madah tigapuluhtiga

Ada cara bagaimana kita bisa mengukur kebahagiaan. Bentham, filsuf Inggris abad 18, meyakininya dengan cara yang kuantitatif, yang disebutnya "kalkulus kebahagiaan." Resep yang digunakannya sederhana; kebahagiaan sama dengan kepuasaan dikurangi kepedihan. Ini artinya, kebahagiaan berarti merunut sebanyak hal ihwal kepuasaan serta dikurangi dengan masalah yang membuat pedih. Hasilnya, itulah kebahagiaan anda.

Di abad 18, semangatnya itu ia tulis dalam karyanya yang hanya berupa pembukaan sebanyak 300 halaman; Introduction

Dalam Introduction, Ia juga mengusulkan untuk menulis daftar yang terdiri dari ragam kepuasankepuasan dan kepedihan. Di sini kita diajak untuk mengingatingat halhal yang membuat diri puas sekaligus hahal yang menjengkelkan. Setelah itu dicatat, dari daftar yang panjang berisi kumpulan kepuasan dan kepedihan itu disebutnya dengan istilah yang unik; katalog kepuasan.

Sebuah perhitungankah ini? Pengelolahan angkakah ini? Bentham hidup di Inggris. Di abad 18 pasca rasionalisme disingkirkan. Empirisme tumbuh berkembang di Britania, juga sains. Bermula dari itu cara berpikir Inggris nampaknya berubah. Segalanya mesti terukur. Juga kebahagiaan.

Bentham memiliki prinsip kepuasan berdasarkan utility. Di masanya, utility bukan berarti kegunaan dari sesuatu, melainkan kepuasan dari sesuatu. Dan kepuasaan dalam arti satisfaction sinonim dengan keuntungan, kepuasan, keunggulan, kebaikan atau kebahagiaan dari suatu objek.

Dan dari katalog kepuasaan yang disusun Bentham, peringkatnya mudah ditebak; kekayaan dan kekuasaan adalah daftar teratas kepuasan. Sementara kebalikannya, kesengsaraan dan ketidaknyamanan adalah urutan teratas kepedihan.

Sepertinya ada yang tak pernah berubah dari dahulu tentang kekayaan dan kekuasaan. Marx barangkali adalah orang yang telah menaksir, kepuasan terhadap kekayaan dan kekuasaan adalah mata rantai yang bisa mendatangkan derita di ujung lainnya. Masyarakat dapat kaya, tapi kemiskinan tidak mesti dibiarkan begitu saja. Sebab kepuasan terhadap kekayaan tidak selamanya menjadi ukuran yang defenitif. Juga kekuasaan, yakni selama manusia mampu membangun kehidupannya, kekuasaan adalah poros yang banyak menelan korban.

Tapi ada yang bisa saja fatal dalam filosofi kebahagiaan Bentham. Konsekuensinya adalah kepuasaan hanya diukur atas logika kuantitas. Satu kepuasaan seorang pelukis pasca menghasilkan karya lukisan akan sama dengan satu kepuasaan ibu rumah tangga yang memenangkan arisan. Secara kuantitatif dua kepuasaan itu akan jadi berbeda dalam ukuran yang kualitatif.

Sebab itulah Bentham bisa salah dalam mengukur kebahagiaan. Yang luput darinya adalah persamaam yang dibangunnya antara kepuasaan dan kebahagiaan. Juga dalam karyanya itu, kepuasan nampaknya akan semakin menjemukkan oleh sebab repotnya skala dan unsurunsur yang diperhitungkan yang disertakan dalam mengukur kepuasaan.

Richard Schoch menyebutkan bagaimana Bentham menulis kerumitan dalam mengukur kepuasaan dengan hukum persamaannya atas unsurunsur yang diperhitungkan. “Ini lebih rumit dari pada sekedar menaruh mereka dari skala..kita harus mengetahui beragam hal dari mereka; aspekaspek yang membahagiakan, situasi yang mempengaruhi, dan bagaimana mereka berhubungan satu dengan lainnya.” Syahdan, untuk pekerjaan mengukur kebahagiaan yang repot itu, Bentham mempercayakannya kepada politisi. Richard Schoch menyebutnya pemerintah.

Menurut Bentham, pemerintah harus punya tanggung jawab untuk mengurusi kebahagiaan dengan memperhatikan keadaan yang dipersiapkan untuk menunjang warganya mencari kepuasan sebanyakbanyaknya. Kepuasaan, oleh Bentham, atas keadaan yang diciptakan pemerintah, harus mengingat satu hal; keamanan. Pemerintah harus punya tanggung jawab menciptakan keamanan, tanpa keamanan kepuasan tak dapat dimungkinkan. Dan Bentham percaya, tanpa keamanan seorang pun tak dapat menemukan kebahagiaan.

