hikayat hutan dan pohon warnawarni

“Berapa lama lagi kita sampai.” Pecah Jerit dari tenggorokannya yang kering kepada Madah. Demikianlah mereka memasuki hutan rimba. Sudah hampir tujuh hari mereka membelah hutan tua di belakang kaki gunung Tausino, gunung kuno peninggalan dewadewi purba. Mereka tak hirau dari cerita orang-orang tua yang hidup melalui semedi bertahuntahun, bahwa hutan di balik gunung tempat orang pertama di dunia itu turun, banyak dedemit yang mampu menyulap diri jadi perempuan cantik. Mereka juga abai dari hikayat ibuibu yang tak pernah mendapatkan anak ketika perutnya kempis di saat hamil delapan bulan, bahwa di hutan itu banyak jinjin penghisap orok bayi. Begitu pula, Madah dan Jerit, tak mengindahkan pesan-pesan ustadz kampung bahwa di dalam hutan itu banyak tuyul yang berekor tujuh, yang siap menerkam pantat orang yang dikejarnya.“Kita terus saja dulu, mengikuti apa yang dibilang mimpi Bapakmu,” ujar Madah. Begitulah mereka berjalan berharihari di dalam hutan. Dari semua cerita angker itu, mereka hanya percaya cerita dari mimpi ayah Jerit, bahwa di tengah hutan lebat dan angker itu, ada pohon ajaib yang bisa mengabulkan permintaan siapa pun.“Pergilah kalian berdua, jangan pulang sebelum menemukan pohon seperti di mimpiku,” pesan Topan, ayah Jerit. Pesan itulah yang membuat mereka berdua pergi di malam buta, seperti yang di wangsitkan ayah Jerit. “Taik!! sepertinya kita sudah melewati jalan ini,” maki Jerit. Madah sigap menyumpal mulut Jerit ketika mereka melewati gundukan akarakar pohon yang sudah dua kali mereka lewati. Di hutan ini, tak boleh ada katakata kotor, atau sumpah serapah. Apalagi sebanyak tiga kali diucapkan. Konon, bagi yang berkata kotor tiga kali di hutan ini, tunggu saja setelah tiga hari akan mendapati kemaluannya hilang. Seperti lima tahun yang lalu, Topan menjadi korban pertama, ketika sedang  mandi di pingiran sungai berteriak mengelilingi kampung seperti habis bertemu jin tanpa hidung, ketika daging yang ikut tumbuh dari kecil denganya itu, tiba-tiba raib. Sontak kejadian itu bikin geger satu kampung, terutama ibu Jerit yang saat mendapat kabar kemaluan suaminya hilang, ikut uringuringan tak karuan. Kehilangan kemaluan suaminya, yang ditilap misteri tiba-tiba, membuat ibu Jerit selama enam bulan diam dari katakata. Selama enam bulan ibu Jerit membisu seperti dilahirkan tanpa memiliki suara, sampai suatu ketika ia selalu bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya seperti mencari sesuatu. Begitu seterusnya hingga ia dinyatakan gila. Selama gila, ibu Jerit diikat di bawah pohon jambu belakang kantor desa, dengan selalu menyebut kepunyaan suaminya yang diulangulangnya. “ko..ntol, k..on..tol, kon..t…ol,” suaranya serak patahpatah. Sebelumnya, menurut cerita yang beredar, kemaluan Topan disinyalir dibawa lari oleh belut sungai, yang mengira kemaluannya adalah belut betina yang kepingin kawin. Memang di waktu itu adalah musim kawin belut-belut sungai. Ada juga cerita yang berkembang, bahwa kemaluan Topan dimakan oleh ikan gabus yang waktu itu banyak hidup di sungai. Sebab, dari keterangan petambak kampung, ikan gabus sangat menyenangi makanan yang menyerupai cacing segar. Tapi cerita yang paling kuat datang dari Jerit sendiri, bahwa ayahnya sengaja memotong habis kemaluannya. Menurut cerita Jerit, akibat semenjak kelahiran adiknya yang ke lima, ibu Jerit tak pernah berhenti  melahirkan anak di setiap tahunnya. Sampai anak yang ketiga belas, menurut Jerit, adalah angka yang dipilih ayahnya untuk memberhentikan dampak tak diduga-duga dari kemaluannya. “Banyak anak banya rejeki, itu dulu. Sekarang makin banyak anak, bikin susah” keluh Topan. Usut punya usut, ternyata Topan sebelumnya pernah berkata kotor saat di dalam hutan keramat