30 April 2016

Sampul Buku


Model sampul buku anak-anak SD zaman 90-an

Sampul buku itu penting. Dia ibarat kulit, melindungi. Sampul, karena itu jadi barang wajib. Tanpa sampul, buku tak bisa tahan lama. Akibatnya, buku yang bersampul punya masa lebih panjang dua kali lipat dari buku yang tak bersampul.

Dulu bagi anakanak sekolah dasar, sampul harus ada jika punya buku baru. Musababnya karena hampir setiap guru bersepakat, buku yang baik adalah buku yang bersampul. Makanya bagi anak sekolah dasar buku apapun modelnya akhirnya jadi seragam.

Buku yang bersampul juga karena itu jadi ukuran kerapihan. Kadang bagi siswa, ketika mengumpulkan tugas, buku yang tanpa sampul tidak bakal diterima guru. Itu juga mengapa buku tanpa sampul adalah ukuran kepatuhan. Jadi di kelas gampang menilai mana murid patuh mana murid nakal.

Seingat saya sampul paling terkenal kala masih sekolah dasar adalah sampul berwarna cokelat. Pembungkusnya agak mirip kertas minyak. Biasanya dijual satu lusin di hampir tiap kios dekat sekolahsekolah. Kadang sampul itu banyak jenisnya. Bahkan biasanya di bagian depannya lengkap dengan katakata mutiara semisal rajin pangkal pandai; hemat pangkal kaya; sabar adalah kunci ilmu dsb.

Untuk membedakan setiap buku pelajaran, sampul yang dipakai sudah dilengkapi daftar isian jenis buku di sebelah kiri atas. Sehingga kalau mau menulis buku mata pelajaran "matematika" misalnya, cukup langsung ditulis di tempat yang sudah disediakan. Ini bagi anak sekolah dasar adalah pekerjaan yang menyenangkan, sebab bisa belajar mengklasifikasikan buku berdasarkan mata pelajaran sebelum kelas tahun pertama dibuka.

Sekarang agak sulit menemukan sampul cokelat seperti yang dipakai anak sekolah dulu. Anak sekolah sekarang lebih suka memamerkan gambargambar yang melekat di halaman kulit depan buku. Ini terjadi terutama jika sudah kelas empat ke atas. Bagi anak kelas empat atau di atasnya, buku bersampul cokelat justru membuat buku tidak tampak gagah. Apalagi mulai di kelas inilah buku pelajaran sudah mulai digabunggabung. Mata pelajaran yang berbedabeda cukup satu atau dua buku saja.

Kegiatan menyampul buku sekarang hanya penting bagi orangorang pecinta buku. Cuman berbeda dari anak sekolah dasar, sampul yang dipakai adalah sampul plastik transparan. Agak lucu kalau sekarang setiap koleksi buku berwarna cokelat. Juga akan menyusahkan kalau bukubuku susah dibaca sampulnya jika diperlukan.

Makanya penting jika setiap buku punya sampul. Setidaknya dari situ cara manusia mencintai peradabannya. Menyampul buku karena itu tindakan paling sederhana menjaga kepunahan peradaban. Cuman bedanya, tidak seperti anak sekolahan, kegiatan itu dilakukan bukan karena perintah guru, melainkan suatu sikap yang didorong rasa suka. Ya, rasa suka, atau barangkali cinta.

24 April 2016

Mahasiswa dalam Hegemoni Media

Mahasiswa dalam hegemoni media adalah statemen yang mendua. Pertama, dalam konteks apa mahasiswa mengalami situasi pasif di balik transformasi besarbesaran media massa? Kedua, kekuatan apa yang dipunyai mahasiswa jika menjadi subjek tindakan atas media massa yang dipergunakan? Dua pertanyaan ini setidaknya menjadi jalan masuk mengetahui posisi gerakan mahasiswa kekinian di mana di saat bersamaan turut menguatnya pula media massa sebagai kekuatan pendorong terjadinya perubahan sosial.

Media Virtual: Suatu Simulacra

Kiwari, kemajuan media massa bukan saja membahasakan kembali realitas dengan cara virtual maupun visual, melainkan menjadi realitas itu sendiri.  Akibatnya, kehidupan seharihari penuh sesak dengan dunia tiruan. Jean Baudrillard mendaku, dunia baru yang diciptakan media massa nantinya akan menggusur habis kenyataan dengan imajinasi yang dimiliki di dalam dunia kreasi media massa. Baudrillard menyebut dunia baru itu sebagai simulakrum, yakni realitas virtual yang memposisikan kesadaran manusia menerima apa yang disimbolkan oleh simulakrum itu sendiri. Dengan kata lain, simulakrum menjadi realitas baru yang melampui kenyataan yang sebenarnya akibat kemampuannya menciptakan simbolsimbol, tandatanda, citra, dan imajinasi.

Baudrillard menyatakan bahwa kemampuan simulakrum mengubah kenyataan dialami berdasarkan tiga tahapan. Tahap pertama, menurut Baudrillard, simulasi masih merupakan pantulan yang mencerminkan kenyataan sebagaimana kenyataan itu sendiri (basic reality). Kemudian tahap kedua, simulasi akan menutup dan membelokkan kenyataan sehingga kenyataan tidak tampil apa adanya. Akibatnya realitas yang diacunya terdistorsi oleh simulasi itu sendiri. Tahap selanjutnya, simulasi akan memutus habis ikatan penandaan dari realitas yang diacunya dengan menghadirkan dirinya sendiri sebagai realitas itu sendiri. Di tahap ketiga ini, simulasi menjadi simulakrum murni yang mengacu dalam dirinya sendiri.

Sesungguhnya apa yang dialami sekarang merupakan kenyataan yang sudah dibilangkan Al Gore sebagai zaman information superhigway.(1) Selain simulakrum yang mengepung dunia kesadaran manusia, di saat bersamaan turut pula informasi begitu massif beredar tanpa kontrol. Apa yang diacu oleh Al Gore adalah suatu keadaan informasi yang digerakkan internet dalam mengatasi hambatanhambatan komunikasi yang dialami media tradisional sebelumnya. Bahkan keberadaan internet bukan saja memberikan cara baru bertukar informasi, melainkan turut menyatukan media tradisional dalam satu dunia berbasis virtual.

Melubernya informasi akibat mediasi internet, akhirnya turut mengubah pola interaksi yang sebelumnya tidak pernah ditemukan. Jika sebelumnya internet hanya menunjang komunikasi terbatas via email atau penjelajahan tanpa batas via World Wide Web, maka kemajuan dunia informasi telah mengenalkan masyarakat dalam melakukan transaksi ekonomi, konsultasi kesehatan, melakukan konferensi jarak jauh, bahkan sampai relasi seksualitas jarak jauh dengan suatu model berbasis dunia virtual. Akibatnya, kecenderungan interaksi berbasis dunia virtual, memberikan dampak mengecilnya dunia sosial seharihari.

Dunia sosial sebagai medan pertemuan masyarakat, melalui kecanggihan dunia informasi, selain mengalami penyempitan, juga berdampak buruk matinya dunia sosial. Matinya dunia sosial ditandai dengan berubahnya kesadaran manusia melakukan interaksi bukan berbasis kenyataan seharihari melainkan via dunia virtual yang bisa dilakukan kapan saja. Hubungannya dengan interaksi sebagai kunci integritas masyarakat, interaksi dunia virtual justru menghilangkan unsurunsur kenyataan yang menjadi domain penting dalam melakukan relasi sosial kemasyarakatan. Akses dari cara demikian, maka kenyataan sosial hanyalah dunia yang berbalik menjadi kenyataan nomor dua tinimbang dunia virtual itu sendiri.

