan dilestarikan untuk menunjang jaringan ekosistem yang terlibat di dalamnya. Bagi masyarakat kuno, hutan adalah teritori sakral, sebab hutan merupakan bagian penting di dalam keyakinankeyakinan tua.

Apabila ditelusuri, hutan sebenarnya adalah rumah bagi masyarakat kuno. Dahulu belum ada dinding yang secara imajiner membagi teritori antara manusia dengan alam. Manusia beserta alam adalah kesatuan yang bulat, tanpa petakpetak teritori yang dibagi. Hutan adalah manusia, dan sebaliknya pula manusia adalah hutan.

Artinya, kebudayaan yang berarti totalitas dari manusia, mengikutsertakan alam sebagai bagiannya.  Budaya dengan begitu adalah tatanan berpikir yang melihat kesatuan alam dan manusia sebagai dua titik dalam satu koordinat.

Tapi, kebudayaan bergerak, dan manusia berubah. Manusia pelanpelan menemukan dirinya sebagai anak bumi yang berbeda. Alam satu hal dan manusia lain hal. Maka, mulailah alam didefenisi ulang; mulailah manusia membelah diri dari alam. Seketika dengan begitu, manusia adalah mahluk yang begitu berbeda dari tatanan kosmos, di sana memancang hirarki kekuasaan, lalu sang manusia menjadi satusatunya subjek  dari suatu segala.

Semenjak “aku” ditemukan, maka manusia mulai mengerahkan kehendaknya untuk menaklukkan alam. Modernisasi di manamana, dan kapitalisme menjadi segala hal. Hingga akhirnya hutan yang semula menopang kebudayaan manusia, menjadi obyek yang ditaklukkan demi perluasan kapital.

Saya pernah menyaksikan film The Burning Season, film yang bercerita tentang petani karet yang melindungi hutan hujan Amazon dari pemalakan besarbesaran perusahanperusahaan kapital. Di sana, hutan hujan yang menjadi penyangga kehidupan pelanpelan diolah untuk menjadi lahan bisnis. Hutan dengan cara itu tidak lagi diatur dengan nalar ekologis, melainkan dengan hukumhukum kapital.

Di film itu kita bisa tahu, bahwa betapa pentingnya hutan bagi komunitaskomunitas kecil yang hidup dari pemanfaatan hutan. Hutan di mata komunitaskomunitas semacam itu, sebenarnya punya tujuan besar dibanding harus dijual untuk perusahaanperusahaan yang hanya melihat hutan dengan kaca mata material. Hutan bukanlah instrumen manusia, melainkan paruparu dunia.

Kenapa paruparu dunia? Sebab disitu ada yang organik dengan jaringan kehidupan di dalamya. Perspektif ini menandai bahwa hutan adalah pusat dari berlangsungnya kesatuan kehidupann di dalamnya, di mana hutan terkoneksi secara alamiah dengan alam sekitarnya. Dengan begitu, hutan dipandang sebagai mahluk hidup yang tidak sekedar obyek   mati yang mudah ditaklukkan.

Di Indonesia, ada orangorang Dayak yang masih teguh hidup di dalam hutan. Ketika orangorang Indonesia berlombalomba untuk pergi ke kota, orangorang Dayak memilih bertahan di dalam hutan. Kepercayaan mereka, hutan adalah amanah yang harus dipelihara sebagaimana pesanpeasan leluhur. Bahkan hutan dianggapkan sebagai tubuh besar yang harus dirawat, sebab keberlangsungannya ditandai dengan bergeraknya perputaran aktivitas di dalamnya; berburu, meramu makanan, memelihara pohon, upacara adat, membuat obatobatan dsb, adalah subsub kerja yang menopang kesehatan tubuh rimba. Selanjutnya, dengan demikian, hutan tidak sekedar rumah besar dengan subsistem kehidupan di dalamnya, melainkan adalah ruh kehidupan yang sakral.

Naparanakkang juku
Napaloliko raung kaju
Nahambangiko allo
Nabatuiko ere bosi
Napalolo’rang ere tua
Nakajariangko tinanang

Begitulah larik pesan tua  dari Pasang Ri Kajang, kumpulan hikmat yang dipraktekkan masyarakat hukum adat Kajang di Bulukumba. Di baliknya ada bangunan paradigma yang menempatkan hutan sebagai pusat kosmik. Hutan bagi masyarakat hukum adat Kajang, seperti komunitas hutan lainnya, adalah ruang material yang bermakna transenden.


