30 March 2016

pembatas buku

Pembatas buku memang tanda suatu batas. Dia membelah satu pagina dari pagina yang lain. Membaginya jadi dua. Membuat suatu teritori antara yang "yang telah diketahui" dan "yang belum diketahui". Juga, karena itu dia sekaligus tanda keterbatasan. Dia membelah dua dimensi, dua dunia jadi tegas; rasa ingin tahu dan pengetahuan.

Tepat di antara titik itulah, pembatas buku yang seringkali punya ukuran mini itu, akhirnya jadi pengingat, bahwa manusia pada dasarnya makhluk yang harus sadar batas. Yakni, dengan kata lain, pembatas buku, entah dengan tampilan yang sering kali lucu, malah bisa berarti hal yang serius.

Itulah sebabnya, pembatas buku barangkali penting. Dia bukan sekedar penyambung ingatan terakhir ketika manusia punya ikhtiar terus menerus mengeja aksara. Tapi, secara pelanpelan dia menanamkan suatu sikap sabar, suatu nilai yang mengintrodusir manusia agar tahu apa arti suatu waktu. Yakni, di situ suatu proses kadang perlu, bahwa suatu rasa tabah atas waktu adalah jalan kecil yang mesti dilewati.

Maka dari itu siapa menyangka, pembatas buku memang semacam jangkar bagi kapal yang sedang berlabuh panjang. Dia jadi besi tua yang sering kali dilempar ke dasar samudera dalam, menjadi tungkai penghubung antara lelautan yang dalam dengan perut kapal yang terapungapung di atasnya. Siapa sangka, pembatas buku akhirnya begitu penting, kapal rasa ingin tahu dan samudera ilmu pengetahuan, akhirnya menjadi tegas batasnya.

Dulu, ikhtiar pencarian ilmu pengetahuan ditulis di atas perkamenperkamen; kulitkulit domba atau sapi yang dijadikan kertas. Atau di atas papirus yang diambil dari alangalang air yang banyak tumbuh di Eropa Selatan atau Afrika Utara. Di atasnya seluruh penemuan atas ilmu pengetahuan dicatat, disimpan, dan dirawat. Batas di situ berarti batas perkamen itu sendiri. Kala suatu tulisan habis dicatat akibat perkamen yang juga terbatas ruangnya, maka dengan sendirinya batas juga berlaku di situ.

Barangkali lewat itu muncul batasan ilmu pengetahuan, bahwa ilmu (yang ditulis) seluas apa yang ada (ukuran ruang perkamen). Jadi, ilmu hanya mungkin ketika dirinya diungkapkan di atas medan yang tersedia. Ilmu, hanya tersampaikan sejauh dia menempati ruang sebagai wadahnya. Akibatnya, ilmu paralel dengan apa yang ada. Belakangan yang "ada" ini berkembang menjadi dari "dunia yang teramati", "dunia yang dipikirkan", sampai "dunia yang terimajinalkan", suatu "alam" yang maha luas. Suatu dunia yang tak kenal batas.

Tapi akibatnya, manusia sering kali salah, ilmu bukan apa yang ada di  suatu "alam" tak terpemanai, ilmu hanyalah hasil tangkapan dari "ada" yang maha tak mengenal batas itu. Ilmu, kata orangorang Yunani adalah hasil dari "legein"; suatu aktifitas mengikat sesuatu, mengumpulkan sesuatu. Belakangan, dari kata itulah logos diambil.

29 March 2016

gambar

Suatu gambar, saya kira, bisa menjadi semacam lorong waktu. Dari situ tercipta jembatan ingatan yang tibatiba berakhir pada sebuah daratan peristiwa. Makanya, ketika sampai, daratan yang telah lama jadi silam, juga sekaligus berubah asing. Berbeda.

Itulah sebabnya, mengapa kenangan menjadi peristiwa yang menghentak. Dari suatu gambar, kembali bergerak adegan demi adegan, kejadian demi kejadian, barangkali juga perasaan demi perasaan, yang membuat suatu jarak nampak tegas membelah masa lalu dan masa kini.

Kadang karena itu suatu tujuan bisa jadi tegang; sudah sampai di manakah sekarang? Biasanya, jika suatu tujuan jadi genting akibat masa kini yang melenceng, "aku" sebagai pusat, yang selama ini jadi sandaran segala hal, harus disoal kembali.

Soal itu pada akhirnya barangkali berbunyi; siapakah aku ini, di antara kerumunan orangorang? Siapakah aku sekarang, yang bergerak dari pengalaman dan kenangan? Siapakah aku ini, yang kadang lupa bahwa hidup berarti bukan sekedar apa tapi mengapa? Siapakah aku ini, yang berdiri di atas debu dan di bawah semesta galaksi?

Saya rasa memang hidup harus membuka segala jeda. Di situ, seringkali yang esensil bukan sekedar titik yang dikepung keramaian. Yang esensil, kadang karenanya adalah seinci celah untuk diintip dengan kesunyian. Yang esensil, kerap memang jadi inti yang asing dari hiruk pikuk, maka karenanya butuh sepengalaman tersendiri. Butuh aku yang polos, tanpa apaapa.

"Aku" yang polos itulah barangkali sering muncul saat suatu gambar dilihat bukan sekedar jutaan warna. Melainkan dari aku yang polos, gambar bisa berubah lain. Dia jadi ujud yang bicara. Mungkin, karena memang demikian, orangorang sering dibuat sedih jika melihat sebuah peristiwa direkam.

Suatu gambar barangkali hanya merekam yang tampak di depan. Toh jika suatu dimensi di ruang belakang berhasil ditangkap, gambar selalu menaruh fokus apa yang tampak paling di depan. Artinya, gambar hanyalah gambar. Dia tidak mewakili berbagai macam dimensi yang direkamnya. Dia hanya replika.

28 March 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 10

Harus saya akui, kali ini redaksi Kala teledor soal cetakan edisi 10. Di terbitan tertanggal 27 Maret itu, judul kolom khusus kepunyaan Sulhan Yusuf salah cetak. Tulisan yang seharusnya berjudul Arsene, Arsenal, dan Arsenik, malah jadi Arsene, Arsenal, dan Arsenal. Ini gawat, malah justru fatal.

Saya kira, di sini harus diakui, redaksi Kala belum punya prinsip kerja yang matang. Jika Kala mau dibilang media, redaksi Kala malah belum punya sistem. Media manapun, seharusnya punya mekanisme kerja yang jelas, semacam standar operasional kerja. Kala, jika disebut media, harus punya redaksi yang mapan. Atau, setidaknya, untuk ukuran buletin sederhana, bahkan selebaran, harus punya orangorang yang berpengalaman.

Kenyataannya, Kala bukan media mulukmuluk. Kala, hanya kertas dua tulisan yang terbit di akhir pekan bagi kalangan terbatas. Bahkan, sekali lagi, Kala hanya selebaran sederhana dan nyaris dengan tampilan yang monoton. Kala, dengan kata lain hanya selembar kertas berisikan tulisan hasil kelas literasi yang sudah berjalan hampir setengah tahun. Kala, dengan begitu hanya media yang sedang mencari pengalaman. Dari pengalaman minim itulah redaksi Kala bekerja. Juga, dari situ teledor itu datang.

Akibatnya, perlu ada kritik, terutama kepada mekanisme kerja redaksi Kala. Di sini, kalau mau diperjelas, redaksi Kala, secara teknis hanya saya seorang. Sehingga, kalau mau menyebut siapa yang teledor, bukan sistem atau semacam dewan, melainkan saya belaka.

Kesalahan atas sesuatu adalah hal yang lumrah, tapi jika itu datang dari suatu kerja yang lumayan sering, saya kira, itulah yang disebut teledor. Makanya, melihat hal yang tak diduga dari suatu usaha yang berulangulang, dan pada akhirnya tidak sesuai standar, di situ suatu prinsip kerja harus segera dievaluasi.

Konon, mediamedia besar, hanya soal editing bahasa dan tulisan harus melewati banyak meja -ada yang menyebut lima sampai enam meja. Di ruang kerja media, meja sama artinya dengan sepasang mata cekatan yang sudah akrab dengan berjuatjuta huruf. Artinya, jika ada lima meja, di situ berarti ada sepuluh mata mawas. Bahkan, sebuah meja berarti suatu sistem kerja. Di ruang kerja mediamedia, sebuah meja malah jadi suatu tekhnik evaluasi dan editing itu sendiri.

Bisa ditebak, dari setiap meja dengan mata yang cekatan, dan lima sampai sepuluh kali dibaca per mejanya, setiap tulisan yang masuk siap jadi objek tanpa cela. Dari mekanisme editing semacam itu, ada space yang lebar bagi setiap tulisan melewati proses yang begitu selektif. Akibatnya, tulisan dengan cara demikian menjelma karya siap baca.

