12 November 2015

Wasiat untuk Fitri

Aku lelah. Punggungku sudah tak kuat menahan beban. Air mataku sudah lama juga kering lebih kemarau. Barangkali sudah saatnya aku pergi. Dunia ini lebih suka perempuan yang bohai dibandingkan perempuan yang setengah gila sepertiku. Ketika aku pergi, rumah singgah tuantuan gendut itu tidak akan rugi. Apalagi juga bapakmu tak akan menyesal sebagaimana ia kehilangan kakakmu yang pergi entah kenapa. Untuk itulah saya menulis wasiat ini untukmu, bukan untuk bapakmu yang lebih memilih istri mudanya itu, sebab kaulah satusatunya yang aku miliki. Jika kau membaca wasiat ini, mudahmudahan aku  sudah di atas kereta malaikat maut. Anakku, mati itu mudah, lebih mudah daripada saat engkau keluar dari batang rahimku. Yang sulit itu adalah hidup menanggung berat tangan bapakmu itu. Bapakmu memang sudah gila semenjak engkau dikandunganku. Sejak hari itu, bapakmu sudah seperti mayat hidup, tak sudi aku melihatnya. Begitu juga bapakmu, tak sudi berlamalama dengan aku di satu atap. Barangkali kau tak pernah menyangka bahwa bapakmu  itu sebenarnya tak rela jika kau ada di tengahtengah kehidupan ini. Tapi aku ingin membuktikan bahwa kamu bukan buah sial seperti yang bapakmu sering katakan. Untuk itulah aku mempertahankanmu sebagaimana aku menahan emosi bapakmu di kala marah. Aku ini masih ingat di saat engkau masih berumur dua bulan. Di saat itu bapakmu sudah jarang pulang ke rumah. Suatu pagi ia pergi tanpa pulang untuk makan di siang harinya. Ia juga tak terlihat di pos ronda bermain kartu dengan temantemanya itu. Hingga akhirnya malam pun datang tanpa burungburung sawah sempat pulang, bapakmu tak kunjung datang. Saat itu menjelang idul adha, waktu pak Imam mencarinya untuk memotong sapi seperti di saat lebaran haji tiba. Berharihari bapakmu tak pulangpulang, hingga akhirnya suatu hari si Aking mengatakan bapakmu terlihat di terminal bersama perempuan muda penjual kain itu. Mulai saat itu aku yakin, gonjangganjing itu memang benar. Bapakmu punya istri lagi. Sejak saat itu aku jadi bingung, apakah mesti menggugurkan kamu atau tidak, sebab bapakmu seperti kehilangan nafsu ketika kamu masih setongkol jagung.  Karena itu aku sadar bahwa ia tak pulang karena jabang bayi dalam perutku ini. Tapi setelah aku mendengar suara ceramah seorang ustad dari toa mesjid di sebelah lapangan itu, aku berubah pikiran. Kata ustad yang ceramah waktu hujan rintikrintik itu bilang "anak itu anugerah tuhan, datangnya adalah pemberian". Mulai saat itulah aku berubah pikiran untuk mempertahankanmu dalam perutku. Engkau adalah anugerah yang diberikan tuhan di kehidupan yang saklek ini. Setidaknya kelahiranmu jadi bukti bahwa omongan bapakmu salah. Pernah suatu pagipagi buta bapakmu pulang dan masuk ke rumah melalui jendela dapur. Waktu itu aku terbangun oleh suara pintu yang ingin dibuka bapakmu. Bapakmu dulu sering masuk dengan cara mencungkil kunci pintu yang memang hanya terbuat dari kayu itu. Memang pintu belakang hanya berupa tripleks dan kayu yang dipaku seadaanya untuk mengunci pintu dari dalam. Dengan cara itulah bapakmu biasanya masuk mengendapngendap kalau sepulang dari pos ronda. Tapi semenjak bapakmu tak pulangpulang, pintu itu aku kunci dengan gembok putih yang mengkilat itu. Aku takut kalau sewaktuwaktu bukan bapakmu yang masuk, melainkan maling gila yang kesasar masuk akibat mabuk bir glondongan. Lagian aku memang sengaja menggantinya karena jengkel dengan bapakmu. Sebab itulah hari itu ia masuk melalui jendela dapur dengan sekali cungkil, melompat seperti kucing yang mengendus ikan dari balik sumur. Saat itulah aku terbangun oleh suara panci yang jatuh disenggol bapakmu. Dengan muka tanpa dosa, bapakmu hanya diam saja menuju