Lanjutkan

Tuesday, October 13, 2015 in

Orang-orang Modern: Mengolektifkan Nalar

Modernisme, ide progresif dari akhir abad 19 itu memang dahsyat. Perubahan yang semula adalah tabiat dari yang ilahiat, dijungkirbalikkan menjadi kerjakerja manusia. Tuhan, yang dahulu adalah pusat, disingkirkan dari ruang pemikiran. Tuhan, yang dipahami sebagai totalitas wujud, semenjak subjektifitas ditemukan, menjelma sebagai wujud yang peripheri. Bahkan di dalam ideide modernisme, Tuhan hanyalah sejarah silam yang harus ditilap senja.

Cogito ergo sum, begitulah ucapan Rene Descartes, bapak filsafat modern yang menemukan ilham dalam terang kesadaran rasio. Melalui pemikiranya, manusia menjadi otonom atas rasio yang dimilikinya. Dengan rasio sebagai pusat baru, modernisme mengayunkan pendulum sejarahnya sebagai kekuatan penggerak, menggantikan kehendak ilahi seperti yang dinabalkan agamaagama. Tuhan di dalam modernisme adalah agen pasif, dan manusia adalah subjek sejarah yang berkehendak atas pikirannya sendiri.

Namun kita tahu, rasio yang tegak  di saat yang bersamaan juga berarti lain; individualisme. Manusia modern berarti orangorang yang berdaulat atas rasio, dan dengan demikian adalah orangorang yang bertindak mandiri. Ketika memikirkan, merancang, dan bertindak  atas sesuatu, individu menjadi sumber. Dengan begitu, sesuatu pilihan didasarkan atas kehadiran individu, bukan berasal dari kekuatan di luar dirinya.

Individualisme modernis inilah yang kerap menjadi etika mayoritas. Supremasi atas yang individual didaulat menjadi ukuran suatu segala. Ketika sumbersumber yang berbicara tentang komunalisme, maka itu dihardik sebagai suatu pilihan yang tak menghargai hakhak atas individu. Manusia, di alam modernisme, bukan lagi milik komunal atas nama Tuhan ataupun kekuasaan politik tertentu, melainkan manusia itu sendiri. Manusia adalah mahluk dengan dirinya yang pribadi.

Tapi, modernisme dengan semangat individualismenya jadi sumber petaka, jadi biang bencana kemanusiaan, sebab manusia yang individual jadi manusia yang rasional tanpa terhubung terhadap kehidupannya. "Apel" sebagai objek yang dipikirkan, bukan lagi "apel" yang tumbuh di atas tanah dengan musim tertentu, melainkan sebagai objek yang terputus dari eksistensi organisnya. Apel di kepala orangorang modern adalah apel yang telah terlucuti sampai pada tingkat yang rasionalistik.

Demikianlah akhirnya hakim sejarah punya cerita: atas nama semangat individualisme, kebudayaan tercabikcabik, kekuasaan jadi tak terkontrol, ekonomi jadi timpang, dan kehidupan kehilangan kepekaannya.

Margaret S. Archer, seorang sosiolog Inggris, mempercakapkan bahwa modernitas, suatu situasi yang melaju cepat, telah menggeser sosialitas menjadi rasionalitas sebagai kriterium demarkasi antara manusia dengan segenap "ada" yang lain. Manusia dengan rasionya, menjadi subjek instrumental yang hanya memuaskan kepentingan pribadinya, sementara "the others", adaada yang lain hanyalah objekobjek yang disisihkan dari manusia sebagai pusat. Melalui prinsipprinsip kapital, manusia modern tidak terbebani dengan tanggung jawab kolektif, melainkan bekerja atas prinsip maksimalisasi keuntungan. Sahabat misalnya, di mata orangorang modern, dapat saja ditinggalkan selagi dia tak mendatangkan keuntungan.

Masyarakat dikehidupan seharihari, atas supremasi individu menjadi entitas yang terpilahpilah, sebab"aku" yang mendasari manusia, adalah aku yang angkuh. "Aku" yang bersikap adalah aku yang egoistik. Dan "aku" yang berpikir adalah aku yang tak merasa. Demikian, berarti aku dalam manusia modern adalah aku yang tidak toleran.

Maka tidak ada toleransi saat kolektifitas diucapkan oleh "aku" di kehidupan bersama. Semangat saling menghargai atas hak  individu di saat yang bersamaan berarti pembiaran yang menyebabkan keacuhan. Emoh diamdiam jadi sikap batin ketika kehidupan bersama menuntut perhatian, dan berpaling adalah sikap paling praktis di saat bantuan dibutuhkan. Toh kalau ada toleransi, perhatian yang diberikan selamanya selalu berawal dari perhitungan untung maupun rugi.

Barangkali ada yang memang cacat dari aku di dalam modernisme. "Aku" yang rasional sedari awal sudah menarik diri dari detak jantung sejarah manusia. Aku yang berpikir adalah subjek yang soliter. Sendiri. Menyendiri. Di dalam rasio. Itulah mengapa, "aku" modernisme dihardik, dikritik, dan ditampik.

