30 January 2017

Melihat Anak-Anak Tumbuh Tanpa Gadget

Hari ini sangat sulit menemukan anak-anak usia dini yang bermain tanpa gadget. Bahkan permainan anak-anak usia dini yang melibatkan ketangkasan, kecekatan dan kecermatan, sudah sangat jarang ditemui akibat kesukaan anak-anak terhadap gadget. Akibatnya, perkembangan kreatifitas dan cara berpikir anak-anak sedikit banyak mengalami perubahan drastis. Terutama ketangkasan dan kecakapan, gadget mengubah anak-anak menjadi lebih pasif.

Gadget era kiwari sudah berkembang sedemikian rupa dengan menyisipkan aplikasi-aplikasi khusus anak-anak. Bahkan ada gawai yang khusus diciptakan untuk anak-anak usia dini. Segmentasi pasar yang ikut mempertimbangkan pengguna pemula yakni anak-anakk usia dini, ikut mempengaruhi inovasi perkembangang gadget.

Saya tercengang setelah mendapati artikel AS Laksana yang mengulas keberadaan sekolah yang menghindarkan anak-anak dari penggunaan alat-alat canggih berupa smartphone. Sekolah itu bukan di Indonesia, melainkan di Silicon Valley, pusat perkembangan digital di  Amerika Serikat. Sekolah itu bernama Waldorf School of Peninsula.

Fenomena yang ditulis AS.Laksana mungkin peristiwa yang langka. Apalagi jika menunjuk satu sekolah di sekitar kita yang memutus total kontak anak-anak terhadap alat-alat teknologi canggih. Yang dahsyat, komitmen itu bukan saja diterapkan guru-guru mereka di sekolah, melainkan turut melibatkan orang tua anak-anak di rumah.

Lantas siapakah para orang tua yang disebut AS. Laksana di tulisannya itu? Ternyata mereka adalah anak-anak pegawai dari perusahaan raksasa teknologi digital semisal Google, Yahoo, Apple, dan Hewlett -Packard, yang sehari-hari akrab dengan segala macam teknologi canggih.

“Ada sekitar 160 sekolah Waldorf di AS dan semuanya dijalankan dengan metode yang sama. Tidak ada komputer di sekolah, tidak ada iPad, tablet, maupun telepon genggam. Sekolah itu menggunakan peralatan apa saja kecuali perangkat-perangkat teknologi tinggi. Para siswa belajar dengan pena, kertas, jarum rajut, pisau, dan juga lumpur untuk mengotori baju dan tubuh mereka.” Begitu diliterasikan AS. Laksana.

Anda bisa mencatat berapa sekolah di lingkungan Anda yang menerapkan model belajar seperti sekolah di Waldorf? Saya yakin tidak lebih dari sepuluh sekolah macam demikian.

Bahkan, di sekitar kita banyak orang tua betapa ringan tangan membelikan smartphone bagi anak-anaknya agar tidak tersisihkan dari pergaulan.

Yang miris sering ditemukan alasan absurd bahwa melalui gadget dapat membantu anak-anak cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dengan gadget, dinyatakan dapat membantu anak-anak dapat belajar secara mandiri.

Dan yang paling malang, gadget sudah banyak menyita perhatian anak-anak. Peran orang tua justru diambil alih oleh aplikasi yang dimiliki smartphone. Sampai misalnya, peran seorang guru malah banyak ditukarkan dengan kemudahan menemukan informasi melalui gadget.
  
Saya kutipkan lagi apa yang dituliskan AS. Laksana: “Guru-guru di sekolah itu lebih senang mendorong para siswa berkegiatan seni, seperti menggambar dan melukis, bukan mengunduh informasi dengan komputer atau tablet. Ketika mereka belajar mitologi Skandinavia, misalnya, para siswa diminta menggambar sendiri ilustrasi untuk cerita yang mereka tulis. Bersamaan dengan istirahat makan siang, mereka belajar pembagian dengan pisau yang mereka gunakan untuk membelah kue atau apel. Pada kesempatan lain mereka belajar menemukan pemecahan soal-soal matematika melalui kegiatan merajut, atau belajar bahasa sambil bermain lempar tangkap. Guru membacakan bait puisi, para siswa berdiri melingkar dan menirukan bait yang dibacakan oleh guru. Anak yang menjadi sasaran lemparan kantung berisi kacang merah harus menangkapnya.”

Sekarang, apa yang dimaksudkan belajar bagi orang tua terhadap anak-anak mereka? Apakah itu termasuk melibatkan alat teknologi di dalam pembelajarannya? Apakah mesti diberikan laptop untuk menunjang proses belajar mengajarnya? Atauka menyediakan fasilitas wifi di rumah agar lebih mudah menyediakan informasi?

Latar belakang keluarga saya hampir semuanya berprofesi sebagai guru. Tapi tidak ada satupun ide belajar seperti di Waldorf yang sempat dilontarkan salah satu di antara mereka. Kalau persoalan ini diperluas, adakah kebijakan semacam ini yang pernah terlintas di antara pengambil kebijakan di bidang pendidikan? Saya kira mungkin pernah, tapi sudahkan itu menjadi pilihan cara belajar?

Jika Anda berpikir model belajar itu sulit diterapkan di sekolah-sekolah pemerintah, apakah itu ditemukan di sekolah-sekolah swasta?

Anak-anak usia dini sekarang memang sudah cakap menggunakan smartphone, atau bahkan laptop. Mereka secara alami tumbuh di antara keberlimpahan alat-alat canggih yang dimiliki orang tua. Menjadi generasi digital native yang tercerabut dari pengalaman alamiah sebagai anak-anak.

Di sekolah, guru-guru tidak sampai berpikir apa dampak kultural penggunaan smartphone di sekitar mereka. Di rumah, orang tua, terutama generasi 70-80an, seringkali bersosialita melalui gadget di sela-sela tanggung jawab menjadi orang tua. Bahkan di masyarakat, gadget begitu gampang ditemui tidak jauh dari keberadaan anak-anak.

Sudah banyak dampak bagi anak-anak usia dini yang sehari-hari tumbuh bersamaan dengan smartphone. Jika Anda rajin berselancar, banyak artikel yang memuat betapa anak-anak terancam akibat keberadaan smartphone di tangannya. Mulai dari dampak psikologis, kognitif, sampai perubahan sikap menjadi pribadi pasif dan agresif merupakan fenomena yang harus kita jaga-jaga gejalanya.

Seperti yang dituliskan AS. Laksana, sebenarnya anak-anak usia dini atau usia sekolah di Waldorf tidak benar-benar dijauhkan dari menggunakan smartphone, atau alat canggih semacamnya. Anak-anak di usia tertentu memang harus dijauhkan dari jangkauan penggunaan smartphone demi tumbuhkembangnya dimensi kejiwaan dan kognitifnya. Seperti sekolah di London Acorn, sebuah sekolah di Inggris yang mengatur penggunaan smartphone dan komputer sampai batas usia 16 tahun. Bahkan untuk menonton televisi harus melewati usia 12 tahun, itupun film dokumenter atau film yang diijinkan.

Sekarang, coba tengok di rumah Anda, apakah keadaannya nampak demikian?  Saya kira itu memang kebijakan yang lumayan ekstrim.

Tapi, menarik jika laporan yang ditulis AS. Laksana  itu dilihat kembali setelah 10 sampai 15 tahu ke depan. Apa perbedaan anak-anak yang baru mengenal smartphone di usia 18 tahun ke atas dengan anak-anak yang sedari kecil sudah lancar bersmartphone ria? Anda ingin mencobanya?
  
--

*Kutipan di ambil dari www.aslaksana.com

*Jika Anda tertarik lebih jauh tentang sekolah yang diulas AS. Laksana, silakan kunjungi waldorfpeninsula.org dan thelondonacornschool.co.uk

29 January 2017

Cultural Lag dan Kehidupan Bapak Tanpa Gadget

Saya kira bukan bapak saja yang kerap mengalami kegagapan ketika menggunakan handphonenya. Saya yakin banyak orang tua seperti bapak saya. Ibarat masyarakat terbelakang, bapak menjadi orang yang tak tahu apa-apa di hadapan teknologi masa kini.

Bapak menggunakan handphone merk Samsung. Perangkat itu bukan gawai smartphone seperti dipakai kebanyakan orang. Tapi, bapak sering kali kesulitan mengoperasikan handphonenya ketika, misalnya, ingin menyetel alarm, atau ingin menggunakan fasilitas short message.

Ketidaktahuan bapak ditengarai akibat menggunakan handphone yang tidak lagi sama dengan merk sebelumnya. Sebelumnya bapak menggunakan handphone merk Nokia. Imbas fitur dan cara pakai yang berbeda, membuat bapak semakin bingung menggunakannya.

