27 July 2016

jalan ke bulan

Telah sampai di suatu subuh
Lotengloteng dibuat bergetar
Tergeletak sudah sebujur tubuh
ditinggal lili tak sempat mekar

Sudah tiba dikau dibuat hari yang naas
sembari jadi siasia, jangan!
ini mimpi yang belum tuntas separuh
sepotongnya telah tiba, di bulan

Jalan lenggang, pagar rumahrumah kokoh
dari seikat bambu
Telah lama hilang desir suara di bibir loteng
terbang sejak sajak seperti suara ajak
meraung, tapi siapa peduli
mimpi masih dikandung badan
belum sampai, di bulan

Di atas dipan, tiada purnama
Aku, tak tahu jalan, ke bulan


26 July 2016

cinta Platon

Bagaimana mungkin Platon merasai dunia ide
walaupun dia hanya berpikir
Sudahkah dia menggenapi kepalanya
dengan pijar bungabunga bintang
Yang letusannya menggelembung
sampai di bawah daundaun pohon jati

Bukankah Majnun gila karena mendalami
tebingtebing cinta
Jatuh disapu debudebu jauh dibawa sampai
di pelosok ingatan
sampai lupa diri

Sudahkah dikau tahu kelak tungkai jati
Kala kemarau ditinggal selembar demi selembar
Daun, helai
Bila hujan tunas satu jadi seribu
Tumbuh, tinggi
dari sari yang mekar pati

Sudahkah Platon merasai malam demi malam
Di kegelapan kelabat yang dicipta dari
sendunya hati
Saat dikau seperti orangorang di pinggir pantai
menunggu hari menuai zati
dari matahari yang hakiki


23 July 2016

dikau (2)

sebagaimana tanah sebagaimana air
sebagaimana hujan sebagaimana berubah
basah menggenang

sebagaimana putik sebagaimana kuncup
sebagaimana bunga sebagaimana menjelma
mekar ditinggal lebah

sebagaimana bintang sebagaimana bulan
sebagaimana matahari berubah
jatuh di suatu sore menyusup di rantingranting kecokelatan

sebagaimana senja kelabu berkelabat
sebagaimana datang di hari yang biasa
di bawah pelangi kala anakanak bermain air
mencari ikan

sebagaimana lazuardi seperti lamatlamat
turun mengakhiri burungburung yang pulang
terbang
sebagaimana dikau seperti aku melesat
bagai anak busur berjutajuta tahun cahaya

04 July 2016

Mal: Sprititualisme Ramadan Abad 21

Siapa menyangka, cikal bakal mal di Indonesia ditandai dengan menggunakan nama dari seorang perempuan bernama Sarinah? Begitulah, gedung perbelanjaan yang berdiri di jalan Thamrin Jakarta Pusat itu, diberi nama oleh Soekarno untuk mengenang ibu pengasuh di masa kecilnya.

Siapa pula menduga, Sarinah yang resmi dibuka 15 Agustus 1966, adalah pusat perbelanjaan yang dibangun dengan spirit nasionalisme kala itu? Semenjak dibangun, Sarinah sudah dirancang sebagai media dan alat distribusi barangbarang ke masyarakat luas.  Sarinah dibangun untuk menstabilisasi struktur perekonomian Indonesia.

Juga siapa yang tahu jika Sarinah didirikan dari harta rampasan perang Jepang? Dibangun dengan diarsitekturi seorang berkewarganegaraan Denmark, Abel Sorensen? Juga Sorensen pula, yang merancang Hotel Indonesia, hotel berbintang pertama di Indonesia untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962.

Syahdan, Sarinah hanyalah satu dari malmal besar yang sekarang berdiri. Sampai tahun 2012, di Indonesia sudah ada 240  mal berdiri. Berdasarkan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) semenjak tahun 2014, tercatat  250 mal beroperasi di Indonesia. Jumlah ini lebih besar dibandingkan Hong Kong yang hanya sebanyak 200 mal.

Bisa dibayangkan, akhirakhir ini, mal yang sekarang berjibun itu menjadi centrum perbelanjaan yang tak pernah berhenti mendaur keuangan masyarakat. Di kotakota besar, mal adalah bangunan yang yang tak pernah kosong beroperasi. Apalagi jelang ramadan tiba, mal adalah satusatunya tempat yang paling ramai dibandingkan tempattempat peribadatan.

Memang paradoks, kala awal dan akhir ramadan, spiritualitas yang digenjot selama sebulan penuh berbanding terbalik dengan spiritualitas abad modern: agama konsumerisme.

