20 May 2015

Membaca Eka Kurniawan

Nama Eka Kurniawan pertama kali saya temukan melalui salah satu blog di dunia maya. Bisa dibilang, dari blog itu pertama kalinya saya mengenal sastrawan yang berkacamata ini. Dari blog itu juga saya bisa tahu ternyata Eka seorang satrawan yang punya nama. 

Saya melihat dari blog yang sama, salah satu bukunya; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Saat itu, disertai tulisan yang mengulas karyanya ini, blog itu berhasil membuat saya penasaran untuk membaca karya-karyanya.

Sebenarnya, nama Eka Kurniawan tak begitu saya ketahui. Selain saya bukan pembaca karangan sastra yang baik, saya juga tidak banyak bersentuhan dengan diskursus-diskursus sastra yang berkembang. Tapi melalui blog yang saya baca, akhirnya saya bisa mengetahui bahwa Eka ternyata punya situs pribadi. Dari website itulah saya berusaha berkenalan dengan Eka melalui tulisan-tulisannya.

Perkenalan saya yang berkesan terhadap Eka sejatinya melalui buku kumcernya. Tentu buku yang diposting di dalam blog yang saya katakan tadi; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Melalui buku itulah saya bersentuhan langsung dengan kepengarangan Eka. Dan dari kumpulan ceritanya di buku itu, saya merasa harus memiliki buku-bukunya yang lain.

Maka mulailah saya mencari tahu buku-buku karangan Eka. Ternyata sebelum Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, sudah ada beberapa buku diterbitkan Eka. Dari situ mulailah saya mengoleksi karangan-karangannya, dimulai dari Cantik Itu Luka hingga novel terakhirnya; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan juga buku kumcernya yang lain; Corat-Coret di Toilet

Akhirnya mulai saat itu, ada dua sumber saya untuk membaca tulisan-tulisan Eka; Journalnya dan karangan-karangan kumcer dan novelnya.

Bisa dibilang saya terlambat mengetahui sastrawan ini, tapi dengan membaca hampir semua terbitannya; di mulai dari Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi dst., saya memiliki kesan seperti kecanduan terhadap tulisan-tulisannya, terutama cerpen dan novelnya, sebab cerita-cerita yang disuguhkannya adalah suatu teks yang menolak sempurna, dalam arti suatu cerita yang dibangunnya tak selamanya ingin mengafirmasi suatu dunia yang bersih dari cacat. Melalui kesan inilah saya selalu senang membaca karangan sastranya.

Kesan semacam itu saya rasakan di saat pertama kali membaca novel pertamanya; Cantik Itu Luka. Novel yang hampir 500 halaman itu tak sekalipun menampilkan suatu figur yang sempurna. Begitu juga dari penceritaan latar belakang tokoh-tokoh utamanya, dari orang semisal Ayu Dewi, Sudancho maupun lainnya, merupakan simbol bagaimana suatu nasib manusia begitu jauh dari kesan lengkap dan ideal. Nampaknya penggambaran figur-figur dalam Cantik Itu Luka memang dikesankan Eka bermain antara dua ekstrim baik dan buruk, di mana suatu saat ada tokoh yang begitu dipuja tetapi di lain waktu dengan masa yang berganti, suatu tokoh bisa menjadi figur yang berkarakter cacat.

Dan novel terakhir Eka yang saya baca adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Di novel itu ada Ajo Kawir, yang bisa dibilang tokoh utama yang melaluinya Eka berbicara bagaimana suatu  tatanan moral (perhatikan dua polisi dalam cerita itu) didekati melalui penyakit impoten. Dari penyakit impoten, Eka ingin membuka selubung kesadaran kita bahwa suatu penyakit tak selamanya “penyakit.” Dengan cara lain, melalui penyakit yang di derita Ajo Kawir, manusia dengan segala persoalannya dan kekurangannya merupakan mahluk yang punya dua bibir; bibir yang selalu berbicara kebaikan dan bibir yang mengambil kebaikan melalui cacat yang dialami. Dengan ungkapan lain, Eka ingin berbicara dengan tanpa menghimbau dan berkhotbah, melainkan dari aspek yang paling manusiawi, ia ingin berangkat dari cacat untuk memahami apa yang bisa diambil dari peristiwa itu.

