Kamis, 26 Oktober 2017

Sadrak yang berkeinginan Poligami

Gantungan baju jemuran Sadrak ditiup-tiup angin. Melambai-lambai. Bergoyang-goyang. Sudah kering.

Mirip bendera yang lupa diturunkan penggereknya. Dari pagi baju itu tergantung begitu saja. Bukan saja baju, tapi ada juga celana dengan motif batik yang barangkali dibeli di pasar malam. Di dekat sini memang sering digelar pasar malam. Pasar untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Murah. Meriah. Dari baju anak-anak, sampai baju dalam orang dewasa. Kadang bukan saja pasar malam. Kemeriahannya juga berasal dari pelbagai jenis mainan semisal komedi putar, tong setan, atau juga kereta-keretaan untuk anak-anak balita.

Semalam kabar duka datang dari kampung Murti. Seseorang mungkin mati ditimpa tanah longsor. Atau mati diserang sekawanan anjing gila, atau mati setelah salah meminum obat diare. Atau bisa saja mati setelah mengidap penyakit tertentu. Entahlah. Pokoknya ada seseorang yang mati nun jauh di sana. Perempuan itu tiba-tiba jatuh tersungkur di atas lantai tak kuat menahan berat badannya. Tungkai kakinya menjadi lemas. Seperti bambu kering yang patah karena tak kuat menahan beban di atasnya. Dia terisak. Menangis. Dia tidak lagi menghiraukan orang yang mengabarinya di seberang telepon. Dunia serasa berbeda seratus persen.

Murti anak tetangga Sadrak masuk menyelonong. Melihat-lihat seisi ruangan yang baru saja ditempati Sadrak. Murti mengambil apa saja yang dilihatnya. Mulai dari tas, kunci motor, pembalut, jam weker, botol minuman, handphone, apa saja yang bisa dijangkau tangan kecilnya. Untuk anak sekecil Murti, ia tergolong anak yang aktif. Mulutnya tidak pernah berhenti bertanya. Kata tetangga Sadrak, Murti seperti orang tua. Cerewet.

Di depan rumah Sadrak sedang berlangsung persiapan pesta perkawinan. Dari kemarin pagi sudah berdiri tenda dengan hiasan bergelantungan mirip rumbai berwarna emas. Seketika mulai banyak orang berdatangan, terutama ibu-ibu berusia setengah abad. Masing-masing di antara mereka membawa pisau dapur. Eike menduga mereka akan melakukan hal-hal yang jarang dilakukan suami mereka. Mengupas bawang sembari menahan air mata dan cairan yang mulai  menyerang di kedua lubang hidung, terisak-isak mengupas kentang yang hangat-hangat kuku, beserta menumbuk-numbuk cabai merah yang membutuhkan otot tangan dan pundak di atas kemampuan rata-rata tidak seperti ketika mencabut bulu ayam kampung yang mirip tubuh mayat berwarna putih.

Dan masih banyak hal-hal seperti di atas yang mereka lakukan sembari tertawa-tawa membicarakan anak tetangga yang saban hari berasyik masyuk whatsapp-an dengan perempuan yang tak kunjung dinikahinya.

Hingga sore hari berjejeran kursi-kursi yang mengambil sebagian bahu jalan. Ibu-ibu yang bekerja dari pagi sudah pulang dan datang dengan baju yang sudah berganti. Kini muka mereka tak sepolos sebelumnya. Dan anak-anak dengan bersongkok haji juga berkerumun di sudut sambil melirik-lirik siapa saja yang sudah datang.

Namun, hari ini Sadrak galau. Pusing tujuh keliling. Cintanya tidak berujung bahagia. Ternyata Wati lebih setia kepada suaminya. Berakhir sudah cinta gelap mereka. Selingkuh tiada akhir, hanya semboyan kosong. Berakhir. Titik. 

“Asu!”

“Ya, mau bagaimana lagi?”

“Tapi…”

“Tapi, apa he!?

Begitulah jika dingat-ingat akhir pertengkaran mereka. Tidak di warung bakso, kala itu terjadi di tempat laundry. Sadrak kehabisan kata-kata. Wati mengeluarkan jurus terakhirnya:

“Poligami! Bangsat kamu ya!”

Kata itulah yang bikin Sadrak kagok. Tenggorokannya kemasukan pasir. Masuk menyerang lambungnya. Perut dan jakun Sadrak kembang kempis. Tak ada ludah dia telan.

Seandainya Sadrak tidak terlibat kelompok pengajian ustad Ilham, bisa jadi lain soal.

Belakangan Sadrak rajin mengikuti pengajian. Setiap akhir pekan dia rela tidak mengapel Wati diam-diam demi mengikuti ceramah ustad Ilham. Sampai suatu waktu, Sadrak mulai serius belajar agama.

“Gimana Ti, sudah belum?”

“Sabar aja dulu, pelan-pelan.”

“Kamu tahu sendiri kan, risikonya.”

“Iya…iya. Sabar dikit aja.”

Wati membenarkan jilbabnya setelah memoles bibirnya dengan lipstik berwarna merah hati.

Begitulah usaha mereka agar keluar dari cinta gelap yang mereka jalani. Perbincangan demi perbincangan. Wati siap cerai dari suaminya. Sadrak bahagia.

Hanya saja belum apa-apa, Sadrak kepingin berpoligami.

“Bangsat kamu ya! Belum apa-apa minta poligami!”

“Kan saya hanya tanya, Ti?”

“Alaah… Bajingan kamu, ya!”

Wati pergi meninggalkan Sadrak. Sendirian. Sadrak tidak menduga, ketika ia iseng bertanya tentang poligami kepada Wati,  malah Wati berubah seperti mengunyah cabai merah.

***

Sadrak semakin galau, pesta perkawinannya tinggal menunggu beberapa jam saja. Para undangan sudah mulai berdatangan. Bunyi musik mulai mengalun-alun di ujung gang yang untuk sementara ditutup. Biduan yang setengah baya itu melenggak-lenggok di atas panggung mini. Mata bapak-bapak jelalatan.

Murti dan ibunya juga datang. Mereka berdua nampak serasi dengan gaun berwarna hijau daun mangga muda. Tidak lama setelah itu mobil Pajero berwarna putih nampak membuat macet di ujung gang. Orang-orang dibikin kagok. Tidak lama turun seorang pria berjubah putih dengan diikuti tiga perempuan di belakangnya. Orang-orang berkerumun menyalaminya.

Tepat pria itu disalami seorang pemuda yang baru saja habis selfie dengan sang ustad, di dalam kamar bunyi notifikasi WA Sadrak berbunyi.

“Bangsat betul kau ya! Menikah juga kau!”

Belum sempat kesadaran Sadrak menangkap maksud pesan itu, datang lagi pesan kedua.

“Bajingan! Dasar buaya, makan tu perempuan! Kita putus. Laki-laki brengsek!”

Tertera nama Wati di situ.

Sadrak pangling, rencana poligaminya gagal. Sementara di ujung gang, sang biduan melenggak lenggok mirip ular kepanasan di atas panggung.

Tidak ada komentar: