30 December 2013

Homosad

”Ayo kita pergi.. kau tidak lihat yang menggelantung di atas sana? Gelap sudah langitlangit..”

“Sebentar lagi kawan.. soal kita belum beres.. cepat urusi bangkai yang sebelah sana”

Kota kecil yang ditimpa bencana memang sudah seperti peti mati besar. Rumahrumah  yang ditinggal dan menyisakan debudebu yang tebal, jalanjalan yang seketika melintang seperti ular yang pulas, terisi kekosongan, dan mayatmayat yang ditinggal tanpa peduli adalah etalase yang mempertunjukan sisi lain kehidupan; tragedi.

Dalam tragedi apa yang nampak diomongkan dan  diyakini pada akhirnya melapuk kemudian jatuh berserakan. Persis seperti gunduk abu yang  dihempas beliung. Dalam  tragedi yang disebut hidup sesungguhnya adalah situasi yang seketika berubah, drastis dan memilukan.

“Sudahlah.. lupakan mayat itu.. kali ini kita sudahi.. dan jangan lagi kau gunakan kata itu, mereka bukan mahluk tanpa jiwa.”

“Kau ini, mati ya mati.. tak usah kau turutkan perasaanmu dalam urusan seperti ini.. beda apa kita dengan binatang di hadapan hidup.”

“Keras kepala kau.. ayo di sana ada reruntuhan yang bisa kita pakai..di sana sepertinya kosong.”

***

Hidup? Apa lagi yang harus diungkapkan? Tentang larung nasib yang ditingkap senja misteri. Menyandera harapan hanya sebatas visi di atas ubunubun. Sementara dunia berjalan tanpa menyisihkan kepastian bulat dalam genggam. Di alur seperti inilah, di tengah pasca kejatuhan kota yang pelanpelan digerogoti kelaparan berkepanjangan, mereka berdua menjadi seperti Nazar, burung pemakan bangkai, mematuk sanasini pada yang mati, mencari apa saja yang bisa diambil, pakaian, sapu tangan, ikat pinggang, sepatu, bahkan kalau beruntung seikat jam tangan. Tetapi kebanyakan adalah pakaian yang dikenakan mayat. Entah sudah berapa mayat yang ditinggal tanpa pembalut kain. Tapi apa artinya pakaian bagi bagi yang telah mati. Ditinggal sanasini tanpa kemaluan. Pun, apa juga arti malu bagi yang sebentar lagi membusuk. Sehingga yang sisa adalah rupa mayat di kala pertama kali datang ke dunia, dan pergi dengan tubuh yang telanjang.

Di bawah reruntuhan;

“Hei coba kau lihat apa yang ku dapat.. sebuah foto..  perempuan ini barangkali sangat di cintainya, sampai aku harus mematahkan jari bangkai sialan itu untuk foto ini.”

“Mau kau apakan foto itu..barangkali ia juga sudah jadi seperti yang lain.. jatuh terkelungkup garagara bencana ini.. dan sudah berapa kali aku harus mengingatkanmu, jauhi kata itu, biarpun bagaimana mereka manusia.”

“Ah berhentilah untuk mengaturku dengan omonganmu.. tapi coba kau lihat gambar di balik wanita ini.. tahukah kau di mana ini?” Ia menjulurkan tangannya. 

Gambarnya sudah nampak kabur.

“Entahlah.. mungkin jauh di suatu tempat sebelah selatan”

“Demi tuhan..” Lelaki itu kaget. “Mungkinkah cerita orangorang itu bukan omong kosong.”

“Mungkin, tapi jika cerita itu benar, sudah pasti tempat ini sudah lama ditinggalkan. Aku pun juga akan pergi, dari pada hidup berdampingan dengan bencana seperti ini.. entah sampai kapan kutukan ini punya hujung.. aku sudah tak tahan dengan cara kita hidup” 

“Maksudmu mengais di antara bangkaibangkai itu?”

“Yang mana lagi aku maksudkan!”

“Tetapi hanya dengan cara itulah kita bisa bertahan, hidup dari bangkaibangkai itu.”

“Aku sudah muak, kelaparan ini membuat kita sudah mirip binatang. Hidup dengan cara binatang membuatku pelanpelan kehilangan akal.”

“Hahaha..akhirnya kau akui juga bahwa kita adalah onggokan daging yang masih bertahan di antara bangkaibangakai itu.”

“Tutup mulutmu keparat.. bukan seperti itu yang harus kau tangkap dari bicaraku, bicara denganmu dengan situasi seperti ini sama halnya seperti kehilangan akal sehatku.. dan sudah berkalikali aku katakan jauhi kata itu bangsat!”

Kaum Digital Natives

Di zaman modern seperti sekarang, dengan penggunaan media komunikasi dan teknologi secara massif, terutama di kota-kota besar saat ini, hadir golongan muda yang disebut sebagai kaum digital Natives. Istilah ini merujuk pada lapisan muda masyarakat yang semenjak kecil dididik dan dibesarkan serta terbiasa dengan alat teknologi informasi dan komunikasi berbasis digital. Seperti lapisan masyarakat di berbagai dunia lain, kaum digital natives lebih peka dengan konsep kemajuan yang di tawarkan oleh era informasi seperti sekarang ini. Mereka bermain games, mengoleksi lagu-lagu dalam format mp3, duduk berjam-jam di depan laptop, sebagian sibuk ber-BBM-an, dan tentu saja sebagaian besarnya mahir dan pandai berselancar dalam dunia maya.

