Tampilkan postingan dengan label Catatan Diari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Diari. Tampilkan semua postingan

02 Maret 2016

Merawat Benci

Entah mengapa saya perlu merawat benci. Terutama kepada orangorang tertentu. Ini penting bagi saya. Tujuannya untuk membuat rivalitas.

Agak susah memang mau bilang sehat. Di dalam satu kecenderungan yang sama, orangorang butuh pecut. Dan pecut saya rasa emoh. Mungkin jumawa kalau saya jauh lebih bisa.

Rasa sinis, atau mungkin benci, tentu tak mungkin saya umbar. Apalagi saya nyatakan terbuka. Efek sosialnya akan buruk. Saya suka menyembunyikannya. Bagi saya, tak penting orangorang tahu. Lagian buat apa orang yang saya siniskan tahu. Tidak penting.

Saya rasa memang harus demikian. Hidup memang ajang saing. Bahkan agama nyatakan lomba di jalan kebaikan. Tapi, entahlah yang saya punyai ini suatu kebaikan. Atau janganjangan tidak etis. Merawat sikap sinis. Menjaga rivalitas.

Saya belakangan ini belajar menulis. Bisa dibilang itu saya lakukan karena berusaha ambil jalan literasi. Soal menulis sudah lama saya lakukan. Cuman, gairah menulis belum seperti kayak sekarang. Kiwari, seperti ada hasrat mau menulis terus. Apa saja. Yang penting saya suka.

Di dunia literasi inilah saya menanam pohon sinisme. Saya mendefinisikan rival. Memetakan lawan. Dan, benci atau rasa tidak suka jadi sumbernya. Di sini saya kira, saya jadi orang yang jahat. Tapi, apalah arti jahat sesungguhnya, kalau itu sudah jelma aksara. Di dalamnya kejahatan bisa jadi baik, atau sebaliknya.

Saya yakin, di luar sana banyak orang yang tak suka saya. Saya maklum. Juga, saya bisa saja tak suka beberapa orang. Itu wajar.

Jadi ini hanya problem biasa. Hanya soal pribadi saya.

Dalam beberapa lingkait, konflik memang penting. Terutama konflik laten. Dengan itu aktifitas manusia diselenggarakan. Saling membangun relasi. Kasih sayang, senyuman. Namun, juga cemburu. Semua itu kualitaskualitas pribadi yang timbul tenggelam di balik hubungan sosial. Tanpa itu, tak ada manusia. Barangkali hanya mahluk jernih tanpa cela. Manusia, mahluk yang penuh cela, dan tentu celah.

Jadi tak usah merasa lengkap. Manusia mahluk yang butuh kerja sama. Karena itulah dia jadi utuh. Keutuhan ini biasanya ditemukan dalam bentukbentuk ikatan kolektif. Bisa keluarga, komunitas, organisasi, partai, atau juga negara. Hubungannya bisa ketemu karena agama, hobi, suku, latar belakang, ilmupengetahuan, ideologi, cinta, dan macammacam. Tapi hakikat di balik hakikat, semua itu digerakkan atas peristiwa berhadaphadapan; persitegangan; permusuhan; konflik.

Saya merasa, yang harmoni hanya akan melihat yang baik. Ikatan yang terlalu dekat bikin susah objektif. Saya butuh dasar penolakan, sikap berbeda agar punya cara lain. Apalagi kalau soal penilaian. Seorang kawan butuh musuh agar kejahatannya tampak. Seorang lawan butuh kawan agar kebaikannya muncul.

Antonio Gramsci bilang, bersamasama sekaligus menentang. Itu dia sebut skandal kontradiksi. Inilah yang saya maksud. Bersama sekaligus menentang. Saya bangun rivalitas. Saya bangun skandal pertentangan.

Agak susah mau bilang tidak ada persaingan. Itu terlalu naif. Hubungan macam mana pun selalu mengandaikan dua sumbu. Dua ujung yang berbeda. Di dua ujung itu masingmasing berdiri. Berjalan ke arah yang berlawanan dan menengok ke belakang, siapa yang telah panjang mengambil garis. Saat itulah persaingan sudah dimulai. Sejak berdiri di atas garis.