Dulu saya pernah kerja beberapa lama di salah satu media di Makassar. Setiap malam, sebelum naik cetak setiap berita disorot, dilihat kesalahan ketik atau semacamnya. Kala itu setiap berita yang diperiksa dibaca setidaknya tiga orang. Jika menemukan typo, kesalahan pengejaan, istilah asing, atau ketidaklaziman sesuai standar ejaan, maka itu dibulati, diberikan tanda dengan tinta merah. Bahkan beberapa di antaranya diberikan semacam catatan kecil sebagai keterangan perbaikan. Kalau sudah, hasil print out beritaberita itu diserahkan ke bagian layout, dari situ tugas langsung layouter sekaligus memperbaiki kembali. Alhasil, cara seperti itu efektif jadi mekanisme editing sebelum berita betubetul naik cetak.

Kala, akibat tidak punya mekanisme macam itu, membuat setiap tulisan nyaris tak berubah. Kala, juga tidak punya banyak meja sebagai space editoringnya. Meja di Kala bahkan nyaris bukan sebagai sistem kerja. Dengan kata lain, redaksi Kala hanya memanfaatkan sepasang mata jika mau mengedit suatu naskah. Akibatnya, dari mata yang minim pengalaman itu, suatu tulisan akhirnya nyaris tetap sama sekali pra dan pasca editing. Bahkan, untuk kasus kali ini, justru itu berubah jadi kesalahan.

Tapi, keteledoran dengan sendirinya tak bisa dimaafkan. Kala, biar bagaimana pun harus berkembang dari waktu ke waktu. Soal judul yang akhirnya berubah redaksi bukan perkembangan, itu kemunduran. Makanya ini gawat, sekaligus juga fatal.

***

Menulis barangkali ibarat jalan pulang ke dunia yang pernah disinggahi namun asing. Di sana, suatu keadaan samarsamar digenggam buat ditulis kembali. Menulis berarti kembali dari dunia samar untuk suatu kabar kepada khalayak, juga sebagai tanda bahwa kita belum lupa.

Azan magrib bergelantung di langit jatuh merembesi setiap bilik. Menggema di bawah atap di saat lampulampu mulai dinyalakan. Bersamaan dengan itu kelas dipending. Orangorang bergegas, mengambil jedah. Sebagian lain memilih dudukduduk membaca, sebagian yang lain memilih meninggalkan kelas menuju asal suara.

Kala sekira pukul 20.00, piringpiring dikeluarkan dari bilik belakang. Gelasgelas berdenting. Kertaskertas yang berserakan disingkirkan. Waktunya makan malam. Seperti biasa makan berjamaah. Semua lahap. Semua kenyang.

Tak lama forum dilanjutkan kembali. Kali ini giliran Nain membacakan tulisannya. Dari bacaanya, dia mengisahkan hasil pertemuannya dengan seorang mantan PSK. Dia bilang, tulisan ini lahir dari ingatan yang sudah lama tersimpan. Di pertemuan yang sudah silam itu, Nain menuliskan kembali sepenggal kisah Ibu dua orang anak itu. Katanya, mantan PSK ini sudah berkeluarga, sudah punya suami. Dia juga bilang, mantan PSK itu, hari ini sudah berumur, makanya dia tinggal di panti rehabilitasi. Nain bercerita di akhir tulisannya, Ibu yang seharihari menjahit dan melakukan aktifitas kreatif lainnya itu ingin bertobat. Mizari, begitu nama PSK itu dulu bilang, "mauka berubah Nak". Begitulah akhir tulisan yang dibuat Nain.

Tapi, sebelumnya ada soal yang memicu perbincangan. Perkara itu dipicu oleh tulisan Sandra yang dinilai di luar kelaziman. Tidak sedikit kawankawan harus pelanpelan mengeja jika mau tahu pesan apa yang ditulis Sandra. Juga sering kali, pasca Sandra membacanya, beberapa pertanyaan diajukan untuk mengetahui maksud kalimatkalimat yang mengandung banyak peristilahan. Sandra bilang, dia memang agak kesulitan menulis tulisannya yang sudah ditinggalnya beberapa lama. Juga, agak susah ketika menyambung tulisan yang memang sudah dipisah oleh dua situasi yang berbeda. Itulah sebabnya, tulisannya itu membuat kawankawan sulit menangkap pesan apa yang mau disampaikan.

Di satu sisi, setiap tulisan mewakili satu gaya. Bahkan setiap tulisan mengandung satu cara penulisnya menyatakan identitasnya. Soal ini saya kira dialami oleh kawankawan kelas menulis PI. Sandra, kali ini menyetor tulisan yang memang agak berbeda. Penggunaan bahasanya banyak menggunakan istilahistilah asing. Bahkan hubungan semantik dan sintakmatik dalam kalimatkalimatnya terkesan di luar ukuran standar. Tulisan Sandra, kalau mau dipahami, termasuk jenis tulisan yang membutuhkan penulis sebagai penafsirnya sendiri. Artinya, tulisan Sandra hanya bisa diketahui maknanya sejauh penulisnya turut hadir di belakangnya.

Saya kira, setiap tulisan harus mampu menyeimbangkan dua hal; isi dan bentuk. Kadang, dua poin ini tidak jalan secara proporsional sehingga kabur mengabarkan pesan. Kadang tulisan yang mengedepankan isi, tidak terlalu ambil pusing seperti apa gaya tulisan harus dijabarkan. Tulisan sejauh isi ingin disampaikan sudah cukup menggunakan bahasa dengan gaya sederhana. Isi, dari cara ini jauh lebih penting dibandingkan gaya bahasa yang bisa mengacaukan tatanan makna sebagai inti pesan buat khalayak.

Namun, gaya sebagai kemasan di saat tertentu juga menjadi penentu. Pengandaian kemasan sebagai kulit luar dari isi, adalah penampakan pertama yang memberikan kesan estetis bagi pembaca. Melalui kulit luarlah, dengan kesan yang estetis, isi tidak sekedar informasi yang memberikan pengetahuan, melainkan menjadi pesan yang menggugah rasa. Dengan cara itu, suatu tatanan bahasa akhirnya tidak sekedar alat penyampai pesan, tapi juga jadi unsur penting ketika pesan disampaikan. Di bagian inilah, orangorang sering mengambil bentuk sastra ketika mengemas tulisannya. Pertimbangannya bukan sekedar hanya soal gaya belaka, melainkan bagaimana suatu tulisan dilengkapi dengan unsurunsur retoris.

***

Semenjak kelas dibuka, kelas literasi mengedepankan tujuan agar setiap kawankawan mahir menulis. Berbeda dari kelas angkatan pertama, kelas angkatan kali ini menggunakan sistem yang mendorong agar setiap tulisan menjadi jejak rekam perkembangan kemampuan menulis. Sistem ini sengaja diajukan sebagai tolak ukur sekaligus bahan evaluasi sejauh mana perbaikanperbaikan dilakukan demi pencapaian tujuan.

Di kelas, kawankawan juga diharapkan saling memotivasi. Menjadi teman cerita, bahkan menjadi teman curhat. Kelas literasi, walaupun diformat sebagai kelas menulis, di beberapa kesempatan kadang sering kali dibuat jadi ajang diskusi. Di momenmomen itu, kadang diskusi bisa menyentuh banya soal, bisa melibatkan banyak perspektif. Akibatnya, dari situ sering bikin penasaran kawankawan jika ada satu tema tidak tuntas dibahas. Namun, harus dimaklumi, kelas literasi bukan forum kajian. Konsepnya berbeda.

Minggu depan, tentu banyak tulisan juga pasti banyak cerita. Tulisan, yang ditulis kawankawan, mungkin saja bukan sekadar tulisan belaka, barangkali di situ ada bathin yang bergulat penuh keresahan, ada kecamuk pikiran atas gagasangagasan, atau bahkan ada kisah yang mau dibilang. Kalau sudah begitu, siapa sangka itu berarti akan banyak cerita, akan banyak telinga, juga akan perlu banyak mata yang lebih peka.


24 March 2016

Satu Dua Tiga Soal Freedom Writers

Pendidikan jika dibilang cara orangorang bersuara, barangkali juga adalah cara orangorang menyatakan sikap. Itulah yang dibuat Erin Gruwell (Hillary Swank), dia menemukan suatu cara agar pendidikan bukan sekadar demi tujuan normatif belaka. Pendidikan barangkali, bagi Gruwell adalah celah bagi orangorang memperbaiki suatu soal.

Semua itu bermula ketika Gruwell mendaftarkan diri mengajar di Woodrow Wilson High School di suatu sudut New Port Beach, Amerika Serikat. Suatu kawasan yang mengalami pembelahan kelompok rasial. Daerah rentan akibat konflik laten yang bertahan sejak nlama dalam ikatanikatan sosial kebudayaan warga kotanya. Bahkan suatu hirarki terbangun di dalamnya, memotong secara vertikal kelas masyarakat secara bertingkat.  Di New Port Beach, akibat kebijakan integrasi antar ras, tidak sendirinya menghapus  konflik rasial yang semenjak lama tak terselesaikan.