Kesan yang sama adalah juga unsur yang tak hilang dari dua novelnya yang lain; Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Di sana selalu ada penggambaran watak dan sifat manusia yang tak utuh. Bahkan manusia adalah mahluk yang  selalu berada pada dua peririsan baik dan buruk. Yakni mahluk yang mengalami beragam peristiwa yang ideal dan sial. Dengan gagasan semacam itulah, saya melihat karakter tokoh-tokohnya selalu digambarkan sebagai manusia yang tak utuh, yang tak ideal. 

Dengan cara inilah saya kira, Eka ingin merepresentasikan dunia manusia yang sebenar-benarnya. Dan itu sangat terasa dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, seperti misalnya Eka berbicara tentang seks sekaligus laku sufi dari Ajo Kawir. Dua kontras yang diramunya dalam ironi dan parodi.

Di luar dari itu, Eka adalah penulis yang taat. Persentuhan saya dengan Journalnya, ketaatan itu dipertahankannya dengan menulis peristiwa-peristiwa yang dialaminya setiap hari. Dari perspektif ini saya bisa mengatakan bahwa Eka punya dua medan menulis; Journal yang berisikan refleksi dan pandangan-pandangannya seputar sastra serta karya ceritannya, baik kumcer maupun novelnya.

Untuk hal ini, bisa saya katakan, ada dua Eka sebenarnya; Eka sebagai penulis Journal di websitenya dan Eka sebagai sastrawan yang melahirkan karya-karyanya yang monumental.  Dan dikatakan di Journalnya, Eka akan berpuasa untuk melakukan aktivitas yang kedua. Dari Journalnya ia juga berkata akan menjadi pembaca yang baik, dibandingkan penulis, seperti yang ia kutip dari Borges; membaca lebih intelek dari menulis.

Dari Journalnya, saya terkesan dengan daya jelajah Eka terhadap sastra. Eka seperti sudah berkeliling dunia dengan berkunjung pada  sudut-sudut terpencil, bisa dibilang melalui Journalnya, peta sastra dunia dibentangkan seluas-luasnya. Banyak sastrawan yang ia sebut di sana adalah bukti bagaimana dunia sastra begitu digelutinya. Dan ini yang membuat ia bisa dibilang sebagai tempat referensi dunia sastra.  

Melalui Journalnya, saya bisa banyak menimba wawasan seputar sastra di sana. Maka, seperti yang diharapkann Seno Gumira, perkembangan sastra Tanah Air salah satunya sangat bergantung dari pria ini. Maka saya kira Eka Kurniawan punya kutukan; membangun takdir sastra Tanah Air.

09 May 2015

Mengapa Sastra

Akhirakhir ini saya senang membaca karangankarangan sastra, terutama ceritacerita pendek. Membaca cerpen merupakan kesenangan baru saya untuk memahami sastra. Sebab itulah akhirnya saya mencari bukubuku cerita pendek karangan sastrawan yang saya ketahui. Tujuan saya membaca ceritacerita pendek sebenarnya didasari oleh pertimbangan untuk mengelak dari bukubuku yang mengandung unsur ilmiah. Bukubuku semacam itu, belakangan ini memang saya hindari, selain karena secara konseptual bukubuku semacam itu membuat saya jenuh, tetapi juga bukubuku yang mengandung konstruksi teoritis seringkali tak banyak menggamit unsurunsur yang lebih humanis; ironi.

Ironi, suatu keadaan yang kerap muncul dalam karya sastra, misalnya ceritacerita pendek, adalah suatu anasir yang membuat saya bisa mengerti bahwa di dalam suatu bulatan nasib umat manusia, hidup tak selalu bisa dimengerti. Melalui ironi, ada halhal yang tak bisa serta merta bersih dan jernih tanpa cacat, sehingga ada suatu yang mesti kita maklumi dan terima. Dengan ironi, manusia bisa tahu bahwa di dalam dirinya selalu ada sisi yang tak penuh lengkap.

