29 August 2013

anamnesis

sedianya engkau kata dalam relung sebuah peristiwa
dimana makna tak pernah engkau genggam dan dapati
dalam riuhnya diam
dalam maraknya sunyi
ketika semuanya daur dan berbaur
dalam nyiur

mungkinkah sebuah peristiwa kerap jadi selubung kata
dimana makna engkau genggam dan dapati
dalam diamnya riuh
dalam sunyi yang marak
ketika semuanya kabur dan lebur
dalam nyiur


Madah: Mayangmayang Cerita yang Tertunda

Madah oh madah.. Mungkinkah sesuatu itu berasal dari alam yang sebenarnya tiada?

Banyak kisah bermula dari sana, dari apa yang kita sebut legenda ataupun mitos, bahkan Agama sekalipun; awal mula semesta alam adalah sabda. Diyakini bahwa dari sana bermulanya segala sesuatu. Setidaknya harus ada penjelasan yang menetapkan sebab dari awal segala sesuatu. Dimana ketika sebab mulai merunut kejadiankejadian, barangkali pada peritiwa itulah kita mengenal situasi yang menyertakan waktu. Dan di sanalah alaf ruang berima serta waktu dalam membentuk sejarah.

Seperti dirimu, awal mulanya adalah penggalpengal kata. Yang dalam runutannya ada rentang yang mesti kau lewati. Diantara yang silih datang dan pergi. Diantara perulangan putaran waktu, ketika peristiwa kerap kali menjadi suatu yang penting. 

Dan memang sejarah adalah gores panjang yang merunut kejadian dengan toreh pesanpesan pada pinggiran untuk memberikan asumsi dari apa yang bisa kita terima. Engkau kerap muncul diantara peristiwa dari yang datang dan pergi. 

Di tengahtengah itulah engkau muncul untuk kunamai. Engkau ada ditengah titianmangsa yang kerap berlalu begitu saja. Tanpa embelembel, tanpa ada niat, kunamai engkau Madah. Engkau keluar begitu saja. Sebuah nama yang belakangan saya tahu artinya bermakna “pesan”.

Semenjak kemunculanmu, ada kehendak untuk menyempurnakanmu dalam cerita yang kubentuk lengkap menyerupai pahatan patung yang sudah jadi. Setidaknya semenjak kehadiranmu, engkau diniatkan untuk tak berumur panjang. 

Dalam satsra, ceritera yang demikian dikenal dengan akronim cerpen. Sebuah cerita yang tak terbilang untuk panjangpanjang, sebab engkau memang diniatkan demikian. Namun barangkali sebuah ceritera kadangkala menghendaki yang lain, selagi engkau tak pupus dalam ide seorang penulis. Engkau dalam kepalaku menuntut untuk menyusun gugus ceritera. Dan di sinilah masalahnya, engkau menjadi tokoh yang ingin hidup panjang dalam ruang pikiranku. 

Sehingga terbesitlah ide itu. Ide yang mayangmayang tersimpan dalam kehendakku untuk mejadikanmu sebuah cerita yang panjang, sebuah novel. Maka mulailah kutetapkan settingan kehidupan untukmu. Tetapi merunut kejadiankeajadian jauh lebih sulit jika hendak dikalimatisasikan dalam bentuk yang hendak paripurna. Sebab mengkalimatisasi  sebuah peristiwa yang panjang sama halnya memasuki sebuah dunia yang begitu menghendaki konstruksi yang kuat. 

Dan juga menulis  sebuah novel sama halnya membangun dunia yang sungguh berbeda, oleh karena ia berurusan dengan sesuatu yang khayali; imagi. Dan yang khayal adalah seperti benda yang begitu halus, cair dan tak padat; sesuatu yang tak terikat bentuk yang pasti; sesuatu yang kesannya berubahubah.

Tahukah engkau Madah, tentang konstruksi yang berdiri di atas pasir?

Sastra adalah semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona. Setidaknya itu kalimat pengertian yang saya pahami tentang sastra. 

