12 October 2013

lady chatterley's lover


pindu biru


Seandainya kemarau, jangan biarkan musim meranggas
Penghujan// di tiap jejatuhan seperti punguk di atas kelapa
Di atasnya bulat penuh
Tanpa separuh
Luruh biru
Pindu
Bulan..

Sudah jarak terbentang, begitu banyak waktu dibentang
Musim telah datang dan silap
Hayo ulang dan sergap
Separuh yang megap
Jangan utuh sebab belumlah lengkap
Biar miliki sembab untuk tiaptiap katup
Seperti bunga tulip di pegunungan Pamir
Kemudian haru
Biru..

Di sini banyak yang semakin panca
Banyak yang sudah  seperti arcaarca
Waktu yang membuat kuat namun seperti kaca
Tiada pandang dibaliknya
Hanya tembusan yang lurus
Bening
Tibatiba hening..

Seandainya berbilang
Gemintang juga tak bisa membilang
Disini sudah seperti gelang.. tiada ujung
Tak berpangkal walaupun sejengkal
Liyat sudah..

Tiadakah disini seperti yang sudahsudah
Mendapati kosong yang meruahruah
Melimpah satu dua buah
Seperti pohon di tengahtengah beliung
Di mana reranting  habis sudah mengering
Seperti puingpuing yang di tangkap hilang
Asing

Terlalu banyak sudah di jemari
Sampai lembar bukubuku berdebu seperti karat paku
Sampai akhirnya bukubuku jemari jadi jeruji
Tiadakah disini pindu
Biru..

Sudahkah seperti pohon Bodhi
Yang sunyi saja semakin sepi
Hanya mengenal luas yang tak berselang tepi
Apakah ini sudah seperti hari nyepi?
Ah bahkan budha juga tak pandaipandai dalam ramai
Sudahkah masa penghujan titik?
Rinairinai
Jangan masai

Biru
Biru
Dalam nanti
Masa

Musim telah datang dan silap
Di antara zaman yang megap gelap
Sudahkah masa penghujan datang?
Akh..di bentang jarak sungguh mirip jangkrik
Hanya bunyi dalam sunyi.. Biru

Biru
Dalam nanti
Masa

Silap Gelap 0352, 121013                                                      


Antara Jurnalisme dan Filsafat

Konon sikap seorang jurnalis dan filsuf sungguh jauh berbeda, terutama di hadapan kebenaran. Seorang jurnalis menjadikan kebenaran sebagai ihwal yang aktraktif, sedangkan seorang filsuf lebih reflektif. Jurnalis, lebih cenderung sigap dan cekatan terhadap kenyataan, sementara seorang filsuf justru jauh lebih tenang di hadapan kenyataan. Seorang jurnalis, maklum, menjauhi dunia teoritik-abstrak, sementara bagi seorang filsuf, dunia praksis adalah dunia yang bisa saja ditampik begitu saja.

Sikap sigap dan cekatan wartawan menerima kenyataan luar (fakta) sebagai sumber berita. Sedangkan dunia dalam (makna) merupakan medan “kabar” bagi mata reflektif seorang filsuf.

Tetapi apa sesungguhnya hubungan di antara keduanya? Apa sebenarnya sumbangsih keduanya terhadap kehidupan manusia di saatsaat seperti ini?

Etika filsuf dan seorang jurnalis bisa jadi dua hal yang berbeda, terutama sikap keduanya di hadapan kebenaran. Namun ada kenyataan yang tiada bisa disanksikan begitu saja, dari apa yang menjadi hasrat bawaan dari seorang filsuf dan jurnalis; hasrat terhadap kebenaran.

Sang filsuf dan sang jurnalis boleh saja berbeda memberlakukan kebenaran, namun tidak dalam gelora mereka untuk menemukan kebenaran. Keduanya samasama bekerja dalam perkara yang sama. Seorang filsuf sudah tentu mendedah dan mendaur kebenaran, maka seorang jurnalis, seperti kata Bill Kovach, seorang veteran jurnalis Amerika Serikat, bertugas melayani kepentingan publik dengan melaporkan kebenaran.

