29 September 2016

Filsafat Indomie Mi Goreng

Seharusnya siapa pun Anda berterima kasihlah kepada makanan satu ini: Mi Goreng Indomie Instan. Makanan paling instan di jaman serba instan.

Ini bukan iklan. Tapi sekadar memfilsafati makanan sejuta umat ini. Makudnya, dari makanan remeh temeh ini, apakah ada sesuatu yang substantif tinimbang sekadar merasai gurihnya minyak sayur dan bumbunya yang asinasin sedap itu.

Ya. Kita ingin mencari keugaharian dari makanan seharihari ini. Sesuatu yang utama. Yang falsafati.

Lantas, bagaimana caranya menemukan keutamaan dari makanan yang paling banyak dicecap mahasiswa ini. Mari dibahas satu dua tiga hal.

Pertama dari cara dibuatnya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengandung kontradiksi? Jika belum, coba Anda membuatnya. Kadang melalui praktik, beberapa hal akhirnya nampak terang.

Jika sudah, dapatkah Anda menemukannya? Ya, tepat sekali. Mi goreng ini hanya namanya saja mi goreng, sebab saat Anda membuatnya ternyata dengan cara direbus. Bukankah itu kontradiksi? Sesuatu yang bertentangan dari caranya diciptakan? Bukankah lebih baik disebut saja mi rebus?

Kadang memang sesuatu nampak utama jika dalam prosesnya penuh pertentangan. Termasuk mi goreng ini, mengajarkan kepada kita terkadang hidup penuh pertentangan. Bukankah dari proses yang demikian kontradiktif itu, justru mengandung keugaharian?

Bukankah sesuatu akan nampak terang jika di dalamnya diperlukan pertentangan. Baik akan nampak baik jika ada keburukan. Terang hanya bisa dimengerti jika ada kegelapan. Begitu juga Anda menjadi jelek karena saya tampak gagah?

Jangan kecewa! Contoh di atas hanya mau menjelaskan dari mi goreng ini kita bisa belajar bahwa hidup itu penuh perbedaan. Tampak kontradiksi, tapi menyimpan keugaharian.

Kedua, dari komposisinya. Sadarkah Anda bahwa mi goreng ini mengajarkan perlunya hidup seimbang. Bagaimana itu mungkin? Begini, jika anda penikmat mi goreng, maka Anda akan cepat memahaminya.

Ketika Anda selesai merebusnya, apa yang Anda lakukan? "Menyampur bumbubumbunya". Benar sekali. Tanpa penyampuran bumbubumbunya, Anda tidak akan menemukan kenikmatan rasanya. Hanya dari cara itulah Anda menemukan rasa nikmat. Hanya dengan keseimbangan bumbubumbunya.

Pelajaran yang kedua, ternyata mi goreng ini tersirat ajaran yang dahsyat. Yakni, dalam hidup ini dibutuhkan keseimbangan. Coba Anda bayangkan jika tidak ada keseimbangan dalam hidup Anda? Yakin dan percaya, hidup Anda bakal hancur lebur.

Kemudian, dari keseimbangan itu, tidak mungkin terjadi tanpa ada keterlibatan macammacam unsur. Mi goreng ini mengajarkan bahwa dengan minyak bumbu, bubuk cabe, dan kecap manis, kenikmatan dapat dimungkinkan.

Begitu pula hidup ini, tanpa pencampuran berbagai macam unsur, kelak hidup menjadi nisbi. Keugaharian hanya bisa jika ada berbagai macam perbedaan yang berjalan seimbang. Melalui cara itulah ideal kehidupan dibuat.

Bahkan, mi goreng ini mengafirmasi Platon --filsuf Yunani purba, yakni kebahagiaan dapat diraih jika "kepala", "dada", dan "di bawah dada" berjalan berseiringan tanpa melewati batasbatasnya. Kebahagiaan adalah bekerjanya sesuatu berdasarkan ciri khasnya masingmasing. Begitu kirakira maksud Platon.

Ketiga, yakni walaupun disebut mi goreng instan, tetap saja ada proses tahapan saat Anda menyajikannya. Pertama, Anda harus membuka bungkusannya, kedua, merebus air, dan terakhir Anda menyajikannya dengan menyampur pelbagai bumbubumbunya. Setelah itu Anda bakal kenyang.

Artinya, tiada yang terjadi dengan cara begitu saja. Semuanya mesti berproses. Bahkan jika Anda ingin cantik seperti Dian Sastro.

Jangan dikira, kecantikan Dian Sastro terjadi begitu saja. Dia cantik karena berproses. Tapi, tunggu dulu, kecantikan yang saya maksud bukan sekadar tampilan fisik belaka. Dian Satro cantik karena dia bisa dikatakan bertalenta. Dia punya karakter. Dan karakter itu datang dari "dalam kepalanya".

Ya, benar sekali. Itulah yang kerap dibilang inner beauty. Kecantikan yang lahir dari "dalam diri". Dan, semua itu butuh proses.

Dian Sastro punya kecerdasan inner beauty karena dia belajar. Banyak mendalami ilmuilmu saat mahasiswa. Mau melahap banyak bukubuku. Dan mau bersabar mendalami apa passionnya.

Bagaimanakah dengan Anda? Hidup sekarang memang banyak yang instan Bung. Tapi, bukan berarti membuat Anda menjadi serba instan pula. Ikuti proses, jalani dengan tekun apa yang menjadi tujuan Anda. Biarkan yang lain serba instan. Sesungguhnya mereka tak dapat apaapa.

Keempat, mie goreng yang Anda makan itu mengajarkan kebohongan. Maksudnya? Begini, jika Anda jeli memerhatikan bungkusan mi goreng Anda, maka apa yang terpampang di bungkusan dengan apa yang Anda sajikan bagai langit dan bumi.

Jika diperhatikan, di bungkusan mi goreng Anda tergambar sajian nikmat lengkap beserta telur setengah matang, dua biji udang rebus, seiris tomat segar, butiran kacang polong, dan sedikit acar beserta irisan bawang merah. Namun itu tidak terjadi saat Anda menyajikannya di rumah. Apa artinya? Itu yang saya maksud kebohongan.

Begitulah, dari mi goreng itu, Anda diajarkan jangan cepat percaya apa yang sedang tampak di hadapan Anda. Apa yang sedang Anda lihat, dengar, dan rasakan. Melainkan kadang apa yang Anda sedang saksikan justru berbeda jauh dari yang sebenarnya terjadi.

Sering Anda menyaksikan begitu nyamannya keindahan sebuah kota, tapi bisa jadi sesungguhnya itu hanya tiupan belaka. Justru di balik itu tersembunyi keadaan yang sebenarnya, pemukiman kumuh, misalnya.

Kadang Anda percaya statistik minat baca yang rendah, padahal yang terjadi tidak demikian. Justru yang Anda baca, punya maksud membuat Anda percaya, bahwa memang minat baca suatu masyarakat betulbetul rendah, padahal jauh panggang dari pada api. Sesungguhnya itu juga belum tentu benar.

Seperti itulah, mi goreng yang sudah berharga duaribu lima ratus ini, secara tersirat menyatakan apa yang tampak belum tentu mewakili apa yang sesungguhnya terjadi.

Terakhir, apa keugaharian yang paling dahsyat dari semua ini? Kesederhanaan. Ya, kesederhanaan. Mi goreng ini mengajarkan walaupun Anda bisa melahap segalanya, punya banyak duit, seorang jutawan, jika Anda memilih makanan ini, maka sebenarnya Anda memilih cara menikmati makanan dengan sederhana.

Tapi, di kondisi lain, jika Anda memilihnya sebagai makanan utama, maka itu bisa jadi tandatanda kehidupan ekonomi Anda sedang dilanda krisis? Baiklah saya kadung lapar. Percayalah.


20 September 2016

Review Kajian Fenomenologi: Jean Paul Sartre (1905-1980)

(Dosen pengampu: Muhammad Ashar, Pengasuh Lembaga Kajian Filsafat Lentera Makassar)

Filsafat Jean Paul Sartre bukan sekadar pemikiran yang berkelit di antara asumsiasumsi teoritik belaka. Sartre, sejauh dikenal sebagai  filsuf eksistensialis, merupakan pemikir yang menganjurkan barangsiapa berfilsafat, maka pertamatama yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara manusia bertindak.

Lantas bagaimanakah cara menusia berada dengan tindakannya? Sartre mengemukakan bahwa manusia harus senantiasa mendahului esensinya. Maksudnya, manusia harus senantiasa berada tanpa ditundukkan situasi apa pun yang melingkupinya. Itu artinya, situasi yang dihadapi manusia merupakan tiang jeruji kebebasan yang mesti dijebol dan dilampaui.

