You Are At The Archives for October 2011

Tuesday, October 11, 2011 in

Alegoria: Sang Biarawati [bag 2]

Gorie memakai baju dengan bawahan yang cerah pagi ini. Tetapi suasana hatinya berkata lain. Bila sudah seperti ini maka ia  tak perlu berpikir panjang, Gorie tahu kemana ia harus melangkahkan kakinya. Pohon Ceril. Gorie tahu itu. Pohon ini tak terlalu besar namun bagi siapa saja yang duduk dibawahnya pasti akan merasakan keteduhannya. Gorie semakin cepat melangkahkan kakinya, sampai-sampai ujung jempolnya ia lipat dalam sepatunya, ia hampir saja terjatuh jika saja ia tak memerhatikan langkahnya. Ia berusaha mempercepat langkahnya, dalam benaknya seakan-akan pohon itu akan pergi meninggalkan dirinya. Semenit kemudian ia sudah berada dibawah pohon kesayangannya. Pohon ini dihati Gorie memiliki arti khusus. Baginya akan teduh jika berada dibawahnya. Gorie pun duduk seketika, tak berpikir bahwa gaunnya akan kotor akibat basahan embun yang terjatuh semalam. Entah mengapa di pagi hari Gorie sudah merasakan hal yang aneh walupun Gorie tak tahu apa arti dari rasa yang ia rasakan. Gorie hanya terduduk sambil melihat keatas menatap arak-arakan awan yang bergumpal, sangat lama ia disana hingga ia tak sadar sebuah suara daibelakangnya sayup-sayup mencarinya.

" Gorie...Gorie adakah kau disana?...." Ternyata Ibunya.

"Gorie mengapa kau tak menjawab pertanyaanku?"

Ibunya menundukkan sedikit badannya sambil menatap kedepan seakan-akan ada beban berat yang berada di atas pinggulnya. Kali ini ibu Gorie mengeraskan suaranya.

"Gorieku sayang..." Gorie berbalik menjawab panggilan ibunya dengan senyum kecilnya yang manis.

"Ada apa Bu?" Kali ini gorie berdiri dari dudukannya, memperlihatkan tubuhnya agar ibunya melihatnya. Gorie Sedikit melangkah untuk menjemput Ibunya.

"Gorie sudahkah engkau sarapan sayang? Ibunya berusaha membuka percakapan. Memang Pagi ini Gorie langsung meninggalkan sarapannya berkat perasaan aneh yang ia rasakan.

"Tidak Bu, aku tidak sarapan pagi ini" Tukas Gorie.

"Gorie apakah kau tidak merasa aneh hari ini" Ibunya seakan tahu bahwa Gorie sedang gulana.

"Tidak Bu, Gorie Beruisaha menyembunyikan isi dadanya dengan senyum kecilnya, gigi-giginya yang kecil bermunculan.

"Tapi Ibu tak usah khawatir dengan perutku, sebentar lagi saya akan masuk kok", lekas Gorie menambahkan.

"Kalau begitu lekaslah engkau mandi, sebentar lagi kita akan mengunjungi Bibimu"

Ibunya berusaha mengingatkan bahwa hari ini mereka akan mengunjungi Bibinya di pinggiran desa. Gorie lupa bahwa hari ini adalah hari sabtu. Mereka memang sering berkunjung kerumah kakak Ibunya pada hari sabtu, disana mereka biasanya menghabiskan waktu untuk menikmati akhir pekan. Kunjungan rutin  ini dilakukan Ibu Gorie semenjak mereka ditinggalkan Suaminya beberapa tahun yang lalu.

Ibu Gorie meninggalkan Gorie dan berjalan menuju rumahnya, ibunya langsung masuk kedalam dapur membereskan sarapan Gorie yang sudah mulai dingin. Gorie nampaknya enggan pergi kerumah Bibinya, bila kesana akan menghabiskan waktu hampir setengah jam dengan menaiki kereta kuda yang melewati jalan yang berbatu. Betul-betul perjalanan yang melelahkan. Gorie hanya ingin dibawah pohonnya merasakan keramahan suara ranting dedaunan yang saling bergesekan berharap sesak dadanya lekas hilang

