Tuesday, February 7, 2017 in

Sadrak dan Secarik Stiker

Madah kemudian mati digilas truk bermuatan pasir ketika Sadrak menatap stiker berisikan tulisan arab setelah ditawari seorang remaja yang memelas dan memasang muka seperti bayi di waktu dia membawa istrinya di sebuah klinik kandungan. Tak ada yang menyangka, Madah, si penjual koran itu tiba-tiba berteriak dan tubuhnya akhirnya putus diseret bamper truk. Darahnya masih segar mengucur dari pahanya yang sobek. Sementara kepalanya nyaris putus dari lehernya. Yang membuat orang ngeri karena dari perut Madah keluar meliuk-liuk usus seperti lipatan naga yang sedang tidur. Isi lambungnya pecah, membuat sisa nasi goreng dan ampas kopi berhamburan di pinggir jalan.

Sadrak tak ikut lari berkerumun menjulurkan kepalanya di antara orang-orang yang penasaran. Dia hanya duduk menatap stiker berwarna hitam yang baru dibelinya. Dibolak baliknya stiker itu. Membaca tulisannya yang berwarna keemasan.

Sadrak seorang mualaf. Tulisan arab masih asing baginya. Baru dua pekan dia menjadi muslim. Istrinya, sekarang sedang hamil muda. Baru sepekan mereka menikah. Sekarang dia di klinik persalinan. Wati ingin menggugurkan kandungannya yang baru berusia dua bulan.

Orang-orang masih penasaran. Keramaian terbagi dua mengikuti tubuh Madah yang terpisah. Di bagian utara, kerumunan tidak kalah ramai. Sementara di bagian selatan, orang-orang hanya melongo kehabisan kata-kata. Walaupun kepalanya nyaris putus, masih terdengar suara Madah minta tolong.

"Tolong..tolong." Suaranya serak.

"Tolong.."

Di bagian utara, pahanya yang sobek dan kakinya yang sudah tidak berbentuk hanya tergeletak begitu saja. Orang-orang sibuk mengambil gambar. Yang lain membuat video.

Wati akhirnya lega. Kandungannya selesai diaborsi. Sementara Sadrak, hanya terdiam sambil melihat-lihat ayat di stiker yang baru dibelinya.

Setelah membayar uang jasa gelap dokter, Sadrak masih terus memegang stiker hitam itu. Ayat-ayat itu ingin sekali dibacanya. Tapi, lidahnya kelu. Bahkan dia tak tahu cara membacanya.

"Kamu tak harus membacanya, sudah tidak ada lagi jabang bayimu." Wati tiba-tiba menyadari sikap Sadrak.

"Saya lega, kamu tidak harus repot-repot mengajarinya mengaji, apalagi shalat segala, kamu baru dua minggu pindah agama. Tidak bakalan." Wati mengingatkan Sadrak.

Sadrak masih mempelototi stiker berisikan ayat alquran di tangannya. Belum sempat dia ajarkan anaknya agama barunya, istrinya malah ngotot berkeinginan menggugurkan kandungannya. Tapi, bagaimana cara ia membacanya. Sadrak tak tahu harus menyebut kata apa.

Wati sontak heran di depan klinik tiba-tiba banyak orang berkerumun. Dia melihat banyak orang seperti diperlihatkan mukjizat. Muka mereka seperti kehilangan darah. Sebagian lainnya menjulur-julurkan kepalanya. Berusaha menembus kerumunan. Berkeinginan melihat Madah yang tinggal setengah dan masih meringis kesakitan.

Sadrak tidak berminat ingin melihat peristiwa yang baru saja terjadi. Bayi yang baru saja digugurkan sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kehabisan kata-kata. Walaupun anak hasil dari luar nikah, mengajarkannya mengaji salah satu cara menebus dosa yang dibuatnya bersama Wati.

Tapi, Wati bekeyakinan lain. Mengaborsi adalah cara menebus dosa yang paling baik. Tidak ada anak yang baik dapat tumbuh dari hubungan di luar nikah. Walaupun akhirnya mereka menikah akibat paksaan orang tua Wati.

Sadrak ingin bertanggung jawab. Namun, sebelum mereka berdua menuju ke parkiran, dia ingin mengetahui bagaimana cara membaca tulisan di stiker itu. Dia menoleh dari kanan ke kiri mencari seorang remaja yang tadi menyodorkannya stiker. Barangkali anak itu bisa mengajarkan kepadanya cara mengeja tulisan Arab yang ternyata adalah surah al-fatiha. Tapi, karena didorong penasaran, Sadrak melangkahkan kakinya di kerumunan. Dia berpikir mungkin saja si anak yang menjual stiker itu ikut di dalam orang-orang yang sementara berkumpul berdesak-desakkan.

Sekonyong-konyong Sadrak terperanjat, orang yang dicarinya hanya tinggal setengah. Madah tergeletak mirip tikus yang ditabrak lari. Dia sudah tidak lagi berkata-kata. Dia mati lima menit setelah tubuhnya digilas truk pasca tergesa-gesa menyeberang ingin membuang hajat. Selain darah, di mulutnya keluar tahi yang sebentar lagi mengering.

“Ayo, kita pulang.” Terdengar suara Wati dari kejauhan. Muka Sadrak pias dan belum tahu bagaimana cara membaca tulisan di stikernya yang mulai basah.

Literasi populer