Akibatnya, manusia adalah mahluk yang memiliki rongga untuk dapat bertindak, bergerak, dan menentukan keberadaannya tanpa kehilangan otentitas yang menjadi khas bagi dirinya. Otentitas yang diandaikan Sartre, hanya bisa dimungkinkan ketika manusia mampu membangun jarak kesadaran antara aku yang bertindak dengan tindakannya itu sendiri dengan tujuan menundukkan hambatanhambatan yang melingkupinya.

Dari pengandaian seperti di atas, maka Sartre juga mendudukkan filsafatnya bukan sekadar pemikiran yang ditilik dari asumsiasumsi filosofis, atau hanya argumenargumen rasional yang dikemukakan secara teoritik belaka, melainkan diturunkannya sampai ke dimensi yang paling fundamen: praktik.

Itulah sebabnya, Sartre bukan saja seorang filsuf. Sartre juga seorang novelis, penulis drama, dan seorang aktifis hak asasi. Yang terakhir ini, sering membuat Sartre terlibat aksiaksi politik selama masa hidupnya. Bahkan bersama Bertrand Russell —filsuf analatik abad 20, menginisiasi berdirinya Mahkamah Internasional yang didirikan untuk memberikan sanksi kepada orangorang yang melakukan kejahatan perang tingkat tinggi.

***

Kesadaran bagi Sartre bukan terisolir sebagaimana yang ditunjukkan Husserl. Walaupun, secara fenomenologi, Husserl berhasil membangun tipologi kesadaran yang terarah terhadap objek, tetapi di dalam konsep kesadaran Husserl, asumsiasumsi idealistik masih begitu kental mengemuka di dalam subjek sebagai satusatunya agen yang mampu membentuk pemahaman.

Pendakuan ini didasarkan atas objek faktual yang tidak diterima sebagai bagian dari fenomena di saat kesadaran membangun pemahamannya. Penolakkan terhadap objek faktual inilah, yang dianggap Sartre, kesadaran intensionalitas Husserl dengan sendirinya mengulang tradisi filsafat yang semula ditampik filsafat fenomenologi.

Dengan kata lain, selain terjebak di dalam solipisme idealistik, penempatan satusatunya subjek sebagai elemen pembangun kesadaran, juga dianggap Sartre masih mengukuhkan kesadaran versi Cartesian. Artinya, dambaan Husserl untuk mau membangun kesadaran yang terlibat dan terarah kepada objek kesadaran, justru di saat yang bersamaan malah mengembalikan pembelahan dualisme subjek-objek yang sebenarnya tidak disadari Husserl.

Sementara Sartre mengandaikan kesadaran sebagai pemahaman yang lahir dari dunia seharihari. Pengertian ini sekaligus menandai kesepakatannya dengan Husserl berkenaan dengan lebenswelt sebagai pijakan fenomenologinya. Walaupun begitu, Sartre memiliki persepsi yang berbeda tentang bagaimana hubungan subjek objek yang diperantarai oleh kesadaran di saat pemahaman itu terbangun.

Itu artinya, tiada kesadaran tanpa dunia. Yakni, setiap kesadaran mengharuskan keberadaan dunia sebagai fondasi epistemiknya. Begitu pula sebaliknya, dunia tidak serta merta tiada jika tiada kesadaran memahaminya. Dengan maksud tanpa terjebak di dalam primasi ego idealistik idealisme dan subjek Cartesian, baik kesadaran dan objek kesadaran adalah satu kesatuan relasional yang tidak terelakkan di dalam pemahaman.

Kritisisme Sartre juga ditunjukan dengan penolakannya terhadap konsep epoche yang didakukan Husserl. Sartre berkeyakinan, dengan pengertian kesadaran melalui caranya bekerja, tidak terlepas dari dunia yang menjadi situasi latar belakang pemahaman manusia dibentuk. Itu artinya, di mana pun kesadaran dibangun, manusia senantiasa melibat dan terlibat oleh keadaan yang ikut membentuk ruang sadarnya.

Kesadaran yang senantiasa terbentuk melalui keterlibatannya di dalam dunia, dinyatakan Sartre sebagai kondisi yang tidak terelakkan bagi manusia. Melalui cara ini, pemahaman yang diklaim bersih dari pengaruh eksternalitas dari luar kesadaran, tidak dapat dimungkinkan akibat asumsi ini bertolak belakang dari conditio humana di mana manusia adalah mahluk yang dibentuk kehidupannya sendiri.

16 September 2016

Pojok Bunker

Yang mesti diingat kembali, apa sesungguhnya tujuan Pojok Bunker (PB)? Sejauh yang masih diingat, PB, sejatinya merupakan proyek kultural berkelanjutan. PB adalah bentuk lain dari kerja pemberdayaan yang selama ini dilakukan yayasan kita bersama. Atau, jalan lain dari revitalisasi kegiatan intelektual yang selama ini mandeg.

PB, walaupun kesannya mainmain, sebenarnya punya tujuan serius: menghidupkan wacana sampai ke tingkat pencerahan. Walaupun di dalam praktiknya, tujuan ini belum mampu maujud seperti yang diharapkan.

PB semula, juga hakikatnya adalah proyek pemberdayaan ruang yang semula tidak fungsional, menjadi produktif. Dengan kata lain, PB merupakan peralihan dari ruang terabaikan menjadi ruang diskursif.

Dengan maksud demikian, maka PB, diharapkan menjadi medan pertukaran ilmu pengetahuan, menjadi tempat obrolan yang membuka wawasan.

Berdasarkan fungsi diskursif ini, PB mau tidak mau menjadi ruang yang lebih care terhadap perbedaan pengetahuan antara anggotanya. Maksudnya, PB harus mampu memediasi orangorang yang berpengetahuan tinggi agar dapat terlibat langsung dengan kawankawan melalui kajian edukatif yang samasama diprogramkan.

Melalui programprogram edukatif, dengan sendirinya terbuka luas bagi siapa pun dapat terlibat menguji pemahamannya dengan dialog terbuka yang menjadi ciri pendidikan. Itu artinya, pengetahuan tidak sekadar berpusat di dalam relasi hirarkis, melainkan lebih setara dan demokratis.

Tujuan ini memang agak terkesan muluk, atau bahkan utopis. Tapi, sejauh itu bisa dibuatkan indikator dan mampu diterjemahkan ke dalam programprogram, PB pelanpelan akan memperlihatkan hasil yang terang.

Dari proses kelahirannya, PB adalah proyek bersama anakanak yayasan. Sejak pertama dibentuk, pikiran tentang pengalihan fungsi ruang terabaikan, sudah sebelumnya dibicarakan bersama. Akhirnya, dari pikiran yang dibicarakan itu menjelma kolektif. Dimaterialkan menjadi kerja sama. Diharapkan bersamasama.

Walaupun tanpa modal besar, dengan bahan material yang ada, melalui hari kerja bersama, tanpa dipaksakan, PB pun berhasil dibangun. Di hari pertama PB berdiri, sudah ada programprogram yang dicanang kedepannya. Di antaranya kajian panjang tentang filsafat Barat, yang akan diakhiri dengan kajian filsafat Islam.

Bahkan dari perjalanannya, PB sudah sempat menghadirkan orangorang berkapasitas unggul yang mau diajak terlibat langsung bertukar pengetahuan. Berdiskusi dan menanggung soal bersama, hingga mau ikut membesarkan PB.

Itu semua karena ada orangorang yang berpikir, orangorang yang bekerja, yang bergerak melibatkan sebanyak mungkin orangorang agar datang terlibat. Juga, tentu ada program yang dikawal bersama, dari perhatian semua kita.

PB, yang semula ruang terabaikan, dari hari ke hari turut dipermak. Ini dilakukan agar orangorang yang ikut serta dalam aktifitas PB merasa nyaman dan kerasan. Dengan tujuan itulah, PB dibuat lebih fashionable. Dindingdindingnya ditempeli aksesoris dari barangbarang bekas. Papan tulis dibuatkan penyanggah. Begitu pula untuk pembicara, PB sampai menyediakan mimbar sederhana.


Terakhir, yayasan kita direnovasi. Atapatapnya dibuat tinggi. Lantainya dibikin lebih landai. Juga dindingdindingnya, disempurnakan dengan cat berwarna terang. Bersamaan dengan itu semua, PB yang terletak di bagian belakang yayasan, ikut diperbaharui.


Upaya ini samasama kita tahu adalah perhatian besar dari gurunda bersama. Berkat perhatian beliau, yayasan yang semula pengap berubah jauh lebih sejuk. Akhirnya, yayasan, tempat semua kita bernaung, jadi lebih homely.

Sudah banyak tenaga, pikiran, bahkan materi yang diberikan gurunda selama ini. Yang telah lama beryayasan tidak bisa mengabaikan fakta benderang ini. Bahkan, apa yang diberikan gurunda sampai detik ini, tak mampu dibalas sekejap mata oleh semua kita di yayasan.