Banyak orang purapura rendah hati. Membikin diri dengan semangat moralitas tertentu. Bicara soalsoal krusial. Mengajarkan hal ihwal substansial. Namun sial, di waktuwaktu tertentu mengucap perpecahan, bikin benteng dengan menjelekjelekkan. Bicara universal, tapi parsial. Di kawankawan dekat omong bual. Menyudutkan kelompokkelompok tertentu dengan dalildalil. Itu banyak. Membuat orangorang jadi marginal.

19 Januari 2015

Catatan Ketujuh

Kita pernah hidup di masa lampau, yang primitif, yang jahil. Sejarah memang nampaknya berjalan dengan dua hal: peradaban dan kejahilan. Tetapi bagaimana jika sejarah tak pernah beranjak? Atau dengan kata lain, kita sebenarnya tak pernah ke mana-mana.

Di India, negeri hindustan yang padat itu punya kisah kelabu. Di India masyarakat berdesak-desakan tak bisa melawan hukum urbanisasi: kriminalitas. Dan inilah jahiliah itu: meledaknya perkosaan, diskriminasi perempuan, dan apa lagi ini: seorang anak perempuan dikubur dengan cara hidup-hidup.
India adalah negara yang mencerminkan kepelikan dua arus besar: sistem kasta dan modernisme.

Tradisi keagamaan yang kuat dan keinginan untuk maju. Tetapi kemajuan tak selamanya dapat mengelak tradisi yang sudah mendarah daging. Urbanisasi maklum terjadi pada daerah-daerah berkembang harus berhadapan dengan anomalitas kemajuan. Di saat demikianlah kemiskinan bertaut dengan kebodohan, dan cerita selanjutnya sudah jelas, kejahatan yang menumpuk.

Beberapa dari penumpukan kejahatan itu, perempuan sering jadi tulah. Juga masalah kian jadi runyam jika kejahatan terjadi didorong atas dasar kasta. Dengan kata lain, di bawah tingkatan kasta, seorang perempuan berkasta rendah jadi tidak berdaya. Jadi kehilangan harga diri. Karena itulah perkosaan terjadi. Di sini sudah jelas teori-teori Marxis tak bisa asal ngomong. Di India kasta yang menentukan segalanya.

Kasta atau bahkan keyakinan religius sebagai dalih kejahatan memang membikin urusan berlarut-larut. Dalam agama Ibrahimik, tidak bisa dimungkiri juga mengandung ketimpangan kekuasaan terhadap perempuan. Setidaknya apa yang lahir dalam tradisi pemikiran teologi dan tafsir.

Kecenderungan tafsir patriarki atas perempuan dalam keyakinan ibrahimik selalu ditafsir sebagai mahluk asal dari keretakan tulang rusuk yang bengkok. Jika sudah demikian maka wajar jika feminisme punya niat yang bukan main-main: mendekonstruksi tafsir atas teologi.

Atas itulah, mengapa peradaban yang layak diperjuangkan adalah peradaban feminin. Yakni suatu masa, atau suatu keadaan ketika keadilan atas perempuan menjelma adab. Saat satu sama lain berinteraksi atas dorongan kasih sayang. Tiada lagi diskriminasi, tiada lagi pelecehan. Semua saling mengayomi.

Tapi, jika perempuan juga masih diberlakukan diskriminatif, maka kita tak pernah ke mana-mana. Termasuk jika masih ada seorang ayah tanpa pikir panjang mengubur anaknya hidup-hidup. Tidak pula di India, begitu juga di sini.

18 Januari 2015

catatan enam

Tidak terlalu banyak yang dapat saya tuliskan untuk malam ini. Barangkali hanya menyangkut eksekusi hukuman mati terpidana kasus narkotika.

Saya sulit membayangkan atau merasakan, bagaimana menjalani waktu yang sudah mendekati ajal. Kematian memang keadaan yang tak didugaduga, tetapi bagaimana jika itu sudah pasti kedatangannya. Apalagi dengan cara ditembak.  Butuh banyak hal untuk itu, dan juga iman yang kukuh.