Sebab itulah saya senang membaca karangan sastra, sebab di dalamnya  suatu pengertian bukanlah berbicara untuk dapat dominan agar bisa mengampu suatu totalitas dunia, melainkan mengajarkan saya untuk dapat menerima berbagai macam sisi kehidupan yang justru memiliki banyak cacat.  Barangkali karena itulah dunia yang penuh bopeng, kerap di jadikan core dalam sastra sebagai semacam penyambung untuk mengingatkan manusia yang terkadang lupa bahwa suatu titik pusat yang selalu jadi puncak adalah jalan terjal yang sungguh landai. Berbeda dari agamaagama maupun filsafat, suatu titik pusat yang jadi arah dalam sastra dapat didekati dengan berbagai arah. Di dalam sastra seluruh kemungkinan dapat dimungkinkan. Dunia, di dalam sastra memang suatu kemungkinan yang tak mungkin dapat diramalkan.

Dengan itu saya akhinya bisa tahu, dari bacaan saya, bahwa sastra bisa bicara banyak hal. Bisa membuka beragam pintu untuk memasuki dunia. Dengan sastra terutama ceritacerita pendek, saya dipertemukan beragam narasi bahwa suatu perjalanan hidup manusia bisa saja dapat berubah sepersekian detiknya. Dengan itulah melalui ceritacerita pendek yang saya baca, memberikan saya suatu ruang untuk berjarak terhadap sesuatu agar semuanya tak harus begitu saja diterima. Setidaknya, melalui ceritacerita dan ironi yang saya baca, dapat berbagi pengalaman dengan saya.

08 May 2015

madah limapuluhtiga

Namun aku tak bisa menghakimi situasiku sendiri; aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menantang keabadian dan karena itu aku tak mengerti apaapa. Aku tak kehilangan apaapa: meski banyak hal seharusnya kurindukan, seperti rasa manzanilla atau waktu yang kuhabiskan berenang di sungai kecil di dekat Cadis saat musim panas tiba- sayangnya kematian telah mengeruhkan segalanya.

Seperti itulah Sartre menulis bait dalam cerita pendeknya, The Wall. Cerita pendek yang diterbitkan di 1933. Ungkapan itu  adalah ungkapan Ibbieta, salah satu tokoh yang genting menghadapi waktu ekseskusi kematiannya. Ibbieta tak sendiri, ia bersama dua tokoh lainnya yang mengalami hal yang sama untuk ditembak mati; Juan dan Tom. Diceritakan di sana, baik Ibietta, Juan dan Tom adalah tahanan yang tanpa melalui peradilan harus menerima keputusan eksekusi mati. Kesalahannya masingmasing adalah menyembunyikan tokoh pemberontak, terlibat gerakan subversif  dan merupakan bagian keluarga dari seorang pengagum anarki.

Melalui tiga tokoh ini, nampaknya Sartre berusaha menyampir pandangan eksistensialisnya dalam kaitannya dengan kematian. Di cerpen yang lumayan panjang itu, dari sikap tokohtokohnya, saya bisa menangkap suatu sikap eksistensial bagaimana manusia tengah menghadapi batasanbatasan keberadaannya. Suatu sikap yang menyadari bahwa kebebasan secara eksistensial berhadapan langsung dengan keadaan yang tak dapat dilampauinya. Pertama, Sartre mengangkat metafora tahanan sebagai keadaan yang melingkupi eksistensi, dengan tembok sebagai perbatasan antara kebebasan dan keterpenjaraan. Dan yang ke dua adalah kematian itu sendiri.

Kematian, biar bagaimanapun adalah kepastian yang tak bisa disisihkan dalam belantara nasib manusia. Ia bisa saja terselip dalam suatu momen hidup yang tak disangkasangka. Datang diantara beragam pengalaman yang rupamacam dan dengan suatu kekuatan purba memutus semua mata rantai tepat di tengahtengah ketidaktahuan kita. Kemudian pergi membawa keberadaan kita dan hanya menyisakan tubuh yang tertinggal waktu. Sebab itulah kematian adalah ihwal yang misterium. Fenomena yang tak memiliki riwayat identitas. Datang dan kemudian tetiba pergi. Kematian memanglah kematian.
   
Tapi bagaimanakah jika ujung dari keberadaan kita sudah merupakan terang yang benderang. Di mana suatu pagi yang belum biru seluruh adalah akhir dengan harus melalui cara letusan pelor panas. Begitulah nasib tiga tokoh yang diungkap Sartre dalam ceritanya; ditembak mati. Takdir yang harus diputuskan tanpa pengadilan. Kematian yang harus di lalui di suatu pagi.  Sementara sebelumnya tersisa satu malam sebagai waktu yang tersisa jelang eksekusi.