Kemunculan Generasi Digital Natives

Digital Natives merupakan kriterium sosial yang merujuk kepada generasi mutakhir yang hidup secara organik di tengahtengah kemajuan alat canggih media informasi dan komunikasi. Lapisan muda ini memiliki kecenderungan sosial yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Jika diperhadapkan terhadap konsepkonsep kemajuan, generasi digital natives jauh lebih peka dan cekatan tinimbang generasi terdahulu yang banyak mengalami cultural lag. Keterbukaan terhadap ideide baru setidaknya secara epistemik memudahkan generasi digital natives untuk mencandra  seluruh arus informasi yang beredar di kehidupan seharihari. Namun, akibat kemudahan ini, secara kultural menyebabkan lapisan ini lebih menyukai “citra” dibanding “kedalaman”, “bentuk” dibandingkan “isi”, “aksi” dibanding “teori”, dan “bermain” dibanding “serius.”

Generasi digital natives juga merupakan generasi abad 21 yang merayakan kebudayaan populer sebagai perspektif kebudayaannya. Kebudayaan populer mudah diterima akibat secara simultan menjadi bagian seharihari yang diproduksi secara massal melalui media massa. Efek informasi yang menyuguhkan beragam pencitraan kebudayaan, merupakan sebab mendasar terjadinya perpaduan selera maupun pilihan kultural di mana turut membentuk segmentasi kebudayaan baru di tengah pelbagainya identitas yang mengemuka. Akibatnya, berbagai macam ekspresi kultural dapat ditemui dalam kehidupan seharihari generasi mutakhir.

Kuatnya peredaran arus informasi, di satu sisi menyebabkan kesadaran generasi digital natives tidak mampu mencapai tahap reflektif ketika mencerna sebuah informasi. Sehingga, banyaknya informasi yang dicerna bisa menyebabkan dua hal. Pertama, sulitnya menemukan kedalaman di saat yang bersamaan akibat gempuran berbagai macam informasi. 

Kedua, yakni beresikonya terjadi ledakan informasi di dalam kesadaran itu sendiri. Implikasi yang kedua ini dibilangkan Baudrillard sebagai implosif,  yakni ledakan informasi yang bergerak ke dalam kesadaran manusia tanpa menyisakan informasi apaapa. Berbeda dengan daya ledak eksplosif, implosif justru merusak struktur dalam kesadaran manusia hingga mampu menggoyah struktur ego manusia. akibatnya, ledakan informasi di dalam kesadaran manusia berimplikasi terhadapa gangguan  mental manusia.

Hilangnya nuansa refektif bagi kaum mutakhir, secara ideologis justru menyebabkan suatu gaya hidup yang lebih menyukai ikatanikatan seremonial dibandingkan kultural. Ikatan seremonial banyak terjadi dari suatu relasi yang tidak menyertakan komitmen ideologis tertentu sebagai basis gerakannya. Hubungan macam ini hanya didasarkan atas unsur kesenangan belaka dibandingkan kemauan menemukan kesetiaan pada satu pegangan pemikiran. 

Berbeda dengan generasi sebelumnya, yang sarat dengan lingkungan ideologis , menyebabkan mungkinnya terjadi internalisasi nilai yang kuat. Ekspresi kehidupan sosial seperti ini lebih didasarkan kepada hubunganhubungan organik berbasis perjuangan yang dilandasi suatu ajaran moral tertentu. Sehingga apa yang menandakan suatu ikatan dinilai atas seberapa kuatkah pegangan moral tertentu dijadikan visi dan misi bermasyarakat.

Generasi digital native memiliki kesamaan dengan generasi multitasking yang diperkenalkan Hikmat Budiman. Dalam Lubang Hitam Kebudayaan, menurut Hikmat Budiman generasi multitasking adalah generasi yang tumbuh atas situasi yang serba kontradiktif dan bertentangan. Namun, di antara pilihanpilihan kontradiktif, generasi multitasking mampu mengambil dua pilihan sekaligus yang pada dasarnya bertentangan.

Lebih jauh, menurut Hikmat Budiman, generasi multitasking adalah generasi yang keluar dari imperatifimperatif lama yang menganjurkan pilihanpilihan yang terbatas. Imperatif lama tidak terterima akibat logika dualistik yang mengharuskan sebuah pilihan menolak secara bersamaan pilihan yang lain. Misalkan jika Anda seorang marxis itu berarti Anda adalah orang yang menolak kapitalisme, dengan sendirinya Anda menghindari diskotik, mall, dan café. Setidaknya di level gagasan semua pertautan yang diingkari marxisme otomatis tertolak dengan sendirinya. Namun, seperti yang dibilangkan sebelumnya, generasi multitasking adalah golongan muda yang bisa saja memilih keduanya sebagai ekpresi pemikiran maupun tindakan kulturanya. Akibatnya, yang semula terang antara ideologis dan nonideologis, dalam cakrawala kesadaran kaum multitasking merupakan batas yang kehilangan garis pemisahnya.

Generasi multitasking adalah generasi yang merayakan kontradiksi ideologis bersamaan dengan apa yang semula dilawannya. Hikmat Budiman menulis: “menjadi generasi multitasking bukan lain adalah menjadi bagian dari orang kebanyakan. Mereka sangat peduli pada penderitaan rakyat, tapi tidak terlalu tangguh untuk jadi pahlawan. Mereka ingin pemerintahan modern, beradab dan bermoral, tanpa harus berhenti menjadi bintang sinetron dan model sensual majalah dewasa, mahasiswa yang patuh pada dosen sekaligus kekasih anak pejabat korup yang ditentangnya. Menentang monopoli Tommy Soeharto, tanpa harus membenci café, atau mobil pribadi. Siang berteriak di jalan, malam apa salahnya minum satu dua cawan Tequila di café Jimbani atau Lamborghini.”(2)

Mahasiswa: Generasi Multitasking?

Mahasiswa hakikatnya adalah terma yang politis. Secara semantik kesejarahan, pengertian mahasiswa adalah agen sejarah yang punya tanggung jawab perubahan. Namun, dalam konteks akademik modern, mahasiswa menjadi agen pembelajar yang dijauhkan dari tugastugas perubahannya.

Hampir semua bangsabangsa, di beberapa titik sejarahnya diisi  dan digerakkan peran mahasiswa. Indonesia sendiri, di beberapa momen historisnya justru diawali oleh inisiasi mahasiswa. Mulai dari tahun 1920 hingga abad ini, mahasiswa menjadi kelompok yang turut memberikan sumbangsih terhadap kemajuan kehidupan berkebangsaan.  Hal ini dimungkinkan karena mahasiswa selain agen pembelajar, juga merupakan agen pembaharu.

Di satu sisi mahasiswa juga merupakan golongan masyarakat yang paling lama mengalami sosialisasi politik dibandingkan golongan masyarakat lain mengakibatkan mahasiswa menjadi elit masyarakat yang paling mungkin melibatkan diri pada gerakan sosial politik. Itulah sebabnya mengapa mahasiswa disebut kaum intelektual.

Makna intelektual artinya bekerjanya daya akal yang melibatkan suatu visi atas arah suatu kemajuan. Intelektual juga berarti beroperasinya kritisisme terhadap segala ada yang menghambat kemajuan. Karena pasal ini juga, mahasiswa adalah kaum yang mendamba perubahan ke arah yang lebih maju.

Dari hal di atas, maka mahasiswa merupakan golongan masyarakat yang akrab dengan ideide kritis, progres, dan visioner. Waktu yang dimilikinya adalah modalitas pertama dibanding kelas masyarakat lainnya yang memungkinkan ketiga daya sebelumnya dimaksimalkan. Tinimbang kelompok masyarakat lain, mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang mengarahkan waktunya hanya untuk bercengkrama total dengan ilmu pengetahuan. Akibatnya, seluruh inti sari ilmu pengetahuan menjadi identik dengan mahasiswa.

