madah empatpuluhlima

"Saya belajar dari Maxim Gorki yang betulbetul saya kagumi. Gorki kalau menulis bagai memegang tiang rumah, kemudian mengguncangkannya sehingga semuanya berubah dan bergerak" Pramoedya Ananta Toer.

Semenjak rumahnya kedatangan orangorang asing. Syahdan, semua berubah menjadi berbeda: dunia dipandang sebagai tempat di mana niat mesti diperjuangkan. Pelagia Vlassov menjadi perempuan yang berubah. Ia menjadi seorang ibu yang tegar hadapi dunia yang karutmarut.

Semangatnya membuncah penuh getar untuk bertindak. Perempuan yang awalnya jadi korban kekerasan rumah tangga akhirnya tahu, bahwa perempuan tidak dinubuatkan untuk mengembik.

Dunia yang dilihatnya hanyalah keadaan yang sudah terlembakan berabadabad lamanya, dengan kekerasan, kemiskinan, kerja rodi, mabukmabukkan, sontak berubah. Di balik matanya yang biru: dunia memang tak seharusnya menjadi kalap.

Keadaan itu berubah semenjak anaknya, yang aktivis buruh, menjadikan rumahnya tempat pertemuan tersembunyi. Anaknya, Pavel, memang seorang aktivis buruh. Bersama temantemannya, dirumah sudut perkampungan di atas sebuah tanggul, perbincangan Pavel bersama temantemannya menyadarkan Pelagia Vlassov tentang arti sebenarnya keadaan yang mereka alami.

Saat itu memang Rusia adalah negeri yang sedang menyambut awal abad dua puluh. Sebagaima Eropa, industrialisasi gencar. Sulingsuling pabrik ditiap paginya sudah bunyi membangunkan kaum buruh untuk bekerja. Asapasap mengepul membungbung. Di bawahnya, kaum pekerja harus bangun dengan tuntutan kerja atas tenaga yang mereka miliki.

Dengan cara itulah Pelagia hidup. Wanita empat puluh tahunan dengan tubuh yang sedikit bungkuk harus bekerja dengan suaminya yang berperangai kasar sebagai montir di sebuah pabrik. Juga anaknya Pavel yang pendiam.

Begitulah Maxim Gorki dalam novelnya, Ibunda, membangun sebuah sketsa cerita. Suatu kehidupan seorang Ibu dan anaknya yang sadar untuk memotong rantai nasib yang tak melar berabadabad. Di ceritanya itu, Gorki, melalui Pelagia, ingin membilangkan bahwa seorang ibu yang memiliki satu bilik di dalam rumah, juga bisa turut mengambil sikap perjuangan atas keadaan yang timpang.

Sebab itulah barangkali Pram terkagumkagum. Gorki nampak mengguncang tiang pancang suatu rumah, dan membuatnya berubah dan bergetar.

"Rumah" dalam kalimat Pram bisa berarti banyak hal. Tapi, sebagai suatu tempat di mana kesadaran dan tubuh dipertautkan, rumah adalah ruang tempat semuanya mesti sejenak rehat. Di sana, di rumah, kita berhenti untuk bertindak, sebab fungsi rumah adalah tempat tenaga dan pikiran dipupuk. Rumah, adalah ruang yang dibangun untuk menyediakan tempat aman dan rasa tentram ditemukan. Di rumah, semuanya akhirnya jadi normal.

Tapi kata Pram, Gorki datang untuk mengguncangkannya. Tiangtiangnya tiba untuk digetarkan agar semua berubah dan nampak berbeda. Rumah, dalam arti stage yang sudah selalu kokoh bagi landasan pandangan dan keyakinan kita, akhirnya barangkali memang mesti dipugar. Sebab, yang kokoh biasanya akan kehilangan sesuatu yang bisa membuat orang bisa peka. Yang kokoh, kadangkadang memang tak selamanya sudah sempurna.

Maka itulah suatu guncangan bisa membuat semuanya berubah. Dalam Ibunda, Pelagia mengalami itu dari pertemuan anaknya Pavel dengan temantemannya. Di saat ia menjamu tamutamu anaknya, terbukalah pintu rumah jiwanya. Ia banyak mendengar kata asing dan pemikiran asing yang nampak baru dan membingungkan.

Entri yang Diunggulkan

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...