25 March 2015

madah limapuluhsatu

Tahun 1984, suatu tempat di Jerman Timur.

Rumah Dreyman disusupi. Hampir setiap sudut rumahnya penuh kabelkabel tersembunyi di balik dinding. Di vas bunga, di balik pintu, terminal listrik, belakang lemari, di bawah tempat tidur, bahkan di dalam kamar mandi. Praktis setiap sudut jadi suatu proyek pengintaian. Ruang tempat tinggal Dreyman jadi pusat perhatian negara. Di bawah pengintaian, Dreyman jadi manusia yang transparan. Gerak geriknya jadi bahan amatan dari objek kekuasaan. Tapi ia tak tahu.

Sementara di suatu sudut rumah, di mana kabelkabel itu berpusat, empat sampai lima monitor tak pernah padam. Alat rekam suara juga tak berhenti menangkap setiap bunyi. Dan seseorang dengan taat mengawasi gerakgerik Dreyman dari ruang kotak itu. Mencatat setiap detil yang mencurigakan. Memasukkannya dalam laporanlaporan setiap hal yang dialami Dreyman. Pria yang taat itu akhirnya mulai mempelajari Dreyman dengan membangun jadwal aktivitasnya. Dengan telaten, setiap gerak, juga setiap bunyi.

Dosa Dreyman hanya satu, ia terlahir sebagai seorang penulis.

Di negerinya Jerman Timur, yang berhaluan komunisme, setiap huruf harus mengikuti intruksi negara. Negara tempat Dreyman tinggal punya kebijakan, bahwa setiap proyek pencerahan harus memuati maksud seperti yang dikehendaki negara. Seluruh proses pembudayaan mesti selaras dengan semangat revolusi komunisme. Ini berarti, setiap tulisan yang lahir dari lidah setiap penulis, harus berbicara tentang hal ihwal revolusi; semangat kaum proletar, pandangan realism, kemajuan partai, pabrikpabrik yang dinasionalisasikan, dan tentu komunisme sebagai pandangan universal.  

Sebelumnya diintai, ia adalah seorang sastrawan dan penulis naskah teater yang tak begitu dicurigai negara. Pentas teater yang sering kali ditulisnya tak mengandung unsurunsur seni borjuis yang dibenci negara. Bahkan ia di mata petinggipetinggi partai adalah salah satu seniman yang menjadi garda depan untuk mendorong kebudayaan negara jadi lebih maju. Sebab itulah ia dipandang sebagai salah satu seniman yang diberikan kebebasan untuk berkarya sesuai dengan pandanganpandangan komunisme.

Tapi semenjak kedatangan Gerd Wiesler, agen matamata Jerman Timur, di suatu pertunjukannya, semuanya berubah. Dari atas balkon pertunjukan,  Gerd Wiesler mengamati dengan teliti Dreyman di tempatnya ia menyaksikan teater yang merupakan hasil garapan tulisannya. Dari pengamatan Wiesler di atas balkon, Dreyman disimpulkan sebagai orang yang tak sepenuhnya bersih.  Dari gerak tubuh, mimik wajah, bahkan setiap detil yang dimiliki Dreyman  yang di amati Wiesler, kesimpulannya adalah Dreyman adalah orang yang mesti dicurigai sebagai tersangka yang berbahaya. Dia bukan seniman yang lurus, melainkan ada sesuatu yang selama ini disembunyikan.

 Tapi Wiesler perlu bukti yang menguatkan kecurigaannya. Biar bagaimanapun kecurigaan tak bisa dijadikan modal untuk menuntut orang tanpa datadata yang jelas dan akurat. Sebab itulah Dreyman disadap. Rumahnya dijebol dan diselipkan alatalat yang merekam semua tindakannya. Di bawah pengawasan Wiesler, mulailah ia dicurigai sebagai musuh negara.

Akhirnya tiap detik dari Dreyman adalah jadi bahan amatan negara. Setiap yang dilakukannya jadi catatan terperinci Wiesler berdasarkan waktu dan tempat di mana itu terjadi. Wiesler harus bisa mengajukan bukti kepada petinggi partai bahwa Dreyman sebenarnya adalah seniman yang diamdiam mengkritisi komunisme. Tapi Wiesler butuh waktu untuk suatu bukti yang gamblang.

Sampai di sini saya tak tahu apakah di negeri ini ada orang yang mengalami hal yang sama seperti Georg Dreyman. Seorang penulis naskah yang dimatamatai negara oleh sebab dicurigai memiliki maksud tersembunyi yang tak sesuai dengan paham negara.

Di film itu ada dua hal yang akhirnya menjadi genting; kebebasan berekspresi dan kontrol negara. Dua hal ini yang menjadi sisi antagonis di film drama Jerman itu. Kebebasan berekspresi yang menjadi pilihan Dreyman dan kontrol negara yang merupakan bagian dari kekuasaan yang terlampau besar. Dua hal ini, dalam konteks negara dan kebebasan berekspresi menjadi dua anasir yang seringkali berhadaphadapan. Tapi jika dilema dapat kita temukan di film itu, barangkali adalah Wiesler itu sendiri, seorang yang telaten mematamatai Dreyman.

Wiesler, di kehidupan seharihari seperti yang kita alami, tak jauh berbeda dengan pekerja pemerintah yang memiliki pengabdian total terhadap negaranya. Taat dan setia menjalankan tugas. Di Film itu, Wiesler ditokohkan sebagai agen matamata yang berdedikasi tinggi dan idealis menjalankan tugasnya. Orangnya tepat waktu dan jernih mengamati halhal detail. Dan selama mematamatai Dreyman sang penulis drama, ia juga menulis laporan pengamatannya tanpa unsurunsur dramatik.

Ia mengamati, mendengar setiap bunyi. Menulis setiap dialog.

Tapi Wiesler juga manusia, punya rasa punya asih. Selama pengamatannya, justru ia tersentuh dengan peristiwa yang dialami Dreyman. Akhirnya batinnya jebol, apalagi semenjak ia membaca buku kepunyaan Dreyman yang dicurinya tanpa sepengetahuan. Ia ingin tahu lewat buku, bagaimana karakter asli Dreyman. Tapi apa daya, melalui buku yang ia baca, ia paham siapa sesungguhnya orang yang dimatamatainya. Kekuatan sebuah buku memang bisa mengubah seluruh pandangan seseorang, begitu juga Weisler terhadap Dreyman. Syahdan, Weisler mulai melindungi Dreyman dari atasannya. Ia menulis laporan palsu tentang aktivitas pengarang itu. Begitu seterusnya.

Das Leben der Anderen barangkali film yang ingin menyitir sejarah Jerman dengan menggunakan cara yang bisa dibilang melankolik; drama. Tapi itu sepertinya pembacaan yang terlalu jauh, sebab tak ada kesan dalam film itu yang mengarahkan kepada pengertian yang mengungkapungkap sejarah. Sebab pula di film itu tak menyebut cerita yang pasti dengan alur yang semacam itu. Toh jika ingin disebut demikian, film itu hanya bicara plot orangorang yang hidup di situasi yang cekam dan kontrol negara yang terlampau totaliter.

Dan Dreyman merasakan, juga barangkali orangorang yang terbiasa hidup dengan kemerdekaan berpikir dan berpendapat, bahwa biar bagaimanapun, kontrol negara tak bisa merebut hal yang paling intim dari mahluk bernama manusia; kebebasan berperasaan. Di film itu, kebebasan adalah suara bungkam yang justru jadi senjata manusia. Di film itu Dreyman tahu untuk apa ia menulis.


