09 August 2011

Alegoria; Sang Biarawati [bagian 1]

Alegoria masih tersimpuh di undakan batu. Pandangannya menjurus jauh kedepan, entah apa yang ia pikirkan. Beberapa hari belakangan ini Alegoria sering menyendiri ditempat ini. Tempat yang berjubel karang dimana hempasan ombak serta angin dari padang sabana selatan menjadi hangat setelah melewati amukan beliung ditengahh samudera. Membawa aroma angin tak bertuan melewati setiap permukaan laut yang karam. Alegoria hanya menatap kosong menyelami hamparan luas dihadapannya, berniat menyatukan egonya bersama ego semesta, "Ambillah aku, bawalah aku jauh" benak Alegoria berbicara. Pandangannya masih kosong seluas samudera yang terbentang di hadapannya, namun alam imajinya menyempit, jauh masuk kedalam memori terpendam membawanya pada kilasan penggalan klise hidupnya beberapa tahun yang silam.

Hari ini adalah hari kebaktian. Alegoria adalah seorang biarawati taat yang meinghibahkan dirinya pada ordo St.Benedict. Ordo Benedictines, dibangun oleh St. Benedict (480- 543 M) di Murcia, Italia, terdiri atas rahib-rahib lelaki dan rahib-rahib wanita yang menyerahkan hidupnya untuk berkalwat dan beribadat. St. Benedict menetapkan tata tertib yang mesti ditaati setiap anggota ordo, terhimpun dalam sebuah buku bernama Regula Monachuorum (Peraturan bagi para Rahib). Tujuan ordo itu mencapai hidup suci Menjelang Sinodi Lateran (Lateran Synod) pada tahun 1509 M. Itu satu-satunya ordo yang bersifat kerahiban sepenuhnya.

Dari pukul empat subuh, Alegoria sudah bangun untuk menyiapkan seluruh kebutuhan gereja pada kebaktian pagi ini. Alegoria hidup di pondokan yang diperuntukan untuk para biarawati di sekitar lingkungan gereja. Hampir setiap pagi ia bangun lebih awal untuk bersimpuh dihadapan Sang perawan Suci, memunajatkan harapan-harapan kekal, menitikkan air mata sembari mengeratkan simpul tangan didepan dadanya yang tergelantung salib perak pemberian ibunya. Setelah Ia bersembahyang, lekaslah ia mengambil lilin-lilin yang tersimpan di dalam almari gereja. Menempatkan pada bidakannya, nampak lelehan lilin yang tebal pada sudut-sudut lingkaran bidakan, lelehan lilin pada bidakkannya mengguratkan bahwasannya tempat ini bukanlah tempat biasa. Tempat ini adalah Gereja tua yang dibangun pada abad enam belas dengan ornamen-ornamen tua yang terkesan menyeramkan, namun sangatlah spiritual. Penanda dengan banyaknya semayam doa yang bertengger di langit-langit gereja. Langit-langit yang ada di atasnya terdapat gambar bayi-bayi yang bersayap melingkari seorang wanita yang menggendong bayi telanjang, sang bayi itu memiliki lingkaran cahaya di atas kepalanya. Sementara sang wanita nampak memiliki paras yang indah menandakan kasih sayangnya terhadap sang bayi. Hampir seluruh dinding atas gereja ini dipenuhi dengan lukisan serupa. Alegoria menyalakan lilin paling atas, cahanya serentak menabrak dinding tebal 
yang berselimutkan lumut yang hijau kehitam-hitaman. Semenit kemudian altar yang berada didepan nampak terlihat dengan cahaya remang-remang lilin. Pukul sepuluh nanti gereja tua ini akan dipenuhi oleh jemaat yang berdatangan dari sudut-sudut pedesaan. Membawa sejuta harapan demi kehidupan kelak.

Alegoria pun berjalan menuju kamar belakang gereja. Langkahnya sangatlah pelan, nampak ujung jubahnya menyisir undakan lantai, menerbangkan debu-debu halus di udara. Ia menuju almari dan Membuka lemari yang berisikan kitab-kitab tua yang sedikit berdebu. Matanya tertuju pada salah satu buku karangan St. Benedict, Regula Monachuorum, matanya tertuju pada halaman yang sudah sedikit kusam, banyak lipatan pada halaman itu. Hatinya serasa tentram ketika membaca buku yang berumur  ratusan tahun itu. Matanya menjadi sedikit berair sementara  benaknya terus mengikuti huruf-huruf latin yang kecil-kecil, sesekali ia menyeka matanya. beberapa menit kemudian ia mendengar suara seperti pintu dibuka. Nampaknya Anne sahabatnya sudah bangun.

"Nampaknya akhir-akhir ini kau selalu bangun lebih awal Gorie" Anne mendekati Gorie, melewatinya dan duduk di depannya.