"Aku" seharusnya bukan "aku dan dunia," melainkan "aku bersama dunia." Demikianlah daku Martin Heidegger, filsuf kontemporer Jerman. "Aku" yang seharusnya adalah aku yang bergelut dengan kerja, begitu pula ungkap marxisme, dan "aku" yang bekerja adalah aku yang kolektif. Begitulah, kesadaran atas "aku" melibatkan dirinya pada "the others," di mana di sana manusia menemukenali relasinya terhadap sesama. Manusia, dengan relasinya yang sejajar berarti mengandaikan hubungan yang komplementer. Itu berarti dengan sendirinya, manusia menjadi mahluk yang sosial. Juga, manusia bukan lagi mahluk rasional yang dingin, melainkan mahluk yang ada karena yang lain. Begitulah "aku bersama dunia" dipercakapkan.

Di saat yang bersamaan, agamaagama yang pernah disapu fajar modernisme, di hari ini, bangkit untuk memimpin arah sejarah manusia. Juga mengambil sikap atas bopengbopeng yang dibuat modernisme. Namun, semangat kolektifisme yang diajukan tak benarbenar menerima "the others." Agamaagama, akhirakhir ini kerap bertindak keras terhadap yang lain di luar imannya. Iman, yang berpusat dari theos, tanpa disadari, adalah batas itu sendiri. Dengan begitu, kolektifisme di dalam iman yang demikian, adalah sikap toleran yang tertutup.

Agamaagama di masa sekarang memang berbicara semangat kolektif, namun malangya kolektifitas yang diandaikannya hanya sampai pada dimensi eksoteris. Kita sama, jika cara kita mengekspresikan ajaran agama itu sama. Kita seiman jika ada penampilan yang bisa kita ukur dari apa yang tampak. Begitu kiranya iman agama dipercakapkan akhirakhir ini. Di dalam agama ada kolektifisme, namun sekali lagi malang, nalar yang benderang dianggap sebagai lawan dari iman agama.

Di dua paras itulah kita harus mencari nalar yang toleran. Dari modernisme ada pengajuan atas individu yang merdeka. Namun, di situ, nalar modernisme adalah "aku" yang abai dari semangat kebersamaan. Sementara itu, agamaagama, dengan percaya diri, mendaku memiliki semangat kolektif walau di luar iman ada jurang untuk suatu batas. Aku dalam agama, pada akhirnya adalah aku yang dipenjara kelompokkelompok. Bukan aku yang melebur bersama "the other."

Akhirul kalam, bila nalar modernisme yang dipercakapkan Rene Descartes, ditemukan di dalam diri yang sendiri, sedangkan kolektifisme agamaagama adalah kolektifisme buta tanpa terang kesadaran, maka nalar kolektif merupakan pelampauan atas nalar yang individualis modernisme dan kolektifisme buta agamaagama. Nalar kolektif di sini barangkali harus berangkat dari sejenis kesadaran bahwa manusia sesungguhnya adalah mahluk yang hanif dengan lapislapis kekurangan.  Manusia jika demikian, bukanlah pusat satusatunya, karena itulah mesti ada kerja sama. Mesti ada ikatan yang bergerak diluar simpulsimpul ikatan sempit agama. Orangorang kuno sering bilang; cinta

Sunday, October 11, 2015 in

orangorang ujung tanah*

Bagaimana kita mengucapkan kesejahteraan, jika kemiskinan begitu benderang ditemui. Bagaimana kita memahami kemiskinan, jika itu dipercakapkan di selasela kekayaan yang diamdiam kita tumpuk.

Kemarin, Rabu, 7 Oktober, kemiskinan begitu terang saya temui pada masyarakat nelayan di pinggiran kota Makassar. Di sana, tak ada penanda kesejahteraan ekonomi, budaya apalagi politik. Kemiskinan di sana bukanlah wacana yang menjadi diskursus intitusiinstitusi pendidikan dan pemerintahan, melainkan ihwal yang terreproduksi pelanpelan atas kenyataan yang dialami seharihari.

Begitulah yang saya candrai dari masyarakat kecamatan Ujung Tanah kelurahan Gusung. Ketika saya memasuki kelurahan ini, tak ada kesan kawasan ini pernah dihinggapi wacana "Makassar Tidak Rantasa" atau "Lihat Sampah Ambil." Nampaknya tempat ini belum tersentuh rencana pembangunan kota yang bersih. Apalagi menjadi tempat di mana kesadaran ekologis ditumbuhkembangkan. Akibat daerahnya yang peripheri, wacana pemerintahan tak dapat banyak bekerja di sini.

Lanjutkan

Literasi populer