Dua ribu delapan silam, kita juga pernah menghadapi hal yang sama. Waktu itu tiga pidana kasus bom Bali yang akan menjalani kematiannya. Juga dieksekusi dengan cara ditembak.

Kematian adalah kejadian yang dahsyat. Juga situasi yang purba, oleh sebab ia penanda eksistensi manusia. Untuk itu kematian punya ragam dan cara bagaimana ia datang. Terpidana bisa saja siap lahir dan juga menturutkan batin yang kokoh untuk menghadapi batasnya, tetapi kematian sebagai tindak eksistensi barangkali adalah hal yang absen. Artinya kematian dalam hal ini bisa berarti perkara yang subjektif, dengan kata lain, kematian yang menandai tindak eksistensi adalah kematian sebagai sebuah pilihan.

Saya tidak bermaksud berlamalama untuk membincang kematian sebagai pilihan. Tetapi jelas apa yang dialami oleh terpidana eksekusi adalah kematian yang diterima sebagai keharusan, kematian yang tak bisa dihindari. Kematian yang didesak waktu. Karena itulah kematian yang macam itu adalah kengerian yang dimaklumi.

Tetapi seperti apakah kematian yang demikian itu kita maklumi? Apakah kita  sedih ataukah kita layak berkata “memang sudah demikian aturannya, jika dibiarkan maka tak akan memberikan efek jera bagi yang lain.” Atau “Iya, tapi bagaimana dengan kasus yang lebih berat, kok rasarasanya tidak adil, bahkan untuk kasus yang sama malah dibebaskan” Tepat di titik inilah banyak tafsir dan kepentingan, apalagi urusannya bertautan dengan negara.

Maka untuk itu urusannya bakalan panjang. Saya sudahi dulu. 

17 Januari 2015

catatan lima

Agama memang banyak menyimpaan sisi kelam. Saya pikir, sepertinya tak ada agama yang bersih daricerita yang kronik, sebab saat agama datang, setelahnya adalah penegakan hak atas yang bathil; bagaimana terang agama menampik iman yang salah. 

Lantas di mana kroniknya? Masalahnya adalah jika “yang terang” sudah dengan perang hendak membentuk keyakinan yang tunggal dengan cara memenggal. Atas itulah agama dalam sejarah hingga kini menyimpan kelam dan kelabu. Seperti sekarang ini, cara yang kronik itu ingin betul mencipta terang dengan pedang, demi yang tunggal melalui pasung dan penggal.

Akhirakhir ini umat muslim jadi kisruh atas ulah terbitan majalah di Prancis. Sebabnya adalah terbitan dengan gambar kartun yang dianggap mengejek nabi umat muslim. Tentu kita dibuat jengkel dan marah. Bahkan marah menjadi cara kita mengidentifikasi keyakinan kita. Dan juga marah, sepertinya  merupakan tanda selama ini yang kerap kita pakai untuk menunjukkan sentimental iman kita. 

Tetapi untuk kali ini beda, tidak sekedar marah, kisruh, aksi demonstrasi dan kecaman cara kita memprotes. Justru malah menghentakkan siapa saja dengan cara yang tak biasa; terorisme.

Di beberapa negeri muslim, protes atas terbitan yang sering kali mengejek umat muslim itu memang masih terjadi. Tetapi apa yang terjadi di Prancis atas penyerangan di kantor Charlie Hebdo, memang tak dimaksudkan untuk memprotes, tetapi sudah menjadi “terang yang ingin perang.” 

Di sinilah kita dibuat bingung, agama dengan vulgar menjadi momok yang menakutkan. Kebingungan kita justru meminimkan bahasa dialog daripada cara yang merontokkan kepercayaan terhadap agama yang cinta damai.

Walaupun demikian sudah sepantasnya kita marah, memprotes dan bersuara. Biar bagaimanapun kebebasan menyebar informasi bukan untuk saling singgung apalagi mencela. Sebab di luar sana, agama tidak ditafsir atas nalar yang jernih, tetapi juga dengan iman yang kronik. 