kamar, sambil mengelusngelus pantatnya karena nampaknya ia baru saja terjatuh terpeleset saat melompati jendela. Tak lama ia di  kamar setelah membawa sekantung plastik merah keluar dengan langsung pergi melalui jendela yang sama. Kejadian itu berlangsung cepat dan tak didugaduga tanpa katakata, dan aku hanya diam tak bergeming, seperti ada yang mencuri suara aku kala itu. Dan tak lama aku baru tahu kalau yang diambil bapakmu di pagi buta itu adalah pakaianpakaiannya. Melihat lemari yang kosong setengah itu, aku hanya bisa menangis dalam diam. Nak, bila aku pergi,  bukan berarti aku tak menyukaimu. Justru tak ada hari yang paling ajaib dari kedatanganmu saat hari lebaran itu. Hari itu tak ada tamu yang datang menyambangi selain kelahiranmu. Bahkan bidan yang tinggal di sebelah lapangan takraw  juga tak ada untuk mengeluarkanmu dari selangkanganku. Hari itu hari raya nak, orangorang hilang menuju kampung halaman seperti ikan salmon yang pulang ke muaramuara sungai di saat musim kawin. Lebaran saat itulah kamu lahir. Di saat orangorang pergi bergembira dengan keluarganya, kamu datang sebagai tamu lebaranku kala itu, dan ajaib, sebab kau lahir tanpa bantuan siapasiapa. Tak ada yang datang membantu, dan tangismu pecah sebagai tanda aku mendapatkan tamu pertama di hari raya itu. Sebab itulah namamu Fitri nak. Bukan karena apaapa selain hanya untuk mengenang kejadian di hari raya itu. Sejak hari itu aku tahu bahwa kehadiranmu bakal membuat bapakmu naik pitam. Tapi aku yakin, bahwa mulai hari itu engkau adalah satusatunya kehidupan yang bakal aku rawat baikbaik seperti ibu sapi yang tak ingin anaknya dimakan harimau. Mulai hari itu tak ada sesendok nasi yang luput dari bibir mungilmu, walaupun bapakmu sudah tak pernah membuat dapur mengepul lagi. Anakku, melalui surat ini aku ingin kau tahu, bahwa selama aku ditinggal bapakmu, tak sekalipun aku merasa kehilangan. Aku harus jujur, kehadiranmu sudah seperti bongkah giok yang menyulut bahagia. Aku sudah tak peduli seperti bapakmu tak pernah peduli dengan dua nasib perempuannya, aku dan kamu. Aku sudah putus urusan dengan bapakmu semenjak ada kabar tentang cincin baru bapakmu yang ia pamer dipangkalan ojek di hadapan temantemannya. Dapatkah kamu mengerti arti sebuah cincin baru bagi sepasang suami istri selain berarti bahwa istri pertama sudah tak bisa lagi menyulut berahi suaminya. Maka itu berarti aib bagi pasangan suami istri seperti mustahilnya dua matahari dalam satu langit yang sama. Karena itulah aku sudah tak peduli betapa seringnya bapakmu bersarang di selasela paha istri barunya. Aku sudah tak peduli apa perkataan orangorang tentang bapakmu. Mereka sering aku dapati bercerita sembunyisembunyi jika aku lewat di depan rumah. Kadangkadang aku hanya melihat acuh tak acuh seperti tak ada yang terjadi. Aku juga pernah mendengar kabar bahwa bapakmu pergi lantaran kena pelet dari perempuan penjual kain itu. Mereka juga bilang bahwa pelet yang mengenai bapakmu adalah pelet nomor wahid, sebab bapakmu seperti tak punya lagi gairah kalau  bertemu denganku. Ketika aku mendengar kabar itu pertama kali, aku setengah percaya setengah ragu, tapi lamalama kabar itu membuatku hampir gila. Zaman ini masih ada aja pelet. Memang bapakmu saja yang bernafsu dengan janda beranak satu itu. Kata orang dia memang bahenol. Pinggulnya seperti lekuklekuk gunung. Tak ada lelaki yang bisa menahan desir kemaluannya jika melihat buah dadanya yang bulatbulat kelapa. Aku pernah melihatnya sekali ketika di pasar. Saat itu aku diperlihatkan oleh si Aking di kala aku pulang mengantarmu mengaji di rumah Haji Sumi. Itulah mengapa aku diam seharian di dapur ketika kau pulang, itu karena perempuan jalang itu. Tingginya tidak