***

Diatas kereta Alegoria hanya menatap kosong melewati celah jendela berharap menemukan sesuatu yang menarik untuk menghilangkan rasa gulananya yang mengisi dadanya dari pagi. Jalan menuju rumah bibinya masih panjang namun Gorie ingin lekas sampai dan beranjak naik keatas loteng rumah bibinya dan menyendiri disana. Mereka melawati undakan batu yang berkerikil, disamping kanan kirinya hanya terpampang rerumputan yang luas seperti gelaran karpet hijau yang tak memiliki ujung. Diatasnya langit bertengger dengan lukisan gumpalan awan yang berwarna putih susu. Sesekali kuda dihadapan mereka mengeluarkan napas berat seakan mengetahui perasaan Gorie. Ibunya sibuk berbicara dengan Luigi. Luigi adalah kusir yang sudah mengenal keluarga kecil Gorie berkat sering kalinya ia mengantarkan mereka berdua di tiap akhir pekan. Gorie berusaha memalingkan pendengarannya berusaha untuk tidak mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Bagi Gorie, Luigi adalah orang yang tak pernah capek mengeluarkan cerita-ceritanya yang itu-itu saja. Tak ada hal yang baru dari seorang pria setengah baya seperti Luigi. 

Mereka baru saja berbelok. kali ini suasananya sedikit berbeda. Tak seperti jalan yang mereka lewati sebelumnya. Jalan yang mereka lewati lebih mirip terowongan oleh kedua ujung dedaunan rimbun dari pohon oak. Ek atau Oak merupakan pohon yang terpenting, dan pohon yang hidup terlama diantara pohon-pohon lainnya. Pohon Ek adalah pohon yang dianggap keramat oleh bangsa Eropa, bangsa Slavia dan Jerman memuja pohon ek sebagai pengkeramatan atas Dewa Guntur. Gorie merasa tentram jika meleawati pohon ini. Setelah meleawati barisan pohon oak, mereka akan berbelok menuju arah hutan cemara di sebelah utara Itali. Dibawah kaki gunung inilah Bibi Gorie tinggal. Daerah ini kebanyakan adalah penduduk campuran dari etnis yang tinggal didaerah mediterania. Kebanyakan menghabiskan waktunya dengan berkebun dan berternak, kebanyakan dari mereka memiliki daerah ternak yang luas dan sudah menjadi tradisi dari penduduk ini untuk merayakan dengan minum anggur untuk menyambut musim dingin. Beberapa menit kemudian mereka sudah tiba pekarangan rumah Bibinya. Pekarangan rumah Bibi Gorie tidak begitu luas, disitu ditamani tanaman hias jenis passion fruit. Tanaman  ini  mudah tumbuh memiliki bunga yang kontinyu dan memiliki ragam bentuk dan warnaKetika kereta kuda belum selesai berhenti, Gorie lansung saja melompat dan berlari menuju pintu rumah Bibinya. Dengan heran bibi gorie yang sudah lama menunggu dipekarangan rumahnya hanya mengerutkan dahinya. Baru kali ini Gorie berkelakuan seperti itu pikirnya. Bibi Gorie melempar senyum pada Ibu Gorie menjemput dengan pelukan setengah lingkaran dibahu Ibu Gorie.

"Kau nampak kurus Alea.."

"Banyak yang mesti aku lakukan akhir-akhir ini" Sambil menurunkan kopernya dari kereta kuda yang sedikit berdebu akibat perjalanan jauh. "Oh ya..tolong Aku Genie!! jangan berdiri saja disitu", kesal Joanna menambahkan.

"Oh Alea.. engkaupun bertambah sensitif rupanya, Genie masih tersenyum dan langsung mengambil koper dari tangan Alea. Luigi hanya tersenyum melihat dua wanita dihadapannya yang sedang bertengkar kecil namun mesra sambil memeriksa kuda-kudanya.

"Oh Alea, mengapa Gorie terlihat aneh hari ini, tidak biasanya ia bersikap seperti itu"

"Entahlah..Genie..kurasa ia hanya melewati hari-harinya dengan seperti biasanya, namun aneh saja jika seorang wanita sekecil dia sering menghabiskan waktu dibawah pohon hingga petang.."

"Kurasa kau harus lebih banyak meluangkan waktumu untuknya". Mereka berjalan menuju pekarangan.


Lanjutkan

Literasi populer