Malangnya mahasiswa, apabila mengacu kepada konsep hegemoni Gramsci, menjadi kaum yang lumat  oleh transformasi media massa. Sehingga idealisme mahasiswa yang awalnya merupakan kekuatan penggerak sejarah malah berputar sebaliknya. Akibatnya, mahasiswa tidak berbeda dengan segmentasi masyarakat umumnya, jadi bagian yang tersapu dunia imaji media massa.

Akhirakhir ini, terutama media massa virtual, menguat suatu kecenderungan fundamentalisme religius dan pasar yang bergerak membangun kesadaran masyarakat atas sentimentalisme keagamaan, kesukuan dan modal. Berbeda dari media massa cetak, sifat media massa virtual, orangorang bukan lagi sebagai pembaca informasi, namun juga bergerak lebih jauh menjadi produsen informasi. Dalam media virtual, hirarki informasi yang ditemukan dalam media cetak hampir tidak ditemukan. Imbasnya, seluruh informasi menjadi liar tanpa bisa dikontrol. Melalui celah ini, fundamentalisme religius dan pasar mengkonsolidasikan potensinya memanfaatkan kekuatan media massa virtual membangun audience seperti yang mereka harapkan. Sayangnya gerakan ini hampir tak tertandingi akibat betapa banyak dan massifnya gerakan serupa.

Mahasiswa yang notabene adalah generasi mutakhir diperhadapkan dalam situasi macam ini memiliki dua kemungkinan. Pertama, menjadi golongan tanpa harus ada pretensi apaapa sekaligus tidak melibatkan diri untuk membangun budaya tanding terhadap pendangkalan pengetahuan yang dilakukan gerakan fundemantalisme religius dan pasar. Atau yang kedua, membangun kesadaran kolektif via dunia virtual demi menyerukan suatu budaya alternatif demi menangkal arus informasi yang bisa menyudutkan bahkan membangun sentimentalisme tak berdasar.

Artinya, alihalih menjadi bagian generasi multitasking, mahasiswa harus mampu menggunakan kemajuan media informasi sebagai bagian dari visi perubahannya. Padahal, di satu sisi mahasiswa sebagai agen sejarah yang memiliki modal perubahan yang kuat, bisa dimaksimalkan oleh keberadaan media informasi.

Setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu memaksimalkan pemanfaatan atas media. Pertama adalah kemampuan literasi. Kemampuan literasi diawali dengan terbangunnya tradisi paling mendasar yakni kebiasaan baca tulis. Ditingkatan kedua, teks tidak sekedar diafirmasi sebagai bacaan, melainkan mampu menarik makna dan arti yang bisa kontekstualisasikan di berbagai medan persoalan. Tingkatan ketiga yakni teks maupun makna yang tergali mampu membangun kembali keadaan yang dianggap problematis.

Kemampuan yang kedua adalah mahasiswa seharusnya memiliki pers independen yang menjadi panggung bersuara. Sejarah kaum muda Indonesia pra kemerdekaan merupakan contoh terang bagaimana kekuatan pers adalah kekuatan nomor satu sebagai media penyebar gagasan. Setidaknya, pers mahasiswa independen mampu menjadi kekuatan penyeimbang di antara beragamnya media yang berkepentingan atas nilai modal.

Ketiga, mahasiswa dituntut mampu membangun jaringan berskala luas dengan memanfaatkan media. Tak bisa ditolak, tumbangangnya rezim orba sedikit banyaknya dipengaruhi oleh jaringan gerakan mahasiswa yang memanfaatkan media sebagai penghubung di antara beragamnya kelompok mahasiswa. Media dalam konteks ini memiliki faedah menyatukan berbagai macam kelompok berbeda menjadi gerakan kolektif.

--- 

(1)(2) Hikmat Budiman. Lubang Hitam Kebudayaan. Kanisius. 2006. 

22 April 2016

Berpikir a la Kiri (Tanggapan Ringkas atas Buku Epistemologi Kiri)

Judul: Epistemologi Kiri
Penulis: Listiyono Santoso, Dkk
Penerbit: Ar-Ruzz Media
Tahun: 2007
Halaman: 360 halaman



Theorea sebagai Praxis

Hakikatnya, pengetahuan melibatkan kepentingan. Ini sifat khas akibat pengetahuan yang manusiawi. Karena itu, pengetahuan selalu terlibat di dalam ekspresi kemanusian. Di Yunani purba, pengetahuan diandaikan sebagai bentuk praxis. 

Theorea, terma yang bergeser dalam horizon sains modern, merupakan cara manusia menggamit idede kebaikan, keindahan, dan kebijaksanaan bagi kehidupan seharihari. Di Yunani purba, akibatnya, jika orang berbicara pengetahuan maka itu sama halnya menyatakan kehidupan kongkret itu sendiri.

Situasi demikian disebut bios theoretikos. Imajinasi alam berpikir Yunani purba mengartikan bios theoretikos bukan penyelidikan asumsiasumsi pengetahuan demi pengetahuan dalam kategori abstrak sebagaimana teori dalam sains, melainkan suatu jalan etik bagi mendidik jiwa. Ini diandaikan sebagai bentuk hidup yang melibatkan pengetahuan demi tercapainya otonomi dan pemahaman merdeka atas perbudakan doxa. Suatu cara manusia memiliki insight, atau dengan kata lain wisdom.

Theorea sendiri merupakan terma teologis yang mengakar dari tradisi agama kebudayaan Yunani. Melalui ritus keagamaan, seorang theoros punya tugas theorea, yakni “memandang” ke dalam dunia sakral yang melibatkan suatu peristiwa katharsis. Peristiwa katharsis adalah cara theoros membebaskan diri dari perubahanperubahan perasaan dan dorongandorongan fana. Akibatnya peristiwa pelepasan ini memiliki kekuatan emansipatoris dalam arti primitifnya.

Jadi, dari pengertian paling awal, aktivitas berpengetahuan selalu melibatkan diri dalam usaha pembebasan. Di situ artinya pengetahuan masih bulat  menyatukan aktivitas berpikir dan berpraktik. Theorea sekaligus praxis

Ontology: Akar Pemisahan Kepentingan dari Ilmu Pengetahuan

Filsafat selalu memandang sesuatu apa adanya. Pengertian ini bermaksud agar manusia memiliki pemahaman yang murni. Pengetahuan sejati, atau yang asali, merupakan dasar dari ontologi. Artinya, suatu pemahaman disebut pengetahuan murni apabila berhasil menyingkirkan prasangkaprasangka dan kecenderungan emosional yang merusak transparansitas pengetahuan itu sendiri.

Dasar pemahaman ini berangkat atas pemisahan antara Ada dan Waktu. Segregasi kategori ini mengakibatkan suatu kriterium pengetahuan jadi dua hal yang berbeda, yakni pengetahuan yang tetap (Ada) dan pengetahuan yang berubahubah (Waktu). Itulah mengapa setiap filsuf selalu menegakkan prinsipprisnsip universal yang ditarik dari prinsip Ada sebagai wujud yang tak tersentuh perubahan.

Akibatnya, dari pengetahuan yang tetap, filsafat selalu mendeskripsikan kenyataan atas sesuatu yang menjadi hakikat di dalamnya. Kriterium yang kelak disebut substansi ini, senantiasa menjadi ihwal yang harus dimurnikan dari perubahan waktu ke waktu. Demikian, substansi akhirnya diposisikan selalu mengatasi waktu, atau dengan kata lain kriterium substansial atas sesuatu harus mampu berlaku di semua kondisi dan waktu.

