31 October 2015

Secangkir Kopi dan Setengah Waktu yang Majal

Aku hanya duduk terpaku, pandanganku terhampar jauhjauh di sudut cafe tempat aku menghabiskan malam. Masih banyak kursikursi yang kosong, begitu pula meja panjang yang berpelitur coklat gelap. Sebentar lagi cafe akan ramai dengan orangorang yang berdatangan entah  dari mana. Pikirku kota adalah tempat tinggal yang menyererupai  rimba yang tak jelas asal muasalnya, orangorang begitu saja datang dan kemudian mabuk dengan alkohol yang memenuhi dada mereka. Kipas angin masih terus berputar, menggelantung tanpa pernah berhenti. Di bawahnya sepasang pemudapemudi tenggelam dengan obrolan yang serius. Lelakinya bicara tanpa peduli ke mana ia mengarahkan pandangannya, sementara rokoknya ia hisap jauhjauh dalam memenuhi rongga dada yang membesar. Asapnya mengepul padat dan pecah ditiup angin dari atas. Lawan bicaranya yang perempuan tak peduli dengan sikap pasanganya, serius mendengarkan percakapannya. Malam ini malam yang masih sama dengan kemarinkemarin. Perempuanperempuan di belakang meja bartender masih sama. Gelasgelasnya masih dengan bentuk yang sama. Meja bartender yang mengkilapkilap juga masih sama. Bercahaya diterpa buram lampu yang berwarna kekuningan. Menu yang jadi brand tempat ini juga masih sama. Perempuan bertubuh gempal tetapi begitu lincah mencatat pesanan orangorang yang datang. Di belakangnya, seorang temannya yang juga perempuan,  juga adalah perempuan yang masih sama. Tak berubah. Ia bergerak seperti sudah diremot mengikuti catatan yang diberikan temannya; mengambil gelas bening yang disusun rapi di atas almari yang berjejer, menyeduh beberapa menu minuman yang diperintahkan kepadanya. Adakalanya ia harus bekerja ekstra ketika malammalam semakin gelap, banyak yang datang dengan menu pesanan yang beragam. Ketika itu terjadi, maka seorang lelaki yang juga masih sama akan masuk di belakang meja bartender dan membantu dengan gerakannya yang super lincah. Lelaki yang sebenarnya adalah kerabat dari pemilik kafe ini tidak selalu datang sebagai pekerja di belakang meja bartender. Tapi kalau pesanan sudah menumpuk, maka ia sering kali menyumbangkan tenaganya untuk membantu perempuan yang sedikit kelabakan atas pesanan yang tidak berhenti datang. Di sudut meja bartender, selalu ada seorang pria yang berdiri dengan pandangannya yang menyapu seluruh meja kafe.  Lelaki ini adalah lelaki yang juga masih sama seperti yang sebelumnya. Pandangannya yang selalu awas itu dilakukannya untuk menjaga dan memastikan orangorang yang datang sudah mendapatkan pesanan yang semestinya. Sering kali juga, itu dilakukannya untuk bergerak sigap bagi pengunjung yang baru datang. Dengan langkahnya yang tidak terlalu terburuburu, pria dengan antinganting di telinga kirinya ini akan datang dengan membawa daftar menu. Pria ini tubuhnya tidak lebih tinggi dari dua meter, beratnya barangkali hanya bekisar tujuh pulu kilogram. Ia selalu bolakbalik dari tempat ia biasa berdiri mengawasi dengan mejameja pengunjung. Begitu seterusnya ia bekerja, mengawasi dan mendatangi pengunjung dengan buku daftar menu yang tak pernah lepas dari tangannya dan juga masih sama. Untuk tugas menu yang siap diantarkan, lelaki pengawas ini dibantu oleh seorang pelayan muda yang masih saja sama. Mereka berdualah yang banyak menyapa pengunjung dengan sedikit basabasi seorang pelayan. Lelaki muda ini sering kali menggunakan baju berwarna merah. Semenjak aku sering datang di kafe ini, hampir semua di waktu kedatanganku disambutnya dengan baju berwarna merah. Barangkali hanya baju berwarna merahlah yang memenuhi almarinya. Pernah suatu waktu di bulan Oktober, ia menggunakan baju yang berwarna