Karena itulah, sulit rasanya mengabaikan keadaan PB sekarang yang jauh dari harapan bersama. Terutama yayasan, yang sampai malam ini, detak jantung aktivitasnya sulit kita rasakan.

Belakangan, baik yayasan maupun PB, mendapati dirinya mandeg. Sangat sulit mau mengatakan mati suri. Perbedaan antara keduanya jelas. Mandeg berarti selama ini ada yang kurang care, sedangkan mati suri berarti hilangnya kesadaran dalam tubuh.

Mandeg juga berarti ada tindakan yang sengaja, sementara mati suri, siapa yang ingin mati suri? Itu artinya mau tidak mau, selama ini semua kita sengaja abai terhadap yayasan ataupun PB. Sengaja karena semua kita sibuk dengan aktifitas yang dirasa sulit ditinggalkan.

Akhirnya, belakangan PB justru kembali menjadi ruang terabaikan. Fungsi diskursifnya tidak berjalan. Bahkan, yayasan yang dipenuhi sumber daya tidak mampu digerakkan. Akhirnya, semua kita tahu, PB dan yayasan tergeletak begitu saja tanpa ada care ikut di dalamnya.

Sulit mau menjustifikasi ini salah siapa. Semua kita turut ikut bertanggung jawab di dalamnya. Tapi, bukankah tanggung jawab paralel dengan tugas yang sudah sebelumnya jadi amanah. Yakni, orangorang yang hari ini menjadi ujung tombak buat keberlangsungan PB, bahkan yayasan.

Terlepas dari semua itu, keadaan PB sekarang merupakan bagian dari dinamika komunitas. Adakalanya air berubah surut, juga di waktu lain justru menjelma gelombang tanpa ujung. Semuanya bagian dari proses tanpa henti.

Namun, dinamika alam berbeda dari dinamika komunitas. Ini bumi manusia, sebagian besarnya butuh keterlibatan, juga perhatian. Itu sebabnya, komunitas di mana pun harus digerakkan dengan perencanaan, dan semua itu tentu dilakukan di bawah terang visi kesadaran.

Syahdan, mau tidak mau hanya ada dua pilihan: ikut dibentuk keadaan, atau terlibat membentuk keadaan. Sampai di sini, kemungkinan yang ada tidak lepas dari semua kita yang berproses di dalamnya. Apakah itu Anda?


13 September 2016

Review Kajian Fenomenologi Ontologi: Martin Heidegger (1889-1976)

(Dosen pengampu: Muhammad Ashar, Pengasuh Lembaga Kajian Filsafat Lentera Makassar)

***

Filsafat di tangan Martin Heidegger, bukan sekadar produk pikiran yang licin dalam benak, dan tangkas ketika berargumentasi. Filsafat, sejauh yang ditunjukkan Heidegger, harus dinyatakan ulang dan dimulai dari pertanyaan, apa arti berfilsafat sesungguhnya?

Pertanyaan reflektif dengan tujuan membangun kembali pengertian filsafat itu, dibenahi Heidegger dengan pertamatama menunjukkan bahwa berpikir filosofis, tidak seperti yang selama ini diketahui sebagai upaya argumentatif atas dan dari kesadaran manusia. Yakni yang terpahami sebagai suatu proses yang berpusat dari dalam kesadaran. Berpikir fundamental menurutnya bukan berarti menganalisis, melainkan mengingat Ada agar Ada itu terwahyukan.

Melalui buku yang ditulisnya sekira tahun 1952, Was Heibt Denken? (Apakah Berpikir Itu?) Heidegger berusaha menunjukkan pengertian yang berbeda dari defenisi berpikir yang selama ini diliputi kesepakatan. Berpikir, dibilangkannya lebih daripada “roh” (geist) atau “otak” (gehirn). Berpikir itu “hati” (herz), sebab hati merupakan pusat ingatan dari seluruh tindakan manusia. Hati, menurut Heidegger, bekerja dengan cara aufnehmen, semacam proses merekam yang mengilhami pemikiran sejati. (1)

Perubahan mendasar dari konsep berpikir ini, sekaligus jalan pulang yang diupayakan Heidegger untuk menemukenali apa yang dianggapkannya sebagai gejala mendasar dan problematik di dalam tubuh filsafat. Dengan jalan memutar yang ditempuhnya, Heidegger kembali menggeledah konsep keberadaan yang terlanjur diabaikan semenjak temuan cogito Rene Descartes.

Filsafat Cartesian (modern) yang dibentangkan dari cogito sebagai pusatnya, malah membangun distingsi antara cogito (aku) dengan sum (ada) yang ditunjukkan manusia ketika berpikir. Pembelahan ini, di dalam tradisi filsafat Barat, lebih berorientasi kepada “sang aku” yang berpikir, tinimbang Ada  yang selama ini disisihkan dan terabaikan.

Perubahan radikal yang ditunjukkannya, akhirnya memutar orientasi filsafat agar lebih mengutamakan Ada (dunia yang dipikirkan) dibanding Aku (subjek yang berpikir). Pasca Rene Descartes hingga Immanuel Kant, “sang aku” menjadi tumpuan fondasional yang diterangkan dan didedah dalam mempersepsi Ada. Melalui cara berfilsafat demikian, Ada senantiasa hanya menjadi objek deskriptif yang direfleksikan melalui ruang sadar “sang aku”.

Akibatnya, Ada, hanyalah bentangan dunia yang mengikuti konstruksi ruang sadar “sang aku” untuk diketahui. Ada, akhirnya hanya mampu terpahami sejauh ia diberlakukan berdasarkan pikiran dan kesadaran “sang aku”.  Ada, dengan demikian, hanya mampu ada sejauh dipahami dan dibenakkan di dalam dunia sadar “sang aku”.

Sebaliknya, di dalam imajinasi filosofis Heidegger, Ada ditempatkan sebagi episentrum. Ada, di benak Heidegger adalah segalanya. Bahkan, Ada adalah keseluruhan totalitas yang meliputi manusia. Dengan kata lain, manusia hanyalah mahluk yang sedang mengalami Ada. Dari cara demikian, sesungguhnya yang harus diperhatikan di dalam seluruh refleksi filosofis bukanlah “sang aku” yang diliputi Ada, melainkan Ada itu sendiri sebagai totalitas.

Ada, di dalam sejarah pemikiran manusia, dinyatakan Heidegger telah tersisihkan dari ruang sadar manusia. Itu sebabnya, Heidegger diingat dalam setiap benak pelajar filsafat, sebagai filsuf yang memawaskan manusia agar kembali mengingat Ada. Bahkan, Heidegger memantik kesadaran dengan mengajukan:  apa artinya berada?

***

Martin Heidegger merupakan murid cemerlang Edmund Husserl. Kecemerlangan Heidegger, dikatakan Muhammad Ashar, ditandai dari penguasaannya terhadap fenomenologi yang dijarkan Husserl. Bahkan, di dalam penguasaan Heidegger, fenomenologi lebih fenomenologi dari apa yang selama Husserl ajarkan. Walaupun demikian, Heidegger harus mengambil jalan berbeda dari mentornya.

Seperti yang disampaikan Ashar, ada dua sebab mengapa Heidegger mengambil jalan berbeda dengan Edmund Husserl. Pertama, didasari akibat pemahaman teoritik yang berbeda berkenaan dengan fenomenologi itu sendiri, dan yang kedua adalah praktik Heidegger di dalam kancah politik Jerman. Dari perbedaaan yang pertama melahirkan konsepsi fenomenologi yang dikenal berasal dari Heidegger sebagai fenomenologi ontologis, sementara yang kedua, Heidegger dipersangkakan turut menyepakati konsepsi politik Nazi dengan keterlibatannya di dalamnya.

Keterlibatan Heidegger dengan Nazi, menurut F. Budi Hardiman dalam suatu rekaman kuliahnya, ditandai dengan uraian pidato pertama Heidegger di saat menjabat sebagai rektor di Universitas Freiburg Jerman. Menurut Hardiman, di dalam pidatonya, terungkap pandangan Heidegger secara implisit berkenaan dengan “ego” kebesaran Bangsa Jerman sebagai pribadi yang besar di dalam kancah dunia. Walaupun demikian, keikutesertaan Heidegger di dalam politik Nazi Jerman, sampai saat ini masih bersifat debatable, apakah keikutsertaannya di dalam Nazi dengan sendirinya menandai kesepakatannya terhadap konsepsi tindakan politik Nazi saat itu.

Telah disinggung sebelumnya, fenomenologi Heidegger dinyatakan sebagai fenomenologi ontologis. Pergeseran secara radikal yang ditunjukkannya, mengalihkan pemahaman fenomenologi Husserl  yang ditasbihnya masih termuati unsurunsur idealisme, tinimbang dunia sebagai pusat yang sebenarnya harus diperhatikan. Penolakkan ini, akibat Husserl begitu kuat membangun filsafat fenomenologinya yang tetap bertumpu kepada kesadaran “sang aku” sebagai elemen penting dalam membangun pemahaman terhadap dunia. Pengabaian terhadap dunia inilah yang di tangan Heidegger, dikembalikan kepada posisi sentral sebagai titik tolak filsafat fenomenologi ontologisnya.