Imbas tuntutan yang berbeda, sangat sedikit namanama, taruhlah seorang filsuf atau sebaliknya, seorang jurnalis, yang bergerak di antara dunia irisan filsafat dan jurnalisme. Filsafat kadang menilai realitas sebagai medan kompleks yang di baliknya memiliki kenyataan yang sederhana. Sedangkan di mata seorang  jurnalis, justru di balik yang sederhana itu tersimpan perkara kompleks untuk dikabarkan.

Barangkali hanya namanama semisal Jean Paul Sartre atau Albert Camus, yang berani mengabdi di dalam dunia yang berbeda itu. Keduanya di masa pasca perang dunia ke dua, kerap kali menulis di media massa Perancis. Atau, Hannah Arendt yang melaporkan hasil reportasenya di hadapan dunia menyangkut kekejaman Nazi yang dipetik dari wawancaranya terhadap seorang  petinggi SS Nazi, Adolf Eichmann, sekitar 1960-an. Selebihnya tak banyak nama filsuf yang mau melibatkan diri pada kegiatan jurnalisme, atau sebaliknya.

Tetapi apakah keduanya tak bisa didamaikan dalam satu keadaan, di mana keduanya justru bisa saling memberikan arti satu dengan lainnya? Mengingat praktik jurnalisme sudah dicontohkan Plato dari 2500 tahun yang lalu?

Kita tahu dalam karangan Plato, Dialog¸ adalah hasil reportase yang merekam detikdetik terakhir Socrates menjelang kematiannya. Dan kita bisa mafhum, dari reportase Plato itu, dari karya yang mewakili suara Sokrates, dunia bisa paham tentang maksud dari sebuah kebenaran dan resiko yang dihadapinya: kematian.

Tetapi, apa sesungguhnya resiko bagi jurnalisme dan filsafat, yang lain? Apa maksud dari kejujuran yang hanif bagi orangorang dalam dunia tulis-menulis dan pemikiran. Apa kesan yang bisa kita peroleh dari kematian seorang Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang tewas, misalnya, setelah nyawanya direnggut orangorang tidak dikenal? Apakah kita harus bersedih hati dari kematian seorang jurnalis ataukah seorang filsuf? Ketika kebenaran dari kenyataan yang begitu destruktif tak pernah sampai kepada khalayak ramai? Di mana di saatsaat seperti ini, dalam ekspresi dunia yang karut marut,  filsafat dan jurnalisme menjadi pekerjaan yang penuh onak dan resiko.

***

Jurnalisme sebagai dunia yang memperjuangkan kebenaran, kita tahu adalah dunia yang mengedepankan akurasi yang tinggi terhadap fakta-fakta temuan. Nilai sebuah warta harus objektif seperti yang terjadi di lapangan. Demikan karena jurnalisme memperlakukan opini sebagai barang haram yang merusak nilai sebuah berita. Maka dari itu seorang jurnalis harus mengerti tentang batas antara kepentingan pribadi dengan fakta yang  akan diberitakan. 

Sementara filsafat tidak berhenti sampai batasbatas yang dimiliki dunia jurnalisme. Sang filsuf tidak ingin begitu saja menerima kenyataan apa adanya seperti di mata seorang jurnalis, melainkan justru jauh masuk di balik fenomena yang tampak di hadapannya. Maka, seorang filsuf akan menimbang nilai dari nilai yang dinilainya. Memasukkan kategori dari kenyataan yang ditangkapnya untuk memberikan penilaian sebagaimana yang seharusnya terjadi. Dan dari sanalah barangkali Marx berangkat; tugas seorang filsuf bukan sekedar menangkap kenyataan, melainkan turut mengubahnya.