F. Budi Hardiman menyebut pemurnian atas pengetahuan sejati dari anasiranasir perubahan, sama halnya menyingkirkan dorongan dan perasaan subjektif manusia sendiri. artinya, sikap ini secara tidak langsung adalah usaha penjarakan atas pembersihan dorongan empiris. Sehingga akhir dari proses ini mengakibatkan pengetahuan merupakan hasil “kontemplasi bebas kepentingan.”

Positivisme; Pengetahuan Harus Bebas Nilai

Ilmu pengetahuan modern memandang sains yang etik adalah ilmu yang bebas nilai. Bahkan kebenaran, terlepas dari prasangka moral maupun etika, merupakan apa yang hanya ditemukan dari faktafakta.

Prinsip ini sama halnya yang diturunkan dari cara kerja ilmuilmu filsafat yang menempatkan alam sebagai basis penyelidikannya. Ilmu modern, walaupun berbeda secara metodelogi, tetap membawa kecenderungan yang sama dalam melihat faktafakta sebagai kriterium utamanya.

Mazhab Frankfurt melihat kecenderungan ini sebagai prinsip kerja dari ilmuilmu yang disebutnya tradisional. Ilmuilmu tradisional dibilangkan sebagai teori yang mengandaikan pemisahan total antara nilai dan fakta. Akibatnya, penyelidikan yang diajukan hanya memfokuskan fakta dengan hukumhukum dan metodemetodenya. Dengan cara demikian, pengetahuan menjadi netral tanpa keberpihakan kepada siapasiapa selain atas nama ilmu pengetahuan itu sendiri.

Perlu disampaikan di sini penolakan mazhab Frankfurt terhadap netralitas ilmuilmu tradisional didasarkan kepada tiga asumsi umumnya. Pertama, netralitas pengetahuan atas klaim objektivitas sama halnya melestarikan keadaan yang ada. Netralitas pengetahuan akibatnya tidak sampai kepada pernyataanpernyataan yang mempertanyakan keadaan. Maka, demikian pengetahuan hanya menopang dan menerima kenyataan apa adanya, bukan bagaimana seharusnya. Prinsip seperti ini sama berarti berwujud ideologis.

Kedua, atas klaim universal, pengetahuan tradisional menyisihkan anasiranasir yang menunjukkan partikularitas kenyataan. Dalam konteks masyarakat, ilmu pengetahuan menjadi ahistoris karena mengabaikan proses historis yang hanya dapat disaksikan melalui penelusuran atas waktu.

Ketiga, teori tradisional memisahkan teori dan praksis. Praksis, unsur pengetahuan yang dihilangkan akibat pengetahuan hanya merupakan rangkaian kerja yang bersifat konseptual semata. Di sisi lain, ilmu pengetahuan yang dipisahkan sejak awal dari ikatanikatan etik, tidak mampu melihat jauh implikasiimplikasi sosial teori dalam kenyataan seharihari masyarakat.

Selain dari itu kaidahkaidah ilmiah yang menjadi perhatian utama dari aspek metodelogis, membuat ilmu pengetahuan menjadi satu bangunan teoritik yang menolak pendekatan keilmuan yang lain. Soal ini akan tampak terang jika pasal ini didudukkan dalam konteks pertentangan ilmuilmu yang bersumber dari tradisi Eropa dan Timur.


Epistemologi Kiri: Suatu Alternatif?

Abad modern yang ditandai dengan klaimklaim universalisme, progresifisme, objektivisme, individualisme dan kapitalisme, banyak menyisakan luka sejarah bagi perkembangan manusia kekinian. Kiwari, banyak yang akhirnya melihat modernisme hanya mengulang dekadensi zaman seperti yang semula ditolaknya. Mazhab Frankurt misalnya, menyatakan kemajuan sejarah atas nama Pencerahan hanya menciptakan situasi yang sama seperti saat manusia digerakkan oleh mitos dan takhayul.  Malangnya, di tengah situasi demikian justru secara bersamaan kekuatan ideologis di balik klaimklaim modernisme menjadi kukuh dan tak tergoyahkan. Dalam konteks penolakan, khasanah pemikiran kiri mesti diapresiasi sebagai kritik langsung terhadap kemapanan ideologis yang dominan.

Dalam perspektif epistemologis, pemikiran kiri adalah upaya yang diletakkan ke dalam suatu konteks historis yang membaca kembali seluruh bentuk pengetahuan yang dominan. Sifat ilmuilmu modern atau yang dibilangkan Mazhab Frankfurt sebagai ilmu tradisional, atas seluruh klaim kebenarannya yang menolak berbagai macam pendekatan dan kebenaran yang timbul dari berbagai jenis pengetahuan, melalui perspektif kiri diuji kembali berdasarkan wacana kritis yang dimilikinya.

Demikian, perspektif kiri melalui konteks ini ingin mendekontruksi asumsi dasar pengetahuan ilmuilmu modern dengan melihat atas klaim apa pengetahuan di susun. Apakah ilmu pengetahuan memang disusun atas klaimklaim yang dari awal menjadi kriteriumnya atau memang ada semangat penundukkan di balik semangat berdirinya ilmu pengetahuan.

Kiri juga bisa diartikan sebagai gugatan moral yang kerap menjadi selubung di balik kepentingan pengetahuan itu sendiri. Perspektif Nietzschean melihat bahwa di balik hukumhukum kebenaran justru tidak jarang malah ditegakkan bukan atas dasar ilmu pengetahuan, melainkan atas dasar moralitas. Dengan arti yang berbeda, kebenaran ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah aspek moralitas yang tak ingin tergugat akibat kritisisme yang diajukkan pandangan yang lain.

Dari aspek universalisme, kiri juga berarti kritisisme terhadap penyeragaman ilmu pengetahuan dari aspek, hukum, dan metodeloginya. Kecenderungan ini ditolak, J. F Loytard yang mencurigai bahwa di balik penyatuan ilmu pengetahuan justru melegalkan caracara yang membunuh keanekaragaman paras ilmu itu sendiri.

Itulah sebabnya, Loytard menyerukan perlunya mempertimbangangkan narasinarasi kecil yang mungkin saja memiliki kekuatan alternatif dibandingan ideide besar yang dominan dan hegemonik. Melalui seruan ini, ilmu pengetahuan bukan sekedar kumpulan istilah yang telah diseragamkan melalui bahasa tertentu, namun juga menerima perbedaan bahasa keilmuan lain yang berasal dari tradisi dan kebudayaan yang  berbeda.

Kiri akibatnya seperti yang diajukan Antonio Gramsci adalah bahasa alternatif dalam melawan hegemoni kelas tertentu.Kiri dalam konteks ini berarti pengajuan alternatif dari hegemoni ideide hasil reproduksi lapisan masyarakat yang berkuasa. Pembelahan masyarakat atas kepentingan kelas, juga melestarikan bahasa sebagai kegiatan sosial yang terbentuk dari setting masyarakat tertentu. Sehingga, ilmu pengetahuan yang terpresentasi atas bahasa tertentu juga jadi cerminan kelas tertentu. Maka, penting melihat seberapa jauh ideide hegemonik bekerja atas bahasa yang digunakan dalam praktikpraktik sosialnya.