Fenomenologi ontologis Heidegger salah satunya dapat dipahami melalui radikalisasinya terhadap konsep intensionalitas yang pernah diperkenalkan Edmund Husserl. Menurut Heidegger, intensionalitas bukan sekadar kesadaran yang terarah akan sesuatu, melainkan kesadaran dalam/sebagai sesuatu. Radikalisasi ini bermakna kesadaran tidak saja berisi “pahaman atau tema sesuatu”, tapi jauh lebih dalam dari itu, yakni manusia tidak saja serta merta menyadari sesuatu, melainkan “sesuatu” dalam kesadaran itu turut membentuk dunia manusia.

Ada empat kritikan mendasar Heidegger terhadap Edmund Husserl. Menurut Ashar, pertama, Edmund Husserl dinyatakan Heidegger masih terjebak di dalam pemahaman idealisme. Pemahaman idealisme Husserl walaupun diungkapkan dengan cara fenomenologi, dinilai karena membangun pembedaan antara subjek pengetahu dengan objek diketahui. Relasi yang diandaikan dengan cara demikian, tidak disadari Husserl akibat membelah pemahamannya berdasarkan logika Cartesian.

Ditilik dari keagenan subjek, Husserl justru mengabaikan objek diketahui sebagai bagian integral dalam kesadaran subjek pengetahu. Ashar membilangkan bahwa Husserl dengan sendirinya mengabaikan objek luar sebagai satuan yang terlepas dari kesadaran. Pengabaian yang demikian membuat kesadaran dari subjek pengetahu menjadi terlepas dari objek diketahui. Artinya, dengan sendirinya Edmund Husserl mengulang tradisi idealisme yang menempatkan ide sebagai satusatunya realitas yang diakui.

Pendakuan Husserl yang menempatkan ide sebagai satusatunya fenomena yang bisa teramati, ditampik Heidegger dengan menyatakan Husserl dengan sendirinya menolak objek faktual. Asumsi ide sebagai satusatunya realitas, akan sangat problematik ketika ide sesuatu di dalam pemahaman  ingin dibuktikan nilai kebenarannya. Penolakkan objek faktual Husserl, akhirnya terjebak kepada solipisme dengan pendakuan terhadap ide itu sendiri sebagai satusatunya ukuran kebenaran.  

Kritik mendasar kedua ditujukan Heidegger kepada konsep epoche  yang menjadi konsep kunci Husserl dalam membayangkan fenomena murni tanpa prasangka. Epoche di dalam imajinasi Husserl adalah mekanisme penundaan praanggapan, prasangka, dan praasumsi, terhadap objek teramati di dalam kesadaran. Sementara kritikan Heidegger berusaha mengembalikan sifat khas manusia yang tak mungkin terlepas dari praanggapanpraanggapan terhadap sesuatu ketika memulai aktifitasnya.

Di mata Heidegger, manusia bukanlah mahluk di balik sejarah yang tanpa tersentuh denyut kehidupan. Itu artinya, tiada manusia yang mampu membersihkan dugaandugaannya terhadap sesuatu ketika menangkap objekobjek di kehidupannya.

Ashar menjelaskan bagaimana pada hakikatnya manusia adalah mahluk yang mengalami persitegangan antara dirinya sebagai subjek, dan manusia itu sendiri sebagai objek dunianya. Dengan kata lain, manusia merupakan mahluk yang dibentuk dunianya dan sekaligus membentuk dunianya. Melalui proses dialektis ini, manusia tidak bisa dinyatakan bersih dari pengaruh lingkungan dan juga sebaliknya, manusia dapat memungkinkan dirinya menjadi subjek aktif pembentuk dunia kehidupannya.

Melalui proses dialektis, epoche  sebagai mekanisme penundaan pengetahuan berupa prasangka, praanggapan, dan praasumsi, dengan sendirinya tidak dapat dimungkinkan karena sifatnya yang terlampau mengabaikan watak khas manusia sebagai mahluk yang bersejarah.

Pengandaian di atas, juga seperti yang dibilangkan F.Budi Hardiman, bahwa tidak ada kesadaran yang perawan, sebab kesadaran senantiasa di situasikan oleh apa kesadaran itu dibentuk. Dengan demikian, bukan kesadaran yang penting, tetapi situasi yang meliputi kesadaran itu sendiri yang utama. Dari kaidah ini, maka kesadaran, seperti yang menjadi poin penting fenomenologi ontologi Heidegger, adalah episentrum tempat Ada menampakkan dirinya.(2)

Kritik ketiga, yakni Husserl dianggapkan mengabaikan dunia kehidupan manusia sebagai faktor mendasar yang mempengaruhi kesadaran manusia. Penolakkannya terhadap realitas faktual dan penekanan berlebihan terhadap kesadaran manusia, sebagaimana idealisme, adalah pernyataan yang tak mendasar sama sekali, karena seperti yang disampaikan sebelumnya, manusia adalah mahluk yang terlibat dan dilibat dunia kehidupannya.

Yang keempat, seperti yang disampaikan Ashar, kesadaran sebagai konsep yang dipahami Husserl, masih mengiandung pengertian klasik dengan menyatakan manusia mampu membangun kesadarannya tanpa keterlibatan maupun keterarahan kepada objekobjek pemahaman. Konsep itensionalitas yang diperkenalkan Husserl justru memberikan pengertian lanjutan bahwa manusia dengan kesadaran yang idealistik, akhirnya akan menolak keterlibatannya secara langsung di dalam sejarah. Dengan kata lain, kesadaran dalam imajinasi Husserl, adalah kesadaran yang ahistorik.

***

Ada adalah seluruh totalitas yang meliputi suatu segala. Filsafat fenomenologi Heidegger, dengan begitu adalah refleksi radikal dan menyeluruh terhadap Ada. Namun, bagaimanakah Ada itu dapat terpahami sementara manusia merupakan adaan yang mengalami Ada. Berdasarkan penjelasan F. Budi Hardiman, Ada hanya mampu dipersoalkan oleh adaan yang mengalami Ada. Tapi, tidak semua adaan mampu memproblematisir dan menghayati Ada selain daripada manusia itu sendiri. Dengan jalan pikir demikian, Ada hanya mampu terjelaskan hanya dengan jalan manusia yang mempertanyakan Ada. (3)

Sebab itulah, menurut penjelasan Ashar, Heidegger mengambil jalan berbeda ketika memulai memproblematisir Ada sebagai proyek filosofisnya. Ada yang sekaligus manusia yang mempertanyakan Ada, di dalam perkataan Ashar, dinyatakan sebagai proses radikal dalam mengantropologikan Ada. Maksudnya, Ada yang selama ini terpahami di dalam metafisika, terutama metafisika Islam, melalui permenungan Heidegger, ditarik lebih operasional dengan mengubah arah teropong sudut pandang dalam menyoal Ada dari pertanyaan “apa itu Ada?” menjadi “apa artinya berada?”

Peralihan titik tolak ini, akhirnya menandai poin penting dalam mengungkap manusia sebagai satusatunya mahluk yang mengalami Ada. Poin penting ini berarti jika hanya manusia satusatunya adaan yang paling mungkin memproblematisir Ada, maka Heidegger mengawali refleksi filosofisnya dari manusia sebagai jalan masuk mengungkap Ada.

Pertamatama, manusia sebagai subjek berpikir, diubah dan diradikalkan Heidegger dengan terma Dasein. Manusia dalam pengertian Dasein, bukanlah kategori yang bernaung di bawah pengertian filsafat Barat pada umumnya, yang mengandaikan manusia sebagai subjek berpikir. Manusia sebagai subjek berpikir, di alam pikiran filsafat Barat, adalah subjek yang telah tertetapkan dari awal secara primary sebelum dia mencandrai dunianya.

Artinya, dalam relasi keberadaan manusia dengan dunianya, manusia lebih dahulu diandaikan ada dibanding dunia tempat dia berpikir. Sementara, Dasein, menurut Heidegger, adalah mahluk  yang telah menerima keberadaan dunia sebelum keberadaan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, dunia telah dinyatakan lebih dahulu tertetapkan keberadaannya tinimbang manusia itu sendiri.

Berdasarkan pemahaman di atas, Dasein akhirnya dimaknai sebagai mahluk yang dalam pengertian Heideggerian “Ada di sana”.

