22 November 2013

Menulis Kembang Api

Menulis barangkali adalah pekerjaan yang berat. Dalam aktivitas itu ada situasi yang mengharuskan kita untuk membayangkan sesuatu. Di sana ada usaha untuk membangun, menyusun ataupun menata sebuah ide, gagasan. Oleh sebab itulah akhirakhir ini saya kerap kali gagal dalam usaha untuk menulis tentang sesuatu. Dan inilah faktanya; saya belakangan ini mengalami regresi dalam minat maupun menemukan gagasan. Dalam bahasa yang sering saya pakai; saya kehilangan gagasan yang mirip kembang api, kejutan percik api seperti dalam ledakan.

Bagaimana saya harus menyebutnya; kejutan percik api dalam ledakan. Di mana kembang api selalu punya daya gugah, memukau dan barang tentu mengagetkan. Kembang  api, kita mafhum, selalu diawali dengan letusan dan diakhiri dengan ledakan. Kembang api, pasca ledakan pertama selalu disusul dengan ledakan yang kedua, ketiga, keempat, dan begitu seterusnya. Hingga akhirnya padam, lenggang kemudian disusul dengan sunyi.

Kejutan dalam ledakan. Dan kembang api punya itu, daya kejut yang mirip pegas. Menghentak. Dan di sana selalu ada kontinyuitas. Ledakan yang saling bersusulan dengan pola ledakan yang berbeda, sementara pada setiap ledakannya selalu punya jedah; renggang waktu kosong  sepersekian detik untuk disusul dengan ledakan selanjutnya. Dengan begitu pada kembang api, yang biasa membuat saya terkagetkaget punya dua hal; kontinyuitas dan ruang jedah.

Dan itulah sebabnya saya mengandaikan  menulis adalah pekerjaan yang berat. Karena menulis berarti menjadi seperti kembang api. Di sana saya butuh daya pijarpijar ide yang berjalin, situasi merangkai antara ledakan satu gagasan dengan gagasan lain. Rangkaian yang berkelanjutan.  Yang mana dalam situasi yang eksplosif itu selalu mengantarkan pada situasi yang saling susul menyusul; ruang jedah. Dan dua hal ini yang akhirakhir ini tak saya alami.

Tentang perihal yang dialami; pengalaman, adalah peristiwa yang mensyaratkan adanya situasi yang sadar dalam sesuatu. Yaitu situasi yang  dengan kenyataan, antara kita dengan alam kenyataan, tentang diri yang berkesadaran dengan dunia semesta. Barangkali pengalaman yang saya andaikan  di sini dekat dengan pengertian yang bermakna eksitensialis. Yakni pengalaman akan diri atas kenyataan, dengan turut serta kesadaran yang bergumul di dalamnya. Sehingga harus saya katakan di sini, pengalaman jenis ini, di saatsaat belakangan ini, juga jarang saya alami.

Menulis juga menurut saya adalah tindak aktif dalam kesunyian. Dalam menulis, yang saya sebut laku kembang api itu, yang mengharuskan dua hal; kontinyuitas dan ruang untuk jedah, bisa berarti juga adalah laku sebagaimana seorang pesuluk. Yang berjalan di atas jalan kesunyian dalam tata ruang yang ramai. Sunyi bukan selamanya bermakna sepi. Sebab kesepian adalah keadaan yang tragis, sebab kesepian berarti segalanya hilang menanggalkan kita dalam kesendirian. 

Sedangkan sunyi adalah kesendirian yang bermakna sesuatu yang memiliki kendali, yang mana kitalah yang memilih untuk menanggalkan segalanya. Maka kesunyian adalah peristiwa yang dahsyat di mana dunia hanyalah kenyataan yang bisa saja kita tanggalkan sewaktu waktu. Maka menulis adalah laku yang memilih untuk masuk dalam keadaan yang subtil, tata galaksi yang hening di antara hiruk pikuk untuk sunyi. Dan pada titik inilah menulis bisa berarti tempuh jalan suluk yang berima antara kesunyian dan keramaian.

