24 March 2011

Roh Zaman: Pesan Para Nabi **

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnyamereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata". (Al-Jumu'ah: 2)".

Seorang Nabi punya agenda besar; membawa umat manusia menuju pembebasan. Sebuah agenda untuk menyelamatkan  umat manusia dari keterpurukan moral. Kemudian dengan misi ilahiatnya membawa manusia pada titik yang terjauh, sebuah hujung yang dijanjikan pada kitabNya; titik Ilahiah. Tugas Nabi adalah tugas yang ilahiat. Sebuah sejarah dibawa naungan sabda Tuhan. Dalam misinya sebuah jalan besar telah dibentang; memberikan alternatif pada manusia untuk memilih, dimana pergulatan sebuah kepercayaan harus dipertaruhkan. Umat manusia pada akhirnya tahu, bahwa hidup punya aturan. Maka sebuah agama pun datang.

Agama pun diajarkan, kemudian diterapkan. Hingga zaman pun mengenal misi suci dalam menyelamatkan umat manusia perlu sebuah bahasa sebagai media. Dimana bahasa yang didatangkan bukan dari hasil olah pikir, sebab bahasa yang datangnya dari pikiran adalah bahasa yang terdistorsi. Bagaimanapun caranya sebuah bahasa konsep pada akhirnya mesti habis digerus waktu. Maka sebuah teks dalam perjalanannya, perlu menggunakan bahasa yang berbeda dari alam pikiran manusia.  Dengan begitu sebuah teks yang menubuh ruang adalah bahasa yang simbolis. Bahasa yang tak uzur oleh bilangan angka, bahasa yang memiliki makna berbilang, masuk dan menggema pada setiap ruang yang menyejarah. Karena itulah mengapa dalam membawa pesan ilahi para nabi menggunakan bahasa simbolis. Kata Ali Syariati; Islam merupakan kulminasi dan perfeksi, diceritakan dalam bahasa simbolik, dan oleh karena bahasa dari agama semitik adalah bahasa simbolik. Bahasa simbolik jelas lebih mendalam, universal dan lebih abadi daripada bahasa eksposisi.1

Lewat bahasa seperti inilah sabda tuhan mengandaikan perubahan. Teks kemudian dienjawantahkan dalam realitas yang dihadapi. Datang dengan menjadi kalimah petunjuk dari sebuah agama. Dan dari sana sebuah realitas ingin dibentuk, untuk ditata berdasarkan takdirNya. Intinya bisa dibilang "amanah langit" yang di emban oleh para utusan Tuhan adalah menjadikan bumi sebagai pengejewantahan “surga” Akhirat.

Mari kita simak; Nabi Musa. Seorang yang besar dalam lingkungan fir'aun. Berdiri menjadi simbol ketertindasan umat pada saat itu. Bersama kaumnya, Musa kritis terhadap kediktatoran Fir'aun yang menindas.  Dengan sistemnya yang kita tahu betul; kapitilisk. Bersama Bal'am, seorang ulama kerajaan,  menggunakan dalil agama untuk mendukung kekuasaannya, Firaun seorang kepala pemerintahan yang kejam. Masyarakatnya dipaksa tunduk. Perintah diumumkan. Serempak dengan totalitas; Fir’aun ingin menjadi tuhan. Dan yang namanya tuhan, sebuah sabda adalah agama; Firaun adalah niscaya bagi rakyatnya.

Mesir akhirnya punya agama baru; Firaunisme. Agama baru itu mengajarkan satu hal, tentang bagaimana seorang bawahan harus beradab; ketundukan. Olehnya ratusan bahkan ribuan masyarakatnya, menjadi budak belian yang hidup dengan paksaan, dimana kemerdekaan hidup dicabut, kebebasan berpendapat dilarang, bahkan seperti kita tahu, suara pada lingkaran kekuasaan harus ditundukkan; mengkritik akan dijatuhi hukuman mati. Dalam kondisi inilah, Musa hidup.  Dari apa yang ia dapatkan sebabagai wahyu, dimana tuhan ia katakan sebagai zat  yang berada di timur maupun yang di barat, memulai misinya; sebuah pesan pembebasan untuk umat manusia. Musa adalah gambar pemimpin kaum tertindas. Ali Syariati, seorang sosiolog Islam menulis; Gerakan Musa adalah perjuangan melawan diskriminasi rasial yaitu superioritas koptik atas sebtian, perjuangan melawan situasi sosial, yaitu dominasi satu ras terhadap ras lain.2

Sejarah barangkali adalah perulangan peristiwa; Isa Al Masih. Seorang Nabi dengan kemampuan tindak bahasa dimasa bayi. Dari tangan kasih sayang, dibawah imperium romawi; ia mengajarkan kepada setiap orang untuk berkhitmad dijalur kemanusiaan. Pesan pembebasannya laksana kata yang tajam, dengan kasih sayangnya memberikan kebahagiaan bagi masyarakat yerusalem yang kelaparan. Ia mendatangi rumah-rumah warga miskin dengan membagi-bagikan roti hanya untuk mengenyangkan mereka yang tak makan seharian. Pribadinya tak seperti penguasa yang gading di menara, sudah retak, terpisah nun jauh, bersama murid-muridnya, putra Nazareth ini menggerakkan parlementer jalanan. Tindak sosialnya hidup ditengah-tengah kaum papa. Isa adalah kasih yang aktif melawan dengan dan dalam akhlak tuhan menghujam elit penguasa.