Namun soal sebenarnya bukan akibat cara pakai yang berbeda, melainkan pengetahuan yang mendasarinya. Ini jauh lebih mendasar dibanding peralihan cara pakai dari dua merek yang berbeda.    
Saya seringkali kasihan melihat bapak yang kebingungan jika menghadapi masalah di atas. Tapi, saya juga merasa beruntung, bapak tidak mesti repot-repot disibukkan dengan segala kelebihan yang dimiliki handphonenya.

Itulah sebabnya, handphone hanya digunakan bapak untuk memanggil dan menerima telepon. Kadang kala jika sempat menulis sms. Itupun dengan sedikit perjuangan.

Akan lucu membayangkan jika bapak turut ikut perkembangan teknologi gawai yang serba baru itu. Bersama-sama jutaan pengguna lain beralih menggunakan smartphone berbasis layar sentuh. Dan kemudian, pengalaman baru yang dialami bersamaan dengan segala fitur dan aplikasi dari smartphone turut mengubah kebiasaan bapak.

Barangkali seperti praktik kebudayaan masyarakat kekinian, bapak ikut membuat akun media sosial, nimbrung berkomentar ria dalam puluhan grup whastup, atau berkali-kali selfie jika menemui kolega-koleganya di saat ada pertemuan. Namun semua itu tidak satu pun bapak alami, termasuk harus berkali-kali update status di media sosial semisal facebook.

Saya membayangkan betapa jauhnya jarak kemajuan antara pemahaman bapak dengan kecanggihan teknologi saat ini. Hal ini menjadi lebih rumit jika bapak diperhadapkan dengan kecanggihan smartphone era kekinian.

Di kasus ini bapak seperti orang yang disebut sebagai kelompok masyarakat yang mengalami cultural lag. Istilah ini mengacu kepada kesenjangan pengetahuan yang diakibatkan kemajuan unsur-unsur kebudayaan.

Melalui konteks pemikiran William F. Ogburn, cultural lag diakibatkan karena adanya hambatan yang dialami salah satu unsur kebudayaan dibanding kemajuan unsur kebudayaan yang lain. Dalam kasus ini kemajuan teknologi informasi tidak diiringi kemajuan sumber daya pemikiran yang menyertainya.

Kegagalan memahami teknologi, barangkali ditentukan sejauh mana pengalaman itu sendiri tumbuh di antara kemajuan teknologi. Kita akan sulit menemukan orang-orang pedalaman Kajang yang memahami cara menggunakan gadget dengan baik akibat pengalaman mereka yang tidak pernah menjumpai gadget itu sendiri, misalnya.

Itu sebabnya, betapa mudah menemukan anak-anak usia dini sudah mahir mengoperasikan gadget akibat betapa gampang pengalamannya bersentuhan dengan alat-alat canggih semacam itu.

25 January 2017

Menemukan Kembali Bahasa Indonesia

Mari memahami praktik berbahasa era kiwari tidak serta merta representasi kesadaran atas persatuan. Justru sebaliknya akibat cermin ketidaksadaran. Atau lebih berbahaya akibat false consciousness (pemahaman palsu). Atau mungkin trauma kelam masa lalu. Atau juga didorong rasa dendam, bahkan mungkin sentimentalisme sempit.

Artinya, bahasa selama ini bukan cermin ilmu pengetahuan. Malah bahasa percakapan yang dipraktikkan sehari-hari hanya cara manusia memanipulasi dirinya yang mengalami hambatan perkembangan kejiwaan.

Ibarat teori allegory of the cave-nya Platon, filsuf Yunani purba, kiwari hampir semua bahasa percakapan ditengarai gelapnya perangkap gua, bukan karena “cahaya” di luar gua. Imbasnya, bukan manusia yang “menyarangkan” bahasa lewat praktik pemaknaan, tapi manusialah yang ditawan bahasanya sendiri, bahasa samar dan gelap.

Itu sebabnya, manusia terhambat mengetahui kenyataan lewat bahasa temaram yang digunakannya. Kenyataan, hanyalah realitas palsu akibat tak terjamah terang bahasa.

Masih dalam ilustrasi allegory of the cave-nya Platon, manusia hanya bisa bebas jika dia keluar dari gelapnya gua. Meninggalkan bayangan palsu di tembok gua akibat tipuan api di belakangnya. Hanya berjalan ke luar dan mencandra matahari di luar gualah manusia mampu mengalami pencerahan bebas dari tipuan yang dialaminya selama ini.

Itu artinya, manusia harus meninggalkan seluruh praktik kehidupannya di dalam gua, termasuk bahasa. Manusia harus menggunakan bahasa percakapan yang tidak terdistorsi kegelapan sebagaimana ketika di dalam gua. Sang manusia harus menciptakan “bahasa baru”, bahasa yang lahir di bawah terang “mentari”. Hanya dengan itu manusia “dewasa”.

Tapi, “manusia dewasa” harus dahulu menyadari situasi dirinya ketika benar-benar ingin dewasa. Praktik berbahasa “manusia dewasa” harus bersih dari gangguan traumatik masa lalunya ketika masih berada di dalam kegelapan gua.

Psikoanalisa Sigmund Freud menyatakan, orang-orang yang ketika dewasa mengalami hambatan mental, dapat diterangkan dengan dua cara. Pertama, akibat tidak berkembang normalnya struktur kepribadian di masa kanak-kanak, dan yang kedua, disebabkan oleh trauma-trauma masa lalu.

Yang menarik menurut Freud, pengalaman traumatik masa lalu, dapat mendorong lahirnya sikap agresif ketika dewasa. Fenomena ini juga menerangkan, sikap agresif yang muncul dari praktik berbahasa ataupun tindakan, merupakan relasi langsung dari libido berupa insting kematian.

Insting kematian berbeda dari insting kehidupan. Menurut Freud, keberlangsungan interaksi manusia hanya bisa bertahan lama akibat insting kehidupan yang beroperasi melalui regenerasi dan reproduksi. Sementara insting kematian ditampakkan manusia melalui tindakan-tindakan agresif dan brutal yang mengancam kehidupan itu sendiri.

Keluar dari mulut gua

Ibarat mahluk gua, praktik berbahasa bangsa Indonesia sudah lama keluar dari gua kegelapan. Sumpah pemuda, misalnya, merupakan penanda perjuangan bangsa Indonesia merumuskan bahasa persatuannya. Ketika itu pemuda-pemudi merumuskan “bahasa baru” yang harus dipakai selain “bahasa gua penjajahan.” Dengan bahasa yang diterangi “matahari” kemerdekaan, bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang dewasa, bangsa bermartabat.

Bahasa kemerdekaan dipakai pasca keluar dari mulut gua penjajahan, bukan saja keinginan kuat keluar dari gua kegelapan penjajahan, melainkan meminjam istilah indonesais Benedict Anderson, karena suatu harapan yang dibayangkan bersama. Dengan harapan yang dibayangkan inilah bangsa Indonesia merumuskan dirinya sebagai komunitas merdeka melalui bahasa yang mencerminkan persatuan dan rasa persaudaraan sesama penduduk bangsa.

24 January 2017

Di Dalam Inang dan Kojeve Bermain Layang-Layang

Dikau mengerang, di pagi belum sampai
Di perutmu ditarik seutas tambang, kau berkata:
“Ada yang menarik tambang di dalamnya” menancapkannya kuat-kuat
dekat dari mulut inangmu
mengulurnya, ibarat layang-layang. Tapi, seketika ditarik, mencekik
ketika kau terbaring di dekat jendela yang menjadi lorong sinar di kedua bola matamu
kojeve

di hari Minggu, orang-orang berbaris, di meja makan
di tenda milik dua pasang berpakaian manik-manik, sambil mengunyah
kojeve, hanya membungkuk, lututnya ditekuk di dagunya mendongak
mukanya berpaling dari gua tempatnya beristirahat panjang
di malam hari, ketika orang pulang dengan perut yang mulai membuncit
belum sempat dikau membuka mata,
berencana menyebrangi ibumu mengerjang kakinya
menyimpan samak di punggung menanggung
aliran anak sungai di batang lututnya
rahimnya menganga

kojeve, sudah sampai kau sempat menerbangkan
seutas tali tambang layang-layang, kau sendiri menariknya
di liang ibumu sambil kau menaiki perahu kecil
tanpa pernah lama singgah
kau sudah banyak meneguk air inang
Ibumu, dikau sendiri sudah pergi
Kemudian singgah ke tanah lapang dengan baju yang lebih baru
menerbangkan layang-layang dengan tambang
yang kau gulungambil, yang sudah kau ikat
dari pusar ibumu

20 January 2017

Rasa Lapar dan Agresivitas Manusia

Tahun 1950, 32 orang menjadi subjek penelitian tentang pengaruh rasa lapar. Eksperimen ini dilakukan selama 6 bulan oleh Keys dan kawan-kawannya. Tujuannya demi melihat kepribadian seseorang ketika rasa lapar menghinggapi. Selama masa pengamatan, ternyata orang-orang yang dibiarkan mengalami rasa lapar banyak mengalami perubahan kepribadian berupa mudah gusar, sukar berbaur, dan tidak bisa berkonsentrasi.(1)

Yang mengejutkan, disebutkan selama mendekati akhir penelitian, perbincangan subjek banyak didominasi oleh makanan dari pada tema pembicaraan lainnya. Bahkan, di dalam mimpi, makanan menjadi bunga-bunga tidur yang paling dominan.

