Kamis, 17 Agustus 2017

Sadrak dan Bentor Barunya

Sudah lama Sadrak mengidam-idamkan sebuah bentor seperti seorang perempuan bermulut sumbing menunggu keajaiban agar mulutnya bisa kembali normal. Bentor adalah mukjizat. Seperti ikan tuna bagi nelayan yang memancing tanpa umpan di siang hari. Atau seperti seorang petapa yang mengharapkan wangsit dari semedinya. Seperti Sidharta Gautama, atau mungkin Nabi Yunus.

Bentor adalah berkah. Seonggok besi yang bisa mengubah hidup Sadrak. Untuk itu ia rela melakukan apa saja asalkan di hari-hari tuanya dia bisa menunggangi kuda besi dengan sepotong kotak di depannya itu.

Hampir seumur hidupnya Sadrak menarik becak. Tulang-tulang di kakinya sudah sekeras beton jalan layang. Urat-urat betisnya lebih tampak seperti akar-akar pohon beringin. Wajahnya coklat legam seperti keluar dari medan perang. Keriput di wajahnya sudah seperti banyak menyaksikan peristiwa kehidupan. Tapi sayang, mulutnya sumbing. Ya, sumbing, seperti seorang wanita yang menunggu keajaiban. Seperti pantat ayam yang kurang sempurna. Sadrak sering memaki.

Sadrak suka merasa kalah bersaing dengan para bedebah itu; tukang bentor yang sering memutar musik dangdut keras-keras di ujung lorong. Tidak pagi tidak sore, seharian memutar musik dangdut sambil bersiul-siul girang. Kadang kala sambil mengelap dinding bentornya. Apalagi, para bedebah itu semakin pintar saja; mengecat kotak penumpang dengan warna-warna yang menarik. Bahkan ada yang sampai memasang gambar-gambar wajah pria asal Korea. Semua yang dilakukan itu apalagi kalau bukan demi memancing calon penumpang yang rata-rata anak-anak SMA di kecamatannya itu.

Memang becak yang sudah dikayuhnya selama sisa hidupnya sudah lapuk. Kayu-kayunya banyak yang mengering. Besi yang menjadi rangkanya malah berkarat. Bannya gundul. Gabus dudukan penumpang bahkan kadang menusuk-nusuk punggung penumpangnya. Pernya sudah banyak kendor.

Becaknya memang lebih tampak seperti karya seni klasik tentang alat transporatasi yang dipajang di pagelaran- pagelaran seni di Yogyakarta. Klasik tapi murni tanpa sentuhan apa pun. Asli diciptakan dari kehidupan yang mampus.

“Asu!”

Mulut Sadrak mengumpat ketika dia hendak mendorong becaknya dari bawah pohon tempatnya berteduh. Ketika itu dia kalah gesit dari pengendara bentor yang seketika entah muncul dari mana. Penumpangnya anak SMA.

Kejadian itu memang sering dialami Sadrak. Itulah sebabnya, dia berkeinginan mengendarai bentor. Mengganti becaknya dengan motor yang dipermak jadi becak bermesin. Hanya dengan sekali duduk tanpa harus mengayuh. “Berkilo-kilo meter saya pasti kuat,” pikirnya.

Kali ini sembari mengayuh dan membawa seorang nenek Tionghoa langganannya, benaknya melayang-layang kepada bentor impiannya. Motor bermerek Honda, dengan mesin 100 cc, atap-atap yang kokoh dengan plat besi yang licin. Ban motor yang tebal tanpa harus menghindar ketika menghadapi jalan yang berkerikil. Dan tentu saja, dia dapat dengan mudah melenggangkan kakiknya begitu saja tanpa capek-capek mengayuh.

Begitulah Sadrak seringkali melambungkan khayalannya. Ketika sering berpapasan dengan para pengemudi bentor mulutnya yang sumbing selalu mengucapkan makian khasnya: “Asu”. Tapi, para pengemudi bentor justru menganggap itu lelucon. “Asu” malah menjadi “Hasfu” di mulut Sadrak. Tidak ada artinya sama sekali.

Walaupun begitu Sadrak dapat juga bertahan. Langganannya yang sering kali adalah orang-orang tua lebih memilih becak Sadrak dibanding pengemudi bentor yang seenak udel cara mengendaranya. Mungkin becak sama bermaknanya bagi masa-masa muda para orang tua langganan Sadrak. Tapi sial bagi Sadrak, itu juga berarti pendapatannya tidak naik-naik. Orang-orang tua itu menganggap zaman seperti jalan di tempat. Tarif becak masih sama seperti sepuluh atau duapuluh tahun lalu.

Itulah alasan kedua Sadrak berkeinginan mengganti becaknya menjadi bentor. Berganti bentor berarti berganti penumpang. Lebih kekinian. Juga terhadap pendapatanya. Bentor adalah mukjizat bagi hidupnya. Di hari tuanya ia ingin lebih banyak beristirahat dari mengayuh becak. Bentor adalah pilihan yang paling pas.

Namun, mukjizat berubah seketika menjadi bencana baru. Itu terjadi dua bulan setelah Sadrak bernegosiasi dengan nenek Tionghoa yang memberikannya motor butut Honda dengan cara mencicil dari hasil pendapatannya. Belum lama dia mempermak motornya menjadi bentor, dia mendengar cerita dari teman-teman barunya tentang datangnya pesaing baru yang lebih gesit dan menguntungkan.

“Langganan-langganan kita banyak berkurang,” keluh pengemudi bentor.

“Mereka juga pake hape segala mencari penumpang, Anjing!”

“Iya, Anjing!”

Sadrak mendengarnya sembari mengecek ban motornya.

“Asu!” Umpat Sadrak tiba-tiba.

Belum lama dia berganti Bentor datang lagi ojek online.

“Asu!” Sekali lagi Sadrak mengumpat ke udara sambil menendang bentornya. Mampus sudah hari tuanya.

3 komentar:

bahrul amsal mengatakan...

https://alhegoria.blogspot.co.id/2017/03/saga-di-balik-athena.html

bahrul amsal mengatakan...

https://alhegoria.blogspot.co.id/2015/12/omongomong-soal-filsafat.html

bahrul amsal mengatakan...

https://alhegoria.blogspot.co.id/2017/08/sekali-lagi-filsafat-itu-bercakap-cakap.html?showComment=1503023142345#c7054313162510716392