merah terang beserta topi yang juga berwarna merah. Ia di waktu itu menjadi sorotan pengunjung kafe karena dengan celananya pula ia menggunakan dengan warna merah. Tak jelas kenapa di hari itu ia berpenampilan semacam itu, karena di waktu itu ia lebih banyak diam dibandingkan harihari biasa. Lelaki muda ini yang paling gesit di antara orangorang di dalam cafe, mondarmandir dengan membawa kain lap di pundaknya. Sering kali pula ia yang sibuk membersihkan sisasisa keramaian berupa kulitkulit kacang dan botolbotol bir yang ditinggal begitu saja. Mengelap meja yang sama setiap malam yang pelanggan. Di luar juga masih sama, kendaraan yang diparkir ituitu saja. Ada mobil sedan yang tak pernah berpindah dari sudut parkiran kafe. Mobil berwarna silver itu adalah kepunyaan pemilik kafe yang bertubuh pendek dan tambun. Ketika waktu sudah jam sepuluh, maka ia pun datang dengan baju oblong. Orangnya terlihat santai dalam berpenampilan. Ketika masuk, orang yang sering disapa Om Jon ini akan mendatangi orang yang pertama kali dilihatnya untuk berbasabasi sejenak. kebiasan ini sering dilakukannya sehingga hampir semua pelanggan di kafe ini mengenalnya. Kebiasan ini juga yang membuat ia dan pelangganpelanggannya semakin dekat. Setelah berbincang dengan beberapa pengunjung, kebiasaan selanjutnya adalah adalah mendatangi meja bartender dengan mengecek aktivitas yang berlangsung. Berbincang sejenak dengan perempuan gemuk di balik meja dan masuk melihatlihat stok minuman yang tersimpan rapi di bawah almari. Setelah aktivitas itu, maka Om Jon akan berbaur kembali dengan mendatangi pelanggannya dan tenggelam dengan ceritacerita konyol yang suka ia perdengarkan. Sementara itu mobilmobil semakin malam semakin padat menutupi dinding kafe dari sebelah utara. Ada mobil Kijang tua yang merupakan milik dari pria tua dengan topi koboinya itu. Mobilmobil Volsk Wagen bercat hitam dengan banban kecil yang sudah habis karetnya. Tidak jauh di belakangnya mobil Escudo yang sedari tadi dipenuhi kertaskertas iklan penyedia perempuan panggilan. Hampir semua kaca di pintu mobil melekat gambargambar brosur dengan bermacammacam perempuan cantik. Hanya satu mobil yang tidak dipenuhi brosurbrosur murahan penyedia perempuan panggilan itu, yakni si pria tua dengan topi koboinya itu. Pria tua ini sering kali aku lihat duduk dengan tenang di sudut dekat pintu toilet. Ia sering kali ditemani oleh perempuanperempuan tiga puluhan atau di atasnya, berbincang dengan muka yang muram. Sedangkan lawan bicaranya hanya punya satu gerakan, yakni memasang telinga baikbaik mendengarkan apapun cerita dari mulut si topi koboi itu. Sering kali di tengah perbincangan mereka, aku saksikan mereka ketawaketiwi dengan humorhumor satire yang masih sama diceritakan si pria tua itu. Si tua sering kali menjadikan anaknya yang bersekolah di Eropa sebagai tokoh humornya. Pernah ia dengan setengah gelas bir di tangannya berdiri dan bersuara lantang di tengah keramaian dengan memulai humor satirenya. Malam itu ia menjadi pusat perhatian dengan menceritakan anaknya yang sudah tujuh tahun di Eropa menimba ilmu, tak mengertimengerti mengapa orangorang Eropa lebih mengenal Bali daripada Indonesia, padahal selama tiga setengah abad Indonesia mengalami penjajahan. Bukankan itu bukti bahwa Indonesia sudah lama dikenal di mata dunia katanya.  