Memang kebutuhan biologis salah satu faktor yang paling banyak mendominasi perilaku manusia. Sama halnya kebutuhan terhadap seks dan lainnya, manusia banyak didorong kebutuhan biologisnya untuk menunjang aktivitasnya.

Kesimpulan sederhana yang bisa ditarik dari eksperimen di atas, manusia begitu gampang mengalami perubahan kepribadian jika dirinya mengalami hambatan dalam memenuhi kebutuhannya. Rasa lapar, misalnya, merupakan sebab utama mengapa orang mudah gusar dan sukar berkonsentrasi.

Bahkan, seluruh isi pembicaraan, sangat banyak dipengaruhi oleh kebutuhan pokok akibat tidak dapat dipenuhi. Seperti yang ditemukan dalam penelitian Keys, orang-orang yang mengalami rasa lapar, isi pembicaraannya banyak dipengaruhi makanan sebagai bahan perbincangannya.

Di arena filsafat, atau lebih tepat psikoanalisis, Sigmund Freud menyatakan semua ungkapan kebudayaan manusia pada hakikatnya merupakan representasi libido. Termasuk bahasa percakapan, merupakan arena libido untuk dapat disalurkan. Dalam bahasa selalu terjadi tegangan antara hukum-hukum, norma, dengan id yang menjadi faktor paling dominan dari kesadaran manusia.

Itu sebabnya, dalam bahasa percakapan, manusia sering kali mengalami keseleo lidah atau salah ucap akibat tarik-menariknya id yang liar dengan kebudayaan yang teratur. Dalam kasus ini, dapat dikatakan melalui bahasa percakapan, libido manusia seringkali menunjukkan dirinya di antara aturan logikal yang mengaturnya.

Yang menarik dari Freud, akibat id yang tidak dapat dibendung dan tidak dapat disalurkan dengan baik, maka dapat melahirkan rasa frustasi atau sikap agresif.  Sebagaimana air mendidih akan meluber kemana-mana jika tidak diberikan katup pengaman ketika mencapai suhu seratus derajat. Id, akibat menganut prinsip kesenangan, menurut Freud tidak serta merta dapat merasakan kepuasaan walaupun sudah menemukan objek hasratnya. Id, selama-lamanya tidak akan pernah terpuaskan.

***

Masa kekinian, hampir semua relasi antara komunitas dan kelompok masyarakat banyak mengalami tegangan akibat praktik interaksi yang timpang. Hubungan normatif yang diikat nilai bersama menjadi renggang disebabkan interaksi sosial bukan lagi diproduksi secara bersama, melainkan produk sempit kelompok-kelompok tertentu.

Praktik interaksi sosial tidak lagi didasarkan kepada fungsi rasionalitas yang mengedepankan solidaritas, melainkan lebih banyak didorong rasa sentimen yang berlebihan. Imbasnya relasi interaksi tidak lagi mencerminkan kecerdasan orang yang bersangkutan, tapi malah sebaliknya, justru menjadi cermin sikap agresif dan mudah gusar.

Frustasi dan agresivitas, belakangan, banyak ditemui dari praktik interaksi yang saling menyakiti. Ibarat kehilangan kendali, suasana patologis ini tidak tanggung-tanggung merusak kesantunan dan kesopanan yang selama ini menjadi modal sosial bersama.

Tidak mungkin dapat sepenuhnya dikatakan benar bahwa agresivitas dan rentannya rasa frustasi belakangan ini akibat rasa lapar yang menghinggapi tubuh masyarakat. Tapi sebagai suatu pembacaan sederhana, “rasa lapar” akibat banyaknya hambatan-hambatan yang tidak dapat dipenuhi, barangkali memang menjadi penyebab utama keagresifan dan kegusaran massal terjadi.

Rasa lapar dalam kategori yang lain memiliki banyak wujud. Dalam kancah politik, agresivitas menyakiti kelompok lain kemungkinan besar imbas rasa lapar terhadap kekuasaan. Kekuasaan dan jabatan seperti mesin hasrat yang tidak habis menciptakan dahaga berkepanjangan. Karena dorongan rasa lapar terhadap kekuasaan, jamak ditemukan dalam tubuh masyarakat, watak orang-orang seperti yang digambarkan Thomas Hobbes: homo homini lupus.

Dalam ranah budaya, agresivitas dan kegusaran imbas dari rasa lapar atas kesenjangan terhadap nilai budaya. Banyak orang-orang bersikap agresif akibat “kelaparan” yang disebabkan budaya konsumerisme. Imajinasi produk-produk yang dikonsumsi melalui simbol dan tanda tidak dapat memberikan efek apa-apa kecuali kerakusan dan sikap agresif membeli apa saja tanpa henti.

Di bidang hukum, fenomena saling lapor merupakan penggambaran rasa “lapar” terhadap keadilan yang tak kunjung datang. Semakin agresifnya hukum dijadikan senjata saling serang, adalah tanda agresivitas bukan saja penyakit psikologis yang semata-mata menyerang aspek psikis. Fakta saling tuduh, saling menyalahkan, saling melapor, merupakan sikap agresif yang memanfaatkan hukum positif sebagai tameng menutupi kesalahan-kesalahan yang diperbuat.

Sementara di tingkat yang lebih sublim, agresivitas yang jamak ditemui berkat terhambatnya dan semakin besarnya tekanan psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Semakin kuatnya tekanan hidup dan tidak dapat terpenuhinya id melalui saluran yang dibolehkan secara sosial, akhirnya ikut melipatgandakan sikap agresif yang tidak dapat dikendalikan.

Bukan saja itu, dalam praktik berbahasa, agresivitas banyak mengemuka dari kata-kata yang mengandung rasa amarah dan sentimen. Praktik berbahasa tidak lagi berjalan sebagaimana fungsi bahasa itu sendiri, yakni sebagai media kesalingpengertian, tapi justru menjadi alat pemecah solidaritas. Bahasa, di kekinian, tidak lebih jauh digunakan hanya untuk menyalurkan hasrat kelaparan atas dendam dan rasa benci.

Dalam praktik berbahasa, hoax, misalnya, adalah akibat dari hilangnya konsentrasi yang disebabkan rasa “lapar”. Kurangnya asupan informasi yang bergizi dan bermanfaat menjadi sebab rasa lapar dapat terjadi. Di sisi lain, merebaknya hoax, menandakan betapa besarnya kebutuhan masyarakat atas informasi yang sehat dan bermanfaat imbas rasa frustasi yang selama ini terjadi.

Hatta, dari fenomena di atas, nampaknya kita perlu melakukan penelitian sederhana, terutama bagi diri sendiri sebagai subjeknya: apakah semua yang kita lakukan merupakan pantulan dari rasa lapar? Jika iya, apa yang membuat kita merasa lapar? Kekuasaankah, nama baik, kekayaan, kemenangan, ketenaran? Seberapa dahagakah saya terhadap itu semua? Jika iya, pasti Anda mudah gusar dan berlaku agresif jika semua itu belum dapat Anda peroleh.

--


(1) Psikologi Komunikasi, Jalaluddin Rakhmat.