untuk mencari mangga hutan. Kala itu kampung Jerit sudah tujuh bulan tak di datangi hujan. Tak ada tanaman yang dapat tumbuh baik di kala itu. Padi hanya bisa dijatah selama enam bulan. Persediaan yang semakin menipis membuat warga kampung terserang kelaparan. Akibat kondisi itu, banyak warga kampung berburu tikus tanah untuk dimakan dagingnya, sebab kodok-kodok sudah habis dipanah oleh anak-anak di waktu malam. Bahkan belut dan ikan gabus yang hidup di sungai sudah jarang ditemukan. Pernah juga yang hanya dapat dimakan adalah capung dan belalang batu yang dijemur hingga kering, kemudian dimakan dengan ubi kayu yang dikukus. Ketika semua itu habis, warga mencoba alternatif lain berupa batangbatang kering dahan ubi kayu yang ditumbuk halus untuk dimakan dengan daun pisang yang masih tersisa. “Rasanya mirip sagu,” kata Jerit. Semenjak dahan ubi kayu habis, warga mengembangkan penemuannya dengan menghaluskan kulitkulit pohon yang diambil di pinggiran sungai. Kulit-kulit pohon yang dihaluskan ini diambil dari pohonpohon yang berkulit tebal. Sampai akhirnya, ketika pohon-pohon pun kehabisan kulitnya, suatu waktu Topan teringat pesan kakeknya. “Ketika padi hanya tinggal batangnya, belalang habis dari lubanglubangnya, dan pohonpohon hanya tinggal serat belaka, maka masuklah ke hutan di kaki gunung Tausino.” Demikianlah Topan mengulang warisan rahasia kakeknya ketika matahari telah separuh. Maka esoknya, setelah ditimbang matangmatang ia masuk hutan yang angker itu. Sontak peristiwa itu cepat menyebar seantero kampung. Dengan disaksikan oleh seluruh warga kampung, di pagi buta, ketika bulan pelan bergerak pudar, Topan berangkat menuju mulut hutan. “Jaga rumah, perhatikan Ibumu” Pesan Topan kepada Jerit. Peristiwa di awal pagi yang berkabut itu, menjadi peristiwa bersejarah bagi seluruh warga kampung. Sebab, selama ini tak pernah ada orang yang berani masuk jauh ke dalam hutan yang rimbun dengan sulursulur akar itu. Sampai karena kelaparan yang berkepanjangan tak tuntastuntas, memberanikan Topan  menerobos sekaligus masuk jauh ke dalam hutan. “Jika aku tak pulang selama tujuh matahari, maka buatkanlah aku pusara di dekat kubur leluhurku,” cetus Topan dikala dilepas dengan isak tangis warga kampung. Semenjak pagi itu, Topan jadi pahlawan kampung yang ditunggu kedatangannya. Di masa penantian banyak warga desa yang berharap ayah Jerit datang membawa sepasang kodok jantan betina yang siap bertelur, sehingga anak-anaknya nanti dapat disantap dengan kelapa yang sudah dikeringkan. Ada juga ibuibu yang menunggu kedatangan ayah Jerit dengan menarik-narik satu karung besar abon belalang untuk dimakan bersama akar pohon rumbia. Sementara suamisuami yang telah lama lupa tentang ilmu menanam padi, berharap Topan datang di suatu siang yang terik  dengan membawa jampijampi penurun hujan. Tapi, kebanyakan anakanak terutama Madah dan Jerit, menginginkan kedatangan Topan dengan membawa batang kayu yang bisa dibuat panah untuk memanah kalong di malam hari. “Seandainya ada kayu yang lentur tapi kuat, pasti kalongkalong itu berpikir dua kali bertengger di pohonpohon kapuk itu,” sumbar Jerit. “Yang penting kau bisa bedakan kalong dengan kapuk,” sergap Madah. Kelaparan di kampung itu, sontak menakwilkan Topan seperti orang bertombak yang telah habis menumpas seluruh babi hutan. Dia jadi pahlawan sekerjab mulut yang menceritakannya. Dia dielukan dan dibicarakan sampai halimun penuh menutupi rumbirumbi atap rumah warga kampung. Dengan begitu ia langsung dinobatkan sebagai pahlawan oleh kepala kampung. Sementara kelaparan sudah seperti mahluk ompong yang tidur pulas di reyot ranjangranjang warga kampung. Enggan bangun meninggalkan sejengkal pintu kamar. Mendiami rumah-rumah dengan sunyi yang terisi hawa udara