21 August 2013

Tentang “Kani Kosen sebuah Revolusi” karya Kobayashi Takiji


Ayo, pergi ke neraka”
Dua orang nelayan memandangi kota Hakodate yang dikelilingi laut, sambil menggeliatkan badan dan perpegang pada besi pegangan tangan di dek kapal. Nelayan itu pun kemudian, sambil meludah membuang rokok yang sudah dihisapnya hingga tersisa seukuran lebar jarinya…

Apa yang memungkinkan sebuah karya sastra memiliki sensibilitas di antara batasbatas peristiwa dari yang datang dan yang pergi? Sehingga mampu melampaui kejadiankejadian yang merentang diputaran orbit kehidupan manusia? Barangkali pertanyaan ini adalah sebuah eksposisi yang baik untuk jauh masuk pada kisaran fundamental dari apa yang diendapkan dalam sebuah karya satra; soalsoal manusia. Sastra yang baik adalah karya sartra yang lahir dari jantung subjektivitas manusia, susun bangun kata yang terbangun dari kekayaan batin sebuah kejadian, sebuah peristiwa atau bisa jadi di sana ada masalahmasalah  yang hendak dijinakkan dalam kacamata seorang satrawan. 

Setidaknya seperti dalam pengertian yang diberikan Ignas Kleden; seorang sastrawan beda betul dengan profesi, taruhlah seorang wartawan. Seorang sastrawan memiliki konsep dunia yang berbeda, dunia kenyataan yang jauh menelikung dari kesan dunia yang umum; kekayaan dunia subjektif.  Di mana di sana sarat dengan lipatanlipatan unsur batiniah.  Sehingga kenyataan yang benar bukanlah usaha observasi yang menuntut kemapatan antara ide dengan kenyataan, melainkan sesuatu yang maknawi, kedalaman dunia yang dihayati. Maka seorang sastrawan tidaklah berjuang dengan dunia luar, melainkan sebuah kenyataan terdalam dari apa yang digeluti. 

Seorang sastrawan memiliki state yang berbeda betul dengan seorang wartawan. Jika seorang wartawan menghadapi kenyataan dari apa yang menjadi kesan terhadap dunia empirik, maka seorang sastrawan justru berbalik ke dalam memasuki rimba makna dari kesan batin yang dialami seharihari. Maka apa yang menjadi nilai juang dari seorang sastrawan adalah kedalaman makna yang dintodusir kepada khalayak, atau bagaimana khalayak mampu masuk pada ruang kesadaran terdalam; ruang pemaknaan. Dan tentu tak sama dengan seorang wartawan yang dituntut untuk menemukan kebenaran warta yang diperjuangkan dari dunia luar untuk diinformasikan.

Barangkali itulah ihwal yang terendap dalam karya Kobayashi Takiji, seorang komunis Jepang; Kani Kosen, sebuah revolusi. Karya sastra yang lahir dikitaran waktu 1929. Novel yang bertutur tentang kehidupan para buruh pabrik kapal pengangkut kepiting yang dikitari kehidupan sosial ekonomi yang malaise. Jepang yang sedang dihinggapi shihonshugi; kapitalisme.  Sehingga keresahan tumpah ruah, pengangguran tak terbendung dan kemiskinan adalah akut yang sakit.

Jepang dimasamasa itu, tak beda dari lingkup situasi dari negaranegara yang dihinggapi kuasa terhadap modal. Kapitalisme, kita tahu dipenghujung abad 20 adalah keyakinan yang akbar untuk dipuja. Semacam key of life dari kehidupan yang enggan stagnan. Kapitalisme dengan segala rukunrukunnya menjanjikan ilustrasi kehidupan yang tak untuk didiami dengan  sejarah umat manusia yang menghendaki ketidakpastian. Kapitalisme dengan dukungan kelas burujiajinya di Jepang mengerti, Jepang adalah gugusan pulau yang menyimpan banyak potensi.

Maka di sana, di Jepang; matra sosial mengalami ketegangan antara kelas pekerja dan kelas pemodal, kelompok miskin versus kelompok kaya, kelompok politik fasistis militeristis versus politik proletariat, kalangan intelektual melawan kaum kapital. Singkatnya, di Jepang suasana ditahuntahun itu adalah suasana zaman yang sedang dilanda krisis berkepanjangan.  

Namun sebuah ilustrasi bukanlah kenyataan, melainkan adalah kesan dari apa yang hendak digambarkan. Dan kapitalisme seperti citra gambar yang tak selamanya sempurna untuk dimengerti, bahkan di Jepang sekalipun. Juga modernisasi yang dikehendaki pada akhirnya harus mendapati kenyataan yang berbeda; kehidupan ekonomi yang carut marut. Pada kenyataan masyarakat demikianlah Kobayashi menangkap hal yang tunggal dari rahim kapitalisme; alienasi.  

