19 March 2018

Menjelang Indonesia melalui Trumbo

Eike lumayan tercengang mendengar Partai Berkarya mendeklarasikan Tommy Soeharto sebagai calon presiden RI di perhelatan pemilu nanti (walaupun sudah eike duga sebelumnya). Selain, masih membawa bau amis partai bekas orde baru, partai yang menggunakan warna utama kuning itu, dengan terang-terangan tanpa dosa berani mereplika nama dan logo partai seperti partai “induknya.”  Ini indikator ada keinginan mengembalikan tatanan kekuasaan kepada trah penguasa tiga dekade itu dengan memanfaatkan memori bangsa Indonesia yang dikatakan pendek.

Dengan kata lain, tak dinyana orde baru masih tilas di memori kebanyakan orang-orang Indonesia. Buktinya, pertama, seperti ungkapan ketua umumnya, hanya butuh satu setengah tahun saja membangung partai ini dari Sabang hingga ujung Papua. Kedua, cukup menggunakan warna kuning familiar, logo pohon beringin yang kokoh berakar gantung, serta nama pamungkas Soeharto sebagai tiga “mantra” untuk menyihir, maka daya magisnya dianggap mampu menciptakan kembali kehidupan yang sering diringkas melalui kalimat mengejek, ini yang ketiga: Gimana enak to zamanku?

Bangsat, betul!

Tapi tidak bangsat-bangsat juga, karena warisan partai orde baru itu sebelumnya banyak berkecambah menumbuhkan partai-partai yang sebelas dua belas dengannya.

Jika sejarah Indonesia dilihat kembali, salah satu momen krusial yang mengawali naik dan berkuasanya penguasa orde baru ke gelanggang politik Indonesia tiada lain jatuh di tanggal 11 maret kemarin: surat perintah sebelas Maret (SUPERSEMAR). Satu-satunya “surat sakti” di dunia secara de facto yang memberikan dasar kekuatan suatu pemerintahan dapat berkuasa bertahun-tahun lamanya. Betul-betul surat super!

Mengingat momen dan peristiwa kelam yang muncul pasca kejadian itu, terutama  dari lini kebudayaan Indonesia banyak mengalami kekerasan kultural, film Trumbo menurut eike cocok menjadi cermin melihat Indonesia di masa-masa awal ia berdiri hingga sekarang.

Film ini berkisah tentang kehidupan seorang penulis skenario bernama Dalton Trumbo yang dicekal akibat paham politik komunis yang dianutnya. Di era tahun 1930an, banyak warga Amerika yang bergabung ke dalam Partai Komunis Amerika, terutama ketika menguatnya fasisme dan depresi besar yang dihadapi Amerika. Pasca bersekutu dengan Uni Soviet, selepas perang dingin, cuaca perpolitikan Amerika berubah drastis. Warga negara Amerika yang berhaluan komunis dilarang dan dianggap pro Uni Soviet. Termasuk Dalton Trumbo sebagai seorang komunis penulis, dikucilkan dari komunitas perfilman. Namanya masuk daftar hitam. Karya-karyanya dilarang tayang di seluruh bioskop Amerika, banyak rumah-rumah produksi enggan menggarap naskah-naskahnya. Ia bahkan diadili di depan Kongres Amerika, dan akhirnya di penjara.  Praktis setelah itu, Hollywood nyaris tidak pernah menyebut lagi namanya.

Tapi, Trumbo dengan keluarga yang diterpa pengucilan dan dikhianati sahabatnya tidak habis pikiran. Pasca keluar dari penjara, ia “melawan” kebijakan pemerintah Amerika dengan banyak menulis naskah film. Menggunakan banyak nama samaran dua kali filmnya memenangkan dua piala Oscar. Dunia perfilman gempar. Sampai akhirnya film Spartacus yang ditulisnya berani mencantumkan namanya. Melalui pidatonya, Trumbo membuka mata setiap orang:  pembungkaman adalah masa kegelapan yang hanya meninggalkan luka dan kehancuran.

Sejak menyadari inti film ini, eike mengingat dua nama: Indonesia dan Wijaya Herlambang. Melalui nama yang pertama, eike menyadari tidak ada perbedaan strategi kekuasaan diambil pemerintah Amerika di dalam mengekslusi dan mengarantina komunisme seperti yang pernah dialami Indonesia. Melalu dunia perfilman, secara kebudayaan, imajinasi masyarakat Indonesia dibentuk berdasarkan tafsir sejarah yang dikehendaki kekuasaan rezim orde baru.

Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film adalah hasil riset yang ditulis nama yang kedua. Ingatan eike kepada Wijaya Herlambang dengan kata lain melalui bukunya telah memberikan perangkat teoritis tentang apa yang terjadi selama tiga dekade di medan kebudayaan Indonesia.

Yang menarik dari buku Wijaya Herlambang adalah pendapatnya tentang tiada kekerasan fisik sebelum terjadi kekerasan budaya. Kekerasan fisik dalam hal ini hanyalah akibat dari kekerasan budaya yang menjadi dasar legitimnya. Dengan kata lain, ketika terjadi praktik-praktik kekerasan fisik, sudah sebelumnya mengalami kekerasan budaya yang bersifat epistemik dan paradigmatik.

Tesis ini lebih terang dikemukakan Herlambang melalui sejarah orba di Indonesia. Pertanyaan mendasar yang diajukan riset disertasinya ini adalah mengapa selama orde baru berkuasa, pengucilan, kekerasan, pembunuhan massal begitu massif dilakukan atas nama negara? Apa yang mendorong sehingga seolah-olah semua perbuatan itu nampak lazim dan tidak diiringi rasa bersalah sama sekali?Apakah ada perangkat-perangkat negara yang menjadi “kaki tangan” memberikan dasar pembenaran bagi segala kekerasan yang terjadi?

Film. Ya, melalui film-lah orba “mengedukasi” rakyat Indonesia. Sama persis seperti jalan cerita Trumbo. Pertama-tama, masyarakat diyakinkan sedang “berperang” dengan musuh negara yakni komunisme sebagai “setannya.” Kedua, dimulailah identifikasi orang-orang yang sudah kemasukan “setan” komunisme. Dan yang ketiga, penguasaan alat-alat siar negara dengan menyingkirkan karya-karya film penulis-penulis komunis. Satu-satunya yang membedakannya dengan Trumbo (Amerika),  di Indonesia sampai dibuat film tentang komunisme versi kekuasaan hingga menimbulkan aksi bunuh-bunuhan massal.

Dengan kata lain, kekerasan budaya yang terjadi di Amerika memiliki pola hampir sama dengan Indonesia, walaupun kedalaman dan skalanya jauh lebih besar terjadi di Indonesia.

Selain film, semasa orde baru, sastra juga menjadi alat legitim kekerasan budaya. Narasi anti komunisme tidak saja divisualisasikan melalui film, tapi juga dibantu sastra untuk mengimajinasikan kebudayaan Indonesia tanpa komunisme. Herlambang, bahkan sampai mengidentifikasi seniman, sastrawan-sastrawan dan lembaga-lembaga sastra yang berperan mengambil bagian dari skenario berujung penyingkiran sastra beraliran kiri.

Melalui narasi anti komunisme di lini sastra, memberikan efek signifikan bagi terbuka lebarnya panggung orde baru di dalam membentuk cara pandang kebudayaan masyarakat. Hilangnya wawasan komunisme sebagai narasi tanding, mau tidak mau memberikan ruang besar bagi kapitalisme bertungkus lumus di tanah pertiwi.

Baik dalam kisah Trumbo dan sejarah kebudayaan Indonesia, sama-sama dapat diafirmasi melalui analisis Louis Althusser, seorang filsuf marxis, tentang cara negara memanfaatkan perangkat-perangkat kenegaraan melangsungkan kekerasannya. Althusser membagi dua jenis aparatus yang ia sebut repressive state apparatus (RSA) dan ideological state apparatus (ISA) yang berfungsi menjadi model negara mengatur kesadaran warga negara.

RSA merupakan manifes negara yang melalukan kekerasan di ranah publik melalui aparat bersenjata, organisasi, penjara, atau birokrasi untuk menguasai masyarakat. Menurut perspektif marxian, RSA dapat bekerja akibat ISA yang lebih bersifat imajinari dan paradigmatik. Perbedaan di antara keduanya, ISA merupakan kekerasan yang berlaku di ranah privat melalui keluarga, agama, pendidikan, atau bahkan kebudayaan yang terjadi secara halus, simbolik, dan berulang.

