You Are At The Archives for March 2012

Thursday, March 29, 2012 in

Ihwal Perubahan

Hari-hari ke depan mungkin akan penuh gemuruh. Jalan raya menjadi ramai, dan mahasiswa tentu punya agendanya sendiri. Harihari belakangan ini, kita dibuat resah, banyak caci maki menjadi hal yang mendekati ujaran yang banal, aspirasi menjadi ihwal yang penting, sebab di penghujung bulan nanti, presiden RI akan berdiri di atas podium Negara, berdiri menghadap seluruh masyarakat sabang merauke, dan tentu dengan kesannya yang kita kenal betul; mimik muka yang melankolis, tutur ucap yang telah ditata, dibagian mana intonasi harus ditekan pada katakata tertentu,  warna baju apa yang harus melambangkan  kecocokan dengan audiens dan tentu isi pengumuman itu sendiri, dengan teori-teori ekonomi makro mutakhir, tentang nasib, tentang naik tidaknya bahan bakar minyak.

Pidato, Jalan raya dan mahasisiwa di harihari ini kerap semakin akrab. Agenda yang serempak harus segera dijalankan. Agenda pemerintah dengan menaikkan harga bahan bakar minyak menjadi topik yang tibatiba genting. Dan jalan raya menjelma sebagai narasi yang mempertautkan ideide perubahan yang selama ini dilancung oleh sistem. Maka analisis tentang perihal kebijakan dihampar pada setiap ruang-ruang dialog. Di mana di sana ada persandingan isu-isu tentang perubahan sebuah negeri yang ingin merdeka. Teori-teori perubahan sosial pun pada akhirnya kembali mendapatkan momennya untuk dibincang kembali. Namun pada negara seperti Indonesia, seluruh teori yang punya kesan ingin merubah tatanan sistem pemerintahan dipending untuk diajarkan. Bahkan sekalipun bisa jadi harus di berangus. Maka antara hari-hari kemarin dan hari-hari seperti ini, ide-ide perubahan mendapatkan sinyalemennya yang kurang tegas.

Sebagai narasi, maka sebuah penceritaan selalu dimulai dengan permulaan.  Mengkisahkan aktoraktor yang punya peran di dalamnya, dan apa yang dilakukan belakangan ini; apa yang sering dikatakan sebagai aksi jalanan, sedang dalam kehilangan aktornya.  Maka di saat seperti ini, jalan raya menjadi pentas  yang memainkan peran-peran pada sebuah gerakan yang tak memiliki aktornya.

Perihal ini, Weber, seorang jerman, punya teori. Perubahan penting untuk dimulai dengan kepemimpinan, yang mana punya posisi strategis dalam  penentuan arah perubahan sosial. Tentu weber memiliki iman bahwa massa jalanan tak selamanya adalah hal yang sadar dengan kondisi yang melatarbelakanginya. Menyangkut ini, Weber menampik jenis gerakan yang akhirnya bisa jadi  lancung di tengah jalan. Yang mana sebuah arah bisa jadi adalah kehendak yang menampik ruang permenungan. 

Dengan begitu, galibnya sebuah suara protes di tengah gerombolan massa hanya menjadi suara yang panca. Maka kehadiran ideide perubahan harus disemai di tengahtengah massa. Teori-teori harus menjadi bagian integral dalam menata realitas, bergumul dengan realitas sebagai jalan dialektis.  Di mana pada titik seperti ini, kerap teori-teori besar harus kembali di ujicoba, difalsifikasi pada tepian realitas yang kerap jamak, sehingga tak ada ide yang mutlak tunggal, yang berarti ada kemungkinan sebuah teori besar harus memberi jalan bagi ide-ide yang minor.

Namun jalan perubahan, tak selamanya mengisyaratkan perlunya sebuah ide yang sempurna betul. Sebab ide yang sempurna betul punya jalannya sendiri.   Terkadang ide yang sempurna hadir dengan jaraknya yang jauh dengan kondisi keadaan manusia. Kita lihat betapa ide-ide besar menjadi teropong yang memberi batas pada apa yang dapat dilihat dan apa yang tak dapat dilihat. Dan dengan demikian perubahan dengan mengusung ideide besar harus takluk dihadapan konteks yang tak dikenalinya. Bisa jadi karena itulah, ide-ide yang datang pada penghujung zaman terkadang lebih mampu diterima dibandingkan dengan ide-ide yang ada sebelumnya.

Berkat itulah, Hegel punya keyakinannya sendiri. Ide dalam pandangannya mengisyaratkan perubahan yang terus menerus, yang berkelindan dalam zaman. Sebuah ide dipahami sebagai gerak yang melampaui batas-batas teritorial temporal. Sebab ide pada hakikatnya adalah sempurna. Namun kesempurnaan adalah ihwal yang juga menjadi hal yang kerap kali ditolak pada momenmomen yang menghendaki adanya perbuatan yang segera.  Di sini, tindakan menjadi nyata dibandingkan ide yang terlampau abstrak. Dan di sinilah masalahnya, ide selalu menuntut keterlepasan dari tindakan yang kongkret.

Lanjutkan

Sunday, March 4, 2012 in

Pesan Sokrates

Socrates mati dengan meneguk racun cemara. 

Dahulu sebelum dijatuhi hukuman mati, ia memiliki kebiasan mengelilingi keramaian kota Athena. Ia berdiskusi. Menjalani modus hidup dengan bertanya. Socrates memang gemar bertanya, selanjutnya ia berdiskusi. Terkadang jawaban tak lebih eksplosif daripada menghadirkan sebuah pertanyaan. Dan itulah filsafat. Dan tentu itu ada pada benak Socrates.

Socrates tak jauh beda dengan kita, tentu ia seorang manusia. Dan karena manusia berarti peneguhan terhadap akal budi, maka Socrates menempuh cara itu; berpikir benar dan bicara benar. Ada kemungkinan pada sisi ini, kita tak seperti Socrates. Namun Socrates punya pesan bagi sesiapa saja, entah  ia seorang digdaya hingga budak belian; Hidup yang tak di hayati adalah hidup yang tak layak dijalani. Tentu kematian Socrates tak sia-sia, walaupun ia bisa saja mengikuti kehendak hakim dengan meninggalkan yunani sebagai vonis yang harus ia terima. Tetapi Socrates punya kehendak lain. Ia memilih mati dengan mempertahankan azas kebenaran yang ia yakini. Dan dengan cawan racun cemara ia meninggalkan sahabatnya, bahkan kehidupannya sekalipun.

Sekarang bukan zaman dimana Socrates hidup. Bukan lagi medio waktu yang silam berabad-abad lalu. Tetapi kita satu dunia dengan dunia yang pernah dihidupi Socrates. Tentu banyak yang berubah, tentu banyak yang tak lagi memiliki padanannya dengan waktu terdahulu, namun pada sekarang, ada negara, ada pemerintahan, ada kebijakan, ada masyarakat yang hidup dengan kecukupan yang beragam. Hidup seperti ini banyak kebutuhan, banyak pilihan, banyak alternatif.

Socrates tak pernah meminta kita untuk memilih baju apa yang  layak kita pakai, makanan apa yang mampu mengenyangkan kita, rumah apa yang bisa kita gunakan untuk hunian setahun, buku apa yang harus kita baca serta siapa teman diskusi yang bisa kita pilih sekehendak hati kita. Tetapi Socrates tak pernah menyebut dirinya sebagai orang yang benar, seperti orang yang banyak tahu. Ia hanya menampik pilihan untuk menjadi tahu segalanya, ia hanya memilih untuk menyenangi kebijaksanaan.[]

Literasi populer