jauh lebih tinggi dari aku, tapi dia kuperkirakan jauh lebih muda dariku. Itu aku tahu dari kulit tubuhnya yang masih keset dan air mukanya yang mirip bintang film itu. Dia memang cantik dengan rambut sebahu yang ia biarkan terurai diterpa angin siang. Saat itu di dadaku seperti ada lahar yang meletupletup, dan di kepalaku penuh dengan air yang mendidih. Api di dadaku membakar seluruh kenangan dan harapan yang berubah menjadi belerang, menyulut habis sungai kenangan menjadi dasar api yang menyalanyala. Tibatiba kesadaranku hilang bersamaan dengan pandanganku yang berubah hitam, sebelum akhirnya Aking menarik lenganku dari belakang. “Jangan bodoh,” ucapnya. Seketika itu aku sadar seperti kehilangan ingatan. Tunggu saja pembalasanku, batinku saat itu seketika. Begitulah pertama dan terakhir kali aku melihatnya. Muka yang tak akan pernah aku lupa bila matahari seribu kali berganti. Caranya tersenyum dan pandangan matanya yang binal. Aduhai betapa tenteramnya hati ini bila melihatnya mati, agar aku merasakan ketenangan tiada tara. Anakku harap kau maklumi ucapanku ini. Aku hanya ingin dia mati saja. Itu saja keinginanku. Agar dia mati saja. Melalui surat wasiat ini, aku sampaikan permintaanku yang terakhir kepadamu, tolong tunaikan dendam yang tak bisa lagi kutahan. Aku lelah memendamnya.  Sudah belasan bulan berganti, tapi bara ini semakin besar seiring bergantinya matahari. Anakku, seketika kau selesai membaca tulisanku, pergilah secepat mungkin, tunaikan segera permintaanku. Mati saja yang aku inginkan, begitu juga dia. Hanya itu. Membuatnya mati. Begitulah, Fitri mengakhiri surat ibunya. Hari ini belum lekas tujuh hari kepergian ibunya yang ditemukan mati bunuh diri menggantung di atas dipan. Sehabis membaca surat ibunya, Fitri merasakan ada kekuatan yang membuat kakinya bergerak. Fitri lekas menuju pasar. Di kepalanya penuh dengan gambargambar yang berputar otomatis seperti film. Ia mengingat saat bapaknya bertengkar dengan ibunya. Saat itu malam hari, ia tidak ingat hari apa. Tak perlu mengingat tanggal dan hari apa kejadian itu, yang pasti saat itu ia begitu terang dalam sangkar ingatannya bahwa ibunya sudah tersungkur  di bawah tungku dapur yang penuh abu. Ibunya menangis dan dia menemukan kakaknya juga menangis di sudut kamar. Di kala itu ia melihat bekasbekas daging terbakar di tubuh kakaknya. Ia juga seketika mengingat muka ibunya yang lebam akibat ulah tangan bapaknya. Pernah juga ia menyaksikan ibunya sampai tidak bisa mengunyah makanan akibat giginya yang rontok paska perkelahian sehari sebelum bapaknya lari dengan perempuan mudanya. Dan yang paling terang adalah apa yang pernah ia saksikan dengan mata sendiri di waktu ia mendapatkan bapaknya bergandengan tangan bersama perempuan mudanya layaknya mudamudi di pasar malam. Saat itu ia ingat betul di malam terakhir pasar malam itu, bapaknya sempat curicuri kesempatan untuk menyosor pipi perempuan dengan kumis tebal yang dipunyai bapaknya. Dari sangkar ingatan itulah, dendam Fitri berubah menjadi burungburung yang beterbangan, lepas. Diamdiam dalam perjalanannya menuju pasar, ia mengumpul dendam seperti yang dialami ibunya. Mencicilnya diperjalan dengan sebilah pisau yang ia sembunyikan di dalam tas sekolahnya. Siang ini, harus ada sepasang mata yang merasakan dendam kesumatnya. Dendam yang dibacanya dari surat ibunya. Juga sangkar ingatannya yang hari ini penuh dengan gumpalangumpalan api yang membakar habis seluruh kesadarannya. Ya seperti kata surat ibunya. Fitri datang untuk menunaikan permintaan terakhir ibunya. Hanya mati saja. Satu saja, perempuan itu harus mati. Begitu yang diharapkan Ibunya. Tapi di kepala Fitri harus ada dua orang yang tewas siang ini.


Popular Posts