--

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

18 January 2017

Aku Petik Bawang di Keningmu

--untuk kinasihku, Lola

Aku di suatu sore kucium jemarimu, dihinggapi bau kulit bawang
Di antara menara masjid yang bersuara mendayu-dayu, langkahmu
Tanpa suara melingkari dapur sejak pagi
Mengolah rempah-rempah, tubuhmu bergeliat
Menumbuk-numbuk ulet batu cobek
Ibarat memahat batu prasasti dalam sejarah manusia-manusia
Dikau duduk mirip petapa, mematung di sekitar serei, lada, cabai, tanganmu
terampil mengitari lempengan oval hitam bekas ibu
Ketika kau rebah di atas tikar, jemarimu kulihat disinggahi kulit yang
Terbakar, melepuh, kau hanya mengeluh sembari mengacungkan tangan yang
tidak berhenti memejam mata ketika memeras pakaian kala dibasahi
deterjen…
di malam yang rebah sebentar lagi, kucium pipimu, di situ hinggap aroma ikan
seperti berputar berenang di antara biji delima yang tumbuh
kelak jika kau senyum, ikan-ikan di pipimu juga bakal kujerat mata pancingku
yang dari pagi tak lekas bosan duduk di bukit pipimu, menyiangi aroma ikan
di wajahmu kadang kulihat danau dan juga nelayan yang bergerak-gerak
mengikuti rambutmu yang hitam
di situ kuhirup juga bebauan sayur kemayur, seperti tumbuh di sela-sela keringat
yang membuatmu sering aku peluk
bila malam datang sudah, kau lekas mandi tapi tidak hilang bau bawang
jari-jarimu masih luka, yang kadang di situ kucium bebauan minyak merek tawon
seperti sudah terjadi perang di tanganmu, penuh bekas irisan, juga ledakan
namun sungguh semua itu membuat aku tidak bosan, memetik sayur dari tanganmu
mencium ikan di pipimu, yang terus berenang dan tidak berhenti
di hidungmu kuhirup bau sambal yang kau bikin dengan sungai kasih sayang
hingga di keningmu tak sudi aku pergi darinya, di situ aku dibuat tenggelam
oleh tungku bekas pembakaran
aroma seorang perempuan yang pulang
perang
tanpa suara

15 January 2017

Platon dan Dunia Tanpa Cacat

Barangkali teori adalah paras terbalik dari kehidupan nyata. Ibarat paralax, pantulannya berkebalikan dari objek sebenarnya. Dan begitulah Platon. Paras teorinya adalah hasil sublimasi kehidupan masyarakatnya yang dirundung masalah.

Platon hidup di masa perang dan huru-hara politik yang lebih parah dari zaman Heraclitus. Sebelum Platon lahir, Athena adalah kota yang baru saja keluar dari gua tribalisme. Tapi juga itu masa-masa yang penuh tirani. Athena akhirnya jadi kota yang terkatung-katung di antara oligarki dan penegakkan demokrasi. 

Athena yang gundah juga kota yang mengalami perang berkepanjangan dengan Sparta, negara-kota yang masih menganut tribalisme aristokrasi kuno. Selama dua puluh delapan tahun perang berkecamuk, membuat masyarakat tercabik-cabik. Perang Pelopponesus itu akhirnya membuat Athena menjadi pihak pesakitan. Ketika perang itu berakhir, Platon muda berumur 24 tahun. 

Imbas perang, Platon muda tumbuh di situasi yang koyak. Ikatan kekerabatan warga kota mengalami hambatan. Masyarakat korban perang dihinggapi epidemi, putus ada, dan juga kelaparan berkepanjangan. Dan di situasi yang serba runyam itu, Athena berada di bawah kekuatan totaliter pemerintahan rezim Tiga Puluh Tirani yang dipimpin Critias dan Charmides, dua paman Platon. 

Critias dan Charmides dua paman dari pihak ibu Platon. Seperti Heraclitus, Platon sesungguhnya keturunan bangsawan. Di nadinya mengandung darah raja-raja. Ayahnya keturunan Codrus, raja tribal terakhir dari Attica. Seperti kebiasan masyarakat bangsawan yang mengklaim diri sebagai keturunan raja-raja, Platon sering kali membangga-banggakan itrahnya. 

Di antara dua tradisi inilah Platon menyadur pikiran-pikiran Filosofisnya. Melalui masyarakat yang tidak stabil, putus asa, dan gamang, Platon membaca gejala-gejala perubahan sosial. Dari sini kelak Platon menemukan suatu hukum kekal yang mengatur baik di benda-benda sampai ke tingkat yang lebih kompleks, masyarakat.

Sementara dari itrah raja-raja keturunan bangsawan, Platon menemukan dasar kebanggaannya ketika merumuskan stratifikasi filsuf sebagai satu-satunya puncak kelas masyarakat yang memiliki kualifikasi di atas manusia budak. 

Akhirnya Platon meringkas pengalaman mudanya atas situasi masyarakat yang diluluhlantakkan kecamuk perang; putus asa; ketidakpastian; kepada satu rumusan: hukum perkembangan masyarakat. 

Seperti filsuf sebelumnya, Platon meneruskan suatu hasrat filosofis tentang "suatu realitas yang tak berkesudahan" sebagai suatu bagian arus sejarah yang Platon sebutkan akan dihinggapi pembusukan, kekacauan, dan degenerasi.

Itu artinya, masyarakat yang bergerak akibat diombang-ambing perubahan yang tidak menentu tiada lain pada akhirnya akan mengalami pembusukan, berakhir dengan begitu saja. Masyarakat di situasi itu ibarat organisme yang bakal mengalami kesakitan imbas ketegangan di dalamnya, dan setelah itu akan mati menemukan dirinya penuh kekacauan. 

Begitulah imajinasi Platon ihwal perkembangan masyarakat yang akhirnya dia generalkan ke segala yang ada. Hukum sejarah Platon ini mengandaikan bekerjanya hukum kosmik, yang mengikat seluruh mahluk, seluruh benda-benda. Semua benda yang berubah, semua yang bergerak yang berkembang, dinasibkan membusuk.

Platon percaya, pembusukan yang kerap berlaku bagi benda-benda, adalah juga prinsip yang sama bagi moral manusia. Itu artinya, dalam masyarakat yang koyak dan patologis, dengan sendirinya akan mengalami pembusukkan moral. Bagi Platon, hukum pembusukkan ini bekerja atas dasar manifestasi hukum kosmik di antara urusan-urusan manusia. 

Tapi masyarakat yang membusuk bakal gagal jika ada kemauan moral yang kuat. Takdir sejarah dapat dibelokkan dengan kekuatan akal manusia. 

Sebagaimana alam bermusim, setelah pembusukkan terbit juga titik balik. Tidak jelas bagaimana cara Platon meyakini, tapi ketika pembusukan moral dan politik terjadi hukum kosmik akan termanifestasikan dengan munculnya figur-figur terpilih yang disebut penguasa yang agung untuk menjadi pemimpin. Ibarat sang mesiah, dengan kekuatan moral baru dan kekuatan akal sang penguasa agung itu akan mengakhiri pembusukan moral dan politik yang berlangsung.

Ibarat aliran sungai, keyakinan Platon merupakan hilir sungai yang tidak terpisah dari induk sungainya. Keyakinan atas hukum perkembangan sejarah merupakan paras lama dengan polesan yang lebih halus. Sebagaimana zaman mitologi yang mengerahkan perhatian kepada suatu masa gemilang akhir sejarah, pikiran Platon juga ikut dibayang-bayangi imajinasi serupa. 

Itu sebabnya, dibayang-bayangi akhir sejarah masyarakat yang gemilang, perlu ada suatu wadah yang dipimpin seseorang yang memiliki kekuatan intelek yang kuat. Wadah itu akhirnya kemudian disebut negara yang bebas dari segala pembusukan, suatu negara yang tidak berubah. Negara paripurna. 

Itu berarti negara paripurna adalah negara yang bebas dari unsur-unsur perpecahan. Negara yang bersih dari dimensi-dimensi keburukan. Atau dengan kata lain negara terbaik dari yang terbaik. 

Tapi, bagaimana itu mungkin? Membayangkan negara yang tanpa cela, tanpa cacat?

Salah satu kemungkinannya adalah tentu dari teori forma atau ide yang menjadi pokok filsafat Platon. 

Melalui teori forma inilah Platon membangun pemahaman bahwa di antara benda-benda yang membusuk, di sana juga mengandung ketetapan atas sesuatu yang sempurna. Ketetapan yang sempurna ini bersifat abadi, kekal selama-lamanya. 

Masyarakat yang dialiri perkembangan sejarah tertentu dengan begitu hanya bisa dimungkinkan mengalami stabilitas yang mapan jika dibangun atas forma negara ideal. 

Kemungkinan sejarah itu menurut Platon merupakan kepastian apabila diikuti syarat-syarat politik berupa negara yang dipimpin suatu agen sejarah yang ideal. Melalui itulah sejarah perkembangan masyarakat dibikin atas kekuatan intelek yang kokoh. Dengan melalui itu, hukum besi sejarah yang mengarah kepada pembusukan dapat dicegah dengan mengajukan perbaikan-perbaikan rasional. 

Perbaikan rasional hanya bisa terjadi jika manusia memahami dirinya melalui forma yang ideal. Bukan melalui pembusukan yang dilanda perubahan. Juga bukan lewat bayangan-bayangan yang memalsukan keadaan. Di sinilah teori allegori of the cave yang terkenal dari Platon mengilustrasikan, di dalam gua tiada apa-apa selain dunia tiruan. Semua yang dipandang dari api di belakang sang manusia hanyalah bayang-bayang semu. Keluarlah dari gua, menuju matahari yang sesungguhnya.

Sampai di sini, konon filsafat Platon adalah imbas putus asa dari situasi yang tidak menentu. Itulah sebabnya Platon merumuskan ketetapan-ketetapan melalui ide tentang forma. Suatu bentuk  yang pasti dan tak berubah. 