28

rasanya ingin mengurai air mata
jatuh dan utuh persis bulatanbulatan
tapi mungkin sudah terlanjur berkalang bujur
hanya tibatiba jadi sendu
walau tak juga sampai pilu
masa memang tak bisa ditampik
dalam lipatan waktu
rasarasanya lari begitu saja
dulu, yang lalu, mungkin dungu
silam, yang diam tinggal sekam
sampai  kini, juga legam
rasarasanya temali urung urai dari diri
kuatkuat berkutat tepat tak ingin pias
membentuk bekas birubiru yang baru
terus dan terus, arus tak ingin pupus dikandung batubatu
bisakah dua pijak kembali pada satu arus sama
mustahil, walau juga semuanya tak bisa ditangkap kembali

rasarasanya ingin pecah bulirbulir airmata
sontak terurai jadi rinai satusatu
tapi sampai kini palsu barangkali
berkalikali duatiga lubang masih jadi biang
satusatu detik lalu
duatiga mingguminggu, bulanbulan, berganti matari di atas mega
sampai sudah kini, jadi asi yang asuasu

lalulalu
malumalu
jadi pilu
haru

tak sampai palsu

21 March 2015

Airmatadarah dalam Tekad

Saya sebenarnya tak mengerti betul sastra, apalagi puisi. Puisi, yang kental dengan simbolisme itu seringkali membuat saya bingung. Sebab, dengan material katakatanya yang simbolis juga metafor tak pernah stabil merujuk pada satu pengertian yang pasti. Puisi, dengan gaya penuturan yang demikian, akhirnya hanya menjadi katakata yang pias makna di hadapan saya.

Puisi, dengan katakatanya yang metafor, sepengetahuan saya adalah cara untuk menangkap kenyataan yang tanpa tirai. Dengan kata, puisi ingin merekam apaapa yang murni. Puisi, jika disebut sebagai potret kemurnian, adalah media yang mengungkapkan katakata menjadi baitbait yang gamit.

Tapi justru kata tanpa tirai bisa bikin kenyataan jadi asing. Sastrawan menurut saya adalah orang yang punya semacam kemampuan membuat bahasa jadi lain. Katakata di tangan sastrawan menjadi bahan yang dilucuti dari penggunaan yang sudah umum. Di tangan sastrawan, katakata dibersihkan dari ruang tuturan umum yang sering membuat kata jadi banal. Katakata, di tangan sastrawan, seperti ditasbihkan kembali untuk dipakai seperti pertama kali dipergunakan menjadi kata yang perawan, kata yang binal.

Dengan kemampuan itulah sastrawan jadi orangorang yang punya kekuatan seperti al kheimist, yakni orangorang yang punya kemampuan khusus untuk merubah sampah jadi emas. Melalui kemampuan khusus itulah, katakata yang sudah digunakan di tengah umum, yang kerap dipakai berulangulang hingga rombeng, jadi kata yang murni dan baru.

Sebab itu barangkali, katakata puitis seorang sastrawan bisa membikin sesuatu nampak jernih. Dengannya, kita dihadapan teks jadi orang baru yang lahir kembali. Di dalam filsafat, terutama fenomenologi, kita disebut menjadi seorang pemula.

Dengan menjadi seorang pemulalah kenyataan jadi nampak baru. Dunia jadi bendabenda yang tak ternamai dan transparan sehingga tak ada yang lain selain ketakjuban. Dari ketakjuban itulah lewat kata puitik sisi primordial disentuh.

Lewat katakata puisi, seorang sastrawan punya misi yang subtil, misi yang primordial. Dengan katakata, sisi afeksi setiap kita disepur dan dimurnikan kembali. Ini seperti mirip kata Lenin, yakni sastrawan memiliki tugas mengarsitekturi untuk membangun jiwa.

Kamis kemarin saya diberikan hadiah buku sehimpun puisi. Lengkap dengan tandatangan penulisnya. Buku yang tak sepenuhnya saya mengerti itu diberi judul airmatadarah. Saya tak tahu apa takdir buku itu diberi judul yang menurut saya tragedik. Yang mana airmata jika umum dipahami adalah serangkaian dari tindak kejiwaan yang misterium: sedih, bahagia, rindu, benci, marah, gundah dsb, adalah sisi dunia yang tak tembus. Airmata, dari takdir judul buku ini, adalah frasa misterius yang sulit saya tembus untuk menangkap maksud yang dikandungnya.

Dan di judul itu, darahlah yang jadi sisi paling sulit saya tebak. Dengan satu kata airmatadarah, saya menjadi orang yang nampak asing dihadapan kata itu. Darah, yang biologis dari tubuh kita, justru jadi sesuatu yang lain di judul itu. Darah yang identik dengan warna merah gelap itu, barangkali bisa jadi lambang suatu arti: pengorbanan.

Tapi sudah saya katakan airmatadarah adalah kata puitis yang jadi asing, makanya ia jadi frasa yang tragedik bagi saya. Juga kata itu menurut saya sudah dilucuti jadi suatu yang baru, maka itulah ia memang seperti kata yang baru pertama kali digunakan untuk merujuk kepada suatu pengertian, tetapi apa?

Dan biarlah itu jadi ruang kosong yang tak bertuan. Dengan begitu makna judul airmatadarah bebas untuk diberikan maksud oleh sesiapa pun. Bahkan sang penulis tak punya kuasa untuk membangun jalur rel makna di situ. Makna, ataupun maksud, dengan begitu jadi bebas tak bertuan. Dengan iman seperti ini, sang penulis memang sudah mati seperti didaku Roland Barthes. 

Dari tulisan ini jika saya diberikan pilihan untuk menunjuk satu pusi yang saya senangi, maka saya akan memilih Tekad sebagai puisi pilihan saya. Di puisi itu, seperti ada sebuah pertaruhan tentang sebuah akhir dari masa kini yang jadi titik permulaan. Ini seperti dua orang yang terlibat perjanjian untuk sebuah bukti di masa depan. Ini persis hukum kontradiksi Gramsci, bersamasama sekaligus menentang. Ini seperti dua anak manusia yang membusung dada di mana mereka saling menentang di saat kebersamaan kian mengental, tentang suatu akhir yang disebut masa depan.

Kutunggu wartamu di masa datang

Joloklah bulan
Genggamlah surya
Lukisilah pelangi
Cungkillah gunung

Barulah kau tergolong:
Pemahat masa depan

Di puisi ini, jika ini sebuah tafsir, ada sebuah kabar yang bermakna penantian untuk dapat dibuktikan. Tapi di hamparan waktu yang panjang, ketika suatu ruang pertaruhan di mulai, ada beberapa hal yang mesti dapat diatasi. Bulan, surya, pelangi dan gunung, adalah diksi yang dipilih untuk menunjuk suatu hal yang mesti ditaklukkan, yang sekaligus menunjuk pada bendabenda yang tinggi dan besar. Dan sebelum diksi itu diletakkan, katakata joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, adalah pilihan kata yang menunjuk kepada suatu sikap yang mencerminkan kehendak penaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar itu.

Joloklah, genggamlah, lukisilah, cungkillah, sebenarnya adalah katakata yang akrab ditelinga kita seharihari. Banyak pekerjaan seharihari yang menggunakan katakata itu untuk mencerminkan usaha dari setiap pekerjaan yang dilakukan. Dari katakata kerja itu, kita bisa mengerti bahwa dari pekerjaan yang dinamai dengan kata itu, manusia membutuhkan suatu modalitas untuk memulai usahanya. Dan barangkali judul puisi itu; tekad, adalah modalitas yang dimaksudkan itu.

Dari sinilah saya menyenangi puisi ini. Tekad, tanpa menyebut kehendak, adalah unsur awal dari terciptanya sesuatu yang lahir dari cipta manusia. Dengan tekad, manusia merealisasikan dirinya untuk hidup kongkrit. Dengan tekad, jika meminjam Hegel ataupun Marx adalah awal dari perealisasian diri atas kerja.