Sebab itulah, pesimisme ditunjukkan Kepala Departemen Woodrow Wilson High School, Margareth Campbell (Imelda Staunton) saat Erin Gruwell menyatakan idealisme seorang guru kala memperlihatkan program mengajarnya. Pesimisme itu datang dari pengalaman suatu daerah ketika melihat muridmurid sekolah yang terlibat konflik antara kelompok tak patut diharapkan. “Sebagian baru keluar dari penjara anakanak. Satu dua orang mungkin pakai alat di mata kaki untuk awasi keberadaannya. Kita harus merevisi rencana pelajaranmu, jika kau lihat nilai mereka dalam pembendaharaan kata, sebagian buku ini “Homer’s the Odyssey” akan terlalu sulit untuk mereka..” bilang Kepala Departemen. Tapi, Gruwell punya semangat, punya niat,  dia bilang, “aku ingat saat menonton kerusuhan LA di tv, saat itu aku sedang ingin ambil sekolah hukum dan berpikir saat kau sedang membela seorang anak dipengadilan, perang sudah kalah. Kurasa pertempuran sebenarnya harus terjadi di sini, dalam kelas.”

Kisah Erin Gruwell adalah kisah orang yang punya visi. Kisah perjuangan seorang guru yang melihat soal pendidikan tak sekadar perkara ilmu pengetahuan.  Suatu maksud bahwa peran guru harus ditempatkan secara nyata ke dalam ikatan sosial lebih dari hubungan di dalam kelas. Kisah Erin Gruwell adalah kisah seorang yang punya perhatian. Barangkali karena itulah kisah seorang Gruwell, perempuan guru itu di angkat ke layar film.

Freedom Writers, begitu judul film yang saya saksikan itu menyinggung banyak perkara. Melalui “penuturan mata”  Eva (Aprill Lee Hernandez) –salah satu murid Gruwell keturunan Hispanik, film itu dibuka melihat suatu setting sosial kultural kehidupan perkotaan yang guyah akibat kriminalitas khas Amerika selama bertahuntahun: konflik antar ras. Bahkan semenjak awal, film ini sudah mengambil sudut pandang korban rasialis yakni Eva itu sendiri sebagai “mata khalayak” untuk memahami persoalan.

Eva –seperti juga temanteman seangkatannya, adalah perwakilan generasi yang masuk ke dalam warisan konflik turuntemurun akibat struktur sosial yang timpang. Eva berusaha memperlihatkan bahwa di dalam ikatanikatan yang guyah itu, perebutan identitas adalah hal yang musykil ditampik. Identitas adalah ihwal yang harus diperjuangkan. Dalam “mata kultural” Eva, identitas bukan sekadar penanda suatu kelompok belaka, melainkan suatu cara orangorang menyatakan sikapnya di antara struktur sosial yang tidak adil. Di baliknya, ada pandangan suatu kelompok yang mau diangkat kepermukaan, ada suatu cara ras melihat dunia, juga ada suatu nasib yang mau diperbaiki.

Akibatnya, konflik berdimensi rasialis itu tidak saja bertahan di dalam kehidupan antara kelompok, tapi juga masuk merembesi sampai di dalam kelas tempat Eva bersekolah.

Rembesan konflik itulah yang akhirnya menjadi imanen di dalam kelas tempat Gruwell mengabdi. Di saat hari pertamanya mengajar, Gruwell tak menyangka bahwa anakanak didiknya merupakan bagian dari konflik yang jauh lebih besar terjadi di balik temboktembok sekolah. Kelas, begitu juga anak didiknya, bukanlah seperti yang dibayangkan Gruwell. Ekspektasinya adalah imajinasi yang terbangun dari struktur masyarakat yang normatif normal. Cakrawala kulturalnya adalah horison pemikiran yang repetitif dari kelas masyarakat menengah atas, yang tak pernah menemukan secara “padat” situasi masyarakat marginal perkotaan yang tersekatsekat oleh warna kulit. Akibatnya, Gruwell seperti tipology masyarakat menengah perkotaan, kaget dengan situasi kelas yang dihadapinya.

Namun, Gruwell bertindak lebih dari tindakan kultural rekanrekan kerjanya. Saat dia menyadari bahwa situasi kelas yang diampunya adalah cerminan pembelahan yang terjadi dari kehidupan masyarakat, dia mengambil sikap. Melalui pendekatan belajar yang diterapkannya sendiri, dia berhasil masuk memahami keadaan kelas yang terfragmentasi secara kultural. Saya kira, di sinilah ketokohan ditunjukkan Gruwell sebagai bukan sekedar guru normatif belaka, melainkan mau membuka diri memahami persoalan yang dihadapi muridmuridnya.

Saat itulah, Gruwell mengalami semacam pembalikan cara pandang. Terutama saat dia diperhadapkan kepada suatu momen krusial di halaman sekolahnya (menit 39, detik 20), di situ barangkali Gruwell membatin,  pendidikan harus mampu mengambil peran lebih dari sekedar tuntutan kurikulum. Tindakannya pasca kejadian ini merupakan ambivalensi dari sikap kolektif rekanrekan kerjanya yang memandang secara sinis keberadaan muridmurid masyarakat kelas dua. Sikap antipati akibat perbedaan warna kulit, seperti dinyatakan rekan kerjanya, juga mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan di sekolah itu.

Kurikulum atau pendekatan pendidikan yang diterapkan Woodrow Wilson High School, seperti yang dirasakan Gruwell sendiri adalah jenis pendekatan liberal-konservatif yang mengandaikan perbedaan anak didik berdasarkan latar belakang sosialnya. Bahkan, semenjak awal, kelas yang diamanahkan kepada Gruwell adalah kelas “buangan” yang diperuntukkan bagi anakanak masyarakat nomor dua. Pemilahan secara sengaja ini, bukan saja membelah lingkungan muridnya berdasarkan warna kulit, juga menerapkan perlakuan diskriminatif melalui anggaran dan fasilitas yang diberikan sekolah. Akibat kebijakan yang diskriminatif itu, Gruwell harus bertindak mandiri menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

Akhirnya di sinilah nampak persoalan usang itu: sistem vs tindakan aktor. Yang menyaksikan Freedom Writers pasti menyadari selain isu rasialisme, problem pendidikan juga benderang ditampakkan adegan demi adegan dalam film ini. Bahkan kalau mau dibilang, isu utama film ini adalah masalah pendidikan. Film ini         mengetengahkan situasi sistem pendidikan dalam menemukan soal hingga mengambil tindakan solutif atasnya . Sistem pendidikan yang kaku dan kurang tanggap situasi akibatnya tidak mampu menaksir persoalanpersoalan krusial yang dihadapi muridmuridnya. Sistem penyelenggaraan dan struktur birokrasi yang gemuk, akhirnya harus mengakui tindakan cekatan dan terbuka terhadap situasi yang dilakukan Gruwell merupakan kritik internal bagaimana pendidikan itu seharusnya diselenggarakan.

Alternatifalternatif yang diajukan Gruwell sebagai pendekatan belajar mengajarnya berjalan bersamaan dengan pelajaran yang diampunya; Bahasa Inggris. Melalui pendekatan literasi yang dipakainya, Gruwell yang awalnya dipandang sebelah mata muridmuridnya mulai menyadari perannya. Cara pertama yang dipakai Gruwell adalah dengan memberikan sejumlah buku jurnal agar muridmuridnya dapat bercerita segala macam masalah yang dituliskan di dalamnya. Melalui buku jurnal muridnya, Gruwell jauh lebih terang memahami situasi batin dari masalah yang dialami muridnya selama bertahuntahun. Selain itu, dia juga menghadiahkan sejumlah buku bacaan berlatarbelakang peristiwa Holocaust kepada muridmuridnya dengan harapan mereka tahu bahwa soal yang dihadapi adalah bukan sekedar masalah rasial antar geng, melainkan suatu masalah kemanusiaan. Dan yang tak pernah dilakukan guru sebelumnya, dia mengajak muridmuridnya pergi mengunjungi museum korbankorban Holocaust di suatu akhir pekan. Bahkan mereka diajak makan malam bersama beberapa korban pembantaian Yahudi yang diundang di suatu restoran. Dan, puncaknya adalah mereka bersedia didatangi oleh orang yang pernah menampung Anne Frank –korban kekerasan Nazi, yang sebelumnya mereka undang dengan cara mengirim surat langsung kepadanya.

Sistem penyelenggaraan pendidikan yang kaku memang sering jadi masalah pendidikan itu sendiri. Tapi, suatu metode yang berbasiskan situasi kongkrit dan dari situ diputuskan model apa yang layak dipakai, adalah cara efektif yang bisa mengubah suatu problem. Melalui konteks inilah pendekatan “baca-tulis” yang dipakai Gruwell bisa disebut terobosan. Pendekatan literasi yang dipakainya, tak disangka menjadi alternatif yang ampuh  memotong jarak persoalan antara murid dan guru. Melalui jalan literasi, Gruwell menemukan cara bersuara muridmuridnya dari tekanan “suara mayoritas” yang mengaburkan “suarasuara minoritas” masyarakat nomor dua. Lewat kisahkisah yang ditulis muridnya, “suarasuara” masyarakat marginal perkotaan dapat terekspose ke permukaan. Melalui tulisan muridmuridnyalah, penampakan cakrawala bathin anakanak kelas masyarakat bawah begitu gamblang diketahui.

Berbasiskan permasalahan itulah semenjak awal tokoh yang diperankan pemenang dua piala Academy Award ini merumuskan tujuan pendekatannya. Pendekatan yang diterapkannya akhirnya mampu memutuskan batasbatas kebudayaan yang selama ini dialami muridmuridnya. Bahkan konsep kelas yang dipersepsikan sebagai ruang belajar turut berubah seiring hadirnya kedekataan kekeluargaan di antara muridmuridnya. Dari pengakuan salah satu muridnya, kelas bukan lagi sebagai sekatsekat yang membuatnya tersingkirkan dari ruang publik, melainkan berubah menjadi rumah tempat dia menemukan keluarga. Dari pendekatan yang dipakainya, Gruwell akhirnya mampu meretas problem kultural yang laten terjadi di sekolahnya.

Di film ini juga memberikan sisi lain sosok Gruwell. Gruwell bukan tanpa halangan ketika ia menjalankan programprogram pendidikannya, selain sikap antagonis yang ditunjukkan pimpinan dan rekanrekan kerjanya, Gruwell juga mendapat penolakkan dari suaminya sendiri, Scot Casey (Patrick Demsey). Di sinilah saya kira, tesistesis soal keluarga demokratis masyarakat maju dipertanyakan. Suami Gruwell, yang dinyatakan sebagai calon arsitek, merupakan suami masyarakat perkotaan yang memposisikan diri sebagai pemimpin keluarga. Sebagai pemimpin keluarga, suami Gruwell digerakkan oleh nalar patriarkat yang turut bertahan di dalam bentuk masyarakat demokratis. Walaupun situasi kebudayaan Amerika yang telah maju, tetapi itu tidak dengan sendirinya menghilangkan sisasisa tradisi patriarki di masyarakat modern.

Relasi gender inilah yang tampak ketika adeganadegan Gruwell pulang dari sekolah. Awalnya, ia tak menyadari bahwa keseriusannya mengurusi muridmuridnya membuat suaminya merasa “tak dilayani”. Apalagi ketika Gruwell bergerak jauh dengan mengambil tambahan pekerjaan untuk mendukung programprogram belajar mengajarnya. Akibat minimnya waktu bersama yang dialami keduanya, suami Gruwell mulai merasakan dampak serius dari kekurangan perhatian dari isterinya. Relasi gender yang mempertautkan kemerdekaan perempuan dalam mengambil peran dan antara kebutuhan psikis maupun biologis dengan seorang suami, akhirnya mengharuskan hububungan rumah tangga mereka putus di tengah jalan.

Dari sudut problematis ini, persoalan relasi gender nampaknya juga ditampakkan walaupun hanya menjadi cerita sekunder dari kisah yang sebenarnya terjadi.  Urusan rumah tangga Gruwell bersama suaminya, Scot Casey, menjadi problem turunan akibat persoalan pendidikan yang dihadapi Gruwell di sekolahnya. Di sini secara implisit hubungan secara kausasi antara situasi makro (pendidikan) diperlihatkan secara diamdiam mampu merasuk mempengaruhi relasirelasi privat ditingkatan mikro (keluarga). Artinya, situasi yang dihadapi Gruwell menjadi lebih berat karena tidak ditopang dengan hubungan keluarga (suami-istri) yang bisa menjadi modal bersama dalam memecahkan permasalahan yang terjadi.

Akhirnya, film ini ditutup dengan suasana happy ending setelah Gruwell melakukan sejumlah usaha ke beberapa pimpinan sekolah hingga distriknya. Tujuannya untuk mengajukan langkahlangkah lanjutan agar kelas yang dibinanya masih diampunya di tahun mendatang. Walaupun semenjak di tengah jalan usahanya sering gagal akibat aturanaturan baku birokrasi, jalan berliku yang dialaminya tak dinyana mendatangkan sinyalemen positif. Di akhir cerita, sembari menunggu kedatangan guru inspiratifnya, muridmurid Gruwell berkumpul di suatu tempat hanya untuk mendengarkan kabar terakhir perjuangan kelas mereka. Akhirnya, setelah dirundingkan bersama pihak pimpinan, maka diputuskan Gruwell bakal melanjutkan kelasnya sampai ketingkat senior. Informasi itu datang menghapus kerisauan muridmuridnya yang harapharap cemas menunggu informasi yang bakal menentukan masa depan mereka beberapa tahun ke depan.

***

Kalau mau diajukan kritik, ada beberapa poin yang bisa ditunjukkan dari film berdurasi dua jam ini. Pertama, inisiatif Gruwell mencerminkan semangat individualisme masyarakat modern yang ditampakkan dari usaha Gruwell menghadapi persoalannya. Inisiatifinisiatif perempuan guru ini tidak mampu membentuk kolektifisme kerja demi menanggulangi persoalan pendidikan di sekolahnya. Bahkan tidak ada usaha bersama ditunjukkan kepada pihak sekolah dengan membangun “keresahan” yang mengakar di antara sesama profesinya. Guru, jabatan profesional yang diembannya, belum mampu ditransformasi menjadi semacam kritik lebih jauh kepada rekan sesamanya. Usaha ini seharusnya mampu dibuatnya dengan memanfaat sejumlah media yang banyak meliput aksiaksi sosial saat melakukan sejumlah usaha pencarian dana. Melalui pendekatan ini, Gruwell bisa mendorong kesadaran rekanrekan kerjannya untuk mengubah cara pandang rasialis yang masih kuat mengakar di sekolahnya.

Kedua, apabila kita melihat representasi kekuasaan dalam jejaring institusi pendidikan yang ditunjukkan Freedom Writers, maka akan ganjil jika melihat seorang kulit hitam yang menjadi salah satu pemimpin di dalamnya. Film jika disebut sebagai citra kebudayaan, maka Freedom Writers memperlihatkan “kebungkaman” pimpinan distrik yang masih terbatasi dengan sejarah rasial kulit hitam.  Ada dua lapis soal yang membuat pimpinan distrik sekolah Gruwell sulit memberikan semacam bantuan. Pertama adalah kewenangan yang bakal melanggar otonomisasi manajemen sekolah yang dimiliki  jika dia berindak jauh menggunakan jabatannya. Di sini nampak jelas persoalan birokrasi yang berbelit tak mampu responsif mengambil sikap. Kedua, sang pimpinan distrik belum bebas sepenuhnya dari tatanan kultural masyarakat Amerika yang berpandangan rasialis.  Akibatnya, dia sebagai orang kulit hitam hanya menjadi “juru dengar” tanpa bisa berbuat apaapa karena menanggung beban sejarah yang dibuat orang kulit putih.

Dua hal inilah yangmenghambat kenapa Gruwell sulit mendapat dukungan dari pihak pengambil kebijakan. Padahal, melalui mediasi yang ada, Gruwell dapat bertindak jauh jika semenjak awal dia bisa meyakinkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekedar masalah di dalam kelas semata, melainkan menyangkut kebijakankebijakan distrik setempat dalam dunia pendidikan.

Ketiga, pendekatan literasi di dalam film ini hanyalah sampiran atas problem yang dialami. Walaupun di akhir film, mereka mampu membuat satu buku kumpulan kisahkisah berbau diskriminatif, tetap saja gerakan literasi ini hanya sebatas media penyaluran perasaan subjektif tanpa mengubah keadaan objektif di masyarakat. Seharusnya, gerakan literasi harus menjadi pilihan utama dalam pendekatan kurikulum yang dipakai di setiap jenjang pendidikan. Sehingga bisa jadi model yang diajukan Gruwell bukan sekedar pendekatan yang hanya diterapkan di dalam kelas, melainkan menjadi gerakan kultural yang dilakukan di setiap lapisan masyarakat.

Walaupun begitu, melalui pendekatan literasi, pendidikan diharapkanbukan sekedar upaya yang memajukan tatanan kognitif anak didik belaka, melainkan melibatkan seluruh totalitas kesadaran ketika berhadapan dengan suatu tindak baca tulis, melebihi upaya verbal yang selama ini dipakai dalam pendekatan pendidikan.


22 March 2016

Sinisme Sang Filsuf

Akhirnya cara menjawabnya harus dimulai dari seorang nama tua: Platon. Platon, yang filsuf itu punya pandangan tentang Philosopher-King. Tatanan masyarakat baginya harus diatur oleh seorang filsuf. Manusia yang punya kualitas kontemplatif. Seorang filsuf diandaikan sebagai kepala masyarakat. Sang filsuf dengan begitu, dengan kualitas kebaikannya jadi kelas ideal bagi Platon.