Ibarat di depan cermin, tiada yang mampu menghilangkan bayangan dirinya sendiri. Pikiran, atau apapun bentuknya, sesungguhnya merupakan pantulan objek-objek yang disaksikan, dan bukan berasal dari mana-mana.

Namun, bagaimanakah jika itu berasal dari dunia yang tidak terbayangkan sebelumnya? Suatu realitas yang tidak tersentuh ruang dan waktu? Dunia yang disebut Platon sebagai dunia idea. Tempat seluruh forma menjadi arkhetype.

Platon memang tidak memberikan keterangan bagaimana dunia idea dapat dibuktikan. Toh jika mungkin, forma-forma abadi yang diisyaratkan sebagai induk segala bentuk-bentuk di alam kongkrit, tidak dengan sendirinya menjelaskan suatu alam murni yang menjadikan semua itu dapat dimungkinkan. Itu artinya, suatu dunia yang disebut kekal dan abadi hanya semata-mata pengandaian untuk menjelaskan teori formanya.

Akibat forma ide yang dinyatakan Platon sebagai satu-satunya realitas, dengan otomatis mengandung implikasi-impliakasi totalitarian. Forma sebagai realitas universal yang mengatasi penampakan wujud material, juga akan tampak ketika negara di mata Platon sebagai satu-satunya medium yang mengatasi manusia beserta masyarakatnya.

Sudah disebutkan dari awal, masyarakat yang mengalami pembusukan hanya bisa diselamatkan dengan kehadiran negara paripurna yang tidak mengandung perubahan. Absolutisme inilah yang akan terang, bahwa satu-satunya figur yang mampu mengimplementasikannya hanya sang filsuf sebagai raja.

Ibarat raja-raja sebelumnya dari trah sang ayah, Platon meneruskan sentimen tradisi kebangsawanannya dengan mengartikan bahwa hanya filsuflah seorang yang layak memimpin negara. Dengan merelatifkannya kelas-kelas masyarakat di bawahnya,sang filsuf satu-satunya kelas elit yang paling layak berbicara perubahan atas nama negara.

Syahdan, jika memang ide-ide Platon merupakan pantulan terbalik dari cermin masyarakatnya, maka itu didasarkan atas dua hal. Pertama akibat trauma kehidupan masa mudanya yang tidak menemukan suatu keadaan masyarakat yang stabil dan mapan. Dan yang kedua, akibat tradisi kebesaran kebangsawanannya yang memberikan pengertian sedikit berbeda bahwa filsuflah yang paling layak mewakili kelas masyarakat dalam hal kepemimpinan. Itu artinya, kekuatan akal yang menjadi kaualifikasi seorang filsuf, hanyalah bentuk lain dari ikatan darah atau trah kebangsawanan yang hanya dimiliki dari orang-orang tertentu.

Jika demikian, siapakah sesungguhnya yang mampu mengubah sejarah? 


12 January 2017

Tujuh Literasi yang Bertahan dan Hanya Berakhir Menjadi Bukan Apa-Apa

Sepanjang 2016 kita banyak menemukan esai, artikel, cerpen, opini, puisi, dlsb., dari penulis-penulis hebat yang betebaran melalui media cetak maupun online. Dalam bentuk majalah, buku, koran, dan makalah, tulisan apik itu banyak membuka wawasan kita tentang apa saja. Dari mereka (sebut nama penulis yang Anda sukai di sini), kita banyak belajar mulai dari gagasan, cara pandang, sikap, perasaan, bahkan sampai cara mereka menuliskan itu semua.

Saya meyakini di belakang karya tulis mereka, banyak draf tulisan berupa catatan, ide lepas, daftar ide, atau gagasan sederhana yang masih mentah yang belum sempat disempurnakan menjadi karya utuh. Terkadang catatan itu disimpan dan dituliskan kembali di kemudian hari, atau malah sebaliknya hilang tertumpuk di antara rancangan tulisan-tulisan lainnya.

Di bawah ini tujuh daftar draf tulisan saya sepanjang 2016 yang bertahan dan tersimpan begitu saja tanpa pernah diselesaikan seperti karya tulis lainnya.

Pertama, Aku dan Tubuh yang Tua. Karya ini tidak setua judulnya. Frase tubuh yang tua mungkin saja menyiratkan waktu penanggalan yang cukup panjang, sampai akhirnya hilang di lipatan-lipatan ingatan. Ibarat seorang kakek renta yang kehilangan ingatan tentang usianya. Aku dan Tubuh yang Tua pertama kali dituliskan sekitar tanggal 13 November 2015.

Pertama kali karya ini dikerjakan, dimulai dari ide sederhana tentang organ vital yang kehilangan fungsi-fungsi biologisnya.  Seiring dengan tubuh seseorang yang beranjak uzur, organ vital ini juga ikut mengalami ancaman berupa kematian yang semakin dekat. Akibat semakin tua, organ ini pelan-pelan mati bersama tubuh seseorang tempatnya berada. Begitulah, tulisan ini diniatkan.

Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, cerpen ini ingin menarasikan perasaan dan segala peristiwa yang dialami “sang organ” ketika menghadapi hari-hari akhir dan pasca kematian. Dengan meminjam tekhnik stream of consciousness-nya Fyodor Dostoyevsky, cerpen ini dimulai dari “sang organ” yang bercerita tentang dirinya sebagai bagian awal penceritaan.

Tapi apa boleh buat, karya ini tidak bernasib baik. Takdirnya tidak pernah selesai sebelum paragraf kedua. Sekarang saya baru menyadari, tehknik arus kesadaran bukan praktik penulisan yang sama dengan cara menulis pada umumnya.

Seperti bahasa umumnya, di dalam teknik arus kesadaran tergolong dua jenis bahasa. Pertama, bahasa sebelum percakapan (prespeech level). Bahasa ini kesadaran di dalam benak seseorang berupa perasaan, pikiran, prasangka, motivasi dlsb., sebelum diucapkan. Karena sebelum diucapkan, bahasa praucapan bersifat tidak terstruktur, meloncat-loncat, spontanik, dan tidak berdasarkan hukum logis rasional dan dasar-dasar berkomunikasi. Ini seperti celotehan sebelum hukum pikiran berkerja.

Sementara kedua, disebut bahasa saat pengucapan (speech level) yang diatur logika, direncanakan, dan berdasarkan dasar-dasar berkomunikasi. Berkebalikan dari bahasa sebelum percakapan, bahasa level pengucapan merupakan bahasa yang mampu membangun dialog dengan lawan bicara akibat sifatnya yang terbahasakan.

Saya meyakini tehnik penulisan arus kesadaran harus melibatkan kesadaran yang intens. Mentautkan kesadaran kepada seluruh situasi yang melingkupinya. Bahkan bukan saja objek-objek atau pengalaman yang sedang dirasakan, tapi juga peristiwa masa lalu yang dapat membangkitkan kenangan, sensasi, perasaan, dan memori. Melalui semua itu, narasi akhirnya diceritakan dengan berpusat pada “sang aku” sebagai tokoh utamanya.

Akibat sifatnya yang cenderung psikologis dan eksistensialis, dan sifatnya yang spontanik, cerpen saya ini berakhir begitu saja. Tanpa bisa diteruskan sampai paragraf terakhir.

Menyibak yang Akrab dari Obrolan Sederhana Puthut EA, adalah karya kedua yang sebenarnya tinggal ditutup dengan paragraf pamungkas di bagian akhir. Namun akibat dikerjakan bersamaan dengan “keributan” kawan-kawan PB saat itu, tulisan ini berhenti tanpa menyisakan semangat melanjutkannya kembali.

Motivasi tulisan ini diambil dari buku kumpulan cerpen Puthut EA, “Melihat Bebek Mati di Pinggir Kali”, terkhusus mengenai cerpen yang menceritakan dua orang tetangga penghuni vila yang tidak saling mengenal. Akibat hujan yang tiba-tiba jatuh, membuat mereka dapat mengobrol di teras vila setelah salah satu di antaranya terjebak hujan pasca membeli rokok. Kira-kira begitu yang saya ingat narasi cerpen berjudul Obrolan Sederhana itu.


11 January 2017

Agama Layar Kaca dan Kebimbangan Massal Abad 21

Era kiwari, hampir semua kenyataan yang ditangkap diperantai layar kaca. Fenomena ini merupakan perjalanan panjang cara masyarakat mencandrai realitas sekitarnya. Dimulai dengan pancaindera, teleskop, mikroskop, kertas, dan akhirnya layar kaca, perangkat-perangkat yang memperpanjang “tubuh-indera” masyarakat memahami kehidupan. Bahkan mutakhir, layar kaca berubah jauh lebih efektif dan efisien dalam wujudnya yang paling baru: screen smartphone.