Tekad, seperti mengajak sesiapa untuk berjudi dengan waktu. Di puisi itu, waktu jadi satusatunya yang tetap, yang tak berubah dari nasib yang dipertaruhkan. Di ujung puisi itu, dengan tekad, dengan usaha yang telah menaklukkan bendabenda yang tinggi dan besar, barulah seseorang disebut pemahat masa depan. Di sini kata pemahat, adalah cermin yang mengamit makna kerja, suatu tindak yang sama dengan jolok, genggam, lukis dan cungkil. Artinya, jika ini layak disebut tafsir, adalah suatu usaha yang tak pernah selesai. Yakni tindakan terus menerus untuk memahat masa yang akan datang.

Sehimpun airmatadarah adalah buku sekumpulan puisi pertama dari Sulhan Yusuf. Tapi di dalamnya, seratus tiga puisi adalah puisipuisi yang bukan pertama kali ditulisnya. Jika bisa dibilang, dari kumpulan puisi yang sebanyak itu, adalah juga cermin yang memantulkan gejolak kejiwaan yang sedang dihadapi dari peristiwaperistiwa sehariharinya. Saya tak tahu puisi apa yang ditulis pertama kali oleh Sulhan Yusuf yang mencerminkan pergulatan batin yang sangat. Tapi kita berharap puisipuisinya akan terus lahir seiring banyaknya pengalaman hidup yang dilaluinya

Dengan maksud yang tragedik, jika masa yang datang dalam Tekad itu dihadapkan kembali kepada Sulhan Yusuf, maka orang yang seharihari dinisbahkan sebagai mentor oleh saya itu, telah dikutuk untuk dapat terus menulis. Dan kutukan menjadi seorang penulis yang akrab dengan aksara, adalah pekerjaan yang getir sekaligus murung. Melalui dua hal inilah, masa depan diukir dan diabadikan. Namun mudahmudahan, getir dan kemurungan itu hanyalah hal yang nampak di dalam tulisantulisannya.

Syahdan, airmatadarah adalah buku puisi yang layak untuk dimiliki. Setidaknya dengan puisi, lewat buku ini kita diantar untuk menjadi seorang pemula. Orangorang yang kembali menengok dunia keseharian dengan cara yang berbeda.


11 March 2015

madah limapuluh

Ada kisah tentang Pak Hamid yang  risau. Atau sebenarnya ia takut. Sebelumnya ada kabar dari seberang bahwa anak bungsunya bakal menikah. Dari tempatnya yang jauh dari anaknya tinggal, tak ada bersit bahagia di mukanya. Yang ada justru tanda suatu soal yang berat. Anaknya akan menikahi seorang perempuan yang berbeda agama. Dan dari pengalaman anakanaknya yang lain, setiap pasca menikah dengan pasangan beda iman, anaknya pindah keyakinan.

Sebab itulah air mukanya jadi murung. Kabar yang ia terima seperti air yang jebol merusak apa saja. Anaknya yang dibesarkannya bertahuntahun kini jadi orang yang bikin hatinya gulana. Membikin hatinya runyam.

Bagi sebahagian orang agama adalah pilihan, tapi bagi Pak Hamid, yang namanya agama adalah tradisi turun temurun. Untuk itulah agama jadi soal yang penting, sebab bertahuntahun anaknya dididik sesuai agama tradisi, walaupun memang istrinya seorang muallaf, tapi  justru di saat akan membangun suatu rumah tangga, anaknya jadi orang yang bakal berpindah keyakinan.

Tapi apa yang sesungguhnya dikhawatirkan Pak Hamid, sebuah label agamakah? Atau suatu yang lain, sesuatu semisal, kebenaran yang hakiki.

Di negeri ini, suatu label memang sering kali memakan korban. Apalagi label yang telah dikontruksi atas kepentingan yang bertahuntahun melekat di memori kolektif masyarakat. Dalam sejarah Indonesia, label yang terus dipugar dan melekat kuat tak pernah keluar dari dua hal; anti agama dan komunisme.

Dengan dua label itulah, sejarah Indonesia dibentuk sesuai tafsir kekuasaan selama bertahuntahun. Hingga akhirnya, label itu menjadi artefak yang mengakar kuat dalam memori kolektif masyarakat Indonesia.

Label dianggap penting oleh sebab suatu pengertian dapat dirujuk. Kasus Indonesia, label dipakai untuk kepentingan identifikasi. Dengan begitu suatu golongan dapat dengan mudah dikelompokkan berdasarkan kesamaan dan cirinya. Jika sudah demikian, suatu perencanaan akan lebih mudah diatur dan dikerjakan.

Tapi suatu identifikasi juga terkadang jadi sumber pelecehan. Dan dari sanalah datang korban, sebab pelabelan dengan maksud membangun batas seringkali mempertautkan hal ihwal yang subtil; hasrat untuk benar.

Nietzsche, salah satu filsuf yang disebut-sebut anak haram renaisans, menyebut perkara hasrat yang timbul semacam itu sebenarnya adalah soal moral. Yakni kebenaran yang selalu jadi tujuan moral orangorang yang senang mengkaplingnya.

Artinya, jika ada yang selalu menggebu-gebu menunjuk kebenaran yang hanya ditemukan dari telunjuknya, maka itu berarti bukan soal kebenaran, tetapi justru posisi moralnya, kedudukannya.

Dari sanalah Nietzsche menyebut itu sebagai hasrat berkuasa. Yakni keinginan untuk mengambil posisi yang layak dan tak tergugat. Dari Nietzsche, soalsaoal kebenaran tak selamanya jadi perkara yang murni untuk benar, tetapi di sana ada motif, ada maksud yang inheren dari sebuah diskursus.

Ini berarti kebenaran atau hal ihwal yang berputar di sekitarnya adalah sesuatu yang politis. Apalagi menyangkut pengakuan. Dalam politik pengakuan itu penting, sebab dari situlah mekanisme perintah dilaksanakan. Tanpa pengakuan suatu posisi tak dapat stabil berdiri.

Barangkali karena label itu penting. Barangkali memang label itu harus ada. Pak Hamid resah, karena soal label itu penting. Apalagi ini soal agama, soal iman.

madah empatpuluhsembilan

Ketika akal menemukan dirinya bangkit, dunia tampak terang. Yang semula samar dan terselubung dibalik tirai mitos, jadi transparan. Dunia akhirnya terkuak dengan pengetahuan yang menjadi jembatan. Kant, di era renaisans menyebutnya pencerahan.

Tapi dengan semangat pencerahan, Kant juga membangun kritik terhadap nalar pencerahan yang superior. Kritisismenya akhirnya menyingkap cacat inheren dalam akal. Ternyata akal, yang begitu superior membuka terang, tak selamanya jadi bohlam yang sempurna. Akal yang selalu ingin menjelaskan lengkap fenomena, ternyata juga retak. Yang ditangkap hanyalah lapisan fenomena yang tampak dengan cahayanya yang redup. Akal ternyata tak mampu menangkap noumenadas ding an sich, inti kenyataan yang sesungguhnya.

Sebab itulah Kant tak percaya suatu yang metafisis seperti subtansi bendabenda. Akal tak bisa menjangkau itu. Akal justru adalah jembatan atas keyakinan Kant yang agonistik itu. Tiada yang metafisis dibalik daya akal. Yang murni dalam metafisika ternyata adalah sesuatu yang sebenarnya tak bisa dibuktikan. Lewat etika transedental Kant, metafisika untuk kali kedua dibungkam.

Tapi itu Kant. Dengan agnotismenya. Dengan kecurigaan akal murninya.

Yang berbeda datang dari filsuf Iran kontemporer, Murthada Muthahhari. Dalam ceramahnya yang dibukukan dengan nama Mas'aleye Syenokh, Kant dikritik. Dan dalam  kritikannya itu, bukan saja Kant, seluruh pandangan yang skeptik terhadap kemungkinan epistemologi dikritiknya.

Muthahhari sebenarnya tidak tepat jika disebut filsuf per se. Sebab tidak seperti filsuf umumnya yang memang menyelisih dari otoritas teks agama. Itulah mengapa dalam ceramahnya itu ia memulai perbincangannya dengan soalsoal epistemologi dari al quran. Di sinilah beda itu tampak.