Barangkali apa yang terjadi di seberang benua sana adalah suara-suara yang telah lama diam di bawah kibarkibar demokrasi. Barangkali umat muslim yang menewaskan beberapa orang oleh aksi penyerangannya, punya iman yang menggumpal, punya agama yang meluapluap; bahwa kali ini tidak lagi sekedar protes.


15 Januari 2015

catatan empat

Minggu ini, perempuan, kekuasaan, dan harta menjadi tema tontonan yang menghebohkan. Bahasa rasul itu memang terjadi dan tak jauh dari penyebaran pemberitaan saat ini; penetapan tersangka calon kepala polisi RI oleh KPK dan beredarnya fotofoto panas yang mirip pimpinan KPK juga turut Putri Indonesia. 

Apa lagi ini? Masalah siapa lagi ini? Tibatiba awal tahun kita dibawa kepada situasi politik yang ituitu lagi; kekisruhan yang membuat daftar panjang bagaimana penyelenggaraan pemerintahan selalu ditandai dengan intrik dan taktik.

Politik memang medan yang antagonis. Bahkan politik sudah merupakan skenario yang disiapkan ceritanya sedari awal; siapa sutradaranya, pemeran utamanya, tokoh kuncinya, kapan cerita harus didramatisir, kapan penjahatnya kalah dan menang, dsb. Politik dengan skenario yang sudah diatur memang adalah panggung yang awalnya minim dialog; mulanya disiapkan diamdiam, kemudian, riuh rendah suara mulai mengisi dialog para pemerannya hingga akhir cerita. 

Tapi apakah ada akhir dalam politik? Saya kira tidak, sebab akhir berarti ada pahlawan yang menutup cerita. Sementara dalam politik, sang penjahat punya jalan cerita sendiri untuh mengubah jalannya skenario.

Untuk itu kita tunggu saja satu demi satu adegan, peran demi peran dimainkan. Dalam kasus penetapan BG oleh KPK ada dialog di sana, dan tentu akan berlanjut dengan konfirmasi dan klarifikasi. KPK menetapkan dan BG mengklarifikasi, sehingga itulah selanjutnya; bantah membantah antara dua peran. 

Pada titik inilah kita biasanya dibuat bingung mana yang benar dan yang mana memang salah,  mana yang harus dibela atau didukung. Tetapi ada hukum, walaupun terkadang hukum di negeri ini bisa jadi perusak pikiran kita. Lantas kalau sudah begitu mau bagaimana lagi? Harus apa lagi? Jika yang terlibat adalah para penegak hukum. Barangkali Gie benar: Keadilan memang hanya ada di langit dan di bumi hanyalah omong kosong.

Lalu apa lagi ini? Gambargambar panas pimpinan KPK dengan Putri Indonesia!!! Seksualitas memang kekuatan destruktif yang paling halus, sehingga tak ada yang luput darinya. Di antara pusaran kekuasaan, seksualitas bisa menjadi pusara yang melumat habis siapa saja. Dan kisruh tentang penetapan tersangka rekening gendut menjadi semarak dengan beredarnya gambar syakwasangka dari kecapkecup kening; kita dibuat tak berkedip dan miris sekaligus bertanyatanya.

Sebuah pertarungankah ini? Setidaknya dulu ada film cicak vesus buaya yang pernah tayang. Ini adalah skenario yang klise tetapi barangkali kita butuh tontonan yang menghibur.


catatan tiga

Apakah memang sosiologi sebagai disiplin ilmu sesungguhnya mengandung problema? Setidaknya hingga kini, ilmu sosiologi masih memperlihatkan pertentanganpertentangan di dalamnya. Ini maklum, sebab memang dari awal, sosiologi ditandai dengan kritisme diantara tokohtokoh pelopornya. 

Ilmu yang dipelopori Auguste Comte semenjak dalam perkembangannya memang tidak berjalan mulus. Pasca dirinya, disiplin yang ia tujukan untuk meramalkan perkembangan masyarakat, justru dilanjutkan dengan perdebatan subjek ilmu yang seharusnya menjadi kajian sosiologi. Hingga akhirnya secara umum untuk menengahi perdebatan itu, Ritzer mengelompokkan pendekatan teori dalam sosiologi dengan pendekatan paradigmatiknya. Walaupun sebenarnya dalam sudut tertentu, pengelompokan ini juga bermasalah dari sisi alasan-alasan yang digunakan Ritzer dalam kategorisasinya. Sebab dalam pendekatan yang lain, disamping berkembangnya teori sosiologi, banyak pendekatan yang justru berbeda dari yang dilakukan Ritzer.