Berubahnya wujud layar kaca juga menandai peralihan cara masyarakat berinteraksi. Melalui layar kaca televisi, model interaksi masyarakat hanya bersifat satu arah, monoton, dan pasif. Namun, melalui screen smartphone (dengan basis internet), interaksi terjadi bersifat dua arah, kompleks, dan aktif.

Perubahan ini pada akhirnya membuat cara interaksi masyarakat menjadi jauh lebih revolusioner. Akibat bersifat dua arah, masyarakat tidak lagi sekadar konsumen, melainkan turut ikut menjadi produsen informasi. Posisi masyarakat demikian membuat komunikasi jauh lebih interaktif. Belakangan, screen smartphone berubah bukan sekadar layar kaca yang merepresentasekan segala informasi, tapi dunia itu sendiri.

Dunia layar kaca

Yasraf Amir Pilliang dalam Dunia yang Dilipat, menandai peralihan masyarakat industri menuju masyarakat pascaindustri dengan tumbuhnya generasi masyarakat yang berinteraksi atas basis screen. Kemajuan teknologi yang begitu cepat telah mengambil fungsi masyarakat sebagai entitas pertukaran interaksi dan komunikasi menjadi hubungan yang dimediasi layar.

Artinya, di dalam menunjang aktivitas sehari-hari, layar menjadi penting. Tanpa layar, kehidupan interaktif masyarakat akan berhenti total. Apalagi, di saat yang bersamaan layar tidak mandiri menjadi alat yang terpisah dari jaringan network berbasis virtual. Kebutuhan terhadap dua hal ini secara organik telah aplikatif di dalam kerja-kerja produktif masyarakat.

Dalam konteks masyarakat informatif, layar ikut menunjang bergesernya paradigma masyarakat terhadap kebutuhannya dalam menemukan informasi. Kemampuan adaptatif layar yang lebih portabel dibanding kertas koran ataupun majalah (dan juga televisi dan radio), membuat layar satu-satunya pilihan utama untuk merepresentasikan beragam kejadian di sekitar kita.

Melalui layar sebagai kekuatan besar perwakilan dunia, membuat segala hal harus diwakilkan melalui layar kaca. Ini akhirnya membuat kenyataan nampak jauh lebih mudah sekaligus rumit. Salah satu penyebab hal ini karena layar kaca bukan lagi sekadar screen yang membingkai kenyataan, tapi ikut mengubah, bahkan membuat dunia baru yang jauh berbeda dan lebih kompleks.

Akibatnya, pengambilalihan realitas oleh layar kaca, membalikkan persepsi layar kaca sebagai dunia. Peralihan realiti kongkrit menjadi dunia layar kaca adalah ciri-ciri pergeseran makna ontologis yang menempatkan layar kaca sebagai satu-satunya realiti dunia itu sendiri.

Manipulasi layar kaca

Layar dalam media komunikasi telah menjadi realitas yang mengamputasi dunia sebenarnya. Reality (gambar, foto, sinema, bahasa, meme, logo) yang direpresentasikan dalam layar merupakan jalinan penandaan dan simbol-simbol yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Melalui jalinan simbol inilah dunia direpresentasikan yang mengubah basis kenyataan. Dengan cara ini pula, hubungan ekonomi, konsumsi, politik, kebudayaan, dan pengetahuan dibangun dan direpresentasikan.

Kompleksnya jaringan penandaan dan simbol di dalam layar kaca, tidak serta merta membuat pemahaman jauh lebih mudah. Terkadang tidak ada hubungan pemaknaan antara penanda dan yang ditandakan, antara simbol dan yang disimbolkan, sehingga membuat relasi keduanya nampak membingungkan. Ibarat penandaan yang dinyatakan dalam simbol dunia sinema yang terkadang tidak dapat dirujuk di dalam alam kenyataan sesungguhnya.

Kebingungan terhadap sistem penandaan dan simbol, dinyatakan Baudrillard sebagai biang dari simulakrum. Simulakrum dalam pernyataan Baudrillard ibarat dunia fantasi yang kehilangan hubungan pemaknaan dari dunia sebenarnya. Kemampuan simulakrum yang dapat memfantasikan kenyataan, juga sekaligus mampu menghilangkan representasi dunia dengan menghadirkan dunia baru berupa dunia imajinatif dan maya.  

Bentuk kongkrit simulakrum seperti ditunjukkan maraknya iklan yang mereprentasikan dunia imajinatif dan fantasi melalui keberadaan produk. Simbol produk iklan beserta dengan jalinan cerita di dalamnya, hanyalah penampakan simbolikum yang memalsukan kenyataan. Sistem simbol dan jalinan penandaan di dalam iklan akhirnya bukan merujuk kepada dunia di luarnya, melainkan dunia fantasi dan imajinasi yang diciptakannya sendiri.

10 January 2017

Harmoni Daun Mangga

Daun mangga bergoyang-goyang diterpa angin
Bergesekan dengan daun di sebelahnya
Tapi bukan seperti suara yang pekak di gendang telinga
Suaranya lebih mirip suara ombak tapi tanpa gelembung-gelembung

Dahannya kuat menghujam di pokok batang
Biar angin bertubi-tubi datang tidak gentar
Justru tidak akan tumbang selain tembang suara yang
ibarat bisikan yang dibawa angin, tapi tanpa buih seperti gelombang

suara gesekan daun mangga mendayu-dayu di antara suara menara-menara masjid
membuat harmoni alam di antara bunyi-bunyian pasir yang ditiup angin
pasir pokok pasti bertahan diterpa angin, yang tak kuat menahan pergi disebut debu
daun mangga masih bergoyang kuat pokok dihujam batang

Hai orang-orang, jadilah seperti daun mangga
Tetap kokoh ditiup angin bertubi-tubi sampai hari berganti hari
Daunnya mengeluarkan suara harmoni dari gesekan di antaranya
Bukan bunyi-bunyi yang memekakkan daun telinga

Panggilan azan telah datang, suara daun mangga berhenti ketika angin padam
datanglah dengan kasih, melalui hati yang mengujam pokok
biarlah benci disapu pergi masa diterpa hari hilang disebut kearifan
seperti daun mangga bersama suara gesekannya, meninggalkan harmoni 
sampai di batang pokok 

06 January 2017

Relasi Panjang Ekor Kadal dengan Intoleransi Masyarakat Sekitar Garis Khatulistiwa (Studi Kasus Masyarakat Peternak Kambing)


Saya ingin di suatu waktu dapat meneliti setiap pengunjung warkop dalam hubungannya dengan aktivitas mereka di dunia maya. Atau, meneliti anak-anak muda era kiwari seberapa sering mereka datang berkunjung di pusat-pusat perbelanjaan. Atau, meneliti faktor-faktor apa saja yang menyebabkan mengapa masih banyak anak-anak muda jarang mengunjungi perpustakaan. Atau, jika memang memiliki kesempatan dan modal waktu yang cukup, saya juga ingin meneliti bagaimana pandangan rektor-rektor kampus di Makassar tentang minimnya penelitian di kalangan tenaga pengajar mereka.

Pada kasus yang pertama, yang membuat saya ingin melakukannya karena, pertama, saya memang sedikit rajin datang ke warkop. Kedua, warkop tempat saya sering mangkal tidak dapat untuk dikatakan sepi pengunjung. Ketiga, dari amatan sederhana saya, banyak di antara mereka sangat betah duduk berlama-lama ketika berselancar di dunia maya.

Dua alasan pertama di atas akan menjadi modal berharga dalam melakukan penelitian. Itu akan memudahkan saya ketika berada di lapangan. Dua alasan ini akan membuat saya mengetahui sedikit banyaknya suasana dan latar belakang tempat saya mencari informasi. Intinya, saya tidak akan menemukan kesulitan berarti ketika sudah berada di lapangan. Tapi, dari semua alasan itu, alasan ketigalah yang membuat saya tergerak untuk meneliti. Saya penasaran.

Jika dibuatkan pertanyaan sederhana tentang aktifitas berselancar mereka di dunia maya, pertama adalah, apa yang mendorong mereka datang ke warkop bersangkutan? (tentu warkop yang saya maksud adalah warkop yang sama dengan warkop yang sering saya kunjungi) Kedua, seberapa seringkah mereka mengunjungi warkop bersangkutan? Jika mereka rajin datang ke warkop yang sama (sebelumnya akan saya tentukan indikator rajin secara kuantitatif seperti yang diajarkan dalam metode penelitian kuantitatif), maka pertanyaan saya selanjutnya yakni, dalam waktu kapankah kunjungan itu dilakukan? Jika misalnya jawaban mereka terbagi dua, yaitu di waktu malam dan atau siang hari, maka pertanyaan lanjutannya tentu adalah “mengapa kunjungan Anda ke warkop di saat waktu malam dan atau siang hari? Tidak adakah waktu lain?” kemudian pertanyaan lainnya, “dalam rangka apakah Anda datang ke warkop di waktu yang sering Anda lakukan?” Seterusnya, seterusnya, dan seterusnya.

