04 September 2010

Topi Pesulap (Part 2)


Ketakjuban..adalah epos sejarah dari Sang Pesulap
Dari Topinya keluar letupan gemercik api
Ah betapa terangnya jika Topimu kau buka lebar-lebar
Sudah berapa lama kau dengan Topimu sementara aku takjub dari tongkatmu yang kau tunjukkan
Tak seperti topimu, dari tongkatmu kau keluarkan aku
tentunya lewat Topimu..betapa Takjubnya aku
Esok pertunjukan apa lagi yang kau pertontonkan
Sedang aku belum habis ketakjuban dari topimu
Seandainya kau buka lebar saja topimu..Pasti banyak api yang kau keluarkan
Tapi aku paham karena belum jua kau buka lebar topimu
Engkau pasti menunggu habisnya ketakjubanku
Ah betapa ajaibnya engkau dengan Topimu..Sedang Tongkatmu kau Sembunyikan dari ketakjubanku
Apa jadinya aku jika Topi dan Tongkatmu kau Keluarkan Sekaligus
Pasti aku hanyalah dirimu Yang Takjub

Menjelang Pagi, 4 September 2010



03 September 2010

Kata untuk Derita

Duka dari kematian yang berkepanjangan
Meniti kecambah yang tak kunjung berkembang
Sembari air tak pernah memadamkan, kelak api menjadi poros kelupaan
Kasihan diri ini yang luput dari harapan…
Luka saja yang digemborkan, memahat sesal abadi di dada
Sembari doa hanyalah usaha, kelak api jadinya
Betapa malangnya kecambah ini tak kunjung menjadi
Aduhai diri yang dibakul tak pernah ada harapan

Kasihan kelak engkau nama yang luas, tak satupun tepi bisa kau singgahi
Apa jadinya engkau disana, bila disini hanyalah kecambah yang tak kukenali..
Apa jadinya engkau nanti, bila disini hanyalah sesal yang berkepanjangan

Kasihan engkau bila sesal menjadi biasa
Bagaimana lagi bila kecambah ini hanyalah duka yang hidup dalam kemarau panjang
Tak pernah jua engkau sadari, tak pernah jua engkau tumbuh
Aduhai diri yang dibakul tak pernah ada harapan
Hanyalah kematian yang berkepanjangan

Menjelang pagi, 2 September 2010