***

Awalnya dalam tulisan ini saya hendak menulis sesuatu yang berkaitan dengan media massa. Tentang posisi yang memungkinkan bagi media massa ketika mengerjakan tugastugasnya tanpa harus absen dari independensinya. Apalagi begitu besarnya arus kekuatan modal yang kerap kali mencangkok di belakang media massa.

Namun, apalah dikata, saya bukanlah seorang penulis, dan terkadang kita sulit mengapresiasi ideide kita dalam lembaran bahasa yang layak dibaca. Maka dari itu saya sebenarnya takut dan khawatir terhadap kekuatan kata. Kata bagi seorang jurnalis adalah bahan baku bagi pekerjaannya. Begitu juga bagi seorang Filsuf, kata bisa saja dipermasalahkan oleh sifatnya yang tak tepat dalam mengapresiasi makna yang dipikirkannya. 

Namun bagi saya -yang bukan seorang jurnalis apalagi seorang filsuf, kata punya hukumnya sendiri. Dia bisa bebas bergerak melintasi di antara pemikiranpemikiran, bahkan berbalik kepada orang yang memikirkannya. Maka saya akhiri saja tulisan ini dengan maksud yang barangkali belum sampai di tangan pembaca. Saya khawatir, sebab kata bisa saja berbalik menohok si pemakainya. Kita boleh saja bersikap sebagai seorang yang bergelut dengan segala tetekbengek kesucian kebenaran, namun terkadang katakata kita, yang kita anggap benar itu, bisa saja berbalik menjadi boomerang bagi kita suatu waktu. 


01 October 2013

Di Ambang Kenyataan; Beban atau Peluang?

Martin Heidegger, dengan pemikiran ontologinya yang rumit, pernah memaktubkan gejala mendasar dan problematis, pada metafisika Barat- dengan seluruh totalitasnya sudah lupa- terhadap Ada. Di suatu waktu ia berkata, kita lupa terhadap sesuatu yang sederhana namum begitu fundamental; Ada. Yang terlupakan adalah entitas yang mendasari adaan yang lain. Sesuatu yang mengendap pada dasar kenyataan yang nampak, metafisika Barat dengan seluruh tradisinya terjangkiti penyakit yang segera harus dibersihkan dari kategorikategori yang dianggap gagal membaca kenyataan. Demikian sehingga telah membawa manusia melupakan dasar keberadaannya.

Semenjak Parmenides sampai Sokrates, Platon hingga Kant; metafisika sebagai filsafat awal, tengah mengalami kecemasan. Filsafat guyah dari sendisendinya. Yang dahulu deskripsi tentang Ada menjadi anasir utama akhirnya harus terpinggirkan. Kemungkinan manusia untuk mendapati dan menggapai Ada; kenyataan sublim, akhirnya mengalami jalan yang buntu. Manusia akhirnya tergugat, bahwa manusia bukanlah mahluk yang mampu mengatasi kenyataan.

Namun apa yang sebenarnya diyakini sebagai kenyataan yang sublim; ihwal segala yang mendasar, sesuatu yang bagianbagian turut di dalamnya, yang sebenarnya dipahami sebagai ia yang sesungguhnya tak telibat dalam sesuatu. Soal yang tak berubahubah diantara nampakannampakan yang silih berganti. Atau sesuatu yang lain di mana semua bergantung padanya, dan tiada perubahan mensifatinya, sesuatu yang dibilangkan sebagai pusat,  subtansi. Lantas apakah kenyataan yang guyah ini, tak pejal adalah kenyataan yang satusatunya,  sehingga daripadanya bersandar seluruh totalitas keberadaan lainnya dan akhirnya menampik perihal yang tetap, universal, sehingga kita harus beralih pada situasi yang tak menentu.