Boleh jadi,  jika mau sedikit kritis, semesta pemikiran Platon, terutama pemosisian sang filsuf sebagai puncak teratas hirarki sosial, berangkat dari semacam sinisme. Bagaimana pun idealnya sang filsuf, profesi yang lainnya selalu secara hirarkis di bawah posisi sang filsuf. Pertama, konsekuensinya, semesta pandangan Platon masih melihat tatanan terdiri dari kelaskelas. Akibatnya, hanya sang filsuflah sebagai manusia yang mampu menjamin kebenaran, kebebasan, keindahan, dan kejujuran, sedang yang lain hanya bagian yang subordinat.

Dari konteks negara kota (Polis), yang mengikuti tatanan tiga tingkatan, kaki-badan-kepala, sang filsuflah yang ideal sebagai kepala negara. Akibatnya, politik dianggap sebagai pekerjaan yang derivatif. Bahkan kalau mau bincang politik, seseorang harus mengambil optik filsafat. Artinya dengan terang optik akal budi, sang filsuflah yang punya tugas mengurusi kehidupan politik. Bagi Platon seorang negarawan haruslah seorang filsuf. Begitu kirakira maunya.

Akibat dari itu muncul pembelahan. Sang filsuf berbeda dengan orang biasa adalah orang yang punya tugastugas penting kenegaraan (das sein). Sebaliknya, orang biasa hanya mengurusi soalsoal cetek kehidupan seharihari (das sollen). Sang filsuf tugasnya lebih utama bersentuhan dengan akal budi, tatanan abstrak yang menuntut konsentrasi tingkat tinggi. Melalui itu negara diatur dan diberlangsungkan. Sedangkan orangorang biasa hanya mengikuti hasil refleksi sang filsuf.

Sinisme kedua, Platon punya kelompok elit intelektual. Yang ini dikenal sebagai Hekademia (akademia), kelompok intelektual yang hidup terpisah dengan polis, masyarakat umum.  Ini yang dibilang Hanna Arendt, perempuan pemikir politik abad 20,  sebagai sikap elitis. Sikap ini dinyatakannya sebagai cara kaum terdidik untuk mengungkapkan kebebasan elitis yang hanya dipunyai khusus selain dari masyarakat umum.

Kebebasan ini paralel dengan waktu luang yang tidak dimiliki masyarakat umum terutama kaum budak. Waktu luang yang dipunyai ini, secara epistemik memberikan syarat material dan pemikiran kepada kaum terdidik untuk asyik tenggelam dalam percobaanpercobaan pemikiran kontemplatif. Implikasinya, secara politik, kaum terdidik jauh dari kecenderungan banyak orang yang hidup secara berbeda. Itulah sebabnya, kecenderungan politik kaum terdidik lebih mengutamakan kebebasan sebagai sarana akal budi untuk berpikir, dibandingkan tuntutan material lainnya yang memang bukan bagian dari kehidupannya seharihari.

Karena itu kaum terdidik selalu memuja kebebasan sebagai tujuan sikap politiknya. Pun kalau mereka terlibat dengan suatu perjuangan politik, itu hanyalah anasir dari tuntutan kebebasan yang dikehendaki. Akibatnya, sikap politik kaum terdidik seperti ini adalah sekaligus sikap elitis atas hirarki yang menempatkan kaum terdidik sebagai kelas tertentu. Mengacu sejarah perubahan dunia, hampir semua perjuangan politik dengan nama demokrasi adalah hasil dari tuntutan kebebasan kaum terididik.

Sang filsuf atau kaum terdidik dengan previlage tertentu dengan begitu adalah kelas yang lahir dari pemisahan sejak awal yang ditunjukkan Platon dengan Hekademianya. Posisi akademia yang berjarak dengan tatanan Polis, bukan sekedar kesenjangan secara demografis, melainkan juga menggambarkan betapa jauhnya “hal ihwal kaum terdidik” dengan “tetek bengek masyarakat umum”.  Pemilahan ini akhirnya menjadi skema tatanan sejarah masyarakat yang membagi masyarakat atas “kepemilikan ilmu”,  yang sudah dimulai Platon.

Imbas dari berjaraknya dunia intelektual dengan aktifitas seharihari masyarakat, juga mengakibatkan perubahan objekobjek ilmu yang bergerak dari “partikularitas” peristiwa seharihari menjadi “universalitas” hal ihwal keilmuan. Ilmu akhirnya tidak tertuju pada ikatanikatan sosial masyarakat dengan kebutuhankebutuhan mendasarnya, melainkan sibuk menyoal hububunganhubungan proposisi demi tuntutan ilmu itu sendiri.

Sinisme sang filsuf juga tampak dari antagonisme filsafat atas sastra. Sikap ini dimulai Platon dengan memandang sastra sebagai bidang ilmu yang hanya menjiplak kenyataan. Sastra dibilangnya tak mampu menjadi perangkat manusia menangkap kenyataan “yang ideal”.  Sastra dengan model yang lebih banyak dibentuk lewat gaya bahasa, dianggap hanya “bermainmain” tanpa bisa memberikan kebenaran yang bersifat ideal. Anggapan ini didaku Platon karena melihat sastra hanya sibuk berkutat pada soal bentuk, bukan “isi” seperti yang disebut Platon hanya bisa ditemukan dalam filsafat.

Universalisme filosofis yang jadi horison pikiran Platon, dengan sendirinya menolak bentukbentuk partikularitas yang diajukan dari gaya berfilsafat Aristoteles. Bahasa akhirnya, melalui gaya Platon, harus memikul beban makna yang universal untuk menyebut “ideal type” yang dibilangnya hanya dimungkinkan melalui filsafat. Sastra yang sering kali menangkap halhal partikular, bukanlah objek filsafat itu sendiri. Akibatnya, universalisme yang diharapkan Platon, sebenarnya adalah pelecehan terhadap kenyataan yang bisa saja terjadi dengan beragam kemungkinan dari kejadiankejadian seharihari yang partikular.

Yang terakhir adalah soal konsep form yang terkenal itu. Platon, membagi dua dunia. Dalam imajinasi pemikirannya dia meyakini suatu dunia baqa yang tak tersentuh sejarah. Suatu tatananan yang tak berubah dan bergerak.  Di sana jiwa bebas mengenali bentukbentuk ideal. Platon menyebutnya archetype, yakni bentukbentuk ideal dari sesuatu yang tampak di dunia. Dunia archetype adalah dunia yang sebenarnya, karena di sanalah “sesuatu yang ideal” bersemayam. Di sanalah yang esensil. Platon menyebut dunia itu Alam Idea, dunia sebelum tubuh tercipta.

Melalui konteks itulah Platon menyebut dunia tubuh adalah bayangbayang. Bukan yang esensil akibat mudah berubah, kumpulan yang mudah hancur. Tubuh dia bilang adalah kuburan Jiwa. Tubuh, adalah sebab jiwa tak mampu mengenal kembali yang ideal pasca dia turun kedalam kubangan serat daging. Akibatnya, tubuh harus ditinggalkan, jiwa harus lurus mengacu ke dalam yang universal esensil, dunia asali nun jauh “di atas” sana.

Monisme Platonian ini diamdiam akhirnya menyimpan sikap sinis terhadap dunia tubuh. Dunia seharihari, akhirnya menjadi tatanan yang tak layak dirundung soal. Sebab yang terkandung di dalamnya hanyalah sementara belaka, hanya bayangbayang semata. Hirarki dua dunia ini berimplikasi hanya menempatkan alam archetype  sebagai satusatunya realitas yang layak diperjuangkan.

Syahdan, sinisme sang filsuf ibarat sikap keras Platon atas filsafat sebagai satusatunya jalan mendedah dunia. Dan, saya kira, sikap semacam itu adalah bentuk lain dari totalitarianisme epistem yang mengklaim bahwa filsafatlah satusatunya ibu pengetahuan. Filsafat karena menjadi satusatunya rahim ilmu bermula, maka dialah yang punya semacam wewenang menentukan jalan sejarah pengetahuan. Sampai kiwari,  hanya filsafatlah yang disebut jalan kebahagiaan, jalan kebijaksanaan, atau bahkan jalan keselamatan. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menolak filsafat?

21 March 2016

catatan kelas menulis PI, pekan 9

Parasnya lelah. Mukanya sendu, keringatnya cucur. Di penghujung pukul sembilan malam suaranya berubah parau. Awalnya, perempuan ini bersemangat memimpin forum. Namun, waktu berderap, energi banyak dikuras, forum masih panjang. Di waktu penghabisan, Hajrah merapal karya tulisnya. Kali ini gilirannya.

Satu persatu huruf diejanya. Tulisannya agak panjang. Kali ini dia menyoal masyarakat tanpa kelas perspektif Marx. Yang unik dia menyemat Rasul Muhammad sebagai tokoh lain. Di tulisannya, dua orang beda zaman, disandingkan. Lamatlamat, forum berubah khusyuk. Suaranya akhirnya mulai stabil.