Mengapa manusia disebut Dasein (Da: Ada, Sein: di sana)? Maksudnya, manusia telah “di sana”, di dalam dunia yang ia tempati. Dalam makna inilah Heidegger mengonseptualisasi manusia sebagai mahluk yang terlempar di dalam Ada. Dengan kata lain, manusia dengan segala apa yang dimilikinya hanyalah mahluk yang tanpa disadari sudah terliputi Ada sebelum ia memahaminya.

Berdasarkan yang disampaikan Ashar, Dasein dikarenakan telah ada pasca dunia keberadaanya, mau tidak mau merupakan adaan yang tidak bisa terlepas dari dunia yang membentuknya. Ini berarti dunia sebagai representasi totalitas Ada, turut melekat di dalam proses keberadan manusia. Dengan demikian, Ada sesungguhnya bukan keberadaan yang berada “di luar” manusia, melainkan turut hadir di dalam keberadaan manusia. Pemahaman ini sebangun dengan apa yang sebelumnya dikatakan, yakni untuk mengungkap Ada, maka manusialah yang menjadi dasar pengungkapan Ada itu sendiri.

Namun kebersamaan manusia di dalam Ada, bukan berarti tanpa masalah. Ashar mengungkapkan, Dasein memiliki problem utama dalam menyadari Ada akibat dunia pengalaman manusia  itu sendiri. Disebabkan Dasein yang terlampau “dekat” di dalam Ada, juga rutinitas kehidupan di dalam Ada, membuat manusia termekanisasi sehingga lupa makna berada sesungguhnya. Kehidupan yang begitu kompleks dengan seluruh rutinitasnya, membuat Ada yang sesungguhnya dekat, akhirnya tak mampu dicandrai di dalam ruang penghayatan manusia.

Berkat kelupaan terhadap Ada, berdasarkan yang disampaikan Ashar, Dasein membawa karakteristik bawaan yang turut meliputinya sebagai bagian tak terpisahkan di dalam keberadaannya.

Pertama, Kejatuhan akan Ada. Karakteristik ini bisa dikatakan semacam takdir bawaan yang dikandung Dasein itu sendiri. Kejatuhan akan Ada, diartikan sebagai hilangnya penghayatan terhadap pengalaman seharihari yang dialami manusia. Pengalaman yang terjadi dengan pola yang identik di kehidupan seharihari, lambat laun turut membuat suatu model pengalaman kehidupan yang serba linear. Linearitas kehidupan ini diartikan sebagai lingkaran kehidupan yang tak memiliki ujung sebagai titik akhirnya. Dengan bahasa yang lain, pengalaman yang demikian membuat  manusia mengalami jalan buntu untuk mengakhiri lingkaran rutinitas yang menjebak kehidupannya.

Akibat pengalaman manusia yang terjebak itulah, manusia tidak mampu membangun jarak dari rutinitasnya agar bisa masuk di dalam ruang permenungan. Model kehidupan yang serba cepat, dan tangkas, tidak sedikit pun memberikan cela bagi manusia agar bisa memasuki ruang subtil di dalam jantung pengalamannya. Hilangnya ruang subtil permenungan itulah, yang dikatakan Heidegger sebagai kejatuhan akan Ada.

Kedua adalah faktisitas. Makna faktisitas mengartikan Dasein, mau tidak mau, tidak bisa mengelak dari situasi yang dihadapinya. Dengan kata lain, faktisitas adalah keterbatasan manusia terhadap seluruh situasi yang  dihadapinya di dalam menjalani keberadaannya.

Ashar menjelaskan, faktisitas adalah dunia yang sudah sebelumnya ada ketika keberadaan manusia itu sendiri. Dikatakan demikian, karena dunia yang sudah ada, jauh sebelumnya memiliki identitas yang melekat di dalamnya. Seluruh objekobjek yang dihadapi manusia, telah tertetapkan identitasnya dengan mengikuti karakteristik dan ciriciri benda itu sendiri.

Faktisitas, karena mengandaikan keberadaan manusia yang sudah sebelumnya mengalami kejatuhan akan Ada, dan mau tidak mau harus menghadapi situasi yang tak mampu dielakkan, maka dengan sendirinya memungkinkan Dasein untuk mengerahkan seluruh kemampuan kebebasannya dalam menanggung resiko dan tanggung jawab yang dimilikinya.

Faktisitas yang paling mendasar dan yang tak dapat Dasein elakkan adalah kematian. Kematian dalam benak Heidegger bukan sekadar terputusnya hubungan biologis badaniah dengan kehidupannya, bukan pula hanya berarti tercerabutnya jiwa dari tubuh dan kemudian hilang begitu saja, melainkan suatu limit ketika Dasein menemukan keseluruhan totalitas Ada-nya. Dengan begitu kematian adalah suatu titik pasti yang harus segera dituntaskan dalam rangka menemukan keseluruhan totalitas Dasein atas Ada.

Dalam rangka mencapai totalitas Ada-nya, maka karakter yang ketiga yang sudah menubuh di dalam keberadaan Dasein, membutuhkan modalitas yang inheren di dalam dirinya. Karakteristik yang ketiga ini, di sebut Ashar sebagai pemahaman (fore strukture). Pemahaman sebagai karakteristik bawaan secara relasional berhubungan langsung dengan kemewaktuan yang dialami Dasein itu sendiri.

Pertamatama yang mesti dipamahi, waktu dan kemewaktuan dibelah Heidegger dari bagaimana cara Dasein menghayati dirinya di dalam waktu. Di dalam karyanya Sein und Zeit  (Ada dan Waktu), Heidegger menyatakan waktu bukanlah realitas yang ditunjukkan dengan alataalat penunjuk waktu berupa jam dsb., melainkan keadaan yang terjadi di luar dan di dalam Dasein itu sendiri. Waktu yang di alami Dasein di luar struktur keberadaannya adalah waktu objektif, sementara yang di alami di dalam Dasein itu sendiri disebut durasi, yang dikatakannya, bisa menciut maupun berkembang. (4)

Cara memahami waktu sebagai durasi, dimulai dengan cara mengikuti pembedaan waktu oleh Heidegger itu sendiri. Pembedaan yang pertama adalah innerzeitigkeit, kata yang tak ada dalam kamus bahasa Jerman ini adalah pembendaan dari in der zeit (di dalam waktu). Jadi innerzeitigkeit dapat diterjemahkan sebagai “ke-ada-di-dalam-waktu-an”. Innerzeitigkeit  sebenarnya merujuk kepada waktu objektif yang dibayangkan sebagai titiktitik sekuel yang muncul akibat yang lain. Misalnya, waktu malam hanya dapat diandaikan karena relasinya dengan waktu siang sebagai titik sekuel yang mendahuluinya, atau sebaliknya, dapat dipahami sebelum waktu pagi yang menjadi titik hubungnya yang akan datang.

Menurut Heidegger, konsep waktu sebagai innerzeitigkeit tidak cocok dengan Dasein diakibatkan struktur keberadaannya yang berbeda dari adaan yang lain. Asumsi ini didasarkan karena waktu objektif hanyalah realitas faktual yang tidak sertamerta menyentuh Dasein yang memiliki struktur keberadaan yang berbeda, sehingga tidak sekadar terletak di begitu saja “di dalam” ruang, melainkan turut aktif di dalam waktu kemewaktuannya.

Proses kemewaktuan Dasein di dalam waktu melibatkan keagenan yang aktif. Artinya, Dasein, seperti diungkapkan, bukanlah keberadaan yang “tergeletak” begitu saja di dalam dunia, melainkan Dasein ikut menghayati setiap sekuel waktu di dalam kemewaktuannya.

Penjelasan di atas tampak terang ketika seseorang  pemuda yang sedang menunggu kinasihnya di saat merasakan waktu yang lebih lama dari ukuran jam yang dipakainya. Di saat pengalaman sang pemuda yang merasakan waktu yang lama inilah disebut  kemewaktuan, sementara lamanya waktu yang dirujuk dari perhitungan pengukur waktu, yang misalnya hanya baru menunjukkan lima menit, disebut waktu objektif.

Bahkan, menurut Heidegger, waktu objektif yang disepakati berdasarkan ukuran detik, menit, jam, hari dst., diambil dari kemewaktuan yang dinyatakan lebih otentik dan primordial. Waktu otentik dan bersifat primordial inilah yang dalam terma Heidegger disebut  sebagai zeitlichkeit.  

Dalam hubungannya dengan kemewaktuan ini, Dasein “menduniakan” waktu dengan membayangkan dirinya yang tidak terlepas dari karakteristik pemahaman (fore strukture) sebagai karakteristik ketiga di dalam keberadaannya.

Pemahaman, dijelaskan Ashar, mengandaikan tiga pembelahan yang di antaranya, pertama adalah for having. Pemahaman for having dituturkan berkaitan dengan pengetahuanpengetahuan yang sudah tersusun dan terbentuk sebelum Dasein itu ada. Pemahaman for having berkaitan langsung dengan waktu kesekarangan yang dialami Dasein, sehingga dalam pengalaman keberadaannya, Dasein tidak dapat mengelak dari pengetahuanpengetahuan yang sudah disepakati. Keberadaan pengetahuan for having ini, di dalam tindakan praktisnya, tinggal dikelola Dasein  dalam rangka memberlangsungkan kehidupannya.