Dimulai dari Kant, di tanganya semuanya berbalik. Kenyataan; realitas hakiki, sebagai yang tak berubah harus ditinggalkan sebagai bentuk keterbatasan manusia. Oleh sebab, ihwal yang subtantif hanyalah kesan yang berada diseberang kesadaran, sesuatu yang tak menampil kejelasan. Selubung adaan yang tak mengenal identitas, yang di balik kenyataan, semesta yang tak dikenali oleh apa yang ia terakan sebagai noumena. Sehingga mulailah batas dipancangkan oleh kesan yang diwartakan; manusia dengan  cogitonya tak mampu menyeberangi lebih jauh, fasih untuk memberikan prediksi pada sesuatu yang tak dikenali. Manusia, dengan akalnya punya batasan.

Sebelumnya, Immanuel Kant, seorang filsuf rasionalis yang saleh, yang taat dalam soal waktu itu, ternyata dibangunkan dari tidurnya yang berkepanjangan. Oleh Hume, filsuf empirisme Inggris menghentak kesadaran rasionalis Kant. Dia dibangunkan pada kenyaataan yang berbeda, tentang asumsi yang lain daripada sebelumnya, bahwa tiada keberadaan yang universal, sesuatu inti yang tetap dan absolut, suatu subtansi, oleh sebab kenyataan adalah suatu yang mengalir tak tetap. Bahwa apa yang disebut dasar kenyaatan, yang prime adalah pengetahuan yang tak bisa dilacak muasal keberadaannya. Dan seperti apa yang pernah diwartakan berabadabad yang lalu, oleh Heraklitos, di mana kita tak bisa melangkahkan kaki untuk kedua kalinya pada aliran sungai yang sama.

I freely admit that remembrance of David Hume was the very thing that many years first interrupted my dogmatic slumber and gave a completely different direction to my researches in the field of speculative philosophy ((prolegomena, 1997;10), Donny Gahral Adian)   
     
David Hume, dengan prinsipnya nihil est intelectu quod non antea fuerit in sensu, memanglah seperti sebilah godam. Ia menghantam tepat dijantung seluruh asumsi filosofis yang menetapkan keyakinan terhadap subtansi, yang universal, bahkan yang ilahi dengan mengembalikannya pada kesan yang primer yakni sensibility. Sensibility adalah fakultas yang utama dalam mencandra kenyataan, berupa bendabenda, hubunganhubungan, kualitas, kuantitas, modalitas dsb, sebab sensibilitylah kesan yang paling kuat menangkap objekobjek. Dengan keyakinannya demikian, daripadanya ia menolak bayangbayang yang bernaung di dalam benak imaji manusia. Dengan tegas prinsip tiada kesan sesuatu pun dalam pikiran yang tiada berawal dahulu pada penampakan inderawi akhirnya ditotalitaskan.

Darimana akhirnya permulaan itu? Tentang padanan kenyataan adalah apa yang terinderai. Mengenai perihal yang menolak ideide platonian itu? Atau kategori yang dianggap nyata adalah apa yang dipersentuhi oleh kesan indrawi kita? Sesungguhnya asumsiasumsi demikian adalah bentuk yang tak jauh dari apa yang dibilangkan oleh Aristoteles. Di umur 18 ia menjadi murid Plato, belajar giat di Academia dan setelahnya menjadi orang yang menolak apa yang pernah diterimanya. Aristoteles merombak gagasan Platon tentang subtansi yang bersemayam di alam Archetype, alam bentukbentuk; alam yang di luar alam indrawi. Sebab Platon memiliki iman terhadap dua dunia, yakni dunia yang diendapi ketakmenentuan, cenderung berubahubah, dan akhirnya semata semu, dan yang ideal, immortalitas bentukbentuk, dunia idea, tempat jiwa pada waktu ia total mengetahui. Darinya Platon, menolak yang semu dan menerima subtansi yang sesungguhnya adalah apa yang ada di luar sana, dunia idea.