panas. Menggulunggulung meniup daun jendela dan pintu yang dibiarkan terbuka akibat panas yang dahaga. Sampai suatu saat suara ramai memecah siang bolong. Seorang lakilaki separuh baya, dengan tubuhnya yang ceking terlihat sempoyongan menarik seratus karung goni di pintu masuk kampung. Suara semakin gaduh, ternyata itu ayah Jerit. Topan datang tepat di hari ke tujuh. Kedatangan Topan disambut gembira. Ia adalah pahlawan kampung yang ditunggutunggu kedatangannya. Ia digadanggadang akan membawa solusi dari bencana kelaparan yang dialami selama ini. Di belakangnya menumpuk beratusratus karung goni. Dibiarkannya karung itu menumpuk begitu saja ketika ia sampai di depan rumahnya. Jerit berlari kecil menghampiri dan membukanya. Ternyata beribu-ribu mangga hutan. “Bagilah merata ke seluruh warga kampung” Ucap Topan. Sontak sehari semalam, perut  seantero kampung penuh daging mangga. Setelah habis dibagikan, tak ada lagi keluhan dari warga kampung. Kelaparan, mahluk ompong yang selama ini tidur nyenyak di dipandipan warga kampung, tibatiba terbang ke kolongkolong khayangan. Lemarilemari mereka penuh buah mangga. Bahkan kulitkulitnya disimpan untuk dikukus dan kemudian dimakan. Hanya saja satu permasalahan tiba-tiba jadi penyakit massal, yakni warga kampung sontak kena mencretmencret. Saat itu hampir di setiap belakang rumah penuh dengan gundukan taik manusia. Sekejab seluruh kampung penuh bau yang menyengat. Tapi mereka tak kehabisan akal, taik yang akhirnya mengering yang berkilokilo beratnya itu, mereka jadikan pupuk untuk pohon-pohon yang telah habis kulitnya, dengan harapan dapat menumpuhkan lapisan kulit baru. Begitu seterusnya, hingga tak ada lagi taik yang dapat dikumpulkan. Akhirnya kemudian pohonpohon pun habis dikeruk kulitnya. Namun bencana itu datang lagi. Dari nun jauh dari khayangan, mahluk kelaparan itu terbang turun ke dipandipan warga kampung, tidur sampai berbulanbulan lamanya. Warga kampung kembali diserang perut yang keroncongan. “Kita harus masuk hutan lagi, di sana masih banyak mangga,” Topan mengusulkan di rapat desa. Begitulah akhirnya usulan pahlawan desa itu diterima. Besoknya, sudah terbentuk dua kelompok pria dewasa untuk memasuki hutan dengan Topan  sebagai ketuanya. Maka dimulailah ekspedisi itu, mengambil mangga nun jauh di tengah hutan terlarang. Ekspedisi itu akhirnya berhasil membawa tonton mangga hutan. Sampai akhirnya aktivitas mencari mangga menjadi kebiasaan warga desa. Semenjak ekspedisi itu berhasil, banyak warga desa yang masuk mencari mangga dengan rute yang telah diberi tanda. Setelah mereka pulang, banyak karungkarung mangga memenuhi halaman rumah mereka. Berkat itu, sekali lagi kelaparan terbang meninggalkan reyot pembaringan, menuju ke khayangan nun jauh di ufuk timur sana. Sampai di suatu waktu, pohonpohon mangga itu sirna tibatiba. “Taik, dasar tak tahu malu. Tahu begini sejak dulu biar saya sendiri saja yang tahu tempat ini, dasar otaknya ditaruh di kontol apa,” hardik Topan ketika mendapati pohon-pohon mangga tak berbuah lagi. Bahkan pohonpohon yang dipanjati sedari dulu sudah tidak ada, bagai raib ditelan bumi. “Sontoloyo, kontol betul, bahkan pohonnya ikut dicabut. Dasar kontol,” maki Topan saat menemukan tanahtanah berlubang yang dulu ditumbuhi pohon mangga. Demikianlah akibat keserakahan warga kampung, pohon mangga yang pernah jadi primadona habis dilahap tanpa sisa.  Akhirnya Topan pulang dengan tangan kosong. Karungkarung goni yang dibawa dilipat dan diselipkan dipinggangnya, pulang menuju perkampungan. Sampai akhirnya tibalah waktu itu, di suatu sore dengan angin malam yang mulai menyapu tanahkering kampung. Di sungai yang kian tahun mulai mengering pelanpelan. Teriakan ayah Jerit membelah seantero pelosok kampung. Kemaluannya sirna.