Dan di dalam masa penantian itu, waktu adalah medium eksistensi untuk dihayati tiap momennya. Di sanalah kesadaran terhadap waktu nampak di dalam penghayatan, menjadikannya bagian yang dikontruksi kembali untuk diselami. Di situasi itu, barangkali manusia menjadi mahluk yang berbeda, menjadi mahluk yang mewaktu.

Seperti itulah yang dialami oleh Ibbieta dalam menunggu kematiannya. Di malam menjelang kematiannya, dengan segenap kesadarannya, waktu dikonstruksinya menjadi totalitas yang menegasi liniearitas spasial. Waktu dimasukinya dengan aliran kesadaran penuh yang dibentangnya dengan seluruh totalitasnya. Dalam keadaan ini ada dua hal yang menjadi ciri eksistensi manusia; kecemasan dan ketakutan. Tetapi hanya kecemasanlah yang mengindikasikan esensialitas manusia sebagai penanda kebebasannya.

Mengacu dalam pemikiran Heidegger tentang kecemasan, adalah keadaan paling dasar dari perasaan yang tak memiliki kejelasan atas objeknya. “Objek rasa cemas bukanlah mengada di dunia ini. Karena itu rasa cemas pada hakikatnya tidak memiliki isi persoalan”  ungkapnya. Melalui ciri ini, kecemasan merupakan perasaan yang berbeda dari ketakutan yang menjadi bagian dari keseharian. Ketakutan selalu mengandaikan kepastian yang tampak benderang sebagai konsekusensi atas tindakan, sementara kecemasan adalah peristiwa yang tak mampu memproyeksi keadaan apa yang dihadapi; suatu keadaan di hadapan ketidakpastian yang tak terjelaskan; suatu misterium tanpa dasar. Sebab itulah kematian yang di hadapi, walaupun sudah merupakan suatu peristiwa yang akan di hadapi, tetap merupakan ihwal yang tak memiliki isi. Dan “sesuatu yang tak memiliki isi” itulah yang dihadapi Ibbieta.

Begitu juga yang dialami oleh Tom; suatu kesadaran yang dimunculkan semenjak ia merenungi waktu sebagai selaput tipis yang akan membawanya pada kematian. Nampaknya di dalam cerpen ini, watak yang paling menunjukan bagaimana kesadaran eksitensial di narasikan Sartre adalah pada tokoh ini; seorang aktivis yang terlibat dengan gerakan pemberontakan. Di masa penantian di dalam penjara, pasca perbincangannya dengan Ibieta menyangkut kematian, melalui kecemasannya ia mengajukan pertanyaan; benarkah bahwa semua hal dalam hidup ini akan berakhir?

Di cerita itu tak ada jawaban untuk pertanyaan yang diajukan Tom. Sepertinya hal itu dibiarkan menganga tanpa dialog dari Ibbietta yang bisa saja dijawabnya. Dialog itu mengibaratkan suatu perbincangan yang siasia, tanpa arti, sebab barangkali “akhir” bukanlah pokok yang menjadi soal utamanya.  Dari filsafat Sartre kita bisa tahu, “akhir” sama saja sebagai suatu batas yang secara paradoksal menganggap “permulaan” sebagai titik muasal manusia.

Karena itulah dalam cerita itu, Sartre mengawali setting cerita dengan ketiga tokoh yang begitu saja dilempar ke dalam ruangan besar sebagai penjara bagi mereka. Melalui narasi semacam itu, manusia ingin digambarkan oleh sahabat Albert Camus   ini sebagai mahluk yang “terlempar” begitu saja ke dunia tanpa niat sebagai dasarnya.  Ada dengan “terlempar” begitu saja, tanpa asalusul, tanpa riwayat. Semacam kehadiran yang tidak didasari oleh basis metafisika seperti agamaagama dengan menyebutkan asal muasal dari suatu peristiwa dua manusia asal yakni Adam maupun Hawa.

Tidak seperti agamaagama yang menyertakan asalasul sebagai riwayat kehadiran dalam sejarah, Sartre mengandaikan dengan demikian tak ada alasan untuk mengkhawatirkan  suatu akhir, termasuk kematian. Sebab “kematian menyingkirkan semua makna dari kehidupan” sebutnya. Maka itulah eksistensilah yang harus menjadi pusat mengada manusia,  bukan kematian itu sendiri.