Tetapi bukankah, yang subtansi adalah apa yang nyata di hadapan mata. Dan bukankah ia adalah perihal yang tak jauh dari tangkapan retina kita. Subtansi adalah apa yang menyatu pada tampilan kongkrit bendabenda, bukan pula seperti apa yang ada di dunia idea. Melainkan merupakan adalah apa yang menampakkan benda itu dapat dimungkinkan, yakni subtansi sebagai bagian dari morph dan hyle  yang berpeluang untuk diaktuskan, yakni berupa potensi. Daripanyalah subtansi akhirnya bukanlah esensi yang berada di langitlangit Platonian, melainkan padu rapat pada bendabenda.  

Akhirnya dengan cara pandang demikian, kita menerima kenyataan berdasarkan kategorikategori yang menyelubungi kenyataan. Dengan merangkak naik ke atas dan mengukurnya dengan prediksiprdiksi yang terukur. Oleh aturanaturan subtansi, universal, tak berubahubah dan pejal. Dengan penalaran yang rigoris; sebuah cara pikir yang sistematis dan tertata. Tetapi apa hak kita dari kenyataan yang kita berikat predikasi, mengenai ukuranukuran yang sebenarnya tak mampu ditinjau secara total? Dan itulah yang disebut dengan kenyataan Ada? Bukankah itu adalah konstruksi metafisika yang tergenang di dalam anti metafisika? Dan di sinilah Heidegger membawa pikirannya menjauh dari selubung yang belum keluar dari dikotomi terhadap kenyataan.

Bahwa kenyataan adalah dunia alam beserta dengan seluruh isinya, seluruh peristiwa yang di alami. Sesuatu yang tunggal dan tak terbelahbelah, yang dialami, kemudian digeluti dan dihayati. Yang oleh ia disebut dengan lebenswelt, kehidupan yang dikesani tanpa tedeng alingaling pretensi susun yang mengkontruksi kenyataan. Sebuah kenyataan yang present dan bukan representasi pikiran. Dari padanya kemudian kenyataan adalah bukan yang berdiri di atas konstruksi bangunan pemikiran yang penuh dengan indikatorindikator, melainkan hidup yang teralami, ada di dalam dunia.

Maka lupa itu dipecahkan dengan Dasein ( da: di sana, sein: ada) keberadaan satusatunya yang mampu mempertanyakan kembali Ada. Dengan cara  menjadikannya sebagai bentuk penyingkapan terhadap Ada. Sebab hanya manusialah yang memiliki kesadaran untuk menggugat fenomena dengan cara menyikapinya; sebuah sikap yang dan dalam dunia, dengan cara bertanya di hadapan Ada. Namun kesadaran seperti apakah, yang tidak tercemari dikotomi yang memilahmilah? Bukankah sebelumnya kesadaran adalah hal yang menegasikan kenyataan di bawah superioritas ego yang berpikir? Dengan membelahnya menjadi kenyataan yang dipikirkan dengan Aku yang berpikir? Sebab kenyataan di mata Dasein adalah aku yang di tengah dan dalam dunia. Yang mafhum bahwa tiada objek selama tak berintensi dengan kesadaran dan sebaliknya tiada kesadaran yang terpaut dengan objek, atau dengan kata lain kesadaran adalah keterjalinan yang intensif.

Dalam totalitas kesadaran yang terpaut dengan bendabendalah manusia akhirnya menemu kenali kembali kenyataan yang sebelumnya tunduk di bawah hukum kategorikategori. Hingga akhirnya keberadaan dapat terjangkau dengan  cara menyertakan kesadaran yang mendistingsi adaanadaan yang terberi. Karena Dasein sebagai faktisitasi dari Ada adalah ego yang mampu memberikan dasar bagi keberadaannya. Sebab bukan apa sesungguhnya Ada itu (what is being) yang mendasari, melainkan apa makna ber-Ada sesungguhnya (What it means to be).To be continue…

Popular Posts