Konsumerisme memang bukan lagi sekedar praktik manusia mencari nilai guna barangbarang. Konsumerisme abad 21 adalah praktik kebudayaan yang menandai perlunya identitas kelas, gaya hidup, dan status sosial tertentu. Di titik ini, kosumerisme adalah penanda baru soal suatu gaya hidup. Suatu cara manusia berekspresi untuk bersentuhan langsung dengan maknamakna di balik produkproduk yang diperjual belikan. Cara manusia menemukan kebahagiaan. Itu sebab, konsumerisme adalah agama baru itu sendiri.

Sebagaimana agama, konsumerisme juga dipandang sebagai fenomena tak sadar. Melalui cara ini, orangorang mengkonsumsi barangbarang tiada lain merupakan dorongan bawah sadar yang merangsang batin primordial manusia: hasrat. Seperti agama, konsumerisme mampu menggerakkan manusia melampaui ukuranukuran rasionalitas demi suatu pencapaian transrasional. Itu sebab, dorongandorongan primordial berdasarkan hasrat berbelanja inilah mampu mengubah watak manusia menjadi konsumeris.

Akhir ramadan, kota Makassar adalah kota yang sibuk. Malmal kian menyedot pengunjung. Jamak ditemukan praktik jual beli menjadi ritual konsumerisme. Barangbarang berpindah tangan. Dan uang begitu cepat raib berpindah kantung. Juga masjidmasjid menjadi ramai kembali. 10 hari ramadan orangorang menghabiskan waktu di bawah kubah. Berzikir dan mekhatamkan al qur’an. Memperkuat ibadah kala ramadan mencapai penghabisan. Nampaknya, ibadah dan konsumerisme merupakan dua “agama” yang berjalan beriringan.

Tapi siapa bakal menolak, jika puasa hanya menjadi ibadah yang maskulin. Yakni motifmotif beribadah yang berubah agresif, tangkas, dan dominan. Orangorang berperilaku agresif bersamaan dengan perilaku konsumtif, membeli segala. Orangorang bergerak tangkas dan cepat menyambangi areal pusat perbelanjaan. Dan, orangorang begitu dominan ditemukan bergerombol menghabiskan uang bertukar barangbarang.

Akibatnya, puasa sekadar menjadi alat yang sublimatif. Spiritualitas agama ditransformasikan menjadi sikap agama konsumtif. Motif menahan hasrat akhirnya meledak kala malam menjelang. Puasa hanya ibadah siang hari untuk digantikan saat tenaga mulai cukup kala malam datang menggenapi menjajaki pusatpusat perbelanjaan.

Sebelumnya, pusat belanja yang dibangun Soekarno diberi nama Sarinah untuk menjadi simbol kesabaran yang ditemukan dari sosok yang mengasuhnya. Menggunakan dana rampasan perang Jepang untuk menunjukkan kedaulatan ekonomi. Dari dua hal ini, kesabaran dan nasionalisme adalah motifasi awal untuk mendasari praktik perekonomian bangsa Indonesia.

Namun, sekarang mal adalah cagar budaya transinternasional masyarakat modern yang menampung hasrat berbelanja berlebihan. Di sana ditemukan produkproduk luar negeri yang bikin silau mata. Merkmerk terkenal berlabel internasional begitu gampang dibeli dengan iming-iming perbaikan status kelas sosial. Tanpa kesabaran dan sikap kesederhanaan, orangorang menjadi agresif meninggalkan spritualitas puasa yang mengajarkan bagaimana hasrat dikontrol demi pencapaian manusia yang mulia.

Malang, pusat perbelanjaan seperti Sarinah—yang mempelopori kehadiran mal, dan pusat perbelanjaan lainnya, sekarang bukan ditunjukkan untuk mendistribusikan kebutuhan sandang pangan masyarakat dengan cara merata. Mal justru –apalagi di bulan ramadan adalah ruang yang membelah masyarakat menjadi dua golongan yang tersegregasi secara ekonomi. Sehingga tak bisa disangkal, pusatpusat perbelanjaan sekarang adalah representasi gaya hidup mewah yang jauh dari tuntutan agama untuk berbagi.

Akhirnya, mal adalah mal, dan ramadan adalah ramadan. Konsumerisme begitu mencolok di tengahtengah hasrat yang meluapluap. Dan lagilagi mal tak sedikit pun tersentuh efek spritualitas berpuasa. Bisakah anda bayangkan, 250 mal yang tersebar di Indonesia, saat ini sedang ramai berlangsung suatu ibadat baru, agama konsumerisme? Sementara banyak pula golongan masyarakat miskin yang tak terjamah sama sekali dari sedekah kaum kaya?

---

Dimuat di kolom Opini harian Fajar, 4 Juli 2016

Popular Posts