Syahdan, kiri dalam terma politik merupakan suatu perspektif yang melawan stabilitas pengetahuan tertentu. Walaupun disadari, kiri tidak selamanya identik dengan komunisme dan sosialisme seperti yang banyak orang sangkakan. Kiri dalam cakrawala pikir kita bersama adalah horison pemikiran yang bernada kritis terhadap segala bentuk kekangan pengetahuan, budaya maupun kehidupan sosial.Akhirnya, harus dipahami pula kiri tidak sekedar berarti akibat makna semantik belaka, tapi juga di baliknya ada sejarah kiemanusiaan  yang ingin tegak tanpa ada pretensi ideologis di dalamnya.

Apabila mengacu kepada pemahaman Foucault, pengetahuan hakikatnya dibentuk atas dasar kepentingan tertentu. Penelusuran Foucault terhadap sejarah ilmu pengetahuan Eropa menemukan bahwa kekuasaan selalu menjadi faktor utama dari dibentuk dan dibangunnya ilmu pengetahuan. Akibatnya nilai epistemologis dari ilmu pengetahuan hakikatnya mencerminkan paras kekuasaan itu sendiri. Atau dengan kata lain, dalam konstelasi tatanan sosial, pengetahuan yang menjadi wacana resmi sebenarnya adalah cara kekuasaan mengambil alih kesadaran otonom masyarakat.

Kalau sudah demikian, mungkinkah seluruh aktivitas berpengetahuan manusia bersih dari kepentingan kekuasaan di dalamnya? Ataukah ini hanya soal bagaimanakah menempatkan suatu kepentingan yang berakar dari nilainilai etis dan moralitas tanpa mengabaikan pertatutannya dengan kekuasaan tertentu? Ataukah memang perlu menerima klaim modernisme selama ini bahwa kepentingan pengetahuan hanya satu, yakni demi ilmu pengetahuan itu sendiri?

---

Catatan: Beberapa ide dasar dan sub judul tulisan ini diambil dari buku Kritik Ideologi karya F. Budi Hardiman terbitan Kanisius (1993) dan Epistemologi Kiri karya Listiyono Santoso dkk terbitan Arruz Media (2009)

*Tulisan ini telah disampaikan sebagai pengantar dalam diskusi bedah buku LKIMB UNM

17 April 2016

dian sastro dan perempuan rembang

Di depan istana negara belakangan ini,  heboh akibat aksi demonstrasi sembilan perempuan asal Rembang. Aksi demonstrasi dengan cara mengecor kaki itu berlangsung selama dua hari. Aksi itu dilakukan untuk menolak pembangunan pabrik semen Rembang yang dinilai akan merusak ekosistem dan mata pencarian masyarakat sebagai seorang petani.

Sesudahnya, di media massa (Kompas.com, 16 April), menanggapi aksi yang terbilang tak biasa itu, Dian Sastro, ikut berpendapat. Memang penolakan yang dilakukan ibu-ibu petani itu banyak menyedot perhatian. Tak terkecuali aktris alumnus jurusan Filsafat UI ini.

Yang malang dari pendapat Dian Sastro adalah statemennya soal perempuan yang tidak usah melibatkan  diri ke dalam urusan politik. “Saya melihat fenomena bicara perempuan itu, ada tanda tanya besar. Apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa yang bicara malah perempuan, saya enggak tahu,” ungkapnya saat diwawancarai kuli tinta. “Itu jadi menarik adanya kasus sekarang. Ibunya lepas dong dari politik, kembali ke urusan domestik. Tambah Aktris yang bakal nongol lagi di AADC2 April ini.

Mengartikan statemen Dian sama halnya menempatkan kembali perempuan ke tempat yang tak diperhitungkan. Perempuan, dengan seluruh suara yang diajukan melawan tatanan yang patriarkat, sampai hari ini adalah hal yang masih terus diperjuangkan.

Ambivalensi statemen Dian ini, tidak bisa diartikan sepele. Dian boleh bilang perempuan kembali ke urusan domestik. Namun, bagaimana jika urusan domestik, telah dirusak akibat rembesan kebijakan tertentu yang membuat dapur berhenti mengepul. Dan, bukankah selama ini, domestifikasi merupakan cangkang  kebudayaan yang selalu menyituasikan perempuan di posisi nomor dua.

Boleh jadi perempuan-perempuan Rembang tak mau berpolitik, bisa jadi sembilan perempuan Rembang tak ingin melawan rela mengecor kaki tak putus siang malam. Namun, bukankah industrialisasi kerap menyosor bahkan menggusur kebudayaan masyarakat petani. Mungkinkah pembangunan pabrik semen menjamin ekosistem alam tetap subur agar bisa menopang kebiasaan masyarakat bertani? Dian Satro bisa bilang apa saja. Tapi perempuan Rembang?

Politik Bapakisme

Politik kalau mau dibilang adalah urusan banyak orang. Politik adalah usaha kolektif. Soal suatu visi. Soal suatu misi. Politik dimulai dari perkara kekuasaan menjadi manusiawi. Di situ, kekuasaan yang nyaris liar harus ditundukan. Di bawah kehidupan banyak orang, politik niscaya emansipatif. Politik dengan begitu berarti bekerja untuk pembebasan.

Kiwari, politik paralel dengan dua hal; tirani dan totalitarianisme. Tirani ditunjukan dengan menyempitnya ruang berekspresi, dan totalitarianisme merujuk pada kekuasaan yang menguasai seluruh sendi kehidupan. Politik dengan wajahnya yang tiranis dan totaliter, akibatnya banyak menggusur  segala ihwal yang manusiawi. Politik malah ambivalen menjadi buldozer kebudayaan.

Kiranya kalau diomongkan, politik terlanjur lacur. Di tangan elit negara, politik berubah jorok. Di situ, egoisme jadi sulut menyebar dengki dan maki. Individualisme menjadi etika umum menggantikan kepentingan publik. Ruang publik, tempat politik berlangsung, bukannya ditunjang tindakan komunikatif dan partisipatif, malah berubah menjadi arena penyingkiran.  Politik di masa sekarang bukan wadah kebebasan diekspresikan. Dengan kekuasaan tiranis yang totaliter, orangorang disingkirkan. Yang utama adalah kekuasaan yang monolit. Di luar dari itu hanyalah ruang abuabu yang harus ditundukkan.

***

Hannah Arendt, perempuan filsuf abad 20 layak diajukan di sini. Terutama soal bagaimana politik itu diberlangsungkan. Seperti apa cara ruang publik dikelola. Dan, bagaimana kekuasaan memposisikan perbedaan.

Saya kira tesistesis Arendt masih relevan untuk diomongkan. Apalagi, situasi belakangan nampak terang memperlihatkan praktekpraktek politik yang emoh emansipatif. Belakangan, politik jadi medan yang tunggal, di mana di situ “yang lain”  hanya entitas pinggiran yang tak layak ikut andil dalam menggerakkan kebudayaan.

Saya kira semua tahu, politik Indonesia adalah sejarah penundukan. Babakan sejarah menunjukkan, pasca kemerdekaan, Indonesia jadi terma yang dipolitisir atas logika kekuasaan orde baru. Berbicara Indonesia berarti tersingkirnya  golongan tertentu dengan alasan keamanan negara. Negara dianggap aman jika dimaksudkan dengan hilanganya perbedaan pandangan. Padahal, perbedaan sumber rahmat agar bangsa dapat berkembang.

Cakrawala berpikir Arendt memandang institusi politik sekarang adalah kekuasaan yang tidak legitimate.  Horizon ini berusaha membuka tabir kekuasaan yang berdiri atas pemaksaan dan penundukan terhadap “yang lain”. Dua hal ini menyebabkan kekuasaan politik krisis kewibawaan. Di situ tak ada dalil bisa diajukan untuk melegitimasi kekuasaan. Kekuasaan macam ini, menurut Arendt adalah kekuasaan yang harus dilawan.