Sama halnya Hobbes, Bentham sangat percaya jika manusia dibiarkan mengejar tanpa batas kepuasannya, maka perang bakal terjadi. Bellum omnia omnes, perang semua terhadap semua. Itulah mengapa perlu ada pemerintah yang mengatur kebahagiaan banyak orang.

madah tigapuluhdua

Undian itu dilakukan dengan sut. Lingsang dan pasukannya mendapat kehormatan jadi ujung barisan yang akan memasuki Kutaraja dari selatan. Di belakangnya akan menyusul pasukan Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca…

Begitulah prosesi awal perang dikisahkan dalam Arok Dedes. Membaca fragmen cerita itu, kita akan segera tahu, tentang sebuah peristiwa jatuhnya kekuasaan seorang raja sekitar 1220 masehi. Saat itu, di Nusantara, dikisahkan Pramoedya Ananta Toer, Tunggul Ametung akhirnya mati bersimbah darah. Dan dalam lakon rajaraja, bersimbah darah berarti cara heroik untuk mati.

Tapi, di luar itu sebenarnya ada peristiwa yang lebih heroik. Jauh di luar jangkauan raja Tunggul Ametung, sebuah skenario kekuasaan sesungguhnya telah disusun rapi jauh hari tanpa sisa adegan yang kosong. Melalui tangan Buto Ijo, Arok, melalui peran yang panjang akhirnya menjelma kekuatan yang menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung.

Dan dari serangan itu, sejarah akhirnya mencatat, di saat itulah kudeta pertama terjadi di Nusantara.

Jika ada kekuasaan yang diceritakan tanpa menyisihkan intrik, barangkali Pramlah orangnya. Dalam Arok Dedes, sebuah naskah yang ia tulis di pulau Buru, barangkali ingin menjangkau ruang kesadaran banyak orang, bahwa kekuasaan sebenarnya dibangun bukan dengan cara yang langgeng dan sepi muslihat. Kekuasaan justru di tangan Pram, dikisahkannya adalah poros yang mudah keropos oleh intrik.

Melalui kisah Arok Dedes, Pram barangkali ingin membuka suatu tafsiran baru di sekitar kekuasaan. Bahwa, kekuasaan sesungguhnya adalah sesuatu yang tak stabil dan mudah retak. Di sini ada yang nampaknya sama sekali menyelisih dari adat kebiasaan. Apalagi dominasi cara memandang kekuasaan yang selalu ditautkan dengan hal ihwal berbau teos. Kekuasaan, seperti yang ditampilkan Pram dalam lakon Arok Dedes, adalah kekuasaan berwajah politik, bukan yang mitologik dan teologik. Artinya, kekuasaan itu mudah dihimpun juga diguyah selama intrik diberlangsungkan.

Juga bahwa politik sebenarnya adalah bagaimana kekuataan harus disusun dan dirombak. Yakni kekuatan bilamana ingin berhasil, selama disusun dan dirombak harus bermain pada semua lingkaran kelompok. Dan dalam lakon politik suatu rencana harus menyeimbangkan kekuatan di antara beragam kepentingan di sekitar kekuasaan.

Dengan cara itulah Arok memainkan perencanaannya. Seorang pemuda pelajar yang berhasil menghimpun kawula dan elit terdidik, serta kekuatan militer untuk menggerakkan sebuah perlawan terhadap Tunggul Ametung.

Barangkali, Pram juga ingin bermaksud bahwa politik sebenarnya adalah keadaan yang tanpa pusat. Sebab kekuatan sebenaranya bisa muncul dari mana saja selagi sebuah keadaan terlampau sesak oleh himpitan kekuasaan. Dan yang dibutuhkan sebenarnya adalah inisiatif yang cemerlang dalam bertindak dan membaca situasi yang serba mungkin.

Bila itu yang dimaksudkan, inisiatif sebenarnya adalah peran yang timbul tanpa lepas dari situasi yang kongkrit. Dalam arti ini, sebuah inisiatif lahir dari seorang subjek politik.

Slavoj Zizek, seorang filsuf abad 21, menyebut subjek politik adalah seseorang yang berperan radikal yang menerka keadaan dari segala ketermungkinan yang ada. Suatu yang disebut Zizek adalah “peran istimewa,” yakni suatu kemampuan dalam mengubah yang serba mungkin menjadi kekuatan yang menggerakkan. 

Dan Arok adalah orang yang melihat itu, menyusun dan memprediksi kekuatan mana yang kosong dan dapat ia manfaatkan menjadi kekuatannya. Ia seperti Sang Pangeran yang ditulis Machiavelli, orang yang menunggu dan bersikap di antara virtue dan fortuna.

Lakon kisah yang ditulis Pram ini, juga sebenarnya adalah bagaimana ia menjadi suara yang dibungkam di tengahtengah kekuasaan. Di pulau Buru, sebuah naskah sastra politik ditulis dengan kesadaran yang kental terhadap prosesi keberlangsungan sebuah kekuasaan saat itu. 

Entri yang Diunggulkan

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...