Kalau mau dibilang, Hajrah menulis ulang isi suatu buku. Semacam resume. Hajrah bilang, awalnya dia mau menulis resensi. Cuman, dia agak ragu. Makanya dia mengulas tema umum buku yang sudah dibacanya, soal segregasi masyarakat. Nampaknya, tulisan itu bikin polemik. Di kelas, dari beberapa diksi dipakai Hajrah akhirnya jadi esensil, jadi soal.

Perkara itu dimulai Sandra dan Arhie. Perdebatan menyoal kata ganti "beliau" yang dinisbahkan kepada anak Abdullah bin abdul Muthalib. Sandra bilang, kata ganti "beliau", yang merujuk kepada Rasulullah, dalam teks tidak sepadan. Asumsinya, sembari menyitir ilmu tafsir, "beliau" bukanlah diksi yang layak disemat kepada Muhammad saw. "Beliau", sejauh jelajah literatur Sandra, belum ditemukan mengganti Rasulullah sebagai kata ganti. Bagi Sandra, ini bukan soal perkara diksi belaka. Ini soal hubungan penanda dan tinanda.

Arhi justru punya asumsi lain. "Beliau" bukan soal karena mengandung makna penghormatan. Artinya, jika dipakai merujuk kepada Muhammad nabi terakhir, itu boleh saja. Hubungan penanda dan tinanda di situ tak jadi soal. "Beliau" sebagai kata pengganti, sebagai penanda, dan "Muhammad" orang yang jadi tinanda, secara semiotik bisa dibenarkan sejauh itu merujuk kepada hal yang sama. Arhi, karena itu bilang, "Beliau", sama halnya julukan Muhammad yang lain, bisa dipakai sebagai kata ganti.

Soal lain yakni diksi "pemikir" yang ditulis Hajrah. Konteksnya, Muhammad dan Karl Marx disebut "pemikir" besar yang punya pengaruh. Di sini, saya nyatakan, perlu kehatihatian jika mau menyebut  Muhammad "pemikir". Karl Marx punya gagasan sosialisme ilmiah, dia berpikir soal nasib buruh. Dia bersama Enggels merumuskan Manifesto Komunis. Syahdan, Marx adalah orang yang memacu intelektualitasnya dengan berpikir di batasbatas keilmiahan. Sedangkan Muhammad seorang nabi. Dia kalau mau dibilang tidak punya "orisinalitas" pemikiran. Muhammad, orang yang menerima wahyu, dia seorang pembawa pesan.

Soal ini akhirnya jadi esensil. Banyak kemungkinankemungkinan terbuka. Kalau Muhammad seorang "pemikir" maka dia orang yang punya ruang otonomi menggunakan rasio. "Pemikir" apalagi dalam konteks modern, merupakan antitesa dari cakrawala bathin abad pertengahan. "Pemikir" dan seperti intelektualitas abad pertengahan "Perenung", dua soal yang berbeda tolak ukur. "Pemikir" akibatnya adalah suatu "pemberontakan" terhadap otoritas wahyu yang menjadi sistem pengetahuan sebelum abad modern.

***

Kelas dimulai sekira pukul dua. Kawankawan agak telat. Saya dan Hajir, seperti biasa pergi menggandakan Kala. Selebaran ini sudah masuk bulan ketiga. Di edisi akhir Maret, Kala punya kolom baru; "Unjuk Rasa".

Kolom ini sudah jadi "milik" Sulhan Yusuf. Nampaknya, dia sudah ditakdirkan menulis di sana, halaman terakhir KalaKala bukanlah media berita yang punya nama. Dan, memang Kala bukan media berita. Kala hanyalah mini buletin yang terbit setiap akhir pekan. Tapi, kolom "Unjuk Rasa" yang baru di Kala jadi semacam nilai jual. Pasalnya, di situ Sulhan Yusuf melahirkan ideidenya tiap akhir pekan. Di situ, kita bisa berjumpa "Sulhan Yusuf" yang lain.

Saya kira, di beberapa komunitas, Sulhan Yusuf bukan asing. Dia orang yang gampang dikenali. Ciri khas yang lekat dari beliau adalah kepala yang plontos. Kalau mau dibilang, hidup pria penggila Arsenal ini adalah dunia literasi. Dari mahasiswa hingga sekarang, hanya satu semesta tempat Sulhan menyatakan diri; dunia aktivisme. Makanya, contoh vulgar kayak bagaimana aktivis par excellence, Sulhan Yusuflah orangnya.

Aktivisme itulah yang dia niatkan untuk Kala. Dia sudah dibaptis untuk mengakar diri di kolom "Unjuk Rasa".  Di tulisan perdananya, dia bilang ini jalan literasi yang bakal ditempuh. Kolom "Unjuk Rasa" sebidang rumah tempat dia datang karena merasa terpanggil. Menulis, bilangnya, adalah panggilan jiwa.

Karena itulah, di kolom itu kita bakal bertemu "Sulhan Yusuf" yang lain. Di situ bukan Sulhan Yusuf penggila Arsenal, bukan Sulhan Yusuf yang kerap jadi "murid" Guru Han, juga bukan seorang pimpinan Paradigma Institute. Di situ, "Sulhan Yusuf" sudah jadi pemikiran, ujud yang dirundung kenyataan, ditimpa soalsoal dan kembali bersuara, berunjuk rasa.

Makanya bisa dua hal terjadi di sana, di kolom "Unjuk Rasa". Pertama, dari mata bulat Sulhan Yusuf, dia bisa memapar beragam kejadian. Dari matanya, dia bisa mewakili mata objektif orangorang. Menulis atas orangorang, juga merasai seperti orang kebanyakan. Matanya, atau perspektifnya adalah pengamatan yang berusaha masuk dalam dunia orangorang. Akibatnya, Sulhan harus jadi "orangorang kebanyakan", dia harus objektif.

Atau, yang kedua, dari ruang bathin yang subjektif. Di sini, kemungkinannya jadi lain, di sini dunia objektif jadi surut. Di ruang bathin, Sulhan berlaku subjektif. Di ruang ini, Sulhan memiliki kemerdekaan berbuat apa saja. Tak ada yang punya hak intervensi di situ. Di dalam dimensi subjektifitas, Sulhan bisa menulis apa saja, mulai dari perkara pribadi sampai ihwal masyarakat. Mata bathinnya bisa berlaku surut atau maju menyoal masa silam atau masa depan. Karena itulah disebut unjuk rasa; menyuarakan segala soal dari dalam kepada khalayak. Suatu pernyataan sikap.

Di dua kemungkinan itulah kita bakal menjumpai "Sulhan Yusuf" yang lain. Dia bakal bergerak di antara suara orangorang banyak atau seorang yang mengambil suatu sudut di antara banyak orang. Dia bakal bermain di batas dua dunia, dunia subjektif, juga dunia objektif. Dia bakal menulis khalayak ramai faktafakta atau ihwal sunyi permenungan suatu jiwa.

***

Akhir Maret pekan yang terik. Kelas menulis PI ramai dengan pekik suarasuara. Kadang gema bibir kala gema aksara. Dari situ tulisan dibaca satusatu. Ini metode pertama kali dipakai. Mekanismenya, tulisan yang dibawa dibacakan sendiri untuk dikritik. Satu tulisan dibaca, satu tulisan dikritik.

Gema itu salah satunya datang dari dua tulisan; Arhi dan Heri. Mereka menyoal dua kasus berbeda, tapi siapapun membacanya pasti tahu, mereka sebenarnya sedang protes. Barangkali "protes" itulah benang merahnya. Sadar atau tidak, mereka jadi dua orang yang bersuara paling lantang atas tulisannya. Mereka sedang memprotes dunia "orangorang suci"; dunia pendidikan.

Arhi menyoal kebijakan pemerintah yang dianggap meliberalkan pendidikan. Atas itu dia tulis lengkap sejumlah aturanaturan. Mulai undangundang sampai peraturan presiden. Dari BHP sampai BLU. Di situ Arhi menulis sejumlah alasanalasan mengapa BLU perlu ditolak, selain karena privatisasi, juga liberalisasi. Arhi tulis "bolehkah kami bertanya, kapan kampus lebih baik dari peternakan anjing? Lebih baik dari pembuangan sampah? Tidak kebanjiran ketika hujan, dan tidak berdebu ketika kemarau? Tidak kepanasan ketika kuliah? Kapan biaya kuliah kami murah? Kenapa kami harus bayar mahal, tapi fasilitasnya tidak layak?