Kobayashi adalah seorang komunis. Ia mati dalam keadaan yang muda, 29. Kani Kosen; Sebuah Revolusi, adalah karya sastra yang ditulisnya pada usia 26, empat tahun kemudian ia merengang nyawa; disiksa kepolisian jepang. Pada saat Kani Kosen ditulis, barangkali Kobayashi tak menduga, tulisan yang ia dedikasikan untuk para buruh kapal pengangkut itu, 80 tahun kemudian,  menjadi bacaan yang banyak dikonsumsi di Jepang terutama dikalangan anakanak muda.

Nampaknya karya yang sempat dilarang beredar oleh militer Jepang seperti mengikuti inangnya; komunisme,  memiliki umur yang panjang. Dan kita tahu sebuah karya sastra adalah kejujuran yang mendahului kenyataan. Kani Kosen adalah bahasa transparan yang menangkap esensialitas yang terkandung dalam pengalaman kaum buruh Jepang yang dikeruk oleh system yang monopolis. Maka seperti bahasa anakanak muda yang besar di era yang berbeda, ketika membaca Kani Kosen, kami tak melihat ada komunisme dalam Kani Kosen, yang kami saksikan adalah penderitaan dari ketidakadilan yang merajalela. Atau dengan bahasa yang lain, dalam Kani Kosen, buku yang tidak terlalu tebal itu, bukan diperuntukan dengan sensibilitas ideologi tertentu, melainkan tentang humanisme. Sehingga dengan esensialitas yang terkandung dalam karangannya, Kobayashi hendak jujur terhadap kenyataan, Kani Kosen adalah sastra yang mengandung soalsoal kemanusiaan yang selalu didaur oleh bulatan waktu.

Dalam kata pengantar edisi terjemahan, I Ketut Surajaya, guru besar sejarah Jepang menuliskan;  sejarah tak mungkin terulang, tetapi suasana bathin suatu masyarakat dapat berdaur ulang dalam analogi zeitgeist sosial budaya, politik dan ekonomi. Dan di sinilah keutamaannya, sebuah ideologi tidak selamanya diterjemahkan dalam bahasa yang mengharuskan adanya mobilisasi massa, barisanbarisan panjang barikade, atau sloganslogan yang antikemapanan melainkan dapat hadir dalam bentuknya yang lain; suasana bathin.

Dan di sinilah kemungkinannya sebuah karya satra dapat diterima, ia berbicara dalam bahasanya yang paling halus menyentuh sisi kemanusiaan manusia. Dalam kandungannya, sastra adalah bahasa yang mendahului esensi oleh sebab bahasanya yang bermain pada batasbatas universalitas. Maka di manapun ketika kenyataan mengalami situasi yang monolog, maka sastra adalah pisau yang mengiris peririsan kulit kenyataan yang mengalami kebekuan.

15 August 2013

deret yang panjangpanjang

dalam termangu; lipatan malammalam, diantara cakapcakap yang mengitari
ada panca yang mengendap dalam suara
dilamuri lapiklapik bincang yang sudahsudah
disekian irisan waktu yang lalulalu; barangkali masih dalam endapan yang tertinggal ramai
seorang telah ucapkan; telah kita tinggal dibelakang, sedepa labuhan yang terbakar
tanpa titik yang tera dari tetulisan; yang luas akan kita arungi
masa yang sulit untuk ditekuk dalam lipatan jari
sementara dalam masamasa yang jedah bendabenda masih dikitari pendulum putaran
dari masa yang sudahsudah
masa yang ditenggerai katakata, disana, pada jauhjauh yang sudi untuk dipurnakan
deretderet yang panjangpanpanjang
masih sulit untuk dijinakkan
sedang kitaran tengah landai untuk dijamu
tekuk nasib sedia diwartakan, sebab yang bisu bukan diam yang panjangpanjang


10 August 2013

post morfem

rupa yang lain; seksuasi yang membuncah diantara phalus. mungkinkah barangkali setengah yang tertunda..  atau bisa jadi, dia, perempuan punya seribu penanda.. diantara bendabenda yang melewati malam yang sama.. pada sebuah layar; barangkali identitas yang berkekurangan, membayangbayang dilipatan mata

bukankah itu penanda bios yang menggejala; penanda yang tak lengkap
diselasela ruang yang cacat, sebuah morfem tertunda

sementara subuh menggulum waktu diantara lipatan


06 August 2013

yang kerlip

Yang kerlip dan yang menguap
Segera katup ditingkap
Silap dalam titimangsa
Pergi dari perigi


Popular Posts