Selasa, 21 Maret 2017

Menunggu Mukjizat

Sampai kapan pun Sadrak tidak akan pernah bunting walaupun dia telah operasi kelamin. Kenyataan ini harus ia terima seperti hal anaknya yang juga tidak akan bisa menolak bahwa sekarang di rumah mereka ditinggali dua orang perempuan dewasa. Istri Sadrak hanya memandangi pasrah kalender bergambar moncong banteng putih dengan nanar. Sudah lama dia nyaris gila akibat Sadrak yang bersikeras ingin menjadi perempuan. Tapi ia juga sulit menampik sejak mereka berkenalan dan kemudian menikah, Sadrak memang memiliki gelagat polah selayaknya perempuan. Saat itu semuanya nampak biasa, istri Sadrak merasa hal semacam cara Sadrak duduk dengan memangku kaki adalah hal yang normal. Atau ketika cara Sadrak mandi dengan menggunakan handuk sedada seperti cara perempuan melakukannya. Semuanya bagi istri Sadrak normal-normal saja. Termasuk ketika mereka telah memiliki anak pertama, keinginan Sadrak memanjangkan rambutnya dianggap istri Sadrak hanya sekadar mengikuti trend rambut seperti dalam film Meteor Garden yang sering ditonton Sadrak sehabis magrib.  Tidak bisa ditolak, Sadrak memang tergila-gila dengan Jerry Yan, artis korea yang menjadi bintang Meteor Garden. Bahkan semenjak episode pertama, kamar mereka sudah dipenuhi poster-poster Meteor Garden. Istri Sadrak di saat itu sudah mulai mencurigai kebiasaan Sadrak membeli poster-poster F4, apalagi ketika Sadrak mulai mengoleksi foto-foto Dau Ming Shi yang diguntingnya dari majalah-majalah remaja. Sementara Sadrak yang semakin ke sini semakin menjadi seperti perempuan, istri Sadrak selalu berdoa agar Sadrak dapat sembuh dari penyakit jiwanya. Biar bagaimana pun mereka telah berjanji di atas mimbar gereja, akan saling menyayangi sebagai seorang suami istri. Tapi, apakah suami harus laki-laki, atau istri harus perempuan, adalah soal lain yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. Istri Sadrak juga tidak pernah bisa membayangkan jika di suatu malam dia bersenggama dengan seorang perempuan yang sebenarnya adalah suaminya. Tapi apa lacur, setelah Sadrak ikut bersama dua kawannya yang belakangan dia tahu adalah kawan lama Sadrak, gelagat Sadrak semakin menjadi-jadi. Semenjak itu Sadrak sudah berani untuk mencukur habis kumisnya. Bahkan bulu-bulu kakinya yang sering lebih cepat tumbuh dari pada pertumbuhan anaknya, sekarang sudah halus ibarat betis perempuan. “Menjadi perempuan itu pilihan”. Ucap Sadrak di suatu pagi saat dia selesai mandi. Melihat gelagat itu, istri Sadrak seperti dijatuhi bola matahari. Kepalanya panas dan hatinya mendidih. “Seandainya sekarang saya bisa memilih, saya pilih mati saja”. Mendengar ucapan itu Sadrak kaget. Tapi lantas dia berujar, “mati sebagai seorang perempuan jauh lebih berharga daripada tidak bisa memilih”. Istri Sadrak memilih diam setelah mendengar perkataan Sadrak. Hatinya masih kelu. Tidak pernah dia mendengar Sadrak berucap demikian.  Entah dari mana Sadrak belajar menyatakan pendapatnya dengan lugas seperti itu. Sepanjang mereka menikah Sadrak tidak pernah berterus terang seperti ini. Anak Sadrak yang masih kecil malah sebaliknya, setelah melihat Sadrak tanpa kumis dan memiliki tubuh bersih dan wangi hanya berlarian sembari pergi bergelantungan dibawah kaki Sadrak. “Ibu..ibu, Ayah sekarang mirip perempuan, kumisnya ilang”. Sadrak berjongkok. “Sekarang kamu akan punya dua Ibu”. Ujar Sadrak santai sembari mengecup pipi anaknya. Begitulah hari-hari yang dilalui istri Sadrak sampai akhirnya Sadrak semakin gigih terlibat dalam organisasi barunya. Semenjak LGBT bukan lagi kata asing di rumah mereka, istri Sadrak masih belum bisa menerima pilihan Sadrak yang semakin menjadi-jadi. Bahkan hampir semua tugas sebagai seorang ibu rumah tangga di rumah dilakukan Sadrak. “Menjadi perempuan itu pilihan!”. Ungkap Sadrak berulang-ulang. Istrinya semakin yakin, Sadrak mengalami sakit jiwa. Tapi entah obat apa yang bakal menyembuhkannya. “Ini bukan sakit jiwa, justru saya baik-baik saja” ucap Sadrak ketika meninggalkan rumah selama sepekan. Dan, tibalah di hari Kamis, setelah kepergiannya yang kedua kalinya. Kali ini dia kembali dengan menarik istrinya di dalam kamar. “Coba lihat, sekarang kamu harus terima ini”, ucap Sadrak sembari memperlihatkan “kemaluan” barunya kepada istrinya. “Mulai sekarang saya perempuan sepenuhnya”, lanjut Sadrak seperti lega keluar dari lubang jarum. Istrinya tidak bisa apa-apa. Untuk marah pun sulit. Dadanya mencelos. “Tapi kau perempuan yang tidak akan pernah bunting!” ucap istrinya seketika. “Saya tahu. Maria juga tidak pernah menyangka akan melahirkan anak Tuhan!” Sadrak menimpali.      

2 komentar:

bahrul amsal mengatakan...

http://alhegoria.blogspot.co.id/2017/04/menyoal-negara-islam.html?showComment=1492055962143#c5085007887774802507

bahrul amsal mengatakan...

Menyoal negara Islam

http://alhegoria.blogspot.co.id/2017/04/menyoal-negara-islam.html?showComment=1492055962143#c5085007887774802507