madah tigapuluhtujuh

"Masalah manusia adalah yang paling penting dari segala masalah"

Begitulah Ali Syariati memandang sebuah persoalan. Dimulai dari manusia dan menuju manusia. Sebab "agamaagama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau tuhan." Jika ia pernah mengatakan "dari mana kita mesti mulai?", maka soal utamanya bisa jadi adalah manusia.

Nampaknya humanisme tidak selamanya milik barat. Ali Syariati, kawan karib Sartre ini, juga punya cara membilangkan humanismenya dengan daya yang meletupletup. Humanismenya, yang meletupletup itu, ia sebut sebagai "mahluk bidimensional, rekan Allah, sahabatNya, pemegang amanatNya dan murid utamaNya... yang dikaruniai misi agung agar dilaksanakannya di muka bumi."

Dengan begitu, manusia yang bidimensional diyakininya sebagai orangorang yang punya misi khusus, orangorang yang datang di muka bumi untuk menyelenggarakan suatu adab hidup. Suatu yang ia sebut misi agung.

Tapi, misi agung, di abad dua puluh satu, adalah misi yang bisa jadi soal sebenarnya. Agama, yang juga punya semangat humanisme, nampaknya seperti yang dibilang Syariati, justru adalah "agama-agama yang merendahkan manusia." Manusia bukan titik koordinat semua garis bermula. Ia hanyalah satu garis dari titik yang berpusat dari tuhan.

Di abadabad yang lalu, di hadapan keyakinan dominan gereja, pusat itu dirubuhkan. Dan hingga kini, pusat telah berbeda. Manusia menjadi poros, sehingga dari sanalah semua soal dan jawaban disusun.

Tapi, sekali lagi ini abad dua puluh satu. Agama punya jawaban yang juga tak pernah surut. Semangat yang tak surut itu muncul dengan wajah yang tak ingin kusam di abad kemajuan ini: fundamentalisme.

Dengan itulah misi agung dipandang memang mesti agung. Tak ada yang boleh mencemari yang asal dan dasar, itulah sebabnya tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Manusia, mahluk yang memang sumber kesalahan itu, tak punya hak untuk membangun sebuah dunia. Apalagi menjamin segala isinya.

Maka itulah kita tak pernah salah memahami Will Durant, agama memang punya seribu nyawa. Dengan nyawa yang tak kurangkurang, sebuah keyakinan dipupuk diladang yang semakin luas. Dunia harus kembali kepada asal di mana agama pertama kali datang. Segala yang berubah bisa jadi ikhtiar yang melenceng dari rencana awal. Sejarah harus disusun kembali. Agama harus menjadi panglima di segala yang telah melenceng.

Walaupun kita juga tahu, di dalam narasi sejarah, agama dengan semangat yang ingin kembali ke asal, malah juga harus menilap nyawa yang lain: manusia.

Itulah mengapa Ali Syariati yakin, masalah yang sebenarnya bukanlah soalsoal metafisis di atas kepala manusia, melainkan apa yang ada dalam benak manusia itu sendiri. Ini artinya, apa yang menjadi soal sebenarnya adalah benak yang mudah muncul di dalamnya prasangka atas dunia yang jamak.

Dan agama, yang sebenarnya bermula dari yang sunyi, di abad dua puluh satu, tak bisa juga memandang "misi agung di muka bumi," sebagai perjuangan santun di bentang  lalu lalang orangorang. Nampaknya, agama yang sunyi, seperti wahyu pertama kali turun di gua hira, visi yang turun di pohon bodhi, juga drama kesunyian nabinabi tak sempat menyentuh, seperti  yang A.N. Whitehead bilang: Tuhan Sang Sahabat.

Madah Tigapuluhenam

Belakangan ini ada yang mencolok di dalam layar kaca; India dan Korea. Di layar kaca kita, India dan Korea akrab melalui drama dan sinetron. Nampaknya ada yang terasa aneh, sebab lebih dulu Malaysia lebih awal kita tonton berjamjam melalui kartun Upin dan Ipin itu. Tapi siapa yang bakal menonton kartun yang kental dialek Malaysia itu selain anakanak. Dan dari ceritacerita itu, saya banyak mendengar anakanak yang tumbuh bersamaan dengan kartun yang diimpor itu, lebih fasih dialek Malaysia dari pada bahasa ibunya.