Yang aneh adalah, problema semacam ini tak pernah dipersoalkan secara akademis di perguruan tinggi. Mahasiswa sosiologi, sejauh pengamatan saya tak pernah diberikan alasanalasan  memadai dengan pemetaan yang diterapkan pengelompokkan semacam pendekatan Ritzer. Alhasil yang ada adalah teoriteori yang ada dilihat sebagai sejarah perkembangan pemikiran yang tanpa masalah. Hasilnya jelas, sosiologi menjadi disiplin yang tanpa cacat dan sudah fix; minim dialog.

14 Januari 2015

catatan dua

Bagaimana saya harus memulai tulisan ini? Sebab kebiasan ini adalah hal yang baru bagi saya. Ini adalah hari kedua di mana kemarin dengan tibatiba saya berniat untuk menyisihkan waktu demi catatan atas apa yang saya alami seharian. Barangkali akan terdengar klise bagaimana aktifitas semacam ini akan saya pertahankan sampai seterusnya. Tetapi ada satu hal yang membuat saya terdorong untuk melakukannya, yakni dengan aktifitas ini, saya dapat terus menulis. Selain itu, dengan melalui catatan seperti ini saya dapat merangkum dan menjaga ingatan saya.

Tak banyak yang dapat saya tuliskan di sini, barangkali hanya menyangkut situasi intelektualisme mahasiswa yang menjadi hal dalam catatan kedua ini.

Banyak hal yang harus dibenahi untuk menemukan situasi ideal kemahasiswaan saat ini. Setidaknya forum diskusi yang aktif dengan pokokpokok bicara yang memungkinkan lahirnya perspektif yang jernih. Atau dinamika keilmuan yang terpancar dari semangat intelektual mahasiswa. Tetapi itu hal yang langka untuk saat sekarang, sebab kebanyakan mahasiswa sekarang tidak dididik untuk dapat berpikir dan berjiwa besar. Juga tidak didukung dengan sistem akademik yang menumbuhkan semangat pencaharian atas ilmu yang maha dahsyat. Dan yang utama adalah tenaga pengajar yang minim perkembangan.

Atas itulah saya berpikir butuh banyak perubahan yang mesti dilakukan, salah satunya adalah hasrat untuk belajar bagi mahasiswa sekarang.

Saya sudahi dulu catatan saya. Saya terlalu lelah untuk meneruskan tulisan ini.

12 Januari 2015

memilih jadi ibu; Architeksture

Catatan ini adalah hal yang baru dari rutin saya. Kenapa baru? Sebab tidak seperti biasanya saya menyempatkan waktu untuk menyimpan memori saya dalam sebuah catatan. Terutama tentang seluruh aktifitas selama saya bergelut dengan harihari.  Ini setidaknya mengikuti kebiasan pengalaman seorang perempuan centil galau dan tak kuasa atas lingkungannya, sehingga akhirnya memilih merekam suasana emosinya di balik tutur catatan. Yang memilih katup bibirnya bersuara dari ujung penanya. 

Di waktu saya kecil saya sering menemukan kebiasaan perempuan semacam itu; menulis semacam diari sebelum mereka mengakhiri hari di  pertengahan malam. Dan barangkali semacam itulah yang akan saya lakukan di harihari depan saya; menyisakan waktu untuk menyimpan memori saya, ingatan saya, atau kesan saya selama seharian.  

Mungkin juga ini akan menjadi aktifitas yang sedikit feminin; berdiam diri untuk merehabilitasi ingatan dalam pugar katakata. Dan memang menurut saya menulis itu aktivitas yang feminin. Barangkali karena itulah kebiasaan ini menjadi pengalaman hampir bagi perempuan yang saya temui di waktu kecil dulu. 