Film, sastra, musik, bahkan logo dan simbol tertentu melalui analisis di atas merupakan alat negara yang berperan sampai ke ruang privat sebagai ideological state apparatus. Melalui perangkat-perangkat kebudayaan inilah negara memanipulasi kesadaran masyarakat. Jika di ruang privat kekerasan berlangsung halus, di ranah publik kekerasan malah berlangsung terang-terangan. Dua ranah ini bahkan saling bergantian menentukan yang mana lebih dominan sebagai dasar saat negara mendapatkan resistensi. Jika resistensi terjadi di ranah privat, maka RSA yang banyak berperan lama di ranah publik. Atau sebaliknya, jika resistensi banyak dialami di ranah publik, maka ISA lebih menentukan untuk meredam secara ideologis melalui ranah privat.

Di masa orde baru, dua aparatus dikerjakan sekaligus secara simultan. Dengan kata lain, kekerasan melalui intimidasi, penghilangan lapangan pekerjaan, karantina sosial hingga pembunuhan dapat terjadi akibat secara imajinari telah terjadi program cuci otak melalui lembaga-lembaga negara. Ini juga yang dapat menjelaskan mengapa dapat terjadi gerakan bersama secara massif dari warga negara sendiri untuk mengambil alih tindakan kekerasan tanpa mesti negara turun tangan langsung. Hal ini disebabkan karena secara paradigmatik, telah terjadi kekerasan yang dilakukan melalui ideological state aparratus yang dimiliki negara.

ISA dan RSA di dua ranah, baik privat maupun publik dari yang terjadi di Indonesia dengan kata lain menyebabkan kekerasan yang saling melegitim. Kekerasan di ranah publik (penggunaan aparat bersenjata, pembunuhan) melegitim pembungkaman di ranah privat (keluarga, sekolah), sebaliknya, kekerasan di ranah privat menyebabkan terjadinya pembungkaman di ranah publik (masyarakat, negara). Secara simultan di dua ranah inilah, warga negara banyak mengalami kekerasan baik kultural maupun struktural.

Trumbo, bagi eike, sedikit banyak menceritakan apa yang sudah terjadi di Indonesia dan yang telah diliterasikan Wijaya Herlambang. Walaupun ada perbedaan mendasar di antara keduanya dari sisi korban kekerasan. Di Indonesia dua jenis kekerasan berlangsung secara bersamaan, massif, dan terang-terangan didukung oleh negara. Bahkan kekerasan yang terjadi dianggap sebagai bagian dari perjuangan bela negara sehingga para pelakunya tidak merasa bersalah sama sekali.

Malangnya, kekerasan itu masih terus berlangsung hingga sekarang. Anehnya, seiring dengan narasi anti komunisme (dan juga anti cina) yang belakangan dihidupkan kembali, muncul partai ber-KTP orde baru.

Sepanjang cerita, Dalton Trumbo bersama rekan-rekannya banyak melakukan upaya untuk memberikan dasar rasional atas pilihan politiknya, walaupun tetap saja dia kalah “suara” ketika sidang kongres berhadapan dengan negara. Sahabatnya yang lain akhirnya harus “membuka suara” sehingga dia dikhianati dan dipenjara. Kisah Trumbo adalah kisah gunung es, dia hanyalah satu di antara banyak orang yang mengalami kekerasan atas nama anti komunisme di Amerika.

Di Indonesia, tokoh itu bukan Trumbo, melainkan setiap warga negara yang diberlakukan semena-semena. Sampai hari ini, kekerasan yang dilakukan di dua ranah begitu terang dilakukan oleh negara. Malah, bukan saja negara, tanpa digerakkan banyak kelompok-kelompok yang otomatis melakukan tindak kekerasan akibat program cuci otak yang dilakukan orde baru. Walaupun sebenarnya kelompok-kelompok ini melawan prasangkanya sendiri.

Di akhir pidatonya Trumbo mengatakan: ketika Anda melihat kembali ke masa kegelapan, baik sekarang atau juga nanti, tidak ada gunanya mencari pahlawan atau musuh. Mereka tak ada. Yang ada hanyalah korban. Korban, masing-masing dari kita yang merasa terdorong mengatakan dan melakukan hal-hal yang sebaliknya tidak kita lakukan untuk memberi dan menerima kepedihan yang sesungguhnya tak ingin kita tukar…  Ya, Trumbo benar. Tidak ada gunanya mencari pahlawan atau juga musuh. Semuanya adalah korban.

---

*Terbit sebelumnya di Kalaliterasi.com