Ia juga mengatakan langsung jawabannya bukan karena Indonesia sudah lama dijajah, sebab saat itu belum ada Indonesia. Indonesia disebutnya hanya di kenal ketika ilmu geografi ditemukan, begitu  ia mengulangi perkataan anaknya. Berarti orangorang Eropa tak mengenal pelajaran geografi dong, pria tua itu mengulangi kembali pengucapan anaknya. Mendengar itu hampir semua isi kafe tertawa mendengarnya. Ketika sudah demikian, ia langsung beranjak ke dalam toilet, membuang air seni yang dikumpulkannya dari gelas bir pertama. Mulai saat itu aku tahu bahwa ia duduk dekat toilet karena setiap lima gelas bir, ia langsung beranjak masuk toilet. Pria tua bertopi tua itu bernama Eyang Rudi. Ia salah satu pelanggan setia di kafe ini. Setiap kali ia datang, di kepalanya tak pernah tanpa topi koboi, ia selalu berdandan dengan cara yang sama. Hanya saja motif topi yang ia kenakan selalu bergantiganti. Ia selalu datang sendirian, tapi biasanya setelah setengah jam kemudian mulailah datang perempuanperempuan yang selalu setia mendengarnya bercerita disekelilingnya. Masih dengan kebiasaan yang sama. Di dekat pintu selalu ada sepasang wanita dengan umur empat puluhan. Mereka berdua sering datang menjelang tengah malam dengan pakaian yang rapi dengan wangi parfum yang saya hafal, bau melati dengan campuran musk. Bau perempuanperempuan yang berjiwa boheiman. Mereka adalah pengunjung yang saya hafal ketika tahu bahwa mereka tak pernah menukar tempat duduk di mana sering kali mereka menghabiskan malam. Tempat mereka dekat dengan cerukan tembok sehingga tempat mereka agak sedikit menjorok masuk ke dalam. Ketika mereka berbincang tak pernah sekalipun tanpa rokok mentol yang selalu dihisapnya dengan bibir tipis mereka.  Rokok yang juga masih sama. Sepasang perempuan ini rutin datang di tiap malam, sehingga kursi tempat mereka selalu duduk menjadi tempat yang selalu kosong sebelum mereka datang. Mereka selalu bercerita tentang puisi. Tapi sangat jarang mereka menyebut kata lakilaki. Ketika mereka murung, di tengahtengah antara kami salah satu di antara mereka akan naik di atas panggung dan membacakan puisi untuk seluruh yang ada di dalam kafe. Perempuan yang sering kali berpuisi ini bernama Nadir. Karena sering kalinya ia tampil berpuisi, ia mendapat julukan dari Om Jon sebagai perempuan puisi. Sementara teman Nadir yang hanya sering takjub di tempat duduknya di saat Nadir membacakan puisinya, bernama Anita. Ketika setiap Nadir selesai membacakan puisinya, Anita bakal berteriak sambil berdiri dengan ucapannya yang kami sudah hapal: tanpa puisi tak ada kehidupan. Saking hapalnya, kami sering berujar bersamasama di waktu setiap kali Nadir mengakhiri puisinya. Tak jauh dari mereka, duduk lima sampai enam priapria berkemeja necis dengan sepatusepatu yang tak pernah disentuh debu jalanan. Mereka adalah pekerja kantoran yang biasanya datang secara bergerombolan, dan paling sering memesan menu dengan minumanminuman yang mahal. Mereka sering kali cerita tentang sekretaris bos mereka yang bahenol tiada ampun. Pekerjaanpekerjaan di kantor dengan berkas yang tiada habisnya, dan jam kerja yang semakin membosankan. Tapi itu mereka lakukan karena mereka digaji dengan tinggi oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Sementara di bawah kipas angin yang berputar lambat, membuat sepasang kekasih yang dari semula berbincang penuh gairah akhirnya mulai kehabisan katakata. Mereka hanya diam seperti teater tanpa bahasa. Bergerak pelan memikirkan entah apa. Sang pria hanya asik dengan rokok putihnya, satu dua kali dihisap dengan napas setengah,  mengumpulkan asap di balik pipinya yang tirus. Dikeluarkannya berkalikali, bergumpalgumpal dan hilang disapu angin yang masih terus sama dari kipas di atasnya. Si lelaki ini bernama Jerit. Ia biasanya membawa perempuan yang berbeda tiap kali datang. Perempuan di hadapannya, entah kekasih atau perempuan yang di ambilnya di tengah jalan, hanya diam  mengahadap layar gadget, mengusapusap atas ke bawah atau sebaliknya. Serius ataukah hanya berusaha mendalami keacuhan yang diberikan lelaki di hadapannya. Malam semakin dingin di luar, itu aku tahu dari orangorang yang mulai datang. Waktu berjalan pelan dan risau. Kafe dengan sedari tadi menjadi tempat yang ramai akhirnya pelanpelan mulai surut dari suara. Ketika malam semakin larut suarasuara yang semula ramai pelanpelan hanya menyisakan ketukan gelasgelas bir yang minta di isi kembali. Yang ada sunyi yang lembab dari perasaan masingmasing. Si pria tua, Eyang Rudi dan kawankawan perempuannya juga sudah mulai kehilangan bahan cerita, mereka duduk saling memahami dalam diam masingmasing. Nadir dan Anita juga hanya berdiam diri dalam puisi batin masingmasing. Sedangkan si Jerit sudah dari awal diam dengan rokoknya. Jika sudah begini, maka yang sering kali terjadi adalah hanya tatapan mata di antara kamikami yang saling menghormati kesunyian masingmasing. Sementara Nadir dan Anita yang diharapkan malam ini membawkan puisinya hanya masih duduk dengan menatap gelasgelas yang sudah mulai kosong. Perempuanperempuan dibelakang meja kafe juga mulai bergerak dengan diam di saat merapikan gelasgelas yang disusun rapi. Pelan seperti ada ritme yang diikuti. Kainkain putih yang diikat dipigang menjadi kain lap yang menyapu gelasgelas bening nan kemilau. Berdiri dengan melakukan hal yang sama. Si pria pelayan masih setia duduk dengan menikmati minumannya yang dicicil seruput demi seruput. Kafe ini memang kafe kesendirian, banyak orang yang datang kemari bukan untuk menunya, melainkan tempat untuk merayakan kesunyian. Entah mengapa tempat ini sangat jarang sepi atau bahkan kosong tanpa kedatangan pengunjung. Ada semacam aura yang menjaga kafe ini agar tetap menarik pengunjung, walaupun aku sudah sering kali hapal pengunjungpengunjungnya. Kami datang dari berbagai penjuru dan beragam latar belakang pengalaman, tapi disatukan dengan kesunyian yang dirasakan bersama. Di titik ini kami nyaman dengan semua kesunyian yang kami sepakati bersama. Sementara aku masih saja duduk menikmati menatap wajahwajah mereka yang semula riang akhirnya berubah muram. Mungkin kecewa. Mungkin gelisah. Mungkin marah. Mungkin sedih. Mungkin benci. Tapi air muka orangorang yang kuhapal ini tak pernah berubah sekalipun mereka memenangi hadiah lotere tibatiba; lurus dan kusut. Orangorang di kafe ini memang tak saling mengenal baik, tapi kami memahami kesendirian masingmasing. Jika sudah begini biasanya sang pemilik kafe, Om Jon memberikan kode kepada pemain band untuk menyanyikan tembangtembang lawas pengurai sepi. Suara sang vokalis seperti mantra yang memberikan suasana semakin dalam.  Lagulagu yang dinyanyikan juga adalah lagu yang masih saja sama. Anehnya kami tak pernah bosan mendengarnya. Masingmasing dari kami masuk ke dalam kesunyian dengan intensi yang sulit dijelaskan dengan membawa penat yang menumpuk beban. Jauh sampai ke batasbatas sepi yang samar. Kami seperti dipugar kembali. Di luar malam semakin dingin. Waktu berjalan lambat, orangorang sudah berhenti berdatangan, tapi kami si pengunjung kesendirian dalam kedalaman batin yang saung bisa merasa tenang ketika membaca sekalimat pendek dengan bingkai berwarna hitam polos di belakang meja bartender, yang di gantung tak cukup tinggi itu; hidup yang tak direnungi, adalah hidup yang tak layak untuk dijalani. Kalimat itulah yang  sering kali kami baca berkalikali ketika sunyi menerpa, yang membuat kami betah di kafe ini. Kalimat itu entah bisa membuat kami setia dengan peristiwa sunyi dari masingmasing dan juga adalah kalimat yang masih terus sama. Tapi entah siapa yang menggantungnya di atas sana. Kalimat itu sering kali melumat setengah waku kami yang majal.


Popular Posts