Pertanyaan saya tentu akan panjang tergantung apa persoalan yang akan saya ketahui. Tapi untuk kasus saya yang pertama ini adalah dalam rangka mengetahui aktivitas apa sajakah yang mereka lakukan di dunia maya? Apakah kegiatan itu bersifat rekreatif, edukatif, ataukah komunikatif? Tiga terma ini tentu akan saya urai sebelumnya tentang apa yang saya maksud sebagai aktifitas rekreatif, edukatif, dan komunikatif. Dan, dalam pikiran saya mengenai tiga aktifitas ini, pertanyaan saya juga akan berhubungan dengan situs-situs apa saja yang sering mereka kunjungi.

Saya ambil contoh yang dimaksud dengan aktifitas rekreatif, misalnya, adalah tindakan berselancar di dunia maya yang digunakan mengunjungi situs-situs, semisal youtube, situs film, ataupun hiburan lainnya. Indikator ini juga bisa diperluas dengan menetapkan terlebih dahulu yang dimaksud dengan aktivitas rekreatif adalah aktivitas yang bertujuan hanya untuk hiburan semata. Atau aktivitas berselancar ketika hanya ingin bersenang-senang di waktu senggang.

Jika Anda peneliti yang baik, pasti Anda akan jeli menetapkan apa yang dimaksud dengan tiga terma kunci di atas. Tanpa kejelasan tiga istilah kunci di atas, penelitian Anda akan susah menemukan hasilnya.

Tapi, sebelum Anda membuat sejumlah pertanyaan semisal “seberapa seringkah Anda mengunjungi situs-situs orang dewasa?” pastikan sebelumnya Anda sudah menetapkan siapa yang akan Anda ambil keterangannya sebagai sumber informasi atau subjek penelitian. Misalnya ketika Anda ingin meneliti kasus dengan judul penelitian “Hubungan Panjang Ekor Kadal dengan Intoleransi di Masyarakat Sekitar Garis Khatulistiwa” maka Anda sudah harus tahu kepada siapa daftar pertanyaan Anda akan diajukan. Untuk penelitian kualitatif misalnya, cara menyaring siapa yang bakal menjadi calon informan Anda, ditentukan sebelumnya dengan kriteria informan yang sudah Anda siapkan. Biasanya ini dikenal dengan istilah inklusi dan eksklusi.

Kembali di kasus saya yang pertama, pengunjung warkop yang saya maksudkan adalah orang-orang yang dalam waktu tiga kali sebulan mengunjungi warkop yang sama. Kemudian, mereka bejenis kelamin pria dan wanita (tentu ini sudah menjadi aturan main yang sering sekali ditulis sebagai kriteria informan), berumur 19 tahun ke atas, mengetahui dan memahami penggunaan laptop atau gadget, memiliki akun dunia maya (semisal facebook atau sejenisnya), berselancar selama minimal dua jam setiap kunjungannya, mau memberikan informasi tanpa ada paksaan, dan bersedia menandatangani surat persetujuan penelitian.

Kriteria informan di atas dengan sendirinya akan menetapkan kriteria sebaliknya mengenai orang-orang yang tidak layak saya jadikan informan dan saya ambil keterangannya. Jika ini tidak terdefenisikan dengan jelas, secara metodelogi penelitian saya ini dinyatakan gagal.

Saya menduga jawaban yang paling umum saya temukan adalah, untuk pertanyaan semisal “pada waktu kapan Anda berkunjung ke Warkop bersangkutan?” adalah malam hari.  Ketika diajukan pertanyaan “apa yang membuat Anda berkunjung di waktu malam hari, apa menariknya untuk Anda?” barangkali informan saya akan menjawab begini: “sebenarnya saya juga ingin datang selain malam hari, misalnya jika hari libur akan saya gunakan waktu sore. Tapi, kan saya seorang mahasiswa, hampir semua waktu saya gunakan di dalam kampus. Saya kuliah. Hampir setiap hari hingg sore” atau “Saya hanya punya waktu luang di malam hari, apalagi jika di pagi hari saya bekerja. Sebelum saya pulang ke rumah, akibat di dekat rumah ada warkop, maka saya sering singgah untuk sekalian beristirahat. Di rumah anak saya sering kali rewel. Bikin pusing.” Atau beragam kemungkinan jawaban lainnya.

Jawaban akan semakin menarik jika, misalnya, aktivitas berselancar informan saya ternyata lebih banyak digunakan untuk aktifitas komunikasi dan rekreasi, misalnya. Tentu kemungkinan besar pertanyaan-pertanyaan saya akan berputar sekitar media sosial apa yang digunakan saat Anda berkomunikasi? Apa yang membuat Anda menyenangi media sosial (Fb, misalnya) sebagai media berkomunikasi? Dengan siapa saja Anda bersedia berkomunikasi? Apa yang Anda sering omongkan? Pentingkah yang Anda omongkan itu? Tertarikkah Anda chattingan dengan orang yang baru Anda kenal? Mengapa Anda lebih tertarik chattingan dengan lawan jenis? Dan sebagainya, dan seterusnya.

04 January 2017

Neurosis dan Praktik-Praktik Berbahasa

Setelah membaca sedikit tulisan Menuju Masyarakat Komunikatif-nya F. Budi Hardiman, terbersit dalam benak saya, tanpa dihubungkan kekuatan di luar kesadaran manusia, semua apa yang kita omongkan, ataupun yang sering dituliskan (juga yang sering diperbuat) bisa jadi merupakan hasil dari “sensor diri”. Maksudnya, jangan-jangan hampir semua praktik berbahasa dan tindakan kita merupakan imbas dari penyakit yang tidak kita duga-duga: neurosis.

Pengertian ini memang agak melenceng dari yang dibilangkan F. Budi Hardiman mengenai konsep “sensor”, dan di mana konsep itu diberlakukan. Konsep sensor itu sendiri sebenarnya diambil dari pemikiran Sigmund Freud dalam menerangkan pengalaman mimpi yang dialami pengidap neurosis. 

Budi Hardiman menjelaskan, mimpi yang kerap menjadi “dunia pelarian” bagi harapan-harapan yang tidak terealisasi di alam praksis, selalu terbentuk dan terdistorsi oleh mekanisme “sensor” dan “resistensi.” Imbasnya, mimpi tidak akan sepenuhnya dapat terpahami dengan baik akibat dua mekanisme sebelumnya.

Distorsi mimpi akibat sensor diri menghendaki agar “sesuatu” tetap dapat tersimpan tanpa bisa disampaikan. Prinsip sensor ini bekerja dengan mengikutkan “resistensi” sebagai mekanisme lain yang sama-sama hadir saat bahasa itu diutarakan. Sehingga jika dorongan diri begitu kuat ingin menyampaikan sesuatu, justru yang disampaikan hanya berupa kepingan-kepingan bahasa yang samar dan gelap. 

Cara yang ditempuh dua mekanisme di atas menggunakan bahasa berupa simbol, metafor, alegori, dlsb., untuk menyembunyikan maksud sebenarnya dari pengalaman mimpi. Dengan kata lain, melalui bahasa simbolik, metafor, dan alegoris, “sensor” dan “resistensi” menjalankan kerja-kerjanya menyembunyikan maksud sebenarnya di balik mimpi yang dialami.

Yang menarik dari konsep ini, seperti yang dituliskan Budi F. Hardiman, sensor dan resistensi merupakan gejala yang dialami tanpa pernah diketahui pelakunya. Ini mirip dengan “kesadaran palsu” Marx yang menandai hilangnya kesadaran kritis akibat tatanan kekuasaan ideologis yang menipu. Hanya saja dalam kasus ini, situasi yang dialami pelaku bukan terjadi akibat kekuatan eksternalitas yang mempengaruhi dan menentukan kesadaran dari luar. Bagi pengidap neurosis, keadaan alienatif terjadi akibat pelaku itu sendiri sebagai penyebab tunggalnya. Budi F. Hardiman menyebut peristiwa ini sebagai “penipuan diri”.

Karakter "penipuan diri" dan kesadaran palsu-nya Marx berbeda dilihat dari tingkat ilutif dan halusinatifnya. Penipuan diri jauh lebih mengerikan tinimbang kesadaran palsu. Perbedaan itu akibat sebab musabab dari mana sumber penipuan itu terjadi. Jika kesadaran palsu-nya Marx berasal dari tatanan borjuis yang mengintrodusir pemahaman keliru tentang realitas dari luar kesadaran, maka dalam "penipuan diri," yang menjadi sumber pemahaman keliru tiada lain --seperti yang disebutkan--berasal dari  dalam "kesadaran" itu sendiri. 

