27 August 2017

Sadrak dan Bunyi Terakhir

Burung-burung malam menghinggapi pohon mangga dan berbunyi bersamaan ketika Sadrak memukul tiang listrik sebanyak 12 kali. Tung…tung…tung. Dentumannya menggema hingga di ujung rumput-rumput, masuk ke dalam tanah, dan hilang di dasar kerak bumi. Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Rembulan terang menyala, tapi tidak panas. Sadrak menguap.

Bunyi burung-burung malam merambat masuk ke dalam diri Sadrak. Menggema dan bedebam sampai ke jantungnya, memompa darah hingga ke ujung jari kakinya. Itu adalah puisi. Bunyi-bunyian itu mengalir memenuhi imajinasi Sadrak dan berubah seketika menjadi sajak. Bukan saja bunyi-bunyian, melainkan juga garis-garis yang ia lihat di tiang listrik, pohon mangga, tepi comberan, sebilah kayu yang dipegangnya, lekuk gunung-gunung, garis-garis awan, apa saja yang ia saksikan adalah puisi.

Sadrak menghisap rokoknya. Asapnya ia lihat seperti puisi. Meliuk-liuk, mengembang dan menjelma menjadi zat kasat mata menyatu dengan kosmik. Ia hirup puisinya dalam-dalam. Ditelannya melalui hidung dan dikeluarkannya kembali.

Seperti malam-malam lain, Sadrak berkeliling kompleks. Mengayuh sepedanya menyusuri gang-gang kecil, tidak lupa sesekali dia mengarahkan senternya ke sudut-sudut tertentu jika ada bunyi yang mengundang perhatian.

Setiap satu jam sekali dia bakal memukul tiang listrik. Tung. Kali ini cukup satu kali. Sudah pukul satu malam.

Bunyi itu adalah puisi. Kelabat sinar menyeruak di dalam kepalanya. Bunyi itu disimpannya baik-baik dalam hatinya. Terbetik sebuah pengertian dari itu.

Tergesa-gesa Sadrak mengayuh sepedanya menuju pos tempatnya berjaga-jaga. Sebuah buku kusam dikeluarkannya secepat bunyi kepakan sayap kalong saat hinggap di pohon kapuk sebelahnya. Menulis ia tiga bait. Itu adalah sajak dari bunyi tiang yang ia bikin sendiri.

Sebenarnya itu adalah peristiwa langka. Tidak semua bunyi akan berubah menjadi sajak di tangan Sadrak. Tapi bunyi tung sekali itu berbeda, bunyi yang mengandung pengertian asal. Suatu permulaan. Seumur-umurnya, Sadrak baru melahirkan tujuh puisi.

Selama ini ramuan sajaknya adalah kombinasi aneh bunyi-bunyian semisal suara kuntilanak yang pernah didengarnya di kebun kacang tempat ia sering lewat bersamaan dengan suara perutnya yang mulas akibat takut, suara desahan senggama pengantin baru dari rumah kos yang ia lewati di suatu malam Natal dengan bunyi lolongan anjing di ujung gang, atau bunyi kapuk yang jatuh menimpa seng pos ronda yang membuatnya kaget becampur suara semilir angin malam yang membuatnya mengantuk. Bahkan ada puisi Sadrak yang dilahirkan dari bunyi mekar bunga-bunga liar dan suara lebah kala ia pulang meronda di pagi yang perawan.

Begitulah cara Sadrak melahirkan puisinya. Seperti wangsit. Kebanyakan dari bunyi-bunyi yang diresapinya, kadang bersamaan dengan lekuk-lekuk garis dalam kegelapan yang ia alami ketika berkeliling di waktu malam.

Buku catatan puisinya itu ia selipkan kembali di balik punggungnya. Kembali ia duduk terkesiap di malam buta. Puisi adalah hidupnya.

Sebagai seorang penjaga keamanan, puisi-puisi Sadrak tidak pernah lahir selain malam hari. Hanya di waktu itulah ia seringkali melahirkan sajak-sajaknya.

Di pagi hari, sehari-hari Sadrak menjadi seorang terpelajar. Ya, seorang terpelajar dalam arti sesungguhnya. Dimulai dari jam delapan setelah memberi makan ayam-ayamnya, dia bersepeda jauh menuju kota membaca buku apa saja di perpustakaan. Jika melihat daftar peminjam buku perpustakaan, nama Sadrak bersaing dengan nama seorang mahasiswa yang sering meminjam buku. Kadang, dia menjadi perhatian kalau berlama-lama duduk membaca sampai siang hari. Setelah itu dia pulang, melihat ayam-ayamnya. Tidur sebentar untuk waktu malam. Berkeliling meronda, lagi.

Sesekali juga Sadrak ikut berkerumun dalam perhelatan acara sastra, mendengarkan penyair-penyair dan mahasiswa yang sedang naik daun dan sering mengirim puisinya di koran harian.

Di waktu itu puisi yang didengarkan Sadrak bukanlah apa-apa dibanding puisinya. Puisi-puisi yang kerap didengarnya seperti kalimat basi, cenderung kaku, miskin pengalaman, kurang reflektif, minus pembatinan, tidak ada keinsafan. Namun, hal itu hanya diri Sadrak yang tahu. Puisinya tidak untuk dibacakan di depan umum. Bukan untuk dibanding-bandingkan.

Tung..tung..tung. Pukul 3 pagi. Di posnya Sadrak masih jua duduk tepekur. Dia keluarkan kembali buku catatannya. Hening. Tapi kali ini tak ada sajak ditulisnya.

Namun, pulang ia menuju pembaringannya, bersamaan dengan benda-benda yang menyimpan sembunyi bunyi terakhir.