Dan beda itu sebenarnya memang adalah sesuatu yang disengaja Muthahhari. Soal epistemologinya adalah suatu rancang bangun yang ia susun untuk membuktikan rapuhnya pemikiran asing.

Dalam skema itu, "asing" adalah berarti produk pikiran yang mencerminkan semangat sekuler. Ini berarti maksud Muthahhari merupakan ungkapan yang merujuk pada tempat yang jauh di sana, yakni suatu masa di mana sekularisasi adalah semangat yang massal disambut suka cita. "Asing" adalah penanda suatu produk pikiran yang tumbuh saat yang sakral disingkirkan. Dengan kata lain, pemikiran yang tidak tumbuh dengan semangat yang mengafirmasi theos. Dengan Itulah, kritisisme Muthahhari berarti punya maksud tak ringan: membuktikan kokohnya pemikiran islam.

Dan dari cara pandang yang quranik, Muthahhari menyebut epistemologi yang dibincangkannya adalah epistemologi islam. Lalu dari ceramah mas'aleye syenokh, suatu pandangan khas islam dibentangkannya. Islam sebagai suatu cara pandang, akhirnya jadi suatu paradigma.

Sebenarnya, ceramah yang ia sampaikan di tahun 1970 itu adalah ceramah yang juga politis. Ceramah yang juga punya arti emansipasi. Sebab dalam ceramah tentang pengetahuan yang dibincang saat itu, punya maksud membangun kesadaran politis.

Karena itulah ceramahceramahnya dilarang. Rezim saat itu melihat Murthahhari sebagai ancaman politik, sebab di tahuntahun yang genting saat itu, suatu perkumpulan dianggap subversif. Saat itu, Iran memang mengalami gejolak politik, dan Murthada salah satu orang yang memicunya.

Di masamasa yang genting itu, sebenarnya Muthahhari tidak sendiri. Ceramahceramahnya adalah bagian dari skenario besar yang kala itu dirancang: revolusi. Dan dari sebagian yang lain, yang diisi oleh tokoh muda Iran, juga punya andil: Ali Syariati.

Lewat mereka berdualah di tahuntahun itu, di bawah suatu rejim yang menggeliat dengan kekuasaan yang tanpa batas, pembangunan paradigma revolusi disusun. Seluruhnya dibincang dengan tafsir politik agar punya makna yang kongkrit. Islam dengan lidah dua orang itu akhirnya jadi ajaran yang tidak sematamata metafisis, tetapi menjadi lebih runcing, menjadi lebih kritis.

10 March 2015

madah empatpuluhdelapan

Konon dari waktu senggang muncul agama. Konon dari sunyi lahir wahyu. Juga konon, kerja, di zaman sekarang adalah penanda kemanusiaan yang ambruk.

Kerja sebenarnya adalah suatu yang luhur. Bila Hegel membilangkannya sebagai proses idealisasi ruh yang bergerak tanpa pamrih dalam tubuh, Marx, orang yang mencelanya itu, meyakininya sebagai modus eksistensi ril manusia. Hegel dan juga Marx melihat kerja sebagai bentuk to becoming: cara manusia berada.

Tapi cara to becoming, bagaimana kerja di zaman ini sudah jadi sesuatu yang ambruk. Orang dipaksa untuk bekerja. Itulah mengapa dari yang terpaksa jadi alienatif. Sebab kebebasan tercerabut persis seperti baut yang membuat suatu perangkat jadi hancur. Kebebasan yang jadi tanda keutuhan, dalam sistem kerja yang dipaksa itulah yang jadi soal.

Akhirnya manusia, dengan kerja yang terpaksa jadi dekaden. Manusia, justru bukan menjadi mahluk yang luhur, melainkan hancur dalam sistem yang di cela sejarah: kapitalisme. Di dalamnya, yang sebelumnya luhur jadi lebur dan menguap jadi kapital yang berlipat. Manusia menjadi asing dalam kerja, industri jadi sistem kukuh yang untung.

Joseph Pieper melihat kerja yang sudah tak.luhur itu seperti sistem agama. Menurutnya, di alam modern, terutama kaum urban yang didorong untuk dapat terus bekerja, kerja per se telah dikultuskan. "Kerja sudah seperti doa" sebutnya. Artinya, kerja begitu dimutlakkan dalam zaman yang didorong oleh sistem yang penuh daya saing.

Dan di dunia itu, kerja sudah identik dengan cara yang teknis. Akhirnya kerja jadi kehilangan keluhuran. Kerja menjadi kehilangan sakralitasnya sebagai pemenuhan eksistensi jiwa manusia. Sebab kerja berarti usaha yang rutin, otomatis dan mekanis, maka kerja kehilangan salah satu fungsi sosialnya yang ditandai dengan cengkrama dan waktu kolektif.

Itulah mengapa krisis eksistensi terjadi. Kerja jadi penjara eksistensi. Kerja jadi rutin yang mencuri kesadaran manusia.

Kehilangan yang luhur akibat kerja yang rutin dan yang sesak di jantung krisis eksistensi, bagi Pieper bisa ditampik dengan cara menghidupkan waktu senggang.

Di Yunani purba, waktu senggang ditandai dengan suatu yang luhur: theorea. Theorea yang dari sana terma teori dilahirkan, sebenarnya adalah suatu sikap "melihat" dan "memandang" suatu yang tetap dalam cosmos. Dalam cosmos, yang tetap bagi alam berpikir Yunani purba selalu dipandang sebagai zat yang tetap, abadi dan tak tersentuh perubahan. Dari Thales hingga Socrates punya nama yang macammacam untuk menyebut itu. Theorea, dengan aktivitasnya yang "memandang" cosmos dengan sendirinya akan mengaktifkan nous. Proses pengaktifan nous inilah yang disebut berpikir. Nous (akal) selalu paralel dengan nous cosmos yang tetap.

Sebab itulah berpikir berarti mencari ketetapan yang sama dengan ketetapan alam. Aristoteles menyebutnya dengan kaidah kesesuaian partikular akal manusia dengan alam universitas cosmos. Singkatnya, berpikir selalu adalah usaha untuk menyeleraskan yang ada dalam nous dengan cosmos.

Habermas melihat aktivitas theorea itu dalam peradaban Yunani dengan sendirinya bermaksud praxis. Saat nous yang mencari kesamaan dengan tatanan cosmos, peristiwa mimesis adalah konsekuensi untuk menyelaraskan manusia yang memandang dengan cosmos yang dipandang. Mimesis dalam prakteknya adalah proses peniruan terhadap apa yang tetap, abadi dan tak berubah dalam cosmos sebagai tujuan. Proses peniruan inilah yang sebenarnya diturunkan dalam sikapsikap etik moral.

Pieper menyebut itu sebagai keadaan yang kontemplatif. Di dalam keadaan itu manusia kembali dapat keluar dari penjara rutin untuk bersentuhan denga totalitas realitas. Di saat itulah, bagi Pieper terbentuk suatu relasi yang fundamental antara manusia dengan kenyataan yang melingkupinya. Di sinilah waktu yang total berarti pembebasan.

08 March 2015

madah empatpuluhtujuh

Hari ini hari kepunyaan perempuan. 8 Maret, dengan serentak, perempuan tetiba ditempatkan pada suatu titik yang agung. International womens day memang punya gema seruan yang lantang.

Perempuan dalam 8 Maret adalah suara emansipatif untuk merebut posisi yang sewajarnya dalam sejarah. Hari ini pasti banyak yang kembali menengok jenis kelamin yang berabadabad disingkirkan dari pentas cosmos. Hari ini, entah itu pria juga wanita, bersuara dalam satu intonasi yang kuat: hidup perempuan.

Yang sewajarnya dalam sejarah bagi perempuan, sebenaranya adalah deret peristiwa kelam yang tak pernah stabil untuk kukuh pada relasi yang sejajar.