"Entahlah aku ingin selalu lebih awal bangun, Bukankah Maria Sang Perawan Suci menginginkan kita agar taat dalam waktu"

"Itulah yang membuat aku berpikir lain, bukankah Istirahat juga membutuhkan waktu Gorie!!" Anne lekas berdiri dari tempat duduknya, berdiri dan berjalan mendekati cerobong asap dan menyalakannya"

"Aku lebih Nyaman dengan kesibukanku pada pagi hari dibandingkan tidur dengan Iman yang tipis"

"Kurasa alangkah baiiknya menyibukkan diri dengan berdoa lebih awal" Gorie menambahkan seketika.

"Mudah-mudahan engkau mampu mempertahankannya"

"Amien, Mudah-mudahan Maria bersamamu Anne" Gorie menggerakkan tanggannya seakan melukis udara dengan gambar salib di hadapan Anne"

Kabut tipis mulai tergantikan dengan cahaya matahari. Menembus rerantingan  pepohonan. Masuk kedalam melewati cermin-cermin keramik berwarna. Anne dan Gorie lekas menuju pondokan yang hampir setengah bangunannya tersirami cahaya matahari. Alegoria masih membawa buku ditangannya, Baginya buku ini adalah jalan menuju kasih Maria. Ia masuk dikamarnya, membereskannya sedikit dan bergegas menuju kamar mandi. Diletakannya buku itu dengan rapi di atas meja bacanya, sedetik kemudian ia membuka penutup kepalanya, nampaknya rambut hitam kemerah-merahan terurai jatuh dipundaknya.

Alegoria adalah gadis keturunan Italia dan Polandia, nenek moyangnya adalah pengikut taat Ordo St. Benedict, para keturunannya dididik taat sesuai ajaran yang turun temurun di ajarkan dalam keluarganya. Ibu Alegoria adalah Seorang gadis desa yang tinggal jauh dipedalaman itali, menikah dengan seorang pedagang Polandia yang kerap kali mengunjungi keluarganya di utara itali, Verona. Semenjak kecil Alegoria memiliki kepribadian yang pendiam dan sering menghabiskan banyak waktunya di bawah pohon ceril dibelakang rumahnya. Dibawah pohon itulah Alegoria sering bermain sampai matahari menjatuhkan dirinya pada dedalaman perut bumi. Namun suatu kejadian yang paling mengiris hatinya adalah ketika ia sering mendapati lebam-lebam pada tubuh ibunya. Ibunya hanya tersenyum ketika Gorie kecil sering bertanya tentang hal itu. Sampai suatu malam Gorie kecil terbangun pada malam dipertengahan musim dingin, mendapati Ibunya dan Ayahnya duduk terdiam di samping perapian. Nampak Ibunya sesekali menyeka air matanya dengan sapu tangan yang dipegangya. Ayahnya hanya terdiam dengan peristiwa itu. Ia duduk sembari menundukkan kepalanya menatap undakan lantai yang gelap. Dibelakang ayahnya terdapat koper yang isinya hanya dilemparkan begitu saja kedalamnya, terlihat ujung-ujung baju di pertemuan kedua tutupan koper. Alegoria hanya bisa menyaksikan dibalik pintu dengan menyembunyikan diri sembari menajamkan telinganya berusaha ingin mendengarkan pembicaraan yang ia saksikan. 

Namun Gorie hanya mendengar sesesakan isak tangis Ibunya. Suasana begitu diam, yang ada hanya bebunyian suara kayu terbakar di perapian membakar kayu yang mengeluarkan minyak dan bebauan khas kayu cemara. Sesekali bunyi itu berlomba dengan suara tangis Ibunya. Beberapa waktu kemudian Ayahnya berdiri dan menatap ibunya seakan-akan hendak meninggalkan Ibunya selama-lamanya. Ia mengeluarkan lipatan kertas dari saku bajunya dan meletakkannya di atas meja, Kemudian tanpa sekata pun berbalik dan melangkah menuju kopernya. Ibunya hanya mengeluarkan sesak tangis yang ditahan, takut akan Gorie kecil yang nantinya terbangun, namun apa daya Gorie kecil hanya terpaku dibalik persembunyiannya menahan beribu tanya dalam emosinya yang tak ia kenali. Seketika Udara dingin masuk keruangan itu, memenuhinya dengan suara yang riuh, diluar udara seakan berkecamuk dengan angin dari negeri entah berantah. Seketika Ayahnya hilang dari pandangan dan Isak ibunya pecah menggantikan udara yang dingin. Kini Isak ibunyalah yang berkecamuk.

***

Semenjak peristiwa pada pertengahan musim dingin itulah, Alegoria sering menyendiri hidup berdua dengan Ibunya. Menghabiskan waktunya membantu Ibunya dari pagi hingga petang. Namun Gorie kecil tak pernah mengendapkan kejadian pada beberapa tahun yang silam dimana ia ditinggalkan oleh Ayahnya. Ibunya pun hanya tersenyum dan seringkali menyuruh seketika jika Gorie kecil bertanya tentang Ayahnya. Satu pertanyaan yang tak pernah ia pertanyakan kepada ibunya adalah isi secarik kertas yang diberikan Ayahnya kepada Ibunya pada saat meninggalkan mereka berdua. Ia takut jika pertanyaan itu membuat Ibunya sedih.