Yang kedua adalah pengetahuan Dasein berkenaan dengan kemungkinan masa depan yang dibayangkannya. Pengertian ini dijelaskan Ashar sebagai pemahaman for sight. Ketika Dasein menyatakan keberadaannya, di dalam benaknya terlibat pemahaman for sight atas sesuatu terhadap kemungkinankemungkinan yang bisa menjadi pilihanpilihan ke depannya.

Misalnya, seorang penulis yang menyiapkan karya tulisnya di antara kemungkinankemungkinan yang akan terjadi di masa akan datang. Dari situasi yang dihadapinya, sang penulis memiliki pertimbangan dari pemahamannya berkenaan karya tulis atau profesinya akan dijadikan apa dan mau bagaimana dengan seluruh keberadaan karya tulis dan profesinya. Pertimbangan atas masa depan inilah, di saat menghadapi seluruh kemungkinannya, Dasein digerakkan oleh pemahaman for sightnya.

Yang ketiga, seperti yang dikatakan Ashar, adalah pemahaman Dasein atas sesuatu di dalam benaknya. Pemahaman ini berkaitan langsung dengan objekobjek pengetahuan yang tergambar di dalam kesadaran Dasein. Di dalam terma Heideggerian, pemahaman ini disebut  sebagai pemahaman fore conseption.

Fore conceptoin, sejauh yang diutarakan Ashar bisa berbeda antara satu subjek dengan subjek lainnya atas sesuatu. Artinya, di dalam keseharian Dasein, pemahaman yang berbeda dari satu dengan lainnya sangat ditentukan oleh pemahaman fore conception yang ada di dalam kesadarannya.

Description: https://2.bp.blogspot.com/-o3HrhlACKV4/V9fQ0GP-qHI/AAAAAAAAA7g/7mS1e-T1JB8Yf3pTDN2FzamqmFyn6MKAACLcB/s400/Matriks%2Bmomen%2BKemewaktuan%2BDasein.png


***

Seperti yang sudah dinyatakan sebelumnya, kematian adalah conditio humana Dasein yang khas bagi dirinya. Begitu pula kemewaktuan merupakan bagian dari struktur Dasein itu sendiri. Namun, Dasein tidak begitu saja menerima kematian sebagai akhir dari segalanya. Justru, menurut Heidegger, di jantung keberadaannya, Dasein memiliki strukutur purba yang begitu fundamen mendasari seluruh tindakannya. Bahkan Heidegger mengatakannya sebagai “struktur total Ada Dasein”: Sorge. Dengan sorge inilah, Dasein di dalam dunia, harus menghayati keseluruhan totalitasnya berdasarkan pemahamnnya terhadap kematian (tod).

Sorge dalam bahasa Jerman berarti kekhawatiran, perhatian, kepedulian, maupun pemeliharaan. Manusia tanpa sorge, dinyatakan berdasarkan pendirian Heidegger, adalah keberadaan yang terasingkan di dalam kolam keberadaannya. Manusia yang asing di dalam dirinya sendiri, manusia yang tidak otentik, yang bukan asli.

Heidegger merumuskan sorge dengan sich-vorweg-chon-sein-in-(der-Welt-) als Sein-bei (innerweltlich begegnendem Seienden). Dalam pemahaman Heideggerian, istilah ini diucapkan sebagai satu kata. Berdasarkan pemahaman fenomenologi ontologisnya, kata ini dapat ditilik dengan cara (1) sich vorweg yang bermakna “mendahului,” dan ini eksistensialitas Dasein, (2) schon sein in der Welt berarti “sudah ada di dalam dunia,” yang menandai faktisitas Dasein, dan (3) Sein-bei innerweltlich begegnendem Seienden, berarti “bermukim pada entitas yang dijumpai di dunia ini”, dan ini merujuk kepada makna kejatuhan Dasein. Artinya, sorge adalah struktur dasar yang merangkum keseluruhan Dasein dengan tiga karakteristiknya yakni, mengantisipasi masa depan (fore strukture), terlempar di dunia (faktisitas), dan larut dalam rutunitas keseharian (kejatuhan Ada). (5)

Yang menjadi keutamaan dari rumusan di atas,  sebenarnya dapat dilihat dari proses Dasein mengalami kemewaktuannya. Pertamatama, manusia terlempar ke dunia ini, kemudian, yang kedua,  manusia menjalani rutinitasnya dan terbenam di dalamnya, dan yang ketiga pada akhirnya, manusia mengalami kematiannya. Di dalam keadaan demikian, Dasein dikatakan mampu bangkit dari kejatuhan Ada-nya dengan menyertakan sorge sebagai alarm penhayatannya. Melalui itu pula, kematian yang niscaya di masa akan datang, yang tanpa mampu diketahui, akan bermakna dengan keterlibatan sorge bagi Dasein itu sendiri. Artinya, dengan sorge-lah, ketidakmungkinan yang dihadapi Dasein di dalam keterlemparannya menjadi bermakna dan bernilai.

Maka, dapat dikatakan, melalui sorge, Dasein sebenarnya adalah mahluk mungil yang menjalani kemewaktuannya dalam mengahadapi kematiannya.

Dikatakan Ashar, kematian yang dimaksudkan –seperti yang diungkap sebelumnya--  dari fenomenologi ontologis Heidegger bukan kematian biologis semata, melainkan kematian yang sudah sebelumnya diantisipasi dengan penghayatan di dalam Ada. Kematian yang dihayati di dalam Ada, disebutkan Ashar sebagai perbincangan eksistensial dengan dirinya sebagai bentuk luar Dasein yang mendalami keberadaannya. Dengan kata lain, kematian yang paling ideal menurut Heidegger adalah kematian yang disambut antsipatif oleh Dasein dengan keterlibatan sorge di dalamnya.

Description: https://3.bp.blogspot.com/-S_gtOtBXo1o/V9fRCl8w53I/AAAAAAAAA7k/zBhizQj9fI0KMcCa4MAHC2LtJ27w9EzbQCLcB/s400/Sorge%2BStruktur.png

Penghayatan terhadap kematian bagi Dasein, sekaligus menjadi antitesa terhadap Das man. Berdasarkan pemahaman Heidegger, Das man adalah orangorang yang tenggelam di dalam rutinitasnya tanpa mampu memasuki bilik permenungan atas sorge yang dipunyainya. Das man juga diartikan sebagai orangorang yang termekanisasi melalui rutinitas keseharian, yang tanpa perlibatan dirinya terhadap ada di dalam dunia.

Dengan begitu, Das man sebenarnya adalah orangorang yang tidak otentik, orangorang yang ikut di dalam pengetahuan umum tanpa bisa mengambil keutamaan di balik kesepakatannya dengan semua pilihannya. Dengan kata lain, Das man, adalalah manusia massal yang tercerabut dari medan permenungannya. Orangorang yang tanpa tahu berbuat apa, orangorang yang kehilangan dirinya sendiri.

Dengan begitu sebenarnya, fenomenologi ontologis di tangan Heidegger adalah suatu ajakan dari Dasein untuk membuka seluruh kemungkinannya terhadap kematian yang tanpa diketahuinya. Walaupun kematian itu pasti dan tanpa diketahi kedatangannya, dengan sorge, atau dengan istilah lainnya angst (kecemasan), Dasein dimaksudkan sebagai keberadaan yang cemas tanpa harus keluar dari lingkaran kehidupannya, melainkan harus masuk menyelami jauh di jantung keberadaannya, dengan cemas, dengan sorge, di antara seluruh kemungkinan yang menghadangnya, termasuk kematian itu sendiri. Hanya dengan begitulah, Dasein menjadi pribadi yang otentik, yakni pribadi yang ada di dalam dunia, pribadi yang mewaktu menuju keseluruhan totatiltasnya. 



Jika demikian, apa artinya berfilsafat ketika tanpa penghayatan terhadap Ada? Apa artinya mengada di-dalam-dunia, ketika tanpa kecemasan? Bukankah, seperti yang dibilangkan F. Budi Hardiman, fenomenologi Ontologis Heidegger adalah jalan lain mistisisme di tengah perigi nihilisme? Suatu kaidah membuat keseharian menjadi “transparan,” dengan sorge, Dasein yang membuka diri terhadap Sang Ada.

---


(1),(2),(3),(4),(5) dirujuk di dalam buku F. Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik Keseharian, Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit. Cetakan KPG 2003.