Di mulai dalam sejarah pengetahuan, perempuan sudah selalu dipandang sebagai mahluk yang tak lengkap. Di Yunani purba, filsuffilsuf yang galibnya adalah kaum lakilaki sudah mengukuhkan pandangan semacam itu. Perempuan seperti mahluk yang keluar dari lintasan cosmos yang semestinya. Itulah mengapa, perempuan dianggap pelengkap dari susunan hirarki tatanan alam yang maskulin.

Dalam agama, yang kelam bagi perempuan sudah jadi titik yang tak bisa digugat. Titik itu sudah merupakan kepastian yang semakin mapan dilegitimasi oleh teks. Bahkan semenjak awal penciptaan, perempuan adalah sumber tulah. Bahkan kehidupan manusia adalah ulah perempuan yang menyebabkan penderitaan jadi tak berkesudahan.

Tapi sejarah adalah putaran waktu yang tak pernah stagnan. Sejarah adalah kompeksitas waktu dan ruang yang saling mengisi. Di dalamnya peristiwa terbentuk. Di dalamnya selalu ada yang kumulatif. Dari keterbelakangan perempuan, waktu dipelajari dan ruang dijinakkan. Yang asing dikenali. Perempuan yang terbelakang akhirnya sadar bahwa dunia yang dihuni adalah tempat bersama untuk diisi.

Ini berarti domestifikasi yang dialami perempuan mulai digugat. Rumah yang dipandang domestik ditarik secara sosiologis dan politik untuk dijabarkan menjadi yang publik. Apa yang biasanya tersembunyi dibalik pintupintu rumah akhirnya diperbincangkan. Penindasan perempuan yang dirasakan bukan lagi harus diendapkan dalam kuburan jiwa, tapi harus diangkat ketitik terang perdebatan.

Situasi itu sebenarnya awalnya didorong dari industrialisasi yang begitu besar merombak tatanan masyarakat feodal. Kehadiran tatanan yang menarik pekerjapekerja untuk keluar rumah, akhirnya menempatkan perempuan pada tempat domestik.

A Vindication of the Right of Woman, merekam suasana itu dengan terkurungnya perempuan borjuis di dalam rumah tanpa pekerjaan. Di abad 18, perempuan kelas menengah yang sudah menikah dengan para profesional dan pengusaha yang kaya, merasakan betul bagaimana aturan "perumahan," jadi sebab keterbelakangan perempuan.

Artinya, kekayaan yang dimiliki perempuanperempuan kelas menengah justru berdampak negatif terhadap keadaan yang mereka alami. Itulah sebabnya kekayaan yang melimpah, membuat perempuan borjuis abad 18, diibaratkan "penganggur yang tak produktif." Mary Wollstonecraft menggambaran itu dengan analog burung cantik yang dikurung dalam sangkar.

Tapi, yang dalam sangkar, menurut Wollstonecfraft harus keluar dari situasi yang memenjarakan. Di waktu itu, Rosseau punya karya Emile tentang pendidikan. Di dalamnya betapa perempuan ditundukkan oleh opresi nalar yang hanya dimiliki lakilaki. Bagi Rosseau, lakilaki yang rasional adalah tepat untuk perempuan yang emosional. Dan perempuan yang emosional dalam pendidikan harus dididik dengan kepatuhan, kesabaran, kelenturan dan ketulusan.

Itulah mengapa Wollstonescraft bersuara: perempuan juga harus terdidik dengan semangat yang sama dengan lakilaki. Yakni dengan merayakan nalar. Perempuan bukanlah mahluk determinis yang disekap emosi, tapi juga mahluk yang punya daya pikir untuk maju. Wollstonecraft menyebut itu dengan agen nalar yang memiliki tujuan untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa tekanan superioritas intelektual lakilaki.

Melalui itulah, perempuan di abadaabad itu keluar dari domestifikasi dan melalui pendidikan mendorong katup tungku yang menekan eksistensi perempuan. Akhirnya perempuan keluar berpolitik menuntut hakhak publiknya. Bersuara atas opresi yang dialami. Organorgan pun terbentuk. Dan mereka berjuang.

madah empatpuluhenam

Nun jauh di atas langit sana, terbuka kitab lauh mahfus, tempat segala informasi tersimpan. Tapi di sini, ada media massa. Pusat segala informasi menyebar.

Ini abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

Ada penelitian dari antropolog Amerika, Edmund Carpenter namanya. Melaluinya, kita bisa tahu sebuah kebudayaan bisa hilang oleh karena alatalat canggih berupa semisal radio ataupun televisi.

Di Sio, suatu daerah Irian di timut jauh, suatu budaya pelanpelan tersapu. Adat yang dijunjung sebagai simbolsimbol kebudayaan hilang. Carpenter menuli s itu dengan cermat: "Ketika kami kembali ke Sio, aku tidak lagi mengenal tempat itu. Beberapa rumah telah dibangun lain. Mereka sekarang berpakaian seperti orang Eropa dan perilaku mereka juga berubah. Mereka bereaksi lain. Sebagian mereka menghilang, berangkat ke pusat pemerintahan. Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka dan berubah menjadi individu yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dan tidak lagi menjadi bagian dunia mereka sebelumnya. Teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka."

Ada keprihatinan dalam ucapan Carpenter, tapi juga sebenarnya adalah ketakutan atas hilangnya yang primordial. Sebelum laporan itu dapat ia tuliskan, beberapa waktu sebelumnya ia datang memperkenalkan alatalat teknologi yang menghubungkan orangorang dengan perubahan di luar. Tape, camera, proyektor beberapa alat yang dibawanya. Dan selama ia tinggalkan tempat itu, dan kemudian datang kembali, maka tahulah ia betapa berubahnya orangorang dengan alat elektronik yang dipunyai.

Keprihatinannya itu ia tulis dengan katakata "tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuannya," dan barangkali ketakutannya ia ungkapkan dalam katakatanya "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan mereka." Dua hal ini memang perlu dikhawatirkan, sebab di luar sana, kebudayaankebudayaan besar telah banyak menghabisi apa yang kita sebut budaya lokal.

Di Sio itu telah terjadi dan Carpenter menulisnya. Tapi di sekitar kita, tak perlu seorang Carpenter untuk mengatakan bahwa semakin hari ada yang semakin alienatif dari identitas kultural kita.

Marx menyebut alienasi melalui titikkoordinatnya pada produkproduk di dalam sistem ekonomi. Manusia terasing dari ciptaannya sendiri sehingga ia menjadi mahluk yang jauh dari ciptaannya. Begitu juga manusia dapat terasing dari lingkungan sosialnya dengan hilangnya solidarity time yang semakin minim. Sehingga dari produk ciptaannya dan juga dari lingkungan hidupnya, manusia jadi mahluk yang tercerabut dari nilai kemanusiaannya.

Tapi, dari kasus Carpenter sebenarnya berbeda. Juga di sekeliling kita. Tak ada yang berjarak dari produkproduk ciptaan manusia. Teknologi sudah seperti inti dalam setiap aktifitas kita. Alatalat canggih begitu sering kita temui dan akrab dengannya. Juga tak ada yang terasing dari lingkungannya, sebab tak ada ruang sedikit pun yang kosong dari bentuk komunikasi. Media komunikasi justru sudah masuk sampai pada ruang yang privativ dan menghubungkan kesendirian dengan keramaian dunia virtual. Artinya, tak ada yang kosong dari produk ciptaan dan komunikasi. Tak ada yang lepas dari teknologi.

Tapi justru disitulah masalahnya. Carpenter sendiri menulisnya dengan nada yang miris "teknologi telah mengasingkan dan menghancurkan kebudayaan," Yang teralienasi bukan sebab terpaut jarak antara manusia dengan ciptaannya, tetapi keakraban yang intim dengannya justru makin menjadikan kita tersingkirkan dari pusat kemanusiaan. Dengan kata yang lain, keterasingan kita sesungguhnya adalah hilangnya identitas kultural tempat kita menemukan diri yang yang sebenarnya.