Perlawanan terhadap krisis kekuasaan diajukan Arendt dengan membagi tiga konsep kunci. Pembagian ini mengacu kepada suasana macam apa yang memungkinkan negara mendukung orangorang di dalamnya bisa berekspresi dengan bebas tanpa kekangan. Perspektif ini dimulai Arendt dengan merujuk kepada Polis sebagai ideal type  dalam merumuskan bagaimana politik itu diselenggarakan.

Pertama, Arendt mengemukakan techne  sebagai cara politik dikemas. Techne dalam imajinasi Yunani antik adalah suatu seni yang mirip pertunjukkan drama. Di atas panggung, setiap aktor punya cara untuk menampilkan dirinya sebagaimana orang lain menampilkan dirinya. Lewat panggung, orangorang berinteraksi demi suatu peristiwa yang dilakukan secara kolektif. Dengan model seperti ini, Arendt menolak upaya monologis yang jadi trend dalam politik. Politik bukan ucapan pribadi sang aktor, melainkan tindakan bersama orangorang.

Karena itu Arendt menjelaskan ihwal kerja (labour), karya (work) dan tindakan (action) sebagai konsep yang bakal bekerja di ruang publik sebagai ruang antara. Ruang publik disebut ruang antara karena di situ “yang privat” dan “yang publik” harus dibelah agar tidak merusak ikatan kolektif di ruang bersama. Ruang publik, dengan begitu adalah tempat tindakan partisipatif diaplikasikan dengan komunikasi sebagai penggeraknya.

Tindakan (action) akibatnya adalah usaha yang berhubungan dengan “yang lain”. Tindakan adalah upaya kerja sama dengan pluralitas. Berbeda dengan kerja (labour) dan karya (work), yang mengasumsikan ruang yang lebih pribadi. Kerja (labour) dan karya (work) hanyalah perilaku manusia dengan melibatkan diri tanpa ikatan kerjasama. Hanya tindakanlah (action), menurut Arendt sebagai aktivitas khas manusia di ruang publik. Di sana, orangorang sudah menjadi manusia yang otentik. Menurut Arendt, manusia yang otentik adalah manusia dengan tindakan yang otonom, manusia yang tidak digerakkan sentimentalisme ras, agama, maupun kelompok. Dan, Polis adalah medan publik ideal yang dikatakan Arendt.

***

Di Jakarta marak isu rasialis jelang Pilgub. Ukuranukuran normatif berpolitik malah diacu atas dasar ras dan agama. Ini malang. Politik kalau begitu justru digerakkan logika “ruang privat” yang menundukkan “yang publik”. Ahok misalnya, jadi bulanbulanan kelompok rasialis. Ini bukti betapa politik masih digerakkan oleh kepentingan “ruang privat”. Mengacu Arendt, politik macam ini bisa terjerumus ke dalam suasana tiranis dan totalitarianisme.

Bercampurnya “yang privat” dengan “yang publik” dalam politik, barangkali ditunjukkan juga di sini, di Makassar.  Rezim keluarga besar sering kali jadi patokan kesuksekan berpolitik di ruang publik. Faktor nama keluarga sebagai “yang privat” justru mendominasi “yang publik”. Makassar, begitu juga kotakota lain, akhirnya ditundukkan dengan praktek politik yang mirip orba; Bapakisme.

Bapakisme saya kira adalah terma yang mengacu kepada makna privat. “Bapak” dalam konteks orba diandaikan sebagai pusat dari keluarga. Di situ kata “Bapak” menyituasikan masyarakat sebagai anakanak yang dipimpin dengan cara seorang pemimpin keluarga. Sementara itu, dari kaca mata kebudayaan Indonesia, tidak mengikut “Bapak” berarti tindakan pembangkangan. Dan, membangkan kepada “Bapak” berarti tindakan yang harus didisiplinkan.

Malangnya, mengacu kepada sejarah Indonesia, model politik kita selalu mengikuti model yang selama ini jadi imajinasi bersama. Misalnya, selama ini “Bapak” yang diambil dari “ruang yang privat”  dipasangkan dengan terma “pembangunan” sebagai “yang publik”. Perpaduan ini saya kira contoh soal politik selalu ditundukkan dengan kepentingan privat. Ke depan bakal ada lagi istilah "Bapak ini", "Bapak itu", Lagilagi kalau "yang privat" dan "yang publik" sudah berbaur, kata Arendt adalah asal muasal dari tiranisme dan totalitarianisme.

08 April 2016

Agama Puitik Bukan Politik

Siapa sangka, agama tidak datang dari hati raja-raja bermahkota, atau orang-orang berkuasa. 

Siapa mengira agama, atau dengan kata lain wahyu, datang bukan di kalbu orang-orang yang mudah gusar.

Agama, begitu di dalam sejarah, mulai di hati orang-orang yang suka tercenung. Orang-orang yang suka tercenung mudah menerima di atas langit masih ada langit. Di atas kekuasaan masih ada kekuasaan. Kala siang menghampar diri di sabana luas dan saat malam memandang gemintang nun jauh di atas membuat orang tercenung punya hati yang mudah basah, juga air mata yang mudah jatuh.

Cuman, agama kiwari bukan agama yang kerap basah. Sekarang, agama malah bermunculan dari raut muka yang mudah gusar.

Agama, di situasi yang serba akumulatif; modal, citra, gengsi, kekuasaan— turut andil jadi kekuatan pendorong paling ampuh menyediakan dasar teologis penunjang semua bentuk akumulasi bekerja.

Max Weber, seorang sosiolog Jerman menyatakan, kapitalisme satu-satunya kiblat sejarah kemajuan saat ini, ditopang oleh iman eskatologis sebagai basis etikanya. Dengan kata lain, orang-orang boleh mengakumulasi modal sebanyak-banyaknya sebab itu terhubung langsung dengan kebahagiaan agama itu sendiri. Bahkan sampai di akhirat kelak.

Itulah sebabnya tak ada hati yang sering mudah tangis jika orang-orang berlebihan barang-barang. Agama di tengah membludaknya segala macam barang-barang, bertambahnya kendi-kendi harta, mengerasnya kekuasaan di satu pusat, juga mudahnya orang-orang ditekuk di dalam suatu simbol, datang bersamaan dengan makna agama yang lain, agama yang keras.

Agama yang keras barangkali agama yang kerap dibingkai di dalam suatu layar kaca. Di situ, Agama jadi suatu drama mencekam, suatu kekuatan dengan bahasa yang provokatif. Agama dengan nuansa provokatif malah jadi seperti suatu massa aktif yang diistilahkan sebagai crowd.

Crowd, atau lebih dikenal sebagai gerombolan, merupakan elemen abu-abu dalam suatu lapis masyarakat. Crowd bukan komunitas, bukan kelompok masyarakat, atau perhimpunan kesamaan dari tradisi dan nilai-nilai bersama, melainkan orang-orang yang tercerabut dari suatu pemahaman etis tentang kehidupan bersama. Kumpulan orang-orang yang mengalami disorientasi makna hidup.

Gerombolan karena bersifat abu-abu, adalah “kelompok” sosial yang mudah diarak berdasarkan kekuatan dominan masyarakat. Dan, agama yang provokatif, gampang saja menemukan suatu kekuatan berbasis kerumunan sebagai kekuatan penggeraknya. Akibat tiada pegangan nilai yang diacu di dalam kerumunan, crowd menjadi kekuatan destruktif berbahaya jika diarahkan kepada beragam kepentingan tertentu.

Barangkali karena agama sudah jadi crowd, dengan sendirinya melupakan agama yang puitik. Agama puitik agama yang melintasi suatu batas-batas yang tampak. Agama puitik agama yang melihat suatu yang subtil di balik permukaan bersamaan dengan cara pandang yang tidak terjebak di dalam kotak-kotak kelompok.