***

Madah dan Jerit masih membelah hutan. Waktu sudah mulai mengundang seranggaserangga keluar dari sarangnya, terutama nyamuk yang sebesar jari kelingking yang dari tadi mengepung mereka berdua. Mereka berdua juga tak takut cerita orang-orang kampung tentang penghuni hutan di kala malam. Yang paling mereka ingat adalah mahlukmahluk yang menyerupai kurcaci seperti di filmfilm bangsa kulit putih itu, hanya saja kurcaci yang diceritakan adalah selain bertubuh pendek, juga memiliki hidung yang panjang sampai ke tanah, sehingga kalau berlari seringkali mereka jatuh menginjak hidung satu sama lain. Dari cerita yang berkembang, kurcaci ini sering bergelantungan dengan hidungnya di dahandahan pohon kalau malam. Sehingga membuat orang kaget kalau tibatiba mereka berjatuhan dari dahan pohonpohon dengan maksud bergelantungan seperti monyet. Tapi, yang membuat Madah dan Jerit merasa ketakutan bukan mahlukmahluk asing yang berasal dari dunia entah berantah, melainkan babi hutan yang bertaring persis badak. Babi ini punya kegemaran menyerobot secara tibatiba dari semak belukar. Dahulu ketika mangga jadi makanan favorit, pernah seorang warga ditandu keluar hutan akibat pahanya yang robek seperti disambar meriam kompeni. Cerita punya cerita, ternyata diserobot babi hutan yang keluar dari semak belukar tibatiba. “Kita bermalam dulu, sepertinya di sini tempat yang baik untuk beristirahat,” ungkap Madah. “Lebih baik di atas pohon saja, saya tak mau terbangun dengan paha terkoyak babi sial itu,” sergah Jerit. Malam pun mereka lewati di atas pohon untuk menghidari babi hutan, apalagi mereka sudah tidak takut dengan kurcaci yang sering lewat bergelantungan semenjak malam tiba. Begitulah mereka melintasi malammalam dengan dedemit yang mulai bermunculan. Jinjin penunggu pohonpohon besar yang terbang berlalu lalang dengan ruparupa gadis cantik. Paras mereka yang cantik seperti bidadari penunggu khayangan nun jauh di atas langit, sampai-sampai yang melihatnya tak sadar bahwa yang dilihatnya adalah jin yang tak memiliki paras. Di bawah pohonpohon, tuyultuyul mulai berlari lalu lalang menabrak pohonpohon besar. Membuat buahbuahan beracun berjatuhan yang seketika diserbu babi hutan. Sementara kurcacikurcaci berhidung panjang bergantungan dari dahandahan satu pohon ke dahan pohon lainnya. Tapi jika bukan karena pohon ajaib yang mereka dengar dari mimpi Topan, maka mereka tak sudi meninggalkan kampung untuk mencari pohon ajaib yang bisa bicara itu. Dan juga pohon itu, dari cerita yang berkembang mampu mengabulkan permintaan orang yang menemukannya.

