03 March 2013

batas

Apa yang datang kelak pada akhir dari penghayatan tentang 'ada'? 

Konon katanya, agama bermula dari kesunyian. Konon, agama merupakan titik akhir dari pen-sunyi-an. Ataukah konklusi dari penghayatan. Bentuk keinsyafan dari ego yang ditangguhkan. Yang mana cikal ujungnya berakhir kesadaran. Bilamana disana kesadaran harus tangguh pada yang tak terkenali, sehingga batas darinya harus memaklumkan ada rendah hati. 

Jikalau agama adalah citra kesunyian, namun ia pun harus memahami kenyataan yang lain dari keberadaannya. Perihal alam yang berbeda dari dirinya; alam rimba ektensia, alam lain yang bermaterialkan konkrit. Yang selanjutnya ia mau tak mau harus berhadapan dan mendapati dirinya pada dunia yang begitu kontras. Pada titik inilah agama terkadang harus bersilangan dengan hal yang fana; alam duniawi.

Dunia yang sekarang bukan lagi dunia yang sama ketika pertama kali agama datang. Dunia sekarang merupakan dunia dengan adabadab yang berbeda. Tempat yang menghapus bentukbentuk ke-abadi-an. Kita barangkali telah khatam, dimana agama selalu menyusun dunianya yang menampik sesuatu yang tak tetap. Selalu datang dengan cogitan yang meneguhkan 'ada', dengan penyingkiran terhadap yang badani. Yang mana badani merupakan episentrum dari hirukpikuk yang mendatangkan dosa. 

Dari sinilah barangkali datangnya soal. Pada tepian antara sunyi-abadi dengan ramaipikuk-badani, agama harus menjatuhkan palunya bilamana keduanya harus dipilih. Antara badani ataukah abadi, antara dunia ekstensia ataukah kesunyian, antara absolut ataukah kefanaan. Antara keangkuhan-kesunyian ataukah kerendahhatian pada alam yang tak pernah tetap? 

02 March 2013

peng-alam-an

Setahuku waktu adalah ukuran jarak. Perluasan antara keduanya; ruang. Yang mana keduanya bisa jadi saling bersilangan. Dari sanalah ruang datang. Ruang bisa saja terberi begitu saja, atau bagaimana kehendak untuk menempati. Dari kehendaklah isyarat tentang waktu terkadang menyisakan tuai; peng-alam-an. 


Waktu adalah batas peng-alam-an, dan ruang adalah monumentnya. Dan kita, pada apa yang dimiliki, mempunyai inti yang sublim. Tentang yang membatasi kita dari ekstensia lain; potensi pikir. Berawal dari sanalah datang segala lainnya. Dan peng-alam-an adalah residu yang membatu. Bisa jadi guna jikalau terbagikan. 

Bicara peng-alam-an, ada Iqbal, dengan scribnya tentang semesta yang tak kenal konklusi. Bahwa alam bukanlah rentetan event yang selesai, bukan kesimpulan dari kreasi Tuhan. Melainkan waktu yang menubuh pada pikiran manusia. Yang mana kita adalah 'usaha' Tuhan yang hendak meng-ada. Darinya Tuhan hendak berbagi peng-alaman.

Namun tak selamanya murni mendatangkan kesucian. 


Terkadang kemurnian bisa jadi pilar yang membatasi. Mendatangkan bakhil pada situasi yang primordial. Sebut saja Agama, kuasa politik, ras beserta klaim lainnya yang bisa kita deret pada alam kenyataan. 


Peng-alam-an adalah waktu yang menubuh ruang. Namun pula, kadang ia menjadi hal yang menyisakan lampau. Pada titik ini kadang peng-alam-an mesti men-tabik, pada apa yang akan datang. Dan disana sejumlah alam yang asing dikehendaki untuk dijamah?.

Pare, sela waktu 010313