Teknologi komunikasi memang sumber soal. Dan informasi yang dikandung di dalamnya bisa berarti dua hal: imprealisme dan kebisuan.

Horkheimer menyebut imperialisme dengan industri budaya. Melalui yang ia sebut kapitalisme kebudayaan itu, suatu agenda massal tengah berjalan membangun suatu sistem tunggal. Yang tunggal itu dalam soal selera kebudayaan adalah jenis selera massal yang membuat modal dapat terus berputar. Di era sekarang, selera sudah tentu bukan lagi urusan pribadi yang terlepas dari bagian informasi massal. Di dalam informasi yang diproduksi, bukan cuma selera, cara berpikir pun sudah jadi cetak biru logika pasar. Dan dari sanalah bermula identitas yang lenyap dibalik tayangan yang dipermak media. Seluruhnya adalah cermin dunia barat.

Sebab itulah Herbert Marcuse  menyebutnya one dimensional man, yakni tipe kepribadian yang tunggal atas kesamaan cara pandang dan selera yang dicipta. Maka, dengan cara itu mekanisme penyegaraman bekerja untuk mengadopsi satu identitas yang dominan. Di saat itulah yang lokal hilang tersapu budayabudaya raksasa. Di saat itulah kebisuan budaya sebenarnya terjadi, sebab lidah kebudayaan kita lebih peka segala yang berbau “luar.”

Maka itulah ada yang mesti prihatin. Kebudayaan memang  suatu yang tak selamanya pejal dan tetap. Juga identitas kultural yang dari sana kita bisa menerka asalusul suatu origin. Sebab kita akhirnya bisa menyesal di saat identitas yang origin justru adalah suatu yang sudah semenjak awal tercuri dari lingkungan kita. Seperti orangorang Sio yang yang lepas satu sama lain, terasing, frustasi dari lingkungan kolektivnya. “Mereka telah tercerabut secara brutal dari pengalaman kesukuan mereka,” Sebut Antropolog Amerika itu.

Ini memang abad 21, segalanya begitu pesat berubah karena sebuah informasi.

07 March 2015

madah empatpuluhlima

"Saya belajar dari Maxim Gorki yang betulbetul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semuanya berubah dan bergerak" Pramoedya Ananta Toer.

Semenjak rumahnya kedatangan orangorang asing. Syahdan, semua berubah menjadi berbeda: dunia dipandang sebagai tempat di mana niat mesti diperjuangkan. Pelagia Vlassov menjadi perempuan yang berubah. Ia menjadi seorang ibu yang tegar hadapi dunia yang karutmarut.

Semangatnya membuncah penuh getar untuk bertindak. Perempuan yang awalnya jadi korban kekerasan rumah tangga akhirnya tahu, bahwa perempuan tidak dinubuatkan untuk mengembik.

Dunia yang dilihatnya hanyalah keadaan yang sudah terlembakan berabadabad lamanya, dengan kekerasan, kemiskinan, kerja rodi, mabukmabukkan, sontak berubah. Di balik matanya yang biru: dunia memang tak seharusnya menjadi kalap.

Keadaan itu berubah semenjak anaknya, yang aktivis buruh, menjadikan rumahnya tempat pertemuan tersembunyi. Anaknya, Pavel, memang seorang aktivis buruh. Bersama temantemannya, dirumah sudut perkampungan di atas sebuah tanggul, perbincangan Pavel bersama temantemannya menyadarkan Pelagia Vlassov tentang arti sebenarnya keadaan yang mereka alami.

Saat itu memang Rusia adalah negeri yang sedang menyambut awal abad dua puluh. Sebagaima Eropa, industrialisasi gencar. Sulingsuling pabrik ditiap paginya sudah bunyi membangunkan kaum buruh untuk bekerja. Asapasap mengepul membungbung. Di bawahnya, kaum pekerja harus bangun dengan tuntutan kerja atas tenaga yang mereka miliki.

Dengan cara itulah Pelagia hidup. Wanita empat puluh tahunan dengan tubuh yang sedikit bungkuk harus bekerja dengan suaminya yang berperangai kasar sebagai montir di sebuah pabrik. Juga anaknya Pavel yang pendiam.

Begitulah Maxim Gorki dalam novelnya, Ibunda, membangun sebuah sketsa cerita. Suatu kehidupan seorang Ibu dan anaknya yang sadar untuk memotong rantai nasib yang tak melar berabadabad. Di ceritanya itu, Gorki, melalui Pelagia, ingin membilangkan bahwa seorang ibu yang memiliki satu bilik di dalam rumah, juga bisa turut mengambil sikap perjuangan atas keadaan yang timpang.

Sebab itulah barangkali Pram terkagumkagum. Gorki nampak mengguncang tiang pancang suatu rumah, dan membuatnya berubah dan bergetar.

"Rumah" dalam kalimat Pram bisa berarti banyak hal. Tapi, sebagai suatu tempat di mana kesadaran dan tubuh dipertautkan, rumah adalah ruang tempat semuanya mesti sejenak rehat. Di sana, di rumah, kita berhenti untuk bertindak, sebab fungsi rumah adalah tempat tenaga dan pikiran dipupuk. Rumah, adalah ruang yang dibangun untuk menyediakan tempat aman dan rasa tentram ditemukan. Di rumah, semuanya akhirnya jadi normal.

Tapi kata Pram, Gorki datang untuk mengguncangkannya. Tiangtiangnya tiba untuk digetarkan agar semua berubah dan nampak berbeda. Rumah, dalam arti stage yang sudah selalu kokoh bagi landasan pandangan dan keyakinan kita, akhirnya barangkali memang mesti dipugar. Sebab, yang kokoh biasanya akan kehilangan sesuatu yang bisa membuat orang bisa peka. Yang kokoh, kadangkadang memang tak selamanya sudah sempurna.

Maka itulah suatu guncangan bisa membuat semuanya berubah. Dalam Ibunda, Pelagia mengalami itu dari pertemuan anaknya Pavel dengan temantemannya. Di saat ia menjamu tamutamu anaknya, terbukalah pintu rumah jiwanya. Ia banyak mendengar kata asing dan pemikiran asing yang nampak baru dan membingungkan.

06 March 2015

Hegemoni

Hegemoni sebagai suatu ide berasal dari bahasa Yunani purba eugemonia yang merujuk pada kekuasaan negara-negara besar yang menguasai keadaan negara-negara disekitarnya dengan dominasi posisi. Dalam Prakteknya, kekuasaan atasa negara di contohkan oleh negara Athena dan Sparta pada masa Yunani purba.

Sebagai suatu istilah, hegemoni diperkenalkan Antonio Gramsci, seorang pemikir marxis Itali untuk merujuk pada keadaan kekuasaan kaum dominan yang menguasai kesadaran masyarakat dengan cara-cara non kekerasan.

Batas-batas ide: dari defenisi yang diberikan Gramsci, hegemoni berarti sebuah pandangan hidup dan cara berpikir yang dominan, yang di dalamnya sebuah konsep tentang kenyataan disebarluaskan dalam masyarakat baik secara institusional maupun perorangan; (ideologi) mendiktekan seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Hegemoni dalam penggunaan konseptualnya mengarahkan penggunannya untuk melihat gejala penggunaan kekuasaan dalam negara dengan segala instrument kekuasaan berupa institusi, kebijakan, aturan dan praktiknya dalam mempengaruhi masyarakat.

Hegemoni sebagai konsep adalah konsep atribut yang menerangkan ciri-ciri praktik kekuasaan baik negara ataupun di dalam institusi-institusi lainnya.