***

Sudah lima belas hari mereka di dalam hutan. Mereka juga sudah melewati bekas pohonpohon mangga yang pernah jadi primadona kampung. Semakin jauh ke dalam hutan, mereka sudah terbiasa dengan mahlukmahluk aneh hutan. Bahkan kabut asap tebal yang entah dari mana asalnya juga mereka sudah taklukkan. Hutan rimba di kaki gunung Tausino ini ternyata sudah mereka akrabi. Mereka sudah seperti penghuni asli hutan itu. “Nampaknya di sana tanda yang seperti dibilang bapakmu,” ungkap Madah ketika menemukan bebukitan di ujung jalan. Seperti pesan dalam mimpi ayah Jerit, ketika sudah mendapati hutan dengan kabut asap selama dua hari, teruslah berjalan hingga menemukan tiga bebukitan yang ditumbuhi lumut basah. Tak jauh dari sana pohon ajaib itu berada. Maka benarlah seperti di dalam mimpi Topan. Setelah tiga bukit penuh lumut berdirilah sebatang pohon yang menyerupai pohon beringin. Dahannya penuh dengan buahbuah serupa mengkudu, sementara daunnya bebentuk seperti daun singkong pendekpendek. Tapi yang aneh pohon itu menyala warnawarni berganti rupa, tapi sering kali kuning seperti lampu disko. Sampailah mereka di hadapan pohon itu. Pohon itu terbangun setelah suara langkah kaki Madah dan Jerit mendekat. “Gerangan apa kalian datang kemari,” suara pohon itu memecah menggema bulat. Madah dan Jerit seketika kaget ketika mendengar suara pohon itu. “A..anu, kami butuh pertolongan,” suara serak Jerit keluar dari mulutnya, membuka percakapan. Sementara Madah masih terheranheran dengan penampakan pohon berwarna di depannya. Bisa bicara pula. “Sudah lama sekali tak ada orang yang datang kemari, sudah beratus purnama lamanya,” kembali suara pohon itu mengajak dialog. “Pertolongan apa yang kau inginkan dari saya,” sambung pohon dengan pancaran warnanya, kali ini ia berwarna merah. “A..a..anu, bapak saya..bapak saya,” suara gagap Jerit. “Bapaknya harus ditolong,” sergap Madah ketika terbangun dari lamunannya. “Kenapa bapak kamu?” “Bapak saya, aanunya..anunya hilang.” “Apa yang hilang dari bapak kamu anak muda,” Jawab pohon bingung.” Mintalah yang engkau bisa anak muda.” "Aa..nu.. anu Bapak saya" suara Jerit masih terbatata. "Apa yang engkau inginkan anak muda, keluarkanlah apa yang ada dalam kepalamu" Suara pohon ajaib merayu.“Kontol..kontolnya bapak saya,” tibatiba Jerit bersuara seperti tikus meloncati lubang bibirnya. Sementara Madah kaget dengan katakata Jerit, teringat pantangan di hutan ini. Pohon itu tersenyum. Seakan dia paham jalan cerita yang dialami ayah Jerit. Madah hanya memekakkan mata kepada Jerit. “Yang telah hilang tetaplah tiada anak muda, dan yang akan tiada pastilah tak akan kembali. Mintalah sesuatu yang masih ada anak muda, misal setengah hutan di kaki bukit yang sudah bertahun-tahun tertutup kabut asap, mintalah untuk tetap subur. Apa yang telah tertuliskan maka terjadilah,” jelas pohon itu di hadapan Madah dan Jerit. Jerit seketika kaget. Ia teringat pantangan hutan selama ini. Seketika ia paham apa yang dimaksud pohon ajaib yang ada di depannya. Wajahnya tibatiba pucat seperti mayat hidup. Kaki tangannya mengeluarkan bulirbulir keringat dingin. Sementara ada yang seketika memasuki perutnya dan memutarmutarnya. Bulu kuduknya seketika menegang. Ia sadar permintaan untuk mengembalikan kemaluan ayahnya yang hilang, justru menjerumuskannya pada kutukan yang sama seperti bapaknya. Setelah ucapannya barusan, ia sadar akan bernasib sama dengan bapaknya. Madah hanya terdiam, kata kontol ia hapus cepat-cepat di dalam alam pikirannya. Tak sudi ia mengucap kata kotor itu di hutan ini. Dan Jerit, yang tibatiba baru saja menyadari pantangan di hutan ini harus memakan buah simalakama, seperti Topan, ayahnya, ia dalam tiga hari ketika keluar dari hutan akan menanggung kutukan hutan di kaki gunung Tausino. Jerit tahu, kesadarannya bulat, sisa hidupnya bakal berjalan dengan tubuh tanpa kemaluan.


Popular Posts