11 September 2016

catatan kelas menulis PI pekan 28

Sebenarnya masih banyak yang tak tahu, Agustus adalah bulan pertama Kelas Literasi Paradigma Institute Makassar (KLPI Makassar). Kala itu, saat Bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaannya, di waktu itu pula kelas pertama KLPI dimulai. 17 Agustus 2015 adalah hari yang istimewa. Hari untuk kali pertama, kelas menulis Paradigma Institute digelar. Siapa yang menyangka, siapa pula yang mengingat?

Hingga akhirnya sampai pekan kemarin, sudah banyak obrolan yang dipertukarkan, begitu pula sudah banyak tenaga yang dibuat menjadi karya tulis. Dari semua itu, sadar atau tidak, KLPI tumbuh sebagaimana hukum perkembangan, dia bisa menyusut layu, atau justru sebaliknya, menjulang tinggi dengan dahan yang makin kokoh di kedalaman.

Apa pun arah perkembangannya, yakin dan percaya, siapa pun yang pernah dan sedang terlibat, turut menggemburkan tanah di dasar permukaannya. Masingmasing kita, sedang memegang sekop dan ember, membersihkan kekhawatiran, dan turut menyiramnya dengan semangat yang entah dari mana.

Pekan 28, masingmasing datang seperti biasanya. Membawa karya tulis yang sudah dilipatgandakan. Diperbanyak dengan tujuan dialogis dan kritis. Mulai dari cerpen hingga esai. Dalam prosesnya, karya tulis yang dibawa dibincangkan, atau bahkan digeledah.

Penggeledahan karya tulis selama ini dibuat menjadi prinsip kerja akibat mau menerapkan tujuan tak ada tulisan yang bersih dari kecacatan. Ini juga untuk mengantisipasi kemungkinan berlakunya tingkatan level kepenulisan yang disinyalir bisa membuat hirarki skill kepenulisan di kelas. Makanya, dengan mau mengatakan tiada penulis bebas mendapatkan previlage, semua tulisan, entah itu dinilai canggih atau pemula, harus dianggap masih mengandung kecacatan.

Itu sebabnya, banyak yang katakan, di KLPI, semua yang terlibat dianggap sama. Dari praktek penilaian di kelas, tiada pembedaan di dalamnya. Egaliterianisme.

Penggeledahan juga sebenarnya bermaksud mau mencari motifmotif bawah sadar yang bisa jadi menyusup di dalam karya tulis seseorang. Hanya saja selama ini, dari pengalaman yang dikerjakan, tujuan ini masih diminimalisir penggunaannya.

Setidaknya ada empat motif bawah sadar yang kadang bisa merusak kejernihan suatu karya tulis. Pertama ialah heroisisme. Motif kepahlawanan, sadar atau tidak, kadang muncul ketika tulisan dibangun dengan kalimatkalimat yang mengandung unsur kebesaran di dalamnya.

Heroisisme ditandai ketika maksud dari tulisan merupakan jargonjargon yang dinyatakan lewat bahasa yang diidealisasi. Kadang, kadar kepahlawanan dapat dinilai dengan mudah ketika seseorang mampu melihat suatu karya tulis menempatkan sang penulis di dalam karya tulisnya dalam konteks kebesaran sang penulis. Dan, yang paling gampang ketika karya tulis memuat profil penulisnya dengan menyertakan sejumlah banyak capaian dari gelargelar tertentu.

Motif bawah sadar yang kedua, erat kaitannya dengan heroisisme, yakni romantisisme. Romantisisme erat gejalanya dengan herosisisme dikarenakan karya tulis yang mengandung romantisisme, adalah karya tulis yang mengagungkan masa lalu sebagai ukuran kebesarannya.

Sangat gampang menggeledah karya tulisan yang terjangkiti romantisisme. Lihat saja bagaimana sang penulis selalu menggunakan ukuran masa lalu sebagai patokan konten karya tulisannya. Kadang motif bawah sadar ini selalu menonjol dengan menggunakan katakata: “saya dahulu ketika”, “di masa saya dulu”, atau “saat saya menjadi,” dsb. Perlu diingat, romantisisme plus heroisisme, hanya berlaku jika sang penulis selalu memusatkan karya tulisannya kepada “sang aku” sebagai bagian yang diidealisasi.

Motif yang ketiga adalah melankolia. Melankolia ditunjukkan dengan suatu produk tulisan yang diliputi kemuraman, kegundahan, kemurungan, dan kepedihan yang disebabkan depresi. Motif bawah sadar ini kadang tanpa disadari begitu kuat mendominasi produk karya tulis seseorang. Akibat tekanan batin yang hebat, dan tak mampu dikontrol dengan mekanisme tertentu, malah melankolia dianggapkan beberapa penulis sebagai sarana eskapisme.

Tulisan yang melankolia, berbeda begitu tipis dengan tulisan yang mengandung unsur sastarawi di dalamnya. Satusatunya perbedaan mendasarnya adalah jika puisi, misalnya, dibangun dari sikap kontemplatif, sementara karya tulis melankolia ditulis dengan cara tergesagesa dan agresif. Yang pertama dimulai dari sikap batin, sementara yang kedua disentimentaliskan dengan suasana emotif.


Cara menggeledah tulisan yang berbau melankolia biasanya dinilai dari bahasanya yang tergesategesa. Struktur logis yang tidak aplikatif, atau bahkan tidak memiliki keterhubungan di antaranya. Banyak ditemukan, gejala ini dilihat dari penggunaan bahasa yang dirusak, atau kata yang disalahartikan dari makna dasar dan dari arti keilmuannya. Atau kadang penggunaan kata yang tidak sesuai aturan main ejaan yang disepakati.

Motif keempat adalah turunan dari motif ketiga, yakni emosionalisme. Tulisan yang emosional adalah tulisan yang meluapluap. Emosionalisme terjadi di saat sang penulis diliputi perasaan yang emosional. Banyak hal yang bisa menyebabkan emosionalisme terjadi, salah satu diantaranya adalah kesenjangan dunia pengalaman batin dengan dimensi kognitifnya. Akibatnya, defisit dimensi kognitif menyebabkan suasana emotif yang lebih banyak mempengaruhi di saat tindak bahasa dilakukan. Proses selanjutnya barang tentu mempengaruhi bagaimana ketika bahasa itu dituliskan.

Dalam pengertian lain, emosionalisme ditunjukkan dengan praktek kepenulisan yang tidak disertai proses self editing. Proses self editing yang menyertakan ketelitian dan kesabaran, dengan begitu adalah mekanisme yang diabaikan akibat ketergesagesaan di saat hendak menyelesaikan karya tulis. Padahal, di saat self editing, yang diharapkan adalah keadaan netral untuk membaca kembali karya tulis yang sementara dibuat. Sebab, hanya dalam suasana netrallah, karya tulis bisa dilihat kembali seobjektif mungkin.

Empat motif yang dikemukakan di atas, boleh jadi adalah gejala alam bawah sadar yang sekalipun tersembunyi dan tanpa disadari, tidak sepenuhnya bisa diterapkan kepada semua genre tulisan.
Puisi, misalnya, sekalipun bagian dari genre sastra, masih sulit dikatakan bahwa gejala alam bawah sadar ini menjadi bagian yang dapat dipisahkan dari segi proses kreativitas penulisannya.

Nuansa emotif yang kadang menjadi energi positif dari proses penulisan puisi, tak dapat dipungkiri berfungsi secara integral dari ruang sadar penulis di saat mengeksplorasi bahasa yang ingin dipakainya. Apalagi jenis puisi pasca modern, yang lebih banyak mengeksplorasi nuansa emotif sebagai medium, atau bahkan inti puisi itu sendiri, malah begitu membutuhkan dimensi emotif terlibat di dalam suasana praktik berbahasa penyair.

Berbeda misalnya dalam genre esai. Jenis tulisan ini, harus mampu dilahirkan menjadi karya yang tidak menyerupai puisi, atau tidak terlampau dipenuhi bobot akademis yang tinggi. Esai di dalam praktik berbahasanya, membutuhkan ruang yang lebih longgar dari bahasa akademik, dan kehatihatian yang mawas untuk tidak terjebak menyerupai bahasa puisi. Sehingga empat motif yang dikemukakan di atas lebih mudah digunakan untuk menggeledah karya tulis yang bergenre esai.

Walaupun demikian, untuk menghasilkan tulisan yang bernas, sang penulis harus memahami seberapa besar ruang sadarnya diliputi empat motif di atas. Sebab, jika tidak demikian, akan sulit menghasilkan tulisan yang jernih dan licin. Jernih dengan pernyataanpernyataan yang logis, dan licin dari kecacatan ejaan.

***

Pekan 28, kelas diakhiri menjelang pasca isya. Setelah shalat magrib berjamaah, kelas dimulai kembali setelah beberapa kawankawan yang lain telah dahulu pamit. Kelas dilanjutkan karena masih ada karya tulis kawankawan yang belum sempat dibacakan dan dibincangkan.