Adakah yang salah dari itu?

Tapi kita sebenarnya harus waswas. Zaman global seperti sekarang, banyak yang menjebol batas. Hingga terkadang sampai sulit kita bendung. Akhirnya banyak hal yang harus dilindungi dari sesuatu yang berbau "luar." Banyak hal yang mesti dipertahankan, juga budaya.

Saya rasa, dari "yang luar"  itu bukan saja sudah bisa bikin waswas hati kita, tetapi juga makin jadijadi setiap hari. Sebab di ruang paling pribadi, kita sulit mengenal apa yang masih asli bagi kita. Apa yang masih genuine, atau yang disebut sebagai identitas otentik, belakangan ini akhirnya menjadi sesuatu yang penting. Atau bahkan sebenarnya genting. Sebab nampaknya yang asli, akhirakhir ini merupakan sesuatu yang sulit kita defenisikan.

Soekarno, yang getol menjunjung revolusi itu, di waktu Indonesia masih mendorong semangat antikolonialisme, melihat "yang luar" sebagai ancaman serius bagi kepribadian bangsa. Di saat perjuangan belum jauh ditinggalkan di belakang sejarah, budaya Indonesia yang defenitif harus berarti menolak impor produkproduk kebudayaan luar.

Kita pernah mendengar Soekarno berkoar tentang tidak ada lagi yang "bitelbitelans" untuk mengucapkan budaya yang asli negeri sendiri. "Bitelbitelans" waktu itu adalah musuh budaya nasional yang bisa  merangsek masuk dari luar. Musik di zaman Soekarno adalah masamasa emas saat suara John Lenon melintasi batas Inggris. Saat gambar Marelyn Monroe jadi posterposter dibioskopbioskop.

Di zamannya, Soekarno menolak musik yang berbau Barat. Terutama yang lahir dari rahim budaya kapitalisme. Sebab itulah mengapa ia melarang anakanak muda terpengaruh bandband semacam The Beatles. Karena barangkali bapak revolusi itu sadar, kolonialisme juga punya strategi selain perang, yakni melalui genderang telinga yang  gandrung segala bebunyian yang western.

Tapi apa sebenarnya arti "Barat" dan "Timur" sekarang sebenarnya juga adalah ihwal yang mudah retak. Apalagi jika kita ingin menunjuk dengan tepat apa sebenarnya identitas budaya yang asli dan origin. Sebab di zaman sekarang, jika kita menunjuk "Barat," maka di sana tak ada yang sebenarnya betulbetul Barat. Juga "Timur" adalah yang hari ini sepertinya bukan lagi timur.

Identitas memang bukan medan yang pejal. Justru Lacan menyebutnya sebagai sesuatu kesalahan pasca fase cermin, sehingga identitas yang dianggap real adalah sesuatu yang sedari awal sudah rusak. Sebab itulah tak ada yang otentik pada identitas selain merupakan rangkaian panjang untuk mengisi kekosongan. Jika sudah demikian, maka identitas adalah sesuatu yang merupakan hasil interaksi dan aksi. Hasil meminjam dan meneguhkan yang diproses menjadi sesuatu yang ingin kita sebut origin.

Lantas siapakah yang dimaksud Barat di zaman revolusi Soekarno? Atau apa yang betulbetul Barat di zaman itu? Nampaknya tak mudah menangkap jelas batas "Timur" dan "Barat". Tapi, di mata Soekarno, "Barat" adalah orangorang yang datang masuk ingin menguasai segala yang dimiliki bangsa ini.  

Barangkali budaya memang ruang terbuka untuk didialogkan. Tapi kita juga mesti sadar, ada yang hilang jika di layar kaca, apa yang kita tonton adalah canoncanon budaya yang importir. Sementara di balik itu, akhirnya kita juga akan sulit menemukan sejarah identitas diri yang sebenarnya bersamaan dengan tumbuhnya halhal baru yang bukan berasal dari perut kebudayaan kita.

Syahdan, apa yang sebenarnya membuat kita waswas, saya pikir oleh sebab yang origin hari ini sudah banyak dibajak. Tapi jauh dari itu, pertanyaannya masih sama, apa yang sebenarnya origin dari kita?

Entri yang Diunggulkan

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...