Menulis dalam pengalaman saya juga berarti adalah agama. Sebagaimana yang dibilangkan oleh Alfred North Whitehead, agama selalu bermula dari kesunyian. Gauthama, seorang budhis diawali dengan kesunyian di bawah pohon bodhi, dan di sanalah ajaran budha bermula. Ibrahim, seorang rasul yang hanif, mengawali agamanya dalam kesunyian dikala bulan menggelantung. Dalam sunyilah Ibrahim mencari tuhannya. 

Dan Islam, jikalau Sang Rasul Muhammad bin Abdullah tidak melakukan laku sunyi di Gua Hira, bisa jadi Islam akan tiada besar hingga sekarang. Maka barangkali tepat jika saya katakan bahwa menulis adalah agama. Sebab dalam menulis seseorang harus mampu memasuki ruang yang saya sebutkan tadi; ruang sunyi.


Seperti awal bahasa saya, menulis berarti menjadi kembang api; di dalamnya ada konstruksi, ledakan yang susul menyusul, ruang jedah, kemudian kepukauan kemudian akhirnya adalah hening. Dan memang kembang api adalah kejadian tentang ledakan dan kejutan; semuanya pasti takjub. Dalam keheningan.


07 November 2013

Bencana

Ada masa yang patut kita berikan rasa yang tinggi, namun juga ada situasi yang membuat dada kita sesak bukan main. Beberapa waktu yang lalu sebuah kabar bisa berarti sebuah bencana. Apalagi jika kabar yang sayup didengar bertolak dari lingkungan yang akademis; kampus. Tempat yang mafhum kita tahu dari sana harapan bisa ditandai dengan gelora pujapuji. Tempat pengetahuan bersemai seiring silih berganti hari.

Namun bencana tidaklah bermata, ia datang begitu tibatiba, menyulut tanpa tatakrama. Dan memang bencana adalah sesuatu yang memiliki kekutan massif. Seperti yang sudahsudah, bencana memanglah massif, tak tanggungtanggung, melabrak seluruh tanpa pamrih, tak mengenal aturanaturan, kampus sekalipun.

Namun bencana apakah yang saya maksudkan disini? Patutkah kita menyebutnya bencana? Tentang situasi yang tak didugaduga seperti beliung yang datang serempak. Seperti tsunami yang menyisir bersih tanpa didahului tandatanda sebelumnya. Ataukah wabah penyakit yang menghapus nyawa ribuan orang di suatu tempat.  Barangkali adalah salah saya, kamu, dia, mereka, bapak itu, ibu yang disana, tuan polisi, ataukah bapakbapak yang terhormat serta organorgan yang seringkali tumbuh tenggelam, yang menjadi sebab bencana itu dapat terjadi.

Memang bencana adalah sulit untuk dihindari. Namun jika bencana itu bersemayam didalam kampus maka itu suatu hal yang patut kita risaukan. Bisakah kita menebak tentang kemelut api yang melahap lapar? Juga tawuran yang seringkali menjadi trend bagi kita? Ataukah kelupaan kita bahwa kampus semestinya tempat manusia unggul untuk menolak diam? Ataukah suasana pencerahan sudah tercuri di saat kita sedang memperbincangkannya? Atau kita purapura tuli dan buta tanpa kita pernah tahu dari mana datang sumber suara dan kesan yang harus kita tangkap?

Bencana memang menyesakkan dada. Apalagi yang baru saja dialami. Ditengah tengah tempat kita belajar. Di saat baru saja kita mendeklarasikan sumpah di delapan puluh tiga tahun yang lalu. Dan barangkali memang kita tak pernah tahu apa sebenarnya sumpah itu jika diperhadapkan dengan sektarianisme yang kalap kita belabela.

Bencana juga bisa kita pahami sebagai alam yang hendak berkata, kepada sesiapa saja yang tumbuh diatasnya. Bahwa alam tak selamanya berdiam diri menerima aksi, ia bereaksi. Sebagaimana bencana, barangkali dari apa yang UNM lalui akhirakhir ini adalah bahasa yang hendak didengarkan, bahwa di dalamnya semuanya tak dalam situasi yang baikbaik saja.