Kemudian kita pun tahu; nubuat kedatangan sosok Agung oleh Shidarta Gautama, menjadi pesan bagi zaman yang begitu jahil, masyarakatnya hobi dalam berperang, meminum-minuman keras, hartawannya serakah, pemuda-pemudinya rajin dalam berjudi, para orang tua malu jika memiliki anak perempuan, bahkan dikubur hidup-hidup. Masyarakat ini, menganggap perempuan adalah aib sosial. Masyarakat Arab jahiliah adalah masyarakat yang tak memiliki nilai untuk di agungkan. Ditengah-tengah gurun beserta masyarakatnya yang jahiliah, lahirlah Agung Ilahi, para pengulu kaum papa. Muhammad bin Abdullah namanya.  Manusia pengembala yang menyerap hikmah-hikmah yang tak mampu ditangkap oleh manusia manapun. Besar dalam kondisi masyarakat yang terbelakang, namun tak memiliki kesamaan dengan masyarakatnya, karakternya jujur dan amanah, tingkah lakunya adil pada tempatnya, bercandanya membuat kaum papa merasa mesra dengannya. Empat puluh tahun usianya dimana selayaknya pembebasan dari keterbelengguan ego diri, amanah yang tak mampu ditampung oleh bumi dan seisinya diterimanya dengan segala konsekuensinya. Kalimah-kalimah langit ia pancangkan dalam-dalam di dalam dadanya. Sekali lagi lahir manusia pembebas seluruh alam semesta, pembebas kaum tertindas, pembebas kaum  papa, pembebas seluruh umat manusia. Ia adalah sosok yang memiliki visi revolusioner, seperti pengertian visi yang dibahasakan jurgen habermas; yang benar-benar dapat mengarahkan tindakan hanyalah pengetahuan, yang telah membebaskan diri dari kepentingan semata dan telah diarahkan kepada ide-ide dan lebih tepat lagi yang sudah menemukan arah teoritisnya.2

Ajarannya adalah ajaran egaliter dan humanistik, ajaran kaum papa. Pesan Ilahinya adalah gundam yang menghantam sistem kekuasaan yang hegemonik. Melabrak sistem ekonomi yang kapitalistik. Dakwahnya adalah dakwah revolusi total. Ia tidak sekedar mengajarkan zikir dan doa, melainkan dari mulutnya keluar kata-kata yang pedang bagi berhala-berhala kepalsuan. Egalitarianisme yang menjadi risalahnya adalah argumentasi yang yang cocok dengan kepahaman umatnya. Hal ini dikarenakan Muhammad SAW. lahir ditengah-tengan kaum lemah dan tertindas. Ia memecahkan dogma-dogma takhayul dengan lisan yang jelas, berbicara dengan bahasa kaumnya. Menafsirkan kondisi sosio-politik-ekonomi berdasarkan pesan-pesan Ilahi dan membangun gerakan progresif untuk merubah total sistem nilai yang berlaku ditengah-tengah kaumnya. Bahasa Nabi adalah bahasa universal bagi keterbelakangan umat manusia. Ditengah peradaban imperium romawi, Persia dan China , bersama kaumnya Rasul membangun peradaban yang humanis-egalitarian. Lewat peradaban yang dibangunnya, risalah pemberontakan disemai kepenjuru belahan dunia.

Kini bentang sejarah telah menghadirkan satu model kehidupan yang berbeda. Kondisi sekarang ini adalah kondisi yang mengalami kemajuan besar-besaran. Hadir bangunan tinggi pencakar langit, sains menjadi simbolisasi nalar progres masyarakat, komunikasi menjadi surat yang tak berkantor. Namun dibalik semua itu, manusianya menjadi manusia yang kosong akan makna, kering akan cinta kasih, berdiri dengan kepongahan hati, memuja berhala modal dan wanita menjadi kiblat ruhaninya. Inilah zaman jahiliah modern sedang berlangsung. Lantas siapakah orang yang bakal meneruskan tugas-tugas kemanusiaan selayaknya para Nabi? Oleh Ali Syariati, Rausyan Fikr-lah orangnya.3  Rausyan fikr adalah orang yang memiliki pemikiran kritis, mampu merefleksikan masyarakat serta dirinya sendiri dalam konteks dialektika struktur-struktur penindasan dan emansipasi. Ia tidak mengisolasikan diri dalam menara gadingteori murni.4

Adalah tugas manusia tercerahkan untuk membangunkan masyarakat yang terbuai tipu daya kekuasaan elit serakah yang buta nurani. Seperti kata Ali Syariati; tanggung jawab pokok cendekiawan adalah menanamkan dalam alam berpikir publik semua konflik, pertentangan dan antagonisme dalam masyarakat. Mengubah antagonisme dialektik objektif menjadi pikiran subjektif dari rakyat.Membangun argumentasi dengan memecahkan kebekuan pengetahuan yang serba melangit dengan cara membumikannya ditengah-tengah masyarakat. Sebagaimana para nabi, berbicara dengan bahasa kaumnya, menjadi penafsir dalam kondisi keterpurukan masyarakat. Berdiri dengan lantang menggulingkan rezim diktator dan otoriter.

---
  1. Ali Syariati; Agama versus “Agama”, hal.37
  2. Jurgen Habermas; Ilmu dan teknologi sebagai Ideologi, hal.155
  3. Ali Syariati; Ummah dan Imamah, hal 14
  4. ibid
  5. ibid