Agama puitik mungkin saja sama halnya dengan agama yang turun di kalbu nabi-nabi.  Prinsip yang ditemukan di kala air mata pecah di atas tanah lapang dan di bawah pikiran yang bersih. Saat itulah barangkali agama jadi pencapaian yang mencerahkan, kala agama jadi rahmat.

Alfred North Whitehead bilang bahwa agama kerap bermula dari kesunyian.  Bahkan tanpa kesunyian agama mustahil ada. Whitehead, filsuf sekaligus matematikawan ini menyebut Sidharta Gautama, misalnya, bermenung di bawah pohon bodhi dan mendapatkan pencerahan sekaligus menjadi peristiwa besar di mana karena itu lahir seorang budhis. 

Sejarah agama Ibrahimik juga diakhiri dengan permenungan di Gua Hira, bergelut dengan inti segala subtansi di dalam kesunyian paling sublim, di mana di situ bermula suatu keyakinan yang kelak di sebut Islam rahmatan lil alamin.

Agama puitik bukanlah agama layar kaca yang disertai gemuruh dan jargonjargon penuh ambisi. Agama yang dibingkai layar kaca, karena punya kekuatan berbasis kerumunan, akhirnya menjadi agama politik. Agama politik begitu mudah ditandai akibat selalu menyasar kekuasaan melalui cara massif dan massal. Di dalam imajinasi agama politik, kekuasaan dipandang sebagai medan dakwah yang paling strategis dilakukan. Akibatnya, jika dia berbicara dakwah, maka yang dimaksud dakwah tak lebih dari suatu cara untuk menggulingkan sistem kekuasaan.

Sementara agama puitik seperti sudah dibilang dari awal, adalah agama yang datang di hati orangorang yang mudah tercenung. Di situ agama bukan suarasuara sesak di sekitar kekuasaan yang dihardik, melainkan suara titimangsa yang tergenang di sanubari paling dalam, suatu suara yang mirip semacam wahyu, suatu syair. 

Agama yang bersyair barangakali adalah agama yang tidak menempatkan kebenaran sebagai sentral dan ukuran, melainkan kebermaknaan atas suatu pengalaman dan pengamalan.

Agama puitik atau agama syair, mungkin saja mirip puisi, dia tidak bersuara lantang karena yang lantang kadang jadi banal, apalagi dangkal. Karena dia mirip puisi, dia datang dan mengendap di hati orangorang yang hanif. Seperti seorang pengembala, kala siang dan malam bertabur bintang, di hatihati orangorang yang tahu di atas langit masih ada langit.

07 April 2016

pojok bunker 2

Pojok Bunker sudah bisa dibilang jadi. Kalau tidak salah kira, akhir Maret kemarin sudah ada aktivitas diskusi di situ. Sebelumnya, bukan pertemuan semacam diskusi, tapi di tempat tidak lebih dari empat meter itu hanya tempat parkiran motor. Sekarang di situ malah sudah ada agenda diskusi tiap pekan di gelar.

Pojok Bunker hanya sebuah nama tanpa maksud apaapa. Tak ada konotasi seperti sebuah visi tersemat di situ. Pojok Bunker hanya nama asal comot. Nama yang disepakati mewakili sepojok ruang. Itu saja.

Sedangkan lambang seperti rambu jalan itu juga tidak direncanakan. Ujhe membuatnya begitu saja. Kenapa mengambil lambang seperti mirip festival belok kiri, kegiatan yang dicekal itu, hanya sematamata kebetulan belaka. Jika mau lambang itu punya arti, barangkali memang karena ruangan pojok tempat mangkal itu berada di sebelah kiri ketika masuk. Dan mengapa ada bintang di situ, mungkin hanya mau mewakili suatu cita yang tak tahu apa artinya.

Merah dan kuning juga tanpa disengaja. Tak ada maksud berlebihan ketika itu dipakai sebagai warna dasar. Saat membuatnya Ujhe barangkali mengimajinasikan makna keberanian dengan warna merah, dan kuning tentu bukan karena pernah dipakai sebagai warna dominan di masa orba. Merah kuning bisa jadi dipilih karena mencolok. Bisa langsung mencuri perhatian orangorang.

Kalau ada yang sering melihat Pojok Bunker via facebook, jangan mau ditipu. Ada beberapa orang yang mengatakan keren melihatnya dari hanya fotofoto. Padahal itu cuma teknik memainkan sudut pandang belaka. Itu terpaksa dilakukan kala mau menutup keadaan yang sebenarnya. Kenyataannya, PB begitu kawankawan sering menyebutnya, lebih mirip pos ronda. Lantainya hanya beralaskan tanah. Atapnya, jangan dibilang, hanya pakai spanduk bekas. Satusatunya yang membuatnya tampak indah karena hiasanhiasan di dinding yang memakai barangbarang bekas.

Barangkali dibilang keren bukan karena tempatnya, tapi dibuat untuk apa PB itu sendiri. Mulai minggu lalu sudah dibuka kelas perdana diskusi tematik berdasar buku karangan F.Budi Hardiman, "Pemikiran-pemikiran yang Membentuk Dunia Modern". Buku yang sudah lama cetak itu dijadikan pemantik dan salah satu sumber diskusi. Jadi, sudah digilir siapasiapa yang bakal mengisi diskusi tiap pekannya. Dan, diskusinya mengikuti alur bab di dalam buku yang dimaksud. Sehingga kalau tidak demor, tiap Kamisnya kawankawan bakal bertemu diskusi kembali.

Tadi Arhi yang memulai. Dia dapat tugas bahas bab khusus Machiavelli. Saya tak perlu menyoal siapa itu Machiavelli. Yang pasti bisa dibilang diskusi tadi lumayan ramai untuk ukuran PB. Memang saya sering bilang tidak usah mengundang banyak orang datang ke PB, selain tempatnya tidak muat, mahasiswa mana yang mau kumpul diskusi di tempat yang mirip gubuk derita. Makanya, kalau sudah ada lima sampai sepuluh orang, itu sudah lumayan.

Kala Arhi bawakan materinya, saya malah di ruang tengah Bunker sedang tidur. Awalnya saya hanya rebahan sambil menunggu diskusi dimulai. Kala itu masih jam tiga. Kawankawan belum ada yang datang. Tapi, apa boleh buat walaupun sedikit panas, kipas angin yang berputarputar bikin mata jadi berat. Tak lama akhirnya saya terlelap.

Ketika bangun sudah pukul lima. Di luar suara diskusi masih berlangsung. Saya terbangun akibat Pabe yang sebelumnya membangunkan sembari memperlihatkan sekop baru yang berkilatkilat. Dia sumringah, sekop baru di tangannya berarti ada tugas yang mau dilakukan; menyekop tanah. Tanpa lama pikir, timbunan tanah setengah truk di depan PB akhirnya diratakan.

Kembali ke PB. Selama ada Pojok Bunker, aktivitas anakanak PB lebih banyak di situ. Baca buku, dengar musik, mengetik, bahkan makan berjamaah sering dilakukan di PB. Nilai positif keberadaan PB, anakanak penghuni Bunker jadi lebih giat berdiskusi, walaupun kadang sampai baku gea'. Kalau yang terakhir diskusi bukan mau cari titik temu, atau nilai kebenaran di tiap argumen, melainkan yang ada justru hanya mau membuat lawan diskusi kesal. Dan, kalau akhirnya kesal sudah pasti lawannya cekikikan ketawa mengejek.