Sehingga, metode pembebasan dalam kasus kesadaran palsunya-nya Marx "cukup" dengan merubuhkan tatanan borjuis yang eksis dan bekerja di luar kesadaran. Artinya, itu dapat dimungkinkan karena "agen pembebas" mengalami penjarakan langsung dengan asal-usul penindasannya. Akibat adanya jarak inilah yang membuka ruang lahirnya kesadaran baru untuk keluar dari situasinya yang alienatif.  

Sementara untuk kasus penipuan diri jauh lebih sulit akibat tingkatan ilutifnya. Bagaimana metode pembebasan itu mungkin jika "penipuan diri" justru berasal dari internal kesadarannya? Dengan kata lain, nihilnya jarak di antaranya menyebabkan ilusi itu sendiri menjadi satu-satunya situasi yang dianggap normal.    

Melalu konteks pengertian di atas, apa hubunganya dengan paragraf pembuka sebelumnya? Apakah kita sebenarnya mengidap semacam neurosis sehingga tanpa disadari mengalami “penipuan diri”? Persoalan ini akan jauh lebih menarik jika kita tiba-tiba menyadari ada sebagian (atau hampir semuanya) perkataan dan tindakan kita yang dilakukan tanpa disertai kesadaran di dalamnya. Dengan kalimat yang lain, ada tindakan-tindakan kita yang sebenarnya merupakan imbas sensor dan resistensi diri?

Namun perlu diterangkan di sini sebelumnya pengertian neurosis berdasarkan yang saya temui. Neurosis merupakan penyakit yang mendorong pasien menyembunyikan penipuan dirinya. Artinya, pengidap neurosis memiliki pembawaan secara tidak sadar menyembunyikan “penipuan dirinya” dengan cara memanipulasi bahasa, tindakan, atau ekspresi mimik dan tubuh.

Lantas bagaimanakah gejala neurosis dapat diidentifikasi? Salah satu caranya yakni dengan mengetahui simtomnya, gejala-gejalanya. Menurut Sigmund Freud gejala neurosis muncul tanpa disadari melalui histeria, keseleo lidah, atau tindakan-tindakan spontan. Gejala ini menjadi benderang melalui mekanisme sensor dan resistensi diri yang ingin menyembunyikan sesuatu, tapi justru “meledak” melalui simtom di atas.

Saya agak terburu-buru mengatakan jika hampir semua yang kita lakukan terhadap bahasa dan tindakan akibat gejala neurosis. Apalagi jika konsep neurosis diperluas sampai ke tingkat masyarakat. Neurosis bukan sekadar “penipuan diri” yang dialami per individu, tapi juga secara kolektif, massal. Bagaimana itu mungkin? Pertanyaan ini hanya bisa dipahami jika “sensor” dan “resistensi” bukan saja mekanisme internal yang beroperasi dalam diri manusia, namun juga di dalam masyarakat?

Sebagaimana kesadaran palsu yang diafirmasi Karl Marx dalam masyarakat kapitalistik, “neurosis kolektif” juga dapat disematkan dalam masyarakat komunikatif yang mengalami hambatan-hambatan berbahasa. Hambatan-hambatan yang dimaksud merupakan praktik kekuasaan tertentu melalui pembodohan dan sensor pemerintah terhadap lalu lintas pengetahuan dalam interaksi masyarakat.

01 January 2017

Asrul Sani dan Keharusan untuk Berkhotbah

Saya percaya ide menulis bisa ditemukan dari membaca kembali tulisan-tulisan yang telah lama tersimpan. Jika Anda memiliki kebiasan menulis, sesungguhnya itu jauh lebih mengasyikkan jika membiarkan pikiranmu dijerat rencana-rencana ambisius seperti saat orang-orang menantikan pergantian awal tahun. Tapi, jika menulis adalah suatu keharusan, itu malah jauh lebih menyesakkan. Anda seperti mendapatkan kutukan. Anda harus melakukannya.

Saya menjadi ingat artikel AS Laksana dengan judul yang justru samar-samar di dalam benak saya. Kalau tidak salah tulisan itu dibuat untuk membahas sepak terjang kepenyairan seorang Asrul Sani. Salah satu problem dilematis dalam artikel itu dikemukakan AS Laksana mengenai apakah keharusan penyair atau penulis ikut berkewajiban menanggung beban situasi sosial yang melingkupinya. Atau dengan kata lain, mungkinkah seorang penyair mengharuskan tulisan-tulisannya mengandung unsur-unsur tanggung jawab sosial? Samakah seorang penyair dengan ideolog?

Pertanyaan ini pula yang mendasari apakah ada “keharusan” bagi siapa pun untuk menulis? Jika memang harus, apa yang melatarbelakanginya? Suatu tanggung jawab sejarahkah?

Barangkali karena itu banyak cerpen-cerpen Asrul Sani disebut sebagai sastra gigantis. AS Laksana bahkan banyak menelusuri kepenulisan Asrul Sani, terutama di dalam cerpen-cerpennya, tokoh-tokoh yang kaku dan sok-sok filosofis. Hampir semua dialog dalam cerpen-cerpen Asrul Sani, di dorong, direnungkan, dan difilosofiskan tokoh-tokohnya. Imbasnya, tokoh macam demikian menjadi orang yang berkarakter dingin dan datar, sekaligus pengkhotbah.

Menurut saya, tokoh yang diidealkan sebagai pengkotbah bukanlah tipe karakter yang lentur dan mencerahkan. Terkadang, tokoh yang berpotensi menjadi pengkotbah malah menutup segi-segi sudut pandang yang dimungkinkan dalam setiap penokohannya. Dalam dialog, misalnya, lawan bicara didudukkan seperti pesakitan yang harus lebih banyak mendengar dan dinasehati. Akhirnya, dialog menjadi semacam ceramah keagamaan tinimbang perbincangan manusiawi selayaknya keadaan sehari-hari.

Begitulah, dalam tulisan itu pula AS Laksana menuliskan kesulitan setiap penulis cerpen ketika membangun dialog dalam ceritanya. Pertanyaannya, apakah mungkin dialog hanya bagian cerpen yang sengaja diadakan hanya untuk menjadi saluran nilai tertentu, ataukah seperti kejadian sehari-hari, suatu peristiwa organik yang tidak diarahkan dan dibuat-buat?

Tentu ini bukan perbandingan antara cerita-cerita yang bermuatan nilai luhur dengan cerita yang berserakan nilai lumpur. Tapi, di artikel itu AS Laksana mengatakan hampir semua cerpen-cerpen yang ditulis Asrul Sani tidak jauh berbeda seperti buku diktat filsafat. Bahkan disebutkan AS Laksana, Asrul Sani hanya meminjam mulut tokoh-tokoh cerpennya sebagai corong aspirasi pribadinya.

Kecenderungan ini dibilangkan AS Laksana sebagai kecenderungan kenabian. Kecenderungan kenabian kadang membuat orang melihat medan ekspresi seni seperti medan dakwah. Hampir segala medan harus diimbuhi pesan-pesan bermoral. Semuanya harus tunduk di dalam kriteria moral tertentu.

Kecenderungan kenabian saya kira banyak dialami di dalam tulisan-tulisan yang mirip pamflet. Bisa dibilang, entah itu esai ataupun cerpen, misalnya, hanyalah tubuh tumpangan niatan moralis yang kadung tidak menemukan jalan solutif di alam kenyataan. Sehingga di dalam pengertian tertentu, karya tulis yang dibentuk dengan cara demikian akan jatuh di dalam karya tulis yang terdorong motif heroisme.

Akan sulit ditemukan indikatornya apakah karangan macam demikian hanyalah eskapisme dari realitas sebenarnya. Sehingga, imbasnya, idealitas hampir akan banyak menyesaki seluruh ide-ide tulisan di dalamnya. Dengan kata lain, hampir semua idealitas ditumpahkan begitu saja tanpa tersisa dalam karya tulis sampai tidak menyisakan ruang kosong untuk permenungan sang pembaca.

Namun, nilai intristik karya tulis kadang dipengaruhi situasi sosial-budaya yang melingkupinya. Itu juga yang menyebabkan mengapa karangan-karangan Asrul Sani sarat dengan beban ide. Situasi di luar tulisan-tulisan Asrul Sani-lah yang membuatnya memiliki keharusan untuk berurusan dengan nilai-nilai ideal.

Situasi inilah yang saya kira juga banyak dialami oleh penulis-penulis di masa revolusi Indonesia.  Zaman bergerak sekuat tenaga di atas tanah pertiwi menentang penjajahan. Jika militer saat itu mengangkat tinggi-tinggi senjata demi mempertahankan tanah airnya, situasi yang hampir sama dialami pula penulis-penulis era revolusi, pasca revolusi, dan era setelahnya untuk merumuskan paras Ibu Pertiwi yang seharusnya.

Popular Posts