Thursday, May 11, 2017 in

Malam Pengakhiran dan Puisi Lainnya

Malam Pengakhiran

Malam ini, datang sudah pengakhiran
Ketika pintu masih terbuka, dan kau
masih belum beranjak tidur
sementara di pinggulmu seperti
diikat batu yang dipikul Sisifus
mendaki di bawah bukit, tak
sekalipun kau membuka bibir
untuk ucapkan nasib yang dipanggul
pundak yang kerap digumuli lapuk
dimakan dipan yang di situ melekat
bau sisa-sisa tubuh kita berdua
sementara belum tawar air yang
keluar dari ceruk bibir aku dan
kamu, aku hanya membuatnya menjadi
seolah kata-kata yang ingin mengubah guratan
menjadi suratan

---

Puisi tanpa Penyair

Di malam ini, kau curi kata-kata
dengan diam menjadi 
bohlam yang remang
di balik bayangan matamu 
yang kehilangan
temaram. Kau simpan semua 
ucapan, dan kau terbangkan 
di antara laron-laron
Menuju bulan, menuju awan
awan. Menuju angkasa pura, kau sirami
aku dengan hujan yang kehilangan bibir
yang kau simpan sembunyi 
di hati penyair tanpa puisi   

---

Tanah Gerabah

Sudah kau aku ingatkan
Aku kau jangan lupa
Kau dibuat dari tanah gerabah
aku sementara hanya pecahan
yang seketika kau aku mudah terpisah

Aku kau harus ingat
Di silam masa, aku kau hanya
noktah yang tersimpan sembunyi
di suatu kitab, di suatu firdaus

sudah tiba nanti aku kau
menyusuri suatu ikrar yang tak pernah
diucap gunung, langit, juga lautan

aku, juga kau, bukan gunung
langit, dan lautan yang di atas punggungnya
disimpan setitik nutfah
untuk aku kau gunakan
mencipta kau aku pohon-pohon
aku kau menara-menara, dan
kau aku kapal-kapal, yang ditanam di atas
aku kau gunung-gunung, 
di bawah kau aku langit-langit
dan di atas aku kau samudera

aku jangan kau lupa, dibuat kau jadi aku
di titimangsa suatu ucapan menjadi maksud
kau, aku kau  ingatkan, 
aku kau hanyalah sebayang
dari kau, aku kau sudah saling tahu!


Literasi populer