19 May 2012

Leo Tolstoy dan Modernitas

Awalnya adalah keberlimpahan, selebihnya hidup dalam asketisme. Setidaknya itu yang dialami Leo Tolstoy. Bak seorang manusia suci yang mengalami pergulatan besar, perubahan dari sikap iman yang rutin; sebuah pergolakan batin. Barangkali ia rindu pada apa yang menjadi harapan semua orang yakni hidup sentosa.  Dan terkadang kerinduan membutuhkan satu pengorbanan besar di mana hidup harus dipandang dengan cara yang tak biasa. Leo Tolstoy mengalami pengalaman batin yang mengharuskan ia menanggalkan segalanya; gelar, status sosial bahkan petak-petak tanah yang ia miliki.

Pada titik di mana ia mengalami transformasi hidup, barangkali adalah sebuah pilihan yang didasari oleh kegoncahan iman. Pilihan yang menghendaki adanya perubahan yang dramatis. Ia berani untuk memilih berubah walaupun ia merindukan bentuk hidup yang tak lagi timpang. Tapi apa yang ia rasakan adalah justru jauh lebih dalam dari itu, bahwasannya dirinya sendiri adalah hidup yang mesti diperiksa kembali.

Awalnya ia hidup dengan keberlimpangan harta yang tak berkekurangan. Tanahtanah yang ia miliki tak terkira berapa jumlahnya, sampaisampai ia mampu untuk menghidupi puluhan hingga ratusan petani. Namun ada batu besar yang mengganjal dalam diri. Sebuah pertanyaan mendasar yang belum mampu ia tuturkan dalam deret argumentasi yang teoritik. Ia menulis;

“Pertanyaan -yang memenuhi benakku pada usia 50 tahun membuatku hampir bunuh diri- adalah pertanyaan paling sederhana….”

Dalam satu tarikan napas, kemudian ia menulis;

“…yang tertanam di dalam jiwa setiap orang, mulai anak yang bodoh hingga orang dewasa yang paling bijak. Itu adalah pertanyaan tanpa jawaban yang tak bisa ditangung seorangpun sebagaimana kuketahui dari pengalaman. Pertanyaan itu adalah apa yang akan terjadi dari apa yang kulakukan hari ini atau yang akan kulakukan besok? Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?”

Di usianya yang ke 50 ia berusaha keluar dari rutinitas pemikiran yang telah lama terbentuk. Pemikiran yang dimulai pada masa kanakkanak dengan  ajaran iman Kristen ortodoks. Hidup kanak-kanak yang diperketat dengan sakramen-sakramen upacara misa dan puasapuasa ketat. Di usianya yang ke 50 ia mengambil jedah. Dengan pertanyaan ini, ia menampik hidup yang dijalani untuk sebuah jawaban yang dikehendaki. Sebuah etafe hidup yang untuk sementara harus jedah di mana berhenti sejenak adalah pilihan keyakinan yang tak tertangguhkan. Sebuah permulaan yang meneruskan satu sikap hidup yang tak akan seperti biasanya.

Hidup dalam ukuran seorang Tolstoy; menulis, meminum anggur, pesta dansa dan wanita, di mana hidup sebagai seorang muda dijalani dengan pandangan hidup yang anti akan kristus. Menjadi seorang pada tahun-tahun di mana menghabiskan waktu di meja judi adalah kehidupan yang dinilai normal dan prestise;

“…aku tak bisa memikirkan tahun-tahun itu tanpa kengerian, perasaan muak sekaligus kepiluan. Aku telah membunuh banyak lelaki….aku kalah dalam permainan kartu, memeras tenaga para petani, menjatuhkan mereka dalam hukuman…Aku menipu, merampok, berzina…dan orang-orang sezamanku dianggap dan menganggapku sebagai orang yang termasuk bermoral”

Namun interupsi itu datang. “Apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?” Sebuah pilihan untuk hijrah.

Hijrah? Mungkin adalah keniscayaan gerak. Perihal proses yang harus dialami oleh seluruh manusia. Di mana konsekuensinya adalah sebuah jalan tak punya ujung. Dan di sana ada pilihan. Maka seorang Tolstoy mengerti; hidup adalah perjalanan yang dirunut untuk dilangkahi. Ia, seorang tua, bermula dari sebuah pertanyaan yang eksplosiv; apa hujung dari apa yang kita sebut sebagai hidup?
***

Ada adagium yang masyur dari seorang Socrates; hidup yang tak terperiksa adalah hidup yang tak patut untuk dijalani.  Dan mungkin saja di suatu waktu,  kita mendapati kenyataan yang tak bisa kita pegang betul, kemudian membuat kita kembali merunut kejadian yang melanda . Berusaha melihat secara terbuka untuk mencari jalan keluar dari apa yang menghadang. Dan di sini, pada titik ini, barangkali adagium dari Sokrates kemudian berlaku. Di mana sebuah permenungan kemudian menjadi aktivitas yang menuntut laku sunyi; refleksi diri.

Namun, di mana zaman yang tengah tumbuh berkembang pada asas percepatan yang tak pernah ditemukan pada zaman sebelumnya, menjadikan hidup seperti orangorang soliter menjadi kian sulit. Di luar sana, pada apa yang kita katakan sebagai kehidupan, sedang terburu buru membawa dirinya pada titik terjauh dari situasi yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Di mana waktu dan ruang dimobilisasi sedemikian rupa dengan asas percepatan, sehingga apa yang kita yakini sebagai hidup yang layak untuk dijalani, menjadi hal yang begitu cepat menguap. Dan barangkali itulah hukum modernitas, segala begitu cepat berlalu, semuanya begitu licin untuk digenggam.

Maka keberlimpahan yang  di alami Tolstoy tak membuatnya harus takluk; rumah besar, tanah  yang luas, permadanipermadani yang berkilauan, pekerjapekerja yang memberikannya uang yang banyak dan segala yang ia punyai, sebab di suatu waktu ia tahu, apa yang ia miliki bisa menjerumuskannya pada situasi yang menghilangkan kedaulatan sebagai manusia. Dari ini kita tahu, modernitas telah membuat posisi kedaulatan sebagai mahluk lenyap menguap.

Setidaknya dari seorang Tolstoy maupun Socrates kita bisa belajar, modernitas atau zaman yang ugalugalan ini, dengan percepatan komoditas, mobilisasi waktu, pemapatan ruang,  di mana terjadi pembalikan pada seluruh tatanan nilai, membuat kita harus tahu dan percaya tentang satu hal; di luar sana, nilai kedaulatan kita sebagai manusia tengah direcoki.[]