01 April 2016

Kematian

Kematian memang peristiwa yang dahsyat. Dia membelah habis "yang ada" menjadi "tiada". Kedatangannya memutus ujung "yang ada" tanpa sisa. Kadang kematian datang menghentak pada situasi yang paling senyap, mengiris "yang ada" diamdiam. Bahkan, di sudut penuh suara, kematian bisa memukul habis "yang ada" dengan sekali tebas.

Berkat caranya itu, juga kematian akhirnya menjadi peristiwa misterius. Dia, sebuah peristiwa yang tak didugaduga. Peristiwa tak disangkasangka. Akhirnya, orangorang yang ditinggal pergi harus mafhum, kematian pada akhirnya adalah cara manusia melintas ke alam "seberang".

Kiwari, betapa banyak orangorang mati sepanjang titimangsa. Kadang akibat derita penyakit yang menggerogoti tubuh, membuatnya melapuk dan ditinggal membusuk. Kadang juga akibat jiwa tua yang tak mampu ditampung tubuh yang renta. Terlebih lagi akibat perang yang mengoyak dan membakar tubuh jadi amis. Akibatnya, banyak mata yang sembab karena tangis, juga tidak sedikit duka dibuat berkepanjangan.

Kematian dengan begitu adalah kejadian yang mendaur ulang kehidupan. Merotasi yang pergi dan yang datang, sebab di ujung kematian merupakan suatu awal bagi yang lain. Begitulah, kematian dan kelahiran adalah dua mata alam yang terus bekerja sebagai hukum abadi.

Heidegger, filsuf eksistensialis Jerman menyatakan, kematian bahkan sudah "diemban" semenjak manusia masih bayi. Bahkan kehidupan disebutnya sebagai sein-zum-tode, ada-menuju-kematian. Suatu keadaan yang tak terhindarkan dan telah tertanam di dalam kehidupan itu sendiri. Karenanya, kehidupan menjadi berarti akibat kematian yang menganga di ujung suatu titik. Kematian akibatnya adalah peristiwa alami yang membuat kehidupan itu sendiri menjadi asasi.

Artinya, semenjak tubuh manusia keluar dari alam rahim, suatu fase di mana tubuh manusia masih begitu muda, di situ sang maut, mahluk yang bersemayam di alam duka, sudah bersamanya semenjak asal. Sang kematian dengan begitu, sedari awal turut ikut menggerayangi tubuh yang tumbuh, langsung dari dasar keberadaan manusia . Di saatsaat itulah, kapan saja kematian, yang identik dengan maut itu, bisa datang memisah tubuh dari jiwa dari dalam. Merampasnya dari segala macam ikatan.

Itulah sebabnya, hidup akhirnya jadi sesuatu yang berharga. Suatu keadaan di mana manusia harus menaruh mawas terhadap kematian. Heidegger bilang, hanya manusialah yang mengalami kematian. Karenanya, kematian satusatunya penanda otentik, keaslian, seseorang. Sebab, yang lain -entah hewan juga tetumbuhan, atau seluruh keberadaan selain manusia hanya bisa mengalami kepunahan. Kematian, yang khas manusiawi hanya kepunyaan manusia itu sendiri. Dan, karena keberadaan manusia sejak asal sudah dibayangbayangi kematian, maka tiada lain suatu cara harus ditempuh untuk menyambutnya; kecemasan.

Kecemasanlah suatu sikap yang membuat manusia akhirnya mesti bertindak memasuki genangan paling dasar dalam keberadaannya. Di situ dia akan bercengkrama dengan suatu pemikiran bahwa titik akhir adalah suatu fenomena yang samarsamar di ujung sana, sesuatu yang tak didugaduga keberadaannya. Kematian, karena sudah dimulai semenjak kelahiran itu sendiri, akhirnya bukan suatu titik akhir, melainkan rentang panjang manusia dalam waktu untuk menyambanginya. Di saat menyambut kematian itulah, yang tidak disangkasangka kapan terjadi, kecemasan membuat manusia menjadi sadar, bahwa berpikir tentang kematian pada akhirnya memikirkan kehidupan itu sendiri.

Akibatnya, kematian dengan begitu adalah peristiwa kehidupan manusia dalam kecemasan masingmasing. Itulah mengapa, kematian menjadi tanda keontentikan manusia. Peristiwa kematian, bukan peristiswa yang bisa disematkan kepada orang lain. Kematian, kejadian yang membelah tubuh dan jiwa itu, adalah peristiwa paling sunyi di dalam kecemasan seorang belaka, suatu peristiwa pribadi. Dia adalah satusatunya tindakan manusia di tengah alam kesendirian. Suatu laku keontentikan.

Maka siapa yang bisa menolak kematian jika itu tanda keaslian manusia. Seperti saat manusia datang dengan tubuh yang mungil dari alam kesendirian, kematian adalah cara hidup manusia menuju kesendirian yang asli, saat dia mencapai batas antara yang ada dengan yang tiada.

Tapi malang, kadang kematian dibuat jadi tidak khidmat. Kematian dengan cara begitu adalah kematian yang dipaksakan. Kematian yang terpaksa dan dipaksa, akibat seringkali dibuat antikemanusiaan dengan beragam pseudo ismeisme. Atas nama negara, ideologi, juga agama, kematian yang kerap ditampakkan dengan cara bom bunuh diri, perang, penyerangan, juga pengrusakan, jadi peristiwa yang bengis juga sadis. Khidmat yang menjadi esensi kematian itu sendiri, akhirnya berubah jadi peristiwa teror yang menyulut horor.

Kematian yang tidak dilalui dengan suatu sikap mawas tapi justru dengan cara destruktif pada akhirnya hanyalah cara manusia yang tidak otentik. Walaupun di situ, di balik kematian ada suatu dunia yang begitu kuat menarik seluruh totalitas kesadaran manusia, dan karenanya mendorong manusia untuk melakukan peristiwa mati, itu bukanlah sikap manusia otentik menurut Heidegger. Manusia otentik, berdasarkan horison pemikiran filsuf kekasih gelap Hannah Arendt ini adalah manusia yang selalu mawas menjalani keseharian sembari berharap atas suatu arti di dalam kehidupan itu sendiri, sebagai cara dia merawat kehidupan.

Barangkali, karena kematian begitu dahsyat, tak ada bahasa yang bisa mengucapkannya dengan baik. Kematian yang sunyi sekaligus khidmat, barangkali adalah kematian yang tak disertai bahasa. Dia terjadi saat percakapan begitu musykil, saat tatapan manusia berhenti saling silang, saat jiwajiwa dalam keadaan paling tenang, di suatu malam ketika tubuh mulai rebah tanpa digubah tangisan. Saat dia terjadi pada suatu momen tanpa orangorang tahu. Ketika dia datang bersamaan dengan jemari yang mulai dingin, dan tengkuk leher yang berubah sejuk. Saat di atas bubungan hanya putih berkilatkilat, di saat kepala tegak, juga ubunubun yang melunak. Ketika itu, kematian jadi peristiwa paling manusiawi, jadi kejadian paling sepi dalam senyap.

Syahdan, kematian akhirnya pasti datangnya. Dia memisah "yang pergi" dengan "yang tertinggaĺ". Membelah "yang ada" dengan "yang tiada". Karenanya, "yang tertinggal" pasti merasa sedih juga sakit. Membuat luka lebar akibat disayat perpisahan. Namun, "yang pergi" bersama kematian selalu menjadi pengingat, bersama kecemasan dan "yang tertinggal", hidup harus dibuat berarti. Hidup harus dibuat lebih mawas. Hidup karena itu adalah suatu bulatan sekali melingkar tanpa bisa bergerak pulang. Dengan kata lain, seperti kata syair yang diulangulang itu; "sekali berarti setelah itu mati."

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...