Tiga skala tingkatan hegemoni menurut Gramsci. Pertama, hegemoni integral (total): ditandai dengan afiliasi massa yang mendekati totalitas. Dalam situasi ini, kekuasaan sangat dominan dalam mendikte seluruh cita rasa, kebiasaan moral, prinsip-prinsip religius dan politik, serta seluruh hubungan-hubungan sosial, khususnya dalam makna intelektual dan moral.

Contoh keadaan ini adalah ketika eksternalitas gereja yang dominan dalam menguasai masyarakat abad pertehangan dengan kepemimpinan religius.

Kedua, hegemoni yang merosot (decadent): dekaden hegemoni adalah keadaan kekuasaan negara yang tidak sepenuhnya dapat menguasai secara total objek hegemoni, oleh karena adanya perlawanan-perlawanan dari pihak-pihak yang memiliki pemikiran yang tak selaras dengan subjek hegemoni.  Dalam konteks pudarnya ikatan politik dan kekuasaan negara, lepasnya Timor-Timur dari NKRI merupakan salah satu contoh untuk model ini.


madah empatpuluhempat

Dari yang ditayangkan, tentang Gus Dur, Lukman Hakim, mengungkapkan bahwa hal pertama yang diingatnya saat dilantik menjadi menteri agama adalah guyon presiden RI ke 4 yang sering "ngelantur" itu. Di Mata Najwa edisi 4 Maret, Lukman Hakim menceritakan kembali guyon Gus Dur. Dalam guyon itu, Gus Dur menyampaikan bahwa Departemen Agama sebenarnya sama halnya dengan pasar. Semua lengkap tersedia, banyak orang lalu lalang termasuk transaksi pertukaran jual beli, kecuali satu hal yang tidak ada. "Apa Gus?" Tanya Menteri Agama menyelidik. "Agama" Ungkap Gus Dur.

Bukankah itu juga sebenarnya Satir. Suatu yang paradoks dengan maksud menyinggung.

Dari guyon itu, ada maksud yang bisa kita tangkap: intitusi agama tak selamanya sudah agamamis, bahkan lenyap. Di guyon itu, humor menjadi visualisasi membangun imajinasi. Dan Gus Dur lewat guyonnya tentang "yang hilang di departemen agama adalah agama" telah membangun sebuah pesan imajinatif: ada yang mesti di perbaiki di intitusi keagamaan itu.

Dari sini kita patut menyebut Gus Dur sebagai tokoh besar. Tapi sesungguhnya ia besar bukan karena guyonnya. Di Mata Najwa, yang akbar dari Gus Dur di beri tajuk "Belajar Dari Gus Dur." Yang besar dari Gus Dur adalah sikap terbuka dan toleransinya. Di Mata Najwa edisi 4 Maret itu kita diajak belajar yang akbar dari Gus Dus itu.

Barangkali memang itulah yang kita butuhkan untuk membangun hidup yang selaras, yakni menyatakan sikap penghargaan atas yang berbeda. Gus Dur besar sebab ia bisa melihat hal yang abai dari sikap kita yang kurang sreg jika tak sama. Toleransi sebagai sebuah sikap, bukanlah membiarkan sesuatu bisa terjadi dengan melepaskan keikutsertaan, melainkan sikap yang menerima dengan ikut terlibat di dalam lingkungan yang memang sudah berbeda.

Dengan kata lain suatu sikap koeksistensi. Sebab itulah Gus Dur dijuluki bapak pluralisme.
Pluralisme memang kata dengan konsep yang justru juga perlu dijaga. Di negeri ini, pluralisme adalah konsep yang galibnya jadi haram untuk dikonsumsi atau apalagi dijadikan akidah. Bagi sebahagian orang, konsep itu sama halnya dengan pengakuan atas kebenaran yang jamak, sebab kebenaran semula hanya satu. Dan sebab itulah mesti dijaga agar tak mendua.

Di sini ada yang sepertinya luput: pluralisme sebenarnya adalah terma yang mengakui kejamakan, bukan sekaligus adanya penyamaan kebenaran. Yakni realitas yang plural dan tak mungkin sama, adalah keadaan yang sui generis. Sebab justru pengakuan terhadap perbedaan, berarti di saat yang sama memang ada yang tak mungkin dapat disepadankan atau disamakan. Di saat inilah pluralisme sungguh berbeda dengan sinkretisme.

Sebabnyalah banyak yang mungkin salah menduga, bahwa pluralisme sebenaranya bukanlah terma yang punya misi penyatuan memaknai kebenaran. Justru, pluralisme jika disebut sebagai misi, sebenarnya adalah cara melihat kebenaran, entah itu agama, ras, etnis maupun budaya. Pluralisme lebih pantas jika disebut pengakuan sosiologis dibandingkan akidah sebagai kosa kata penghubung perbedaan.

Rasarasanya konsep inilah yang sebenarnya penting dibangun. Sebab di luar sana, betapa sesaknya pandanganpandangan tertentu yang memilin perbedaan menjadi satu jenis dan bentuk. Mungkin hidup dengan cara yang teologik mesti ditinjau kembali di era yang menghendaki keterbukaan pemikiran. Karena dunia dengan kemajuannya memang banyak berubah, dan di saat demikianlah bagaimana cara pandang terhadap sesuatu harus terus direnovasi dan diperbaharui.

Dalam hal ini Soroush pemikir Iran memiliki ca ra pandang tentang kebenaran: dari banyaknya kebenarankebenaran yang terserak, mustahil mereka bertentangan. Dan cara Gus Dur mengatasi pertentangan yang kerap dihadapi adalah melalui guyon.

Guyon biar bagaimanapun tak selalu berarti tanpa keseriusan. Juga tak selamanya tanpa maksud yang lugas.

Gus Dur pasti punya banyak cara menyampaikan maksud pembicaraan dengan cara normal dan bijak. Sebagai seorang pemikir, akalnya bisa runut membangun pembicaraan yang pantas. Tapi ia memilih humor. Ia memilih guyon. Bentuk komunikasi yang sebenarnya adalah model sederhana dalam membuka apa yang sudah terlanjur serius.

Sebab itulah dengan guyon, di negeri sendiri, yang seriusserius tapi tak diurus mesti digetarkan. Barangkali ini sikap akbar Gus Dur yang lain. Cara bersikap di antara keadaan yang purapura serius tapi kurus dari kebenaran. Dan Gus Dur tahu cara membongkarnya; humor.

05 March 2015

madah empatpuluhtiga

Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak memerlukan itu, karena dia lah yang menunjukkan apa yang diakui benar dan harus berlaku." Paul Natorp

1970. Suatu malam di Teheran Iran, Husayniah Irsyad.  Dua malam berturutturut, tempat aktifitas  intelektual keagamaan yang didirikan Khomeini itu akan membincang tema yang ganjil. Anakanak muda Iran saat itu sepertinya tak bakal menyangka, Ali Syariati, mentor yang ingin mereka dengarkan ceramahnya akan membincang tema: agama versus "agama."

Di kuliahkuliah itu, Ali Syariati mengajukan tesis bahwa di balik sejarah, sesungguhnya agama selama ini bukan berjuang melawan keyakinan nontheis, yakni pemahaman terhadap eksistensi theos yang dinegasikan, tetapi justru agama itu sendiri. Dengan kata lain, tokoh revolusi Iran itu ingin mengatakan: sepanjang sejarah, agama monotheis, yakni keyakinan yang percaya satu tuhan, selalu berhadaphadapan dengan agama yang percaya banyak tuhan.

Dalam ceramahnya itu , Ali Syariati membuktikan bahwa sepanjang sejarah perkembangan manusia, kehidupan masyarakat selalu menyertakan pemahaman terhadap theos yang tak mungkin kosong. Sejarah mula manusia, dari kelompok yang sederhana sampai peradaban yang kompleks, selalu diisi oleh keyakinankeyakinan religius dan spiritual. 

