27 October 2015

orangorang hutan*

Hutan, untuk masa sekarang, hanya punya satu arti; kapital. Jika dahulu hutan dimaknai sebagai bagian dari kosmos, sekarang, hutan beralih fungsi menjadi komoditas.

Nampaknya peralihan hutan dari bagian kosmos menjadi komoditas, adalah penanda bagaimana manusia begitu cepat berubah.

Dimulai dari kebudayaan awal, hutan selalu dipresentasikan sebagai mitra kehidupan. Dengan tindak berpikir ini, hutan dijaga dan dilestarikan untuk menunjang jaringan ekosistem yang terlibat di dalamnya. Bagi masyarakat kuno, hutan adalah teritori sakral, sebab hutan merupakan bagian penting di dalam keyakinankeyakinan tua.

Apabila ditelusuri, hutan sebenarnya adalah rumah bagi masyarakat kuno. Dahulu belum ada dinding yang secara imajiner membagi teritori antara manusia dengan alam. Manusia beserta alam adalah kesatuan yang bulat, tanpa petakpetak teritori yang dibagi. Hutan adalah manusia, dan sebaliknya pula manusia adalah hutan.

Artinya, kebudayaan yang berarti totalitas dari manusia, mengikutsertakan alam sebagai bagiannya.  Budaya dengan begitu adalah tatanan berpikir yang melihat kesatuan alam dan manusia sebagai dua titik dalam satu koordinat.

Tapi, kebudayaan bergerak, dan manusia berubah. Manusia pelanpelan menemukan dirinya sebagai anak bumi yang berbeda. Alam satu hal dan manusia lain hal. Maka, mulailah alam didefenisi ulang; mulailah manusia membelah diri dari alam. Seketika dengan begitu, manusia adalah mahluk yang begitu berbeda dari tatanan kosmos, di sana memancang hirarki kekuasaan, lalu sang manusia menjadi satusatunya subjek  dari suatu segala.

Semenjak “aku” ditemukan, maka manusia mulai mengerahkan kehendaknya untuk menaklukkan alam. Modernisasi di manamana, dan kapitalisme menjadi segala hal. Hingga akhirnya hutan yang semula menopang kebudayaan manusia, menjadi obyek yang ditaklukkan demi perluasan kapital.

Saya pernah menyaksikan film The Burning Season, film yang bercerita tentang petani karet yang melindungi hutan hujan Amazon dari pemalakan besarbesaran perusahanperusahaan kapital. Di sana, hutan hujan yang menjadi penyangga kehidupan pelanpelan diolah untuk menjadi lahan bisnis. Hutan dengan cara itu tidak lagi diatur dengan nalar ekologis, melainkan dengan hukumhukum kapital.

Di film itu kita bisa tahu, bahwa betapa pentingnya hutan bagi komunitaskomunitas kecil yang hidup dari pemanfaatan hutan. Hutan di mata komunitaskomunitas semacam itu, sebenarnya punya tujuan besar dibanding harus dijual untuk perusahaanperusahaan yang hanya melihat hutan dengan kaca mata material. Hutan bukanlah instrumen manusia, melainkan paruparu dunia.

Kenapa paruparu dunia? Sebab disitu ada yang organik dengan jaringan kehidupan di dalamya. Perspektif ini menandai bahwa hutan adalah pusat dari berlangsungnya kesatuan kehidupann di dalamnya, di mana hutan terkoneksi secara alamiah dengan alam sekitarnya. Dengan begitu, hutan dipandang sebagai mahluk hidup yang tidak sekedar obyek   mati yang mudah ditaklukkan.

Di Indonesia, ada orangorang Dayak yang masih teguh hidup di dalam hutan. Ketika orangorang Indonesia berlombalomba untuk pergi ke kota, orangorang Dayak memilih bertahan di dalam hutan. Kepercayaan mereka, hutan adalah amanah yang harus dipelihara sebagaimana pesanpeasan leluhur. Bahkan hutan dianggapkan sebagai tubuh besar yang harus dirawat, sebab keberlangsungannya ditandai dengan bergeraknya perputaran aktivitas di dalamnya; berburu, meramu makanan, memelihara pohon, upacara adat, membuat obatobatan dsb, adalah subsub kerja yang menopang kesehatan tubuh rimba. Selanjutnya, dengan demikian, hutan tidak sekedar rumah besar dengan subsistem kehidupan di dalamnya, melainkan adalah ruh kehidupan yang sakral.

Naparanakkang juku
Napaloliko raung kaju
Nahambangiko allo
Nabatuiko ere bosi
Napalolo’rang ere tua
Nakajariangko tinanang

Begitulah larik pesan tua  dari Pasang Ri Kajang, kumpulan hikmat yang dipraktekkan masyarakat hukum adat Kajang di Bulukumba. Di baliknya ada bangunan paradigma yang menempatkan hutan sebagai pusat kosmik. Hutan bagi masyarakat hukum adat Kajang, seperti komunitas hutan lainnya, adalah ruang material yang bermakna transenden.


Masyarakat hukum adat Kajang, tentu berbeda dengan masyarakat yang dikelilingi hutanhutan beton. Mereka punya prinsip hidup tallase kamase masea: etika hidup yang mengedepankan kesahajaan dan kesederhanaan. Melalui dua hal inilah orangorang Kajang, memahami tiga lapis dunia; dunia Tu ria ara’na. dunia Ammatoa, dan  dunia tanah, dalam satu kesatuan kosmologis yang harus dihormati.

Masyarakat modern bukan masyarakat Kajang. “Aku” dalam kesadaran modern adalah subjek yang angkuh dan kukuh. Sehingga dari pusat “aku” dunia dipilahpilah jadi barang taklukan. Atas dalih kemajuan, “aku” orangorang modern masuk dan membabat hutan demi modal berlipat.

Barangkali itulah yang terjadi di hutanhutan Sumatera dan Kalimantan akhirakhir ini. Hutan dibakar untuk membuka lahan baru, demi proyek pembangunan. Pohonpohon ditebang, hewanhewan diburu, dan lahanlahan dibabat. Isi hutan akhirnya dikuras tanpa menimbang tujuan jangka panjang bagi keberlangsungan ekosistem. Pada hutan yang digunduli itu, nalar instrumental yang dipercakapkan generasi kedua Mazhab Frankfurt asal Jerman, Jurgen Habermas, bekerja tanpa peduli sesama.

Dengan nalar instrumental, hutan jadi sama dengan barang yang dipajang di etalase pusatpusat perbelanjaan, tidak jauh berbeda dengan produkproduk yang terpampang lewat iklaniklan, singkatnya, hutan, jadi barang yang dipertukarkan dan diperdagangkan. Hutan akhirnya jadi komoditas. Di situasi semacam inilah, yang organik dari hutan disisihkan: tumbuhtumbuhan yang hijau, kicau burung di udara petang, tepitepi sungai yang becek, jejak hewanhewan yang mengering, serta jalar akarakar pohon yang menghujam, harus hilang tersapu bara api bertubitubi.

Syahdan, jika sudah demikian, di manakah orangorang hutan sekarang?

--

Dimuat di harian Tempo Makassar, 23 Oktober 2015