Heri, yang juga seorang mahasiswa, mengungkap faktafakta ganjil penyelenggaraan pendidikan di almamaternya. Dia bilang banyak bentuk diskriminasi dilakukan di sana. Dan, juga yang dia sebut ganjil adalah soal pungutan liar.  Jadi kasusnya soal sebentuk kegiatan yang dilakukan oleh pihak kampus kepada mahasiswa UKT. Sesuai aturan Pemendikbud No. 55 Tahun 2013, tidak ada lagi pungutan biaya bagi penyelenggaraan akademik berbasis uang kuliah tungal. Namun sayang, kegiatan itu membebankan sejumlah pungutan kepada mahasiswa UKT demi berlangsungnya kegiatan. Heri menulis, "hal ini musti dikritisi dan mendapat respon yang baik bagi kalangan mahasiswa sendiri, menyatukan suara dan berteriak tolak pungli." Di akhir tulisannya dia menutupnya "Namun kita haris yakin bahwa penindas, cepat atau lambat akan binasa".

Sebelumnya, Salman sudah dahulu bersuara. Dia tulis soal perilaku manusia yang merusak alam. Tulisannya mirip suara koor yang berteriak dibelakang panggung, bahwa aktivitas moralis pecinta alam, justru punya maksud lain. Atau digeser dengan maksud lain. Dia singgung soal brandbrand terkenal yang menciptakan trend mencintai alam, namun justru kental dengan unsurunsur kepentingan kapital. Mahasiswa alumni fakultas pendidikan ini, juga  sedikit menyinggung soal etika komunitas alam yang dinilai ambivalen dengan semangat ekologis yang sering jadi jargon.

Tapi, juga ada suara gema yang lain. Semacam kabar bahwa dunia bukan medan yang lurus, melainkan dunia yang landai, curam. Fifi, dengan prosa lirisnya bersuara soal peralihan perempuan muda yang secara transfiguratif menjadi seorang ibu rumah tangga. Fifi, menulis kesankesan peralihan dari seorang perempuan muda yang tibatiba mengemban suatu tanggung jawab keluarga. Dia mengungkap dunia kejiwaan perempuan yang beralih dunia. Perasaanperasaannya. Pekerjaannya kala sendiri mengurusi keluarga. Dan, di situlah kekuatannya, dia mengungkap sisi "keterasingan" seorang istri dari seorang suami yang sibuk dalam dunia kerja.

Retno Sari dan juga Marwa, merekam gema soal suara seorang perempuan yang tersakiti. Retno menulis deskripsi perempuan dengan analogi bungabunga. Di saat dia membaca tulisannya, implisit di situ parau suara perempuan yang bangkit dari semacam pengalaman traumatis. Retno bilang, dia sering mendengar curahan hati perempuanperempuan sekitarnya. Soal bagaimana suatu pengalaman kelam tidak membuat perempuan mendendam dan tersakiti, malah bangkit dan menjalani kehidupan selayaknya kehidupan normal. Suara semacam itulah yang dia tulis, dengan analogi bungabunga.

Marwa, perempuan yang mengemas suaranya lewat fiksi. Teksnya adalah kritisisme perempuan atas idealisme intelektual. Dia nyatakan ambivalensi yang dia rekam. Di kampus, tempat kala menara ilmu jadi tinggi, idealisme sudah jadi barang usang. Idealisme hanya jadi bahasa lantai, atau bahasa jalan raya yang diinjak dan berlalu begitu saja. Kampus, hanya kumpulan suarasuara tengik omong kosong. Di sana, idealisme, entah di atas mejameja birokrat, atau di bukubuku mahasiswa hanya kecerdasan yang disembelih oleh sikap amoralis.

Tapi, di baitbait puisinya, Marwah masih menaruh harap. Terutama kepada orangorang yang harus tercaci maki. Orangorang yang menempuh jalan kecil. Orangorang yang mungkin cuman seorang dua orang, orangorang yang hanya dihitung jari. Orangorang yang punya mimpi besar, dengan gagasan besar. Orang "yang menempuh jalan yang kecil meskipun harus tercaci maki."

***

Muhajir memacu motornya. Suara knalpot setengah bocor itu membelah jalan Pabbentengang. Saya sedari awal yang diboncengnya duduk memegang selebaran Kala. Kami memang sudah dua minggu ke tempat yang sama menggandakan Kala. Di siang itu, dengan Kala yang tintanya belum kering betul, melaju ke tempat kelas literasi PI digelar; TB Paradigma Ilmu. Di situ kami yakin sudah ada kawankawan menunggu.

Hajir menarik tali gasnya panjangpanjang. Motornya meraungraung. Dan, siang masih terik. Ini hari yang bakal panjang.

20 March 2016

Soal Puisi

Puisi saya kira memang perkara intuisi. Orangorang bilang soal rasa. Makanya tidak semua bisa bikin puisi. Karena itu puisi juga menjadi pekerjaan elitis. Soal ini, hanya disebabkan puisi punya cara lain kala menggunakan bahasa.

Pernah ada soal, apakah bahasa dalam puisi menjadi objek keindahan atau media keindahan. Yang pertama berarti di dalam puisi sudah mengandung keindahan, dan yang terakhir bahwa bahasa dalam puisi hanya mengantar orang kepada keindahan.

Kalau dicanggihcanggihkan, problem pertama dianut perspektif lirisme-ekspresivisme, sementara yang lain diacu oleh perspektif realisme. Problem ini juga semakin ribet akibat unsur politik begitu dominan menentukan perkembangan sastra.

Ini sempat terjadi di kisaran era 60-an, kala sastra mencatutcatit dimensi ideologis suatu pemikiran. Di era itu, sastra, termasuk puisi menjadi medan perseteruan kubukubu sastrawan dan pemikir intelektual. Akibatnya, perkembangan sastra terbelah jadi dua perspektif; humanisme universal dan sastra politik sebagai panglima. Pertama ditemui kubu Manifesto Kebudayaan (Manikebu), yang kedua adalah pandangan orangorang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Pernah juga ada trend di lingkungan sastrawan soal puisi gelap. Terutama juga seperti dalam aliran seni rupa; abstraksionisme. Saya kira, tulisan  Martin Suryajaya di website Indoprogress menulis jauh lebih lengkap ihwal abstraksionisme sebagai mazhab seni rupa, juga puisi.

Puisi gelap, seperti yang diidamkan beberapa penyair adalah pendirian keindahan kala makna sulit dipahami. Makna yang tersembunyi jauh di balik bahasa adalah keindahan itu sendiri. Begitu juga bahasa yang sulit dimengerti dianggap sepadan dengan keindahan sebagai nilai estetisnya.

Kecenderungan ini nampak benderang kalau ditemui pada puisi jenis lirisme. Bahasa tiada lain adalah perasaan itu sendiri. Prinsip ini, jiwa penyair belum nampak ketika belum berbahasa. Akibatnya, bahasa yang dipakai dalam puisi adalah jiwa yang tampak. Bahasa, bagi puisi lirisme hanya sematamata cermin perasaan penyair. Suatu pengganti perasaan yang tak tampak dalam jiwa.

Saya tak tahu apakah soal itu yang benar. Sebab, puisi juga bisa jadi mirip pamflet. Bahasa di puisi macam itu sarat muatan ideologis. Bahasa, bukan lagi sebagai media ekspresi jiwa, melainkan suara anjuran perubahan. Bahkan, puisi dalam koridor ini harus mampu menempatkan diri di dalam suatu jejaring sosial politik suatu masyarakat.  Puisi harus masuk meninggalkan “angkasa abstrak” yang sulit dipahami, menjadi bahasa yang dimengerti banyak orang.

Akhirnya, ini hanya soal pilihan. Saya kira satu hal yang samasama diperjuangkan dalam puisi; kebebasan. Entah dia mau menggunakan bahasa langit, ataupun bahasa suara orangorang kebanyakan. Puisi adalah puisi. Dia memang perkara intuisi, yang bergerak masuk keluar antara kenyataan yang diadapinya.


18 March 2016

Hannah Arendt dan Obrolan yang Tersisa

Muhajir mengungkap banyak hal soal pemikiran Hannah Arendt. Pertama, dia bilang, yang subtil dari Hannah Arendt adalah pemikiran politiknya. Pemikiran politik Hannah Arendt dibilang antitesa dari konsep politik kontemporer. Secara tidak langsung itu juga memberikan makna baru tentang politik. Soalnya, bilang Muhajir, politik di mata Arendt adalah "tindakan".

Antitesa politik Hannah Arendt, bilang Muhajir harus dimulai dari bagaimana Arendt melihat manusia. Manusia harus dilihat sebagai "siapa dia", bukan "apa dia". Hajir, begitu sering dipanggil, bilang pembedaan ini penting sebagai jalan masuk dalam memahami konsep politik Arendt.

"Siapa dia" sebagai suatu horison pengertian dengan sendirinya akan memberikan arti kekhasan atas manusia yang memang berbeda. Defenisi macam ini dengan sendirinya menempatkan perbedaan sebagai entitas yang tak tertolak. Manusia bukan "apa dia" yang mengaburkan pengertian manusia sebagai mahluk unik. Universalisme-esensialis yang jadi "common sense" bahwa manusia adalah mahluk rasional, ditolak karena menundukkan manusia sebagai entitas yang seragam.

