18 January 2017

Aku Petik Bawang di Keningmu

--untuk kinasihku, Lola

Aku di suatu sore kucium jemarimu, dihinggapi bau kulit bawang
Di antara menara masjid yang bersuara mendayu-dayu, langkahmu
Tanpa suara melingkari dapur sejak pagi
Mengolah rempah-rempah, tubuhmu bergeliat
Menumbuk-numbuk ulet batu cobek
Ibarat memahat batu prasasti dalam sejarah manusia-manusia
Dikau duduk mirip petapa, mematung di sekitar serei, lada, cabai, tanganmu
terampil mengitari lempengan oval hitam bekas ibu
Ketika kau rebah di atas tikar, jemarimu kulihat disinggahi kulit yang
Terbakar, melepuh, kau hanya mengeluh sembari mengacungkan tangan yang
tidak berhenti memejam mata ketika memeras pakaian kala dibasahi
deterjen…
di malam yang rebah sebentar lagi, kucium pipimu, di situ hinggap aroma ikan
seperti berputar berenang di antara biji delima yang tumbuh
kelak jika kau senyum, ikan-ikan di pipimu juga bakal kujerat mata pancingku
yang dari pagi tak lekas bosan duduk di bukit pipimu, menyiangi aroma ikan
di wajahmu kadang kulihat danau dan juga nelayan yang bergerak-gerak
mengikuti rambutmu yang hitam
di situ kuhirup juga bebauan sayur kemayur, seperti tumbuh di sela-sela keringat
yang membuatmu sering aku peluk
bila malam datang sudah, kau lekas mandi tapi tidak hilang bau bawang
jari-jarimu masih luka, yang kadang di situ kucium bebauan minyak merek tawon
seperti sudah terjadi perang di tanganmu, penuh bekas irisan, juga ledakan
namun sungguh semua itu membuat aku tidak bosan, memetik sayur dari tanganmu
mencium ikan di pipimu, yang terus berenang dan tidak berhenti
di hidungmu kuhirup bau sambal yang kau bikin dengan sungai kasih sayang
hingga di keningmu tak sudi aku pergi darinya, di situ aku dibuat tenggelam
oleh tungku bekas pembakaran
aroma seorang perempuan yang pulang
perang
tanpa suara