Dengan kata lain, atheisme, yang dikenal sebagai konsep pengingkaran terhadap theos adalah konsep yang tak ditemukan dalam sejarah. Sebab sepanjang sejarah peradaban, atheisme sebagai keyakinan kolektif tak pernah ada dalam kehidupan purba manusia.

Dengan maksud itu artinya Ali Syariati ingin mengatakan agama sebenarnya adalah nilai purba yang inheren dalam diri manusia. Di mana, keyakinan terhadap satu kekuatan yang mengatasi seluruh alam adalah keniscayaan yang tak bisa ditampik kesadaran manusia. Di titik itulah, apa yang disebut agama multitheis, dari Ali Syariati adalah agama yang menyelisih dari nilainilai purba manusia.

Tapi adakah ia seorang penganjur fundamentalisme di sini? Yakni orang yang membangun iman yang mono untuk menerjang agamaagama yang lain? Sebab dalam tesisnya itu, bisa saja penganut tuhan yang mono, menangkap maksud sentimentalisme keyakinan monotheis Ali Syariati terhadap keyakinankeyakinan di luar lingkup imannya.

Atau dalam bahasanya itu, agama versus  agama sebenarnya adalah maksud yang ia tujukan kepada penganut monotheisme itu sendiri. Dengan katakatanya yang konon disenangi anakanak muda di masanya itu, agama dalam tanda kutip, bukanlah merujuk pada agama yang lain, melainkan agama monotheis itu sendiri.

Di sinilah Ali Syariati tak sekedar penganjur fanatisme, tetapi fanatisme yang dibangunnya adalah fanatisme yang kritis terhadap iman yang selalu dipugar dan dikontruksi terus menerus tanpa henti. Iman yang tiada mengenal batas pertumbuhan dan titik final. Iman yang virtualitasnya terus menjadi. Yakni iman dengan jalan suluk yang menghindari katup penutup sebagai tanda keterpenuhan. "Tiada akhir dalam tuhan" sebutnya jika tuhan adalah tujuan segala sesuatu.

Sebab itulah agama dalam tanda kutip ia artikan sebagai agama yang beku dan kaku dalam sejarah perkembangan manusia. Agama yang kaku itu, menariknya adalah keyakinan yang selalu melegitimasi keadaan status quo. Agama yang beku disebutnya agama yang kufr, yakni agama yang mendehumanisasi manusia dengan legitimasi teksteks untuk membiarkan konteks yang statis dan jumud.

Sebab itulah ia memiliki arti yang lain tentang kafir. Kufr, disebutkannya dalam tradisi keagamaan Islam bukanlah berarti arti dari nonagama, sebab sejak semula tak ada yang berarti nonagama. Kufr yang berarti menutup atau menanam adalah keadaan yang menutup diri dari kebenaran. Di dalam arti ini, kufr berarti tertutupnya pintupintu kebenaran dari iman. "Di dalam hati manusia" ungkapnya,  "kebenaran itu ada, tetapi karena alasanalasan tertentu, kebenaran tertutup oleh tirai kebodohan."

04 March 2015

madah empatpuluhdua

Dua hal yang tak disenangi Marx: alienasi dan nilai lebih. Di jaman industrialisasi tumbuh subur, bondongbondong masyarakat Eropa beralih kerja. Lahanlahan ditinggalkan, dan akhirnya pabrikpabrik penuh buruh. Di sanalah alienasi terjadi dan nilai lebih dicuri. Alienasi menghasilkan keterasingan, sementara nilai lebih berarti penghisapan.

Sebab itulah Marx menghardik sistem kerja di pabrikpabrik.  Di sana banyak buruh terasing dari kemanusiaannya. Alienasi tidak saja merenggut kebebasan buruh, tapi kehidupan sosialnya. Juga dari cara kerja yang disebutnya tak adil.  Buruh diberlakukan semenamena dengan mencuri waktu yang dimilikinya.

Apa yang dibenci Marx sebenarnya adalah konsekuensi kemajuan rasionalitas yang ditemukan dari kesadaran manusia. Semenjak terang kesadaran tak dikuasai dogma gereja, kesadaran manusia menemukan sejarah baru; industrialisasi. Melalui rasionalitaslah industri bisa besar dan massif menyebar. Tapi dari penyebaran yang massif itu juga berarti semakin luasnya penghisapan dan alienasi.

R. Dahrendorf dalam essay in the theory od society, melihat di zaman industri yang disebut kapitalisme itu punya ciri khas selain penguasaan atas milik pribadi, yakni penerapan yang ia sebut "rasionalitas pasar." Di saat itu, apa yang disebut "pasar" adalah tempat yang penting di mana pertukaran diberlangsungkan. Dalam konteks inilah tujuantujuan diorganisasikan melalui cara efektif dan efisien.

Tapi zaman juga sudah banyak berubah, kapitalisme juga sudah banyak berganti rupa. Termasuk kekuasaan yang menjadi sumbet legitimasinya. Kapitalisme tak mungkin menyandarkan kekuasaannya seperti yang disebut Weber sebagai sumber kharisma. Sebab tak ada yang sakral yang bisa juga disebut kesucian sebagai sumber kekuasaan. Di bawah kapitalisme kepatuhan tak didapatkan melalui otoritas tradisi sebagaimana kekuasaan di zaman sebelumnya bekerja, melainkan apa yang disebut kontrak. Denganyalah sebenarnya kesepakatan dibangun, tanpa harus melibatkan kepasrahan.

Keterlibatan yang terpaksa inilah menjadikan buruh lebih nampak sebagai mahluk yang tak berdaya apaapa dihadapan kapitalisme. Mereka terpaksa harus menjual tenaganya melalui legitimasi kontrak kerja. Dan malangnya, tenaga yang mereka miliki dan dikeluarkan saat bekerja tak sebanding dengan upah yang mereka terima. Inilah keadaan yang dicela itu: penghisapan.

Gramsci tokoh komunisme Italia, juga melihat hal yang sama. Penghisapan memang kejam. Tapi, menurutnya penghisapan yang dialami kaum proletar lebih halus ketimbang kontrak kerja yang memperantarai keterlibatan kaum buruh. Ada yang lebih membahayakan di mana mekanisme kekuasaan atas tenaga buruh sebenaranya adalah sesuatu yang sebenarnya disepakati. Artinya, kesepakatan yang sebelumnya melalui kontrak hanya bisa diberlangsungkan melalui aturanaturan rasional. Hegemoni begitu ia menyebut istilahnya adalah keadaan penghisapan oleh kaum borjuis, yang terjadi secara kultural.

Di sini, barangkali Gramsci tak saja bicara pada konteks kaum buruh yang terperdaya oleh sistem industri kapitalisme, melainkan juga kepada masyarakat pekerja yang massif ditemui hampir seluruh Eropa. Maksudnya, Gramsci melihat penghisapan yang dialami oleh masyarakat pekerja tidak  hanya pada dimensi ekonomi, tapi juga pasa dimensi kultural.

Pada saat itu, keadaan akan seolaholah menjadi situasi yang natural. Alienasi dan penghisapan menjadi hal yang nampaknya wajar. Apalagi dalam era kapitalisme lanjutan, kaum pekerja banyak diberikan pesangon untuk menetralisir kontradiksi yang dialaminya. Karena itulah perlawanan yang diharapkan Marx sulit untuk dimungkinkan. Kaum buruh sudah terlanjur netral dalam melihat keadaan yang dialaminya. 

Tapi sebenarnya, tidak semua kaum buruh mau tunduk dengan keadaan. Sebab masih banyak kita lihat serikatserikat yang dibentuk untuk merumuskan agenda perjuangan kelas yang disponsori Marx. Organisasiorganisasi perjuangan yang masih bergerak menghimpun kekuatan. Mereka berpolitik dan berjuang untuk keluar dari keadaan yang alienatif dan terbelakang. Sebab mereka juga tahu, tenaga mereka bukan modal yang semenamena dapat digunakan sebagaimana mesin yang terus dapat digunakan.

Popular Posts