Friday, April 7, 2017 in

Badai di Secangkir Kopi dan Puisi Lainnya

Kelak Esok di Surga

Kau bilang esok di surga
Berkumpul bidadari, sejauh
aku tabah bersimpuh di atas sajadah, bersujud
Tanpa banyak bertanya, mengapa Tuhan
selalu berganti rupa, juga nama
ketika di hadapan Musa
Tuhan ibarat lelaki tua
yang keras kepala, murka
memecah gunung berkeping-keping
Tuhan yang berganti nama, saat Yesus,
sontak kau marah. Sambil membakar gereja
kau bilang “Itu Isa, nabi kita!”
Namun, dia diangkat tanpa tangga
menuju suatu lubang di langit
Sementara Tuhan  bukan perempuan, apalagi laki-laki
Mengapa pula bidadari kau bayangkan perempuan
Kau bilang di surga nanti ada ranjang raksasa,
dengan sajadah kau menyicilnya, sehelai-demi sehelai,
juga dengan jenggot yang tumbuh
mirip akar beringin. Kaku dan kekar menggelantung
tidak bergerak seinci ditiup angin
ibarat iman, begitulah kau ucapkan di atas mimbar
orang-orang yang menyembah bendera, bukan Tuhan
pencipta bidadari di surga, orang-orang yang kafir,
jahanam mesti diperangi.
Kau imani itu sembari terbayang-bayang
calon bidadarimu, kau bilang di atas ranjang raksasa,
seperti banyaknya helai bulu yang tumbuh
di bawah lancip dagu, di bawah bibir yang sering letih
di tengah malam di sebelah ranjang
berzikir menggulung-gulung tasbih, pamrih

---

Badai di Secangkir Kopi

Di sebuah kedai masih sepi
lengkung kendi liat dari tanah
bergetar
kayu menyala api
Bergemetak membakar
Kopi yang di bawahnya mengubah genangan
air seperti kedalaman danau, beriak.
Menguar di udara, teringat
bau asal sebidang tanah yang tumbuh di ujung Sulawesi
duduk aku menyesapi
dari pinggir bening gelas
bibir masih tertutup
Aku lihat di segelas tertanam deru badai bakal
mengoyak bibir yang lama mengadu kecup

---

Pengemis Tua

Bapak itu bertopi bundar
Umurnya separuh pergi silap 50, 60 mungkin
Lebih. Kacamata entah dipakainya dari mana
Juga seikat kantung plastik
Tak lupa tongkat menyangga tubuhnya
yang ringkih kaki bergerak bergetar
Menahan nasib bertahun-tahun

“Assalamu alaikum”
Anaknya juga ikut dibawa, mungkin dipaksa
Meninggalkan teman-temannya kala
Bermain karet di rumah kardus yang
basah oleh hujan

“Assalamu alaikum”
membuka ucap ditemuinya orang-orang
disodorkannya topi yang lusuh
mengais nasib berharap waktu
berputar ketika kaki kokoh
tanpa tongkat. Tanpa perlu
dihina nasib. Di muka orang
disiasati pamrih

Literasi populer