Politik, daku Hajir harus dimulai dari pandangan atas manusia sebagai "siapa dia", karena hanya itulah jalan memahami politik. Politik, kalau mau dibilang, berarti berusaha memahami manusia yang berlainan, yang berbeda. Politik bukan apaapa selain afirmasi atas keberagaman.

Makanya, atas Arendt, Hajir menyebut dua antinomi; politik dan antipolitik. Upaya distingtif ini, disebut untuk menakar apa itu politik sesungguhnya. Dari titik tolak "perbedaan dan keberagaman" politik diartikan usaha manusia mengelola kehidupannya tanpa sikap diskrimintatif dan intimidatif. Politik sejauh Hajir sebut adalah medan tak ada "perintah dan yang memerintah". Narasinya yang lain, politik merupakan ruang terbuka bagi semua mengajukan kesetaraannya.

Sementara antipolitik ungkap Hajir, Arendt mengajukan dua kecenderungan yang mesti diwaspadai; tirani dan totalitarianisme. Dua wajah kekuasaan ini diwantiwanti Hajir dengan mengajukan ciriciri negara yang represif, monolit, dan menyukai penyeragaman. Sejauh ini, antipolitik dibilangkan sebagai usaha kekuasaan yang menghendaki penyamaan melalui penyeragaman cara pandang juga pemikiran.

***

Tidak banyak yang terlibat. Awalnya hanya lima orang. Bincangbincang, sesuai rencana dimulai pukul empat. Saya tiba sekitar pukul empat lebih. Agak telat. Kedatangan saya bersama Muhajir yang kali ini jadi penyerta. Juga, Pabe, yang ikut dari awal di Bunker.

Tapi, orang paling pertama di lokasi adalah Jusna. Dia sudah memesan kopi dari awal. Barangkali sudah sedari tadi tiba. Dia bilang sekira duapuluh menit lalu sampai. Itu disebut tepat waktu. Disiplin.

Akhirnya kami mengambil lokasi yang pas buat diskusi. Saya memilih di bagian depan warkop; dua meja setinggi lutut. Di situ kami duduk sembari ngobrolngobrol ringan. Tak lama Hajra datang.

Saya agak ragu banyak bakal datang. Langit mendung. Gelap dibubungan jauh. Namun itu bukan soal. Berapapun datang, diskusi harus tetap berlangsung.

Agak lama kami menunggu kedatangan kawankawan lain. Tibatiba Kanda Sulhan Yusuf menelpon. Dia sampaikan kalau tidak bisa datang, dia sedang menulis. Saya maklum. Apalagi, prinsipnya, diskusi ini hanya obrol santai. Bagi saya, jangan sampai merepotkan guru kolektif kami jauhjauh menyetel motornya hanya mau datang mendengar obrolan yang tidak pentingpenting amat. Maqamnya sudah jauh melampaui obrolan kami. Yang kayak begini, wacana yang sudah dilumatnya bepuluh tahun lalu.

Tapi, bagi kami itu sebentuk apresiasi, dukungan. Walaupun tidak bisa datang dia sempatkan menelpon. Yang lain tak ada kabar. Entah kemana.

Di atas, langit belum berubah; hitam. Seperti ada yang menumpahkan tinta hitam di situ. Lama berselang pelanpelan berubah kelabu. Biarpun begitu, tetap saja, kami masih berlima. Akhirnya diskusi dimulai. Saya membuka "forum". Hajir menarik napas, rokoknya dihisap dalamdalam, dia akhirnya berbicara.

***

Ada soal dari Hajrah; apa itu politik dari kaca mata Arendt? Hajir bilang, politik di mata Arendt berkebalikan dengan arti politik konvensional. Politik menurut Arendt, ucap Hajir diinspirasikan dari Polis Yunani Antik. Di situ, ada pemilahan tentang ruang; "yang privat" (oikos) dan "yang publik" (polis). Mengacu Arendt, politik hanya dimungkinkan di ruang publik.


"Yang publik" atau ruang publik, disebutkan mengacu kepada Polis Yunani Antik. Saat itu, di Polis, masyarakat digerakkan atas situasi yang setara. Polis, merupakan medan yang memberikan kebebasan diekspresikan. Akibatnya, tak ada semacam "kekuasaan" yang berhak menguasai perbedaan. Polis adalah ruang bersama. Polis merupakan tempat pemikiran bebas dikampanyekan.

Sedangkan, "yang privat" daku Hajir adalah tempat hirarki bermula. Karena bersifat privat, segala yang ada hanya dimiliki oleh satu orang. Privat dengan arti yang demikian bermakna penguasaan atas seseorang tanpa ada keterlibatan yang lain. Dengan sendirinya, privatisasi akhirnya menolak kolektivisme. Makanya, kata Hajir, privatisasi harus ditolak.

Pemilahan ini digambarkan Arendt sebagaimana yang tampak pada tatanan masyarakat Yunani antik. Oikos merujuk kepada lingkungan sosial rumah tangga yang di dalamnya bekerja atas logika tuan-budak. Manusia di oikos, bergerak atas kesadaran dan perilaku kepentingan pribadi atau keluarga. Sehingga di dalamnya, rumah tangga menjadi medan subordinasi dan eksploitatif terjadi.

Polis, tatanan yang mengharuskan adanya ikatan kerja sama antara sesama warga akhirnya adalah tatanan yang ideal. Asumsi ini didasarkan hanya di Polislah kepentingan bersama diperjuangkan. Di dalam polis, semua orang setara. Di polislah ikatanikatan privat seperti dalam rumah tangga ditanggalkan. Akibatnya, hanya di polis, politik itu dimungkinkan.

Dengan sendirinya, politik artinya ruang publik. Politik berarti terlibat di antara keseragaman. Soal ini, Hajir sebelumnya membagi tiga istilah kunci: kerja (labour), karya (work), dan tindakan (action). Kerja dan karya, di pemikiran Arendt, disebut bukan aktivitas politik. Sebabnya dua hal itu hanya suatu usaha soliter. Kerja maupun karya, hanya menyiratkan suatu sikap menyendiri mirip filsuf. Arendt, menampik sikap moralis dari kerja dan karya yang berdimensi individual. Bagi perempuan kekasih Heidegger ini, politik berarti tindakan.

Tindakan adalah sikap di ruang publik. Lain urusannya kerja dan karya yang ditemui di "ruang privat". Hanya "tindakanlah" perilaku manusia yang disebut politik. Ruang publik, tempattempat umum yang sering kita temui, yang difasilitasi negara, adalah tempat tindakan berlangsung.

Kalau bisa diringkas, politik berarti perilaku manusia menghadapi ruang sosial yang jamak. Perilaku, dalam cakrawala berpikir Arendt adalah tindakan yang mengandaikan kehadiran "yang lain", suatu sikap terbuka yang bebas dari penjarapenjara totalitarianisme dan tiaranis. Politik, sebut Arendt, adalah kebebasan itu sendiri.

***

Magrib datang dengan mendung yang masih bergerak lelet. Udara berubah dingin bersamaan tiangtiang lampu jalan menyala terang, kekuningan. Lenggang jalan berubah ramai. Kudakuda besi membelah puluhan sesak mobil. Suarasuara klakson memekik satu dua kali. Sekali menyapu udara, suara azan mendayudayu. Orangorang, hirau tak hirau, tak urus surau masjid penuh. Dan, kenyataannya memang begitu. Mesjid mungkin terisi setengah, dan negara, atau apalah namanya, punya banya soal.

Barangkali, di situlah medan pikiran Hannah Arendt seharusnya dibentang. Negara, institusi yang banyak masalah itu harus diteropong dengan mata kecut seorang Arendt. Dari mata perempuan pemikir politik abada 20 ini, kita bisa tahu, negara memang banyak soal.

Belakangan, atau juga separuh umur bangsa ini penuh dengan sejarah penyingkiran. Kiwari, itu banyak terjadi. Politik malah diselenggarakan sebagai "institusi privat". Akibatnya, negara menjadi wadah diskriminatif. Selain kasuskasus kebebasan beragama, penyingkiran kaum papa akibat perampasan tanah, barubaru ini pelarangan berupa festival dan pemutaran film menyeruak di lini masa dunia maya. Tanpa melupakan kasuskasus yang tidak disebutkan, negara dalam hal ini persis seperti yang dibilang Arendt; tiranis dan totaliter.

Horison pemikiran politik yang diajukan Arendt setidaknya suatu alternatif buat bangsa yang banyak "membunuh" aktivisme warganya yang membutuhkan ruang untuk bertindak. Indonesia masa kini adalah negara dengan penyelenggaraan politik yang masih bergerak atas sentimensentimen agama atau kepentingan ekonomi. Di situ, selama politik diartikan sebagai laku saling jegal dan penyingkiran kelompok, maka Indonesia dengan sendirinya mematikan "denyut" perkembangannya sendiri.

Saya kira, di suasana itulah pemikiran politik Hannah Arendt menemukan konteksnya. Di saat itulah kita butuh yang otentik, suatu politik yang lebih manusiawi.