Saya masih teringat dengan kakak perempuan saya yang memiliki kebiasaan semacam itu. Menulis apa saja yang ia alami dan yang dirasakan di dalam buku kecilnya. Darinyalah saya pertama kali melihat bagaimana aktifitas menulis membutuhkan keberlangsungan yang terus menerus. Di tiap malamnya, berharihari. Saya tahu karena dulu saya sering membongkar isi lemarinya untuk mencari cokelat  dan menemukan buku diarinya; diamdiam saya sering membacanya, isinya macammacam. Tetapi jangankan kakak saya, perempuan di waktu hari ini sangat  sudah jarang melakukan itu. Malang.

Menjadi feminin dalam arti berdiam diri dan merawat ingatan adalah hal yang langka sepanjang pengetahuan saya. Sebab di sana adalah rutin yang membutuhkan waktu di saat klimaks dari peristiwa yang ajeg sering dilakukan. Situasi yang di dalamnya membutuhkan perawatan dan perhatian, mirip seorang perempuan.  Atas itulah saya membayangkan untuk kedepannya saya membutuhkan sifat keperawatan dan perhatian yang lebih dari biasanya untuk membangun ingatan saya, menyusunnya dengan pelanpelan selama beberapa waktu. Barangkali dalam hal ini saya tengah menjadi seorang ibu yang merawat dengan sabar, anakanaknya, buah kandungnya, dari rahimnya. Saya menjadi ibu bagi ingatan saya, merawatnya dari rahim ingatan saya.

Untuk itulah suatu saat nanti, saya dapat melihat sejauh mana saya merawat anakanak saya. Dan sudah tuakah saya dengan kedewasaan anakanak saya. Sampai di sini ingatan saya juga akan menjadi semacam tugu atau monumen tentang perayaan sebuah perkembangan, tentu anakanak saya. Dalam perjalannya saya akan dapat melihat di mana saatsaat penting yang membentuk karakter anakanak saya, dan secara tidak langsung adalah diri saya. Di dalam waktulah saya akan menemukan penanda, di dalam anakanak sayalah saya akan menemukan ukuran seberapa jauh saya membina diri.

Yang aneh dalam hal ini, ide ini datang tetiba begitu saja. Untuk menuliskan catatan dalam bentuk semacam ini. Saya agak sedikit khawatir bagi hari esok, apakah saya dapat terus menjadi seorang ibu yang memiliki banyak kekuatan di balik kesabaran dan ketekunannya. Dari itulah saya menyadari tentang sebuah pilihan untuk menjadi perempuan, sebab  mustahil menjadi seorang ibu tanpa dahulu menjadi seorang feminin, seorang perempuan. 

Dari itulah sebabnya saya harus menjadi seorang perempuan untuk melangsungkan aktifitas semacam ini; di dalamnya diandaikan ketekunan, ketelitian dan tentu kesabaran. Akhirnya saya memilih untuk menjadi seorang perempuan, seorang ibu.

Catatan pertama ini saya andaikan sebagai penanda baru saya menjadi seorang perempuan. Sebagai kebiasaan merawat ingatan dan pengalaman saya. Jika sufi besar Ibn Arabi pernah berkeinginan untuk dilahirkan sebagai perempuan untuk kedua kalinya, dari catatancatatan ini, kedepannya, saya telah menjadi seorang perempuan. Melalui ini saya yakin, peradaban dengan cara yang sederhana ini, dapat direhabilitasi, memugar yang bopeng di sini dan di sana. Islam dengan tepat menyebutnya dengan madani, yang di dalamnya ada umat, dari akar kata ummi; ibu.

Tetapi saya punya istilah yang muncul tetiba saja, untuk menyebut akifitas yang feminin ini. Istilah yang arbitrer begitu saja. Barangakali ada kaitannya juga dengan akifitas sebagai seorang ibu yang memugar peradaban; architeksture. Yakni aktifitas sebagaimana seorangg penjuru yang memimpin untuk membangun sebuah bangunan yang membutuhkan ketelitian dan presisi yang tak ingin meleset. Demi sebuah bangunan yang tegak menjulang atas fondasi dan desain yang yang tepat ukuran. Sebuah perencanaan untuk mendirikan sebuah susun bangun interior dan eksterior megah. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...