Kaum Digital Natives secara karakter berbeda dengan golongan yang secara umur di atas mereka. Anak-anak muda yang dibesarkan di dalam era digital lebih peka dan cekatan dalam merespon kemajuan teknologi dibandingkan dengan golongan yang disebut dengan  digital immigrant. Sementara yang tua cenderung lebih lamban  dan secara kebudayaan masih dalam tinggkatan yang berorientasi kebelakang.  Lebih jauh, kaum digital natives lebih mendahulukan “citra” dibandingkan “teks”, lebih senang “bermain” daripada “serius” serta lebih mengedepankan “aksi” daripada “pengetahuan”.

Ledakan Informasi

Konsekuensi secara kebudayaan dari kemunculan generasi digital natives akhirnya akan berdampak pada gejala budaya yang bertentangan dengan budaya adihulung. Yang mana gejala kebudayaan yang dimaksudkan disini adalah apa yang dalam kajian cultural studies disebut dengan budaya populer. Kebudayaan populer atau pop culture adalah nampakan budaya kontemporer yang dibentuk berdasarkan logika media yang cenderung mengandalkan massa sebagai sokongannya. Contoh yang paling memungkinkan untuk melacak gejala kebudayaan generasi digital natives adalah kegandrungan terhadap alat komunikasi elektronik yang sudah identik dengan mode of life sehari-hari. Dimana hampir secara massal kita jumpai pada keseharian,  bagaimana dalam pergaulan sehari-hari generasi digital natives banyak menggunakan alat-alat super canggih dalam menunjang aktivitasnya.

Memang tak bisa kita tolak banyak manfaat dari penggunaan alat-alat super canggih yang dalam kenyataan hidup memudahkan kita dalam seluruh aktivitas kehidupan saat ini. Tak bisa kita bayangkan kehidupan ini, jika alat-alat canggih yang sering digunakan hilang dari pengalaman sehari-hari. Tak bisa kita sangsikan alat-alat demikian memudahkan masyarakat dalam mengakses informasi dengan super cepat, dimana jarak tak lagi relevan untuk dijadikan ukuran. Pun juga hal demikian membuat masyarakat bisa dengan cepat mengetahui perkembangan dunia hanya dengan sekali berselancar dengan alat komunikasi yang dimiliki.

Namun dari semua kemajuan yang di rasakan oleh pengguna alat-alat canggih seperti smartphonegadgetI padtablet, laptop dsb, di tengah perkembangan informasi yang melimpah ruah serta dinamika jaman yang semakin cepat, membuat orang-orang yang demikian menjadi serba dangkal. Memang jaman tak bisa ditolak bahwa telah terjadi pergeseran menyikapi masalah-masalah yang dihadapi. Masyarakat dituntut untuk selaras dengan kemajuan jaman yang serba canggih dan serba cepat. Namun  keadaan yang memprihatinkan adalah masyarakat kehilangan ruang refleksvitas untuk mendaur secara seksama masalah-masalah hidup yang dialami.

Minimnya atau hilangnya ruang intropeksi ini pada akhirnya akan berdampak pada penumpukan informasi yang tak sanggup untuk dikelola. Begitu banyak dari sekeliling masyarakat bertebaran pengetahuan dan informasi yang diterima dari seluruh penjuru. Bahkan dengan bantuan alat-alat canggih yang dapat mengakses informasi dengan cepat pada akhirnya membuat masyarakat tak lagi memiliki waktu untuk mendaur ulang informasi yang diterimanya untuk dimanfaatkan pada kehidupan nyata. Akibat dari situasi seperti ini berdampak pada gejala depresi yang menekan kondisi psikologis masyarakat. Dalam bahasa Pierre Bourdieu, seorang sosiolog Prancis, gejala demikian disebut dengan implosive, yakni meledaknya secara internal seluruh informasi yang ada pada sistem memori seseorang, yang mana efek ledakannya bukan mengarah keluar sebagaimana ledakan eksplosive, melainkan jauh masuk pada sistem diri manusia diakibatkan menumpuknya informasi yang tertanam pada seseorang.

Dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadi sekumpulan orang yang cepat menanggapi persoalan hidup dengan cara reaksioner. Di mana dalam merespon perubahan sosio kebudayaan, masyarakat kehilangan daya sublimasi terhadap kemajuan yang mendadak di hadapi. Akhirnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat maju dengan aksesoris alat-alat canggih tetapi secara psikis mengalami regresi akibat ketidakmampuan dalam mengelolah seluruh informasi yang diterimanya.

Apa yang kita hadapi sekarang sudah sepatutnya disadari sebagai gejala kebudayaan yang bisa membawa kondisi masyarakat kepada hal-hal yang tidak kita kehendaki. Salah satunya adalah kecenderungan masyarakat yang kehilangan ruang edukasi oleh sebab telah habis dilahap oleh seluruh yang berbau entertainment.

Pernah terbit dalam kolom opini Harian Fajar 261213