Hal ini dilakukan akibat selama ini banyak di antara kawankawan yang jarang diangkat menjadi perbincangan di kelas. Selain itu, alasan utamanya kelas lebih memfokuskan kepada karya tulis kawankawan yang masih baru di dalam keterlibatannya selama ini di KLPI.

Sejauh yang bisa diingat, pasca magrib, empat tulisan yang tersisa untuk dibedah. Banyak hal yang diungkapkan di dalam forum lanjutan. Salah satu di antaranya adalah cerpen bersambung yang dibawa Syarif dan Ishak. Keduanya membawa cerpen yang khas dengan nuansa lokalitas. Selama ini, sejauh cerpen yang dibuat oleh mereka berdua, senantiasa dikategorikan sebagai sastra etnik.

Dari kedua cerpen yang diulas, perbincangan menguat di sisi apakah unsur lokalitas dalam cerpen harus dilengkapi dengan katakata khas daerah yang diceritakan, atau cukup dengan menceritakan cerita yang berlatar daerah lengkap dengan budayanya yang khas. Pertanyaan ini menguat ketika forum berfokus di salah satu cerpen yang banyak memuat istilahistilah daerah di dalamnya, dan juga, seberapa pentingkah suatu istilah harus dipakai untuk menunjukkan nuansa lokalitas di dalam penceritaannya.

Dari perbincangan yang ada, hampir semua sepakat, bahwa dalam menunjukkan unsur lokalitas di dalam cerpen, dianggap perlu menyematkan katakata lokal daerah yang bersangkutan. Namun, perlu diingat, tidak semua kata daerah dapat dipakai sebagai identitas lokalitas. Tidak ketika karena hanya mau menyebut cerpen termuati unsur lokalitas, untuk menyebut “kursi” menggunakan “kadera” sebagai pengganti bahasanya.

Di dalam forum, untuk menerangkan maksud di atas, alangkah baiknya penggunaan bahasa daerah sebagai penguat cerpen berbau etnik, menggunakan istilah khas daerah yang menunjukkan ciri tertentu di dalam sebuah kebudayaan. Misalnya, istilah “kamasemase” yang dianut masyarakat Kajang di Kabupaten Bulukumba, dengan tujuan memperkenalkan adat istiadatnya yang khas.

Selain pendiskusian di atas, cerpen yang berbau etnik kuat disebut demikian jika mengisahkan gejala kebudayaan tertentu yang menjadi tradisi di dalam masyarakat tertentu. Jadi, tidak sekadar menceritakan kisah yang berlatar belakang daerah tertentu, melainkan turut memotret suatu peristiwa kebudayaan yang diangkat menjadi bagian dari cerita. Tentu ini akan jauh lebih baik, karena sastra sebenarnya adalah cermin dari kebudayaan itu sendiri.

Terakhir, walaupun tidak semua bisa diceritakan lewat tulisan ini, KLPI ditutup dengan pembacaan esai oleh Sulhan Yusuf di kala lampu tengah padam. Pembacaan ini terjadi setelah Ma’sum turut membaca puisinya seperti di saat panggungpanggung dipadamkan. Tidak jauh berbeda di saat seorang sastrawan berdiri sendirian, ketika semua pasang mata menyorotinya di atas panggung dengan segenggam kertas.

Selamat libur kawankawan. Sampai jumpa pekan depan.

09 September 2016

Review Kajian Filsafat Fenomenologi: Edmund Gustav Albrecht Husserl (1859-1938)

(Dosen pengampu: Muhammad Ashar, Pengasuh Lembaga Kajian Filsafat Lentera Makassar)

***

Tidak banyak filsuf yang mampu membuat sistem filsafat, dan menjadikannya sebagai satu aliran pemikiran yang mandiri. Seperti yang dibilangkan Muhammad Ashar, pengasuh sekaligus pengampu lembaga studi filsafat Lentera Makassar, Edmund Husserl adalah satu dari sedikit filsuf yang berhasil mengembangkan cara berfilsafat yang khas. 

Ashar mengatakan, sebagaimana Immanuel Kant dan G.W. F. Hegel, Husserl menjadi filsuf yang berhasil membangun filsafatnya dengan cara sistematis dan radikal. Apa yang menjadi filsafatnya dengan corak dan watak yang baru, dikenal sebagai filsafat Fenomenologi.

Fenomenologi sebagai terma filsafat, sebenarnya sudah dipakai di dalam karya Hegel dalam mengungkapkan fenomena ruh sebagai konsekuensi pergerakan ruh dalam konsep dialektikanya. Begitu juga Immanuel Kant, sudah menggunakannya dengan arti yang berbeda ketika memperkenalkannya dalam konsep epistemologi kritisismenya. 

Namun, baru di tangan Husserl-lah fenomena, sebagai istilah teknis berubah menjadi aliran tersendiri dalam perjalanan pemikiran filsafat. Hal ini dibentangkan berdasarkan cara pandang pemikiran yang menempatkan fenomena sebagai basis refleksi filosofisnya. Fenomena di dalam alam pemikiran Husserl, tidak sekadar istilah peripheri, melainkan berfungsi sebagai pusat utama perhatiannya.

Pasca Edmund Husserl, banyak filsuf yang berusaha memperkaya khasanah filsafat fenomenologi dengan caranya masingmasing. Dimulai dari Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, hingga Paul Ricouer, adalah filsuf yang selama ini dikenal sebagai scholar yang pernah mengembangkan dan dikategorikan sebagai pemikir fenomenologi. 

Itu sebabnya, seperti dikemukakan sebelumnya, Husserl berhasil membangun satu aliran filsafat yang banyak mempengaruhi dan menjadi satu aliran filsafat yang memiliki perbedaan dari aliran filsafat sebelumnya.

Sebagaimana Socrates, Edmund Husserl melakukan perombakkan besarbesaran dari bagaimana filsafat dipahami dan dipraktikkan. Cara berpikir filsafat yang selalu mengandaikan dualisme subjek-objek – seperti yang diperkenalkan Rene Descartes, dirombak habishabisan dengan memperkenalkan cara berpikir baru.

Istilah yang mengandaikan cara berpikir yang khas ini diperkenalkan Husserl –diinspirasi dari Franz Brentano-- dengan nama intensionalitas. Berbeda dari cara berpikir a la Cartesian --yang membelah subjek dengan objek pengetahuan, di tangan Husserl berubah menjadi cara berpikir di mana kesadaran adalah kesadaran yang selalu mengarah kepada sesuatu sebagai objek pemahaman. 

Menurut Ashar, cara berpikir fenomenologi ini selalu mengandaikan kesadaran senantiasa terarah kepada objek kesadaran itu sendiri. Penggambaran ini, dijelaskan Ashar, mengubah dualisme subjek-objek a la Cartesian menjadi bahwa objek pemahaman adalah apa yang ada dalam pikiran itu sendiri sebagai fenomenanya. Artinya, apa yang dikategorikan sebagai objek kesadaran dalam filsafat fenomenologi, tiada lain adalah objek pemahaman yang ada dalam benak sang pemikir. 

Pengertian ini, selain terhadap model berpikir Cartesian, sekaligus menjadi kritik mendasar terhadap paham positivisme yang dianggap selalu mempersepsi kesadaran terpisah dari objek pengetahuannya. 

Itulah mengapa, berpikir model Cartesian dan positivisme menjadi masalah dalam krisis epistemologi abad duapuluh. 

Obsesi filsafat Cartesian dan positivisme dengan tirani ilmiahnya, akibat membedakan objek kesadaran dan subjek berkesadaran, malah membuat ilmu pengetahuan menjadi momok menakutkan bagi manusia karena menjauhkan pemahaman dari pengalaman seharihari (fenomena) sebagai sumber pengetahuan. 

Dengan prinsip back to the it self atau back to the thing, filsafat fenomenologi Husserl menganjurkan manusia kembali kepada pengetahuan murni yang bersih dari praanggapan sebelum memahami objek pemahaman. Ini berbeda dari cara berpikir selama ini yang selalu berpusat pada ego "sang Aku" sebagai satusatunya  pusat dan penyusun pengetahuan. 

Konsep ini diperkenalkan Husserl dengan istilah lebenswelt, yakni dunia pengalaman murni yang belum terkontaminasi pengertian, asumsi, prasangka, dan sentimen ketika memahami objek kesadaran. 

Ashar menjelaskan, dalam kehidupan seharihari, pemahaman manusia sudah selalu dipersepsi sebelumnya berdasarkan pengertianpengertian yang mendistorsi objek sebagaimana objek yang sebenarnya. Akibatnya, sebagai objek pemahaman, pengetahuan yang kita ketahui bukan lagi pengetahuan yang asli dan otentik dikarenakan sudah sebelumnya dipahami dan diinvasi berdasarkan pengalamanpengalaman yang mendasarinya.